Disclaimer : Hiro Mashima
Based on Toshokan Sensou
Respect
"Seorang wanita? Dilihat dari seragam mu sepertinya kau anggota magic defense force, tak kusangka seorang wanita menjadi anggota MDF." Ujar Mard Geer dengan aura intimidasi yang kuat.
Erza tak menjawab, bibirnya terasa kelu, tubuhnya terduduk dan bergetar.
"Serahkan Fire Demon Slaying lacrima yang ada di tanganmu nona, sebelum ada yang terluka." Pinta Mard Geer yang membuat Erza malah makin mempererat dekapannya pada tas berisi lacrima yang ada padanya.
"Sepertinya aku harus menggunakan kekerasan."
Mard Geer lalu mengibaskan tangannya, dan seketika duri-duri raksasa keluar dari dalam tanah dan menyerang Erza.
Erza hanya bisa memejamkan mata nya, bersiap menerima serangan, dia tak mampu menghindar karena tubuhnya tak mau menurutinya akibat rasa takut yang berasal dari aura intimidasi Mard Geer.
Namun belum sempat duri-duri hitam raksasa itu mencapai Erza.
BLARRR!
Beberapa bola cahaya kuning menyerang duri itu, menciptakan ledakan kecil dan menghancurkan duri-duri itu.
Erza membuka matanya, terlihat Jellal berdiri di depannya, dengan cahaya kuning menyelimuti tubuhnya.
"Instructor Jellal.. Kau datang menyelamatkanku." Gumam Erza.
"Komandan divisi 3 Jellal Fernandes, lama tak berjumpa." Sapa Mard Geer, dingin.
"Mard Geer, tak kusangka Cobra ternyata hanya sebagi umpan agar kau bisa merebut lacrima dari belakang."
"Seperti yang kau tahu Jellal, Fire demon slaying lacrima sudah menciptkan kekacauan dan pengguna nya sudah melakukan tindak kriminal pembunuhan, jadi kusarankan untuk menyerahkan lacrima itu secara baik-baik."
"Maaf, aku menolak!"
Jellal langsung menyerang Mard Geer dengan kecepatan tinggi, namun serangannya mampu di tangkis oleh Mard Geer dan saling tukar pukulan dengan kecepatan tinggi pun terjadi antar mereka berdua.
Setelah adu pukulan terjadi, Mard Geer dan Jellal segera menjauh satu sama lain, dan tiba-tiba muncul 7 segel sihir di atas langit.
"Grand Chariot!"
Seketika keluar ratusan bola sihir berwarna kuning dari 7 segel sihir itu dan menghujani Mard Geer.
"Black Cube!"
Sebuah kubah hitam langsung melindungi Mard Geer dari serangan hujan meteor Jellal.
Hujan meteor yang menghantam kubah hitam yang diciptakan Mard Geer itu menyebabkan pasir dan debu berterbangan sementara tanah disekitar menjadi retak.
Setelah hujan meteor berlalu, debu-debu yang berterbangan mulai menghilang terbawa angin, kubah hitam yang mengelilingi Mard Geer juga sudah menghilang.
"Kau masih tetap kuat dan cepat, Jellal." Ujar Mard Geer yang lalu mempersiapkan serangannya.
Namun belum sempat Mard Geer melakukan serangan terdengar suara sirine berbunyi.
"Sirine tanda gencatan senjata." Gumam Jellal.
"Sayang sekali pertarungan kita sampai di sini dulu, Jellal, aku tak sabar menanti pertarungan kita berikutnya."
Bayangan hitam menyelimuti tubuh Mard Geer dan sekejap kemudian sosoknya menghilang.
"Instructor Jellal, kau menyelamatkanku lagi, aku..."
"Hal pertama, berhenti hanya menggunakan instingmu, gunakan juga otakmu layaknya seorang manusia." Potong Jellal.
"Hey! Itu sedikit kasar!"
"KUMOHON! JANGAN BERTINDAK SEMBARANGAN! KALAU SAJA KAU SEDIKIT TENANG DAN TIDAK MENGAMBIL TINDAKAN LANGSUNG, GRAY AKAN MEMINTA BACK UP DAN AKU AKAN LANGSUNG DATANG MEMBANTU KEMARI!" marah Jellal, seraya mencengkram kerah baju Erza.
Erza menatap mata instrucornya itu, terlihat amarah di sana, membuat Erza sadar bahwa insructornya marah karena benar-benar mengkhawatirkan dirinya.
"Saya minta maaf sir, saya... sesaat tadi lupa kalau kau ikut dalam pertempuran ini sir."
"KAU ORANG KERAS KEPALA YANG TIDAK TAHU BERTERIMA KASIH!" Jellal langsung menjitak kepala Erza.
"ADAW! TAPI SAYA SUNGGUH-SUNGGUH BERTERIMA KASIH SEKARANG!"
"KAU DATANG KE KANTORKU SEKARANG! KAU DIKENAI HUKUMAN DETENSI!"
"APA!"
Dan dua jam berikutnya dihabiskan Erza dengan mendengar omelan Jellal di kantornya.
Setelah dua jam berlalu..
Erza keluar dari kantor Jellal, wajahnya nampak letih setelah disemprot Jellal selama dua jam nonstop, saat keluar kantor dia melihat Gray nampak menunggu di depan kantor itu.
"Oh, Gray, ku kira kau sudah kembali ke asrama, nice work untuk hari ini." Sapa Erza.
Gray terdiam, tapi dia menatap Erza dengan tajam.
Erza yang menyadari tatapan tajam Gray pun bertanya, "Ada apa? Aku hari ini sangat lelah."
"Erza.. Aku sudah berpikir baik-baik..." ujar Gray sambil menghela nafas.
Erza hanya diam, menunggu Gray menyelesaikan kata-katanya.
"Erza, maukah kau berkencan denganku?"
EH?
Respect
"Apa! Gray mengajakmu berkencan?" tanya Mira sedikit memekik akibat kaget.
Erza mengangguk kecil dengan wajah aneh, "Baru satu jam yang lalu, dia tiba-tiba saja menanyakan itu padaku, sejauh apa yang bisa aku katakan, dia itu sangat membenciku, maksudku, kenapa tiba-tiba hatinya berubah? Apa yang membuat dia, ummm kau tahu..."
"Jatuh cinta padamu?" potong Mira yang membuat wajah Erza menjadi pucat dan berkeringat dingin mendengar kata-kata seperti itu karena memang Erza dibesarkan dengan tiga orang kakak laki-laki, membuat dia menjadi agak tomboy dan sedikit tidak biasa dengan hal-hal berbau 'Cewek' .
"Jadi apakah kau sudah memberikannya jawaban?" sambung Mira.
"Belum, serius, aku binggung harus jawab apa."
"Oh ya? Kalau kau sudah menemukan jawabannya, beritahu aku." Mira memegang tangan Erza dengan mata berbinar penuh minat, sementara Erza hanya menghela nafas melihat kelakuan teman sekamarnya itu.
"Kau tahu, Gray itu berasal dari keluarga bangsawan Fullbuster, ayahnya, Silver Fullbuster adalah donatur besar untuk guild, Gray sendiri merupakan siswa paling berprestasi sejak sekolah hingga masuk ke guild, dia merupakan siswa tanpa cacat dan tak pernah melakukan kesalahan sekali pun, bahkan para gadis di guild memujanya, dia juga tidak pernah bermasalah dengan orang lain, yah kecuali denganmu." Pungkas Mira.
"Yang membuat masalah denganku itu dia! Bukan aku!" protes Erza.
"Yah, kalau begitu kenapa tidak coba terima saja ajakan dia?" tanya Mira.
"Gak tahu ah, bingung, aku mau tidur dulu!"
Respect
Keesokan harinya..
Penampilan Erza sedikit acak-acakan, dia kesulitan tidur gara-gara Gray.
'Aku benar-benar tak paham soal perubahan hati pria seperti ini, selama ini tak ada pria yang mengajakku berkencan dan aku bingung, kata-kata apa yang harus aku ucapkan untuk menolak Gray? Hey aku belum pernah menolak pria! Diajak kencan aja baru sekali ini!' batin Erza yang melangkah hingga sampai di depan kantor instructor.
"Selamat pagi." Sapa Erza seraya membuka pintu, namun saat dia baru mau masuk.
Brugghh
Tubuhnya bertabrakan dengan dada Gray, ya Gray memang sedikit lebih tinggi dari Erza.
"Gr-Gray!" ujar Erza panik.
"Selamat pagi." Sahut Gray dengan ekspresi dinginnya yang biasa.
"Kau telat Erza, hari ini kita bertugas di bagian kas keuangan guild, ayo mulai berkerja!" perintah Jellal sementara Gray langsung meninggalkan Erza.
'Bagaimana bisa si Gray itu bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa.' Batin Erza.
"Kau mendengarku? Ayo bekerja!" perintah Jellal yang mengagetkan Erza dari lamunannya.
"Baik, sir."
"Setelah aksi sok pahlawanmu yang menyelamatkan fire demon slaying lacrima, bagaimana perasaanmu?" tanya Jellal pada Erza, mereka berdua saat ini sedang berjalan menuju ruang kas keuangan guild.
"Aku baik-baik saja."
"Kau memang tangguh." Puji Jellal.
"Semua berkat latihan yang berat darimu, sir."
"Kau benar." Ujar Jellal seraya mengusap kepala Erza.
"Nggg, sir ada yang mengganjal pikiran saya tentang penyerangan kemarin, kenapa agen pemerintah bisa mengetahui lokasi penyimpanan fire demon slaying yang di simpan di kantor kepala perpustakan?"
"Memang mencurigakan, tapi itu tugas intel untuk mencari tahu."
Mereka akhirnya sampai di kantor kas keuangan guild dan langsung disambut oleh Lucy, staff bagian keuangan.
"Ah, Komandan Jellal, Erza, selamat pagi, maaf menrepotkan kalian." Sapa Lucy.
"Mau bagaimana lagi, akibat serangan kemarin banyak anggota Defense Force terluka, guild kita kekurangan orang." Sahut Jellal.
'Yah, kudengar Natsu juga terluka akibat serangan kemarin." Desah Lucy dengan wajah sedikit sedih.
Mereka lalu masuk ke kantor keuangan, ruangan tiga tingkat dengan rak penuh dokumen yang mengelilingi ruangan itu, tampak Gray sudah duduk di depan sebuah komputer dan memulai perkerjaannya di belakang meja di lantai dasar ruangan itu.
"Nah aku ke lantai tiga dulu, selamat bekerja." Ujar Lucy yang meninggalkan Jellal dan Erza sementara mereka berdua segera kebelakang meja yang sama dengan Gray untuk memulai pekerjaan.
Erza langsung duduk di depan komputernya, namun baru saja sebentar di mengerjakan pekerjaannya.
"Sir, bisa minta tolong sebentar? Aku melakukan kesalahan pendataan, aku tak tahu bagaimana memperbaikinya." Tanya Erza pada Jellal.
Jellal menghampiri Erza dan melihat ke layar komputernya, "Kau selalu melakukan kesalahan, bila melakukan kesalahan minta tolong pada Gray untuk memperbaikinya, Gray tolong bantu Erza." Panggil Jellal seraya berpaling ke arah Gray.
"Tunggu!" pinta Erza sambil menggengam lengan Jellal membuat Jellal kaget.
Detik kemudian Erza baru sadar apa yang dilakukannya, dengan panik dia langsung melepas genggamannya.
"Ada apa?" tanya Jellal setelah rasa kagetnya hilang.
"Tidak apa-apa sir, aku akan tanya pada Gray."
Jellal lalu berlalu pergi ke lantai dua, meninggalkan Erza dan Gray berdua.
Gray lalu berdiri dibelakang Erza, memperbaiki kesalahan Erza, tubuhnya sedikit membungkuk sehingga wajahnya menjadi sangat dekat dengan telinga Erza.
"Jadi, kapan aku bisa menerima jawaban darimu?" bisik Gray dielinga Erza, membuat Erza sedikit bergidik.
'Seseorang, tolong akuuuuu.' Batin Erza.
"Aku minta maaf Gray, aku meminta waktu lagi untuk menjawabnya, saat ini aku sangat bingung."
"Baiklah kalau begitu, pendataanmu sudh kuperbaiki." Ujar Gray seraya kembali kepekerjaannya sementara Erza yang wajahnya memucat dengan keringat dingin yang mengucur menarik nafas lega, tanpa mereka berdua sadari, Jellal memperhatikan mereka dari lantai dua.
"Gray, dia mengajak Erza untuk berkencan." Ujar Mira yang membuat Jellal mengalihkan perhatiannya.
"Lucu bukan? Mereka saling benci satu sama lain, apa lagi Erza, dia benar-benar seperti bayi kalau berurusan dengan hati laki-laki."
Jellal hanya diam sambil menyimak kata-kata Mira.
"Aku mendorong mereka berdua untuk bersama, Gray merupakan pria baik dan high level, sebagai teman Erza tentu saja aku menyetujuinya, kalau kau instructor Jellal? Bagaimana pendapatmu?" tanya Mira.
"Kenapa tanya aku? Itu keputusan mereka berdua, aku mungkin bos mereka tapi aku tidak tertarik dengan urusan pribdi mereka." Jawab Jellal yang berpaling dan melangkh pergi meninggalkan Mira.
"Kalau begitu, aku ingin bertanya, apakah kau tertarik padaku? Instructor Jellal?" tanya Mira yang membuat langkah Jellal terhenti dan kembali berpaling menatapnya.
"Bila kau tertarik, aku bersedia, aku akan setia padamu dan akan selalu ada kapan pun kau membutuhkanku." Sambung Mira sambil tersenyum.
"Sayang sekali, kalau aku menerimamu para fansboy akan patah hati beramai-ramai dan mereka akan menyerangku, aku tak kan sanggup menghadapi mereka semua." Balas Jellal.
"Oh begitu, kupikir kau tak tertarik padaku."
"Hm, jangan bodoh." Ujar Jellal yang kembali berpaling dan pergi.
'Instructor Jellal, aku tahu kau berkata begitu supaya aku tidak sakit hati, tapi kau memang pria yang unik, laki-laki lain pasti akan langsung menerimaku mereka bahkan mengejarku, tapi kau malah tidak tertarik.' Batin Mira dengan senyum manisnya yang khas terukir di wajahnya.
Respect
Jam makan siangpun tiba, namun akibat serangan dari pihak pemerintah kemarin, stock logistik guild menjadi tipis, hingga kantin guild menjadi kekurangan bahan makanan.
"Erza, belikan makanan di restorn dekat guild untuk kita bertiga." Perintah Jellal.
"Baik sir." Balas Erza yang langsung keluar, meninggalkan Jellal dan Gray berdua.
"Sir, aku dan Erza akan berkencan, itu bila dia menerima ajakanku." Ujar Gray pada Jellal yang membuat Jellal terbatuk.
"Ehem, kau tak perlu membagikan urusan pribadimu padaku, lakukan apa yang kau inginkan, tapi ingat jangan berpacaran kecuali kau benar-benar serius." Pungkas Jellal dengan nada sedikit gelisah.
"Sir, kau... apakah kau gelisah karena Erza?" tanya Gray yang menangkap kegelisahan Jellal dan dengan sukses membuat Jellal kembali terbatuk.
"Aku tak peduli siapa yang kau kencani, tapi aku membenci pria yang mempermainkan hati wanita, selama kau serius itu bgus, maafkan aku kalau kata-kataku tak beralasan." Balas Jellal.
"Sir, aku..."
"Hey, gua membawa makan siang untuk kalian!" potong Laxus yang tiba-tiba masuk.
"Kau terlambat, aku sudah menyuruh Erza untuk membeli makanan di restoran."
"Lo menyuruh Erza? Emang lo gak tahu? Di luar sekarang banyak wartawan dari media mengepung gedung headquarters kita."
Respect
Dengan langkah sedikit terburu-buru, Erza segera keluar gedung untuk membeli makan siang, namun baru saj dia keluar dari gedung..
"Apakah kau bekerja di guild?"
"Bisakah kau berbicara pada kami sebentar?"
"Berikan kami beberapa menit untuk wawancara!"
Tiba-tiba sekelompok wartawan dari berbagi media mengepung Erza dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
"Tunggu, aku tidak bis.."
"Kenapa guild melindungi pembunuh yang telah membunuh banyak orang tak bersalah?" potong seorang wartawan.
"Kami tidak melindungi pembunuhnya, kami hanya melindungi lacrima yang dia gunakan sesuai dengan peraturan undang-undang."
"Tapi secara moral guild telah melindungi alat pembunuhan itu bukan? Apa kalian tidak merasa bersimpati pada para korban dan keluarganya?" cecar wartawan yang lain.
'Tentu saja aku peduli! Pertanyaan macam apa itu?' batin Erza kesal.
"Tolong biarkan saya lewat, bila ada pertanyaan juru bicara guild yang akan menjawab kalian." Ujar Erza sambil berusaha melewati kepungan para wartawan itu, namun sayang para wartawan itu tetap mengepung Erza dan mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Tolong jawab pertanyaan saya tadi!"
"Saya dengan ketua guild fairy tail, Makarov menolak bekerja sama dengan polisi karena keluarganya terbantai dalam suatu insiden dan polisi belum bisa menangkap para pelaku sehingga Makarov menjadi membenci kepolisian dn pihal pemerintah!"
"Komandan dua dari Magic council, Purehito merupakan manan ketua guild kalian, apakah karena itu fairy tail selalu menentang pemerinah? Tak peduli kalau perbuatan pemerintah itu baik atau buruk? Apakah fairy tail tidk mengetahui perbedan antara masalah pribadi dan kepentingan umum?"
Banyak cercaan pertanyaan yang membuat telinga Erza panas dan dengan amarah meletup Erza berteriak.
"KUBERITAHU KALIA..."
"ERZA!"
Belum sempat Erza menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Jellal menutup mulut Erza dari belakang dengan tangannya.
"Gadis baik, jangan berkata apapun." Bisik Jellal ke telinga Erza.
"Juru bicara kami akan menjawab pertanyaan kalian, biarkan kami lewat!" ujar Jellal yang langsung membawa Erza kembali kedalam gedung dan menerobos para wartawan.
"Jangan bersembunyi! Tolong jawab pertanyaan kami!"
Jellal nampak tidak memperdulikan wartawan itu, dengan sigap dia langsung masuk dan menutup pintu gedung.
"Pada akhirnya, aku tidak jadi membeli makanan." Ujar Erza seraya menggaruk kepalanya.
"Tak masalah, Laxus sudah membawakannya untuk kita."
"Aku nyaris saja berteriak dan memaki mereka, aku minta maaf karena emosiku yang buruk, nyaris saja aku membuat citra guild kita menjadi jelek."
Media merupakan salah satu alat pemerintah untuk menyerang guild, karena itulah bila ada kasus-kasus yang ditimbulkan lacrima atau oleh anggota guild di masyrakt, media akan memblow up kasus tersebu dengan bumbu-bumbu yang tak sedap untuk membentuk opini jelek tentang guild di masyarakat sipil sehingga sedikit salah kata saja dari anggota guild ntuk media maka kata-kata itu akan dijadikan bahan untuk menyerang dan merusak citra guild.
"Aku lebih beranggapan kalau kau orang yang jujur." Ujar Jellal.
Erza terdiam, matanya tampak berkaca-kaca.
'Kenapa, instructor Jellal, dia selalu baik padaku pada saat aku sedang terpuruk, aku selalu membuat masalah, tapi dia tak menyerah untuk terus membimbingku.'
Melihat mata Erza yang berkaca-kaca seperti itu, Jellal langsung mengelus kepala Erza, kemudian dia menarik kepala Erza kedekapannya.
"Kalau ingin menangis, menangislah di dadaku, beberapa hal kadang memang sulit untuk dihadapi."
Erza lalu menumpahkan ar matnya d dada Jellal.
Sementara itu Gray dan Laxus...
"Lo liat bagaimana panknya Jellal dan segera berlari kelur ruangan, dia sepertinya tahu Erza tidak akan bisa menghadapi tekanan dari media."
"Setiap kali Erza sedang berda dalam masalah, instructor Jellal menjadi yang pertama yang datang untuk menolongnya." Sahut Gray dengan ekspresi aneh.
Laxus yang melihat ekspresi aneh dari Gray menepuk pundak Gray, "Jangan khawatir saat lo juga berada dalam masalah, gua yakin Jellal akan segera berlari menolong lo juga, jangan iri begitu."
"Apakah aku terlihat iri." Balas Gray dengan wajah horor.
"Oh, tentu saja."
"Iri pada siapa?"
"Hmmm, lupakan lah."
Kembali ke Erza dan Jellal...
"Insructor Jellal.. Maaf sir jas anda menjadi kotor."
"Tak masalah, hanay sedikit basah, tapi setidaknya kau jadi terlihat sedikit lebih lega sekarang."
Erza mengangguk sementara Jellal tersenyum.
"Ayo kembali ke kantor." Ajak Jellal seraya berpaling dan mulai melangkah.
Erza menatap punggung Jellal dengan perasaan kagum.
'Punggung instructor Jellal sangat luas, sama seperti punggung pria itu, instructor Jellal, suatu saat nanti aku juga ingin menjadi seperti dirimu...'
Respect
Malam harinya...
"Hei, jadi bagimana hubunganmu dengan Gray? Apakah kau sudah memberikan jawaban padanya?" tanya Mira.
"Entahlah, aku masih bingung."
"Jadi, apakah Gray itu mengatakan sesuatu setelah tahu kau dikepung media tadi siang?"
"Hmmm.. sepertinya dia mengatakan sesuatu..." jawab Erza sambil mengingat-ingat.
Flash back
"Ukh, aku tak bisa menggapai dokumen ini." Keluh Erza seraya mencoba untuk mengambil sebuah dokumen di atas rak yang lumayan tinggi di ruang keuangan.
"Sepertinya aku harus membantumu kali ini." Ujar Gray yang tiba-tiba berada di belakang Erza sambil mengambil dokumen yang tak bisa diambil Erza.
"Apa maksudmu!" tanya Erza dengan wajah memerah campur kaget.
"Aku hanya membantumu untuk mengambil dokumen ini, dan yah, sejak aku menanyakanmu untuk berkencn, aku.."
"Kalau soal itu tenang saja, aku akan berikan jawaban segera!" potong Erza.
Gray terdiam sesaat, ekspresi wajahnya menjadi lebih dingin dari pada biasanya.
"Instructor Jellal datang berlari dari kantor dengan kecepatan penuh untuk menolongmu..." Gray memojokan Erza di dekat rak dengan tangan kanannya menempel dirak, sementara Erza bersandar ke rak.
"Itu karena dia ingin mengantisipasi masalah yang bisa saja kau buat dan kau tahu, aku tak akan pernah membuat masalah seperti yang sering kau lakukan, kau mengertikan? Jadi biar kupertegas, aku sama sekali tidak iri padamu." Sambung Gray sambil mendekatkan wajahnya pada Erza dengan tatapan horor membuat Erza berkeringat dingin.
End Of Flashback
"Eh, ngomong-ngomong tadi siang ada orang melihatnya." Ujar Mira.
"Melihat apa?" tanya Erza.
"Melihat kau memeluk instructor Jellal dan menangis didekapannya."
"APA!"
"Semua orang membicarakannya kau tahu, tak kusangka kau dan instructor Jellal..."
"Kau salah paham! Semua ini hanya salah paham!" potong Erza, panik.
"Yah, bagaimana pun, Jellal iu sudah menolakku, ngomong-ngomong aku mau pergi kepermandian air panas, kau mau ikut?." tanya Mira.
"Oh, duluan saja, nanti aku baru menyusul."
Mira lantas beranjak dari tempatnya dan pergi, sementara Erza ermenung dengn ekspresi tidak percaya.
'Instructor Jellal menolak Mira? Sulit dipercaya, Mira sangat cantik dan manis, dia primadona di guild.'
Setelah beberapa lama termenung, Erza memutuskan untuk menyusul Mira kepermandian air panas, namun saat dijalan menuju kesana..
"Instructor Jellal?"
Erza bertemu dengan Jellal.
"Hm? Melihat handuk dan pakaian ganti yang kau bawa sepertinya kau ingin kepermandian air panas."
"Y-ya." Jawab Erza sementara beberapa orang yang kebetulan melewati mereka berbisik-bisik menggosipkan mereka karena kejadian tadi siang.
"Aku tak menyangka kita akan digosipkan seperti ini, bagiku tidak masalah, namun bagi seorang perempuan mungkin akan menjadi tidak nyaman kalau digosipkan seperti ini, jadi tak masalah bila kau tidak ingin terlihat sedang bersamaku, kau boleh mengambil jarak." Ujar Jellal yang menyadari orang-orang sedang berbisik-bisik tentang mereka.
Erza langsung segera menghampiri Jellal dan berdiri di sampingnya.
"Memangnya kenapa? Tak ada yang salahkan kalau seorang bawahan terlihat bersama dengan atasannya, kau ingin kepermandian juga kan? Ato pergi bersama-sama." Ujar Erza, sementara Jellal tertawa.
"Baiklah anak buahku, ayo pergi."
Respect
"Maaf Gray, aku tidak bisa berkencan denganmu." Ujar Erza pada Gray yang duduk diseberangnya.
Saat ini mereka berdua berada di sebuah cafe yang terletak di dekat guild.
"Apa? Kenapa?" tanya Gray dengan ekspresi innocent.
"Kenapa? Tentu saja aku menolak, kau bahkan tidak menyukaiku!" balas Erza.
Gray terdiam sesaat.
"Lihatkan! Kau bahkan tidak membantahnya, aku justru heran apa yang memberimu ide untuk mengajakku berkencan!"
Gray sedikit berpikir, lalu, "Insructor Jellal, Laxus dan Gildartz menginginkan kita untuk sedikit lebih dekat dan bekerja sama, jadi kupikir, kenapa tidak?" jawab Gray, yang membuat mulut Erza menjadi sedikit ternganga.
Gray POV
"Aku menuntut permohonan maaf darimu!"
Sergah wanita berambut merah yang ada dihadapanku ini dengan wajah idiotnya.
"Itu alasanmu? Apakah kau bodoh?"
Sambung wanita ini masih dengan tampang idiotnya.
Namun sejujurnya alasan aku mengajaknya berkencan bukan hanya karena itu tapi juga karena aku penasaran.
Kembali pada hari saat serangan pihak pemerintah, saat itu aku sangat terkejut, entah dari mana tapi dia tahu kelemahanku yang takut pada ketinggian, namun dia sama sekali tidak menyinggung tentang hal itu, walaupun aku terus menyerangnya atau menyinggungnya karena keteledoran dan kesalahannya saat bertugas.
Aku mulai merasa aku berhutang sesuatu padanya... Sesuatu yang disebut rasa hormat dan di saat yang sama aku mulai merasa penasaran, mungkin ada sesuatu yang lain bisa kupelajari darinya karena itu aku mengajaknya berkencan.
"Bodohnya aku menanggapi serius ajakanmu! Apakah kau tidak pernah mendengar kalimat 'ayo kita menjadi teman'?"
"Kurasa mengajakmu berkencan adalah cara paling sopan untuk mengutarakan hal itu."
"Begitu caramu untuk berteman? Oh ya Mr Perfect, bahkan dari dulu aku ingin megajakmu berteman tapi kau malah memilih cara yang aneh!"
Erza kembali mengomel dengan wajahnya yang aneh, membuatku tak mampu menahan tawa.
"Ahahahahha, Ya kurasa kau memang akan menjadi teman yang hebat." Tawaku.
Aku rasa kami berdua sama, kami berdua memiliki tujuan yang sama, kami ingin mencapai instructor Jellal, mencapai prestasinya dan ingin menjadi seperti dirinya.
End Of Gray Pov
"Kita bukan teman, jerk!" Sergah Erza dengan kesalnya.
"Kau pasti ingin mengejar prestasi instructor Jellal kan, menjadi seperti dirinya, Kau sudah mulai terinspirasi olehnya." Lanjut Gray, straight to the point.
"Apa! Tentu saja tidak, aku hanya menjadikan dirinya sebuah fase yang harus kulewati, aku bercita-cita lebih tinggi dari itu!"
"Sebuah fase katamu? Berikan sedikit hormat! Kau pikir kau siapa? Kau bahkan tidak akan pernah sampai pada posisi dimana instructor Jellal saat ini berada!" balas Gray.
"Oh diamlah, kau lihat saja, aku nanti akan melebihinya, bahkan kau tidak akan bisa mencapai posisiku nanti."
"Hm, kau hanya tidak mengetahui dirinya, instructor Jellal memiliki daftar prestasi yang sangat panjang, dia tidak sepertimu, dia tidak hanya sekedar bicara omong kosong." ujar Gray.
"Ya, aku tahu dia tidak hanya sekedar bicara omong kosong, aku tahu itu, lebih dari apa yang kau tahu!" sanggah Erza yang membuat urat kemarahan muncul dikepala Gray.
"Kau lebih tahu dariku? Dia hanya membereskan masalah yang kau buat, bukan berarti itu membuat kau menjadi seorang tahu tentang dirinya! Aku tanya padamu pernahkah kau menghabiskan malam dengan minum bir dengan Jellal di kamarnya!"
"Apa! Itu kan kegiatan laki-laki, aku juga tak bisa masuk ke asrama laki-laki!"
Dan perdebatan mereka tentang siapa yang lebih dekat dengan Jellal terus berlangsung di cafe itu tanpa mereka sadari anggota guild yang berada di cafe itu mendengar perdebatan mereka sehingga esok harinya, Gray dan Erza harus mati-matian menahan gosip kalau mereka berdua membentuk Jellal fans club, sementara Jellal sendiri tak menyadari kalau dua bawahannya itu ngefans dengan dirinya.
Respect
"Kami membutuhkan 22 buah kursi lagi di sini." Pinta salah satu anggota guild.
"Oke aku akan bawakan kesana." Sahut Erza seraya mengambil 22 buah kursi lipat.
'Kursi-kursi ini lebih berat dari yang kuduga.' Batin Erza.
Dan sesuai perkiraan, Erza merasa tak mampu mengangkat kursi-kursi itu hingga dia terjatuh dan menabrak Jellal yang sedang berdiri di dekatnya.
"KAU BODOH! JANGAN MENGANGKAT BEBAN YANG TIDAK BISA KAU ANGKAT! KAU KIRA KAU SEORANG LAKI-LAKI APA!" marah Jellal.
"Maaf, ku pikir aku bisa mengangkatnya."
"Biar aku yang angkat!" ujar Jellal seraya mengangkat kursi-kursi yang dijatuhkan Erza.
"Hehehe, dasar idiot." Ejek Gray.
"APA KAU BILANG!" Balas Erza.
"Kau bahkan tidak bisa mengangkat kursi-kursi itu tanpa bantuannya." Senyum Gray, mengejek.
Lalu Gray dan Erza terlibat sedikit cekcok sementara Laxus dan Jellal memperhatikan mereka.
"Lo lihat Jellal, hubungan mereka berdua sepertinya makin hari makin bagus, hal yang manis bukan melihat kedua bawahanmu bersama-sama seperti itu." Ujar Laxus yang membuat Jellal tak sengaja menjatuhkan kursi yang diangkatnya.
Hari ini kelompok dari pelindungan anak datang keguild untuk melakukan protes, dikarenakan kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh pelaku yang menggunakan sihir dari lacrima Fire demon slaying, beberapa waktu yang lalu.
Kelompok ini melakukan protes terhadap guild yang masih menyimpan lacrima-lacrima yang berpotensi berbahaya dan memberikan dampak maupun efek yang buruk bagi anak-anak, mereka takut lacrima seperti fire demon slaying akan dipelajari anak-anak dan bisa berpotensi merusak mental anak dan tugas guild adalah menyiapkan tempat di halaman guild untuk kelompok ini untuk melaksanakan protes mereka.
Divisi 3 sendiri bertugas untuk berjaga-jaga agar tidak ada sesuatu yang tak di inginkan selama protes berlangsung.
"Sepertinya kita akan menghadapi banyak protes lagi setelah ini." Ujar Erza sambil merapikan blazernya pada Gray yang berjaga disampingnya.
"Ya, sejak kejadian pembunuhan berantai itu, media memojokan kita dan orang dari kelompok perlindungan anak datang ke guild untuk protes terus menerus." Jawab Gray sambil memperhatikan orator dari kelompok perlindungan anak memprotes guild di atas panggung yang sudah di siapkan oleh pihak guild.
"Padahal, alasan protes ini sendiri tak masuk akal, pelakunya yang menyalahgunakan lacrima ini, kenapa sekarang di buat seolah-olah lacrimanya yang salah!"
"Begitulah perbuatan pemerintah, mereka menggunakan segala cara untuk menekan guild." Tanggap Gray sementara orator masih menggebu-gebu menyuarakan protesnya.
"Kita harus melindungi anak-anak kita dari moral yang berbahaya! Dari lacrima yang membuat moral mereka menjadi rusak!"
BANG! BANG! BANG!
Tiba-tiab terdengar suara ledakan di dekat halaman guild, membuat orang-orang yang hadir dalam protes itu menjadi panik.
"Tembakan!" ujar Erza.
"Sepertinya bukan, itu hanya suara petasan." Sahut Gray.
"Erza! Pelakunya ada dibelakangmu! Segera amankan pelaku!" perintah Jellal yang berdiri agak jauh dari Erza dan Gray.
Dengan segera Erza dan Gray langsung mengejar pelaku yang melarikan diri.
"Berhenti!" perintah Erza, namun sang pelaku terus berlari.
Setelah sedikit kejar mengejar antara Erza, Gray dan pelaku akhirnya Erza berhasil mengejar pelaku dan meringkusnya hingga jatuh ketanah.
"Kena kau!" ujar Erza setelah meringkus pelaku, namun sedetik kemudian Erza menjadi kaget karena pelaku yang menyalakan petasan itu ternyata seorang gadis kecil yang masih anak-anak.
"Ka-kau? Bukannya kau gadis kecil yang berada di lorong tempo hari?" kaget Erza melihat gadis kecil berambut biru itu.
"Hii, maafkan aku kak." Ujar anak itu, ketakutan.
"Lebih baik kau kubawa ke kantor, ayo." Ujar Gray seraya memborgol kedua tangan anak itu.
"Borgol? Hey Gray, kau sedikit berlebihan, dia hanya anak-anak!" protes Erza.
"Anak-anak atau orang dewasa menurutku sama saja, aku hanya menjalankan prosedur dan aturan keamanan." Balas Gray.
"Dia hanya ketakutan, dia tak akan melarikan diri, jangan terlalu serius begitu, buka borgolnya."
Gray akhirnya mengalah dan membuka borgolnya.
Di kantor keamanan...
"Jadi namamu Wendy Marvel? Baiklah, apa alasanmu meledakan petasan disekitar tempat protes? Kami menjelaskan pada pihak perlindungan anak kalau ini hanya keisengan anak kecil, namun biasanya kami sudah menyerahkan hal ini pada pihak kepolisian." Ujar Jellal pada anak kecil berambut biru itu.
"Itu bukan sekedar iseng! Itu bentuk perlawanan saya!"
"Perlawanan? Apa maksudmu?"
"Guild tempat saya bernaung dulu, Cait Shelter, harus dibubarkan oleh kelompok perlindungan anak hingga lacrima-lacrimanya disita oleh pihak pemerintah." Jawab Wendy.
"Cait Shelter? Itu kan guild yang berada di kota sebelah, gua dengar guild itu juga berfungsi sebagai tempat penampungan anak yatim piatu." Ujar Laxus.
"Ya, karena protes dari kelompok pelindungan anak yang mengatakan lacrima yang tersimpan di dalam guild tidak baik untuk anak-anak yang berada di sana akhirnya pemerintah menyita semua lacrima dan guild dibubarkan sehingga Cait Shelter hanya menjadi panti asuhan biasa, makanya begtu tahu mereka mengadakan protes di guld Fairy tail aku bermaksud untuk melawan mereka."
Wendy terdiam sejenak sebelum akhirnya lanjut berbicara, "Lacrima yang tempo hari kakak selamatkan dari pihak pemerintah adalah yang terakhir dari guild saya karena di kota kami cuma ada guild Cait Shelter."
"Jadi kau melakukan perlawanan dengan meledakan petasan begitu? Kau tahu, aku berharap kau tidak melakukannya." Ketus Jellal.
"Apa maksud kakak? Aku hanya ingin membantu menyelamatkan lacrima sama seperti kalian."
"Tak perduli apa tujuanmu, tapi cara yang kau gunakan salah, kelompok perlindungan anak mengikuti prosedur dan aturan yang berlaku, sementara yang kau lakukan adalah meneror mereka dengan ledakan petasan itu." Ujar Jellal yang membuat Wendy tertuduk.
"Dan sekarang... Kau akan kuserahkan pada orang paling kejam di MDF untuk memberimu pelajaran."
"MANA ANAK NAKAL YANG MELANGGAR PERATURAN DAN MEMBUAT ONAR!" tiba-tiba Gildartz masuk ke kantor dengan berteriak dengan wajah yang sangat horor membuat Wendy langsung berteriak ketakutan.
"Ampun! Aku minta maaf! Aku tidak akan melakukannya lagi!" ujar Wendy yang ketakutan setengah mati melihat tampang seram Gildartz.
Respect
Malam harinya..
"Terus? Apa yang terjadi?" tanya Mira pada Erza sambil memakai masker di wajahnya.
"Tak kusangka setelah Cait Shelter bubar, Wendy selama ini tinggal di rumah nenek Grandine yang bekerja di bagian klinik di guild ini, jadi setelah ditakut-takuti oleh instructor Gildartz, dia pulang di jemput oleh Grandine." Jawab Erza.
"Bukankah kau menyelamatkannya waktu dia akan membawa lacrima kemari? Kenapa dia tidak menitipkan lacrima itu pada nenek Grandine saja?"
"Dia takut nenek Grandine akan terkena masalah kalau ketahuan membawa lacrima itu makanya dia berinisiatif untuk membawanya sendiri, namun tak kusangka, instructor Gildartz sangat seram bahkan seribu kali lebih seram dari Jellal." Sahut Erza.
"Yah begitu lah, seperinya anak itu mendapatkan pelajaran yang tak akan pernah dia lupakan." Tawa Mira.
"Tapi aku bisa mengerti alasannya kenapa Wendy melakukan hal itu, mengingatkanku pada diriku dua tahun lalu, aku berharap aku bisa membantunya."
Sementara itu di asrama laki-laki, tepatnya di kamar Jellal...
"Dia seperti anjing pemburu..." ujar Gray seraya menegak birnya.
"Hm? Apa maksud lo?" tanya Laxus yang juga berada di kamar Jellal.
"Erza, saat mengejar anak kecil itu, dia berlari sangat cepat seperti anjing pemburu." Jelas Gray.
"Yah, larinya memang cepat, dia berlari seperti ada sayap dikedua kakinya." Sahut Jellal.
"Apakah itu alasannya? Erza tentu memang cepat tapi, apa karena itu kau hanya menyuruh Erza untuk mengejar saat tersangka melarikan diri? Padahal aku juga berada di sana." Ujar Gray lagi, membuat Jellal terdiam.
"Padahal aku berharap... padahal aku berharap kau juga menyuruhku..." gerutu Gray dengan aura horor sambil meremas kaleng birnya hingga penyok dan isinya meluber keluar.
"Bukan seperti itu, dia menyuruh Erza karena sudah terbiasa saja, bukan berarti dia lebih percaya Erza dari pada lo, benarkan Jellal?" sahut Laxus.
"Umm, yah begitulah."
"Aku pergi dulu, aku ingin membeli bir lagi." Ujar Gray yang bangkit meninggalkan kamar.
"Dia mengikuti kebiasaan buruk Erza, bertingkah kekanak-kanakan." Ujar Jellal menghela nafas.
"Tidak juga, dia memang seperti itu, tapi setidaknya kita jadi lebih mengenal dirinya bukan, dia menjadi lebih terbuka pada lo dan Erza, bukankah itu pertanda baik."
"Uh, para bocah itu selalu saja mengikutiku." Keluh Jellal seraya melempar tubuhnya keatas ranjang.
"Yah, good luck, Mr Jellal, mentor favorit semua orang." Sahut laxus, tertawa.
Respect
"Selamat pagi!" sapa Erza yang baru masuk ke kantor Jellal.
"Yah, selamat pagi, bocah nomor satu." Sahut Jellal, dingin.
"Hey apa-apaan itu! Kau sudah mulai memancing keributan pagi-pagi begini!" protes Erza.
"Yah terserahlah." Ujar Jellal, malas.
Erza terdiam sejenak, kemudian dia bertanya pada Jellal, "Instructor Jellal, saat makan siang nanti, bolehkah aku berbicara padamu, sir?"
"Oke, tentu saja."
Erza POV
Saat ini jam makan siang, aku dan Jellal berada di sebuah restoran yang berada di dekat guild.
Aku pun menyampaikan maksudku untuk menolong Wendy pada instructor Jellal.
"Jadi kau berniat untuk menolong Wendy?"
"Aku tidak bisa begitu saja mengabaikannya, dia peduli dengan lacrima."
"Tentang masalah guild Cait Shelter, itu berada di luar kemampuan kita, kita tak bisa melakukan apa-apa, apa yang bisa kita lakukan saat ini adalah fokus melindungi lacrima yang ada di guild kita, akhir bulan ini akan ada forum untuk mendiskusikan kelanjutan masalah antara kelompok pelindung anak tersebut dengan guild kita."
Kepala ku tertunduk, kecewa, "Baiklah, aku mengerti hal itu."
"Keinginanmu untuk menolong anak itu sudah bagus kok."
Jellal mengelus kepalaku.
"Yah, tak semua orang mempunyai pangeran yang datang untuk menyelamatkan mereka."
Baru tersadar apa yang aku katakan aku segera menutup kedua mulutku.
"Pangeran? Kau masih saja berpikir sesuatu yang tak masuk akal seperti itu." Ejek Jellal padaku.
"Ti-tidak, aku hanya kelepasan bicara, abaikan saja apa yang kukatakan."
"Pangeranmu itu hanya orang berkepala panas yang tidak mengikuti aturan."
"Kau salah tentang dirinya! Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan hal seperti itu!"
"Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya."
Sedetik kemudian suasana sedikit dingin, sementara Jellal terlihat memasang muka kesal.
"Kau hanya tidak mengetahui dirinya, dia super keren! Saat aku masih bersekolah dulu dia menyelamatkanku dan lacrima dari agen pemerintah yang jahat." Ujarku seraya menyilangkan kedua tangan di dadaku.
"Tapi sayangnya, dia melanggar aturan yang dibuat oleh guild dan pemerintah dengan menyerang pihak pemerintah."
"Tapi kau ingat? Kau menolong Wendy di gang tempo hari saat pihak pemerintah ingin merampas lacrimanya!"
"Itu kasus yang berbeda, aku hanya membereskan masalah yang kau buat, aku juga tak menyerang pihak pemerintah, aku bukan seperti seseorang yang akan melanggar peraturan seperti itu."
Aku tercenung dengan kata-kata Jellal, lalu aku kembali bertanya.
"Jadi, apakah bila pihak pemerintah ingin mengambil lacrima dari seorang gadis dengan paksa kau akan mengabaikannya dan tidak akan melakukan sesuatu?"
"Ya, kau benar."
Aku tercenung kaget mendengar jawaban dari Jellal.
"Bila pangeranmu tidak melanggar peraturan, mungkin saat ini kau menjadi sedikit memiliki rasa hormat dan taat akan aturan juga tidak membuat banyak masalah, apa yang kau gambarkan sebagai cerita indah adalah sebuah penghinaan untuk agen guild yang memiliki peraturan seperti kita."
Kenapa? Kenapa kau berkata seperti itu? Kau selalu menolongku dan mendukungku...
"Tapi, aku bergabung ke MDF karena aku ingin menjadi seperti dirinya, apa kah itu tak berarti apa-apa bagimu? Dia mampu menciptakan mimpi untuk seseorang apakah bagimu itu bukan apa-apa?"
Selain pangeranku, kau adalah seseorang yang juga menginspirasiku, kenapa kau selalu menghancurkan pandangan baikku tentang dirimu?
"Jika dua tahun lalu, pada saat itu kau yang berada di sana, aku tidak akan sudi untuk bergabung dengan MDF!" sambungku sedikit emosi.
Namun, entah kenapa, setelah aku berkata seperti itu, untuk sesaat, ya hanya sesaat, aku melihat wajah instructor Jellal, ekspresi wajahnya terlihat sangat terluka mendengar kata-kataku itu, membuatku ingin menghentikan amarahku, tapi entah kenapa aku sama sekali tak mampu menghentikan mulutku untuk terus berbicara.
"Bukan hanya aku, siapapun yang peduli dengan lacrima akan merasakan hal yang sama, tapi kau, kau sama sekali tidak bisa menginspirasi orang untuk mendukung guild, tidak bila kau hanya mengabaikan orang-orang yang berusaha mempertahankan lacrima." Sambung ku.
Kepalaku tertunduk, tak mampu menatap wajah Jellal.
"Kau sama sekali tidak keren, kau hanya menyedihkan, aku tak bisa memandangmu, aku sama sekali tidak ingin menjadi dirimu." Ujarku lagi.
Dan aku mulai merasa air mata jatuh dari kedua mataku.
"Aku hanya bertemu dengan pria itu sekali, dua tahun yang lalu tapi dia membuat perasaanku pada hari itu tidak berubah sampai saat ini, aku ingin bertemu lagi dengannya suatu saat nanti."
Air mataku mengalir makin deras, kepalaku makin tertunduk.
"Aku menyukainya, jadi kumohon... Jangan katakan hal yang buruk tentang dirinya."
To Be continue
Maaf lama update, karena sibuk dengan kegiatan kami masing-masing jadi jarang punya kesempatan menulis
Chapter depan pun akan lama updatenya, tapi kami usahakan cepat di update kalau lagi nggak sibuk
