first one i just want to say so sorry ... ok buat typo yang aku buat. alasanya karena aku males nulis tapi aku seneng banget kalau disuruh buat karangan. sampe temenku bilang aku punya mulut seribu. karena yaa aku suka banget cerita banyak hal. dan mereka anehnya suka banget ngedenger aku cerita haha ko jadi curhat. yang jelas aku males banget disuruh ngetik atau nulis. dan aku gak mungkin nyuruh temen2ku nulis nih fanfic, iya pokonya gitu... jadi kalo ada yang berasa gak gereget karena tulisan ancur aku mianhe ok... oh iya ini emang pernah di publish di fb dan aku masih author yang sama ko...
Aku tidak butuh siapapun
Bersamamu semua akan baik baik saja
Aku harus mendapatkanmu dan aku tidak bisa menunggu sekarang
Hey sayang katakan kau peduli padaku
Kau tahu aku peduli padamu
Kau tahu aku selalu benar
Kau tahu tidak pernah salah
Kau tahu aku akan mencoba menjadikanmu segalanya bagiku….
Sehun menyandarkan dirinya. Menatap langit cerah walau cuaca dingin masih terasa menusuk. Banyak hal yang Sehun rencanakan bersama Jongin. Terlalu cepat memang mengganggap keadaan sudah membaik. Tapi Sehun terlalu senang dengan perubahan jongin walaupun hanya sekian persen itu. Sehun yakin Jongin akan kembali menjadi Jonginya yang manja, penurut dan mencintainya.
Hari ini Sehun berencana mengajak Jongin menikmati wahana yang hanya bisa dilakukan dimusim salju. Dulu sekali Jongin pernah bilang, saat musim salju tiba. Dia ingin sekali bisa pergi berkemah dan menangkap ikan dimana danau berubah mengeras. Maka dari itu setelah bermain selancar Sehun menganjak Jongin ketempat yang sudah disiapkanya untuk berkemah.
"Jongin apa kau kedinginan?" Jongin menggelang.
"Aku suka dingin." Sehun tersenyum lalu mengeratkan syalnya.
"Apa yang kau inginkan hari ini." Jongin memandang Sehun.
"Kau akan memenuhinya?"Sehun menggangguk antusias.
"Berkemah bisakah? Dulu aku sering berkemah saat musim salju tiba. Aku ingin sekali berkemah. Aku merindukanya." Sehun memeluk Jongin seketika. Dia bahagia mendengar Jongin berbicara panjang dan merajuk seperti ini. Sehun senang sekali.
"Ya. Tentu saja, kita akan berkemah."
"Terimakasih Sehun sii,"
"Panggil aku Sehun-ah."
"Bolehkah?" ujar Jongin ragu.
"tentu, dear."
"Sehun-ah"lirih Jongin
Sehun dan Jongin akhirnya tiba ditempat tujuan. Jongin memandang takjub pada hal yang ada dihadapanya. Matanya berbinar – binar. Sementara Sehun dibelakangnya hanya tertawa melihat tingkah Jongin yang lucu. Mereka berdua segera pergi ketempat dimana tenda yang Sehun bangun berada. Walaupun bukan hanya mereka yang berkemah disana. Namun bagi Sehun dia hanya bisa melihat dirinya dan Jongin yang berada ditempat itu.
"Sehun-ah bagaimana kau tahu jika aku senang sekali berkemah didanau yang membeku. Apa kau membawa alat pancing?"ujar Jongin mengebu – gebu.
"Aku tahu tentangmu, semuanya."balas Sehun sambil mengelus rambut Jongin. Dengan gerakan cepat Jongin memeluk Sehun. Dan membuat Sehun diam membeku.
"Sehun. Terima kasih. Aku mencintaimu." Tes. Air mata mengalir dari mata Sehun. Apa dia sedang bermimpi. Semuanya terasa bergitu membahagiakan. Dia tidak akan bisa menerima sakitnya setelah ini. Bukankah setelah senang ada sedih. Sungguh untuk kali ini dia tak perduli…
"Be benarkah, Jongin."
"Aku mencintaimu." Kembali jongin berucap dengan nada meyakinkan. Lalu mempererat pelukanya.
"Na nado saranghae…. Aku bahagia sekali Jongin."
Malam hari mereka berdua menghabiskan waktu untuk membakar hasil tangkapan yang mereka peroleh. Jongin terlihat paling semangat. Tidak hanya ikan yang mereka bakar tapi beberapa makanan lain yang sempat Sehun beli sebelum pergi berkemah.
"Jongin. Lihat wajahmu." Sehun menghapus arang yang yang ada di wajah Jongin. Lalu terkekeh. Sementara Jongin masih asik membakar hasil tangkapanya.
"Hwwaa panas – panas."
"Aissh jinjja kenapa kau angkat dengan tanganmu. Lihat kau terluka. Jangan ulangi lagi." Ujar Sehun sambil meniup – niup tangan Jongin.
"Mianhae."
"Sudah kau duduk disana gunakan selimut itu jangan sampaii sakit apa lagi terserang hipotermia. Jika kedinginan tambah lagi kayu bakarnya arrachi." Jongin menggangguk menurut. Sehun kembali tersenyum. Dia rindu jongin yang seperti ini.
Setelah menyiapakan ikan bakar yang sempat Jongin bakar dan beberapa makanan lain. Sehun menghampiri Jongin yang berdiam diri didekat api unggun sambil mendengar lantunan lagu yang terdengar dari pemutar music dihanphonenya. Sehun menyimpan makanan itu dihadapan jongin lalu ikut bergabung dalam selimut hangat yang digunakan Jongin.
"Sudah lapar,eoh!"ujar Sehun menatap Jongin yang langsung memakakan ikan bakar panas itu.
"Lapar sekali, Huniie…"
"Pelan – pelan. " Sehun terkekeh lalu ikut makan bersama Jongin.
"Kau tahu Jongin, hatiku benar – benar berbunga aku merasa kembali hidup. Terus begini. Dan jangan kembali menjadi Kai." Ujarnya dalam hati.
'
'
'
'
"Sehun aku suka disini."ujar Jongin sambil menatap langit. Setelah selesai makan. Mereka berdua berbaring dengan pintu tenda yang terbuka lebar menampilkan keindahan langit malam dimusim salju.
"Kenapa?"
"Karena aku merasa tenang. Tak ada hal yang menggangguku. Aku kadang merasa tersiksa dengan hal yang aku tidak mengerti. Apa aku tidak normal."kata Jongin lalu menggalihkan wajahnya pada Sehun yang juga tengah menatapnya.
"Tidak dear… kau baik – baik saja. "Sehun mendekatkan wajahnya. Sampai kedua bibir itu tertaut. Ciuman yang sangat berbeda bagi Sehun.
"Kita akan baik – baik saja." Ujar Sehun setelah melepas ciumanya. Jongin menggangguk.
"Jangan biarkan aku tersesat."
"Tidak akan,"
Suara burung yang terdengar merdu, mengusik tidur lelaki tan itu. Jongin terbangun menatap Sehun yang masih terlelap. Dan mencium pipinya sebentar. Dia beranjak bangun. Jongin merapatkan jacketnya saat udara dingin menerpanya. Dengan santai dia menyusuri tempat itu. Meninggalkan Sehun yang masih terlelap. Hanya berjalan – jalan sebentar. Langkah kaki itu menuntunya begitu saja. Hingga tiba ditempat yang terasa familiar dibenaknya. Jongin menatap pohon besar dihadapanya. Kesedihan itu menerpanya. Sesuatu yang menyesakan. Jongin tak tahu kenapa perasaan itu tiba – tiba menyerangnya. Tapi apa yang terjadi, Jongin melupakan hal penting itu. Sebelum Jongin memaksa otaknya untuk mengingat, sebuah suara mengintruksinya terlebih dahulu.
"Aku tahu ada saatnya, Sehun lengah."ujar orang itu tersenyum manis. Jongin menyiritkan bingung.
"Apa kau mengenalku?" ujar Jongin. Lawan bicaranya menatap sendu.
"Tentu kita sering menghabiskan waktu bersama. Kau lupa Jongin? Aku Chanyeol."
"Chanyeol? Maafkan aku tapi Sehun bilang aku mengalami sedikit masalah kesehatan dan sedikit mengalami semacam despresi. Maaf aku kurang mengingatmu, mau kau membantuku untuk mengingat? Aku cepat mengingat jika ada orang yang membantuku mengingatnya. Aku pasti mengingatmu jika benar kau selalu bersama denganmu."jelas Jongin panjang lebar. Chanyeol menggangguk.
"Tentu aku akan membantumu. Membantumu mengingatku dan membantumu pergi dari Se-"
"Kim Jongin!" teriak seseorang. Mata elang itu menatap tajam kearah Chanyeol yang tersenyum sinis.
"Sehun…"lirih Jongin.
"Apa yang kau lakukan disini Chanyeol."kata Sehun marah.
"Menurutmu."balas Chanyeol santai. Sambil menatap Jongin lalu memberikan serigainya pada Sehun.
"Brengsek!" satu pukulan hampir mengenai pelipis Chanyeol. Namun teriakan Jongin menghentikan
semuanya.
"Jangan! Jangan menyakiti siapapun jebbal." Sehun menahan pukulanya. Jika diteruskan Jongin pasti akan merasa tertekan. Dia akan mengingat masa dimana dirinya sendiri yang memukul Jongin. Tidak Sehun tidak akan membiarkan Jongin mengingatnya. Dengan sekuat tenaga Sehun menahan amarahnya. Dia menurunkan tanganya lalu meraih tangan Jongin.
"Ayo pergi!" ujar Sehun pada Jongin. Jongin mengkuti Sehun. Saat melewati Chanyeol tangan Sehun kembali mengepal.
"Aku tahu apa yang terjadi pada Jongin. Aku tahu sedetail – detailnya. Mataku ada dimana saja. Wapadalah. Jika kau menyakitinya, bersiaplah untuk kehilangan." Bisik Chanyeol. Sehun mengeratkan peganganya pada pergelangan Jongin. Lalu melangkah meninggalkan Chanyeol disana.
Sehun menggengam tangan Jongin. Tak melepasnya barang sebentarpun. Disepanjang jalan terlihat pohon – pohon tak berdaun mengelilinginya. Jongin menatap Sehun khawatir. Mereka masih sibuk dengan fikiranya masing – masing.
"Jangan temui orang itu lagi."ujar Sehun seketika. Jongin menatap heran.
"Wae? Dia bilang kami selalu menghabiskan waktu bersama." Jawab Jongin. Sehun menghentikan langkahnya.
"Kau mencintaikukan?" cap Sehun menatap mata Jongin, penuh haraf.
"Tentu… aku mencintaimu." Jawabnya pasti. Sehun tersenyum.
"Maka jangan biarkan orang itu masuk dalam hidup kita. Otte," Jongin menggangguk. Tapi dalam hatinya. Jongin masih memiliki rasa penasaran yang tinggi pada orang yang baru saja bertemu denganya. Mata bulat, kuping lebar. Park Chanyeol. Jongin sedikit mengingat itu semua. Tapi dia tidak akan meneruskan rasa penasaranya jika Sehun tidak suka.
"Aku akan menghindarinya." Ujar Jongin kemudian. Sehun memeluk Jongin lalu mengecup bibirnya ringan.
"Geomao…."
Jongin meminta Sehun untuk menambah masa berkemah mereka. Dan tentu saja Sehun akan mengabulkan apa yang diinginkan Jongin. Apa lagi hal ini membuat Jongin senang. Di hari kedua itu, mereka menghabiskan waktu dengan sebaik – baiknya. Membuat boneka salju, bermain leper bola salju dan berfoto ria. Hari itu terasa milik mereka berdua. Namun saat malam menjelang sebuah badai datang. Udara sangat dingin. Dengan susah payah Sehun dan Jongin meninggalkan tenda yang menjadi tempatnya bernaung. Beruntung tak jauh dari tempat berkemah ada sebuah penginapan. Dan akhirnya Sehun dan Jongin memilih untuk memesan kamar. Menunggu sampai badai berlalu.
"Jongin. Mau kupesankan minuman hangat." Jongin menggangguk lalu merapatkan selimutnya.
"Tunggu disini. Jaga tubuhmu untuk tetap hangat aku akan segera kembali." Lanjut Sehun lalu mengecup kening Jongin dan beranjak pergi.
Sehun pergi ketempat yang dapat memberikanya minuman hangat. Penginapan ini terlihat sedikit penuh. Mungkin semua orang lebih memilih menghangatkan dirinya dipenginapan yang memang tidak terlalu besar ini dibanding melawan badai salju diluar. Dua cup teh susu ada ditanganya Sehun juga membeli beberapa makanan kecil. Lalu melangkah menaiki tangga untuk kembali kekamar.
DEG
Sehun terkejut melihat seseorang yang beberapa bulan ini tidak ia temui. Begitu juga dengan seseorang yang menatap Sehun dengan kilatan mata terkejutnya. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Hingga salah satu dari mereka mengalah untuk membuka percakapan. Mungkin sedikit say hallo…
"Sehun. Bagaimana kabarmu dan juga Jongin." Sehun tersenyum tipis. Berusaha terlihat biasa saja. Walau dihatinya dia merasa bersalah pada namja cantik ini.
"Baik, Lu. Dan kau sendiri bagaimana? Sudah lama kita tidak bertemu. Kau sedang apa disini?"
"Seperti yang kau lihat. Aku baik – baik saja. Hanya menenangkan fikiran. Sudahnya Sehun aku ingin kebawah dulu." Luhan menahan rasa pertih dihatinya. Dia masih mencintai Sehun, sangat. Tapi dia tidak bisa mempertahankan Sehun disisinya. Kenapa mereka harus bertemu sekarang. Disaat Luhan berusaha melepas bayang Sehun dalam dirinya.
"Lu kau mau kemana?"
"Mencari sesuatu yang bisa menghangatkan." Jawab Luhan sambil tersenyum palsu.
"Begitukah? Bagaimana jika ini untukmu. Aku tahu benar kau tidak tahan dingin badanmu akan mudah sakit. Mau aku belikan sesuatu. Bilang saja padaku. Aku akan membelikanya. Kau hanya tinggal diam dikamarmu." Luhan hampir menangis. Bisakah perhatian Sehun yang hangat ini dia rasakan selama – lamanya. Kenapa dia begituh bodoh dulu. Lebih mementingkan kontrak bodoh dan popularitasnya. Dan membuat Sehun pergi. Bodoh !
"Tidak usah. Jongin pasti menunggumu."
"Tidak masalah toh hanya sebentar,"balas Sehun cepat.
"Hitung – hitung sebagai permintaan maafku. Aku merasa sangat besalah padamu." Luhan menggelang mendengar perkatan Sehun yang terakhir.
"Aku yang salah. Aku yang seharusnya meminta maaf. Jika saja aku tidak egois dan memilih menikah denganmu. Mungkin kita masih bersama. Ak – aku mencintaimu Sehun." Luhan menitikan air mata. Sehun tertegun. Dia membuat seseorang menangis lagi
"Carilah seseorang yang lebih baik dariku. Aku tidak bisa kembali."Sehun menunduk. Luhan terdiam. Tak adakah kesempatan kedua.
"Sehuna!" teriak Jongin riang. Sambil berlari dan mencium pipi Sehun. Tanpa menatap Luhan sedikitpun. Dia hanya melihat Sehun dalam penglihatanya.
"Kenapa kau lama sekali. Aku bosan menunggumu." Jongin memanyunkan mulutnya. Membuat Sehun gemas dan melupakan Luhan yang mulai menangis.
"Mian, dear. Aku bertemu dengan Lu-"
"Hik…. Hikk… hikk…" Sebelum Sehun membereskan ucapanya. Luhan sudah lebih dulu berlari meninggalkan Sehun dan Jongin. Sehun yang melihat itu langsung khawatir. Luhan adalah orang yang nekat melakukan apapun pada dirinya.
"Huniee dia siapa? Kenapa menangis." Ujar Jongin kebingungan. Dia benar benar tidak sempat melihat wajah Luhan.
"Dear. Pegang ini dan kembali kekamarmu. Aku akan kembali dam beberapa menit." Sehun berlari meninggalkan Jongin dengan kerutan didahi.
Sehun berlari menyusul Luhan yang sudah jauh di depanya. Sehun melihat Luhan berlari memasuki semak – semak yang mengarah pada pohon – pohon tinggi. Sementara itu Luhan masih berlari tidak perduli dengan bahaya yang ada dihadapanya. Bahkan jika dengan mati, rasa sakitnya bisa hilang dia akan melakukan itu.
Setelah berlari cukup jauh. Luhan menghentikan langkahnya, kakinya terkilir. Semua udara itu terasa sulit untuk dia hirup, udara dingin itu semakin mengganggunya. Nafas yang tidak teratur akibat kelelahan. Setelah itu Luhan mendudukan dirinya sambil menangis sesegukan.
Sehun mengatur nafasnya. Dari tempatnya berdiri Sehun bisa melihat Luhan yang sedang menangis. Hatinya teriris sakit dengan perlahan dia mendekati Luhan. Dan tanpa Sehun dan Luhan tahu, seorang namja berkulit hitam menatap mereka.
"Luhan. Kau baik – baik saja?" Luhan tersentak mendengar suara Sehun dekat denganya. Dia tidak menyangka Sehun mengejarnya sampai sejauh ini. Apa Sehun juga masih mencintainya. Apa cinta Sehun pada Jongin hanya sekedar rasa bersalah dan iba. Mungkinkah masih ada secerca harapan baginya.
"Sehun… hik" Luhan menumpakan air matanya dalam pelukan hangat Sehun. Sementara Sehun hanya bisa menenangkan Luhan.
"Uljima, Lu. Kau namja yang kuatkan." Luhan menggelang atas penyataan Sehun.
"Tidak aku bukan namja kuat jika kau pergi."
"Lu?
"Aku mencintaimu, Sehun." Ujar Luhan ditengah tangisnya.
"Sehun – ah…" ujar suara lirih yang Sehun kenal.
Deg!
.
.
.
Jongin sengaja mengikuti Sehun yang terlihat tidak baik. Jongin merasa ada sesuatu yang aneh dengan orang yang Sehun ajak bicara. Dengan bermodal rasa penasaran yang tinggi Jongin akhirnya mengikuti langkah Sehun. Namun yang dia dapatkan hanya rasa sakit. Sehun memeluk namja yang mengatakan kata cinta padanya. Jongin merasa marah. Dan dia merasa mulai kehilangan dirinya sedikit demi sedikit.
" Sehun- ah" ujar Jongin dengan suara bergetar. Sehun menatap terkejut kearah Jongin tanpa melepas pelukanya. Luhan hanya menenggelamkan wajahnya pada dada Sehun.
"Jongin apa yang kau lakukan disini. Cepat kembali! Badai akan semakin besar." Jongin menggenggam tangan Sehun kuat, berusaha memisahkan Luhan dan Sehun.
"Kita pergi berdua." Pelukan itu terlepas. Jongin menarik paksa Sehun.
"Arrrkkkhhh…" jerit Luhan. Permukaan jalan yang licin membuat dirinya tergelincir dan darah keluar dari kepalanya yang terbentur. Entah panic atau apa. Sehun melepas kasar cengkraman jongin lalu membantu Luhan. Jongin yang melihat itu merasa sedih namun kesedihan itu berubah jadi kemarahan saat melihat wajah Luhan yang kini ada digendongan Sehun. Entah kenapa dia merasa sangat marah.
kilasan – kilasan masa lalunya kembali hadir saat Luhan menggunjingnya,menghina, dan memukulnya. Mata Jongin memerah
"Hey namja sial jangan ganggu kami!"
"Kau pengganggu yang menjijikan"
"Sehun milik Xi Luhan kau dengar"
Jongin memandang Luhan tajam…. Ingatan itu terlalu menyiksa.
.
.
"Biarkan saja dia disini. Lagipula sebelum aku kemari aku sudah menyuruh tim penyelamat." Ujar Jongin dingin.
"Jangan gila. Jongin dia bisa semakin parah."
"Kenapa kalau dia parah!" bentak Jongin.
"Kim Jongin!" Sehun menatap tajam Jongin namun setelah itu dia hanya bisa menatap sakit saat melihat mata Jongin memerah dan badanya bergetar. Pilihan yang sulit dia tidak bisa memilih satu diantara keduanya. Luhan terluka dan dia bukan manusia kejam yang akan meninggalkanya sendiri ditengah badai salju.
"Baik aku akan pergi!"Jongin melangkah menjauhi Sehun namun langkahnya terhenti. Sehun segera menahanya dengan menggenggam tangan Jongin. Dan satu lengan yang lain menahan bobot Luhan yang tidak terlalu berat baginya.
"Tidak, aku takut terjadi sesuatu padamu kita pergi bersama." Jongin terlihat tidak perduli. Dia hanya mengikuti langkah Sehun yang terus mengunci lenganya.
Dalam keheningan malam dan dinginya udara. Tak ada satu hal yang bisa menghangatkan Jongin kecuali genggaman Sehun yang tidak pernah terlepas dari tanganya.
"Sehun aku mencintaimu." Guman Luhan lemah. Luhan terus saja merancau membuat Jongin naik pitam. Jongin mengepalkan tanganya. Sementara Sehun mengeratkan genggamanya pada Lengan Jongin.
Tiba – tiba putaran kejadian dimana Luhan dan Sehun bermesra – mesraan serta Luhan dan Sehun yang selalu menyakitinya berputar begitu saja diotaknya seperti sebuah kaset yang berputar lancar di otaknya. Air mata jongin mengalir deras dari matanya. Dia mengingatnya. Tanpa Sehun tahu bahwa Jongin sedang menangis. Karena Jongin mengalihkan wajahnya dari Sehun serta jalan yang hanya disinari cahaya bulan membuat semuanya samar terlihat mata. Sehun memandang Jongin sendu. Berharap tidak akan sesuatu yang buruk terjadi.
Mereka sampai dipenginapan tim penyelamat yang melihat Luhan yang terluka segera membawaya untuk segera diobati. Sementara Sehun segera membawa Jongin kembali kekamar mereka. Kini Jongin kembali menjadi jongin yang pendiam.
"Jongin kau kedinginan." Diam. Jongin diam membuat Sehun memandangnya was – was.
"Jongin ada yang kau inginkan? Kau ingin teh hangat. Atau beberapa makanan kecil. Aku ingat kau belum makan. Aku ambilkan, mau?" tak ada respon. Jongin membaringkan tubuhnya membelakangi Sehun membuat Sehun semakin khawatir.
"Jongin jawab aku." Bujuk Sehun lagi.
" Jongin maaf."
"Jongin jangan diamkan aku jebbal. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau suka. Aku berjanji. Asal kau tidak mendiamiku seperti ini." Sehun menyerah Jongin masih membelakanginya. Dengan perlahan Sehun menidurkan dirinya disisi Jongin. Dan memeluknya dari belakang.
"Mianhe,"
"Jangan menyentuhku!" DEG ….!
Jongin terlihat dingin dan sinis . Sehun tersentak. Tidak Jongin tidak akan kembali kehilangan dirinya. Sehun merapatkan tubuhnya tidak perduli dengan Jongin yang berusaha terlepas.
"Jebbal jangan begini…." Lirih Sehun.
.
.
.
Angin berhembus menerpa kulitan Jongin. Biner itu menatap sedu jatuhnya bulir salju. Dengan perasaan sedih Jongin melangkahkan kakinya keluar dari penginapan. Untuk kedua kalinya langkah itu membawa Jongin pada sebuah pohon besar yang berada tidak jauh dari perkemahan. Ada sesuatu yang menariknya kesini seperti sebuah magnet. Jongin menatap lama pada pohon yang bertengger tepat dihadapanya.
"Jongin tahun depan kita kemari laginya. Boleh hyung menggajak seseorang." Ujar Kyungsoo. Sambil duduk dibangku, bawah pohon.
"Soo hyung, kau sedang jatuh cinta?" Jongin menatap selidik dan menyerigai jail sambil merapatkan jacketnya.
"Kau peka sekali Kaie," Kyungsoo tersipu.
"Siapa? Beritahu aku!"
"Dia teman kuliahku, dulu dia playboy tapi sekarang dia sudah menjadi baik, namanya Se-" kenangan itu terpurus. Kepalanya berdenyut sakit
Kembali ingatan kelam itu merasuki dirinya, sebuah masa lalu yang bahagia sekaligus menyakitkan Jongin menahan air matanya. Ini yang selalu dia alami jika perasaanya sedih. Sesuatu yang dipendam lama itu menguap begitu saja. Jongin selalu berusaha bahagia karena jika dia bersedih maka hal yang buruk akan menguasainya.
"Ada apa denganku, Kyungsoo Hyung! Argggg!"
Jongin melangkahkan kakinya malas, pada jalan setapak yang tertutup salju. Kepalanya benar – benar pusing. Jika sedang stress jongin akan mengingat hal buruk walau sudah dipendam lama. Dan jika beban Jongin pergi dan dia merasa tekanan – tekanan yang dia alami menghilang. Maka semua kesedihan itu juga akan menghilang tanpa bisa ia ingat. Itulah hal aneh yang sering terjadi pada Jongin. Jongin menghentikan langkahnya saat sebuah cup milk hangat ada didepan wajahnya. Jongin mendongkak menatap orang yang memberikan cup milk itu. Senyumnya mengembang walau jongin tidak terlalu mengingat orang ini tapi dia merasa nyaman didekatnya.
"Geomao." Ujar Jongin sambil menerima cup milk itu.
"Tentu. Kenapa sendiri? Dimana Sehunmu."ujar lawan bicara. Jongin mendadak berubah sendu.
"Dia ditelpon pihak rumah sakit. Luhan kemarin jatuh, kepalanya berdarah. Dan Sehun mungkin menjadi walinya. Yah begitulah."
"Begitukah? Apa kau tahu Luhan siapa?" Jongin mengangguk. Dan Chanyeol orang itu menyerigai.
"Dia orang yang membenciku."jawab Jongin lesuh.
"Benar. Dan sekarang kau tahu Sehun yang sebenarnya, seperti apa?" Jongin mengangguk ragu.
"Dia orang yang menyayangiku dan mencintaiku tapi Luhan merebutnya." Chanyeol tertawa.
"Apa kau sedang berusaha menyimpan kesedihanmu? Bukan itu yang sebenarnya Jonginie. Apa benar kau lupa dengan Sehun yang sebenarnya? Apa karena kau sakit kau melupakan seorang Sehun yang sebenarnya. Pasti seperti itu." Chanyeol menyerigai. Dia yakin kali ini Jongin akan jatuh padanya. Chanyeol selama beberapa bulan ini selalu berusaha mendapatkan informasi sedetail mungkin tentang Jongin dan tentang masa lalunya dan dengan begitu, mudah untuknya mendapatkan titik lemah Jongin. Dia akan membuat Jongin membenci Sehun. Jika penyakit gila Jongin kembali maka dengan mudah Chanyeol membawa Jongin pergi. Karena Chanyeol tahu obat Jongin hanya satu, ketenangan. Jika dia ada didekat Sehun maka Jongin akan semakin sakit dan Chanyeol akan datang sebagai pahlawan membawa Jongin pergi dari sisi Sehun selama – lamanya.
"Kau mau menceritakanya?" ujar Jongin menatap penuh harap.
"Tentu, dengan senang hati."
Sehun bergerak gelisah. Semenjak pulang dari rumah sakit untuk menemani Luhan. Sehun tidak menemukan Jongin dimanapun bahkan Handponenya juga tertinggal di penginapan. Sekarang Sehun merasa gila. Tidak mungkin Jongin pergi secepat ini. Sehun belum siap dan tidak akan siap. Berjam – jam Sehun menatap balkon sambil melirik jalan, takut – takut ada Jongin lewat. Namun tidak Jongin tidak pernah ada. 5jam Sehun mulai frustasi. Meruntuki dirinya yang meninggalkan Jongin begitu saja.
"Jongin kau dimana? Jangan buat aku khawatir, jebbal."
"Jongin cepat pulang…."
"Aku akan mencarimu. Tunggu aku."
Drerrrrrtttttt…..
Sebelum Sehun melangkahkan kakinya keluar dari penginapan. Handponya berdering satu pesan masuk.
"Jangan khawatir Jongin bersamaku. Kami kembali keSeoul." From Chanyeol. Sehun menggeram marah dengan segera chek –out dari penginapan.
Jongin segera membawa barang – barang yang sudah ia bereskan sekitar satu jam lalu dia siapkan. Jongin ingat siapa Sehun. Ingat kenapa dia bisa bersama Sehun. Ingat siapa dia sebenarnya. Jongin ingat dia mengingatnya. Apa tujuanya selama ini Jongin ingat. Dadanya berasa sakit. Chanyeol benar dia lebih baik pergi dari pada menanggung sakit bersama Sehun. Dia tidak bisa hidup dengan Sehun orang yang telah membunuh kakaknya. Kim Kyung Soo. Jongin melihat kembali selembar foto yang mengingatkan, tujuan mengapa dia ada disisi Sehun. Jongin tersenyum miris.
.
.
"Kai hik…. Sakit… aku merasa ingin mati." Kyung Soo tertunduk air matanya mengalir. Jongin tertegun.
"Hyung, wae?"
"Sahabatku merebut cintaku. Appo Jongin…" isak Kyungsoo semakin menjadi.
"Aku sudah memberikan semua milikku padanya. Semuanya! Ottokhae?" lanjutnya
"Hyung… kau bisa melewati semua ini. Aku akan membantumu."ucap Jongin seraya memeluk Kyungsoo.
"Jangan berbuat hal aneh,Hyung. Aku ada untukmu."lirih Jongin.
.
.
.
"Apa benar dengan ini dengan kediaman Keluarga Kim?"ujar seseorang disebrang telpon.
"Iya. Ada apa?"
"Maaf aku menyampaikan berita duka. Anggota keluarga kalian, Kim Kyungsoo ditemukan gantung diri. Mayatnya ada dirumah sakit Seoul hospital kami ber-" tut tuttut…
"Tidak mungkin Hyung…."
.
.
.
Jongin mencengkram kuat selembar foto yang didalamnya terdapat foto Sehun,Kyungsoo dan Luhan yang sedang tersenyum. Air matanya mengalir lebih banyak.
"Hyung. Maafkan aku karena aku melupakan tujuanku selama ini berada disisi orang jahat itu. Aku akan membalas semua sakit hati yang kau terima. Maaf karena aku menyukainya. Tapi saat aku mengingatmu lagi Hyung. Aku sudah tak menyukainya lagi. Aku bukan Kim Jongin yang lemah aku Kai dan aku akan membalasnya. Hahahah." Jongin tertawa nista. Lalu menatap foto Sehun tajam. Sorot mata tajam itu tiba – tiba berubah sendu. Jongin mengusap lembut foto Sehun.
"tidak – tidak akan membalasnya. Sehun… mian sepertinya kita lebih baik berpisah. Seandainya dari awal aku tidak mendekatimu mungkin, Aku tidak akan terjebak dalam fikiranku yang mulai hilang kendali ini. Hikk… mianhe Sehun.." jongin menagis dan meraung. Terkadang dia benci saat menatap foto Sehun tapi kadang merasa bahagia. Jongin tidak mengerti dengan dirinya. Ada apa dengan dirinya. Kenapa pada saat yang bersamaan dia bisa berubah menjadi sosok lain. Jongin merasa dia sudah mulai gila. Apa Jongin tidak sadar dirinya benar – benar sudah diambang kegilaan.
Jongin mengusap wajahnya kasar, dia akan akhiri semuanya. Hal yang terjadi dimasa lalu biarlah masa lalu. Jongin lebih baik pergi meninggalkan semuanya. Melupakan Sehun, Kyungsoo dan Luhan. Memulai hidupnya yang baru. Jika dia tetap bertahan disini dengan bayang – banyang tiga orang itu Jongin akan kehilangan dirinya. Benar – benar kehilangan kendali atas dirinya. Jongin ingat Awalnya dirinya datang kekehidupan Sehun karena ingin membalas dendam atas kematian kakak tercintanya karena penghianatan Sehun dan Luhan. Bahkan Jongin juga sudah tahu saat Sehun kesulitan mencari tunangan bohogannya. Jongin tahu, maka dia berpura – pura menjadi seseorang yang menarik perhatian Kris bermaksud agar Kris memilihnya menjadi calon tunangan Sehun. Dan akhirnya dia berhasil melakukan itu. Namun seiring dengan waktu Jongin melupakan tujuanya, melupakan hal yang seharusnya Jongin lakukan pada Sehun. Menyakiti hati Sehun seperti Sehun menyakiti kakaknya. Akan tetapi karena hatinya jatuh pada Sehun, hal itu membuat sosok Kai menghilang dalam dirinya membuat memori buruk Jongin menghilang Juga. Jongin menjadi sosok yang baru. Sosok polos dan ceria tanpa ambisi balas dendamnya. Tak berlangsung lama semenjak Luhan dan Sehun bercinta dihadapanya. Sosok Kai keluar lebih kuat mendominasi membuat semua semakin sulit. Dan jika ada sesuatu yang memancingnya sosok Kai maka sosok tidak akan bisa hilang lagi. Maka dari itu Jongin lebih baik pergi sebelum dirinya melakukan hal yang tidak baik pada semua orang yang membuatnya gila. Apa lagi dengan keadaan dirinya yang sudah mengingat semua hal menyakitkan ini. Jongin tidak mau jadi Kai. Tapi selalu ada yang mendorongnya jadi sosok Kai. Jongin melawanya sekeras ia bisa. namun bayangan menyedihkan itu selalu bisa membuat dirinya terjatuh dalam lubang kelemahan.
Jongin menyeret kopernya, matanya sudah bengkak. Ini jalan terbaik. Dibukanya pintu kamar lalu menutupnya.
"Jongin…"
DEG
"Jongin… aku fikir kau kemana syukurlah kau baik – baik saja aku khawatir sekali. Kenapa pulang tidak menungguku dulu emm. Aku menunggumu, mencarimu Jongin…." Jongin menaha isakanya. Jongin bimbang. Sehun memeluk tubuhnya erat sambil tersenyum.
"Menyingkir,"satu kata itu mebuah hati Sehun perih.
"Kau masih marah padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?"ujar Sehun sendu. Memeluk Jongin yang sama sekali tak membalas pelukanya.
"Biarkan aku pergi. Aku akan memaafkanmu." Sehun menahan air matanya.
"Tidak," suara Sehun terdengar serak mungkin karena berusaha menahan tangis.
"Biarkan aku pergi!"Jongin mendorong tubuh Sehun keras lalu melangkah mengeret kopernya. Mata Sehun membulat melihat koper yang dibawa Jongin.
"ADA APA DENGANMU, HAH!"bentak Sehun lalu menarik tangan Jongin dan membantingnya ketembok. Jongin merintih lalu menatap tajam Sehun. Jongin tidak suka dikasari. Mata mereka saling bertatap. Sehun mengeluarkan air mata tanpa bersuara masih menatap Jongin. Jongin meremas ujung bajunya.
"Lepas."lirih Jongin. Sehun tidak bergeming masih bertahan.
"Kenapa Jongin. Apa ini karena Luhan? Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Apa kau tidak kasihan pada Luhan. Dia sakit." Jongin tersenyum sinis. Luhan sakit atau Luhan mati Jongin tidak perduli. Kupingnya sekarang terlalu sensitive mendengar nama Luhan ditelinganya. Ahhh mendengar Sehun menghawatirkan Luhan membuatnya geram.
"Sakit? Lalu dimana kau dulu saat aku sakit?"lirih Jongin. Matanya menatap Sehun sendu. Sehun menatap Jongin dalam. jebbal jangan ingatkan memori buruk itu pada Jongin jerit hati Sehun.
"Aku merawatmu Jongin." Ujar Sehun.
"Aku bukan orang bodoh yang bisa kau tololi setiap saat! Aku sudah ingat semuanya. Aku bukan Kim Jongin tolol yang bisa kau bohongi!" teriak Jongin mendarah daging.
"Mian… mianhe, sadarlah Jongin kau bisa melawan Kai. Kau Jongin yang baik, penurut dan manja."ujar Sehun sendu lalu memluk Jongin erat.
"Aku bukan peliaraanmu lagi! Lepaskan aku!" Jongin mendorong – dorong Sehun namun tetap pelukan itu tak terpisah.
"Brengsek kau! Chanyeol benar kau memang penjahat kejam, lepaskan aku. Aku bukan milikmu! Brengsekkk…" akhirnya Jongin hanya bisa menangis dan berteriak – teriak.
"Kau hanya sedang tersesat Jongin aku kan menunjukanmu jalan pulang. Maaf membuat luka lamamu kembali terbuka. Aku akan berusaha menyembuhkanmu."ujar Sehun menenangkan Jongin yang mulai brutal.
Sehun membawa Jongin yang terus memberotak kedalam kamar miliknya. Menghempaskanya lalu memenjarakan Jongin. Jongin sudah menagis terisak. Sehun mencium bibir ranum itu menyesapnya.
"Aku ingin memilikimu seutuhnya. Haruskah aku melakukan hal ini. Untuk memberitahumu bahwa kau adalah milikku?"ciuman Sehun berpindah keleher Jongin memberikan tanda dileher Jongin.
"Apa yang kau lakukanh… hikss… aku tidak mau. Lepaskan aku! Jebbal jangan! Sehun lebih emm ah kkau membunuhku, janmmf gan lakukan ini." Sehun tak menindahkan ucapan Jongin. Yang dia fikirkan adalah memiliki jongin luar dalam. semua yang ada pada Jongin adalah miliknya. Sambil menangis Sehun mengerayangi tubuh Jongin.
"Hyung. Mian aku menyerahkan miliku pada namja, iblis ini." Batin Jongin menutup matanya dengan kedua tangan, membiarkan Sehun berbuat semaunya.
"Jebbal jangan bawa Jongin dari hidupku, Tuhan."jeritan hati Sehun.
Detik demi detik jarum jam yang terdengar begitu jelas. Membuat jongin tak bergeming. Dia hanya berusaha menahan linangan air mata yang tidak hentinya mengalir. Dilihatnya Sehun yang tengah memejamkan mata. Terlihat sangat lelah. Jongin tidak mengerti kenapa semakin hari keadaan Sehun semakin memperihatinkan. Apa karena dirinya. Tapi kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Jongin rasanya sudah mulai gila. Dia tidak mungkin menyakiti Sehunkan. Sehun adalah satu satunya kini alasan Jongin hidup.
"Jo.. Jongin ah kau sudah bangun" sehun nampak kaget mendapati keadaan Jongin yang menangis seperti itu. Apa karena kejadian semalam. Demi apapun Sehun melakukan itu karena takut jongin meninggalkanya.
"Sehun? Sehuna..."lirih jongin.
"ada apa jongin? Apa kau merasa sakit." Sehun meraih jongin mendekatinya. Syukurlah kali ini jongin tidak memberontak mungkin sosok Kai sedang tidak menguasai jongin, fikir Sehun.
"Kenapa Sehun. Terlihat menyedihkan? Apa aku melukaimu."ujar jongin tangannya menggenggam kaos Sehun erat.
Semalam setelah mereka bercinta Sehun memakaikan kembali baju Jongin dan membenahi dirinya karena Sehun fikir jika Jongin terbangun dengan keadaan telajang dapat membuat keadaan bertambah buruk.
"oh mana mungkin malaikat kecilku. Membuatku terluka. Emm." balas sehun seraya memeluk Jongin erat."Jongin ah. Tetaplah menjadi Jongin."Batin Sehun memohon.
jongin termenung didekat jendela kamarnya. Sedangkan Sehun sedang membersihkan tubuhnya. Jongin menatap handphonenya yang tidak henti berdering dengan nama penelepon yang sama "Park Chanyeol" entah mengapa dia enggan untuk mengangkat panggilan ini. Perasaannya benar - benar tidak enak. Tapi kenapa orang ini menghubunginya terus lebih dari 17 kali panggilan yang semuanya di abaikan Jongin. Jongin fikir nama ini tidak asing. Jongin nyakin dia berteman dekat.
"Chanyeol. Park Chanyeol." gumannya pelan. Sial. Ingatannya beberapa hari ini buruk sekali. Bahkan dia tidak ingat apa yang di lakukanya beberapa hari kebelakang. Maka dari itu Jongin kaget melihat Sehun seperti itu.
"Chan..." sebuah pesan di terima oleh Jongin dari orang yang sama Park Chanyeol. Seketika gengaman tangannya mengeras seperti ingin menghancurkan handphonenya, setelah menerima pesan dari Chanyeol kini Jongin tau siapa Chanyeol. Melirik tajam kembali hanphonenya.
"Terima kasih telah mengingatkanku." balas Jongin.
.
.
.
Luhan memilah beberapa buah - buahan segar ditangannya. Hari ini Luhan berencana untuk bertemu dengan Sehun untuk berterima kasih dan meminta maaf pada Jongin dan berjanji akan pergi dari kehidupan mereka. Luhan sadar bahwa kini mungkin tidak ada sedikitpun perasaan Sehun untuknya. Jadi untuk apa lagi Luhan menetap di Seoul.
"Semogga semua berjalan dengan semestinya." harap Luhan. Matanya menatap jauh ke atas awan. Dengan langkah pasti menuju apartement Sehun dan Jongin.
.
.
.
Jongin masih diam saat Sehun selesai dengan kegiatannya. Sehun tentu merasa khawatir karena perubahan sikap Jongin yang tiba -tiba seperti itu. Sehun hanya bisa diam saat Jongin tidak sedikitpun menghiraukan keberadaanya. Ada sesuatu yang salah fikir Sehun kalut.
" Jongin ah...?"
"..."
" sayang... Apa yang kau fikirkan hmmm." sehun mencoba mendekatkan dirinya dihadapan Jongin yang menatapnya tajam.
"katakan apa kesalahanku. Aku berjanji akan akan-" suara nyaring bel berbunyi. Menghentikan percakapan mereka. Tapi Sehun tetaplah Sehun yang egois dan tidak perduli selain apa yang dia butuhkan.
"Jongin tatap aku. Jangan membuang wajahmu saat aku berbicara denganmu."tegas Sehun. Namun toh Jongin juga tidak perduli dengan manusia jahat seperti Sehun.
"Jongin aku ingin tau apa yang mengganggu katakan! Kau tidak bungkam seperti ini!" Suara Sehun hampir terdengar seperti bentakan yang tertahan. Ada sedikit rasa iba dalam diri Jongin terhadap reaksi frustasi Sehun. Tapi jongin tidak bisa berbuat apapun.
"apa kau tuli. Ada seseorang diluar. Bunyi bel itu membuatku gila." Sehun menghembuskan nafas berat. Sebelum membuka pintu Sehun memeluk Jongin terlebih dulu.
"Entah kenapa walaupun kau ada disisiku. Aku selalu merindukanmu. Jongin ah. Aku mencintaimu. Lebih dari hidupku." setelah itu Sehun membawa Jongin ketempat makan. Diatas tempat makam itu Sehun sudah menyiapkan makanan kesukaan Jongin. Jongin hanya melirik sekilas makanan tersebut sambil mendudukan dirinya disana. Sehun tanpa banyak bicara beranjak pergi untuk melihat tamu yang datang.
.
.
.
"lu? Apa yang membawamu kemari." Sehun tentu kaget dengan kedatangan Luhan secara mendadak ke apartementnya. Dokter juga bilang waktu itu jika kondisi Luhan sangat lemah lalu apa yang membawa Luhan untuk menemuinya.
"aku ingin memberikan ini padamu. Dan mmmm mungkin berpamitan untuk pergi aku. Aku akan meneruskan hidupku kembali di China. Semogga hidupmu bahagia. Ne, sebenarnya aku menyesal, jika waktu itu aku tidak memilih karirku mungkin kau-" Luhan menahan isakannya. Seandainya hanya seandanya dia lebih dewasa untuk memilih mungkin Sehun masih bersamanya masih disampingnya masih sebagai mataharinya. Dia bodoh membiarkan Sehun pergi. Bodoh. Sehun yang melihat Luhan bersedih juga ikut merasa bersalah. Tapi nasi telah menjadi bubur. Sehun tidak akan kembali pada Luhan dan membiarkan Jongin pergi. Tidak tidak akan membiarkan Jongin pergi. Bahkan jika Jongin menderita karenanya Sehun tidak bisa melepasnya. Karena Jongin itu hidupnya.
"Jika itu yang terbaik untuk kita berdua. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. terima kasih dan selamat tinggal. Maaf aku tidak bisa mempertemukanmu dengan Jongin. Karena-"
"ahaha... Aku mengerti aku pergi"potong Luhan. Lalu membalik arah membelakangi Sehun. Berat, rasanya sangat berat untuk meninggalkan Sehun pria yang mewarnai hidupnya. Rasanya Luhan ingin berteriak kalau dia tidak bisa pergi. Tapi Sehun bahkan tidak menahanya sedikitpun. Jadi sebagai perpisahan terakhir luhan tidak bisa menahan untuk berbalik dan memeluk pria yang dikasihaninya untuk yang terakhir. Sehun yang mendapatkan pelukan Luhan hanya bisa memaklumi pria sok tegar ini. Karena bagaimanapun Sehun pernah menjadi bagian hidup luhan. Jadi Sehun tau benar bagaimanau perasaan pria ini. Sehun hanya bisa menenangkan Luhan dengan membalas pelukanya dan tidak bisa membalas lebih. Maaf.
"apa tidak sebaiknya Luhan sii. Ikut bergabung bersama kita Sehunna. Kurasa kita masih punya satu porsi nasi lagi."
DEGGGGGGGGGGG jengjrengggggggggg
Sehun melepas pelukanya saat suara dingin Jongin menyapa gendang telinganya. Sementara Luhan berusaha mencairkan keadaan. Dengan meminta maaf dan menjelaskan kedatangannya menemui Sehun. Tapi jongin yang sudah seperti ini mana mau dibantah. Dengan terpaksa Luhan mengikuti kemauan Jongin untuk makan malam bersama. Semetara Sehun hanya menuruti semua keinginan Jongin. Walaupun hatinya resah. Sehun hanya bisa berdoa agar tidak terjadi apapun yang buruk.
"Oh jadi kau ingin pergi. Wae? Kau disini saja. Temani Sehunimu itu." setelah sekian lama dalam keadaan tegang dan canggung. Jongin akhirnya mengatakan pendapatnya perihal akan perginya luhan dari hidup Sehun. Sehun yang mendengar perkataan Jongin. Menatap kecewa dan marah pada Jongin yang di tanggapi biasa oleh Jongin.
"kenapa kau menatapku begitu?ada yang salah?" lanjut Jongin mematap balik Sehun.
"Seharuanya kau tidak berbicara seperti itu Jongin sii. Dia memperjuangkammu. Karena dia sangat mencintaimu." balas Luhan tidak terima.
" kalian berdua juga saling mencintai. Lalu kenapa harus ada yang disingkirkan sekarang." balas Jongin. Terselip nada marah disana.
"aku tidak meyingkirkan siapapun."
" lalu apa Sehun? Kau membuangnya begitu?"
"Sudah Cukup Jongin sii. Kau ketelaluan." Luhan yang terlihat membela Sehun membuat Jongin merasa geli, omong kosong apa ini.
" Benarkah? Ku fikir kalian berdua yang brengsek." Jongin menatap Sehun yang juga menatapnya. Suasana sudah tidak bisa dikatakan baik.
"ini tidak akan berhasil. Lu, sebaiknya kau pulang." perintah Sehun tanpa melepas tatapannya dari Jongin. Sehun tau dia sedang berhadapan dengan altar ego Jongin. Kai.
"Tidak ada yang boleh pergi. Sebelum makananya habis. Kau harus menghabiskanya. Luhan sii karena kita semua butuh tenaga."
Sehun hanya bisa menuruti keinginan Jongin begitu pula Luhan. Sehun tidak tau lagi cara menghadapi Jongin yang seperti ini.
"Oh Sehun. Bagaimana kalau kita bertiga merayakan pembuangan Luhan sii malam ini. Hahah pasti menyenangkan bahagia di atas tangisanya iyakan. Kau mau tubuhkukan" ujar Jongin disertai kikikan geli terlihat sangat bahagia.
"berhenti jongin." lirih Sehun. Sementara Luhan hanya mengepalkan tanganya.
"oh oh aku tau.. Bagaimana kalau kita bercinta sekarang biar Luhan melihat betapa bahagianya kita. Kalau dia pergi dari hidup kita. Hahah aku bahagia sekali.
"Cukup Kim Jongin!" betak Sehun mendarah daging. Sehun bahkan menggebrak meja sementara Luhan menangis. Jongin menatap lelehan air minum yang tumpah dan gelas - gelas yang berserakan karena gebrakan Sehun yang sangat keras. Darahnya serasa naik sampai ubun - ubun.
"wow kau menangis. Pria sempurna sepertimu. Haha harga dirimu sedang terluka eoh. Aku senang kalau begitu. Hey Luhan lihat Sepertinya Sehunimu sedang membelamu. Apa kau bahagia?" kembali Jongin memberikan serangan.
"Apa masalahmu. Dasar kau! Kau bahkan tidak pantas bersanding dengan Sehun. Kau benar - bemar pria yang tidak tau terima kasih." marah Luhan menarap murka Jongin.
"kau fikit kau pantas bersanding dengannya?"tanya Jongin.
"cukup Jongin. Kau lelah."Sehun berusaha melerai dia tidak mau percakapan ini dilanjutkan karena Sehun nyakin ini akan membawa hal buruk bagi semuanya.
"kalau kau merasa pantas. Ambil saja dia,, aku tidak sudi dan tidak pernah untuk ingin bersanding dengannya." tunjuk Jongin. Luhan menatap tak percaya pada Jongin.
"Aarrrggghh lepaskan tanganku brengsekkk!" Jongin meronta parah saat Sehun menggenggam tangannya dan membawanya pergi.
"Lu. Pergilah." ucap Sehun. Namun sebelum Luhan melangkahkan kakinya keluar suara benturan terdengar cukup keras membuat Luhan kembali menghampiri Sehun dan Jongin. Disana Luhan dapat melihat Jongin yang sedang mengacungkan pisau kehadapan Sehun yang berusaha menenangkan Jongin. Luhan berlari menghampiri Sehun dan Jongin yang beradu cekcok.
"kau gila Kim Jongin. Simpan pisau itu." berang Luhan. Matanya melotot murka.
"kau fikir siapa yang membuatku seperti ini! Kalian! Kalian berdua yang membuatku seperti ini." tunjuk jongin dengan pisaunya ke arah Luhan dan Sehun. Matanya sudah memerah dan siap mengeluarkan air mata. Sehun terenyuh melihat mata Jongin yang berkaca - kaca.
" Jongin sayang. Mianhe... aku minta maaf. Aku."
"Maaf kau bilang! Semudah itu. Kata - kata maafmu tidak akan membuat kakak ku hidup kembali kau tau bajingan." Sehun menggelang tidak mengerti maksud Jongin. Tapi yang bisa Sehun lakukanya hanya meminta pengampunan pada Jongin.
"Berhenti meminta maaf! Kalian berdua pembunuh. Kalian pantas mati!"
"Namja gila. Kau yang pantas mati. Pergi saja keneraka kau!"teriak Luhan.
"Jaga ucapanmu. Xi luhan!" bentak Sehun.
"Tapi Sehun dia sudah...'
"neraka?" jongin terkikik geli. Lalu tertawa seperti orang gila.
"Kalian yang pantas menempati neraka. Kau ingat ini!"Jongin menunjukan sebuah foto usang lalu melemparkan handponenya ke lantai hampir menyentuh kaki Sehun. Sehun membungkuk mengambil ponsel yang sedikit retak. Seketika wajahnya menegang begitu juga Luhan yang nampak sangat kaget.
"Kenapa kau memiliki foto D.O.?" Sehun bertanya gugup. Sedangkan Jongin semakin mengeratkan pegangannya pada pisau.
"Kau fikir kenapa aku ada disinih hah!Aku ingin membalaskan dendamku. Atas kematian hidupku. Karena kalian. Hyung bunuh diri karena kalian keluargaku hancur karena kalian aku seperti ini puas kalian hah!" emosi Jongin kian memuncak. Air matanya tidak bisa ia bendung. Lagi sekarang puncaknya. Sekarang adalah saat yang tepat untuk membalas semua yang di lakukan Sehun dan Luhan terhadap Kakaknya.
"Jongin aku minta maaf. Aku waktu itu..." parau Luhan
"Setelah kau menyetubuhi kakakku kau meninggalkanya. Kau membuangnya seperti sampah. Kau tidak tau betapa sakitnya dia. Hah! Kau harus merasakan apa yang kakakku rasakan kau harus menerima kesakitan yang sama. Dan kau Luhan kau peria picik. Tega - teganya kau menghancurkan hidup sahabatmu sendiri hah. Aku benci kalian berdua sampai aku ingin mati. Aku ingin kalian merasakan penderitaan yang sama seperti hyung!" Sehun memandang Jongin sedih.
"Jongin tenanglah. Aku akan menjelaskan semuanya. Kumohon." ujar Sehun sambil mendekati Jongin yang menatap tajam padanya.
"Jongin sudah mati!KAU MENGERTI!" betak Jongin mendarah daging.
Greppp
Sehun berhasil menangkap Jongin dalam pelukannya. Sementara Jongin masih berusaha melepaskan diri dari Sehun.
"Tenanglah jongin. Maafkan aku, aku tidak pernah tau jongin. Aku tidak pernah melihat DO setelah aku dan Luhan. "
"Lepaskan!" berontak Jongin.
Streeet
akhirnya pisau yang Jongin pegang sedari tadi berhasil melukai bahu Sehun. Dan otomatis membuat rengkuhan Sehun terlepas. Luhan yang melihat Sehun terluka segera menolong Sehun dengan mendorong Jongin sehingga pisau yang dipegangnya terlepas dan jongin terjatuh dengan punggung menghantam keras ujung meja. Jongin hanya bisa meringis kesakitan. Sehun tentu segera menolong Jongin tanpa menghiraukan luka pada bahu dan tangannya.
"Jongin sayang maaf.. Maaf seharusnya aku bisa melindungimu maaf." ujar Sehun lalu membantu Jongin yang masih merintih.
"Menyingkir dariku." Jongin mendorong Sehun.
"Jongin. Kumohon aku tidak tau jika kakakmu kyungsoo adalah D.o aku." jongin menatap nyalang Sehun.
"Jangan pernah mengatakan nama kakaku. Pria bejat sepertimu mau apa jika kau tau DO adalah kakakku hah! Kau mau menghidupkannya lagi. Jangan pernah meminta maaf karena sampai mati, ,aku tidak akan memaafkanmu." Sehun menatap terluka pada Jongin. Dia sangat terpukul. Kejadia bodoh itu dia tidak menyangka akan membuat hidup seseorang sehancur ini.
Flashback
"kenapa namja playboy tampan sepertimu mau dekat dekat dengan namja cupu sepertiku." ujar Kyungsoo namun orang-orang lebih mengenalnya dengan D.O. Sehun tersenyum kecil
"Karena hatiku mengiginkanmu." jawab Sehun. Membuat D.O tersipu.
...
"Dia Luhan temankuu dari China. Dia juga seorang model. Sebenarnya kami sudah bersahabat dari kecil tapi dia sedang mengejar karir sebagai aktris dan film yang di bintanginya kebetulan akan di selenggarakan disini. Oh iya Luhan juga akan meneruskan studynya disini."Jelas D.O pada Sehun yang heran melihat D.O bersama seorang peria manis akhir - akhir ini.
"oh begitu. Dia manis." ujar Sehun.
"iya dia pintar, cantik dan sempurna." balas D.O
"tapi kau tetap yang terbaik." D.O kembali tersipu. Dan malam itu entah setan dari mana membuat D.O memberikan harta berharganya untuk Sehun.
...
Prangggg
D.o memantung melihat Sehun sedang bercinta dengan Luhan. Sehun nampak menyerigai kepadanya begitu juga Luhan yang so polos. Pegangan D.o pada handle pintu mengencang dengan air mata yang perlahan lolos dari binnernya.
"wae?" lirih D.o terisak.
"karena kau hanya menjadi bahan percobaanku saja. Kau tau aku ini playboy. Aku hanya ingin mencoba memacari pria polos sepertimu dan aku merasa bosan sekarang. Untung saja kau mengenalkanku pada Luhan sahabatmu. Aku fikir aku telah mendapatkan tambatan hati yang sebenarnya. For your information kau bukan satu - satunya yang aku campakan jadi jadi jalani hidupmu lebih baik lagi ne." Sehun menyerigai.
"D.o mianhe aku. Tidak bermaksud begini. Hanya saja aku tidak memiliki pilihan lain. Aku mencintai Sehun dan sebagai sahabat yang baik restui kami ne. Maaf sebelumnya kau adalah sahabat terbaikku." entah kenapa Luhan menitikan air mata.
"tidak apa aku memaafkan kalian berdua. Selamat tinggal."
flashback and
Setelah hari itu Sehun tidak pernah mendapati sosok D.o lagi. Lelaki itu menghilang seperti angin cepat dan tak terlihat. Sehun fikir D.o tidak akan melakukan sesuatu yamg nekat karena Sehun tau D.o adalah lelaki yang pintar dan tidak berfikiran sempit. Lagi pula kehidupan Sehun memang seperti itu. Dia sudah terbiasa mencampakan orang. Saat D.o pergi Sehun merasa semuanya berjalan seperti biasa tanpa tau bahwa dia telah memghancurkan semuanya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku. Jongin ah?" lirih Sehun lalu mendekati Jongin yang masih terduduk didekat meja makan sementara Luhan diam - diam menulis pesan pada Lay dan Kris untuk segera datang ke apartemn Sehun. Tanpa tau bahwa sebenarnya Kris dan Lay sedang dalam perjalanan menuju apartemen Sehun.
"apa yang harus aku lakukan agar aku bisa membuatmu bahagia. Karena aku kau menderita maaf." Sehun menatap dalam mata kelam Jongin yang berkaca - kaca. Lalu tangan Sehun mengapai pipi jongin dan mengusap - ngusapnya lembut. Itu membuat Jongin tiba - tiba terisak.
"sssstt jangan menangis lagi."ujar Sehun menenangkan. Tangisan itu semakin menjadi saat memori buruk itu datang lagi.
" kai... Apa yang harus hyung lakukan."
"sssstt jangan memangis lagi."
"bantu hyung menghadapi rasa sakit ini."
"apa yang harus kulakukan hyung?"
"Aku ingin mati kai."
Brugg...
Jongin mendorong Sehun dan menindihnya. Sehun hanya bisa meringis lalu menatap Jongin sendu. Tangan Jongin mencengkram leher Sehun kuat. Tapi Sehun membiarkanya. Toh untuk apa dia hidup jika dalam kebencian Jongin.
"Jonginah..." panggil Sehun pelan matanya sudah memerah.
"Kau tau yang aku inginkan? kau tau yang aku mau? yang membuatku bahagia. Adalah kau mati. Kau harus mati. Karena alasanku masuk kedalam hidupmu adalah agar kau mati."
"Jonginnah"ujar Sehun dengan lemah karena cengkraman jongin cukup kuat. Luhan yang melihat itu berusaha memisahkan Jongin dari Sehun. Namun kalah cepat dengan Jongin yang meraih pisaunya dan berhasil melukai tangan Luhan dan mendorongnya menjauh. Jongin mengarahkan pisau itu kehati Sehun. Sehun masih terbatuk karena cengkraman jongin terlepas. Tanganya berusaha meraih wajah Jongin lalu Sehun tersenyum.
"Jika ini bisa membuatmu senang dan memaafkanku aku rela kau bunuh." Sehun mengarahkan pisau Jongin tepat dijantungnya dan nyaris menempel dikulitnya. Jongin sudah gelap mata. Dia mencengkram pisau dengan erat dan siap menusuk Sehun. Namun air mata Sehun membuat hatinya berdesir ngilu. Senyum pahit Sehun membuatnya gemetar. Elusan lembut dipipinya membuat dia menangis.
"Aku mencintaimu Jongin. Dengan sangat." Jongin sudah sesegukan namun masih mempertahankan pisaunya. Air matanya mengalir mengenai wajah Sehun.
"JONGIN JANGAN!" teriak Lay dan Kris segera membatu Luhan yang tak berdaya. Jongin tersenyum ke arah Sehun yang masih menatapnya pasrah.
"Lakukanlah Jongin."suara Sehun kembali menyapanya.
"Aku tidak ingin menjadi Kai lagi... Ku harap kau tenang setelah ini karena tidak akan ada yang mrngusikmu lagi. Selamat tinggal Sehun." Sehun enggan menutup matanya. Walau kematian tepat di depan matanya. Iya ingin terakhir dihidupnya adalah melihat Jongin.
JLEBBB
Mata Sehun mebulat tanganya bergetar hebat. Nafas Sehun tertahan. Luhan dan yang lain melihat tidak percaya atas tindakan Jongin.
"Maaf Sehuna..." air mata terus menyeruak dari kedua matanya.
"Tidak Jongin. Tidak kenapa kau lakukan ini. Tidak kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini Jongin bangun arggghh" Sehun mengerang frustasi air matanya mengalir deras. Iya Jongin memilih untuk membunuh dirinya. Karena Sehun adalah hidupnya bukan. Karena dia tidak ingin membunuh mataharinya Oh Sehun manusia tampan Kesayangnya. Tapi Jongin juga lupa kalau dirinya adalah nafas Sehun. Jongin harusnya mengerti jika kini Sehun tidak bisa bernafas lagi.
"Jongin jebbal bangunlah hikhik..." Raung Sehun memeluk erat Jongin. Dia tidak akan melepaskan Jongin. Tidak
"Argggghh."
2 Tahun kemudian
"Dia masih menunggunya disana?" Nada prihatin terdengar menyedihkan.
"Dia akan terus menunggu disana," balas kekasihnya.
"Apa tempat ini pertama kalinya kau bertemu Jongin."
"hmm. Pemberhentian bus, Diamon Club. Yeah. Si polos Jongin."
"Aku merindukanya kris hikhik..."
"kita semua merindukanya. Lihat salju akan turun. Lebih baik kita jemput Sehun dia pasti kedinginan menunggu Jongin." Kris membenarkan syal Lay. Lalu beranjak menemui Sehun yang terduduk sambil mengesekan ujung sepatunya pada dasar tempatnya berpijak.
"Sudah malam. Lebih baik kita pulang." Ujar Kris. Sehun menggelang pelan.
"Kau bisa sakit. Jika kau seperti ini terus kasihan kedua orang tuamu. Ibumu selalu ayo pulang." ajak Lay sambil memakaikan syalnya pada Sehun. Sahabat kecilnya yang malang.
"Dia akan datang ini adalah malam dimana aku bertemu denganya." lirik Sehun. Kris menggeram marah.
"Cukup Sehun. Jongin tidak akan datang. Dia sudah memutuskan untuk pergi."
"Dia pergi karena aku tidak menahanya."liquid itu mengalir. Hembusan nafasnya mulai tidak teratur karena menahan tangis. Lay memberikan bahunya untuk Sehun. Dan yang bisa di dengar dipemberhentian bus sepi itu hanya suara tangis Sehun.
Sehun sudah melakukam kegiatan menunggu Jongin setelah 1 minggu kepergian Jongin. Jongin sempat dirawat dirumah sakit selama satu bulan. Dan mengalami pemulihat yang cepat. Sehun tentu sangat senang dengan berita itu. Jongin bahkan sudah sadar dari komanya. Namun saat kesadaran Jongin mulai membaik. Perubahan itupun terjadi. Jongin lebih sering melamun. Lalu menangis. Dokter bilang Jongin terkena frustasi akut dan menyarankan Jongin untuk melakukan perawatan intensif. Dokter juga membenarkan saran untuk membuat Jongin merasa nyaman dengan menjauhkan orang - orang yang membuatnya tertekan. Maka Sehun harus rela menjauhkan dirinya dari Jongin, karena setiap berhadapan dengan Sehun, Jongin selalu terlihat gelisah dan murung. Tapi sehun tetap Sehun yang egois. Dia tetap kekeh dengan apa yang dia kehendaki. Bahwa dia tidak akan pernah berada jauh dari Jongin, bahwa dia bisa menyembuhkan Jongin. Namun kejadian yang tidak diinginkanpun terjadi. Jongin menghilang dan sampai detik ini Jongin tidak pernah kembali. Hal ini membawa dampak buruk untuk Sehun tentu saja. Semua orang telah menyerah menangani Sehun termasuk kedua orang tuannya.
Terlalu muda terlalu bodoh tuk kusadari
Bahwa dulu seharusnya aku membelikanmu bunga dan kugenggam tanganmu
Harusnya aku berikan waktuku saat ada kesempatan
Mengajakmu kesetiap tempat
Karena yang ingin kau lakukan hanya tertawa
4 tahun kemudian.
"Semua bebanmu, perjuanganmu selama ini. Kuharap tidak membawa kesia - siaan semata. Aku telah melihatmu bertahun - tahun memperjuangkan diri. Agar tetap hidup. Kuharap kau mampu untuk menghadapinya. Oke."tawa renyah terdengar menenangkan Jongin yang masih gugup.
"Aku haraf begitu. Hyung terima kasih telah merawatku sampai akhir. Terima kasih menarikku dari kenestafaan hidup. Terima kasih menemukanku yang terlunta lunta dan menyembuhkanku, aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk menebus semua kebaikanmu."
"Jujur aku kecewa tidak bisa merebut . hal yang ku inginkan adalah membahagiakanmu. Maka jika kau ingin membalas jasaku. berbahagialah"
"Hyung." maafkan aku.
"tapi aku senang jika itu bisa membuatmu bahagia. Diantara semua kesedihanmu. Aku bisa menjadi seseorang yang kau butuhkan untuk bersandar."Senyum tulus tersemat disana.
"Chan-" Chanyeol memeluk Jongin erat. Menghirup aroma Jongin dalam.
"Ingat ini bukan pertemuan terakhir kita. Jadi saat kita bertemu kembali kuharaf hal pertama yang kulihat adalah senyummu. Sampai Jumpa Jongin."Chanyeol menyelipkan kertas dan melepas pelukanya. Pesawat Jongin sebentar lagi akan lepas landas.
"sampai bertemu lagi kim. Good strong man like u must be happy." ujar Chanyeol seraya melambaikan tangan. Jongin membalas lambayan Chanyeol dan untuk kesekian kalinya mengatakan terima kasih. Selamat tinggal Amerika selamat tinggal , Washington, D.C. Selamat tinggal, Chanyeol. Jongin pasti merindukan semuanya.
Setelah mendudukan dirinya. Jongin menarik nafas dalam perjalanannya pasti sangat melelahkan. Tanganya mengambil selembar kertas yang Chanyeol selipkan dan membacanya perlahan.
"Jongin ini demi kebaikanmu. Aku tidak memberitahukanmu karena aku fikir itu hanya akan menghambat penyembuhanmu. Dokter Clara sebagai Fisikiatermupun melarang begitupula dengan Mr. Mark fisikiologmupun sama. Aku minta maaf sebesarnya padamu. Park Chanyeol seseorang yang menyayangimu."
Ps: Gonjiam Hospital pergilah kesana.
Jongin meremas kertas itu. Dia tau ada sesuatu yang tidak beres beberapa bulan yang lalu saat Chanyeol pulang dari Korea tanpa memberitahunya. Tapi kenapa harus rumah sakit Gonjiam kenapa?
.
.
.
Jongin menghela nafas gusar saat pertama kali menapakan kaki dirumah sakit ini. Banyak orang - orang yang menatapnya lalu tertawa tawa. Ada juga yang memainkan boneka, sebagian lagi berlarian dan berteriak. Pasien disini Jongin tidak tau bagaimana perasaan mereka. Yang jelas sesikit lagi hidupnya akan seperti mereka jika Chanyeol tidak menolongnya. Rumah sakit jiwa ini benar - benar membuatnya takut.
"Jongin?" lirih seseorang. Jongin menatapnya terkejut
"Katakan jika ini bukan mimpi" orang itu memdekat lalu memeluknya erat dan mengucapkan kata terimakasih berulang - ulang.
"Lay hyung sedang apa disini?" tanya Jongin kaku.
"Jongin. Kau mau minum?"
"Hyung?" Jongin meminta penjelasan namun Jongin tau ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.
"Jongin sebaiknya kita pergi mencari sesuatu. Aku kangen sekali denganmu ada banyak hal yang ingkin aku ceritakan." kelit Lay gugup.
"Jawab pertanyaanku sebelum aku pergi."
"okey. Okey aku menemui Sehun dia salah satu pasien disini." Lay menunduk dalam
"Apa yang apa aku tida-"
"Dia sudah lama menjadi pasien disini. Semenjak 4 tahun yang lalu. Aku tidak tau harus menyalahkan siapa. Aku tau kau korban disini. Aku tidak ingin melibatkanmu lagi mengenai Sehun. Kau terlihat lebih baik kali ini dan begitu pula seharusnya dikehidupanmu yang sekarang harus jadi lebih baikkan. Aku tidak mau kau bertemu lagi dengan Sehun. Aku tidak ingin kau kembali seperti dulu. Walaupun Sehun mungkin," lay tidak tahan untuk membuka suaranya. Sakit sekali rasanya tapi dia tidak mungkin memaksa Jongin untuk kembali pada Sehunkan."Sehun pasti bisa melewati semua ini, sebentar lagi dia pasti sembuh. Hahah" lanjut Lay. Tapi Jongin menunjukan reaksi berbeda. Matanya sudah berair.
"Ada apa dengan Sehun?" Matanya menatap Lay pedih.
"Dia baik - baik saja. Sebaiknya kau pulang sebelum Sehun melihatmu."
"Kumahon apa yang terjadi dengan Sehun." desak Jongin.
"Kumohon jangan memaksaku. Dia." suara Lay yang terisak membuat Jongin makin bingung.
"Dia gila Jongin,Sehun yang malang. Dia... Semua orang sudah menyerah dia membutuhkanmu. Tapi aku tidak mau memaksamu. Aku tidak mau membuatmu terluka. Aku tidak mau menekanmu untuk beada disisi orang yang kau benci. Lihat dirimu yang sekarang sungguh manis, jalani hidup berbahagialah jangan melihat kebelakang lagi kali ini. "nafas Jongin tercekat. Jadi orang yang dimaksud Chanyeol adalah Sehun. Ini mimpi buruk. Separah apa Sehun sampai sampai membuat lay menghalanginya bertemu Sehun. Dia kembali hanya untuk Sehun dia bertahan dari semuanya karena Sehun. Tapi dia pula yang membuat mataharinya kehilangan sinar.
.
.
.
"itu Sehun. Kau nyakin ingin menemuinya? Jika terpaksa sebaiknya jangan." tunjuk Lay pada Jongin."Dia selalu disana dari pagi buta sampai malam. Sebelum kami memasukanya kemari Sehun selalu menunggumu dipemberhentian bis. Tempat kalian bertemu untuk pertama kali. Bangku taman itu mungkin memgingatkanya dengan bangku halte. Entahlah Sehun selalu disana dan memperhatikan ikan ikan di kolam itu. Dia tidak pernah kemana - mana hanya menunggu disana."lanjut lay Jongin menatap Lay berkaca – kaca, ada rasa sakit yang menghantap hatinya. Setelah Lay memberikan pilihan, Jongin dengan pasti menghampiri Sehun yang membelakanginya. Jongin mendudukan dirinya disebelah Sehun yang tidak bergeming. Wajahnya bertambah tirus kulitnya Putih. Tubuhnya semakin mengurus. Mata Sehun juga meredup.
"Hey Oh Sehun apa kau menungguku terlalu lama? Kau tau sedikitpun tidak ada alasan untuk meninggalkanmu. Aku harus mengobati diriku yang gila ini. Maaf sungguh maaf membuatmu seperti ini. Sehun maafkan aku hikhikh."Sehun memalingkan mukanya. Menatap tidak percaya apa yang dilihatnya. Cukup lama Sehun memamdangi wajah Jongin. Oh tidak Sehun tidak Suka melihat Jongin menangis.
"iya,terlalu lama." parau Sehun. Terdengar penuh kesakitan. Lalu air mata Sehun berlinang begitu saja.
"terlalu lama sampai rasanya mau mati." suara Sehun semalin merendah. Jongin yang tidak tahanpun segera memeluk Sehun.
"Maafkan aku Sehunna maaf kan aku..." isak Jongin.
"Terima kasih untuk datang dan menyelamatkan Jongin. Kau tau aku sudah tidak kuat menanggung semua ini. Sakit sekali Jongin. Sakit sekali."tutur Sehun lalu ikut menangis.
"Kau maukan pulang bersamaku."
"Aku mau Jongin jebbal bawa aku." jawab Sehun disertai air matanya.
"Aku akan menyembuhkanmu. Jangan menangis lagi."Ucap Jongin hanya di anggukan lemah Sehun sebagai balasanya.
" Jonginah?" suara serak Sehun menyapa Jongin. Membuat Jongin melepas pelukanya dan menatap mata kelam Sehun.
"Iya Sehun?"Sehun mengelus pipi Jongin pelan.
"Meski sakit rasanya. Aku yang akan akui bahwa aku salah. Mungkin terlalu terlambat bagiku, tuk mencoba dan meminta maaf atas salahku," Jongin menarik nafas menunggu Sehun melanjukan perkatanya.
"Tapi aku hanya ingin kau tahu, kuharap aku bisa membelikanmu apapun yang kau mau, kuharap aku bisa selalu menggenggam tanganmu, memberi seluruh waktuku saat kau membutuhkanku," air mata Sehun mengalir.
"Mengajakmu kesemua tempat yang kau inginkan, karena aku tahu yang kau inginkan hanya tertawa dan menari. Ak Aku mencintaimu. Tolong jangan tinggalkan pria egois, kejam sepertiku lagi, kumohon" Sehun berlutut menenggelamkan wajahnya pada perut hangat Jongin dengan derai air mata.
"Aku juga Sehun aku juga mencintaimu, aku berjanji pada diriku akan membawamu dari kesedihan ini, maafkan aku. Maaf membuatmu sehancur ini." Kris yang tiba tiba sudah di sisi Lay tersenyum cerah sambil mengeratkan pelukanya pada Lay yang menangis terharus melihat Jongin dan Sehun. Pasangan menyedihkan itu akhirnya bisa bersatu.
Sore itu Jongin dan Sehun menghabiskanya dengan berbagi kehangatan yang diciptakan dari pelukan erat mereka.
Yeyyeeyyey AND please review kalau kalian review dan banyak aku bakal up date cerita aku yang lain hahah
