Disclaimer : Hiro Mashima
Based on Toshokan sensou
Raid
Hari ini merupakan tugas membantu administrasi di gedung perpustakaan bagi divisi 3 pasukan MDF.
Berhubung besarnya perpustakaan dengan banyaknya lacrima yang disimpan di sana dan besarnya animo masyarakat untuk mempelajari lacrima, membuat petugas administrasi dan personalia guild kewalahan, hingga akhirnya defense force pun diwajibkan untuk membantu pihak administrasi dan personalia diwaktu-waktu tertentu.
"Ingat, sebentar lagi gedung perpustakaan guild akan di buka, sebelumnya aku akan membawamu, ke gudang penyimpanan lacrima." Ujar Jellal pada Erza.
"Siap, sir." Balas Erza seraya memberi hormat ala prajurit.
Jellal lalu membawa Erza ke sebuah pintu yang lumayan besar, dengan cermin tertempel di pintu itu, memantulkan bayangan Erza yang memakai kemeja kantoran dengan celan bahan berwarna hitam dan Jellal dalam seragam kemeja putih (Pekerjan di luar militer seragamnya merupakan seragam kantor sedangkan saat latihan atau tugas militer pakaiannya pakaian militer khas anggota defense force.)
Jellal lalu menekan beberapa tombol pasword di samping pintu dan membuka pintu itu dan ketika pintu terbuka tampaklah berbagai macam jenis lacrima tersusun rapi di banyak rak-rak berukuran tinggi dan besar di dalam ruangan di balik pintu itu, belum lagi ruangan itu bagaikan labirin karena ukuran nya yang sangat luas.
"Ini adalah gudang lacrima, yang di simpan di dalam perpustakaan hanya sebagian yang sebagian lagi berada di gudang ini, posisi masing-masing lacrima di bagi dari jenis sihir dan lain-lain, saat pengunjung datang ada kalanya mereka tidak bisa menemukan lacrima yang ingin mereka pelajari, dan itu tugas administrasi untuk membantu menemukan lacrima yang pengunjung cari, di gudang ini mau pun di perpustakaan." Terang Jellal.
"Se-seluas ini sir? Bagaimana aku mencarinya?"
"Kalau kau memperhatikan pelajaran ilmu pengetahuan dan menghapal sistem penyimpanan lacrima seharusnya gampang bagimu mencari lacrima-lacrima yang dibutuhkan pengunjung." Balas Jellal.
"Sepertinya mustahil sir... ah, instructor Laxus dan..." Erza tidak meneruskan kata-katanya ketika Laxus dan Gray menghampirinya dan Jellal.
"Selamat pagi, sir." Sapa Gray pada Jellal seraya memberi hormat prajurit.
"Ya pagi." Balas Jellal.
"Lo tahu Jellal? Gray sangat membantuku dalam tugas administrasi ini." Puji Laxus, sementara Gray dan Erza saling memberi tatapan tajam, sebelum akhirnya mereka saling membuang muka, dan saling menjauh ke arah berlawanan.
"Kalau begitu kita lanjutkan bekerja." Ujar Laxus yang menyusul Gray dan Jellal menyusul Erza.
"Santai saja bodoh, kalu kau tak mengerti akan kujelaskan lagi sistem penyimpanan lacrima di sini." Ujar Jellal.
Erza segera mengeluarkan buku catatan dan pensil untuk mencatat kata-kata Jellal.
Jellal lalu menjelaskan sistim penyimpanan lacrima yang dibagi atas beberapa jenis sambil menunjukan rak-rak dimana lacrima yang terbagi atas beberapa jenis tersimpan, sementara Erza dengan serius mencatat penjelasan Jellal sambil mengikuti Jellal, walaupun Erza terlihat banyak bertanya atau pun meminta Jellal mengulangi penjelasannya.
'Instructor Jellal, dia tak terlalu buruk, dia sama sekali tidak menekanku apa bila aku ingin mempelajari sesuatu.' Batin Erza sambil mendengarkan penjelasan Jellal.
"Baiklah sampai di sini penjelasanku, apa kau bisa memahaminya?" tanya Jellal.
"Belum sir, tapi aku mencatat semua penjelasan darimu."
Laxus dan Gray sendiri tampak selesai melakukan tugas mereka, kini mereka bergabung bersama Erza dan Gray.
"Baiklah, sebentar lagi perpustakaan akan di buka, Erza aku tak akan menjelaskan apa pun lagi padamu, apa bila masih bingung atau mengalami kesulitan, tanya pada Gray." Ujar Jellal yang disambut wajah suram dari Gray dan Erza.
Raid
Perpustakaan lacrima guild pun di buka dan seketika saja, masyarakat mulai berdatangan untuk mempelajari lacrima.
Dikarenakan perpustakaan yang luas sering pengunjung tidak bisa menemukan lacrima yang ingin mereka pelajari, bila mereka menemukan kesulitan seperti itu, mereka akan mendatangi bagian administrasi yang maupun personalia yang berada di tengah-tengah perpustakaan.
Para pengunjung sendiri diwajibkan membayar untuk mempelajari lacrima disini dan bayaran dari pengunjung itulah yang menjadi pemasukan guild.
"Gray, bisa kau bantu aku, dimana lacrima white roses? Nomor 1020?." Tanya Erza sementara Gray nampak sibuk dengan pekerjaannya.
"DI RAK NOMOR 3 DI TINGKAT 4 BAGIAN SELATAN PERPUSTAKAAN! AKU SUDAH MEMBERITAHUMU BEBERAPA KALI!" bentak Gray.
"Gray, maaf menggangu, lacrima fire color, nomor 486? Letaknya dimana?"
"TADI KAN SUDAH KUKATAKAN! MAU BERAPA KALI DIJELASKAN?"
"Gray.. tolong bantu aku.."
Dan akhirnya, sepanjang pekerjaan membantu administrasi dan personalia ini dihabiskan Erza dengan bertanya pada Gray karena dia memang tak tahu apa-apa belum lagi dia sangat kesulitan untuk mencari lacrima karena tempat penyimpanan yang seperti labirin, yang disambut dengan bentakan-bentakan dari Gray, hingga akhirnya jam makan siang pun tiba...
"Tiga orang batal mempelajari lacrima, dan ketiganya komplain ke administrasi karena lambatnya pelayanan, mereka tidak bisa menunggu lacrima yang mereka cari terlalu lama." Ujar Laxus dengan peluh menetes diwajahnya, sama dengan Jellal mereka nampak sangat letih.
'Tiga orang itu batal mempelajari lacrima Karena aku yang lambat dalam mencari lacrima-lacrima yang ingin mereka cari.' Batin Erza dengan perasaan bersalah.
"Ini kesalahanmu, seorang agen MDF yang tak tahu tugas-tugas dasar di guild." Singgung Gray pada Erza.
"A-aku adalah defense agent, aku tidak merencanakan untuk melakukan pekerjaan kantor atau pun perpustakaan." Terang Erza dengan wajah pucat.
"Kau sudah diterima sebagai agen selama satu setengah bulan! Kau punya banyak waktu untuk mempelajari dasar-dasar pekerjaan guild!" sergah Gray.
"Tapi aku tak punya waktu bebas, dari latihan fisik dan..."
"Kau punya waktu dua hari libur! Kau bisa mempelajari banyak hal dalam waktu dua hari! Kau tidak bisa mengingat saat aku memberitahu posisi lacrima! Jika kau begitu lamban mengingat harusnya kau datang lebih pagi dan belatih mempelajarinya! Kau sudah membuat kita malu dan kau masih ingin membuat alasan atas kesalahanmu! Orang yang tidak kompeten sepertimu harusnya tetap tutup mulut!"
"Gray! Itu sudah cukup." Potong Jellal, yang membuat Gray terdiam, sementara Erza mematung dengan wajah bersalah.
"Gray, walau lo benar tapi belum tentu membuat masalah menjadi lebih baik, mari kita cari cara untuk menyelesaikan ini." Sambung Laxus.
Kepala Erza tertunduk, perasaan malu yang amat sangat menghinggapinya.
"Pekerjaan administrasi untuk meminjamkan atau pun meminjam lacrima dari guild lain serta mendata lacrima yang ada di guild, hari ini kita juga memiliki tugas itu, Erza, kau yang akan melakukan pekerjaan itu, ini pekerjaan yang tidak membutuhkan waktu yang cepat jadi kau bisa perlahan-lahan untuk mengingatnya." Perintah Jellal.
"Ya, sir." Balas Erza.
"Kita bertiga yang akan meneruskan pekerjaan melayani pengunjung di perpustakaan, apa kau paham Gray?"
"Ya sir." Jawab Gray penuh semangat.
Jellal lalu menelepon seseorang melalui telepon yang ada di ruangan dan tak beberapa lama kemudian...
"Datang sesuai permintaan dari bagian administrasi guild, aku mau mengajak Erza makan siang." Ujar Mira dengan senyumnya yang khas.
"Mi-mira." Kaget Erza.
"Instructor Jellal, kau tidak pernah mengunjungi bagian administrasi tempatku bekerja, aku merasa kesepian." Rayu Mira.
"Bila kau kesulitan dalam bekerja, aku bisa membantumu." Ujar Mira dengan inotasi yang dibuat semanis mungkin sambil mendekati Jellal.
"Ti-ti-tidak terima kasih." Jawab Jellal seraya menjauh dari Mira yang ingin menempel padanya,
"Ha-ha-ha-ha sangat jarang melihat Jellal tergagap seperti itu." Tawa Laxus, mengejek.
"Jangan tertawa, hei orang kasar!" tegur Mira.
"Baiklah, sekarang pergi sana makan siang!" perintah Jellal dengan urat kemarahannya yang biasa.
"Oke, sir, saya pinjam dulu orang ini." Ujar Mira sambil menyeret Erza keluar ruangan disambut dengan Jellal yang mengibas-ngibaskan tangannya dengan gaya seperti mengusir ayam (?).
Di luar ruangan..
"Mira, kenapa tiba-tiba..."
"Aku ke sini karena Jellal yang menyuruhku, aku adalah fansnya jadi yah kupenuhi permintaannya." Potong Mira seolah-olah tahu apa yang akan ditanyakan Erza.
"Apa? Tapi kenapa.."
"Dia sepertinya ingin menolongmu dari cercaan Gray, dia sengaja menelponku dan menyuruhku datang kesini untuk mengajakmu makan siang karena Gray benar-benar menyalahkanmu dan kau sepertinya nyaris patah semangat karena itu."
Mata Erza nampak berkaca-kaca, lalu kemudian..
"Miraaaaaaa, terima kasih sudah membawaku keluar, ini memang salahku, ini sangat berat dan memalukan." Tangis Erza sambil memeluk Mira.
"Jangan berterima kasih padaku."
'Instructor Jellal, dia menyelamatkanku, dia sudah sudah sering menyelamatkanku, walau aku membuat masalah dia selalu membereskan masalah yang kubuat.'
Raid
Malam harinya...
"Mira, kumohon ajari aku dasar-dasar tugas administrasi guild." Pinta Erza.
"Hmm, sudah kukira kau akan meminta hal ini, tapi ingat kau harus siap dengan metodeku yang penuh siksaan." Jawab Mira sambil senyum manis, tapi aura psyco nampak menyeruak disekitar dirinya.
"Tak perduli sesulit apa pun aku akan belajar, aku tak ingin lagi menyusahkan mereka."
Raid
"Terima kasih untuk yang kemarin, sir." Ujar Erza seraya membungkukkan badan.
Jellal menatap Erza dengan tatapan heran.
"Terima kasih karena kemarin sudah mengizinkan saya untuk berpindah tugas kebagian administrasi pendataan lacrima, aku akan bekerja keras dan mencoba mengingat semuanya." Jelas Erza.
'Mungkin aku tak usah menceritakan tentang Mira yang dia suruh datang untuk menolongku kemrin, mungkin itu akan membuatnya merasa tidak nyaman.' Batin Erza.
"Bagus." Balas Jellal.
"Ummm, saya minta maaf sir, saya telah mengecewakan anda." Wajah Erza tertunduk dengan ekspresi yang bersalah dihadapan atasannya itu.
"Yang kemarin tidak seberapa dengan apa yang kau lakukan padaku selama ini, kau tahu beberapa waktu ini urat-urat dikepalaku menjadi timbul akibat kemarahan, terima kasih untuk seseorang yang selalu membawa masalah diatas segala masalah, membuatku kecewa? Tidak, mencengangkan ku? Iya, kau itu bagaikan bencana yang siap datang kapanpun juga." Ujar Jellal.
"TUNGGU DULU, APAKAH AKU SEBURUK ITU? AKU TAK PERCAYA INI! SEKARANG KAU MENYERANG PRIBADIKU!" marah Erza.
Jellal tersenyum lalu dia bangkit berdiri dan memegang kepala Erza, "Lebih baik seperti ini, tetaplah marah padaku tapi jangan merasa bersalah pada dirimu sendiri."
Jellal lalu beranjak meninggalkan Erza yang tercenung.
'Aku akan berusaha sekeras mungkin, tak perduli sesulit apa pun itu..'
Raid
Beberapa hari kemudian..
"Ada apa dengan wajahnya, kenapa tumbuh banyak jerawat begitu?" tanya Jellal pada Laxus ketika melihat Erza yang sedang bekerja di pendataan.
"Itu efek dari latihan rahasia yang dijalaninya, Mira mengajarinya tentang sistem data lacrima dan lain-lain setiap malam dan Mira menghukumnya dengan memberikannya coklat setiap dia melakukan kesalahan." Jelas Laxus yang disambut tawa Jellal. (Makan banyak coklat pada malam hari sebelum tidur akan menimbulkan jerawat dan berat badan meningkat)
"Usaha yang bagus, melihat jerawat di pipi dan jidatnya yang menumpuk, menurutmu berapa banyak kesalahan yang dia lakukan sewaktu belajar."
Raid
Beberapa minggu kemudian...
"Izinkan saya kembali untuk membantu pekerjaan melayani pengunjung, sir."
Jellal, menatap wajah Erza, jerawat di pipinya sudah menghilang, hanya tersisa sedikit jerawat di dahinya.
"Sudah tidak memakan coklat?" tanya Jellal yang membuat Erza kaget.
"Bagaimana anda tahu?"
"Laxus yang memberitahuku."
Erza langsung ngedrop.
"Baiklah, kau diterima kembali, jika kau tidak bisa melakukan pekerjaan ini lagi, kau akan ku pindahkan lagi ke bagian data."
"Siap, sir!"
Erza langsung dipenuhi semangat, dengan bergegas dia mulai melaksanakan tugasnya dan dia melewati Gray saat akan bertugas.
"Aku minta maaf soal kejadian beberapa minggu lalu, Gray, tapi kali ini aku tidak akan menjadi beban."
Gray hanya membuang muka dengan wajah kurang senang, sementara Erza nampak tidak memperhatikan sikap Gray, dia langsung sibuk melayani pengunjung yang datang.
"Dia nampak sudah lumayan berkembang walaupun kemampuan Gray masih berada di atasnya namun setidaknya Erza itu menjadi kompeten sekarang." Ujar Laxus pada Jellal.
"Tidak adil membandingkan siapa pun dengan Gray, kemampuan dia itu agak spesial." Jawab Jellal.
Lalu Jellal menghampiri Gray yang siap memulai pekerjaannya.
"Gray, melihat perkembangan Erza, kurasa ini waktunya bagimu untuk terbuka dan berteman dengannya."
"Dia harusnya melakukannya dari awal, menurutku sekarang ini dia hanya mengganggu."
"Baiklah Gray, aku ingin memberikanmu satu pertanyaan, apa yang sebenarnya kau inginkan? Erza lulus karena suatu alasan, kau mencoba untuk menghakiminya karena kekurangannya, kau mungkin benar dengan keluhanmu tentangnya, tapi tidak benar kau menyerangnya dengan alasan seperti itu, jadi pertanyaannya, orang macam apa kau ini?" tanya Jellal, dingin, yang membuat Gray membeku dan terdiam.
Raid
"Lacrima yang hilang?" tanya Erza pada Mira.
"Ya, terjadi pembunuhan berkali-kali selama satu pekan ini, pihak kepolisian berhasil menangkap dan memastikan sang pembunuh menggunakan sihir fire demon slaying, sihir fire demon slaying sendiri berasal dari lacrima milik guild kita yang sempat menghilang." Balas Mira sambil membaca koran.
"Sempat menghilang? Artinya lacrima itu sudah ditemukan?"
"Sudah, namun hanya lacrimanya yang ditemukan, siapa yang mengambilnya tidak ditemukan, hingga akhirnya terbit berita ini, kejadian hilangnya lacrima itu sendiri beberapa bulan sebelum kita bergabung ke guild." Jawab Mira sambil menunjukan koran yang dibacanya pada Erza, terlihat foto seorang pemuda gondrong dengan tampang sangar menjadi headline dikoran itu.
Erza membaca koran itu sebentar, lalu dia melemparnya ke meja, dan pergi tidur, dia sangat lelah dengan pekerjaan nya hari ini.
Dalam mimpinya, Erza teringat kembali latihan militer beberapa saat yang lalu.
Saat itu merupakan latihan menuruni tebing, menggunakan tali, Erza melakukannya dengan sempurna, namun ada yang aneh dengan Gray, dia tampak gugup dan tak bisa menyelesaikan latihan itu dengan baik, apakah Gray phobia pada ketinggian?
Raid
Pagi nya Erza pergi ke lobby asrama untuk menghirup segelas kopi, namun sesampainya di lobby dia melihat Gray di sana, duduk dengan wajah yang suram dan cemberut.
'Gray, sial, padahal pagi-pagi begini aku tidak ingin bertemu dengannya.' Batin Erza.
Menyadari kehadiran Erza di lobby, Gray langsung bangkit berdiri menghampiri Erza dengan wajah mengeras dan cemberut, aura suram nan horor mengitari dirinya.
"WUAHHH! AKU KEMARI HANYA UNTUK MEMBELI SEGELAS KOPI, APAKAH KAU BERMASALAH DENGAN ITU, MR PERFECT?" panik Erza dengan keringat dingin mengucur melihat Gray yang memasang wajah seperti psikopat berjalan menghampirinya.
Namun ternyata Gray tidak menghampirinya, dia hanya berjalan melewati Erza dan tanpa sadar Gray menabrak tempat sampah di lobby hingga sampah menjadi berceceran disana, namun sepertinya dia tidak memperhatikan hal itu, dia terus berjalan meninggalkan lobby.
"Kenapa dengan dirinya? Kenapa suram begitu?" gumam Erza.
Raid
"Permisi instructor Laxus, boleh saya berbicara sebentar sir."
"Hah? Gray tumben lo mencari gua dari pada mencari Jellal pagi-pagi begini, tentu saja boleh, silahkan masuk."
Gray lalu masuk ke kamar Laxus, sementara Laxus menghirup kopinya yang berada dimeja.
(Pangkat kapten dan komandan memiliki kamar pribadi mereka, sementara corporal dan pelatihan harus berbagi asrama dengan teman sekamar.)
"Jadi, ada masalah apa Gray?"
"Aku masih tidak tahu apa yang harus di lakukan pada Erza, sir."
"Hmm bagaimana ya, begini gua dan Jellal menyarankan lo untuk menerima Erza sebagai teman satu tim secara apa adanya, tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah lo kan? Jadi gua berpikir lo masih bisa membencinya tanpa harus lalai dalam menjalankan tugasmu, tapi jujur saja benci atau pun suka tidak ada hubungannya dngan pekerjaan kita." Pungkas Laxus panjang lebar, membuat Gray terdiam.
'Kenapa aku bertanya pada dia? Apa yang aku pikirkan? Laxus sangat tenang dan rasional, ku pikir dia bisa membantuku untuk memahami dan menerima Erza, tapi dia tidak lebih baik dari Jellal.' Batin Gray.
"Dengarkan gua Gray, gua tidak hanya baik pada satu orang saja, tapi gua menghormati kejujuran."
'Itu artinya, aku... tak lebih dari anak manja yang minta untuk diberi perhatian lebih karena kemampuanku.' Gray kembali terbatin dan tertegun dengan kata-kata Laxus.
"Terus terang Gray, Jellal adalah tipe pria yang fair, dia mengatakan apa yang perlu dikatakan, dia sama sekali tidak memfavoritkan siapa pun di timnya, lo akan mengetahui hal itu cepat atau lambat, bagaimana komandan yang sangat lo hormati itu sangat memperhatikan bawahan dan teman seperjuangannya."
Raid
Siang ini merupakan latihan menembak menggunakan senjata sihir.
Erza nampak berhasil mengembangkan kemampuan menembaknya, semua tembakannya berhasil mengenai kertas yang menjadi sasaran tembak.
"Lihat instructor Laxus, semua tembakanku mengenai kertas tembak!" seru Erza girang.
"Ya, lo berhasil menembak kertas-kertas itu."
"Dasar bodoh! Tembakanmu itu hanya mengenai kertas tapi tidak tepat mengenai target." Ejek Jellal pada Erza.
"Tak perlu kasar begitu, kalau aku berlatih lebih sering, aku pasti akan bisa menembak tepat sasaran." Sergah Erza.
"Peluru sihir tidak tumbuh dari dalam tanah, kami tak akan membiarkan kau menghabiskan peluru lebih banyak lagi, keuangan guild sedang menipis." Balas Jellal.
"Ya Erza, lebih baik lo liat bagaimana cara Gray menembak." Ujar Laxus seraya menunjuk Gray yang nampak siap untuk memulai latihan menembak, namun ada yang aneh, semua tembakan Gray meleset dari sasaran.
Raid
Erza POV
Sudah dua bulan lebih aku bergabung dengan MDF di guild Fairy tail, latihan yang sibuk dan padat menghiasi hari-hariku di sini, belum lagi tugas-tugas di luar militer yang diberikan pada kami saat waktu-waktu tertentu, seperti saat ini, aku, Gray, instructor Jellal dan instructor Laxus melakukan tugas bersih-bersih di gudang.
"Kau! Angkat lacrima itu dengan benar, jangan sampai jatuh! Simpan di rak itu!"
Pria dengan tato di wajah yang hobi memerintah dan membentak-bentak ini yang bernama Jellal, dia adalah komandan divisi 3, divisi dimana aku bergabung yang berarti dia adalah atasanku dan terus terang, aku sama sekali tak mengerti dirinya, satu hari aku membencinya namun perasaan benci itu berubah di hari berikutnya, dia sungguh sulit untuk dipahami.
"Ahhhh!"
Aku menjatuhkan sejumlah lacrima yang kuangkat, lacrima-lacrima itu terlalu berat untukku yang seorang perempuan.
"DASAR BODOH! KAN SUDAH KU BILANG JANGAN MENJATUHKAN LACRIMA ITU!"
Dan bentakan dari Jellal kembali dimulai.
"Rasanya aku membencimu hari ini, sir." Gumam ku.
"Apa?" tanya Jellal yang mendengar gumaman ku.
"Ah tidak, lupakanlah."
Aku bersiap untuk mengangkat kembali lacrima yang kujatuhkan, namun Jellal malah mengangkat tumpukan lacrima yang kujatuhkan itu.
"Bila tak mampu mengangkatnya lebih baik aku saja yang angkat!"
Aku tertegun sejenak, itu lah Jellal, dia kasar namun bisa sekaligus baik, aku binggung terhadap dirinya.
Aku mengalihkan pandanganku pada Gray yang sedang membersihkan rak-rak berdebu, dia sangat aneh beberapa hari ini, auranya nampak sangat suram dan dia lebih pendiam dari pada biasanya, dia bahkan melakukan pekerjaan yang biasa dia lakukan dengan sempurna menjadi sedikit kacau, dia pun lebih banyak melamun beberapa waktu ini.
"Hey Gray! Ada apa denganmu? Dari kemarin kau seperti zombi! Bila ada masalah sampaikan saja!" ucapku seraya melangkah menghampiri Gray.
Gray menoleh padaku dengan tatapan agak melamun, tanpa sengaja dia menyenggol tangga di dekat rak yang dia bersihkan, hingga tangga itu terjatuh.
"AWAS!"
Aku berteriak dan segera melindungi Gray, membuat tubuh kami berdua jatuh kelantai, aku memejamkan mataku, bersiap untuk tertimpa tangga, namun setelah beberapa saat, ada yang aneh, aku tidak merasa sakit.
Aku membuka mataku perlahan dan aku melihat, insructor Jellal melindungi kami dari timpaan tangga dengan tubuhnya.
"Kau bodoh! Bisa tidak kau tidak membuat masalah satu hari saja!" marah Jellal padaku.
"Maaf sir."
"Erza, bereskan tangga yang jatuh itu beserta rak-rak nya!" perintah Jellal padaku setelah berhasil menyingkirkan tangga yang menimpa dirinya.
"APA SIR? TAPI INI BUKAN KESALAHANKU!"
"Mulutmu terlalu cerewet! Lakukan saja dan tutup mulutmu!"
Aku terdiam, lalu kemudian mulai membereskan tangga yang jatuh itu.
End Of Erza POV
"Dan Gray! Konsentrasi! Berdiri dengan tegap, fokuskan pikiranmu pada tugas! Kau mengerti itu? Sekarang bersihkan lantai!" perintah Jellal pada Gray.
Gray tertegun sejenak mendengar kata-kata Jellal, tiba-tiba terngiang kata-kata Laxus yang diucapkannya kemarin.
"Jellal adalah tipe pria yang fair, dia mengatakan apa yang perlu dikatakan, dia sama sekali tidak memfavoritkan siapa pun di timnya, lo akan mengetahui hal itu cepat atau lambat, bagaimana komandan yang sangat lo hormati itu sangat memperhatikan bawahan dan teman seperjuangannya."
Saat jam istirahat...
"Saya rasa anda mengetahui Gray sepetinya memiliki suatu masalah sir." Tanya Erza pada Jellal.
"Instructor selalu memperhatikan apa yang terjadi terhadap bawahannya, itu merupakan bagian penting dari tugas, terutama bawahan yang memiliki potensi bahaya seperti kalian berdua." Singgung Jellal.
"Kau sepertinya tak pernah berhenti menyinggung, ngomong-ngomong aku sudah selesai sir, siap untuk melanjutkan pekerjaan." ujar Erza seraya bangkit berdiri.
"Tunggu sebentar Erza."
"Hm?"
Jellal mendekati Erza, lalu kemudian...
"Jangan bergerak dulu."
Ternyata Jellal menempelkan plester ke wajah Erza yang terlihat sedikit lecet karena jatuh saat berada digudang tadi.
"Lagi-lagi luka, lihat dirimu, seorang perempuan tidak seharusnya mendapatkan luka seperti ini."
"Te-terima kasih banyak, sir." Ujar Erza dengan wajah yang memanas.
Jellal lalu menyentil luka Erza yang baru diplesternya itu.
"AWWW SAKIT, KAU MENYENTIL TEPAT DIBAGIAN YANG SAKIT!" teriak Erza.
"Kembali bekerja!" perintah Jellal.
'Hari ini... aku tidak membencimu, sir.'
Raid
Hari demi hari berlalu di guild fairy tail, namun hari ini, masalah sebenarnya akhirnya dimulai...
RINGG!
RIINGG!
RIIINGGG!
Terdengar suara sirine di seluruh penjuru guild.
"PERINGATAN UNTUK SEMUA PENGUNJUNG GUILD, MOHON SEGERA MENINGGALKAN PERPUSTAKAN GUILD MENURUT INFO DARI BAGIAN PATROLI DEFENSE FORCE, PASUKAN PIHAK PEMERINTAH MELAKUKAN PERGERAKAN KE ARAH GUILD!"
Suara pengumuman membahana menyusul suara sirine itu, semua pengunjung guild menjadi panik, untung para anggota personalia dengan sigap mengatur mereka untuk segera lewat pintu belakang meninggalkan perpustakaan lacrima.
"SEMUA PASUKAN DIVISI 3, BERSIAP-SIAPLAH! STATUS DALAM SIAGA 2, BERSIAP DI POSISI KALIAN MASING-MASING!" Perintah Jellal pada pasukan divisi pimpinannya.
"Komandan Natsu Dragneel dari divisi 4, evakuasi anggota guild selain defense force ketempat aman." perintah Laxus kepada seorang pemuda berambut pink.
"Siap SIR!"
Sementara Erza segera berlari mengambil senjata dan amunisi bersama Gray dan anggota divisi 3 yang lain di gudang persenjataan, lalu mereka ke markas divisi 3 untuk mengganti pakaian tempur mereka dan memakai ppelindung kepala, sebelum bersiap-siap keposisi mereka.
"Ayo cepat! Kalian hanya punya waktu 2 menit untuk bersiap-siap!"
'Akhirnya tiba juga, tugas pertamaku melindungi guild sebagai defense force.' batin Erza, agak gugup, seraya menenteng senjata laras panjang.
Seluruh anggota guild selain anggota defense force segera buru-buru mengerjakan pekerjaan mereka, dan lalu segera berlari ketempat evakuasi, sementara anggota defense force lain segera bersiap-siap di posisi.
Nampak diluar halaman guild, pasukan pemerintah berkumpul, dengan seorang yang membawa seekor ular cobra raksasa berada paling depan memimpin pasukan pemerintah itu.
Laxus dengan pakaian tempur nampak keluar dari markas guild, berjalan menghampiri pasukan pemerintah itu, lalu dia berbicara pada si pria pembawa ular raksasa itu, dengan hanya pintu gerbang guild sebagai pembatas mereka.
"Menurut undang-undang perlindungan Lacrima nomor 30 pasal 5, bila ada pengguna lacrima yang berasal dari suatu guild membuat masalah di masyarakat, maka kami berhak untuk menyita lacrima itu dan menghancurkannya." ucap pria pembawa ular itu pada Laxus.
"Dan menurut undang-undang 30 pasal 7 perlindungan lacrima, pihak guild berhak untuk melawan dan mempertahankan lacrima milik mereka." balas Laxus.
"Kalau begitu, kami terpaksa menggunakan undang-undang nomor 30 pasal 6, kami akan mengambil paksa lacrima itu dengan menggunakan kekerasan."
"Mari kita lakukan ini, kapten Cobra." ujar Laxus sambil menyeringai.
"Komandan divisi 2 Laxus, kalau kau yang maju berarti komandan Gildartz tidak ada di tempat, ini keuntungan bagi kami, kali ini akan kami hancurkan fire demon slayer lacrima." sergah Cobra.
"Kalau begitu buktikanlah." balas Laxus.
Mereka lalu saling memberi hormat ala prajurit, kemudian Laxus kembali kemarkas untuk mempersiapkan pasukannya.
"Sepertinya kali ini Cobra yang maju memimpin, mereka sepertinya tidak begitu serius untuk merebut Fire Demon slayer lacrima, mereka hanya menurunkan orang sekelas kapten untuk menyerang." ujar Jellal.
(Posisi Kapten satu tingkat di bawah komandan, bisa di bilang wakilnya komandan.)
"Tapi kalian jangan lengah! Ingat baik-baik fokus dalam bertahan, dilarang membunuh lawan! Hanya boleh melukai mereka! Dan jangan lupa peraturan, kita harus menunggu serangan dari mereka terlebih dahulu, baru peperangan dimulai, kita tidak boleh yang menjadi pertama menyerang!" lanjut Jellal.
"Hei Gray, kenapa kita tak boleh menyerang pihak pemerintah untuk pertama kali? Bukannya mereka yang menyerang kita?" tanya Erza pada Gray yang berbaris di depannya.
"Pihak guild baru boleh menyerang bila pihak pemerintah sudah melancarkan serangan, jadi pihak guild memiliki alasan sebagai pertahanan diri karena di serang, berhubung pemerintah di lindungi hukum yang lebih kuat, posisi kita menjadi sedikit lemah, jadi perang baru akan di mulai bila pihak pemerintah sudah melancarkan serangan pertama, ini sudah ada di buku teks, apa kau tidak membaca buku teks mu?." jelas Gray panjang lebar.
Jellal nampak pergi bergabung ke pasukan di depan, bersama dengan Laxus, sementara Gray dan Erza menunggu di bagian belakang pasukan untuk memback-up pasukan yang berada di depan.
Suasana sunyi sesaat menerkam, hanya detak jam yang berbunyi, hingga akhirnya...
BLAARRRRRRR!
Terdengar suara ledakan dari halaman guild.
"Akhrinya dimulai! Persiapkan diri kalian! Ingat dilarang membunuh! Hanya boleh melukai!"
"WUOOOOOOOOORRRRGG!" Teriak para prajurit guild yang langsung menyerang.
"Persiapkan tameng sihir untuk menahan senjata sihir mereka!" perintah Laxus.
Para pasukan divisi dua langsung mengeluarkan tameng dan membentengi diri mereka dengan tameng itu sambil membentuk formasi bertahan.
Tembakan-tembakan menghantam tameng itu.
Pasukan pemerintah sendiri berhasil merusak pagar gerbang guild dan masuk kehalaman guild.
"HENTIKAN TEMBAKAN! HANCURKAN PASUKAN TAMENG MEREKA DARI JARAK DEKAT!" perintah Cobra pada pasukannya.
Para pasukan pemerintah mulai melesat kearah pasukan bertameng yang dibentuk divisi 2, namun belum sempat mereka melancarkan serangan..
DUARRR!
Ledakan yang disertai cahaya kuning menyerang mereka semua, membuat mereka roboh seketika, nampak Jellal dan Laxus berdiri di tengah pasukan yang pingsan akibat ledakan itu.
"Meteor!"
Seketika tubuh Jellal diselimuti cahaya kuning, dan dengan kecepatan tinggi dia mulai menyerang Cobra, namun serangannya mampu di baca Cobra hingga Cobra mampu menghindari serangan-serangan Jellal.
Sementara Laxus dan pasukannya sibuk menghadapi gelombang pasukan pemerintah yang baru menyerbu.
Cobra lalu menyuruh ularnya untuk menyerang Jellal, namun dengan kembali mengeluarkan cahaya kuning dari tangannya dan menyerang ular itu hingga menciptakan ledakan kecil.
"Pasukan divisi 3 yang di belakang! Bersiap untuk menyerang!" perintah Jellal melalui alat komunikasi yang terpasang ditelinganya.
Sementara Erza dan Gray...
Erza dan Gray beserta beberapa pasukan divisi 3 masih berada di markas mereka menunggu aba-aba dari Jellal untuk membantu barisan depan.
"Perintah dari komandan! Bersiap untuk membantu pihak depan!"
Seluruh pasukan divisi 3 mulai berjalan untuk keluar dari markas dan membantu pertempuran, namun saat yang lain keluar, dia melihat melalui jendela markas, beberapa agen pasukan pemerintah menyelinap ke ruang kantor kepala perpustakaan dengan diam-diam.
Dengan sigap Erza segera keluar dari markas melalui jendela markas.
"ERZA! MAU KEMANA KAU! APA KAU MAU MELANGGAR PERINTAH!" Panggil Gray.
"Aku melihat agen pemerintah berhasil menyelinap dan melakukan pergerakan mencurigakan ke arah kantor kepala perpustakaan! Aku akan pergi memeriksanya!" balas Erza yang terus berlari ke arah kantor kepala perpustakaan.
"SIAL! Komandan Jellal, di sini Gray, aku dan Erza menuju ke kantor kepala perpustakaan yang berada di dekat gedung perpustakaan karena adanya pergerakan aneh dari agen pemerintah yang berhasil menyelinap, over." lapor Gray melalui lata komunikasinya seraya mengejar Erza.
Gray berhasil menyusul Erza, dan terlihat Erza berlindung di balik tembok sementara tembakan dari senjata sihir milik agen pemerintah yang dia kejar memborbadir.
"Gray, lihat!"
"Sepertinya kecurigaanmu benar, salah satu dari mereka nampak membawa sebuah tas berisi lacrima." pungkas Gray, sementara pasukan pemerintah mulai melarikan diri keatas gedung, namun sesekali mereka menembaki Erza dan Gray agar mereka berdua tak bisa mengejar.
"Mereka berlari ke atas gedung!"
"Erza! Gray! Apakah kalian ada di sana?! Jelaskan situasinya!" tiba-tiba terdengar suara Jellal dari alat komunikasi di telinga mereka.
"Ya, kami mendengarkanmu, sir, para agen pemerintah yang berhasil menyelinap ke kantor kepala perpustakaan, mereka berhasil mencuri sebuah lacrima dari sana, sir." sahut Gray.
"Kalau begitu kau dan Erza ikuti lacrima yang di curi itu, kami akan menyusul setelah membereskan bagian depan." perintah Jellal.
"Roger!"
"Mereka berlari ke atap gedung, salah satu dari mereka membawa tali di punggung nya, sepertinya mereka akan melarikan diri dari atas, sangat sulit mengejar kalau kita terus ditembaki begini." geram Gray.
"Tak masalah Gray, aku akan memback-up, ayo kita kejar mereka, Re-equip, Armandura!"
Seketika tiba-tiba pakaian Erza berganti menjadi sebuah armor berwarna hijau dengan tameng raksasa di tangannya.
"MAJU!" teriak Erza, yang seraya merapatkan tameng raksasanya, sehingga tembakan-tembakan dari agen pemerintah yang mereka kejar nampak sia-sia sementara Gray berlindung di belakang Erza.
"SIAL!" Para agen pemerintah berhenti menembaki Erza dan Gray, mereka langsung berlari ke atas, kejar mengejar terjadi hingga akhirnya mereka tiba di atas atap gedung.
Para agen pemerintah nampak sudah berada pembatas gedung, mereka bersiap untuk mengikat tali ke pembatas gedung dan menuruni gedung, namun...
"Ice make, Hammer!"
Sebuah palu berukuran raksasa yang tebuat dari es tiba-tiba muncul dari udara kosong dan menghantam agen-agen pemerintah itu, membuat mereka pingsan seketika, namun lacrima yang mereka curi terjatuh dari gedung.
Dengan cepat Erza melihat tas yang berisi lacrima itu sementara Gray mengikat agen pemerintah yang pingsan.
"Gawat! Pihak pemerintah mendekati Lacrima itu!" panik Erza ketika melihat, dari jarak yang lumayan dekat, sekumpulan prajurit pemerintahan tampak berjalan mendekati tas berisi lacrima yang terjatuh dari gedung itu, sepertinya para prajurit pemerintah dan agen pemerintah yang berhasil mencuri lacrima sudah menentukan titik pertemuan mereka.
"Gray aku akan turun kebawah menggunakan tali ini, kau cover aku!" ujar Erza.
"APA? Kau bisa tertembak? Biar aku yang turun kebawah, kau yang melindungiku!" bantah Gray.
"Kita berdua tahu, kau lemah pada ketinggian!"
"Ap-"
"Aku bergantung padamu Gray, lindungi aku." potong Erza, yang dengan sigap langsung menggengam tali yang sudah diikat kepembatas gedung, dan dia mulai menuruni gedung.
"Brengsek! Mereka terlalu jauh, aku tidak bisa menggunakan sihir Ice Mageku! Erza, Jangan sampai tertembak!" ujar Gray yang menggunakan senjata sihirnya dan mulai menembaki pasukan pemerintah yang menembaki Erza yang berusaha menuruni gedung melalui tali hingga sukses membuat pasukan pemerintah mengalihkan perhatian mereka dari Erza.
Erza akhirnya mencapai tanah, dan dengan sigap dia mengambil tas berisi lacrima dan secepat kilat dia mulai berlari, bersembunyi ke semak-semak, menghindari sekumpulan pasukan pemerintah yang tampaknya masih disibukkan tembakan dari Gray yang menembak dari atas gedung.
Erza POV
Aku berhasil merebut kembali tas berisi lacrima ini, aku pun bersembunyi ke semak-semak, berharap rerumputan panjang dan pohon-pohon menghalangi pandangan para pasukan pemerintah itu.
Aku mendengar derap langkah beberapa pasukan itu, sepertinya tidak ada lagi tembakan dari Gray, sepertinya dia kehabisan amunisi.
Nafasku yang sempat memburu perlahan-lahan menjadi lega mendengar langkah kaki pasukan pemerintah itu menjauh dari tempat persembunyianku.
Aku tertunduk seraya menarik nafas panjang tanda lega, namun tiba-tiba, entah kenapa, aura mencekam tiba-tiba menghinggapi diriku.
Aku menaikan kepalaku dan kulihat, tepat dihadapanku, berdiri seorang pria dengan rambut panjang yang di ikat, aura pria itu sangat kuat, karena kehadirannya saja seluruh tubuhku bergetar ketakutan, dalam hidupku aku tak pernah merasakan ketakutan yang sangat hebat seperti ini.
Pria itu menatapku, dan berjalan mendekatiku, aku akhirnya sadar, pria yang membawa buku bertuliskan END ini pernah kulihat di buku teksku beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba mulutku tercekat.
"Ma-Mard Geer..."
To Be continue
Mohon maaf kalau banyak typo karena keuboard lagi macet, kalau nunggu keyboard bener takutnya writer block nyerang lagi ^.^
Sepertinya proyek fict ini yang terlebih dulu ingin kami selesaikan, setelah lama tidak nulis, fict hahaha
