Disclaimer : Hiro Mashima
Based on Toshokan Sensou
Mr Perfect
"Kau tidur terus selama pelajaran ilmu pengetahuan." Tegur Mira pada Erza.
"Pelajarannya membosankan, belum lagi aku sangat lelah akibat instructor sadis itu terus-terusan menyiksaku." Keluh Erza.
"Sepertinya orang yang kau keluhkan panjang umur, halo instructor Jellal, instructor Laxus."
Nampak Jellal dan Laxus melangkah menghampiri mereka.
"Instructor Jellal, aku tidak melihatmu hari ini, aku kangen." Rayu Mira pada idolanya yang disambut sweatdrop dari Jellal.
"Erza, bagaimana pipimu?" tanya Jellal seraya menyentuh pipi kanan Erza.
"A-ah, sudah baikan sir, sudah tidak membengkak." Jawab Erza sedikit salah tingkah dengan perhatian instructornya itu.
"Baguslah kalau begitu, melihat wajah anehmu dengan pipi yang membengkak tadi pagi membuatku harus menahan tawa." Sahut Jellal yang lalu pergi meninggalkan Erza dan Mira.
"HEY APA-APAAN ITU!" teriak Erza, namun Jellal tidak memperdulikan teriakan itu, dia terus berjalan menjauh.
"Sudah-sudah, ayo kita makan siang, instructor Laxus kau mau ikut?" tanya Mira.
"Tidak, gua harus menyiapkan shift untuk patroli nanti, kalian juga bersiaplah untuk tugas patroli sesudah jam makan." Jawab Laxus yang juga ikut berlalu pergi.
"Sialan, kukira dia sudah berubah sedikit lebih baik, ternyat sifat menyebalkannya masih sama saja!" gerutu Erza yang masih kesal.
"Tak baik marah terus, ayo ke kantin."
Mr Perfect
Setelah makan siang, kegiatan untuk para anggota pelatihan adalah patroli di wilayah guild dan setiap anggota pelatihan akan ditemani oleh seorang instructor dan yang menemani Erza hari ini adalah instructor Gildartz.
Gildartz merupakan komandan divisi 1 di MDF guild Fairy Tail. Divisi 1 merupakan divisi tertinggi di Fairy Tail dan merupakan yang terkuat, secara pangkat dan posisi Gildartz sedikit lebih tinggi di atas Laxus dan Jellal.
"Oh, kau agen perempuan pertama di MDF, Erza Scrlet, hahahaha, patroli hari ini kau berpasangan denganku."
"Iya sir, mohon petunjuk dan kerja samanya sir."
"Ngomong-ngomong, Jellal banyak bercerita tentangmu."
"Bercerita apa sir? Pasti tentang hal yang buruk." Tanya Erza, pesimis.
"Oh, tidak, sebaliknya dia justru memujimu, terutama saat laporannya tentang masalah percobaan pencurian Lacrima kemarin." Jawab Gildartz.
Erza tertegun sejenak, kata-kata Gildartz mengingatkannya akan kejadian kemarin malam, saat dia dan Jellal berada di lobby asrama guild.
"Mendengar setiap cerita Jellal tentangmu, kurasa dia menaruh harapan yang besar padamu, dia sepertinya yakin kau akan menjadi agen defense force yang hebat."
"Benarkah sir?"
"Ya, dan tolong jangan katakan pada Jellal bahwa kau mendengarkan hal ini dariku."
"Tapi aku mendengarkannya darimu sir." Balas Erza seraya tertawa kecil yang juga disambut tawa oleh Gildartz.
Erza lalu melihat seorang pria tua yang pendek ingin memasuki lift, Erza lalu berinisiatif meninggalkan Gildartz dan menghampiri pria tua itu.
"Pak, biar saya bantu, lantai berapa pak?" tawar Erza.
"Tak perlu nona, aku bisa memencet tombol lift ini sendiri dengan tongkat yang kubawa." Tolak pria itu searaya menunjukan tongkat yang ada di tangannya.
"Ta-tapi pak.."
"Setiap pengunjung disini berhak untuk memilih fasilitas layanannya sendiri nona, tapi terima kasih atas perhatianmu." Potong pria tua itu seraya tersenyum lalu memasuki lift.
Erza lalu membungkuk dan meminta maaf sebelum akhirnya pintu lift itu menutup.
"Oy Erza, jangan tiba-tiba menghilang, kemari, aku akan menjelaskan kegiatan patroli kita hari ini." Panggil Gildartz.
"Untuk jadwal patroli hari ini, kita tak akan berpatroli di perpustakaan Lacrima, kita akan berpatroli di sekitar wilayah guild."
Gildartz lalu mengajak Erza untuk kelur dari gedung guild, menuju halaman guild yang lumayan luas, guild Fairy Tail sendiri terdiri dari 3 gedung utama, gedung pertama yang berukuran terbesar merupakan tempat penyimpanan dan perpustakaan Lacrima, gedung kedua merupakan HQ guild, markas para agen dan anggota Fairy Tail dari segala elemen posisi, baik itu Defense Force, administrasi, personalia, dan lain sebagainya dan gedung ketiga merupakan asrama tempat tinggal para anggota guild.
"Aku mengajakmu patroli di luar perpustakaan agar kau bisa mengenali wilayah guild kita, ini penting karena rata-rata pertempuran yang kita jalani sebagian besar ada di wilayah guild kita." Jelas Gildartz.
Lalu mereka berdua pergi keparkiran guild yang cukup luas, di sana terdapat beberapa kendaaran roda empat.
"Sekarang coba kau tebak, yang mana mobil milik unit kita?" tanya Gildartz pada Erza.
"Yang itu sir." Tunjuk Erza ke sebuah mobil berukurn sedikit lebih besar dari pada mobil-mobil lain di parkiran.
"Kau benar! Hahahaha, tak kusangka instuisimu sangat bagus!" puji Gildartz.
"Kalau boleh tahu, apa fungsi mobil kita sir?"
"Mobil kita memiliki sistem pertahanan sihir, berguna dalam kondisi pertempuran di luar guild dan sebagai transportasi untuk mengangkut anggota MDF ke wilayah konflik, di kota Magnolia ini terdapat tiga guild, Blue Pegasus, Lamia Scale dan kita Fairy Tail, hubungan antar guild selama ini terjalin baik, dan setiap guild yang kekurangan kekuatan dalam menahan serangan pemerintah akan menghubungi guild lain untuk meminta back-up, mobil ini berguna untuk transportasi kita ke wilyah guild lain yang diserang, fungsi pertahanan sihirnya berguna untuk meminimalkan sabotase back-up dari pihak pemerintah." Jawab Gildartz panjang lebar.
Erza mengangguk mengerti.
"Nah ayo kita pergi keluar guild, jalan-jalan di sekitar kota ini, kau berasal dari kota lain kan? Tak ada salahnya kita berjalan-jalan mencari udara segar." Ajak Gildartz.
"Tapi sir, bukan kah kita sedang dalam tugas patroli?"
"Berpatroli bukan hanya di dalam wilayah guild tapi juga di luar wilayah guild, sering kita menemukan Lacrima liar di luar sana, baik yang dimiliki oleh masyarakat sipil mau pun oleh para pedagang gelap yang ingin menjual Lacrima-Lacrima itu, biasanya masyarakat sipil yang memiliki Lacrima ingin menyerahkan Lacrima itu ke guild untuk di simpan dengan baik tapi di tengah jalan sering kali mereka bertemu dengan pihak pemerintah hingga akhirnya Lacrima itu disita oleh pemerintah."
"Ya sir, saya pernah mengalaminya, dua tahun yang lalu." Ujar Erza, seraya mengenang kejadian dua tahun lalu ketika dia bertemu dengan penyelamatnya.
"Oh, ceritamu sewaktu interview itu?" tanya Gildartz yang disambut anggukan dari Erza.
"Perlu diingat juga bukan pihak pemerintah yang perlu di cemaskan namun para pedagang gelaplah yang perlu diwaspadai dalam patroli di luar guild, mereka orang yang tidak mengenal hukum, dan karena penggunaan sihir dilarang di luar guild, kita harus menghadapi mereka dengan ilmu beladiri, itu lah guna nya pelajaran fisik dan beladiri." Jelas Gildartz lagi.
Lalu Gildartz dan Erza memasuki mobil patroli mereka dan Gildartz menyetir mobil keluar dari wilayah guild.
Kota Magnolia merupakan kota yang besar, terbagi atas banyak distrik pertokoan dan pusat bisnis juga taman kota, dan ketika Erza dan Gildartz berhenti disebuah lampu merah jalan, Erza melihat seorang anak kecil berambut biru yang sedang memeluk Lacrima berwarna putih sedang diintimidsi oleh dua agen pemerintahan di sebuah gang di pinggir jalan.
"Kumohon jangan ambil lacrima ini! Aku akan menyerahkan nya ke guild!" jerit anak itu seraya menangis sedangkan dua agen pemerintah tampak tidak peduli dengan tangisan anak itu.
"Lebih baik kau serahkan saja lacrima itu anak kecil, kau pasti tahu perbuatanmu melanggar hukum!"
"Sir." Panggil Erza seraya menunjuk anak kecil dan dua agen pemerintahan itu.
Gildartz menatap sebentar, lalu menghela nafas.
"Biarkan saja, anak itu hanya akan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan Lacrima itu akan disita pemerintah, sepertinya ini bukan hari baik untuk kita, pihak pemerintah lebih dahulu menemukan lacrima itu."
"Ta-tapi sir..."
"Kita bukan pahlawan Erza, kita adalah Defense Force, tugas kita adalah melindungi lacrima yang berada di guild kita, bila kita bertentangan dengan pihak pemerintah di luar guild kita itu akan menyebabkan masalah buat kita." Potong Gildartz.
Mendengar kata-kata Gildartz, Erza tertegun sejenak.
'Bukan pahlawan? Tapi pria itu menolongku dua tahun lalu.' Batin Erza.
Mengikuti kata hatinya, Erza langsung membuka pintu mobil dan berlari kearah anak kecil yang sedang di intimidasi oleh dua agen pemerintahan itu tanpa memperdulikan teriakan Gildartz.
"OI ERZA! APA YANG KAU LAKUKAN!"
"Saya sebagai anggota pelatihan guild meminta kalian berdua melepaskan lacrima dan gadis itu!" perintah Erza seraya menunjukan tanda pengenalnya kepada dua agen pemerintahan.
"Anggota pelatihan? Berani memerintah kami? Huahahahahhahahahhahha!" tawa dua anggota pemerintahan itu membuat Erza cengo.
"Maaf, kami tak ada waktu meladenimu nona anggota pelatihan."
Kedua agen itu lalu kembali memaksa gadis kecil berambut biru untuk menyerahkan lacrima miliknya, membuat Erza tak mampu menahan emosinya sehingga dia bersiap untuk menggunakan sihirnya untuk melumpuhkan kedua agen pemerintah itu.
"RE-EQUI..."
"APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH!"
Belum sempat Erza mengeluarkan sihirnya, tiba-tiba teriakan Jellal menghentikan niatnya.
"Seorang anggota pelatihan memang tak bisa menghentikan kalian, tapi bagaimana dengan tiga komandan divisi?" ujar Laxus yang juga datang bersama dengan Gildartz dan Jellal.
Melihat tiga komandan divisi guild Fairy Tail yang sudah memiliki nama tersohor ke penjuru Fiore membuat dua agen pemerintah itu gentar.
"Cih, lebih baik kita pergi!"
Kedua agen itu lalu pergi meninggalkan gang itu sementara gadis kecil berambut biru masih menangis sambil memeluk lacrima berwarna putih.
"KAU IKUT AKU SEBENTAR!" perintah Jellal, menyeret Erza keluar dari gang.
"KAU TAHU APA YANG KAU LAKUKAN HAH? KAU NYARIS MENGGUNAKAN SIHIR DI LUAR GUILD! ITU MELANGGAR ATURAN! UNTUNG KOMANDAN GILDARTZ SEGERA MENGHUBUNGI KAMI UNTUK MEMINTA BANTUAN!"
"Ma-maaf sir."
"Tugas kita hanya melindungi lacrima yang berada di guild, terkecuali kejadian seperti tadi, bila ditemukan lacrima liar dan agen pemerintah biasa (Bukan sekelas komandan pihak pemerintah) menemukannya terlebih dahulu harus tiga komandan divisi guild yang boleh untuk mengambil lacrima itu dengan kompensasi guild harus membayar dengan jumlah uang yang besar kepada pemerintah, apa kau mau membuat guild kita bangkrut?! Belum lagi kau mau menyerang pihak pemerintah dengan sihir di luar wilayah guild!" jelas Jellal dengan urat kemarahan di kepalanya.
"Tapi sir, itu yang di lakukan oleh pria itu." Bantah Erza membuat urat-urat kemarahan di kepala Jellal semakin bertambah.
"PAHLAWANMU ITU HANYA SEORANG IDIOT, KAU MENGERTI? APA YANG TERJADI BILA SEORANG IDIOT MENCONTOH SEORANG IDIOT YANG LAINNYA?!"
"SAYA MUNGKIN SALAH! TAPI JANGAN MENGEJEKNYA KARENA MASALAH INI!"
"DIAM! PRIA ITU HANYA ORANG CEROBOH YANG BERDARAH PANAS DAN PELANGGAR ATURAN, MDF JUSTRU LEBIH BAIK TANPA ORANG SEMACAM ITU!"
"HENTIKAN KATA-KATAMU! DIA ITU PANGERANKU!"
Menyadari dia kelepasan bicara, Erza langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sementara Jellal yang mendengar kata-kata Erza terdiam dengan wajah terkejut yang agak konyol.
Suasana tiba-tiba menjadi sunyi dan sedikit canggung, sementara Laxus dan Gildartz yang melihat pertengkaran mereka berdua langsung tertawa.
"Gua gak pernah melihat seorang newbie berani menentang dan berhasil membuat Jellal mati kutu dalam berdebat, ini sangat bagus sebagai tontonan." Tawa Laxus.
"Lu-lupakanlah, sudah, kau beritahu gadis kecil itu, kita akan membawa lacrima yang dibawanya ke guild." Ujar Jellal dengan nada sedikit canggung.
"Terima kasih, sir." Erza tersenyum, lalu kemudian memasuki gang dan menghampiri gadis kecil berambut biru.
"Sepertinya lo mendapatkan saingan dalam hal pelanggaran." Ujar Laxus pada Jellal.
"Apa yang kau maksud, aku tak mengerti." Bantah Jellal yang urat kemarahan masih belum menghilang dari kepalanya.
"Bagaimana pun sekarang kau adalah atasannya, didiklah dia dengan baik jadilah mentornya agar dia menjadi agen defense force yang hebat." Ujar Gildartz seraya menepuk pundak Jellal.
Mr Perfect
Esok harinya..
"Hai pembuat masalah, aku mendengar masalah yang kau buat kemarin." Sapa Mira seraya menepuk pundak Erza.
"Miraaaaaaaaaaaa~" balas Erza dengan wajah suram.
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa suram begitu."
"Ini gawat Mira! Aku di panggil ke kantor komandan! Apakah Jellal akan mengeluarkankan ku dari guild karena kesalahanku kemarin atau dia sudah menyerah untuk melatihku dan akhirnya mengeluarkanku dari guild?" panik Erza.
"Kurasa Jellal tidak akan mengeluarkanmu karena masalah seperti itu, ingat saat hari pertama latihan judo? Saat kau menendang jatuh dirinya, dia sempat memujimu dan mengatakan kau cukup kuat untuk berada di MDF."
"Benarkah?"
"Yah, bila kau tak merasa yakin, datanglah ke kantor komandan, dan lihat apakah dia akan mengeluarkanmu dari guild atau tidak."
Mr Perfect
'Aku masih khawatir, bagaimana ini.' Batin Erza sambil mondar mandir di depan pintu kantor komandan, dia harus menyiapkan mental sebelum memasuki kantor.
"Erza Scarlet."
Tiba-tiba sebuah suara memanggil Erza dari belakang, membuat Erza menoleh.
Seorang pria berambut hitam dengan badan tinggi tegap dan menggunakan seragam pelatihan yang sama dengan yang di pakai Erza berdiri di belakangnya.
"Um.. Kau siapa?" tanya Erza pada pria itu.
"Gray Fullbuster, sama sepertimu, aku juga anggota guild baru yang masih dalam pelatihan."
'Gray? Aku pernah mendengar nama itu, seorang anggota pelatihan yang mempunyai prestasi tertinggi diantara semua anggota pelatihan lain.' Batin Erza.
"kau juga dipanggil ke kantor komandan?" tanya Erza yang dibalas Gray dengan tatapn dingin.
'Hey, apa-apaan tatapan itu!' kesal Erza dalam hati.
"Anggota pelatihan MDF, Gray Fullbuster, meminta izin masuk sir." Ujar Gray sambil mengetuk pintu kantor.
"Ah, anggota pelatihan MDF, Erza Scarlet, izin masuk juga sir." Tiru Erza.
Mereka lalu memasuki ruangan kantor, terlihat tiga komandan divisi utama, Gildartz, Laxus dan Jellal berdiri di pinggir meja sedangkan seorang pria tua duduk di belakang meja itu.
"Ah, anda pria tua yang kemarin di lift, pak, apa yang anda lakukan di si..."
"Tutup mulutmu! Dia adalah ketua guild ini kau tahu!" potong Jellal.
Ekspresi wajah Erza masih menunjukan sedikit kebingungan.
"Terima kasih atas pelayananmu kemarin." Ujar pria tua itu.
'Dia ketua guild? Harusnya aku mengenalinya saat acara penerimaan anggota baru.'
"Baiklah langsung saja, Gray Fullbuster, Erza Scrlet, kalian berdua direkomendasikan oleh komandan divisi satu Gildartz Clive, komandan divisi dua Laxus Dreyar dan komandan divisi 3 Jellal Fernandes dan disetujui oleh saya Makarov Dreyar, sebagai ketua guild, sehingga menyatakan kalian lulus dalam pelatihan anggota baru hingga resmi bergabung menjadi agen Magic Defense Force, menjabat sebagai corporal."
Corporal adalah jabatan untuk agen MDF yang baru resmi dan lulus dari masa pelatihan. Jabatan ini bisa meningkat seiring prestasi yang dibuat dan jabatan tertinggi adalah komandan divisi.
"APAAAA!" teriak Erza terkejut.
"BODOH! PERHATIKAN BAIK-BAIK UCAPAN KETUA!" marah Jellal sementara Gray memberi hormat pada Makarov seraya berterima kasih atas kelulusannya dari masa pelatihan.
Mr Perfect
Setiap agen MDF yang diterima diharuskan untuk mengikuti latihan extra, porsi latihan extra itu meliputi banyak hal dari panjat tebing, berlari melewati medan-medan yang berat dan latihan menembak dengan menggunakan peralatan sihir.
Latihan menembak menggunakan peralatan sihir sangat berguna, untuk melatih ketepatan dan juga melatih keahlian menggunakan senjata sihir karena dalam sebuah pertempuran diharuskan untuk menghemat energi sihir sebanyak mungkin, sehingga senjata sihir sangat berguna untuk menghemat energi sihir dalam pertempuran bahkan bisa menjadi pertahanan terakhir apa bila energi sihir sudah terkuras habis.
BANG! BANG!
Terdengar suara tembakan dari senjata sihir yang ditembakan oleh seorang pria berambut hitam yang nampak tidak mengenakan bajunya.
Tembakan pria itu tepat mengenai seluruh target sasaran dipapan tembakan.
"Wow, he-hebat sekali, kau bisa dengan tepat sasaran menembakan seluruh tembakan, bagaimana kau bisa melakukannya, Gray." Puji Erza pada pria itu.
"Biasa saja, aku justru penasaran, bagaiman seorang agen MDF sepertimu bisa tidak tepat sasaran dalam menembakkan senjata sihir." Singgung Gray, lalu meninggalkan Erza.
"TUNGGU! APA MAKSUDMU!"
"Sudah Erza, dia benar soal itu." Tegur Laxus.
Mr Perfect
Ada sekitar belasan anggota guild baru yang mendaftar sebagai anggota pelatihan di MDF dan hanya Erza dan Gray yang lulus diantara belasan orang itu, mereka masuk ke divisi 3 pimpinan Jellal dengan Laxus yang merupakan komandan divisi 2 merangkap sebagai asisten Jellal (Dengan alasan Jellal merupakan sahabat lamanya.)
Karena hanya mereka berdua anggota yang lulus tahun ini dan masuk di divisi yang sama, Erza mencoba untuk berteman dengan Gray, sang lulusan dengan prestasi terbaik namun sepertinya itu tidak mudah.
Setiap Erza menyapanya, sapaannya hanya disambut dengan dingin oleh Gray, bahkan berkali-kali Gray menyinggung Erza dengan kata-katanya, sehingga suatu hari..
"Apa yang sudah kulakukan padamu? Ada apa denganmu hah?!" Tanya Erza seraya menunjuk Gray.
"Bagimana dengan ini, katakan satu alasan bagus kenapa kau bisa diterima sebagai agen MDF?"
"Huh?"
Erza terdiam, sambil berpikir keras.
"Kau tak bisa mengatakannya kan? Kau selalu bertingkah seperti 'aku akan melakukan yang terbaik' tapi kenyataannya, bahkan kau tidak bisa melakukan apa pun sebagai seorang agen, kau juga tidak menghapal peraturan sebagai seorang agen, terus terang penerimaanmu sebagai agen MDF dan berada di divisi yang sama denganku merupakan penghinaan besar untukku."
Gray lalu meninggalkan Erza yang termenung mendengar kata-katanya.
'APA-APAAN ORANG ITU? DIA YANG TERBURUK DARI YANG TERBURUK!' maki Erza dalam hati.
Mr Perfect
"Gray, bagaimana pendapatmu tentang Erza?" tanya Gildartz di locker room khusus pria.
"Tidak ada, aku tidak tertarik." Jawab Gray.
"Kau berbohong, pasti kau kepikiran tentangnya kan? Kenapa dia? Kenapa kami meluluskan kalian berdua, Mr Perfect, kau tak akan mengerti alasannya."
"Aku tidak merasa diriku spesial, aku hanya melakukan apa yang diharapkan dariku." Balas Gray dengan nada sedikit meninggi.
"Baiklah kalau kau berkata seperti itu, dia adalah satu-satunya corporal baru yang diterima selain dirimu, sedikit terbuka dan berteman lah dengannya, aku pergi dulu." Sahut Gildartz.
Gray POV
Saat penerimaan anggota MDF baru, aku mengetahui ada seorang calon agen MDF yang merupakan seorang perempuan, ini yang pertama dalam sejarah defense force, seorang perempuan mendaftar sebagai anggota.
Tentu saja hal itu membuatku tertarik, aku lalu memperhatikan perempuan itu, Erza Scarlet dari jauh...
Dan aku merasa sangat terganggu sekaligus kesal, dia sangat emosian dan juga bodoh, dia selalu menentang instructor Jellal, pria yang sangat kuhormati, disetiap kesempatan.
Dia benar-benar tidak bisa bergabung di bawah seorang pemimpin yang kompeten.
Satu-satunya kelebihannya hanyalah kekuatan fisik yang luar biasa bagi seorang perempuan, namun selain itu dia sama sekali tidak memiliki kemampuan apa pun untuk bergabung dengan MDF.
Namun bagaimanapun, dia mendapat perhatian dan lulus dari pelatihan dan menjadi agen resmi MDF diantara belasan anggota pelatihan lain, bersama denganku! Bagaimana pun aku tak bisa menerima hal itu!
End Of Gray POV
MR Perfect
Hari ini adalah hari latihan survival di alam liar, orang-orang dari divisi satu sampai ketiga mengikuti pelatihan ini.
Latihan ini bertempat di sebuah hutan yang terletak di gunung dekat kota Magnolia dan tentu saja berada di luar wilayah guild, sehingga penggunaan sihir dilarang.
Tidak ada alasan khusus kenapa harus berlatih survival di gunung karena area pertempuran mereka biasanya berada di daerah perkotaan, Gildartz hanya beralasan bahwa latihan ini menyenangkan dan sekalian buat camping.
Dalam latihan ini, ketiga divisi berpencar sesuai dengan divisi masing-masing dan mereka harus mendaki gunung untuk sampai di titik pertemuan dengan menggunakan kompas dan peta.
"Beruang?" tanya Erza dan Gray dengan ekspresi ketakutan.
"Ya, di hutan ini terdapat beruang, banyak laporan dari penduduk lokal, jadi lebih baik kalian berhati-hati! Hahahahah." Tawa Gildartz.
"Berhati-hati? Bahkan menurut saya latihan survival di hutan ini tidak ada artinya, sir!" bantah Erza.
"Siapa bilang? Kau tahu latihan ini artinya bersenang-senang, wahahahaha." Tawa Gildartz lagi.
"Jika bertemu dengan beruang, kalian jangan lari, percuma lari dia akan terus mengejar, jadi lebih baik hadapi dan lawan! Namun ingat, ini di luar wilayah guild dilarang menggunakan sihir." sambung Laxus.
"Oke masing-masing divisi berpencar kita berangkat! Sampai jumpa di tempat pertemuan."
Mr Perfect
Peluh menetes dari wajah Erza, tubuhnya sungguh sangat letih karena pendakian gunung ini dan ransel yang berada di pundaknya menambah bebannya.
Erza melihat rekan-rekannya yang lain sudah berada di depannya, hanya Jellal yang berada di belakangnya, karena sebagai komandan dia bertugas mengawasi anggota divisinya dari belakang.
'Gawat, hanya aku yang tertinggal, aku merasa sangat kelelahan.' Batin Erza.
Melihat Erza yang kesulitan dalam pendakian Jellal langsung mengambil inisiatif.
"Gray, bawa ransel Erza." Perintah Jellal yang disambut wajah muram dari Erza dan Gray.
"Ini soal kerja sama tim, bukan sesuatu yang bisa kau capai dengan dirimu sendiri, kau pahamkan?"
"Ya, sir." Sahut Gray.
"Ummm.." Erza masih sedikit ragu, kalau orang lain sih boleh membantunya membawakan ranselnya, tapi kenapa musti si Mr Perfect, Gray, dan satu lagi selain terbaik dalam setiap pelatihan namun Gray memilki satu keanehan, dia suka membuka bajunya di tempat umum, seperti yang saat ini dia lakukan, mungkin julukannya harus berubah dari Mr Perfect menjadi Mr Pervert.
"Erza, aku tak perlu mengulang perintahku dua kalikan?" tanya Jellal dengan wajah horornya.
"Ba-baik sir, mohon bantuannya, Gray." Ujar Erza sedikit malas, seraya menyerahkan ranselnya pada Gray.
Pendakian akhirnya diteruskan, sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai tempat yang lumayan teduh untuk beristirahat.
"Untuk ukuran seorang perempuan, kau kuat dalam pendakian ini, apa kau baik-baik saja?" tanya Jellal pada Erza yang sedang duduk disebuah akar pohon yang berukuran besar dan menyembul di tanah.
"Ya, sir, tapi ada satu hal yang kucemaskan... soal beruang itu..."
"Tak ada yang perlu kau khawatirkan tentang beruang, selama kau terus berada dalam kelompok beruang itu tidak akan menampakan dirinya, selama ini tidak ada anggota latihan yang pernah diserang dan serangan beruang sungguh amat jarang terjadi, makanya saat serangan terjadi media langsung ramai memberitakannya." Jelas Jellal.
Mendengar penjelasan Jellal, membuat Erz menjadi sedikit tenang.
"Terima kasih, sir, aku menjadi sedikit tenang."
Jellal lalu tersenyum, kemudian dia berdiri, "Ini kerja sama tim, sebagai perempuan kau memang kuat, tapi tak ada artinya kalau hanya kau sendirian yang mencapai titik pertemuan, siapkan dirimu, sebentar lagi kita akan meneruskan perjalanan."
Jellal lalu mengusap kepala Erza sebentar, dan kemudian pergi memberitahu anggota divisi 3 yang lain bahwa waktu istirahat telah usai.
'Instructor Jellal, dia... tersenyum padaku untuk pertama kalinya.'
Mr Perfect
"Akhirnya kalian tiba juga tim Jellal, tak disangka kalian lumayan cepat walau ada seorang perempuan di dalam tim kalian." Sambut Gildartz, di titik pertemuan.
Semua anggota tim nampak kelelahan dengan keringat yang mengucur.
"Baik, segera bangun kemah untuk nanti malam." Perintah Jellal.
Setelah membangun kemah para anggota divisi lalu beristirahat, ada yang mengelilingi api unggun, ada yang makan dan ada pula yang tiduran.
Sementara Erza memilih duduk sendirian di bawah sebuah pohon dekat kemahnya.
Dia sudah membuka seragam latihannya, di ganti dengan kaus hitam tanpa lengan dan celana panjang.
"Erza, kau lumayan dalam latihan hari ini." Ujar Jellal yang menghampiri Erza dan kemudian memberikan Erza secangkir teh hangat.
'Dia sungguh baik hari ini.' Pikir Erza seraya menyeruput teh pemberian Jellal sementara Jellal ikut duduk disamping Erza.
"Erza, sebenarnya tentang beruang..."
Belum sempat Jellal meneruskan kata-katanya, tiba-tiba kepala Erza bersandar di bahu Jellal, membuat Jellal sedikit kaget.
"E-Erza?"
Jellal lalu menatap wajah Erza, ternyata perempuan itu tertidur akibat kelelahan.
"Instructor Jellal, aku ingin berbicara tentang rencana besok." Tiba-tiba saja Gray datang, membuat Jellal langsung mendorong kepala Erza dari bahunya, membuat kepala Erza terjatuh ke tanah.
"Rencana besok? Nanti kita bicarakan, sebelum itu, seperti yang kau lihat, Erza terlihat sangat lelah dan tertidur, bawa dia ke tendanya." Perintah Jellal.
Gray hanya mengangguk dan dengan ekspresi tidak ikhlas dia merangkul tubuh Erza yang tertidur.
'Kenapa harus aku yang mengantar dia ketenda!' protes Gray dalam hati.
"Semua terlukis di wajahnya, semua orang menganggap dia sempurna, tapi kenyataannya, dia sangat mudah terprovokasi oleh kehadiran Erza." Ujar Laxus yang menatap Gray dan Erza sambil menghampiri Jellal.
"Kurasa dua-dua nya sama saja, mereka saling provokasi satu sama lain, sama-sama tipe orang keras kepala." Sahut Jellal seraya meminum kopinya.
"Gua rasa akan menarik bila mereka berdua tidur bersama malam ini." Ujar Laxus yang membuat Jellal langsung tersedak kopinya.
Mr Perfect
Tengah malam nya..
Erza POV
Aku mendapat mimpi aneh, dalam mimpiku, aku melihat Gray tampak dikejar oleh sesuatu, dia terlihat sangat ketakutan dan itu membuatku sangat senang, rasakan itu Jerk!
"ITU ADA DI SINI!"
Sebuah teriakan membangunkanku dari mimpi indahku.
"Apa yang ada di sini?" aku bangun sambil menggaruk kepalaku, lalu tiba-tiba pikiranku tertuju pada seekor hewan yang diceritakkan tadi siang oleh instructor Gildartz, beruang..
Dan dalam sekejap, tiba-tiba sebuah bayangan hitam langsung masuk ke tendaku.
"Beruang!" teriak ku yang langsung melayangkan tinjuku kearah bayangan itu dan anehnya beruang itu sangat ringan, masa sekali pukul langsung terpental keluar kemah.
Aku keluar dari dalam kemah untuk melihat beruang itu lebih jelas, dan tawa instructor Gildartz menyambutku diluar kemah.
"Hahahahaha! Lihat apa yang dia lakukan? Menyangka sesosok penyerang adalah beruang dan memukulnya!" tawa Gildartz yang diikuti oleh tawa para anggota divisi yang lain.
Aku melihat kesosok bayangan yang baru ku serang tadi, ternyata itu hanya sebuah semak-semak yang diikat dan dibentuksedemikian rupa!
"Kau sangat hebat Erza! Kami bergantung padamu! Hahahahahha." Tawa anggota divisi yang lain meledak.
"A-Apa yang terjadi?" Tanyaku, aku masih sedikit bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi di sini.
"Ini hanya sebuah lelucon, istilahnya sebuah sambutan untuk agen yang baru resmi bergabung dengan defense force." Jelas Jellal.
"Ya! Leluconnya, pertama-tama takut-takuti agen yang baru bergabung dengan cerita bahwa di gunung ini ada beruang, lalu kedua lempar sebuah semak-semak yang sudah dibuat oleh agen yang lain sedemikian rupa ke tenda si agen baru pada tengah malam." Sambung Laxus.
"Sungguh tidak dewasa." Aku langsung ngedrop melihat kelakuan para atasanku itu.
"Kami memberikan cerita seram lalu kami menakut-nakutimu, kau berteriak ketakutan cerita selesai, hahahahha, tapi aku salut Erza, kau agen kedua yang memukul 'beruang' ketimbang hanya berteriak ketakutan seperti Gray dan agen-agen baru yang sudah-sudah." Ujar instructor Gildartz sambil menepuk bahuku.
"Komandan, jangan ceri..."
Instructor Jellal ingin protes tapi aku langsung memotongnya.
"Jadi, kau orang pertama.." potongku seraya tersenyum.
"Ya, dia yang pertama, dialah alasan yang membuat lelucon ini menjadi ritual setiap ada anggota MDF yang baru bergabung." Jelas Gildartz.
"Jadi gara-gara kau, aku harus terlibat dalam lelucon ini!"
"Bodoh, aku sudah memperingatkanmu tak perlu khawatir akan beruang kan!"
"Mana aku tahu maksud dari peringatanmu!"
Dan sejak saat itu orang-orang di divisi menjulukiku bear killer dan Titania.
Titania sendiri memiliki dua arti, yang pertama ratu para peri dan yang kedua wanita perkasa, sayang nya para anggota divisi mengartikannya dengan artian yang kedua.
End of Erza POV.
Sementara itu Gray, pundung dipojokan tendanya dengan aura muram disekitar dirinya.
"Cerialah sedikit Gray, reaksi lo itu normal, hanya saja Jellal dan Erza itu memang sedikit tidak biasa." Hibur Laxus pada Gray yang ngedrop di pojokan kemah.
To be Continue
Maaf agak lama updatenya, kami terkena writer block yang datang tak di jemput pulang tak diantar (?)
Di sini tiap karakter emang rada-rada OOC tapi kami tetap mempertahankan beberapa sifat asli mereka, seperti Erza yang emosian dan Jellal yang hobi memerintah (Masih ingat Jellal evil mode on saat arc tower of paradise? Menurut kami dia adalah penjahat terkeren sepanjang serial Fairy Tail, lebih keren ketimbang Jellal versi tobat, tapi ya sudah lah, tanpa Jellal versi tobat maka JeRza gak bakalan ada)
Jellal lebih pendek dari Erza di fic ini untuk penyesuaian karakter karena fic ini di angkat dr cerita toshokan sensou, dan menurut kami juga menarik, masa tokoh utama dan pasangannya harus selalu menjadi pasangan sempurna ^.^.
