Title: Lucky Fanboy (Prequel Airport Staff)

Author: Arisa Arizawa

Main Cast: TaoHun

Genre: Romance, Friendship

Rated: T

Warning!BoysxBoys, Typo(s), Crack Pairing

Don't Like? Read First:3

Flame for my story? Allowed. Flame for the cast? Please don't:)

oOo

"Lihatlah siapa yang sedang jatuh cinta lagi di sini," kata Chanyeol sambil merangkul pundak Kris yang sedang menikmati sarapannya dengan manajernya.

"Siapa?" tanya Suho dengan penasaran yang dibalas dengan cengiran dari Chanyeol yang menusuk-nusukan jarinya ke pipi Kris.

"Uri leader~" sahut Tao, dengan nada mendayu, yang baru keluar dari kamarnya sambil menenteng bokser hitam miliknya yang langsung ditanggapi dengan ejekan Chanyeol pada Kris.

"Diam dan duduk, Chanyeol! Aku mencoba menikmati sarapanku," teriak Kris

"Oh..." ucap Suho pelan. Matanya bergerak-gerak gelisah hingga ia menangkap kegiatan Tao memasukan boksernya kedalam keranjang pakaian kotor. Ia pun tersenyum jahil.

"Mimpi basah lagi, Tao?" tanya Suho dengan nada mengejek yang membuat Chanyeol dan Kris mengalihkan pandangan mereka ke arah Tao.

"Normal, bukan?" balas Tao sambil berjalan kembali ke kamarnya untuk membereskan 'kekacauan' yang ia buat.

"Normal jika kau memimpikan seorang perempuan," balas Kris dengan nada menyindir. Suho pun melirik Kris dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Oh, seperti Seohyun, begitu?" tanya Chanyeol yang malah menarik pembicaraan yang sebelumnya. "Jangan-jangan kau semalam mimpi basah tentangnya?!" tebak Chanyeol asal-asalan.

"Oke, cukup membahas hal ini. Tao, ayo makan!" teriak Suho membatalkan Chanyeol untuk menggoda Kris lagi.

'Apakah kau sudah melupakanku, Kris?'

oOo

"Hatcih!"

"Sehun! Xiumin bilang kau tidak bisa absen hari ini!" teriak Luhan yang baru keluar dari dalam kamarnya sambil mengetik sesuatu di ponselnya.

"Bujuk saja kekasihmu! Apa kau tega melihat adikmu ini sedang sakit?" balas Sehun sambil mengusap hidungnya dengan tissue.

"Aku bukan kekasihnya, oke? Dan lagipula, semestinya kau tidur di kamar jika sakit! Bukannya menonton televisi seperti ini," kata Luhan sambil duduk di single sofa ruang keluarga itu.

"Jika kau ingat, eomma bilang aku harus melihat sesuatu yang menyenangkan jika ingin sembuh," kata Sehun. "Mengapa kau tidak pergi kerja saja daripada mengoceh tak jelas seperti itu?"

"Dan tergopoh-gopoh pulang karena kau meneleponku seperti orang sekarat? Tidak terima kasih. Aku tahu tabiatmu saat sakit," balas Luhan. Sehun pun memutar bola matanya malas.

"Aku tidak akan melakukannya," kata Sehun sambil melanjutkan menonton video kompilasi dari semua penampilan EXO satu bulan itu yang berhasil ia kumpulkan.

"Kau tak dapat dipercaya bodoh!" kata Luhan sambil memakai jaketnya. "Aku akan membeli obat. Kau cepat habiskan sarapanmu."

Lalu selanjutnya yang Sehun dengar adalah suara debaman pintu rumah mereka tertutup saat Luhan keluar. Ia pun menghela napas.

Ia ingat betul kejadian dua malam lalu. Ia dan member EXO.

"Ya Tuhan..." ia merasakan wajahnya menghangat jika ia mengingat kejadian itu.

Tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada telepon yang masuk. Ia mengeceknya dan menemukan nomor yang ia tidak kenal.

"Yeoboseyo?" kata Sehun setelah mengangkatnya dengan nada bertanya.

"A-ah ne, yeoboseyo!" balas yang di seberang sana. Kentara sekali suaranya gugup dan agak berbisik.

"Maaf, dengan siapa saya bicara?" tanya Sehun dengan sopan. Namun, sepertinya ia pernah mendengar suara ini.

'Apakah staff Airport yang lain? Ah, sepertinya bukan,' tanya Sehun dalam hati.

"O-oh.. Ya ini.." terdengar ia berdeham. "Kris," lanjutnya dengan pelan.

Blush

Sehun tak dapat berpikir jernih. Refleks ia mematikan sambungan tersebut dan melempar ponselnya ke meja di depannya.

"Omo!" teriak Sehun sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.

'Benar itu suara...' pikirannya yang melayang kembali lagi saat ponselnya kembali berdering. Dan lagi-lagi nomor itu.

Ia menimang-nimang apakah ia harus mengangkatnya atau tidak. Saat ia memutuskan untuk mengangkatnya, telepon itu berhenti berdering.

"Ah, sial!" umpat Sehun. Ia menunggu ponselnya berdering lagi. Namun, sampai Luhan kembali, tidak ada tanda-tanda telepon masuk.

"Kau kenapa?" tanya Luhan saat melihat adiknya sedikit terlihat kesal.

"Tidak apa," balas Sehun masih dengan ia yang menatap ponselnya.

"Hey, ada apa dengan-" ucapan Luhan yang sudah duduk di sebelah adiknya terpotong oleh deringan ponsel Sehun.

Sehun buru-buru mengambil ponselnya dan mengangkat telepon dari nomor yang sama seperti barusan. Ia pun beranjak ke arah dapur meninggalkan Luhan yang menatapnya aneh.

"Yeo- yeoboseyo," Sehun dapat merasakan jantungnya berdebar keras.

"Seohyun-ah! Mianhae kalau kau jadi takut. Aku tidak bermaksud, sungguh!" balas yang di seberang dengan nada khawatir yang mau tak mau membuat Sehun merasakan rona di wajah putihnya.

"Ah- tidak. Aku hanya kaget," kata Sehun dengan suara pelan malu-malu. Sudut bibir Sehun terangkat sedikit.

"Syukurlah. Aku pikir kau menjadi takut dan mem-block nomor ini," balas Kris. Di seberang sana ia pun tersenyum senang.

"Aku tidak sejahat i-itu, Kris-ssi," balas Sehun sambil mendudukan diri di kursi bar yang menghadap keluar dapurnya itu.

Luhan dapat dengan mudah melihat semburat merah di wajah adiknya itu. Ia pun mencoba mengalihkan fokusnya pada televisi yang sudah berganti wajah menjadi para pemain bola. Namun nampaknya tak berhasil.

"Jangan panggil aku dengan -ssi. Aku sudah memanggilmu dengan akrab, Seohyun-ah," sahut Kris terkekeh karena mendengar Sehun, atau Seohyun, yang sepertinya masih canggung dan kaget dengan telepon darinya.

"A-ah... baiklah, erm Kris hyung -eh!" Sehun merutuki dirinya yang malah memanggil Kris dengan sebutan hyung.

"Hyung?" tanya Kris dengan nada bingung.

"Ma-maksudku, Oppa," balas Sehun dengan cepat. "Maaf, kakakku semua laki-laki dan jadi aku terbiasa memanggil mereka dengan sebutan hyung dari kecil."

'Ya Tuhan, kebohonganku bertambah lagi!' ucap Sehun dalam hati.

"Ah... jadi kau adalah anak paling cantik di keluargamu, eh?" goda Kris pada Sehun. Ia tertawa saat mendengar Sehun tersedak salivanya sendiri.

"Uhuk! Ah... ini menyakitkan!" keluh Sehun sambil menepuk dadanya. "Tidak lucu, Oppa!" sentak Sehun sambil berusaha menghilangkan batuknya.

"Baiklah, maaf. Kau sangat lucu, Hyunnie," balas Kris dengan suara rendah yang menggoda.

Deg

"Ah.. emm, Oppa, bukankah kau ada recording hari ini?" tanya Sehun mengalihkan pembicaraan penyebabkan jantungnya berdetak tak beraturan karena suara seksi keluar dari ponselnya.

"Ah, kau mengingatkanku," balas Kris.

"Kau kabur?"

"Ya,aku takut kau marah dan tak mau menerima telepon atau pesan dariku," sontak jawaban Kris itu membuat wajah putih Sehun seperti buah apel yang ranum.

"Se-sebaiknya kau kembali dari pada nanti kau dihukum oleh manajermu," kata Sehun menekan rasa gugupnya.

"Aigo, perhatian sekali kau ini. Suamimu kelak pasti akan merasa beruntung," goda Kris lagi.

"Cukup menggodaku, Oppa!" teriak Sehun dengan kesal dan nada yang diayunkan tanpa menyadari Luhan yang sudah berada di hadapannya membeku mendengar teriakan Sehun.

"Oppa? Hey, kau ini benar-benar nakal, Hunnie!" goda Luhan yang langsung dipelototi oleh Sehun yang langsung membuat gestur seperti 'Diamlah! Kau membongkar penyamaranku bodoh!'

"Siapa itu, Hyun-ah?" tanya Kris dari seberang.

"Ah... itu hyu-hyung-ku," balas Sehun.

"Ooh, 'hyung'-mu,"

"Ya. Sebaiknya kau cepat kembali sebelum..."

"Arraseo, chagiya! Nanti malam aku akan menghubungimu lagi. Bye!" lalu sambungan pun ditutup secara tiba-tiba oleh Kris. Sepertinya ia sudah terdeteksi keberadaannya.

'Tu-tunggu! Cha.. giya?'

Rona wajah Sehun yang sudah membaik kembali muncul dan kali ini lebih parah.

"Aigo! Sehun-ah wajahmu benar-benar memerah sampai keningmu!" seru Luhan sambil menahan tawa melihat Sehun benar-benar akan merubah wajahnya menjadi tomat kali ini.

"Ti- tidak ada yang lucu, hyung!" teriak Sehun kesal sambil memegangi pipinya seakan iya sedang memegangi tomat yang sudah matang dan akan jatuh dari pohonnya jika ia tidak menahannya.

Ia pun pergi ke kamar karena kesal mendengar tawa Luhan yang terbahak-bahak melihat keadaannya itu. Sampai di kamar, ia melemparkan dirinya ke atas kasur dan menutup wajahnya dengan bantal.

"AAAAA! KAU MEMBUATKU GILAAAA!"

oOo

Perlahan, Luhan meredakan tawanya dan berganti dengan wajahnya yang dingin.

"Siapa lagi, eoh?" ucapnya pelan. Tanpa sadar ia meremukkan kaleng minuman bersoda yang ia minum barusan. Ia pun memandangnya dengan datar.

"Manusia bodoh."

oOo

"Tao-ya!" teriak seseorang saat Tao membuka pintu mobil. Dari sekian banyak fans yang memenuhi depan dormnya tersebut, ia masih bisa mengenali suara melengking milik salah seorang sahabatnya.

"Chen hyung!" teriak Tao balik saat ia melihat Chen tengah berdesak-desakkan di antara kerumunan fansnya. Ia menarik Chen dari kerumunan itu dan menariknya masuk ke lobby dormnya itu.

"Wah, Tao, banyak sekali fans yang menanti kalian!" kata Chen saat akhirnya ia dapat menghirup oksigen dengan leluasa saat ini.

"Tidak juga. Kebanyakan dari mereka menyukai Kris dan Chanyeol," kata Tao sambil merangkul Chen ke arah lift dimana Kris dan Chanyeol tengah menunggunya.

"Oh, ya, tentu saja fans-ku lebih banyak ketimbang kalian," kata Chanyeol sambil menaik turukan alisnya. "Hey, siapa temanmu ini?"

"Oh, ya, perkenalkan, namaku Kim Jongdae."

"Stage name-nya Chen," lanjut Tao.

"Kau penyanyi?" tanya Kris. Chen mengangguk.

"Penyanyi cafe. Hehe," balas Chen sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa malu berhadapan dengan member EXO selain Tao. Apalagi ia menyadari kalau ia hanyalah penyanyi cafe, dimana agaknya dipandang sebelah mata oleh beberapa kalangan. Yang manggung dari cafe ke cafe. Bukan seperti mereka yang manggung dari benua ke benua.

"Hey, santai saja. Menurutku penyanyi cafe adalah pekerjaan yang bagus! Sepanjang pengalamanku mendengarkan penyanyi cafe bernyanyi, suara mereka sangat bagus," kata Chanyeol sambil merangkul tubuh Chen yang hanya se-telinganya itu.

"A-ah terima kasih!" ujar Chen dengan senang. Ia pun mulai bercengkrama dengan Chanyeol dan Tao.

oOo

"Kris, daritadi kau senyum-senyum terus pada ponselmu. Ada apa?" tanya Tao penasaran.

"Mungkin Seohyun," kata Chanyeol yang dilanjutkan dengan sorakan dari keduanya.

"Ooh lihatlah, Kris yang sudah melupakan cinta pertamanya! Luar biasa sekali pesona Seohyun, eoh?" tanya Chanyeol sambil menyenggol-nyenggol lengan Kris.

"Jadi itu alasan kau menghilang selama setengah jam, eoh?" lanjut Tao mengejek Kris. Sementara yang diejek hanya berlalu memasuki kamarnya.

"Oh, maaf Chen-ah, kami jadi melupakanmu, kata Chanyeol sambil merangkul Chen lebih erat dan membawanya ke sofa namun ditahan oleh Tao.

"Aku ada urusan dengan Chen hyung!" kata Tao lalu menarik lengan Chen dan memasuki kamarnya.

"Lalu aku harus apa?! Kalian senang sekali meninggalkan aku sendiri, sih?!" teriak Chanyeol frustasi.

oOo

"Sehun, ini tidak baik," ujar Luhan yang duduk di meja makan dengan Sehun dihadapannya.

Ia telah mendengar cerita Sehun dengan Kris. Ia dapat melihat kebahagiaan di mata sang adik saat menceritakannya. Bukan mata yang memancarkan pemujaan pada sang idola, melainkan mata yang menyatakan ketertarikan pada seseorang.

"Tidak baik apanya?" tanya Sehun sambil mengambil gambar makanan di depannya dan mengirimkannya pada Kris melalui Kakao Talk.

'Lihat, aku makan nasi goreng kimchi!:9' tulis Sehun dalam pesannya untuk Kris.

"Kau berhubungan dengan Kris yang jelas-jelas seorang world star Oh Sehun!" sentak Luhan yang membuat senyum Sehun menghilang.

"Kami hanya berteman!" kata Sehun membela diri. Luhan pun menghela napas.

"Kau tau berapa juta fans EXO saat ini?" tanya Luhan yang dibalas dengan anggukan dari Sehun.

"Sekitar... 3.2 juta," kata Sehun.

"Sekarang, kau bagi jumlah itu dengan 3 dan itulah minimal jumlah fans per member. Kau bisa habis dibakar hidup-hidup oleh mereka!"

Sehun pun terdiam.

"Belum lagi sasaeng fans yang tinggal di Korea. Mereka tidak memandang kau itu siapa, Sehun-ah," nada suara Luhan melunak.

"Lagi pula, bagaimana reaksi Kris saat dia tahu kalau kau sebenarnya adalah laki-laki?"

"Hyung, aku..."

"Aku hanya ingin melindungimu, Oh Sehun," kata Luhan. Ia pun mengusap kepala adiknya yang tertunduk itu. "Kau adalah satu-satunya milikku yang berharga saat ini setelah eomma tiada."

Sehun pun menangis dengan kencang lalu berdiri dan mengitari meja makan lalu memeluk Luhan. Ia menangis sesenggukan.

"Hyung juga.. hiks.. satu-satunya yang aku punya saat ini," kata Sehun. Ia menyesal karena sering bersikap menyebalkan pada hyung angkatnya itu. Padahal selama ini Luhan lah yang merawatnya dengan telaten setelah eomma mereka tiada.

"Kau ini laki-laki. Jangan menangis," kata Luhan sambil tertawa menyamarkan air mata bahagia yang menggenang di matanya. Ia pun mengusap rambut Sehun agar adiknya itu tenang.

Sampai kapanpun juga, Sehun tetap Sehun kecil miliknya. Ya, hanya milik Luhan seorang.

oOo

"Begini, hyung, kau bisa menjaga rahasiaku, kan?" bisik Tao. Chen pun terkikik.

"Kau sudah berapa tahun bersahabat denganku, Tao-ya?" tanya Chen masih dengan kikikannya. Semenjak Tao menjadi seorang World Star, ia semakin selektif dengan pergaulannya.

"Ah, baiklah, kau memang paling bisa menjaga rahasia," kata Tao lalu memeluk hyung kesayangannya itu. "Kau bilang, mantanmu itu bekerja di Incheon Airport?"

"Yap! Xiumin bekerja di situ. Ada apa?" tanya Chen penasaran.

"Um... bisakah kau tanyakan padanya apa dia mengenal Sehun?" tanya Tao dengan nada berbisik.

"Sehun?" Chen mengerutkan kening. "Oh Sehun maksudmu? Adik Luhan?"

"Eh, kau tahu?" tanya Tao sambil menegakkan tubuhnya. Kalau begitu ia tidak perlu berlama-lama menunggu informasi dari mantan Chen yang bernama Xiumin itu.

"Tentu saja! Bagaimana aku tidak mengenali keluarga perebut kekasihku, eoh?" tanya Chen dengan nada agak kesal.

"Perebut? Maksudmu, Sehun..." Tao menggantungkan ucapannya sendiri.

"Bukan Sehun! Dia anak yang manis. Aku menyukainya. Maksudku, Luhan yang merebut Xiumin dariku. Tapi, aku tidak begitu kesal, sih, karena memang aku tidak begitu mencintai Xiumin. Hanya jengkel. Pride-ku sebagai seme dilecehkan pada saat itu," jelas Chen panjang lebar. Tao pun memanggutkan kepalanya.

"Jadi, ada hubungan apa kau dengan Sehun?" tanya Chen setelah hening beberapa saat.

"Tidak... hanya saja aku bertemu dengannya saat kembali dari world tour. Dia... manis," ujar Tao dengan nada tersipu.

"Eyy, akhirnya kau move on juga dari Chanyeol, eoh?" goda Chen dengan suara cukup keras. Tao pun berusaha menutup mulut Chen. Sedangkan Chen tertawa cukup keras.

"Dari pada kau mengejekku seperti itu, lebih baik kau ceritakan apa saja yang kau ketahui tentang Sehun!" Perintah Tao adalah mutlak. Jadi Chen pun menurutinya.

"Sehun itu..."

-TBC/END-

Risa's Cuap Cuap:

Annyeong reader-deul^^

Aigoooo Risa merasa gagal sebagai author ToT entah ini sindrom apa kutukan tapi Risa selalu ilang mood nulosnya setelah ngepost 3 cerita atau chapter'^' seeeelalu. Sedih huweeeee...

Tapitapitapi Risa bawa berita bagus niihh~ atau jelek'-')a yang jelas, Risa mau naikin Rating Ff ini. Yep! Akan ada adegan NC nya wuuuuu~ luar biasa! Akhirnya ff nc perdana Risa wuh! wuuhhh(?) Buukan NC nya HunTao atau LuMin apalagi Kris-Seohyun, tapi NC nya Risa sama Tao yay! *dibakar massa*. Pokoknya tunggu aja chapter selanjutnya neee!

Thanks to all readers, reviewers, and siders! I lop yuah! Moah sejagat raya yay! Maap Risa lagi di mobil daannn gak ada waktu lagi buat nge-post selain saat iniii. Jadi maap ya gak bisa nyebutin atu atu~ dan maap typo nya tambah parah ToT

Last, Read and Review please!