Special Thanks and Support for My God—i always pray to Him for bless me—my cat—setia mendengarkan cuap-cuap tak bermutu saat bipolarku sedang kambuh—My big brother—yang menjadi editor disetiap ff yang akan kupublish—and You!—teruslah mendukungku dengan me-review/ me-fave/ mem-follow setiap ff karyaku meski terkadang membuat kalian tidak nyaman dengan diksinya. :')
Love you, All. Support me, please.
.
.
Untuk pertama dan terkahir kalinya, aku minta kalian tidak melewatkan A/N[0] setelah credits, dan tolong diresapi dan dipahami. Lalu terserah kalian maunya bagaimana. :')
Maaf menunggu teramat sangat lama.. dan inilah persembahanku untuk semuanya yang telah sabar menunggu hingga saat ini. ^^
.
.
.
.
.
.
.
La Conquista y El Conquistador
.
Screenplays!Kristao, Kaisoo, Sulay, Chenmin, Hunhan, Chanbaek and!other official pairings of boyband
.
All about character is not mine, except this fic and idea
.
Akai Momo a.k.a Ao Alice
.
M
.
Yaoi/ BL/ Be eL/ Boys Love/ Switch Age/ Alternative universe with much baby typos
.
No like, don't read!
.
Summary! ::
Guru-Murid; Manajer-Pelayan/ Chef; Pemilik hotel-Office Boys; Dokter-Perawat; Dosen-Asisten dosen; Direktur-Sekretaris. Kisah penaklukan keenam orang namja, berbagai cara mereka lakukan demi menarik perhatian sang target dan mendapatkan jiwa juga hati mereka seutuhnya. Mulai dari cara biasa dan lembut hingga cara 'luar biasa' dan 'kasar'.
Bagaimanakisah keenam namja itu..?
Apakah mereka berhasil menaklukannya, atau tidak..?
Apakah mereka berhasil menaklukan sang target..?
Atau justru ditaklukan oleh sang target..?
.
.
.
.
.
.
.
.
A/N [0]:
#Backsound Music : Aikoi — FictionJunction YUUKA
Ternyata chapter kemarin banyak sekali tipo fatalnya. Aku minta maaf.. *bowing*
Karena waktu dan pengalaman, aku juga minta maaf kepada kalian yang menikmati ff ini, jika seandainya ada yang berubah—terutama diksinya yang mungkin dirasa membingungkan. Dan karena ada satu-dua reviewer yang mengatakan hal yang membuat aku kaget sekaligus sedih tentang ff ini, meskipun itu cukup membuatku terluka *ceilah*, akhirnya aku sudah move on~ setelah ff ini hiatus entah berapa lamanya~ *muter-muter*
Dan kalau kalian tidak suka, lebih baik jangan melanjutkan untuk membaca ff ini—teramat sangat disarankan untuk kebaikan bersama.
"Cerita itu tidak dibuat dengan terburu-buru, sebab membacanya pun lebih nikmat bila diresapi setiap adegannya yang berjalan natural juga alami. Karena itulah novel punya banyak lembar ditiap bukunya—bahkan hampir menyamai buku kamus."
Satu hal lagi, aku tidak suka memberikan ancaman, sebab menyindir dengan kata-kata sinis/ sarkastis itu lebih mudah membuat kalian intropeksi diri—terutama masalah review. Tapi tidak untuk sekarang-sekarang... belum. *cium*
Atas perhatian dan pengertiannya, aku ucapkan terima kasih banyak. ^^
Aku mencintai dan menghargai kalian jika kalian juga demikian. :')
.
.
A/N[0] The end!
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 9 [Walkin' Out (3)]
.
.
.
.
.
.
.
[ChanBaek's side]
.
.
drrt! drrt! drrt! drrt!
drrt! drrt! drrt! drrt!
Sebuah ponsel bergetar dan berbunyi di kantung celana Baekhyun. Dirohognya benda pipih berwarna abu-abu persegi itu, dan sambil mengernyitkan dahi, pria amanis itu menoleh mencari keberadaan adiknya. Tak lama, tubuh sang adik tampak di rak sebelah kanan yang sedang membanding-bandingkan sepatu pilihan di tangannya.
"Kyungsoo, aku keluar sebentar, ya!" sahut Baekhyun begitu melihat bahwa Xiumin menghubunginya. Kyungsoo, yang masih sibuk dengan kegiatan memilih sepatu, tanpa menoleh ke sumber suara, mengangguk singkat dan berdeham lirih.
Maka, setelah mendapat respon baik, Baekhyun pun tergopoh keluar dari toko sepatu tempat ia dan adiknya berbelanja—karena suasana sedang penuh dan bising, Baekhyun terpaksa mengangkat telepon diluar dan memcari spot yang tak terlalu ramai. Celinguk kanan celinguk kiri, akhirnya pria yang hobi mengoleksi eyeliner itu menemukan sebuah bangku yang tak diduduki pengunjung, yang terletak tak jauh di toko sepatu tempat Kyungsoo berada. Senyum terpatri di wajahnya yang manis, dan dengan terkikik-kikik bahagia layaknya anak-anak yang mendapatkan mainan baru, Baekhyun menghantamkan bokong padatnya di permukaan bangku; merilekskan tubuh sambil menekan tombol 'answer' berlampu hijau di ponselnya, lalu menyapa dengan nada yang agak dikeraskan.
"yeoboseyo, hyung-ah..? ada apa..?"
/"Dokter Kim..?!"/
Baekhyun terheran-heran. "hah..? 'Dokter Kim'..? hei, hyung, kalau kau lupa, akan kusebutkan namaku secara lengkap: Byun Baekhyun! bukan Dokter Kim..!"
/"eoh..? dia pergi ke tempat tunangannya janjian, Dokter Kim—"/
"hyung, apa-apaan, sih..? kok tidak nyambung dengan perkataanku tadi..?! hei, hyung!"
/"ne, C—Chen hyung.."/
" 'Chen hyung'..? sejak kapan aku mengganti namaku menjadi 'Chen', hyung...?! kau mengigau di tempat umum, ya..?!" Nada pria itu pun mulai sedikit mengeras—emosinya mulai terpancing ketika lawan dibaca di seberang seolah tidak menanggapi ucapannya.
/"Marin..?"/
Beranjak berdiri, Baekhyun berkacak pinggang dengan sebelah tangan, "yak, hyung! siapa pula, 'Marin' itu, hah..?! halo~ bumi kepada Xiumin hyung, halo..?!"
/"oh."/
"lho..? apa-apaan nada biacaramu yang sengak itu, hyung..?! aku bicara panjang lebar dari tadi hanya dibalas dengan kata 'oh' saja..?! Ya Tuhanku..!"
/"mau.. ke mana..?"/
"mau ke tempatmu dan meng-hapkido-mu, hyung!" percuma jika mengomel protes tentang betapa tidak nyambungnya obrolan mereka, Baekhyun dengan keidiotannya yang kambuh karena terlampau jengkel, lebih memilih mengikuti alur pembicaraan Xiumin. "hyung, katakan padaku, kau ada di mana sekarang, hah..?!"
/"h, hyung..? ta, tapi bukannya kau dan Marin tadi sedang ber—ber—ber—"/
Masa bodoh jika dia diperhatikan dengan raut wajah aneh oleh pengunjung mall yang lain. Selain itu, Baekhyun terlampau terlalu tenggelam dalam pusaran emosinya yang merasa sedang dipermainkan oleh orang yang menelponnya kini. "ber—..? beranak pinak maksudmu, hyung..? siapa yang beranak pinak...?! lagipula, siapa sih Dokter Kim yang kau panggil Chen hyung dan si Marin-Marin itu..?!"
Tapi naas, setelah Baekhyun mencak-mencak sedemikian rupanya, ternyata sambungan telepon telah terputus. Baekhyun mengaga, berkedip berkali-kali dengan roman muka kesal yang masih kental tampak, lantas pria itu berdecak kasar. Mengusak-usak rambutnya denagn frustasi, dan kembali menghempaskan bokongnya ke permukaan bangku—tidak menyadari jika ada seseorang yang duduk manis sambil bertopang dagu menatap lucu kearahnya.
Baekhyun merengut dan melipat tangannya di dada, lalu mengoceh tidak jelas, masih merasa jika dirinya hanya sedang dipermainkan oleh Kim Minseok—lawan bicara di telepon tadi. Sebenarnya, mukan masalah biaya telepon yang Baekhyun keluarkan—well, sebab yang menelponnya duluan adalah Xiumin, jadi biaya teleponnya sedang di situasi aman tidak sekarat—melainkan karena saat berbicara dengan pria berpipi gembil itu, Baekhyun terbawa emosi hingga menguras tenaganya. Cukup lelah, dengan kepala yang berdenyut-denyut nakal.
Baekhyun menyembunyikan kelereng matanya, dengan hembusan nafas berat pertanda lelah emosi, pria cantik itu berujar lirih, "oh, ingatkan aku untuk mencubit keras-keras pipinya sebagai balasan untuk hari ini."
"mencubit pipi siapa..? Memangnya apa yang dilakukan orang yang kau telepon tadi, sampai-sampai kau ingit mencubit pipi gembilnya..?"
"Oh—Astaga..?!" Baekhyun terperanjat dan berdiri saking terkejutnya. Itu, membuat orang yang duduk disebelahnya terkekeh bahwa betapa lucunya respon Baekhyun karena ucapan—atau suaranya.
Baekhyun berkedip polos, lalu meringsut mendekati sosok yang masih terkekeh dengan posisi membungkuk memeluk perutnya. Ragu-ragu, Baekhyun menepuk-nepuk kecil pundak pria jangkung itu. Tak lama, Baekhyun memekik tertahan dengan pipi yang merona, sebab orang yang duduk di sampingnya dan menertawakannya adalah Park Chanyeol—Dosen sekaligus pujaan hatinya yang dalam proses penaklukan.
"Bapak—"
"—hei, jangan panggil aku 'bapak' di tempat seperti ini, Baekhyun. Panggil saja Chanyeol hyung, ok..?"
Mengangguk kaku, "ba—baiklah.. Chanyeol..h—hyung." Sekeras mungkin Baekhyun menormalkan jantungnya yang berdebum-debum kencang, bahkan ia harus ekstra keras untuk menyadarkan diri sendiri tatkala ia nyaris saja terbuai dengan wangi cologne dari tubuh Chanyeol yang tercium maskulin—oh, lelaki jangkung itu semakin seksi dengan aroma tersebut. "se—euhm.. sejak kapan hyung duduk di sini..?" takut-takut Baekhyun bertanya, lebih takut lagi jika jawabannya adalah ucapan yang membuatnya malu luar biasa.
"oh, sejak aku melihatmu duduk di sini sambil mengangkat telepon." Chanyeol tersenyum kecil dibalik mulut gelas plastik yang terdapat cairan Cappucchino di dalamnya. "tadinya aku ingin menyapamu—bertanya apa yang kau lakukan di sini sendirian, tapi sepertinya kau sedang sibuk dengan orang yang kau telepon, sampai kau mencak-mencak lucu seperti itu." Pria itu tertawa lebar, lagi, dengan perut yang ia peluk dengan sebelah tangannya. "dan apa-apaan kata 'beranak pinak' tadi...? kau pikir orang yang menjadi lawan bicaramu itu sejenis hewan, apa..? Hei, kau benar-benar lucu, Baekhyun!"
Baekhyun menganga kecil, lalu mendesih lirih dan tak lama ia mengigit kecil bibir bawahnya. Menunduk dan tampak rona merah yang merambat-rambat hingga telinga dan tengkuknya. Tangan kanan sang asisten dosen di kampusnya itu melayang dan mendarat sempurna di lengan kiri pria jangkung yang baru saja mengatakan hal yang membuatnya malu. Pukulan seperti anak gadis itu dilakukan berkali-kali oleh Baekhyun—yang sadar atau tidak—sambil bibirnya mencebik dan mengucapkan kata-kata merajuk.
Chanyeol tergelak, masih dengan lengannya yang dijadikan pelampiasan, jari-jemarin pria itu bermain dengan helai rambut Baekhyun—mengelus dan mengusak-ngusak hingga sang korban terpekik sebal karena rambutnya menjadi berantakan.
"kau jahat, kau keterlaluan, kau membuatku malu di tempat umum, dan aku benci padamu, hyung! Kau menyebalkan, sungguh!" rajuk Baekhyun mencubit Chanyeol.
Chanyeol mengaduh, lalu dengan spontan, diambilnya jemari Baekhyun yang mencubit lengannya, menggenggamnya dengan erat hingga menghantarkan kehangatan yang membuat lelaki itu semakin berdebum jantungnya. Kelereng cantik Baekhyun berkaca-kaca, lalu berkali-kali mengulirkan pandangan ke wajah Chanyeol dan tangannya yang digenggam pria itu bergantian. Sejujurnya, Baekhyun mulai gugup dan ketika ia mengingat kejadian di mana ia merasa dilayangkan dan kemudian dijatuhkan saat di kampus waktu itu, rasa takut mulai berani menguasai kesadarannya.
Maka, dengan diam-diam—walaupun tahu jika Chanyeol menyadarinya—Baekhyun berusaha melepaskan tautan tangan mereka yang semakin menempel mesra. Berkali-kali Baekhyun menelan lahap kegugupan yang mengikat cantik kerongkongannya, dan dengan tertawa kecil yang terkesan dipaksakan, Baekhyun melemparkan pandangan kearah lain—ke mana saja, asal bukan keping kembar menawan milik Chanyeol yang membentuk eyesmile indah. Itu, semakin membuatnya gelisah.
Entah mata itu mengejeknya atau memang tersenyum tulus, Baekhyun tidak peduli; namun ketika ia hampir-hampir berhasil melepas tautan telapak tangan mereka, Chanyeol berkata dengan nada guyonan yang sedang disembunyikan rapat-rapat.
"kenapa kau gelisah begitu, Baekhyun..?" Chanyeol memasang senyum jahil. "kau tidak suka jika aku menggenggam tanganmu, hem..?"
"bu—bukan, hyung! Ak—aku.. aku ingin pergi ke stand itu." Telunjuk Baekhyun mengarah pada stand yang menjual beragam minuman. "aku haus—ya! Aku haus, hyung! He.. hehehe.. jadi, tanganmu.."
"kau haus..? kenapa tidak bilang..? aku bisa membagimu dengan Cappucino milikku ini, Baekhyun, aku tidak keberatan, kok." Chanyeol menyodorkan gelas plastiknya, masih dengan tidak ingin tautan tangan mereka terlepas begitu saja—bahkan tanpa Baekhyun ketahui, Chanyeol membenahi tautan tangan mereka yang semula mengendur menjadi semakin rapat. "silahkan, aku bahkan tidak keberatan kalau kau habiskan ini. Tapi maaf ya, hanya tersisa segini saja."
Baekhyun mengangguk kaku, lagi, dan dengan konyolnya, mudah-mudah saja ia menerima gelas plastik itu alih-alih menolaknya untuk memiliki alasan agar tautan mereka terlepas. Lelaki itu, melirik sejenak wajah Chanyeol yang sedang mengamati sekitar sambil bersiul kecil, lalu melirik bibir gelas plastiknya, lantas ia meminum dan meneguknya pelan-pelan. Dan baru beberapa detik Baekhyun dimanjakan oleh rasa dan aroma khas Cappuchino, Chanyeol dengna kekehan tak bersalahnya menyahut dengan kecil.
"kalau dilihat-lihat, situasi ini seperti ciuman tidak langsung, ya..?—"
"—Vruutt—ohok! ohok, ohok!"
"lho..? kau tersedak..?" sedikit panik, Chanyeol merogoh sapu tangan hitam abu-abu dari kantung jaket denim biru dongkernya. Meraih gelas plastik yang dipangku Baekhyun untuk kemudian ia buang ke tempat sampah yang tak jauh dari jangkauannya. "hati-hati, Baekhyun. Kau ini terlalu haus ya, sampai bisa tersedak begini...? dasar ceroboh." Membersihkan sisa-sisa kopi yang memeluk nakal kulit dagu Baekhyun dengan pelan.
'bagaimana aku tidak tersedak, kalau kau berkata seperti itu, hyung bodoh! Dasar tidak peka! Huh!' batin Baekhyun merana.
Keping mata Baekhyun melotot ketika Chanyeol hendak memasukan kembali saputangannya yang kotor dan basah ke kantung jaket, "hyung, tungguh!" sergahnya. Chanyeol merautkan wajah bertanya, dan dengan ragu-ragu Baekhyun menjawab, "biar aku bawa pulang saputanganmu, hyung. Aku akan mencucinya dan mengembalikannya padamu besok, ah... anggap saja itu sebagai pertanggungjawaban karena repot-repot membuatnya kotor."
"kau ini bicara apa, sih..?" tergelak, lagi, untuk yang kesekian kalinya.
Padahal tak ada yang lucu di ucapan Baekhyun tersebut, tapi karena Baekhyun lebih merasa tidak enak dengan ulahnya yang membuat saputangan Chanyeol menjadi kotor, maka ia hanya bisa diam sambil merautkan wajah sedih. Chanyeol yang mengetahuinya merasa bersalah, sebab ia pikir perkataannya barusan membuat Baekhyun sakit hati. Maka, setelah berdeham, Chanyeol pun lebih memilih menjelaskannya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"maksudku—kau tidak perlu melakukannya, aku tidak merasa direpotkan olehmu gara-gara saputangan ini, kok. Ini bisa kucuci bersamaan dengan pakaian kotorku ke laundry nanti."
"oh, begitu, tapi aku minta maaf ya, hyung. Aku hanya berpikir kalau saputangan itu akan kau pakai nantinya, tapi aku malah membuatnya jadi kotor."
"tak masalah. Bukannya itu kegunaan dari saputangan, ya..? tidak peduli siapapun yang memakainya, yang penting fungsinya masih sama—membuat sesuatu yang kotor menjadi bersih. Sudahlah," Chanyeol mengibaskan tangannya setelah saputangan itu kembali ia simpan. "kau tidak perlu memikirkan hal sepele macam itu."
"oke," mengangguk dan senyum manis terkembang di wajah Baekhyun. "ah, hyung, kau sedang apa kemari..? kau tidak berniat pergi ke mana gitu..?"
"... kau berniat mengusirku, hem..?"
"bukan! Aku hanya bertanya, dan sekaligus mengingatkan—siapa tahu kau ingin pergi ke suatu tempat di mall ini."
"kau benar, aku memang harus pergi." Tautan tangan itu terlepas.
Namun bukannya senang, Baekhyun justru mengekspresikan raut wajah kecewa tatkala tangan mereka tak lagi menyatu—sebab sepertinya Baekhyun telah terbuai dengan tangan besar Chanyeol yang hangat, yang seolah melindunginya. "sebenarnya aku ingin pergi ke toko elektronik, aku berniat membeli laptop baru—yang lama sudah rusak; rusak terlalu parah sampai tidak bisa diperbaiki lagi oleh tukang servisnya." Chanyeol beranjak sambil meringis lucu. Tidak memperhatikan ekspresi tersirat Baekhyun yang merasa berat hati jika ditinggalkan oleh Chanyeol sendirian di bangku ini.
"tetangga di rumahku bilang, kalau di mall ini ada toko elektronik dengan harga barang terjangkau tapi dengan merek dan kualitas yang sama—buatku yang masih lulusan baru dan baru diterima jadi dosen—bahkan belum merasakan gaji pertama, berhemat itu penting, 'kan..? jadi ya, begitulah."
Baekhyun tersenyum kecil, berusaha memakan kekecewaan yang semakin membesar tatkala Chanyeol benar-benar akan pergi berpisah dengannya. "oh, begitu. Ya sudah, kau harus cepat-cepat ke sana, hyung... sebelum ada pelanggan lain yang mengambilnya lebih dulu. Dan jujur saja ya, hyung," Baekhyun menyeringai jahil. "rasanya aneh kalau aku dan orang-orang melihatmu yang tampan seperti ini tapi ternyata jalan-jalan sendirian... ha ha ha!"
Chanyeol melongo, lalu mendesah dengan senyum penuh makna terpatri di wajahnya yang rupawan. Dan tak lama, bibir pria itu terbuka lebih lebar hanya untuk mengucapkan kalimat yang membuat Baekhyun melotot tak percaya.
"kalau begitu, kau harus ikut menemaniku jalan-jalan, supaya orang-orang tidak akan melihatku yang tampan ini berjalan sendirian dengan raut wajah mereka yang aneh. Bagaimana, apa kau mau...?"
"a—aku boleh ikut..?!" terlampau senang, Baekhyun beranjak dari duduknya dengan tiba-tiba. Chanyeol yang melihat keantusiasan asistennya di kampus terkekeh, lalu tanpa canggung ia melingkarkan lengannya pada bahu Baekhyun, dan mereka pun mulai menyamakan langkah kaki untuk berjalan ke tempat tujuan. "tentu saja, boleh. Siapa yang melarangmu..? Tapi, kau senggang, 'kan..? atau kau memang berniat ingin pergi ke suatu tempat di mall ini..?"
Menggeleng dan Baekhyun tersenyum dengan eyesmile cantik di kelereng matanya. "tidak! Aku senggang hari ini, dan aku tidak ingin ke manapun untuk sekarang ini, jadi.. ayo kita pergi ke toko elektronik yang kau maksud, hyung!"
"oke!"
Terkadang, jika pujaan hati berada di dekatmu, kau pasti akan gugup, gelisah dan pikiranmu akan kosong kecuali terisi oleh dirinya—kosong melompong seperti tak ada sesuatu penting yang sedang menunggu; salah satunya adalah keberadaan saudaramu yang diam manis di toko sepatu, dengan raut wajah panik dan bingung mencari keberadaanmu—dengan sebal dan memeluk erat sepatu yang akan ia beli menggunakan black card yang kau pegang.
Umumnya, itu adalah hal normal, tapi sangat keterlaluan bagi orang lain yang memiliki keperluan penting denganmu—apalagi jika kau membandingkannya dengan kegiatan kencan mendadak dengan sang pujaan hati.
.
.
.
.
.
.
[Kaisoo's Side]
.
.
"baiklah!" Sebelah sepatu berwarna biru-hitam-abu itu terangkat agak tinggi, sambil itu kancing wajah Kyungsoo yang bulat berkilau-kilau cantik. Senyum manis terpahat pada bibir full-lips-nya. "aku memilih anak ini saja! Oho~ warna anak ini bagus dan netral, cocok untuk warna baju apapun~!"
Kyungsoo berjalan agak berjingkat, tubuhnya yang mungil cukup menguntungkan menyelinap diantara tubuh para pengunjung lainnya. Sedikit tergopoh-gopoh, Kyungsoo mendekati spot tunggu di toko sepatu yang didatanginya dengan Baekhyun, tapi begitu sampai, Kyungsoo tidak melihat bahwa kakak tak sedarahnya diam manis di sana—kakaknya pergi, menghilang entah kemana. Wajah lelaki muda bermata bulat itu memucat, lalu tawa lirih mengalun cantik, dan dengan memanggil-manggil kecil nama panggilan maupun lengkap sang kakak—tapi tidak ada respon, entah itu teriakan balasan maupun lambaian tangan untuk memberitahukan keberadaannya.
"hyung.. kau bohong padaku, ya..? kok begitu sih, bilang saja kalau kau memang tidak membawa black card appa atau kau tidak ingin membelanjakan uang itu." Kyungsoo menekan gemas tombol hubung untuk menelpon Baekhyun. Tapi walau memang tersambung, Baekhyun tidak mengangkatnya, berulang kali Kyungsoo mencoba, berulang kali pula Baekhyun tidak mengacuhkan panggilannya. Kyungsoo pun semakin dibuat gemas dan jengkel. "kau benar-benar menyebalkan, hyung! Sangat-sangat-sangat menyebalkan—oh, awas saja, kau, aku tidak akan memasak untukmu selama seminggu gara-gara hal ini! Aku tidak peduli walau kau sesibuk apapun..!"
Kini, Kyungsoo memilih kembali ke spot duduk, mendaratkan bokongnya ke bangku yang kosong. Lelaki yang hobi memasak itu menghela nafas, berusaha merilekskan tubuh yang lelah kesana-kemari mencari sang kakak, sekaligus menahan kekesalannya yang telah merangkak dalam kerongkongan untuk disembur tanpa hambatan. Lagi, matanya menjelalati sepasang sepatu yang didekap erat di dada, lalu bergulir ke salah satu rak dimana sebelumnya sepatu itu duduk manis menunggu untuk dimiliki. Lelaki muda itu bingung, ingin sekali ia membeli sepatu ini sebelum dimiliki oleh pengunjung lain, tapi saat ini dompetnya tidak terisi apapun selain uang untuk transportasi pulang nanti.
Sekilas ia memilih untuk meletakkan kembali sepatu itu dan bergegas mencari Baekhyun—mengelilingi mall yang seramai ini, namun ia takut bahwa sepatu incarannya telah dibawa pulang orang lain. Ingin pulang pun, ia yakin tak akan sempat—intinya, jika Kyungsoo melepas sepatu yang kini didekapnya, maka kesempatan ia untuk kembali mendekap lagi setelah menggenggam uang tak akan ada, sebab kesempatan untuk pindah tangan lumayan memungkinkan.
Belum lagi terkadang Kyungsoo menangkap beberapa pasang mata yang mengarah padanya, mengarah pada sepatu yang didekapnya erat-erat di dada—oh ya, Kyungsoo benar-benar seperti anak-anak yang tak akan melepaskan mainan yang ia inginkan barang sedetikpun.
Menghela nafas lagi, menatap lekat-lekat sepatu sporty itu lagi. "bagaimana ini, bagaimana...? aku benar-benar jatuh cinta dengan anak ini! Ah, hyung! Kau menyebalkan! Akan aku adukan pada appa nanti, lihat saja!"
"atau.." kembali dilihatnya dafatar kontak di ponsel, menatap serius salah satu nama yang terlintas akan menjadi dewa penyelamatnya. "atau aku menghubungi Yixing hyung saja, ya, minta izin untuk meminjamkan beberapa lembar uang..? oh, ya, sebaiknya aku mencoba dulu." Tak lama, nada sambung terdengar setelah Kyungsoo menekan tombol hubung.
Menunggu dan menunggu, sambil sesekali matanya menjelajah mengamati sekitar toko yang mulai ramai oleh pengunjung, Kyungsoo menunggu panggilannya direspon Yixing dengan jantung berderap kencang.
Tut! Tut! Tut—klik!
/"halo, ada apa, Kyungsoo..?"/ suara merdu Yixing memecahkan lamunan Kyungsoo. Maka dengan wajah berseri-seri manis, Kyungsoo menjawab sapaan Yixing dengan nada semangat dan teramat senang.
"ah, hyung! Kau ada di mana sekarang..?"
/"hem..? aku dan Tao masih di pasar swalayannya, Kyungsoo-ya. Ada apa..? kau ingin menyusulku..?"/
"eh, bukan, hyung, maksudku—aku mau minta tolong padamu.. kau tahu, kan, rencananya aku ingin membeli sepatu dan tas baru, ditemani Baekhyun hyung, tapi sekarang Baekhyun hyung pergi entah kemana.."
/"oh.. coba kamu pergi ke stand information center saja, setahuku di lantai dua juga ada—toko sepatu yang kalian datangi di lantai dua, kan..?"/
"aduh, hyung! Kalau aku ke sana, sepatu incaranku akan diambil pengunjung lain—dan aku tidak mau, pokoknya sepatu ini harus aku bawa pulang, aku jatuh cinta dengan anak ini~" rajuk Kyungsoo. "karena itu, hyung... uh, aku boleh meminjam beberapa lembar uang untuk membeli anak ini tidak..? nanti akan aku ganti di rumah."
/"jadi kau mau meminjam uang..? ah, tidak masalah sih, kalau begitu kau yang menyusulku ke sini saja, pasar swalayannya ada di lantai dasar kok, Kyungsoo, tapi agak terlalu pojok, sih."/
"aduh... bisa tidak kalau hyung dan Tao yang menyusul ke sini, aku minta maaf, tapi aku tidak bisa melepaskan anak ini sedetikpun, aku takut dia dibeli orang lain, hyung-ah..."
/"em... tapi aku masih belanja. Kalau kau mau menunggu sekitar lima belas atau dua puluh menit lagi, kau tidak apa-apa..?"/
"oh, hyung! Aku sayang padamu! Tidak apa-apa, santai saja! Aku akan menunggumu di depan toko, oke..? hyung, jangan lama-lama, ya. Saranghae~" sambungan itu terputus dan tersenyum puas, Kyungsoo pun menumpukan punggungnya ke toko. "akhirnya selesai juga masalahku. Oh, nanti aku akan meminta izin pada Tao untuk bertukar hyung nanti, biar aku menjadi adik dari malaikat penolong nan baik hati macam Yixing hyung! Aahh~~~ indahnya hidup ini jika kau melakukan hal yang benar."
Dan... Kyungsoo yang imut kini hanya menunggu kehadiran Yixing dan tao yang sudah pasti datang menyusul. Sambil itu, ia mulai menyibukkan diri dengan permainan dalam ponsel, atau sesekali mendengarkan musik melalui earphone atau membuka media sosialnya. Sesekali, ketika keping bulat Kyungsoo menangkap pandangan orang yang tertuju pada sepatu yang ia pangku, maka ia akan mengeratkannya dan senyum simpul terpahat di wajah—jika sudah seperti itu, yang bisa ia lakukan hanyalah melihat jam, dan akan menghela nafas untuk menyemangati diri ketika ia baru tahu bahwa waktu masih berjalan delapan menit.
Kyungsoo bahkan malu-malu mengatakan bahwa dirinya sudah berniat membeli sepatu yang dipeluknya dan berkata sedang menunggu sang kakak untuk membayarkan ketika salah seorang pegawai toko bertanya akan perihal dia yang tak segera ke kasir namun memeluk erat barang jualannya.
Perlahan, suasana toko yang semulai ramai mulai tampak sepi, dengan antrian di kasir yang semakin berkurang setiap menitnya. Saat melihat itu, Kyungsoo semakin gelisah tak terkira, dan terus, terus, dan terus melongok ke luar toko hanya untuk menemukan keberadaan Yixing dan Tao—batinnya meronta-ronta ingin menangis, tatkala untuk kedua kalinya salah seorang pegawai menegur soal apakah dia hendak membeli sepatui tersebut. Kyungsoo, dengan pandangan memelas ingin menangis, hanya mengagguk lemah disertai senyum tipis. Namun senyum tipis itu pudar tatkala mendengar ucapan sang pegawai yang disertai senyum maut khas penjual giat, "mohon maaf sebelumnya tuan, tapi apabila dalam waktu lima menit ke depan Anda tidak segera membayar sepatu ini, Anda bisa kami laporkan kepada pihak manajemen toko."
"ke," kelereng bulat Kyungsoo berkaca-kaca. "kenapa bisa begitu..? aku kan tidak berniat mencuri sepatu ini—aku tidak!"
"saya paham, tapi Anda pasti tahu, bahwa bukan hanya Anda saja yang berniat membeli sepatu tersebut. Sebelumnya, saya mendapat permintaan dari salah seorang pengunjung, jika Anda tidak berniat dengan segera membayar sepatu itu, maka pengunjung itu akan membelinya—tentu jika Anda akan mengembalikan sepatu ini pada kami." pegawai itu mencoba memberi pengertian pada Kyungsoo, dengan sedikit panic, begitu matanya menangkap genangan kecil yang duduk manis di pelupuk mata bulat pria muda itu. dalam hati ia membantin, betapa anehnya seorang pria muda yang jiwa cengengnya masih tampak—walau sesensitif apapun. "dan sebagaimana dunia bisnis, kami pasti akan memberikan perhatian lebih kepada pihak yang telah memberi jaminan pasti—tapi karena melihat Anda senang sekali dengan sepatu itu, jadi setelah saya berdiskusi singkat dengan staf lain, maka kami hanya akan memberikan kesempatan lima menit untuk memastikan bahwa sepatu itu telah terjual—baik itu terjual kepada Anda atau kepada pelanggan yang saya maksud."
Kyungsoo terperangah, lalu dengan nada lirih, ia mengangguk mengerti. "baiklah, beri saya waktu lima menit untuk memustuskan. Terima kasih sudah memberikan pengertian, noona."
"sama-sama. Baiklah, saya permisi dulu, Tuan."
Kalut, panik, dan tertekan.
Dengan jari-jari yang bergetar, Kyungsoo bergegas merogoh ponsel untuk menghubungi Baekhyun atau Yixing—mencaritahu akan keberadaan mereka dan kepastian tentang mereka yang akan segera datang kemari. Saat menelpon sang kakak, tetap sama, tak ada respon berarti. Maka, dengan bulir-bulir cantik yang tak ia sadari meluncur menghantam lantai, Kyungsoo menekan penuh emosi tombol hubung ketika menangkap kontak ponsel Yixing, dan untuk pertama kalinya, Yixing tidak menjawab panggilan.
Kyungsoo bengong, lalu menelpon lagi sambil mengetuk-ngetukkan kakinya—mengabaikan pandangan aneh pengunjung lain ketika menangkap aliran air mata Kyungsoo yang menghias pipi gembilnya, dan lagi-lagi panggilannya tidak direspin Yixing.
"oh, Yixing hyung, kenapa kau tidak menjawab panggilanku..? uhh.. apa yang harus kulakukan—ah, atau aku coba telpon Tao saja..? Yixing hyung pergi bersama Tao, 'kan..?" Maka, dicarilah kontak telepon si bungsu Huang. Sambil menunggu respon, untuk yang kesekian kalinya, Kyungsoo mengubah posisi menjadi duduk, berdiri, duduk dan berdiri lagi—berkali-kali untuk menghilangkan kegelisahan.
Tut! tut! tut—klik!
/"halo..?"/
mengerjap, dan mengerjap lagi hingga tiga kali jumlahnya, lalu meli9hat layar ponsel yang menampilkan foto Tao sedang ber-aegyo dan dengan tulisan 'Calling now: Huang Panda'. Saat itu, Kyungsoo membatin bahwa memang benar dirinya menelpon Tao, tapi yang membuatnya bingung adalah, suara penjawabnya. Suara itu bukanlah suara Tao, atau Yixing, atau ayah dan ibu si sulung-bungsu Huang—tapi pria dengan nada suara rendah yang logatnya terdengar kebarat-baratan.
/"halo..? hei, ada apa..? are you still there, buddy..?"/
"ah! err.. no, no.. sepertinya aku salah orang, mister! apologize me, please!" Dan panggilan itu terputus, dengan jantung berderap hebat—berharap bahwa pria yang Kyungsoo kira salah orang itu akan mengerti ucapannya barusan.
Tinggal satu menit lagi—begitu ia melihat jam yang tergantung di dinding toko, dan tinggal satu menit lagi waktu yang dimiliki Kyungsoo untuk memastikan apakah dia akan membeli sepatu tersebut atau tidak. Teramat berat hati, Kyungsoo melihat kembali sepatu incarannya dengan wajah sendu. Lalu sambil berjalan ke rak dimana sebelumnya sepatu itu diam manis, Kyungsoo membatin bahwa mungkin sepatu ini bukan lagi miliknya—mungkin ini bukanlah rezekinya dari Tuhan. Dan setelah berkelahi dengan perasaan, Kyungsoo pun memutuskan untuk tidak membeli sepasang sepatu menawan itu, merelakan diri untuk dimiliki orang lain.
"ya sudahlah, mau bagaimana lagi, mungkin memang sudah seharusnya aku tidak diperbolehkan untuk membawa pulang anak ini—"
—Djuk!
"—aw! akh, dadaku agak nyeri—lho, Kyungsoo-sshi..?!"
"aduh! mi—mianhae, Tuan—ah! Ma, manajer hyung!"
Terkesiap bukan main, begitu mengetahui jika seseorang yang tak sengaja ditabraknya adalah manajer tempat ia bekerja sambilan. Semakin malu pula perasaannya tatkala sang manajer yang menjadi target penaklukan menatap lekat-lekat wajahnya yang sedang berurai beberapa bulir air mata—karena itu dengan cepat-cepat Kyungsoo menghapus bulir-bulir itu dengan kasar, lantas terkekeh seolah ia sama sekali tidak menangis beberapa menit ke belakang. Itu, cukup membuat sebelah alis sang manajer terangkat penasaran. Teramat penasaran hingga ia mengaikan tepukan singkat di pundak dari temannya yang mengatakan bahwa temannya itu akan mencari sepatu yang ia incar.
"kau menangis—maksudku, kau kenapa menangis, Kyungsoo-sshi..?"
"ah, bukan apa-apa kok, manajer hyung." Kyungsoo menggulirkan bola matanya gelisah, sebab sang manajer masih menatap dalam-dalam wajahnya yang tampak kusut. "eh.. eh.., kenapa manajer hyung ada di sini..?"
"kenapa..? memangnya aku dan temanku tidak boleh datang ke sini, hem..? dan ngomong-ngomong, aku sedikit risih dengan panggilan 'manajer' itu, kau tahu." sang manajer bersidekap dan menatap illfil Kyungsoo yang melongo kaget. "jadi, panggil namaku saja—Jongin, biar akrab. Bagaimana..?" awalnya Kyungsoo hanya diam, tak lama kemudian mengangguk agak kaku. Itu membuat sang manajer berkulit tan—Jongin—mengangguk puas. Dan tak dinyana, tangan kanannya melayang hanya untuk ia daratkan dengan ramah di pucuk kepala berhelai lembut Kyungsoo—membuat kancing wajah Kyungsoo terbelalak dan menunduk malu, tidak melihat bahwa Jongin tersenyum geli karenanya. "aku baru tahu kalau kau sedikit pemalu, Kyungsoo-sshi. Oh ya, tadi kenapa kau menangis..?"
Kini dua pasang kelereng menawan yang berkilat-kilat indah itu saling bersirobok, menatap lekat wajah sang lawan pandang dengan ekspresinya masing-masing; ekspresi ragu dan bingung yang disiratkan oleh Kyungsoo dan ekspresi lembut dan ramah yang dipamerkan oleh Jongin. Tanpa sadar, kelereng Kyungsoo berkilat aneh, dan tak lama berkaca-kaca seperti ingin menangis, itu membuat Jongin tambah heran—dan semakin heran ketika Kyungsoo memutuskan kontak keping mata mereka untuk didaratkan pandangannya ke sepasang sepatu yang masih di peluk pria bermata bulat tersebut.
Jongin, yang memang seorang lulusan dari jurusan psikologi, mengerti baik-baik arti tindak-tanduk salah satu karyawan cafenya itu. Lalu dengan sedikit ia rendahkan untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Kyungsoo, Jongin berbisik sambil menyentuh kedua pundak sang pria lawan pandang, "apa itu karena aku menabrakmu atau karena sepatu itu..?"
"a—apa..?"
"yah, kau tahu..?" Jongin menghapus bekas anakan sungai air mata di pipi gembil Kyungsoo, mengabaikan pandangan aneh dari para pengunjung yang berlalu lalang di sekitar mereka. Tapi tidak dengan rona tipis yang mulai mencumbu manja pipi putih pria di hadapannya itu, ia bisa melihatnya dengan jelas meskipun tertutup bayang-bayang "aku hanya mengira-ngira kalau kau menangis karena aku telah menabrakmu tadi, atau kalau tidak, pasyi ada sesuatu yang membuatmu menangis dan itu berhubungan dengan sepatu yang kau peluk sekarang."
"... ke... kenapa manajer—um, maksudku Jongin-sshi menyimpulkan itu?" Kyungsoo memaksakan diri untuk tertawa, tapi itu tidak lucu bagi Jongin, jadi hanya pria bermata bulat yang hobi memasak itulah yang tertawa. "itu karena kau tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya tentang alasan kau menangis, tapi justru menatap kearah sepatu itu. Itu tandanya secara tidak langsung kau memberitahu padaku kalau sepasang sepatu itulah yang membuatmu menangis. Tapi aku tidak tahu pasti kenapa sepatu itu yang jadi tersangka utamanya...?"
"ha ha ha.. tersangka utama kau bilang, Jongin-sshi..? itu lucu sekali." Jongin menghela nafas lega tatkala binar indah Kyungsoo kembali menghuni bola mata bulat itu. Lalu sambil tersenyum simpul, malu karena tebakan Jongin benar sekaligus karena telapak tangan pria berkulit tan tersebut masih menangkup pipinya—jari-jarinya masih bergerilya lincah, Kyungsoo mengaku. "kau benar, Jongin-sshi. Aku malu mengakui hal ini, tapi memang tebakanmu benar, sepasang sepatu inilah yang membuatku menangis tadi."
"kenapa..?"
"uh.. itu," Kyungsoo memejam erat-erat matanya, bibirnya ia gigit-gigit kecil untuk setelahnya dengan getar dan sensasi panas bekas gigitan, Kyungsoo melanjutkan, "itu karena aku tidak bisa membeli sepatu ini—aku menyukainya, aku ingin membawanya pulang. Tapi karena aku tidak membawa uang, dan karena kakakku yang membawa black card punya appa kami entah di mana keberadaannya sekarang, aku terpaksa membatalkan untuk membelinya." Kyungsoo menatap lagi sepasang sepatu yang masih ia peluk hangat. "itu membuatku kesal sampai-sampai aku menangis—maafkan aku, Jongin-sshi, tapi inilah aku; yang akan menangis saking jengkelnya kalau apa yang aku inginkan tidak aku dapatkan secepat mungkin."
Jongin terdiam. Lantas melepaskan tangkupannya, itu membuat Kyungsoo merautkan wajah kecewa sekaligus takut-takut jika Jongin menjauh karena sifat buruknya. Tapi, apa yang terjadi selanjutnya tidak sesuai perkiraan sang pria muda tersebut, karena setelah waktu berputar semenit lamanya, Jongin mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Kyungsoo terpekik kecil dan menganga kaget. Saking terkejutnya, Kyungsoo tidak menyadari jika dirinya sudah diajak pergi ke kasir oleh Jongin dengan tangan mereka yang saling bertautan.
"kalau begitu, aku akan membelikannya untukmu. Jadi, kau bisa membawa pulang sepatu itu dengan atas namamu secara sah, dan ayo kita ke kasir sekarang sebelum antriannya bertambah panjang."
"hei, bung!" seorang pria memanggil Jongin yang hampir mendekati kasir yang sedang sepi. Jongin dan Kyungsoo menoleh, lalu hanya Jongin saja yang merespon panggilannya—sementara Kyungsoo masih diam dengan wajah penasaran seperti anak kecil. "oh, kau sudah menemukan sepatu yang kau incar, bung..?"
Pria itu menggeleng, namun tak lama matanya tertumbuk pada sepasang sepatu di dada Kyungsoo. Maka dengan refleks, pria yang merupakan tetangga apartemen dan teman klub street dance-nya menunjuk sepatu tersebut dengan pandangan berbinar-binar. "hei, itu sepatu yang kucari-cari daritadi!" sahutnyamembuat Kyungsoo berjengit, lalu bergerak bersembunyi di balik punggung tegap Jongin. "kau telah mengambilnya lebih dulu ternyata, pantas saja tidak ada di rak sepatu! oh, sialan sekali!"
"ha ha ha! maafkan aku, bung, tapi bisakah kau biarkan dia memilikinya..? kau tahu? bahkan dia sampai menangis karena terlalu ingin membelinya." dan cubitan pedas melayang di pinggul Jongin. Pria tan itu meringis, lalu bersama temannya yang juga sadar akan cubitan itu terkekeh kecil begitu melihat ekspresi Kyungsoo yang merajuk. "maafkan aku, Kyungsoo-sshi. Aku kelepasan, he he he!"
"ya sudah kalau begitu, aku akan membiarkannya." pria teman Jongin mangut-mangut dengan dagu yang diapit jarinya. "tapi kau memanggil namanya dengan embel-embel –sshi, Jongin. Bukankah itu kurang romantis..?"
Jongin dan Kyungsoo melirik satu sama lain, dan bertanya dengan timing yang bersamaan, "kurang romantis..? maksudnya..?"
"kalian pacaran, 'kan..?"
"apa..?!" lagi, mereka berdua kompak kembali.
"oh, ayolah, tidak usah malu-malu! aku terbuka soal hubungan antar sesama pria/ lelaki, kok, tenang saja! oh ya, Jongin, sepertinya ku tidak bisa menemanimu untuk membeli tas backpack baru. Tadi adikku menelpon, ia minta di jemput dari tempat les pianonya. Apologize me, my brother."
Jongin mendesah kecil, lalu menggaruk tengkuknya tidak nyaman dengan tatapan bersalah yang dilayangkan temannya. "ah.. begitu, Ya sudahlah, apa boleh buat. Mungkin lain kali kau bisa menemaniku lagi kalau ada waktu luang—"
"—uh, aku tahu sebuah toko tas yang menjual ransel backpack bagus dengan harga terjangkau." Kyungsoo menyela, sebelah tangannya menarik-narik lengan pakaian pendek Jongin. "aku bisa mengantar Jongin-sshi kalau kau mau. Bagaimana..?"
"aha! akhirnya ada juga yang membantumu, bung!" teman Jongin menepuk-nepuk pucuk kepala Kyungsoo dengan bersemangat, membuat helainya berantakan. "dia benar! bagaimana kalau biarkan dia mengantarmu menggantikan aku..? sekalian kalian berkencan, hem..?"
Jongin menatap Kyungsoo dengan wajah berseri-seri. "benarkah..? kau tidak keberatan jika kau mengantarkanku..?" Kyungsoo menggeleng semangat. Senyum manis merekah indah di wajahnya yang menggemaskan. "baiklah! kau antarkan aku ke toko tas yang kau maksud, ya! mohon bantuannya, Kyungsoo-sshi!"
"oke, masalah selesai! meskipun aku bingung kenapa kalian berbicara dengan panggilan nama yang baku, tapi sudahlah, tak apa-apa! jadi, sampai jumpa lagi, kawan! selamat berkencan!" Mereka bertiga saling melambaikan tangan perpisahan, dan setelah punggung pria yang merupakan teman Jongin itu mulai tak tampak, kembali Jongin mengajak Kyungsoo ke kasir. Semula Kyungsoo hanya diam saja dengan sebelah tangan Jongin mendarat di pinggulnya, namun pertahanannya mulai runtuh ketika Jongin berbisik tepat dengan jarak mulutnya dan telinga Kyungsoo teramat dekat. "maafkan aku, ya, Kyungsoo-sshi. Temanku memang seenaknya menduga-duga, kau tidak marah, kan..?"
Kyungsoo menggeleng kaku, lalu melirik Jongin sambil tersenyum kecil. "tidak. Aku tidak marah, Jongin-sshi."
"kupikir kau marah," tak disadari, Jongin mendaratkan hidungnya untuk mencium-cium bau manis dari helai rambut Kyungsoo. Kyungsoo hanya diam, gugup, dan gelisah dengan diam-diam menelan bulat-bulat saliva yang menyangkut di kerongkongan. "itu cukup melegakan. Nanti, temani aku beli tas di toko yang kau maksud ya, Soo-ya."
Kyungsoo berdeham mengiyakan, dan memilih fokus dengan antriannya. Bahkan ia tidak peduli dengan pandangan aneh dan bisik-bisik dari sekitarnya—lebih memilih menikmati rengkuhan tak langsung dari sang manajer tercinta dan mengajaknya mengobrol banyak hal dengan bisik-bisik mesra. Bahkan sesekali mereka tertawa kecil jika ada kalimat atau hal atau cerita yang menurut mereka lucu. Tampak seperti dunia hanyalah milik mereka berdua.
Hal tersebut, membuat pria muda bermata bulat itu mulai percaya sebuah pepatah tua, bahwasanya jika kau sudi untuk bersabar sedikit lebih lama, maka kesabaran itu akan berbuah manis, entah seperti apa bentuknya dan kapan terjadinya. Dan itu persis dengan apa yang Kyungsoo alami saat ini—bahkan buah dari kesabarannya terlampau manis sampai-sampai ia terpedaya dengan rasa manisnya.
.
.
.
.
.
To be Continued
