Author Note:
YUHUUUUUUU! Icha kembali lagi menyapa para warga Ffn dan jangan pukul Icha pakai kolornya Pein karena lama mengupdate fic ini
Pein: SHINRA KOLOR!
Krikk..krikk..krikk..
Pein-_-, ini bukan tempat ngelawak kayak MSB ya..ehem, ehem..baiklah maafkan Icha karena lama mengupdate fic yang satu ini *bungkuk-bungkuk hingga kejedut meja* Icha senang atas respon dari para Readers yang selalu mendukung untuk menuntaskan fic ini, Yosh! Icha akan menamatkan fic ini seperti dua fic lainnya *yang satu kan punya Doni-san*
Ngomong-ngomong soal Doni-san, dia titip salam kepada para Readers karena dia baru kemarin kembali ke Singapura lagi karena ada kerjaan. Yah, katanya mungkin satu hari sebelum lebaran baru dia datang, mudah-mudahan bawa oleh-oleh ya Doni-san, nanti Icha bagi ke para Readers sekalian.
#bisa gak Cha bagi oleh2 nya?
Bisa lah, kan oleh-oleh Fanfic *PLAK!*
Hahaha, oke..langsung saja ke membayas yipiu *SOK IMUT!*
Topeng Lolli Kura: Huahahaha *ketawa gila juga* arigatou huahahahaha, adios amigos^_^
Hikari Syarahmia: Yuhuu, oke sip sip. Arigatou karena suka sama Shizu-chawn yang gak jelas gendernya *diketekin*. Hahaha, boleh banget malah. Yap, nanti PM Icha ya..atau Icha Pm duluan?
Sodikin. Limpakuwus: Haha, akan Icha coba. Ni cerita tiga beruk *maksudnya Naru, Sasu, Shizu* sudah mencapai tahap konflik. Gomen kalau humornya agak berkurang^_^. Arigatou ya..
UzumakiDesy: Hihihi, hati-hati..nanti ada mbah Orochi di belakangmu lho *apa hubungannya?* haha, arigatou..
Uchiha yahiko: Emm, pertanyaan yang sulit. Dari deskipsinya wajah Shizu-chawn itu imut2 canti gimana gitu. Kalau boleh saran bayangin wajah Kuro-kun di anime *ah sudahlah* pokoknya dia itu Trap Tsundere kayak Kuro-kun. Pengerjaan fanartnya masih nunggu kawan Doni-san yang punya akun fanart di salah satu situs terkenal. Arigatou ya..
Sae. Fullo. 1: Hohoho *tawa sok misterius* tunggu aja Sae-san. Kita tunggu mereka bertiga memecahkannya. Haha, oke sip dan arigatou..
Akhyar Orochimaru: Waaaa, memang ada menjurus ke sana sihT_T gomen ne Icha ya. Tapi gak ada kok, mereka bertiga normal dan..haha, Naru-Sasu kan hanya main2 aja, Shizu aja yang kege eran *PLAK*. Emm, soal itu akan Icha tanya Doni-san aja, karena fic ini kan berbased by ficnya TBT. Arigatou ya..
Ara Aya: Haha, lihat nanti di chap ini Ara-san. Kok bis cengo karena Kura-chan dan Shizu-chan? Arigatou ya..
Fahri. Uchiha: #Yosh! Arigatou Fahri-san. SEMANGAAAAT! *BLAAARHH!*
Guest: Haha, oke sip. Arigatou ya..
Opek. Zesyu: Ocheee! Arigatou atas reviewnya .
Hanafid: Desa Kurai itu terkesan kelam dan mencekam. Seperti di chap satu kata Shizu, beda dengan Kirigakure yang selalu berkabut, Kurai no Sato memiliki suasana kelam yang sangat amat mencekam, apalagi di dekat Lembah Kuroyami-nya^_^, arigatou ya..
FISIKA: JANGAN TAKUT FISIKA-SAN KARENA ICHA JUGA TAKUUT*Cha, balik gih cuci muka (?)* hihi, ide horrornya dari Crisya-senpai. Arigatou kepadanya karena telah membuat ide ini. Arigatou ya Fisika-san^_^
Uzumaki LOVE Hyuuga: Haha, hemm..betul juga kalau ini movienya TBT *plak* gak jelek kok, mala hide yang bagus. Oke sip dan arigatou ^_^
Freak: Icha Rapopo kok. Icha kan selalu opo-opo *cha, balik gih cuci muka (?)* hihi, oke..emm, kita akan lihat jutsu2 duo tim kita Freak-san, arigatou ya..
Awar. Muna: Oke sip, arigatou ya..
Kirigaya O: Haha, sip lah. Kita lihat apa gulungan kedua berhasil dicuri. Arigatou ya^_^
Ahmadbima27: Oye..arigatou Bima-san^_^ sip..
Sarutobi RianMaru: Waaa, Rian-san. Sungguh pikiran anda begitu hebat. Hehe, asyik juga nih review Rian-san. Akan kita lihat Rian-san *nyengir* apakah trio kita bisa menuntaskannya^_^ arigatou ya..
Arc-kun: Haha, betul2, chap 3 memang khusus untuk fanservice Shizu-chawn^_^ arigatou atas reviewnya ya..
Arevi. Are. Vikink: Haha, iya..si Naruto pakai acara meluk2 segala. Coba meluk Icha aja *RASENGAN!* Hihi, arigatou ya^_^
Hanzer v Reload: Haha, jangan bingung Hanzer-san. Nanti kasih milk cow kok (?), arigatou ya..
Kun-cici naru: Waduh..1, 2, 3 *Icha ngapain?* hihi, arigatou ya..
Narutouzumaki. Un42: Hehehe, analisis yang bagus Un-san. Tapi kita akan lihat apa trio kita bisa membongkarnya. Arigatou ya..
Querilla Nyxa: KYAAAA, ide yang bagus. Akan Icha tanya langsung ke Doni-san dan Icha paksa *WAHAHAHA* arigatou dan jangan smirk evil ya Querilla-san^_^
Sgiariza: Gak apa-apa kok^_^ tetap semangat Sgiariza-san, puasa tinggal beberapa hari lagi^_^ arigatou ya..
Dark Namikaze Ryu: Iya Dark-san, boleh kok manggil Icha-Hime, wohohoho *diketekin* hemm, kalau sampai 20 gak kali Dark-san. Target Icha 10 chap lah..karena ini kan hanya TBT side story arc. Arigatou ya..
Muhammad. Khadafi. 777158: WAHAHAHA, bisa aja Khadafi-san ini. Mungkinkah Khadafi-san? *PLAK* hehe, arigatou ya dan hati-hati lho nanti Shizu-chan marah^_^
Yap, arigatou semuanya dan semoga menikmati chap keenam. Oh ya, special action diketik oleh Icha *apa yang special Cha* maksudnya Icha yang ngetik tapi Crisya-senpai yang beri ide. Hihi, so then..
Welcome to The Best Team^_^
THE BEST TEAM : THE DEATH SCROLL
By Icha Ren
Based the fic THE BEST TEAM by Dony Ren
NARUTO BY MASASHI-KISHIMOTO-SENSEI
THE BEST TEAM : THE DEATH SCROLL IS A SPECIAL LOST ARC AND WILL BE TOLD BY THE THREE CHILDREN WHO HAD BEEN DETERMINED IN A FIGHT
Genre : Adventure, Friendship, Mystery and Humor
Rate : T
Warning : Aneh, Abal abal, Typo(s), Alur Gaje, OOC, OC and Many More
Not Yaoi, Hanya Special Service untuk Shizu-chawn, karakter OC yang Manis, Cantik serta Tsundere..tapi dia laki laki bung^_^
.
.
Enjoy it!
Sebelumnya di Special arc The Best Team:
Naruto, Sasuke, dan Shizukesa kini menemukan banyak fakta baru dalam misi mereka. Letak gulungan kedua sudah diketahui dan isi dari dua gulungan sudah dilihat. Namun, sebuah kata..dosa, mengiringi misi ini di dalam ketakutan mengerikan yang tak terbayangkan!
Chapter 6 : Stratagem
"KALIAN MASIH TETAP DI SINI?!"
Han Miyamora memandang tajam Naruto cs. Sasuke memandang malas ke arah adik Jun Miyamora tersebut. Shizukesa membuat isyarat supaya dia-lah yang berbicara.
"Gomen Tuan Miyamora. Kami bertiga tidak bisa meninggalkan misi ini. Kami-"
"Ya ya aku tahu! Kalian bertiga adalah ninja Konoha idiot.." kata Han sambil berjalan memasuki rumahnya. Naruto, Sasuke, dan Shizukesa yang berdiri di depan rumah terdiam mendengar ejekan dari mulut pria besar tersebut.
BRAKHH! Tiba tiba sebuah lubang muncul di pintu yang berada di samping kepala Han. Han menoleh dengan wajah pucat ketakutan.
"Apa..apa yang kau lakukan bocah-bocah?!"
Naruto mendengus pelan "Begini Tuan Miyamora. Aku dan teman-temanku bisa saja menghancurkan desa ini demi mendapatkan info tentang gulungan itu,"
"Kalau kita menghancurkan desa ini sama saja dengan menggagalkan misi kita, Naruto.." bisik Shizu pelan dengan wajah sweatdrop. Naruto menyengir ke arah Shizu.
"Aku bercanda dan ini taktik," balas sang Uzumaki berbisik pelan. Shizu menghela napasnya perlahan.
"Jadi dengarkan Tuan Miyamora. Kami ingin mendapatkan beberapa informasi dan kami akan membantu sekuat tenaga untuk menyelesaikan masalah ini-ttebayo!" Naruto menatap penuh semangat ke arah Han. Han menggigit bibir bawahnya. Dia tampak berpikir keras.
"Bagaimana?" tanya Sasuke dengan wajah datarnya. Matanya tetap menatap malas ke arah adik bungsu Ken dan Jun Miyamora tersebut. Han menghela napasnya.
"Baiklah. Tapi kuharap kalian berguna.." Han membuka pintunya dan meneguk ludahnya saat melihat bekas lubang yang berada di pintunya tersebut "Siapa yang membuat kerusakan seperti ini?"
Naruto menyeringai "Aku." Katanya singkat. Han melirik ke arah Naruto dan meneguk ludahnya.
'Dia bukan bocah sembarangan!' batin pria besar tersebut "Ayo masuk ke dalam!" katanya dengan nada yang berusaha dibuat seramah mungkin. Naruto, Sasuke, dan Shizukesa saling berpandangan. Tampaknya pendekatan secara dialog akan mereka lakukan.
Tiga ninja Konoha itu pun duduk di ruang tamu tradisional keluarga Miyamora. Han duduk sambil membetulkan pakaian kimono hitamnya. Matanya memandang tajam tiga ninja muda itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Jadi, apa yang ingin kalian ketahui?" tanya Han langsung "Aku tidak mempunyai banyak waktu.."
"Soal isi gulungan itu. Apa kau pernah membukanya?" tanya Shizu langsung. Mata coklat keemasannya menatap intens perubahan mimik terkejut Han.
"A-apa maksud kalian. Jangankan mau melihatnya, gulungan itu sangat berbahaya jika kita melepaskan segelnya! Makanya gulungan itu disebut gulungan kematian karena dampaknya yang berbahaya!"
Shizu menatap tajam Han. Sasuke memejamkan matanya dan mengangguk tidak jelas. Dia membuka onyxnya perlahan.
"Apa ada orang yang anda curigai sebagai pencuri gulungan pertama dan kedua?" Sasuke sengaja menanyakan gulungan kedua juga, agar terjadi keseimbangan informasi kepada Han tentang hilangnya dua gulungan tersebut.
Han terdiam sejenak. Dia tampak berpikir keras.
"Aku tidak tahu.." katanya kemudian "Aku tidak tahu."
"Atau anda sendiri pencurinya-ttebayo!"
Mata Han membulat terkejut. Naruto menyeringai "Ya! Pencuri mustahil mengaku!"
"Apa maksudmu?! Kau ingin memfitnahku bocah sialan!" teriak Han marah. Naruto terkekeh pelan. Sementara Shizu dan Sasuke memandang bingung ke arah Naruto.
"Oh, jadi tebakanku salah ya?" kata sang Uzumaki enteng. GUBRAK! Sasuke dan Shizu langsung jatuh sweatdrop.
"Tapi, tuduhanku ada dasarnya kok," Naruto mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Han "Pada saat hari kematian Tuan Jun Miyamora, kakakmu, kau membawa sebuah tas yang mencurigakan!"
! Sasuke dan Shizukesa langsung terkejut.
"AKU BERANI BERTARUH KALAU TAS ITU BERISI GULUNGAN YANG PERTAMA-TTEBAYO!"
Han meringis kesal. Sasuke dan Shizukesa menatap Naruto dengan pandangan 'Kau-kok-bisa-pintar-ya'.
Sejenak suasana di ruangan itu menjadi hening. Naruto masih tersenyum penuh kemenangan sambil telunjuknya tetap mengacung ke arah Han. Sasuke dan Shizukesa saling berpandangan. Sedangkan Han Miyamora menundukkan kepalanya ke bawah. Wajahnya tampak buram.
"Tuan Han..apa itu benar?" tanya Shizu hati-hati.
"Salah."
"Eh?" Naruto mengangkat alisnya perlahan-lahan. Han menghela napasnya dan wajahnya tampak gelisah.
"Kalian percaya kepadaku?" tanya Han kemudian. Tiga ninja muda itu saling berpandangan.
"Jika kau percaya kepada kami," Naruto menganggukkan kepalanya perlahan "Maka jawabannya ya. Bukan begitu teman-teman?"
Sasuke dan Shizukesa menganggukkan kepala. Han memandang ragu ragu ketiganya.
"Apakah sejak awal kau mencurigai kami, Tuan Han?" tanya Shizu lembut. Han menelan ludahnya gugup.
"Ten-tentu saja. Gulungan rahasia desa Kurai memiliki kekuatan misteri. Jika jatuh di tangan yang salah maka akan berbahaya," Han menatap ketiganya kembali, kini dengan tatapan berbeda "Aku mengira kalian adalah bandit ninja yang menyamar sebagai ninja Konoha, makanya aku tidak percaya kepada kalian bertiga. Kemudian kukumpulkan seluruh keluarga dan kami memutuskan kalau kalian harus pergi dari masalah ini. Lagipula Ishina-san sebagai istri kakakku juga menyuruh keras kalian untuk pergi.."
"Eh?" Naruto menggaruk kepalanya kebingungan "Istri Tuan Jun Miyamora menyuruh kami pergi juga, atau..atau ada yang menghasutnya atau juga bisa dia terpengaruh rasa curigamu?"
Han menggelengkan kepalanya perlahan "Bisa jadi. Entahlah aku tidak tahu pasti. Yang penting dia menyetujui isi pikiranku tempo dulu.."
"Hn..jadi, apa kau mempercayai kami, Tuan Han?" tanya Sasuke kembali ke topik. Han memandang mantap ketiganya.
"Mudah mudahan kalian memang ninja-ninja terbaik Konoha. Baiklah, aku percaya dan akan kuberi suatu penjelasan kepada kalian. Ayo ke kamarku sekarang!"
Naruto, Sasuke, dan Shizukesa tersenyum lega. Satu langkah mereka lebih maju!
Mereka berempat pun berjalan meninggalkan ruangan tersebut tanpa tahu seseorang sedang mengawasi dengan tatapan tajam.
.
.
.
Han duduk dengan sikap tenang di ranjangnya. Matanya terpejam sebentar dan kemudian terbuka lebar. Dia bangkit dari duduknya dan merangkak memasuki kolong tempat tidurnya. Saat tubuh besarnya setengah masuk dia meneriakkan sebuah kalimat yang agak memalukan di situasi serius sekarang.
"Aku tersangkut!"
Naruto, Sasuke, dan Shizukesa saling bertatapan dengan wajah sweatdrop.
"Siapa yang bantu dia?" tanya Naruto pelan. Mereka bertiga kini sedang saling berbisik.
"Kau saja. Kau Jinchuuriki," kata Sasuke enteng "Chakramu besar. Badannya besar. Sama sama besar. Simpel kan?"
"Kau Uchiha bodoh!" Naruto ingin memukul kepala partner pantat ayamnya tersebut "Shizu-chan bagaimana?"
"Kenapa aku?" tanya Shizu
"KAU CANTIK!" kata duo Uzumaki-Uchiha itu dengan kompak. Shizu langsung sweatdrop.
'Kenapa aku? Dan gezz..aku kan laki laki,' batin Shizu kesal.
"Bagaimana Shizu-chan," Naruto mengeluarkan puppy eyesnya "Kau kan bisa menaikkan chakramu dan membuat si besar itu pingsan. Jadi kau bisa menariknya dengan mudah,"
"Ide terbodoh yang pernah kudengar," kata Sasuke dengan nada sedikit kesal "Kalau dia pingsan makin sulit menariknya Dobe. Shizu pun akan kesusahan,"
"Ehem. Aku sengaja memberi ide seperti itu," wajah Naruto berubah jahil "Ciee perhatian,"
Shizu langsung lari dari bisik-bisik tak bermanfaat tersebut dengan wajah kesal. Dia berjalan mantap dan mengangkat sedikit tempat tidur itu agar Han bisa leluasa keluar dari sana.
"Ah leganya bisa keluar," kata Han dengan wajah bahagia. Naruto dan Sasuke saling berpandangan.
"Kita bodoh," kata keduanya dengan wajah datar. Shizu sweatdrop melihatnya.
"Baiklah..hah..hah.." Han tampak ngos-ngosan "Ini dia tas yang pernah kalian lihat," Han pun duduk bersila di lantai kamar tersebut, diikuti Naruto dan Sasuke, serta Shizu yang duduk dengan kaki dilipat ke depan secara sopan. Han menatap ketiganya dengan pandangan tajam.
"Tas ini.." Han membuka tasnya dan tampak sebuah gulungan berada di dalamnya.
"Sudah aku duga dattebayo! Tas yang dibawa Tuan Han pasti gulungan pertama!" kata Naruto dengan wajah senang. Sasuke mendengus pelan karena merasa Naruto lebih jeli dibanding dirinya, tetapi perasaan sang Uchiha lega karena mereka melangkah lebih jauh lagi.
"Jangan gembira dulu," kata Han Miyamora dengan pandangan tajam. Dia membuka ikatan gulungan tersebut dan melepaskan segelnya dengan cepat. Naruto, Sasuke, dan Shizukesa sudah siap dengan serangan angin dingin mengerikan tersebut.
TRAK! Gulungan tersebut terbuka cepat. Tiga ninja muda itu menutup mata dan menahan napas dengan sigap. Kewaspadaan dan konsentrasi mereka meningkat.
Tidak terjadi apa apa.
Hanya biasa saja.
"Aneh," gumam Sasuke sambil membuka sebelah matanya "Kenapa rasanya.."
Han tersenyum "Tampaknya kalian sudah tahu tentang gulungan ini ya?"
Naruto, Sasuke, dan Shizu saling berpandangan. Gerak gerik mereka membuat Han tahu bahwa mereka sepertinya sudah pernah melihat isi gulungan kematian tersebut.
Shizu menganggukkan kepalanya perlahan "Karena kita sudah saling percaya maka akan aku ceritakan. Bagaimana teman teman?" Shizu minta persetujuan teman temannya. Naruto dan Sasuke tampak berpikir sejenak sampai akhirnya duo Uzumaki-Uchiha itu menyetujui dengan menganggukkan kepala mereka.
Shizu pun menceritakan perihal tentang gulungan kedua dan di mana letaknya serta tentang Chisai, Nagawa dan kakak sulung Han, yakni Ken Miyamora. Saat mendengar nama Chisai tampaknya Han tidak terlalu terkejut, namun saat tahu kalau gulungan kedua berada di tangan keluarga kakak iparnya itu-istri Ken Miyamora-raut wajah Han menampilkan ekspresi yang sedikit shock.
"Jadi begitu.." gumam Han sambil mengangguk mengerti. Dia kemudian menatap ketiganya dengan tatapan serius "Baiklah. Kalian benar benar kupercaya sekarang. Begini.." Han meletakkan gulungan misterius itu di samping tasnya. Han menunjukknya dengan telunjuk kanannya "..Gulungan ini palsu,"
"Apa?!" Naruto dan Sasuke memandang kebingungan. Shizukesa mengerutkan keningnya.
"Yah, saat aku mendengar akhir-akhir ini almarhum Nii-sanku sering berkeluh sakit maka aku berpikir sesuatu yang agak..hm, bisa dibilang jauh," Han terdiam sejenak "Aku berpikir kalau Nii-san diracun dan ingin dibunuh demi dua gulungan tersebut,"
"Jadi itu sebabnya kau membuat gulungan palsu ini," Sasuke mulai mengerti arah cerita tersebut "Kau membuat yang palsu dan ingin menukarnya dengan yang asli. Kau membuatnya ini di luar desa dan itu yang membuat dirimu berada jauh dari tempat ini." Sasuke mengangguk mengerti "Kau terlambat Tuan Han, gulungan itu sudah dicuri lebih dahulu.."
Han menghela napas pasrah "Hah, yah..aku lega gulungan kedua berada di tangan yang jelas. Itulah yang menyebabkan aku gugup sewaktu kau memegang tasku nak," Han memandang ke arah Naruto "Aku takut kau membuka tasku dan mengeluarkan gulungan palsu ini lalu bertanya 'apa ini?', itu sama saja dengan aku mencuri gulungan itu walaupun ini palsu, aku pasti dianggap sudah merencanakan pencurian tersebut.."
'Kenapa di khayalannya sepertinya aku orang yang bodoh ya?' batin Naruto sweatdrop. Sasuke mengelus tengkuk lehernya.
"Hn, walaupun kau sebenarnya bertujuan baik," Sasuke kemudian menoleh ke arah Shizu. Shizu mengangguk mengerti.
"Tuan Han. Apa kau tahu soal kutukan keluargamu?" tanya Shizu dengan nada serius. Han yang kini sedang memasukkan gulungan palsu tanpa lukisan itu berhenti sejenak.
"Maksudmu kutukan Kagemi Miyamora?"
"Kagemi..Miyamora?" kata tiga ninja muda itu bersamaan.
"Kagemi Miyamora. Orang yang bisa disebut nenek moyang kami dan orang yang membuka lahan di tanah ini, yang akhirnya menjadi Kurai no Sato. Kagemi Miyamora yang dikenal sebagai sang pelukis gila, pelukis sadis, dan pelukis darah.." wajah Han berubah suram "Lukisannya sangat terkenal akan kesadisan gambarnya-"
"Kami melihatnya dan kami tahu itu. Tapi biasa kan jika seorang seniman menyalurkan bakatnya di atas kuas?" Shizu memiringkan kepalanya "Atau.."
"Ya Shizu. Kalau gambar tidak masalah. Tapi masalahnya si Kagemi ini menggunakan model asli,"
DEG! Bagai disambar petir..Naruto, Sasuke, dan Shizukesa merasakan jantung mereka berdebar kencang. Han mengatakan satu fakta mengejutkan dan mengerikan.
"Model asli. Itu gila. Gambar sesadis dengan gaya pembunuhan dan mayat mengerikan itu menggunakan model asli? Atau hanya akting atau efek efek hiasan seperti-"
"Bukan. Kagemi Miyamora memang melakukan apa yang sesuai dilukisnya!" Han memotong kata kata Naruto dengan nada sedikit bergetar "Dia membunuh penduduk asli yang menempati tanah ini dan menyiksa mereka bagai binatang. Dia tidak membunuh mereka langsung. Dia membunuh pelan-pelan dan menyiksa korbannya dengan tawa sadis sambil melukis kesakitan para korban. Semua kengerian itu dia tampilkan dalam karya mengerikannya yang melegenda,"
"Semua penduduk? Jadi sebelum Kurai no Sato berdiri sudah ada yang menempatinya?" tanya Naruto. Han Miyamora menganggukkan kepalanya.
"Ada beberapa orang yang lolos dari insiden itu. Yah..jika aku menjadi mereka maka kami, sebagai keturunan terkutuk ini memang harus bertanggung jawab dalam insiden ini. Ratusan lukisan sadis Kagemi Miyamora pun dibakar. Para Daimyo lima Negara besar yang memilikinya harus menyerahkannya kepada keluarga karena lima lukisan itu merupakan lukisan terbaik Kagemi yang pernah dia buat. Duanya terbakar dalam suatu insiden dulu dan akhirnya tersisa tiga hingga sekarang. Dan gulungan lukisan Kagemi Miyamora yang sekarang dikenal sebagai Death Scroll (gulungan kematian) dijaga oleh para Roh bergentayangan para korban dan konon memilki suatu kekuatan misterius yang sangat berbahaya karena katanya Kagemi selain seniman juga adalah seorang Shinobi yang kuat. Itu-lah yang membuat gulungan-gulungan ini sangat terkenal."
Tiga ninja muda itu mendengarnya dengan seksama. Jadi inilah yang dimaksud dengan dosa tersebut. Beberapa rahasia mulai terbongkar. Naruto mengelus leher belakangnya yang agak merinding. Namun sebuah teriakan kengerian dari arah belakang rumah membuat empat orang itu berdiri tegak.
"Perasaanku tidak enak," kata Shizu pelan. Matanya memandang tajam "Kita harus cepat menuju arah suara tersebut!"
Mereka berempat pun keluar dari pintu dengan sigap, melewati ruang tengah dan memasuki dapur. Naruto menendang pintu belakang dan mendapatkan anak dari Jun dan Ishina Miyamora jatuh terduduk dengan wajah pucat ketakutan.
Sepupu Jun yang memiliki rambut lurus hitam panjang dan tahi lalat di bawah bibirnya ditemukan tewas seperti isi lukisan di gulungan pertama. Dia terikat pada suatu tiang kayu di tanah dan puluhan bambu menusuk perutnya dengan sadis. Shizukesa menutup matanya, berusaha mencari kegelapan hati dengan cepat. Sia sia..
"Dosa," Naruto berjalan tenang ke arah mayat tersebut dan menutup matanya yang sedikit terbuka "Dosa keluarga Miyamora yang sungguh mengerikan, tetapi.." mata Naruto melirik ke arah rumah.
Di dalam rumah, seseorang yang baru saja menguping percakapan antara Han dan ketiga ninja Konoha menyeringai senang. Dia memiliki alat khusus untuk mendeteksi pembicaraan tanpa ketahuan dari pihak yang disabotase.
Bahaya mulai mendekat!
~TBT: TDS~
Bisa dibilang ini hari yang paling mengerikan bagi keluarga Miyamora. Tidak! Ini hari yang begitu menakutkan bagi seluruh warga Kurai no Sato. Dua anggota keluarga tetua di desa mereka meninggal secara mengerikan. Bahkan ada desas-desus yang mengatakan kalau dua anggota keluarga tersebut meninggal persis seperti isi di dalam gulungan rahasia Kurai no Sato. Kata-kata ketakutan tentang dosa besar yang ditanggung keluarga Miyamora pun semakin santer terdengar. Stabilitas di desa Kurai pun cukup terganggu.
"Mereka ada lagi," bisik Naruto kepada sang partner dengan wajah kesal. Sasuke melirik ke arah yang dimaksud Naruto.
Dua belas orang yang menamai mereka dua belas pasukan setan berdiri tegak mencurigakan di paling belakang kelompok warga. Tampaknya dua belas orang tersebut juga mengawasi Naruto dan kawan kawan selain hanya berdiri tidak jelas di situ.
"Itu si ahli Kugutsu dan si suara gila," kata Naruto menunjuk dengan dagunya dua sosok berambut cepak pirang dengan wajah yang tidak menggambarkan seorang penjahat dan satunya seorang yang memiliki mata tajam dan kejam. Sasuke menghela napasnya.
"Ini kurang baik," gumam sang Uchiha "Shizu, kita harus bertindak cepat,"
Shizu menoleh ke arah Sasuke "Apa yang kau khawatirkan, Sasuke?" tanya sang Midoru.
"Semuanya. Kita harus menangkap dalang yang sebenarnya. Seperti asumsi kita pertama kali, mungkin gulungan ketiga berada di lembah Kuroyami dan kita harus cepat mendapatkannya," Sasuke menatap datar ke bawah "Daerah ini sebentar lagi akan kacau.."
"Tidak biasanya kau berbicara seaneh ini Teme," Naruto menguap "Rasanya aku mau tidur siang. Gara=gara kejadian pembunuhan tadi malam mataku ini terasa berat."
Shizu memelintir pelan helaian rambut di samping telinganya dengan wajah berpikir. Naruto dan Sasuke sedikit melongo melihat tingkah sang Midoru tersebut. Shizu melirik ke arah duo Uzumaki-Uchiha itu dan menautkan alisnya kebingungan.
"Apa?" tanya Shizu. Naruto dan Sasuke menggelengkan kepala dengan kompak.
"Haah," Shizu pun kembali membetulkan helaian rambutnya dan menyelipkannya di samping telinga "Lebih baik kita pulang. Aku takut terjadi sesuatu kepada gulungan kedua.."
"Kau punya firasat buruk?" tanya Sasuke. Shizu menganggukkan kepalanya.
"Ya. Untuk Lembah Kuroyami bisa kita diskusikan di rumah Chisai dan paman Nagawa," mata lentik Shizu menatap tajam saat kelompok pasukan setan itu tampak berkurang "Kita harus segera mengakhiri kekacauan ini.."
.
.
.
Chisai yang baru saja melihat pemakaman kematian keluarga Miyamora berjalan dengan gelisah di jalan yang sepertinya sepi. Banyak warga Kurai no Sato yang masih berkumpul di sekitar rumah dan pemakaman keluarga Miyamora untuk mengucapkan belasungkawa. Chisai menggosok kedua tangannya. Wajahnya tampak tidak suka dengan suasana saat ini walaupun hari masih bersinar cerah.
"Hai nak,"
DEG. Langkah Chisai terhenti seketika. Kakinya sedikit bergetar dan tegukan ludahnya begitu dalam. Chisai melirik ke belakang dengan wajah yang mulai pucat.
"Berbaliklah.."
Chisai menutup matanya. Kakinya berusaha melangkah ke depan dan otaknya menyuruh lari dari situasi tersebut.
"Atau mau kami suruh kau berbalik?"
Chisai menghela napasnya. Dia berbalik secara lambat dan wajahnya membentuk ekspresi yang sangat ketakutan.
Dua orang yang berdiri tegak di hadapannya menyeringai. Salah seorangnya memakai kacamata hitam bulat dan topi bundar yang tinggi. Orang itu menjetikkan jarinya yang memakai kaos tangan putih.
"Saatnya acara nak," katanya dengan nada ramah.
.
.
.
"DI MANA CHISAI?!"
Naruto berjalan mondar-mandir di ruangan tengah rumah Nagawa dengan wajah kesal. Sasuke menutup matanya berusaha tenang dan Shizu duduk dengan tangan kanan yang berada di bawah dagunya. Nagawa yang duduk di sebuah kursi menggelengkan kepala dengan sedih.
Hari sudah malam dan Chisai belum pulang sejak pemakaman tersebut. Empat orang di situ merasakan suatu feeling yang tidak enak.
"Apa yang harus kita lakukan?! Hei Shizu, bisakah kau mendeteksi niat atau apalah itu," Naruto menatap tajam teman satu timnya tersebut "Bukankah kau seperti ninja tipe sensorik?"
Shizu menggelengkan kepalanya perlahan "Gomen Naruto. Aura jahat di sini sangat kuat dan membuat kemampuanku agak kabur," Shizu meringis pelan 'Jika tidak ada aura sangat kelam di desa ini pasti aku sudah tahu siapa dalang di balik semua ini dengan segala kedengkiannya..'
'Tapi,' Shizu menatap Naruto dan Sasuke dengan pandangan penuh minat 'Ada kalanya kekelaman hati Naruto dan Sasuke bisa kurasakan jelas dan mengalahkan aura kekelaman di desa ini. Mereka berbeda!'
Sasuke yang dari tadi menutup matanya akhirnya berdiri dengan onyx tajam. Dia berjalan menuju ke arah pintu.
"Mau ke mana kau Sasuke?" tanya Nagawa. Sasuke berdiri tegak di depan pintu.
"Biar aku yang mencarinya," jawab sang Uchiha singkat.
"TIDAK BISA!" Naruto menghentakkan kakinya kesal "SIAPA YANG MEMUTUSKAN?! KITA TIDAK BOLEH BERTINDAK GEGABAH TEME!" Naruto meringis pelan "Ini tidak seperti dirimu.."
Sasuke berbalik dan menatap tajam partnernya tersebut "Sudah kubilang kalau kita harus menyelesaikan secepatnya sebelum-"
"Tunggu, aku merasakan sesuatu!" Shizu menutup mata lentiknya. Wajahnya tampak berpikir "Kalian merasakannya kan?"
Sasuke berjalan kembali masuk ke rumah dan bersandar di dinding dengan santai. Naruto menghela napasnya dan akhirnya duduk. Nagawa menelan ludahnya perlahan. Empat orang itu tampak menunggu.
"Nii-san,"
! Semuanya membuka mata secara serempak. Mereka menatap nyalang ke arah pintu luar. Di situ berdiri Chisai yang sepertinya dalam keadaan baik-baik saja. Nagawa tersenyum dan meneriakkan nama keponakannya dengan lega.
"CHISAI! KE MANA SAJA KAU NAK?!" teriak Nagawa dengan luapan kegembiraan. Wajah Chisai terlihat kosong dan datar. Matanya melihat lurus ke depan tanpa arti. Naruto dan Sasuke menautkan alis curiga.
"Nii-san, Paman Han sedang kesusahan. Tolong pergi ke rumah keluarga Miyamora dan tolong dia. Lalu..lalu ada gulungan pertama yang hilang itu," kata Chisai dengan nada monoton. Dia tiba-tiba berbalik dan berjalan meninggalkan rumahnya. Nagawa berteriak kebingungan.
"MAU KE MANA KAU CHISAI! HEI NAK KAU-"
Sasuke menahan gerakan tubuh Nagawa "Jangan Paman Nagawa. Ada yang aneh dengan keponakanmu,"
Naruto mengangguk setuju "Jika dia terkena sesuatu, itu akting kebohongan yang buruk-ttebayo. Aku saja tidak tertipu,"
Tiba-tiba Shizu berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Helaian-helaian rambut coklat keemasannya menutupi sebagian wajah cantiknya tersebut.
"Apa yang mau kau lakukan Shizu?" tanya Naruto tajam.
"Aku akan pergi," Shizu mengangkat wajahnya dan menatap Naruto-Sasuke dengan tatapan yakin "Aku juga yakin kalau Chisai terkena sesuatu. Aku berpendapat kalau ada rencana untuk membuat pengalihan perhatian kita terhadap gulungan kedua yang dipegang Paman Nagawa.." Shizu pun berjalan menuju keluar rumah "..Jadi, biar aku yang menyelamatkan Chisai dan kalian berdua menjaga gulungan di tempat ini!"
"Itu seperti yang Teme lakukan Shizu. Sudahkah kita saling berdis-"
"Tidak!" Shizu menoleh ke belakang dan wajah cantiknya menatap duo Uzumaki-Uchiha itu dengan senyuman manis penuh keyakinan "Aku yang memutuskan, karena aku pemimpin di kelompok ini. Benar kan?"
Hening. Naruto dan Sasuke terdiam. Mata mereka bergetar. Ya, keputusan main-main mereka bertiga sebelum sampai di desa Kurai ternyata memberikan suatu makna, dan Shizu sudah memaknainya dengan benar.
"Aku pergi!" kata Shizu dengan posisi yang sudah siap berlari.
"SHIZU!"
Shizu menoleh ke belakang. Kepalanya miring dan ekspresinya polos menggemaskan "Hm?"
"Jangan sampai wajah cantikmu rusak," Naruto menggosok hidungnya sambil menyengir "Kami berdua tidak akan pernah melihat mahluk seindah dirimu lagi jika kau datang dengan wajah lebam!"
Shizu tersenyum tipis.
"Hn, mahluk aneh.." gumam Sasuke dengan pandangan datar. Senyum Shizu hilang seketika. Wajahnya cemberut lucu.
"Mahluk aneh yang menggemaskan," sambung Sasuke dan dunia seketika berhenti.
"Teme?" Naruto menatap nanar partnernya tersebut.
"Hn?"
"Kau ngelawak lagi?!"
"Hn.."
"A-aku pergi dulu," Shizu langsung berbalik. Wajahnya ditutupi helaian-helaian lembut surai coklat keemasannya.
"Arigatou kalian berdua. Duo baka!" Shizu langsung melesat pergi dengan cepat. Naruto dan Sasuke saling berpandangan dan tersenyum geli. Nagawa memandang ketiganya dengan senang.
"Dia memang Tsundere.." gumam Naruto pelan. Sasuke menghela napasya.
"Jangan mulai Dobe," kata sang Uchiha. Naruto terkekeh pelan lalu meninju telapak tangan kanannya dengan kepalan tangan kirinya.
"Yosh! Sekarang saatnya berjaga," sang Uzumaki menyeringai "Yang asyik baru dimulai-ttebayo!"
.
.
.
Shizu mengangkat alisnya perlahan saat melihat keadaan rumah Miyamora yang tampak sedikit kelam. Yah, sang Midoru mengakui jika rumah itu memang benar-benar kelam, ditambah dengan cerita tentang kutukan mereka, tetapi untuk saat ini Shizu yakini bahwa bahaya sudah benar-benar menanti dirinya.
'Jika Chisai digunakan sebagai penjebak ini, bisa dipastikan mereka sudah tahu kalau gulungan kedua ada di tangan Paman Nagawa..' mata lentik Shizu menyipit tajam '..Jadi dari siapa mereka tahu?'
Pikiran Shizu pun menerawang ke arah Han Miyamora. Laki laki besar yang telah mereka percaya dan dia juga percaya kepada mereka, laki laki yang tampaknya baik tersebut tidak mungkin berkhianat atau bahkan dia-lah dalangnya dan juga adik Jun Miyamora tersebut menipu Shizukesa dan kawan kawan. Shizu menelan ludahnya. Ada dua kata yang bisa dikatakannya untuk kecurigaannya saat ini.
'Bisa jadi..' batin Shizu. Kakinya melangkah pelan memasuki gerbang halaman rumah keluarga Miyamora.
Hening. Tidak ada serangan atau sesuatu yang mencurigakan. Mata lentik itu terus bergerak cepat dan waspada. Saat berada di depan rumah tradisional besar tersebut, Shizu dhadang dua penjaga keluarga tetua. Sang Midoru sudah menyiapkan kuda-kudanya.
"Anda sudah ditunggu," kata salah seorang penjaga dengan wajah datar. Shizu memandang kedua mata penjaga tersebut. Cara mereka memandang sama dengan cara Chisai memandang tadi. Lurus ke depan dan kosong. Tidak mempunyai artian apapun.
"Hn," Shizu berjalan dengan jantung yang sedikit berdebar. Aneh, kenapa dia yang selalu yakin dan berani dalam setiap masalah kini merasakan sedikit ketakutan menerpa perasaannya. Apa karena dia merasa dirinya sendiri dan masuk ke kandang musuh? Shizu membuka pintu depan rumah tersebut dan berjalan memasuki ruangan tamu.
Gelap. Tidak ada lampu yang hidup. Shizu mengambil sebuah kunai di kantong senjatanya dan memposisikannya dalam bentuk siaga.
"Selamat datang,"
Tep. Lampu ruangan itu hidup. Mata Shizu sedikit menyesuaikan keadaan yang mulai terang dan retinanya menangkap sosok Han Miyamora yang kini dalam keadaan terikat dan mulut ditutup sebuah lakban hitam sedang meringkuk di pojok ruangan. Hanya ada dia dan adik Jun Miyamora tersebut.
'Dari mana suara tadi?' batin Shizu. Matanya menyapu ruang tamu tadi dengan waspada 'Pasti ada jebakan di sini! Tapi satu hal,' Shizu menatap Tuan Han Miyamora yang menatapnya dengan tatapan 'lari-dari-sini!'. Shizu mendecih kesal. Tangan kanannya semakin erat menggenggam sang kunai.
"Belakang cantik!"
Mata Shizu membulat sempurna. Serangannya berasal dari luar! Jadi sang musuh bersembunyi di halaman rumah keluarga Miyamora!
"Jinsoku-"
Psss..sebuah asap berwarna kuning menerpa wajah Shizu dan membuat tubuh langsing itu jatuh terduduk dengan wajah kesakitan. Sebelah mata Shizu tertutup. Tangan kirinya yang bebas menutup hidung dan mulutnya. Lutut kaki kirinya yang menjadi tumpuan bergetar hebat.
'Ini..' pandangan Shizu mulai kabur. 'Ini..ini racun!' Shizu berusaha berdiri dan refleknya dengan cepat menahan sebuah serangan yang datang dari arah samping. Seseorang yag memiliki rambut berdiri yang tinggi berwarna hitam mengkilat dan memakai cadar putih serta mata yang menyipit tajam tertawa pelan di sampingnya. Kunainya dan kunai Shizu saling beradu.
"Kau hebat. Walaupun sudah terkena racunku, kau masih dapat melihat sebuah serangan kejutan yang aku lancarkan.."
"Reflekmu memang bagus,"
Shizu menoleh ke arah kirinya. Di situ berdiri si rambut Mohawk dan memliki kemampuan menghilangkan atau mentransparankan tubuhnya, Kie.
"Masih ingat aku? Aku akan membalaskan pertarungan kita dulu," kata Kie dengan nada sombong. Tubuhnya menghilang perlahan lahan. Mata Shizu sedikit melebar.
'Ini buruk. Racun ini tampaknya memiliki dampak menghilangkan koordinasi inderaku,' Shizu memutar kunainya sehingga membuat kunai yang dipegang musuh satunya ikut berputar. Shizu langsung melompat mundur ke belakang. Napasnya terengah engah. Wajahnya penuh dengan keringat.
Duakhh! Shizu menahan sebuah pukulan tak terlihat yang mengarah ke perutnya dengan lengan kanannya. Sebuah gerakan kaki mengarah ke lehernya dan Shizu menangkap erat dengan tangan kirinya. Kunai yang berada di tangan kanannya dia lempar dan dengan sigap ditangkap oleh mulutnya. Shizu menyabet ke arah depan sehingga membuat secercah darah bercipratan di sana.
"Hebat-hebat.." Kie yang termundur ke belakang kembali masuk dalam mode tubuh normalnya. Dia mengelap darah yang berada di pipinya akibat luka dari serangan kunai Shizu tadi. Kie menyeringai.
"Kau memang ninja yang menarik," Kie melirik ke belakang "Tetsu, hajar dia!"
Sesosok musuh tiba tiba muncul dari bawah lantai ruang tamu dan di bawah kaki Shizu, dan tangannya mengarah cepat ke dagu sang Midoru. Shizu melompat salto ke belakang dan mengambil kunai yang ada di mulutnya dengan tangan kanannya. Matanya memandang tajam orang tersebut.
"Hai manis. Kau tampaknya seorang Kunoichi yang-"
"Gezz, aku laki-laki.."
Orang tersebut tertawa pelan. Wajahnya ramah dan dia memiliki rambut bagian depan yang berdiri tegak. Sebuah anting bergerak pelan di telinga kirinya. Dia tersenyum ke arah Shizu.
"Aku salah ya..yah, aku merasa bersalah.." orang itu menggerakkan handsteal "Tapi jangan maafkan aku karena kau akan terlelap, manis!"
Shizu bergerak sedikit ke belakang. Kewaspadaannya meningkat.
"Teton : Satsuei Tetsukaisho!"
BLAAARRH! Dua buah besi tiba tiba muncul dari kedua kaki orang tersebut. Besi panjang nan besar itu bergerak cepat ke arah Shizu. Shizu bergerak ke samping untuk menghindar. Musuh yang bernama Tetsu itu mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah Shizu yang kini sedang berlari menuju pintu keluar. Dia mengedipkan matanya ke arah Shizukesa.
"Uta Rensho.." gumamnya pendek.
BLAR! BLAR! BLAR! BLAR! Delapan besi secara berturut turut melesat keluar dari telapak tangan Tetsu dan mengarah secara mengerikan ke arah Shizukesa. Shizu tiba tiba membelokkan arah larinya dan menapakkan kakinya ke dinding. Secara mengejutkan dia berlari di dinding hingga sampai di batas atas dan melompat salto ke belakang. Besi besi Tetsu menancap kuat di dinding bekas pijakan Shizukesa.
"Terima racun ini!" kata orang yang memakai cadar putih tadi. Kedua tangannya memegang dua buah alat penyemprot kecil yang berwarna kuning. Dia segera menyemprotkan racun kuningnya ke arah Shizu yang baru berpijak di tanah. Shizu yang membelakanginya langsung memutar tubuhnya dengan cepat dan menepis kedua tangan si cadar putih tersebut. Kedua alat penyemprot itu jatuh ke lantai dan Shizu mengangkat tangan kanannya untuk menghantam wajah musuh bercadar tersebut.
"Rasakan," gumam Shizu pelan dengan mata lentik tajamnya yang memancarkan kekesalan.
"Tidak akan," orang itu dengan cepat membuka cadarnya sebelum tangan Shizu menghantam wajahnya. Mulutnya yang tampak lebar membuka dan tampak gigi-giginya yang berwarna kuning menjijikkan.
PSSSS! Keluar asap-asap kuning dari mulut orang tersebut. Mata Shizu membelalak terkejut. Tangan kanannya yang siap menghantam wajah orang tersebut langsung dengan cepat menutup mulut dan hidungnya. Shizu menutup matanya dan kedua kakinya melangkah perlahan mundur ke belakang.
"Hmph," gumam Shizu. Tiba tiba dia merasakan tangan kirinya ditarik dari arah samping. Tubuh mungil nan feminim itu tiba tiba dipeluk dari depan oleh seseorang yang memiliki kacamata hitam bulat dan sebuah topi bundar yang tinggi.
"Wajah yang manis," orang itu menepis tangan kanan Shizu dan mengangkat dagu sang Midoru dengan lembut. Tangan orang tersebut terlihat berkaos putih.
"Kalian," mata Shizu menatap benci "Apa yang kalian lakukan terhadap Tuan Han dan Chisai?!"
Orang tadi terkekeh pelan "Tidak ada.." dia membuka kacamata hitamnya dengan tangannya yang bebas. Sementara tangannya yang lain masih memegang dagu Shizu.
"Lihat mataku dan kau akan tahu.." kata orang itu. Tiba tiba Shizu merasa dirinya melayang jauh.
Mata orang tersebut tampak berputar dan menghipnotis dirinya. Tubuh sang Midoru yang tadi bergerak memberontak kini bergerak pelan dan akhirnya lemas. Shizu pun jatuh ke dada bidang orang tersebut dengan mata tertutup. Kie menjetikkan jarinya dengan senyuman kemenangan.
"Menyusahkan!" kata Tetsu sambil menggerakkan lehernya. Kie terkekeh pelan.
"Ya, dia memang kuat. Bahkan saat racun Doku mengenainya dua kali, pergerakan bocah ini masih sangat lincah.."
Doku-musuh yang bercadar putih tadi-membetulkan letak cadarnya "Jangan lupa berterima kasih kepadaku sialan!" katanya dengan nada kesal.
Tiba tiba dari arah pintu selatan ruang tamu muncul dua orang. Yang satunya berbadan sangat besar dan memiliki otot-otot yang mengerikan. Kulitnya kecoklatan dan dia memiliki rambut panjang yang diikat satu. Sebuah palu raksasa berduri tersampir di bahunya dengan santai.
"Hei, kenapa aku tidak beraksi?" tanyanya protes. Yang di sebelahnya, seorang laki laki yang agak pendek dan memiliki rambut halus berwarna putih dan memiliki mata bulat besar dengan sebuah garis hitam di bawah matanya terkekeh pelan.
"Heh, karena mereka sudah lebih dulu menyelesaikannya, Hanma.."
Hanma-si pemegang palu-melirik kesal ke arah si rambut putih.
"Tapi kita sudah menunggu dan rasa bosanku tak digantikan, Mahotsukai.."
Mahotsukai si rambut putih terkekeh pelan. Dia memasukkan tangan kanannya ke kantong celananya dan mengambil sesuatu di situ. Tangan kanannya kini menggenggam sebuah boneka kecil yang terbuat dari jerami.
"Tidak apa apa. Hipnotis Majishan memang sangat berbahaya. Lebih efisien dari pada Genjutsu biasa.."
Majishan yang kini sedang memeluk erat tubuh Shizukesa membetulkan letak kacamatanya yang telah terpasang di wajahnya. Dia tersenyum ke arah teman temannya,
"Ah, kalian terlalu memujiku. Kita para dua belas pasukan setan kan memang kuat semua.." Majishan langsung mengangkat tubuh mungil Shizu dengan gaya ala bridal style "..Dan akan kita ajarkan kepada para ninja Konoha itu bahwa mencampuri masalah orang lain adalah sikap yang buruk!"
Lima orang lainnya mengangguk dengan seringaian jahat..sementara Tuan Han Miyamora menggelengkan kepalanya dengan sedih..
Enam orang berdiri tegak di ruangan itu dengan seringaian kemenangan!
.
.
.
Naruto terdiam dengan wajah cemas. Begitu pula Sasuke dan Nagawa. Mereka bertiga meneguk ludah dengan perasaan campur aduk.
Sudah tiga jam Shizu meninggalkan mereka dan dia belum juga muncul di rumah Nagawa. Bagi Naruto ini adalah situasi yang gawat. Bukannya mau mengakui dia dan Sasuke masih lemah dari Shizukesa, tapi sang Midoru itu benar-benar ninja yang luar biasa. Kecepatannya, refleknya, dan juga cara bertarungnya. Shizu sangat berbeda dengan shinobi seangkatan mereka. Perlu kerja keras untuk mengalahkan sang pengawas tersebut.
"Mungkin dia dikeroyok?" gumam Sasuke dengan nada bertanya. Naruto melirik sekilas ke arah sang partner dan mendengus pelan.
"Heh, Shizu itu berbeda Teme. Kerja sama kita saja dapat dia patahkan.."
"Karena umur kita dan umur dia sama Dobe. Jika yang mengeroyoknya adalah para ninja-ninja yang lebih berpengelaman," mata Sasuke memandang tajam ke depan "Aku yakin pasti Shizu akan kesulitan juga.."
Naruto terdiam. Ya, Sasuke ada benarnya. Shizu memang kuat, tetapi tetap saja dia adalah seorang ninja muda. Pengalaman yang cukup dari para senior pasti dapat mengalahkan segala kekuatan yang dimiliki junior, sekuat apapun dia. Jiraiya pernah mengajarkan mereka bertiga suatu kalimat yang berharga saat mereka bertiga dalam perjalanan untuk mencari Tsunade sang calon Hokage. Jiraiya tersenyum ke arah mereka sambil mengatakan
"Pengalaman seorang shinobi lebih baik dari pada kekuatannya. Dengan pengalaman kalian akan belajar sesuatu, dan dengan pengalaman kalian menjadi lebih baik dan akan menjadi seorang shinobi sejati.."
Naruto menautkan alisnya. Ada perasaan tidak nyaman yang menerpa perasaannya.
BRAAAKHHH! Duo Uzumaki-Uchiha itu kini sedang memasang kuda-kuda. Enam orang berdiri tegak di depan pintu rumah Paman Nagawa yang baru saja mereka dobrak. Sasuke langsung mengaktifkan Sharingannya.
"Halo kalian berdua, aku punya kabar buruk untuk kalian.."
Naruto merasa familiar dengan suara itu.
"Teman kalian, si nona cantik itu telah tertangkap. Kami berenam akan segera menyelesaikan masalah kami di sini,"
Naruto mendecih kesal. Ternyata itu adalah si rambut cepak pirang. Si pengendali boneka yang bernama Ropu. Ropu yang ditatap penuh kekesalan oleh Naruto menyeringai senang. Wajah lemahnya tampak begitu mengerikan.
"Dan kau bocah muka coreng-moreng," Ropu menjulurkan lidahnya ke arah Naruto "Aku sudah punya boneka baru lho.."
Naruto menggeram kesal 'Coreng-moreng katanya, boneka baru katanya, heh..' wajah Naruto tertunduk ke bawah. Helaian-helaian kuningnya menutupi sebagian wajahnya.
"EMANG AKU PIKIRIN?!" kata Naruto mengangkat wajahnya dengan mata safir menyala dan seringaian yang lebih mengerikan dari Ropu.
Saatnya duo tim terbaik beraksi!
TBC
Data TBT: TDS New Archive:
Para Musuh:
Enam orang yang melawan Shizukesa, yakni:
Kie. Si Rambut Mohawk dengan kemampuan menghilangkan atau mentransparankan tubuhnya.
Doku. Berambut tinggi hitam dan memakai cadar putih. Seorang ahli racun yang berbahaya. Dia memiliki botol-botol racun berbahaya dan serangan kejutan asap racun dari mulutnya.
Tetsu. Rambut bagian depan yang berdiri tegak dan memiliki anting d telinga kirinya. Sang Kekkai Genkai Teton atau pengguna elemen Besi.
Majishan. Memakai kacamata hitam berbentuk bulat dan topi bundar yang tinggi. Kedua tangannya dipasang kaos tangan dan style-nya seperti para pesulap. Kemampuannya adalah pada kedua matanya yang dapat menghipnotis lawan, melebihi dari Genjutsu biasa.
Hanma. Berbadan besar, berotot, kulit kecoklatan dengan rambut panjang yang dikuncir satu. Memegang sebuah palu raksasa berduri.
Mahotsukai. Rambut putih dengan tubuh yang agak kecil. Memiliki mata bulat besar dengan garis gelap di bawah matanya. Kemampuan belum diketahui.
Preview The Next Chap:
"APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?!"/ "Tenang saja Paman Nagawa, aku dan Sasuke akan membereskan orang orang ini, kau tetap pegang gulungan itu dengan erat dan kami berdua akan mengcovermu.."/ "TERIMA SENJATA MAKAN TUAAAN!"/ "Itu jutsu yang berbahaya!"/ "MATI KAU BOCAH CORENG MORENG!"/ "Hm? Butuh bantuan Gaki?"
Selanjutnya di The Best Team: The Death Scroll. Chap 7: Scramble The Second Scroll
"Kokan! Cepat tukar posisi mereka!"/ "Biar ludahku yang membunuh anak ini,"/ "Tenang Naruto,"/ "Yami?"
