Cahapter 3

.

.

.

.

.

.

.

.

Seminggu telah berlalu semenjak kejadian dimana Sehun yang terkurung dalam bilik toilet kemudian demam. Kini keadaannya jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Sehun telah kembali ke sekolah. Tetap dengan agenda penurunan yang berbeda dengan Jongin. Dan Jongin akan selalu menunggu kemunculan Sehun dipintu gerbang sekolah. Membalas setiap sapaan yang dilontarkan oleh siswa lain untuknya. Kakinya akan melangkah memasuki kawasan sekolah lebih dalam ketika tubuh Sehun telah melewatinya. Tentu saja dengan gumaman Selamat paginya.

Keduanya selalu tersenyum setelahnya. Jongin akan berjalan dibelakang Sehun dan mengawasinya dari belakang. Bahkan sekarang Jongin selalu mengantar Sehun hingga kekelasnya yang berada dilantai 3. Lantai siswa tingkat pertama.

Ketika tubuh Sehun sampai diambang pintu kelasnya, Jongin akan berjalan mendekat hampir menempel pada tubuh Sehun kemudian berbisik "Semoga harimu menyenangkan"

Sehun dengan senang hati membalasnya dengan senyuman manis tanpa memandang kearah Jongin yang sekalian ia tujukan untuk menyapa teman-teman sekelasnya.

"Oey, Sehun masih hidup!"

"Hei, Mulutmu perlu disumpal dengan kaos kaki Lee seonsaengnim, Jae!"

"Hahahahah!"

Jongin tersenyum semakin lebar mendengar gurauan teman Sehun yang terdengar keras hingga jarak satu kelas. Sedangkan Sehun sendiri segera masuk kedalam kelasnya dan memukul ringan lengan Jaeho sambil tertawa.

Pada awalnya Sehun heran kenapa Jongin selalu mengikuti dirinya hingga kelantai 3. Padahal ruang kelas untuk tingkat akhir ada dilantai dasar. Jongin dengan modusnya akan berkata kalau ia ingin menghafal setiap sudut tempat disekolahnya sebelum dirinya meninggalkan sekolah itu.

Tentu saja, Jongin adalah siswa tingkat akhir yang akan segera menjumpai ujian akhir untuk masuk ke Perguruan Tinggi. Alasan yang cukup masuk akal dari bibir seksinya, haha. Parahnya lagi Sehun yang polos dengan mudahnya percaya pada ucapan Jongin.

.

.

.

.

.

.

.

"Eonni, jangan lakukan itu, kumohon!"

"Hyorin berhenti!"

"Enyahlah kalian semua!"

"Hyo- Hyorin awas!"

"Oppa, eonni!"

Brakkk

"Soojung!"

"Oppa!"

Tiin tiiiiiiiiiiiiiinn

Slap…..

Sepasang mata berwarna coklat gelap itu terbuka lebar. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Bahkan jari-jarinya sedikit terasa kaku. Nafasnya sedikit tersengal dengan keadaannya yang tengah berbaring diatas kasur. Selimut berwarna putih bersih itupun bahkan masih membungkus rapi tubuhnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya lekat.

Selang beberapa saat buliran asin itu jatuh membasahi pipi putihnya tanpa ada isakan yang keluar. Tatapannya pun kosong. Membiarkan air asin itu terus jatuh membasahi pipi dan bantalnya. Ini masih sore. Rencana untuk mengistirahatkan tubuhnya seusai rapat penting dengan klien pun gagal akibat mimpi buruk dari takdir hidupnya yang kembali berputar.

"Ibu! Sehun dapat nilai diatas sembilan puluh di semua mata pelajaran!"

"Ibu, Sehun minta mainan boleh?"

"Ibu, Sehun ingin boneka yang itu boleh? Sehun janji hanya itu"

"Ibu, Sehun sayang Ibu"

Airmata yang sempat terhenti sesaat itu kembali menetes bahkan lebih deras diiringi isak tangis yang terdengar pilu. Dia merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa mulutnya tidak pernah sejalan dengan hatinya? Itu bukan kesalahan Sehun kan? Itu adalah kebenaran yang tidak bisa disangkal. Keputuan yang bijaksan dari suamimu karena dengan rasa penuh hormat dia masih mampu mempertahankanmu meski harus mengorbankan nyawanya sendiri bahkan nyawa-nya- juga.

Sehun, anak kecil yang selalu menyayangimu tak peduli bagaimanapun perlakuanmu padanya. Hingga ia berusia 15 tahun seperti sekarang tanpa pernah mendapatkan kasih sayang yang layak dari seorang Ibu.

Perlahan tubuhnya beranjak dari tempatnya. Langkahnya pelan menyibak gorden putih menuju balkon. Ia mendongak menatap langit sore eropa. Bintang-bintang mulai bermunculan diatas sana. Terlihat begitu bersinar walau sedikit terhalang oleh matahari yang belum sepenuhnya tenggelam.

"Sehun~"

Matanya terpejam merasakan hembus angin kota London.

Memang, kepulangannya pada waktu itu terlalu singkat karena hatinya yang terjebak antara perasaan bingung dan ragu. Bingung, apa yang bisa dilakukan oleh seorang Ibu sepertinya. Ibu yang tidak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang yang adil untuk putranya.

Ingatan percakapannya dengan Jongin waktu itu semakin membuat nafasnya pendek-pendek. Ia benci pada dirinya sendiri. Kenapa ia sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri? Ia tidak bisa mengontrol mulut dan sisi gelap hatinya.

Sebenarnya sehari setelah dirinya benar-benar memutuskan untuk langsung kembali menemui kliennya, malam itu juga ia langsung kembali lagi ke Korea tanpa sepengetahuan siapapun dan menyembunyikan diri di ruang kerjanya. Ia ingin sekali memeluk tubuh Sehun waktu itu. Melihat bagaimana pucat wajah anaknya yang terbaring lemah diranjang. Tapi ia sadar, kesalahannya terlalu berat untuk itu. Sehingga ia putuskan untuk berdiri didepan pintu kamar anaknya yang sedikit terbuka. Melihat bagaimana kedua anaknya yang terlihat sangat akrab membuat hatinya menghangat. Ia bersyukur setidaknya sisi negatif dalam dirinya tidak pernah mengajarkan hal buruk pada Jongin tentang adiknya.

"Ibu menyayangi kalian"

Itulah kata terakhir sebelum ia memutuskan kembali berkelana diluar negeri.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari ini adalah hari minggu. Jongin berniat mengajak Sehun untuk bersepeda pagi. Sehun yang memang jarang keluar rumah pun dengan semangat mengiyakan ajakan Jongin. Pagi-pagi sekali ia sudah keluar rumah untuk mengambil sepeda yang ada didalam gudang sementara Jongin masih sibuk dengan kamar mandi.

"Paman Jang! Aku minta kunci gudang!" teriak Sehun masuk kedalam rumah dengan berlari

"Minta pada bibi Yoon" Jawab Paman Jang sembari mengusak rambut Sehun gemas

Sehun segera berlari mencari bibi Yoon di dapur rumah dan meminta kuncinya. Setelah mendapatkan kunci yang ia minta ia berlari kembali menuju gudang yang berada diluar rumah. Entah apa yang membuat kakinya tak lelah berlari sedari tadi.

Sesampainya di gudang, Sehun segera memasukkan kunci tersebut pada lubangnya dan memutarnya sehingga pintu tersebut kini bisa dibuka. Wewangian alami khas gudang yang jarang terjamah. Bau debu yang menyesakkan itu kini berhasil memasuki indra penciuman Sehun membuatnya memanyunkan bibirnya.

Dengan berbekal kaos putih yang ia kenakan dan menaikannya sebatas hidung Sehun berjalan memasuki gudang yang tak bisa dibilang sempit itu. Bahkan luasnya seperti tempat peternakan ayam.

Matanya mengedar mencari dua sosok beroda dua disana. Dan ia menemukannya. Disana, didekat tumpukan kardus-kardus besar berwarna coklat. Sehun menghela nafas berat. Ini adalah sebuah ujian untuknya.

Kakinya berjalan pelan berusaha tak mengepulkan debu yang menumpuk dilantai gudang. Begitu tubuhnya sampai pada benda yang ia cari, sekali lagi ia menghembuskan nafas berat.

'Bagaimana mau mengambilnya?' batinnya nelangsa

Sial untuk Sehun. Sepeda yang ia cari terjepit pada tumpukan kardus yang menggunung. Bersyukurlah yang satu lagi berada diarea yang aman tanpa terjepit suatu apapun.

Ia memindahkan sepeda yang aman itu keluar gudang. Kemudian menyiapkan mentalnya jika terjadi sesuatu nantinya pada sepeda satunya.

"Sehun, ku bisa!" Sehun berucap menyemangati dirinya sendiri

Dengan hati-hati ia menarik sepeda yang terjepit itu. Hatinya was was. Jantungnya pun juga tak membantu sama sekali.

Tinggal sedikit lagi sepeda itu bisa keluar. Hanya menunggu roda depannya yang masih tersangkut dikardus-kardus itu.

Srett,,,,,

Srak srak srakkk

"Tuh, kan"

Brrrrrrrrrkkkkkkkkk bbrrrrrrrrrrrrrrk

"Jongin hyung!"

Bushhhh

Jongin terkejut melihat asap yang keluar dari gudang saat ia baru saja mencapai halaman rumah. Asap itu begitu pekat dan berwarna abu-abu coklat. Reflek Jongin membuka tutup mulutnya berusaha berteriak.

"Kebakaran! Paman Jang, gudangnya terbakar!" teriak Jongin heboh

Paman Jang yang mendengar teriakan Jongin pun segera keluar dari rumah diikuti bibi Yoon yang tergopoh-gopoh dengan panci berisi air yang bermaksud ingin ia masak tadi. Paman Jang yang melihat kepulan asap itu segera mendekati gudang diikuti Jongin dan Bibi Yoon.

Saat mereka tiba didepan Gudang, mereka bisa melihat bagaimana asap yang ternyata debu itu berterbangan bahkan menutupi bagaian dalam Gudang tanpa sepercik api pun.

Dan suara teriakan minta tolong itu membuat Jongin kalang kabut.

"Jongin Hyung, Sehun susah nafas!" teriaknya dari dalam gudang yang sedikit terlihat karena debu yang berterbangan tadi mulai kembali jatuh. Sebuah tangan yang menggapai-gapai ditumpukan kardus itu membuat Jongin segera berlari mendekatinya.

"Sehun, kau baik-baik saja!?" teriak Jongin berusaha melewati kardus-kardus yang berserakan didekatnya.

"Hati-hati tuan muda!" kini teriakan Paman Jang yang mengisi area Gudang. Bibi Yoon sudah meninggalkan gudang setelah mendapat perintah dari Paman Jang.

"Jongin paman, Jongin!"balas Jongin sambil menendang nendang kardus disana

Jongin telah sampai pada Sehun yang tertindih kardus besar disana. Ia menggapai tangan Sehun dan menarik sekuat tenaga hingga tubuh Sehun akhirnya dapat keluar dari sana. Jongin dengan cepat membawa Sehyun keluar dari gudang dan mendudukkannya di rumput.

Jongin rasanya ingin tertawa kencang melihat keadaan Sehun yang mengenaskan. Kaos putih yang Sehun kenakan berubah menjadi kecoklatan dibeberapa tempat. Rambut yang tadinya tertata rapi itu menjadi acak-acakan. Bahkan pipi putihnya menjadi cemong seperti itu.

"Aku tidak mau lagi bersepeda!" teriak Sehun ngambek

"Baiklah baiklah, kita tidak akan bersepeda, ayo kita bersihkan dirimu, euwhh"

"Hyung tunggu, itu apa?"

Sehun menunjukkan beberapa kertas yang berserakan dilantai. Itu seperti sebuah foto yang telah lama. Jongin bergerak mengambil benda-benda tesebut meninggalkan Sehun dan Paman Jang yang mencoba membersihkan bagian bajunga yang terlihat sangat kotor.

"Sehun, foto!" teriak Jongin seraya megumpulkan kertas-kertas tersebut

"Bawa kesini Hyung aku mau lihat!"

Jongin kelur dari gudang membawa sebuah kardus kecil ditangannya kemudian meletakkannya didepan Sehun.

"Ini-"

"Wah itu"

"Paman Jang?"

TBC

Maaf baru lanjutin ini sekarang soalnya mood lagi down dan ini pun juga sepertinya nggak terlalu memuaskan jadi maaf bila mengecewakan. #bow

Untuk yang udah Rivew terimakasih banyak. Saya belum bisa menyebutkannya disini tapi coba saya kasih sedikit coretan

Ada banyak banget yang minta kaihun dan hunkai. Entar kalau Cuma salah satu yang kena saya mohon jangan benci saya, Huweeeeeeeeee~~~

Sebenernya Kaihun atau Hunkai buat saya oke aja, jadi saya usahakan akun ini akan berisi pair itu. Biar adil

Sekali lagi saya minta maaf dan terimakasih J