Chapter 2
.
.
.
.
.
Jongin berlari kesetanan disepanjang koridor sekolah. Beberapa kali tubuhnya menabrak tubuh siswa-siswi yang ia lewati. Maklum saja bel pulang sekolah baru saja berbunyi, sudah dipastikan para siswa masih memenuhi area koridor kelas. Tak peduli akan jadi apa dia nanti karena menabrak tubuh orang lain dan tetap berlari tanpa meminta maaf terlebih dahulu.
Terlihat sesekali kakinya menendang sambil berlari. Tangannya juga tak bisa tinggal diam. Tembok sekeras apapun yang ia ingin hajar akan dipukulnya dengan kuat.
/
"Jongup mengerjai seorang anak tingkat satu di toilet lantai 3"
"Kudengar ia dikunci disalah satu bilik, dan aku dengar ada seseorang yang mendengar suara guyuran air yang sangat keras"
"Mungkin dengan timba besar"
"Kalau tidak salah namanya Kim Sehun"
"Teman sekelasnya sendiri yang bilang Jongup mengikutinya ke toilet"
/
"Aku benar-benar akan menghabisimu, Jongup!"
Krakk
Suara benturan antara tulang jari dan tembok itu terdengar begitu mengerikan membuat siapa saja diam membeku mendengarnya.
Jongin terus saja berlari tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. Keringat bercucuran dari pelipisnya. Tangannya mengepal kuat dan semakin mempercepat laju larinya. Tak menghiraukan berapa puluh anak tangga yang ia naiki. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana keadaan Sehun yang mungkin saja benar terguyur oleh air dingin di udara sedingin ini.
Disana.
Jongin telah sampai pada anak tangga terakhir menuju lantai 3. Disana ia bisa lihat beberapa siswa yang berkumpul didepan toilet untuk melihat apa yang terjadi tanpa ingin masuk kedalamnya. Mereka hanya berani melongokkan kepala mereka.
Jongin sampai pada tujuannya dengan nafas yang tersengal hampir tercekat. Para siswa yang ada disana memandang aneh kedatangan Jongin. Mereka hanya berpikir, apa yang dilakukan murid populer seperti Jongin ditempat ini? Apa hanya ingin buang air? Kalaupun iya, ia bisa saja menggunakan toilet lantai bawah. Atau ia datang kesini untuk melihat kejadian ini? Untuk apa repot-repot melihat?
Jongin memandang satu-satu wajah yang ada disana. Dan entah angin dari mana membuat mereka secara bersamaan memberi jalan untuk Jongin.
Dengan langkah patah-patah Jongin memasuki toilet tesebut dan membeku ketika dilihatnya satu bilik kamar mandi disana dipenuhi oleh alat-alat kebersihan yang menumpuk didepan pintu. Ada yang mengganjal daun pintu agar pintu tersebut tak dapat dibuka.
Siswa yang tersisa disana melongkkan kepala mereka ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh kim Jongin.
Suara gedoran pintu terdengar memenuhi toilet lantai 3 tersebut. Lama kelamaan gedoran tersebut semakin melemah dan menghilang. Meninggalkan suara lirih minta tolong dari dalam membuat kaki Jongin semakin berat untuk melangkah. Hatinya perih mendengar lirihan suara yang sangat ia kenali.
Matanya memandang nanar pintu didepannya. Tangannya bergetar disisi tubuhnya. Ia hanya diam memandang pintu didepannya kosong.
Dengan gemas dua dari siswa yang ada disana menghampiri tubuh Jongin dan menepuk bahunya keras membuat Jongin kembali tersadar. Reflek Jongin memandang pada kedua siswa tersebut.
"Kenapa hanya diam?"
Pertanyaan yang terkesan mengejek itu mengembalikan Jongin pada kenyataan. Dua siswa yang ada disampingnya segera memindahkan alat-alat kebersihan itu agar tak menghalangi pintu. Dengan tergesa Jongin ikut menyingkirkan alat-alat tersebut hingga membuat benda-benda tersebut terlempar kemana-mana sekaligus membuat dua siswa yang membantunya kini lebih memilih menyelamatkan diri disalah satu bilik yang kosong.
Saat benda-benda laknat itu telah seluruhnya berpindah tempat dengan tidak elitnya, Jongin segera meraih kenop pintu dan memutarnya
Klek klek
"Brengsek!"
Jongin berteriak emosi membuat semua yang ada disana terdiam membisu. Jongin berjongkok mengintip dari bawah pintu yang lumayan lebar. Jongin membulatkan matanya sebulat-bulatnya.
Disana, adiknya sedang meringkuk sambil menggigil kedinginan. Seramnya sama sekali tak ada yang tersisa untuk kering.
Matanya tak sengaja menangkap sosok yang kini mengintip dari bawah pintu. Mulutnya bergerak menggumam kata 'hyung'. Matanya menatap sayu kearah Jongin membuat Jongin semakin berniat untuk memutilasi Jongup saat itu juga.
Jongin segera bangkit dari posisinya. Mengancang-ancang sambil berteriak pada Sehun.
"Kim Sehun, aku minta kau merunduk serendah mungkin!"
Tak ada jawaban dari dalam tapi semuanya bisa terjawab dengan adanya bayangan Sehun yang bergerak didalam.
"Aku hitung sampai tiga"
"Tu-tunggu, Kim Jongin apa yang akan kau lakukan?" satu dari siswa yang membantu tersebut berkomentar heboh melihat Jongin yang mengancang-ancang
"Satu!"
"Kim Jongin, kau akan dapat masalah kalau kau merusak pintu ini" yang satu juga ikut membantu mencoba meraih tangan Jongin, tapi yang ada ia hanya memaju mundurkan tangannya
"Dua!"
"Kim Jongin, kau bisa melukai adik kelasmu!" para siswa yang ada diluar ikut berteriak heboh
"Tiga!"
"Tendang yang keras Kim Jongin!" teriak mereka kompak menyemangati Jongin -_-
Brakkkkkkkkkk
Pintu tersebut terbuka dengan keras. Sehun segera mendongakkan kepalanya menyambut kedatangan Jongin.
"Hyung" gumamya lirih hampir tak terdengar
"Kumohon bertahanlah" Jongin segera menarik lengan Sehun yang terkulai lemas. Membantu Sehun naik keatas punggungnya dibantu dua rekannya yang lain
"Kim Jongin cepat bawa dia!"
"Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya"
Jongin segera membawa tubuh Sehun yang ada dalam gendongannya. Langkahnya sedikit terburu tapi langsung memelan ketika menuruni anak tangga. Sesekali ia membenahi posisi Sehun yang miring maupun melorot dari punggungnya.
"Kim Jongin itu ternyata orangnya baik juga" komentar salah satu saksi
"Iya, tapi sayangnya ia sedikit bodoh"
"Apa maksudmu?"
"Lift ini berfungsi kan? Kenapa harus repot-repot menuruni tangga?"
"Eh!?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Jongin memutuskan untuk membawa pulang Sehun yang pingsan. Saat kedatangannya dirumah ia terlihat sangat ribut memanggil seluruh pelayannya meninggalkan paman Jang yang juga terburu-buru memarkirkan mobilnya dengan benar.
Dua orang penjaga yang kebetulan baru saja keluar dari rumah megah itu segera mengambil tubuh Sehun dari gendongan Jongin dan membawanya kekamar sang tuan muda. Jongin mengikuti keduanya dari belakang. Berkali-kali kepalanya celingukan melihat keadaan Sehun yang mesih dibopong oleh penjaga.
Tubuh Sehun direbahkan perlahan pada kasur king size tersebut. Beberapa pelayan dan seorang dokter segera memasuki kamar dengan membawa beberapa alat kesehatan.
"Bagaimana keadaan Sehun?"
"Dia demam, mungkin dengan kompres dan beberapa resep dari saya demamnya akan cepat turun, ini"
Jongin menerima resep itu dan bergerak mengantar dokter keluarganya undur diri. Sepeninggalan dokter tersebut dengan cepat Jongin langsung berlari ke apotik untuk menebus obat. Meninggalkan Sehun yang kini mulai mengigau memanggil namanya.
"Ibu, aku sakit, bisakah kau pulang skarang?"
"…."
"Aku menunggumu"
Sambungan itu terputus. Jongin membalikkan tubuhnya kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi samping ranjang Sehun. Jemarinya bergerak mengusap dahi Sehun yang terus mengeluarkan keringat. Merapikan poni itu agar tak menutupi keningnya.
Matanya menatap teduh wajah pucat Sehun. Telapak tangannya bergerak menggenggam telapak tangan Sehun yang dingin dan berkeringat.
"Jangan sakit Sehun"
"Jangan melarangnya sakit tuan muda"
"Paman Jang~ habisnya dia ini kalau sakit pasti lama sekali" adunya pada paman Jang dengan sedikit memonyongkan bibirnya.
"Kalau kau bosan menunggu biar aku saja yang menunggunya"
"Tidak"
Paman Jang hanya terkekeh geli melihat reaksi Jongin yang langsung bertingkah seperti memeluk Sehun. Ia bersyukur setidaknya Jongin sangat menyayangi Sehun. Pikirannya kembali melayang belasan tahun silam membuatnya tersenyum sedih.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar. Paman Jang yang berdiri paling dekat membuka pintu tersebut dan mendapati seorang pelayan membungkuk kearahnya.
"Ada apa?"
"Nyonya menelepon, anda disuruh menjemput Nyonya sekarang"
"Dia akan pulang!?" sahun Jongin dari dalam
"Beliau sudah pulang menggunakan jet pribadinya tuan muda "
"Bagus"
"Terimakasih, Sa Ni"
Pelayan tersebut membungkuk sekali lagi dan beranjak dari sana.
"Kau memberitahunya?"
"Aku membohonginya"
"Tuan muda?"
"Biar saja, dia hanya akan larut dalam pekerjaannya"
Paman Jang terdiam mendengar jawaban dari Jongin. Ia undur diri dari ruangan itu untuk melaksanakan perintah Nyonya Besar nya. Sedikit khawatir jika Nyonya akan tahu kebenarannya. Tapi toh yang berbohong adalah Jongin. Ia menepis semua prasangka buruk yang menghampirinya dan segera berangkat menjemput kepulangannya.
.
.
.
.
.
Nyonya Kim mendudukkan Jongin diruang kerjanya. Ia terlihat kesal dari gerak-gerik dan mimik wajahnya. Sedangkan Jongin hanya diam menunggu Ibunya memulai pembicaraan.
"Apa yang kau lakukan tuan muda?" Nyonya Kim berujar awas sembari memegangi sebelah kepalanya
"Aku tidak melakukan hal buruk apapun" Jawab Jongin tak acuh
"Kau membohongi Ibu, kau bilang tidak melakukan hal buruk?" Nyonya Kim menatap tajam putra sulungnya
"Kalau aku tidak berbohong Ibu tidak akan pulang dan melihat Sehun" Jongin yang memang sudah kesal bertambah kesal menghadapi Ibunya
"Astaga. Jangan menyianyiakan waktumu untuk hal yang tak penting Jongin" Spontan Jongin membelalakkan matanya tak percaya
"Apa maksud Ibu dengan tak penting? Ibu pulang karena aku bilang aku sedang sakit. Ibu pulang karena ibu khawatir padaku? Kenapa dengan Sehun tidak? Ada apa dengan Ibu!?"
"Cukup Jongin, hentikan. Kau membuat Ibu terpaksa membatalkan rapat penting dengan Direktur perusahaan besar dari Jerman dan Belanda"
"Apa?"
"Bisakah kau tidak bermain-main dengan ini?"
"Apa yang aku permainkan Bu? Sehun sedang sakit dan itu bukan sebuah permainan!"
"Apa kau lupa kau itu siapa? Kau adalah pewaris utama perusahaan Appa mu Jongin, berhenti memikirkan hal yang tidak penting!"
"Sehun itu adikku Ibu, dia itu penting! Lebih penting dari rapat Ibu bersama Direktur-direktur itu!"
"Cukup, Ibu tidak mau membahasnya lagi"
"Ya, tidak usah dibahas dan memang tidak ada yang perlu dibahas lagi. Ibu urusi saja klien-klien Ibu, abaikan saja aku dan Sehun. Aku bisa merawatnya sendiri"
Jongin keluar dari ruang kerja Ibunya dengan membanting pintu itu keras. Meninggalkan Ibunya yang kini sedikit frustasi oleh tindakannya. Tangannya mengepal kuat kemudian memporak-porandakan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.
.
.
.
.
.
.
Sehari setelah kejadian dimana Ibunya yang ternyata benar-benar langsung kembali untuk kliennya Jongin menjadi semakin emosional terlebih pada Ibunya. Ia lebih suka menemani Sehun dikamar daripada keluar dengan teman kelompoknya.
Dan dua hari setelahnya Jongin benar-benar niat mendatangi Jongup.
.
.
.
.
.
Pagi ini Jongin berangkat sendirian menggunakan motornya karena Sehun yang masih sakit. Diperjalanan menuju sekolah tak ada bunyi klakson yang tak mengirinya kesekolah. Benar, Jongin mengendarai motornya asal-asalan. Yang penting ketika rambu berwarna merah ia akan behenti.
Sesampainya diparkiran sekolah, aura gelap itu begitu mendominasi tubuhnya. Seluruh siswa yang ia lewati reflek bergerak mundur tak berani mendekat. Jongin memasang tampang paling angker yang ia punya seraya menenteng helm besarnya seperti berandal yang mengajak tawuran.
Ia berjalan menuju markas Jongup berada. Dan ketika ia telah sampai ia disambut oleh Jongup yang duduk dengan nyamannya disebuah sofa bobrok sembari merangkul kekasihnya. Teman-temannya yang mengetahui keberadaan Jongin dengan segera membangkitkan tubuh mereka dan berlagak seperti jagoan.
Tak merespon tindakan gerombolan orang disana, dengan tetap melangkah Jongin mendekat kearah Jongup dan langsung melempar helm yang ia bawa menghantam tepat disamping kepala Jongup membuat retakan didinding belakangnya.
Jongup membulatkan matanya antara terkejut dan tak bisa bereaksi apa-apa. Lebih tepatnya shock dengan apa yang baru saja terjadi. Sedangkan kekasihnya dengan pelan tapi pasti segera kabur dari sana.
Jongin berbalik menghadap sekumpulan orang yang juga menatapnya tak percaya. Mereka bergerak mundur kemudian menyerang Jongin. Dengan sigap Jongin langsung menendang perut rata itu membuat empunya terdorong mundur dan terjatuh. Berterimakasihlah pada kaki panjangmu Jongin.
Perkelahian itu tak terelakkan. Para siswa yang mendengar hot news langsung dari kekasih Jongup pun berbondong-bondong melihat apa yang terjadi. Dan disana mereka dapat melihat Jongin yang mengamuk pada genk Jongup tanpa ampun.
Yang lebih tragisnya lagi, Jongin hanya menggunakan kakinya tanpa berniat mengotori tangannya. Dan itupun sukses membuat babak belur Jongup cs. Dengan mata yang melotot tajam Jongin mengacungkan cari telunjuknya lurus-lurus kearah Jongup yang babak belur.
"Kau! Berani kau berbuat sesukamu lagi, aku akan benar-benar menghajarmu"
Setelah itu Jongin pergi setelah memberi jitakan keras didahi Jongup, membuat korbannya berteriak kesal.
Para siswa yang melihat kejadian tersebut langsung berbisik-bisik seraya memandang kearah Jongup cs.
"Hei, kalian dengar tadi? Jongin bilang ia akan benar-benar menghajar Jongup kalau dia seeenaknya lagi"
"Ya, ini saja mereka sudah babak belur bagaimana dengan yang akan 'Benar-benar menghajarnya'?"
"Jongin benar-benar mengerikan"
"Apa karena kejadian kemarin?"
"Anak kelas satu itu?"
"Memang apa hubungannya?"
"Entahlah, ayo pergi"
.
.
.
.
.
.
Sepeninggalannya dari markas Jongup, bukannya masuk kekelas Jongin malah kembali ke parkiran sekolah mengambil motornya lalu pulang. Penjaga sekolah yang mengetahui itu tak sempat memperingatinya karena sibuk menemukan peluitnya yang terselip.
Kali ini ia mengendarai motornya sedikit wajar setidaknya ia tidak melaju asal-asalan tapi tetap saja terlalu kencang. Sebelum pulang ia mampir kesebuah toko buku kecil disamping taman kota. Setelah memarkirkan motornya Jongin segera memasuki toko kecil tersebut dan langsung berjalan kearah area komik. Mengambil beberapa judul dari deretan komik tersebut dan bergegas menuju kekasir untuk membayar.
Dari toko buku, ia masih berhenti disebuah toko boneka membuat beberapa perempuan yang berada disana segera membenahi penampilan mereka begitu melihat Jongin, dasar. Jongin sendiri tak mempedulikan sekitarnya dan hanya mengambil barang yang ia cari kemudian membayar dan pergi.
Terakhir, ia berhenti lagi disebuah kedai bubble tea. Memesan 2 bubble tea rasa coklat dan pergi setelah membayarnya.
Dan pagi ini dihabiskan Jongin untuk berkeliling toko dan kedai daripada duduk tenang dikelasnya yang damai. Jujur saja, selain karena masih emosi dan takut akan memakan korban yang tak berdosa ia juga sedikit benci dengan pelajaran manajemen bisnis yang selalu diajarkan tiap dua kali seminggu beserta gurunya yang sok galak.
Jongin tiba dirumahnya tepat pukul delapan. Para pelayan yang mengetahui kedatangan Jongin hanya menatapnya bingung tapi tak lama setelah itu mereka kembali fokus pada pekerjaan masing-masing seperti tak terjadi apapun.
Jongin sedikit berlari menaiki anak tangga menuju lantai 2 rumahnya. Dengan semangat ia membuka kenop pintu kamarnya dan mendapati Sehun yang duduk bersandar dikepala ranjang sembari memakan bubur didampingi seorang pelayan.
"Sa Ni noona, biar aku saja yang menemani Sehun"
"Baiklah tuan muda, saya permisi"
"Hm"
Jongin melemparkan tasnya keranjang miliknya dan menduduki kursi disamping ranjang Sehun setelah sebelumya meletakkan tas plastik dimeja. Dan Sehun menatap Hyungnya mengintimadasi membuat Jongin terkekeh pelan.
"Kenapa?"
"Kau harusnya ada disekolah dengan seragammu itu kan Hyung?"
"Kau benar"
"Lalu?"
"Aku malas"
"Alasan macam apa itu?"
"Alasan wajib seorang Kim Jongin untuk tak bertemu dengan pak Nam dan sejenisnya"
Sehun terkikik geli mendengar jawaban dari Jongin. Berusaha sebisa mungkin agar bubur yang baru saja ditelannya tak menyembur keluar. Jongin dengan cepat mengambil alih mangkuk bubur yang masih tersisa setengah itu dan mulai menyuapkan nya pada Sehun.
"Hyung, aku bisa makan sendiri" Sehun manyun dan Jongin tertawa
"Ya, dan kupastikan bubur mu ini akan bersih 2 jam setelahnya"
"Aku bukan keong"
"Keong itu jalannya yang lambat, kalau kau makannya yang harus dipercepat" Jongin semakin tertawa geli melihat wajah Sehun yang tertekuk membuatnya jelek
"Cepat habiskan makanmu, aku punya sesuatu untukmu"
"Sesuatu? Berikan padaku Hyung!"
"Nanti setelah bubur ini bertambah cepat masuk kedalam mulutmu"
Sehun mengangguk semangat dan menerima suapan demi suapan yang Jongin berikan. Membuat seseorang yang berdiri diluar menatap keduanya sendu.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?"
"Kau hanya harus belajar, belajar memiliki dua orang anak dan menyayangi mereka seutuhnya tanpa perbandingan apapun"
"Itu sedikit berat"
Keduanya tesenyum getir lantas meningglakan area kamar dua pemuda yang kini tengah asyik membongkar seluruh belanjaan Jongin pagi tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Hadohhhhh
Makin lama makin ngawur ini,,,,,,,,
Thank's to:
SFA30 l Kim Rae Sun l l l ayumkim l l TaeKai l hwa794 l sayakanoicinoe l Arcan'sGirl l BabyWolf Jonginnie'Kim
Terima kasih atas reviewnya semoga tidak terlalu mengecewakan
Ada yang tanya yaoi atau gs?
Mungkin ada sedikit untuk yaoi tapi kalau Gs gak ada
Ada yang tanya HunKai atau Kaihun?
Hayo pilih yang mana XD
Lalu soalnya emknya Kaihun?
Tungguin aja ye
Romance?
Semoga authornya gak salah belok jalan biar muncul tuh romance
Once again time thank's all :*
