Author Note:

Kembali bersama Icha yang suka mandangin wajah cakep Aa' Kakuzu *WTF!* hihihi, minna-minna, bagaimana kabar kalian. Senang? Sedih? Susah? Atau berbahagia? Ara-ara..Icha lagi sedikit sedih karena ternyata wali kelas Icha dipegang seorang guru yang berwajah angker namun ternyata gayanya agak-agak seperti The Master Of Snake Orochimaru-sensei..hihi,

So, langsung saja kita membalas Review

Hamaru: Yah, seperti itulah. Kita akan lihat apa duo tim kita masih sempat untuk menyelamatkannya^_^ arigatou ne..

Opek. Zesyu: Yap, arigatou ya atas reviewnya Zeysu-san^_^

Uzumaki Dendi: Yap, Icha akan jawab pertanyaan dari Dendi-san, meskipun ini ditujukan kepada Mas Doni^_^, sepertinya enggak, karena ini hanya Special Arc..Icha pun harus menyesuaikan jutsu-jutsu duo Uzu-Uchi dengan apa yang ada di fic Doi-san. Meskipun emang nanti ada hubungan secara tidak langsung dengan cerita inti TBT..arigatou ne^_^

Hanzer v reload: Haha, sip lah..arigatou Hanzer-san

Readerr: Haha, sip lah. Ya, tunggu aja ya^_^ arigatou ne

Z. L. C: Aduduh, arigatou Z-san. Senyum Icha gak menarik kok^_^

FISIKA: Yap, tampaknya perjuangan menyelamatkan Shizu-chan masih berlanjut. Dan soal Ffn tersebut, ya semoga tidak diblokir, kita harapkan bersama dan Yosh! Arigatou ne..

Muhammad. Khadafi. 777158: Haha, 12 sempak^_^ di sini akan terbongkar Khadafi-san. Dan soal OC-nya emm, akan Icha pikirkan ya. Arigatou karena telah mereview dan berpartisipsi^_^

Sherrysakura99: Hihi, bahaya tuh kalau gitu, nanti mereka benar-benar akan dikira The Real Maho Team *plaked* arigatou Sherry-san^_^

Dedyagustar95: Haha, arigatou Dedy-san^_^

Al-Faraoh: Yap seperti itulah. Tempat-tempat tersebut akan diketahui di chap ini. Dan soal TU dan TBT2nya, emm..yah, kita bersabar menunggu Doni-san yang mempublishnya. Gomen kalau lama ya^_^ arigatou..

Sarutobi RianMaru: Mwahahaa, khayalan apa Rian-san..kalau soal Shizu-chan Icha ikut juga deh *diketekin*, hihi..yap, di chap ini akan terjawab si dalang sebenarnya. Arigatou ne..

Sherry dark jewel: Haha, bagus Yuki-san. Di chap ini akan terjawab^_^ arigatou ne..

DANDI. PURNAMA. 524: Hn? Are..arigatou Dandi-an^_^

Kirigaya o: Haha, di chap ini akan terjawab siapa dalangnya^_^ janga terlalu dipikirkan Raymo..so, arigatou ne

Sora narukami: Haha, emang dari dulu namanya kan Sas-UKE *diKirin* hihi, arigatou ne..

Sgiariza: Yap^_^ sip Icha akan terus lanjut. Arigatou ne..

Samsung 0168: Haha, ya gak terlalu sih..tapi kan yang suka baca manga kayak gitu pakai kacamata mesum kan? (iya kan..iya kan?) hee..arigatou Freak-san^_^

Adytama Ezio D'Shadow: Indak apo2, kan sampeknyo samo Uda :P arigatou ne^_^

Arevi. Are. Vikink: Yap, kelemahan seorang Shizukesa..hihi, kita doakan supaya duo Tim kita masih sempat, kalau tidak..(ngapain Cha-_-) hehe, arigatou ne..

Hanafid: Yap, Hanafid-san benar^_^ yosh, arigatou ne..

Kun-cici naru: Sepertinya enggak Naru-san. Si Doku di chap lalu aja bilang 'Chakra aneh' kepada Naruto. S, arigatou ya^_^

TETOTEET..TETETOTETETEEEEET *Niup terompet* Terima kasih semuanya, terima kasih kepada review yang telah kalian berikan. Karena dukungan Minna-lah yang membuat Icha terus dan terus semangat mengerjakannya..

So, Welcome to The Best Team^_^

THE BEST TEAM : THE DEATH SCROLL

By Icha Ren

Based the fic THE BEST TEAM by Dony Ren

NARUTO BY MASASHI KISHIMOTO-SENSEI

THE BEST TEAM : THE DEATH SCROLL IS A SPECIAL LOST ARC AND WILL BE TOLD BY THE THREE CHILDREN WHO HAD BEEN DETERMINED IN A FIGHT

Genre : Adventure, Friendship, Mystery and Humor

Rate : T

Warning : Aneh, Abal abal, Typo(s), Alur Gaje, OOC, OC and Many More

Not Yaoi, Hanya Special Service untuk Shizu-chawn, karakter OC yang Manis, Cantik serta Tsundere..tapi dia laki laki bung^_^

.

.

Enjoy it!

Sebelumnya di The Best Team:

Naruto dan Sasuke kembali menghadapi para anggota 12 pasukan setan. Pertarungan terjadi! Sementara itu sang dalang hampir menunjukkan siapa dirinya di hadapan Shizukesa. Misi yang semakin memperkeruh dalam suatu arena di sekitar gulungan kematian, dan dapatkah Naruto-Sasuke menyelamatkan Shizukesa sebelum kegelapan datang?!

Chapter 11: Rise of The Spirit Darkness

Krieet,

Mata lentik Shizu terbuka lebar. Dia mendengar beberapa langkah derap kaki memasuki ruangan penjaranya. Saat Shizu ingin mengangkat kepalanya, ada sebuah tangan yang dengan kasar mencengkram dagunya dan mengangkatnya dengan cepat.

"Masih hidup?" tanya orang tersebut. Dia adalah Hanma.

Shizu terdiam. Mata lentiknya menatap tajam Hanma.

"Heheheh, aku suka wajah marahmu.." Hanma segera menghentakkan kepala Shizu ke bawah. Shizu tergolek tak berdaya. Ada yang aneh. Ya, ada yang aneh.

Kenapa chakranya cepat berkurang walaupun dia hanya beberapa jam disekap di tempat ini. Apa ada hubungannya dengan kekuatan kegelapan di sini atau,

Mata lentik Shizu melirik ke arah rantai yang mengikat lehernya, lalu kedua tangannya, pinggangnya serta kedua kakinya. Apa jangan-jangan benda-benda itu penyebabnya?

"Hai manis." Kata Ropu sambil menjilat bibirnya "Kau semakin lemah saja,"

"Katakan kepadaku.." kata Shizu sambil masih menundukkan kepalanya. Semua anggota pasukan dua belas setan (kecuali Majishan yang belum muncul serta 4 lainnya yang telah tewas) menoleh ke arah Shizu dengan pandangan malas. Mereka benar-benar meremehkan seorang Shizukesa sekarang.

"Katakan kepadaku, apa rantai-rantai ini menghisap chakraku?"

Ropu-lah yang pertama tertawa paling keras dan nadanya terdengar mengejek. Sakebu memberikan deathglare kepada Ropu untuk diam.

"Kau benar," kata Ropu sambil menyeringai "Rantai ini dikhususkan untuk tawanan kami dan membuat mereka merasakan apa yang dinamanya tanpa chakra.."

Mata Shizu membelalak lebar. Tanpa chakra? Berarti bisa saja itu disebut mati?!

Shizu menggelengkan kepalanya. Ya, dia menyesal bukan menjadi seorang Midoru yang sebenarnya. Dia yang dikatakan sebagai keturunan klan terkuat dan sang penengah serta pengawas kini berada dalam posisi tak berdaya. Bahkan Shizu kini berada dalam posisi kritis. Hanya waktu dan..

Ya, mata Shizu menatap sedih ke lantai penjaranya.

Hanya waktu dan mereka berdua yang Shizu harapkan. Naruto..Sasuke..

"Jangan bersedih seperti itu, kau membuat kami menjadi kasihan.."

Shizu kembali mengangkat kepalanya. Salah seorang dari kelompok tersebut berjalan mendekatinya. Dia berkepala plontos dan memiliki luka di mata kanannya.

"Apa pedulimu?" tanya Shizu dengan tatapan kesal, namun pancaran matanya tampak melemah. Hayaku-si kepala botak-mendengus pelan.

"Peduliku? Ya, aku peduli kepadamu.." Hayaku terdiam sejenak "..sebagai tawanan yang hebat, kau akan menyaksikan kebangkitan kekuatan tersimpan Kagemi Miyamora. Kau akan menyaksikan bagaimana kami akan melakukan suatu gebrakan menggunakan roh-roh penuh dendam dan nafsu jahat,"

Shizu menundukkan kepalanya. Pikirannya kacau. Apa yang dikatakan Hayaku tidak masuk ke dalam otaknya. Kepalanya benar-benar pusing. Napas sang Midoru kini sedikit terengah-engah, uap-uap air berhembus pelan dari mulutnya.

"Hehe, apa kau sudah terangsang?" tanya sesosok penjahat yang memakai helm besi di kepalanya. Wajahnya penuh lukisan aneh. Orang yang berada di sampingnya menatap aneh ke arah orang berwajah lukisan tersebut.

"Kau bercanda Daeki? Dia kini sedang dalam tahap kehabisan chakra..mungkin beberapa jam lagi," orang tersebut menatap tajam Shizu. "Malaikat maut akan menjemputnya.." kata orang tersebut dengan nada datar. Dia adalah Kokan, yang memiliki kemampuan menukar posisi tubuh seseorang dengan cepat.

"Cepat para keluarga terhormat!"

Shizu kembali mengangkat wajahnya. Tampak wajah tersebut kesakitan. Kini di ruangan tersebut masuk tiga sosok tubuh yang dikenalinya dan tersungkur di lantai penjara. Mereka bertiga berada dalam keadaan terikat. Mata lentik Shizu bergerak satu-persatu melihat wajah dari tiga sosok tersebut.

Han Miyamora..

Anak laki-laki Jun Miyamora..

Dan anak perempuan Jun Miyamora..

"Semuanya sudah berkumpul, Ojou-sama.." kata sang kacamata hitam bulat, Majishan, sambil membungkuk hormat kepada seseorang yang berjalan masuk ke dalam penjara.

"Hn, baguslah.."

Shizu tahu suara itu. Suara dari seorang wanita yang tampaknya rapuh dan sederhana, namun memiliki banyak emas di tangannya dan aksesoris-aksesoris yang sangat mahal, berbanding terbalik dengan gayanya yang kalem dan tampak polos, seorang wanita yang polos.

Penggambaran dari sosok seorang wanita munafik yang bermain dalam bayangan.

"Ja-jadi kau dalangnya.." mata lentik Shizu menatap tajam wanita tua tersebut. "Ishina..Miyamora.."

Ishina Miyamora kini tidak lagi memasang wajah sedihnya, namun sebuah seringaian seorang penjahat sejati!

~TBT: TDS~

Naruto dan Sasuke terus berlari cepat menuju arah barat daya Lembah Kuroyami. Mereka kini sedang dalam tahap pengejaran yang bertaruh dalam setiap detik waktu. Duo tim tersebut tahu bahwa nyawa teman mereka kini sedang berada dalam taruhan tersebut. Naruto dan Sasuke lah yang harus memenangkan taruhan tersebut dan menuntaskan misi ini dengan segera.

"Berhenti!" kata Naruto cepat. Sasuke berhenti sambil memandang datar partnernya. Naruto membuat isyarat diam.

Blup..blup..blup..

Naruto berjalan perlahan dan memicingkan matanya. Dia kemudian menoleh ke arah Sasuke.

"Tidak bisa Sasuke. Di sini benar-benar gelap!" Naruto menghela napasnya "Gunakan apimu lagi.."

"Kau ingin menghabiskan chakraku Dobe?" tanya Sasuke dengan nada tajam. Naruto berdiri dengan wajah kebingungan.

"Bagaimana lagi? Aku curiga suara ini adalah suara yang berasal dari lumpur hisap," Naruto berjalan pelan ke depan "Jika benar-benar ada maka-"

CBURR! Kedua kaki Naruto benar-benar masuk ke dalam lumpur tersebut. Naruto memasang wajah shock tak percaya.

"TEME SIALAN! TOLONG!"

"Bisakah kau meminta tolong dengan gaya yang sopan?!"

"Kau cerewet Sasuke, seperti terkena datang bulan!"

"Diam di situ!" Sasuke menggerakkan handstealnya dan menyemburkan bola apinya ke arah hutan yang berada di samping mereka. Kobaran api dengan cepat menerangi suasana tersebut.

Mata Sasuke menatap tajam daerah tanah di depannya yang menimbulkan suara seperti reaksi lumpur hisap. Onyx Sasuke membulat tidak percaya.

"Tanah di depan kita bukan lumpur hisap, Dobe.."

Naruto yang berhasil mengangkat kakinya dan dengan sigap membersihkan sepatunya menoleh ke arah Sasuke "Hm, apa?"

"Kau lihat sendiri.."

Naruto menoleh ke arah depan dan melihat segumpulan tanah becek meletup-letup dengan ratusan nisan yang bertebaran tak teratur. Naruto meneguk ludahnya.

"Kuburan. Kuburan massal. Kau bercanda kan, Sasuke.."

Sasuke tetap fokus menatap ke arah daerah aneh tersebut "Tidak. Tapi kita tahu satu hal.." onyx Sasuke sedikit menyipit tajam "Ini merupakan kuburan hasil karya Kagemi Miyamora!"

.

.

.

Setelah sedikit berdoa dan memberikan ucapan selamat tinggal, duo Uzumaki-Uchiha itu kini melanjutkan perjalanan mereka. Naruto berhasil menemukan sebuah aliran sungai kecil dan mencuci sepatunya di sana. Duo tim tersebut beristirahat sejenak sambil sedikit meminum air sungai tersebut.

"Masa bodoh dengan air di lembah aneh ini, aku benar-benar haus.." kata Naruto sambil membasuh mukanya dengan cepat. Sasuke yang sedang berdiri santai sambil memasukkan kedua tangannya di kantong celana mendengus pelan.

"Hn, aku tadi kencing di arah hulu, Naruto.."

Wajah Naruto mengeras. Hening. Uzumaki itu bangkit dan langsung meraih kerah partnernya.

"Kau waras?!" tanya Naruto kesal.

Sasuke tersenyum tipis "Yang ini baru aku melucu, partner.."

Naruto menurunkan tubuh Sasuke dan menendang pohon dengan kesal "ITU SAMA SEKALI TIDAK LUCU!"

Akhirnya setelah sedikit bertengkar dan hampir kembali adu tonjok, Naruto-Sasuke pun kembali melesat cepat menuju arah barat daya Lembah Kuroyami. Dua ninja Konoha itu semakin mempercepat larinya. Saat kira-kira 12 menit mereka berlari, secercah sinar kecil terlihat jelas di depan mereka. Wajah Naruto dan Sasuke langsung berubah serius.

Mereka berdua kini berdiri di sebuah kuil berwarna merah darah dengan puluhan lampu lampion yang bersinar kekuningan. Naruto berjalan menuju gerbang kuil tersebut dan sebuah patung Budha raksasa menyambutnya dengan ekspresi tersenyum. Sementara Sasuke langsung masuk ke dalam kuil. Naruto memperhatikan halaman kuil tersebut, rumput-rumput liar tumbuh dan beberapa tanaman belukar menambah kesan tak dirawat sangat jelas di kuil ini. Naruto kembali menatap wajah sang patung Budha dan manggut-manggut. Safirnya melirik ke bawah dan melihat sebuah ukiran nama di batu pijakan kaki sang Budha.

'Dibuat oleh Ken Miyamora, untuk keselamatan Kurai no Sato dan keturunan darah murni Miyamora.'

Naruto menautkan alisnya kebingungan 'Ternyata dibuat oleh ayahnya Chisai. Tapi apa maksudnya darah murni Miyamora tersebut?' Naruto berjalan menuju ke dalam kuil untuk melihat apa yang dilakukan Sasuke. Otak sang Uzumaki terus berputar.

'Apa maksudnya keturunan murni itu adalah yang berasal benar-benar dari orang tua Miyamora asli? Tapi, untuk apa itu disebutkan..' Naruto memandang sekeliling ruangan kuil itu dengan cepat. Cukup angker karena tampak jaring laba-laba bertebaran di sudut serta langit-langit rumah. Naruto memandang partnernya yang kini tampak terpaku menatap tiga patung raksasa di altar kuil.

Naruto berjalan mendekati Sasuke. Uzumaki muda itu melirik ke arah partnernya dengan wajah malas.

"Kau cengo Teme?"

"Hn, bukan.." Sasuke menunjuk ketiga patung itu dengan cepat "Patung ini, kau lihat ukiran nama di bawahnya.."

Naruto memicingkan matanya. Ada tulisan yang cukup jelas di bawah patung tersebut.

Yang berkepala tiga dengan ekspresi yang berbeda-beda, dan kedua tangannya yang tampak memegang bola dan timbangan menatap tajam ke depan. Nama yang tertulis di bawahnya adalah 'Ashura.' Patung tersebut terletak di paling kanan.

Yang berada di sisi kiri adalah sesosok patung berwajah muda dengan tangan kanannya yang memegang sebuah busur panah dan tangan kirinya memegang sebuah petir. Nama yang tertulis di bawahnya adalah 'Indra.'

Sasuke menajamkan matanya, begitu pula dengan Naruto.

Dan yang berada di tengah-tengah. Sebuah bulu kasuari terpahat di kepalanya dan wajah sang patung menatap ramah duo Uzumaki-Uchiha. Tangan kanannya memegang sebuah seruling dan tangan kirinya memegang sebuah bandul dengan ukiran yang cukup jelas. Kombinasi Yin dan Yang. Di bawah patung tersebut tertulis nama 'Kresna.'

"Entah kenapa aku merasa familiar dengan nama-nama ini," gumam Sasuke pelan. Naruto bejalan mendekati patung Ashura dan berkeliling untuk melihat tiga ekspresi patung tersebut. Ada tiga wajah..

Senang.

Marah.

Sedih.

Naruto menghela napasnya. Dia kemudian berjalan menuju belakang kuil dan membuka pintu berdaun dua tersebut. Di belakang kuil tersebut terdapat halaman yang cukup luas. Terdapat dua gerbang kuil yang saling berhadapan dan di tengahnya terdapat sebuah patung Budha yang hampir sama dengan patung di depan halaman. Cahaya obor di halaman belakang cukup menerangi kelamnya suasana Lembah Kuroyami. Naruto berjalan di halaman berpasir tersebut dan tatapannya fokus ke patung Budha tersebut.

'Dibuat Ken Miyamora. Dua patung dan tiga dewa untuk penyegelan Roh Kematian Penuh Dendam.'

Alis Naruto bertautan saat membaca tulisan kanji di bawah patung tersebut. Dia menundukkan kepalanya berusaha berpikir keras.

"Hn, ada kemungkinan Dobe.."

Naruto mengangkat kepalanya dan wajahnya perlahan-lahan menampilkan ekspresi shock.

"KAU MENGEJUTKANKU AYAAAM!"

Sasuke langsung memukul kepala partnernya dengan kesal "Hn, responmu telat sialan.."

Sasuke kembali memasang wajah datarnya dan mengambil sebuah ranting pohon di halaman berpasir tersebut. Dia membakar ujung ranting tersebut, membuatnya terbakar dan mengarahkannya ke arah tangan Budha yang menapak ke depan. Alis Naruto bertautan kebingungan.

"Tidak terjadi apa-apa Teme.." Naruto menepuk keningnya "Hahaha, BWAHAHAHA KASIHAN SEKALI DIRIMU! HAHAHA TEME, ITU BARU NAMANYA LUCU! HAHAHAHA!"

"Lihat bodoh.." kata Sasuke dengan nada kesal. Naruto yang masih menyengir menatap secercah sinar di tangan patung Budha tersebut, sangat kecil, namun cahaya tersebut langsung melesat menuju ke arah depan. Naruto dengan cepat menatap ke arah depan. Safirnya terbuka lebar.

'Patung ini dengan patung yang di depan berada dalam satu garis lurus! Cahaya ini tepat mengenai telapak tangan patung Budha di depan..' Naruto berlari masuk ke dalam. Dia langsung melihat tiga patung (Ashura, Indra, dan Kresna) dan matanya sedikit melebar terkejut.

Mata kanan Indra bercahaya.

Naruto menoleh ke arah Sasuke dan tersenyum "Aku mengerti Teme!" sang Uzumaki langsung berlari menuju partnernya "Heheh, gomen atas tawaku tadi.."

"Hn, tidak apa-apa.." gumam Sasuke. Dia segera membuang ranting pohon terbakar tersebut ke dalam tempat obor "..Tapi kau hutang satu mangkuk ramen kepadaku.."

"KAU UCHIHA TANPA HATI!"

"Aku bercanda.."

".."

"Baiklah," Sasuke menghela napasnya "Kau lihat sebuah gedung berwarna merah bata di atas bukit lembah ini?"

Naruto menatap ke arah depan-lebih tepatnya barat daya-, dan dia menemukan sebuah gedung tua yang memiliki cahaya cukup terang. Sasuke menyeringai.

"Aku bertaruh Shizukesa ada di situ,"

Naruto terkekeh pelan "Aku tak mau mengejekmu lagi tetapi," safir itu menatap tajam ke depan "Ada kalanya ketika sesuatu yang susah untuk digenggam itu akan mudah jika dilakukan bersama. Siap Teme?!"

Sasuke menganggukkan kepalanya. Duo tim tersebut langsung berlari kencang.

Semakin dekat dengan Shizukesa!

~TBT: TDS~

"Ishina Miyamora.." gumam Shizu dengan nada kesal "..Kau. Kau wanita tua licik sialan!"

Ishina tertawa. Ekspresinya benar-benar berbeda dari apa yang diperlihatkannya saat sang suami meninggal. Wajah penuh kerutannya tergambar jelas dengan mimik jahatnya. Dia berjalan ke arah Shizu dengan langkah tenang.

"Kau tidak dapat membaca kegelapan hatiku, Shizukesa?" tanya Ishina dengan nada mengejek. Shizu menggeram kesal.

"Aku merasakannya. Merasakannya sedikit di hatimu pada waktu pertama kali bertemu," Shizu mendengus pelan "Tapi aku berpikir itu adalah kekelaman hati kesedihan dan kemarahan kepada Kami-sama karena suamimu telah dulu dipanggil,"

Ishina tertawa keras-keras. Dia bahkan dengan sarkatik mengelus perutnya dan menatap penuh hina ke arah Shizu.

"Hahahah..bagaimana kau bisa berpikir seperti itu, manis?"

Shizu mendecih kesal "Sikapmu. Sikapmu yang seperti seorang istri rapuh dan penuh kesedihan serta.." mata Shizu menatap tajam Ishina "..Wajah kalemmu..kau berhasil membuatku ragu akan aura kekelaman hatimu.."

Ishina menyeringai. Dia benar-benar merasa bangga mempermainkan para ninja Konoha tersebut.

"..Tapi wanita munafik sepertimu lebih pantas menjilat kotoran anjing daripada menangisi mayat suaminya!" kata Shizu dengan nada tajam. Pupil Ishina bergetar. Wajahnya mengeras dan dia tampak benar-benar marah. Dengan sekali tamparan keras, istri mendiang Jun Miyamora tersebut berhasil membuat pipi mulus Shizu memerah. Sudut bibir sang Midoru bahkan sedikit berdarah.

"Diam kau bocah! Kau tidak tahu apa-apa soal diriku. Aku.." Ishina berbalik dan berjalan dengan anggun menuju Han "..Aku dan keluargaku, kami adalah keturunan penduduk pribumi yang berhasil lolos dari kebrutalan seorang Miyamora," Ishina berjongkok di samping Han dan memicingkan matanya. Tangan keriputnya menjambak rambut Han dengan kasar "..Dan aku tetap menaruh rasa dendam kepada Kagemi Miyamora dan keluarganya!"

Mata Han bergetar. Begitu pula dengan anak perempuan Jun. Sementara anak laki-laki Jun hanya memandang bosan ke arah ibunya. Wajah Shizu sendiri tidak kalah shocknya. Iris coklat keemasannya menatap Ishina dengan tatapan intens.

"Jadi kau..kau.."

"Aku," Ishina bangkit dan menghentakkan kepala Han. Han mengaduh kesakitan "Aku adalah Ishina Harigawa. Keluarga Harigawa adalah penduduk asli yang menempati Kurai no Sato sebelum dibantai sadis oleh Kagemi Miyamora dan dengan keparatnya orang itu melukis mayat-mayat keluargaku yang telah dibunuhnya. Orang itu bahkan menganggap perbuatannya adalah seni.." Ishina berjalan kembali mendekati Shizukesa.

"Dan sekarang, Kagemi Miyamora akan tahu apa yang akan terjadi dengan desa yang dibentuknya dari hasil ceceran darah kami!"

"Kau.." mata Shizu bergetar "..Kenapa Jun Miyamora menikahimu. Apa..apa dia tidak tahu kau adalah-"

"Dia tahu!" Ishina terkekeh pelan. Benar-benar tawa seorang penjahat "Si bodoh itu berusaha menyatukan keluarga Harigawa yang berada dalam bayangan dendam dengan keluarganya yang penuh hina itu..dia tahu kalau Harigawa masih di Kurai no sato dan suatu hari akan membuat kekacauan, tetapi.."

Ishina Miyamora menghela napasnya "..Dia adalah orang yang terlalu berpikir positif. Dendam kami akan terus ada dan ada, bahkan hingga matahari menghilang dari langit..Harigawa akan tetap akan menghabisi Miyamora!"

'Dendam yang benar-benar kuat..aura kegelapannya cukup kuat..' batin Shizu. Kepala sang Midoru benar-benar pusing. Chakranya yang semakin menipis membuat konsentrasinya semakin hilang, tetapi dia terus berusaha untuk mencerna semua yang diceritakan Ishina.

"Dua belas pasukan setan," Ishina menoleh ke arah 8 orang tersisa dari kelompok tersebut "Anak-anak ini adalah para shinobi hebat yang kupungut saat usia mereka masih muda. Mereka semua adalah yatim-piatu dan tidak mempunyai sesuatu untuk dimiliki..tapi mereka memiliki kemampuan unik dan mengerikan yang dipikirkan oleh Jun di masa depan bahwa mereka semua," Ishina menyeringai "Dua belas orang ini akan menjadi senjata utama Kurai no Sato dan menjadi ujung tombak desa ini, heh..tetapi Jun salah,"

Shizu terdiam. Dia masih menunggu.

"Mereka memiliki ambisi besar untuk mencari kekuatan utama Kurai no Sato yakni peninggalan kekuatan Kagemi Miyamora..dan Jun tidak setuju dengan hal tersebut.." Ishina tertawa kencang "HAHAHA! Makanya aku meracuni suami bodoh itu dan mencuri gulungan pertama dan kedua!"

! Mata Shizu membelalak lebar. Otaknya berputar cepat. Ada kesalahan atau kontradiksi dari cerita yang dia dengar. Atau mungkin dia memang salah dengar?!

"Gu-gulungan kedua..apa maksudmu?" tanya Shizu dengan nada bergetar shock.

Ishina menutup mulutnya "Ups, sepertinya aku keceplosan..heheh, kau mengerti kan dengan cerita darah murni?"

Shizu menautkan alisnya. Darah murni? Apa lagi itu..

"Kebangkitan kegelapan akan membuat semuanya berpendar dalam kekuasaan yang terpendam. Ken Miyamora melakukan hal yang sama dengan suamiku. Dia menikahi keturunan Harigawa dengan maksud untuk menyatukan dua keluarga tersebut. Dia tidak tahu kalau itu adalah kesalahan fatal terbesarnya..bahkan anaknya, yang merupakan darah dagingnya, memiliki ambisi seperti keturunan ibunya..bahkan saat usianya masih kecil," Ishina menoleh ke belakang.

"Masuk nak, tunjukkan kepada kakak yang cantik ini siapa dirimu yang sebenarnya.."

Mata Shizu melebar. Chisai berdiri dengan wajah datar sambil menatap kasihan kepada Shizukesa. Dan kali ini..benar-benar kali ini seorang Shizu merasakan kekelaman hati yang sangat kuat dari aura hati Chisai. Suatu aura kegelapan yang benar-benar pekat.

"Halo Nee-ehm, maksudku Nii-san, bagaimana aktingku untuk menutupi rasa kedengkianku. Bahkan saat berakting aku membuat pikiran-pikiran baik agar kau tidak dapat membaca kejahatanku," Chisai berjalan pelan ke arah Shizu "Aku langsung mendengar kabar dari Bibi Ishina kalau salah satu dari Ninja Konoha memiliki kemampuan membaca kejahatan hati manusia, aku dan Paman Nagawa langsung berakting menjadi baik dan bahkan benar-benar menikmatinya..heh," Chisai tersenyum licik. Wajahnya seperti anak kecil yang memenangkan suatu permainan "Berapa skor drama kami, Nii-san?"

Shizu menatap sedih ke arah Chisai. Dia menggigit bibirnya.

"Kau sedih karena ditipu Nii-san?"

"Ya," kata Shizu cepat "Aku benar-benar merasakan aura kebaikan dari dirimu dan Paman Nagawa, skormu bisa kubilang sempurna.. yakni sepuluh.." Shizu menundukkan kepalanya "Tetapi, pada saat kau terhipnotis dan datang ke rumah untuk menjebakku, aku bisa merasakan sedikit kekelaman hatimu.." Shizu mengangkat kepalanya dan menatap sedih ke arah Chisai.

"Kenapa Chisai..kenapa?"

Chisai terkekeh pelan "Heh, aku benar-benar terhipnotis oleh Majishan saat itu Nii-san. Bahkan saat Majishan datang aku bergetar ketakutan kepadanya karena terlalu menikmati permainan drama ini, tetapi tak kusangka kau dapat merasakannya juga.." Chisai menjijitkan kakinya dan mengelus dagu Shizu "..Kau benar-benar ninja yang hebat, tapi aku, dan cerita bohong Paman Nagawa soal pertemanannya dengan Jun Miyamora ataupun lukisan kedua yang diberikan itu..heheheh, itu semua bohong.." Chisai berjalan mendekati kelompok penjahatnya dan mengangkat kedua tangannya

"Aku sudah menginstruksi Paman Nagawa supaya memberitahukan letak yang akan dituju kelompok kami sehingga Naruto-nii dan Sasuke-nii pergi ke sini! Dengan kata lain.." mata Chisai menyipit tajam

"..Mereka berdua akan kami jebak dan akan kami iringi ke lubang kuburan mereka.."

Mata Shizu bergetar pelan. Chisai dan orang-orangnya tertawa penuh kemenangan

"..Ini akan menjadi sejarah, Shizu-nii..dan kau akan tahu bahwa dimulai dari malam ini, dengan terbukanya kekuatan Kagemi Miyamora maka kami semua akan menaklukkan dunia Shinobi! Heheheh..HAHAHAHAHA!"

Shizu menundukkan kepalanya. Dia menghela napasnya perlahan.

"Kau tidak cocok menjadi seorang penjahat, anak kecil!" gumam Shizu dengan nada tajam

.

.

.

"Kita sampai.." gumam Sasuke dengan tatapan tajam. Naruto menoleh ke arah partnernya.

"Kita gunakan siasat ninja. Ninja yang sebenarnya.." kata sang Uzumaki dengan nada pelan.

"Maksudmu mengendap-endap?" tanya sang Uchiha. Naruto tersenyum.

"Aku akan naik ke atas sedangkan kau sergap dari pintu depan, buat sedikit kekacauan dan kita akan mengalahkan mereka!" Naruto menyeringai "Setuju dengan ideku, Teme?"

Sasuke mendengus pelan dan tersenyum tipis "Hn, metode yang bagus..buatlah ledakan seminimal mungkin di atap..baiklah partner," Sasuke mengacungkan kepalan tangannya. Naruto menyengir dan langsung adu tinju dengan sang partner, Uchiha Sasuke..

"Yap, kita tunjukkan.." safir itu benar-benar tajam dan penuh kekejaman.

"SIAPA PENJAHAT YANG SEBENARNYA DATTEBAYO!"

.

.

.

Nagawa menyeringai di rumahnya yang sudah hancur. Di depan rumahnya kini berdiri sekelompok orang dari keluarga Harigawa. Nagawa mengangkat kepalanya dan menatap semua kelompoknya.

"Bagaimana Nagawa? Inikah saatnya?" tanya salah seorang dari kelompok tersebut.

"Heh, kita kendalikan desa ini dan tutup akses keluar-masuk. Lakukan penjagaan ketat," Nagawa Harigawa semakin menampilkan ekspresi jahatnya "Dengan tidak adanya Shinobi-Shinobi Konoha di desa ini, penjagaan di desa ini tidak ada. Semua prajurit penjaga Miyamora sudah dikendalikan Majishan..dengan memikirkan adanya bantuan dari Konoha karena ninja-ninjanya ada di sini, kita akan melakukan pemutusan hubungan luar dan buat Kekkai yang cukup kuat," Nagawa mengangkat tangannya

"Ini adalah awal dari era kita, dan akhir dari era MIyamora..ini adalah awal keluarga kita yang terusir dari tanah air kita, namun akhirnya kita kembali bahkan mengambil tanah yang baru. Dengan menolak kekuatan Kami-sama dan beriman kepada satan, para iblis yang tertawa dan kekuatan salib terbalik.." mata Nagawa menyala di sinar rembulan tersebut

"KEKUATAN KEGELAPAN TELAH BANGKIT!"

TBC

Author Note:

Wahaha, semakin kacau..semakin kacau..Kurai no Sato semakin kacau. Seorang Shizukesa yang katanya kuat dan cekatan pun bisa ditipu, so..dapatkan The Best Team kita membalikkan keadaan, maybe?

Terima kasih telah membaca minna dan terima kasih atas reviewnya di chap dulu. Icha undur diri dan akhir kata..

Thank you and Please Review^_^

Tertanda. Icha Ren

The Best Team Sad Scene

Saat Naruto dan Sasuke mengucapkan sayonara tersirat kepada Hinata dan Sakura. Sakura, yang mempunyai cita-cita menarik seseorang dari kegelapan hanya bisa mendengar ucapan terima kasih Sasuke sebelum dia pingsan dan tanpa tahu apa arti dari dua kata tersebut. Hinata bahkan tidak mendengar respon apapun dari Naruto sebelum sang Uzumaki menghantam tengkuknya di Taman Konoha. Keduanya pergi meninggalkan sebuah jejak, dan jejak itu akn dikejar dua Kunoichi tersebut hingga takdir berdarah itu datang..

Preview The Next Chap:

"Kalau begitu, sebagai keturunan Miyamora kalian berdua harus mati!"/ 'Atas..ini..ini chakra gelap penuh kesendirian..tidak salah lagi!'/"Heh, berani sekali kau berdiri sendiri di hadapan kami dan mencoba untuk melawan kami.."/ "Ada alasan kenapa aku membebaskan rantai-rantai dari tubuh teman kalian ini,"/ "Ada ide?"/ "Untuk seorang Shizukesa?"

Selanjutnya di The Best Team Special Arc, Chap 12: Reality

'Chakraku semakin menipis. Dengan ini aku akan melumpuhkan pergerakan Shizukesa!'/"..Heheh, aku yakin kalian berdua tidak akan mampu membuatnya pingsan!"