Selamat membaca.

Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Hurt comfort, tragedy, romance, family, angst

Warnings : Gender switch, typo(s)

Broken Wings

Chapter 2 : Sorrows

By : Fuyutsuki Hikari

Dunia Kushina begitu terpuruk semenjak meninggalnya Minato dan Kurama secara bersamaan. Hanya Naruto yang menjadi penyemangat hidup dalam menghadapi hari-harinya yang semakin sulit. Penghasilannya sebagai guru les piano tidak mencukupi untuk menghidupi dirinya dan Naruto selama tiga tahun terakhir ini.

Dengan berat hati, akhirnya Kushina melepaskan profesinya sebagai guru les piano dan beralih mencari pekerjaan yang lain. Setiap pagi, Kushina bekerja sebagai pegawai kedai ramen. Dan setiap sore hingga pukul delapan malam, dia bekerja di sebuah cafe di pinggiran kota Suna. Pekerjaan ini sudah dijalaninya hampir empat tahun lamanya. Dan saat ini Naruto sudah duduk di kelas dua SMP.

"Tadaima," seru Kushina seraya masuk ke dalam rumah.

"Selamat datang, Bu!" jawab Naruto lantang dari dapur.

Kushina mengendus, indera penciumannya mencium bau makanan yang sangat lezat. Kushina meletakkan tas kerjanya di atas kursi dan berjalan menuju dapur. "Harum sekali, putri ibu masak apa?"

"Sup miso, tahu sutra kecap dan ikan bakar," jawab Naruto sambil menengok ke arah kedatangan Kushina.

Kushina mengecup lembut rambut Naruto dan berkata lirih. "Maaf, lagi-lagi Naru yang harus menyiapkan makan malam." Katanya merasa bersalah.

"Ibu sudah sangat lelah, bekerja siang dan malam. Hanya ini yang bisa Naru lakukan untuk kaa-san. Maafkan Naru yang belum bisa membantu kaa-san mencari uang." Naruto tertunduk, suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca.

Kushina memeluk putrinya tersebut penuh kasih sayang. "Sudah menjadi kewajiban ibu untuk memenuhi segala kebutuhanmu, sayang. Kau hanya perlu fokus pada sekolah. Kaa-san tidak keberatan bekerja siang dan malam, sama sekali tidak keberatan."

Naruto menghapus air mata yang jatuh ke pipinya dengan cepat, dan tersenyum manis pada Kushina. "Sebaiknya ibu mandi dulu, sebentar lagi makan malam siap."

"Baiklah, ibu akan cepat mandi. Perut ibu benar-benar lapar," tukasnya sambil menepuk-nepuk perutnya secara berlebihan.

Naruto mengangguk dan dengan sigap menyiapkan makan malam di atas meja makan. Setelah semuanya selesai, Naruto duduk manis menunggu Kushina bergabung dengannya.

Setelah selesai makan malam, seperti biasa, Kushina duduk di bangku piano tua milik mereka. Setiap malam, Kushina memainkan beberapa lagu untuk menjaga jari-jarinya agar tidak kaku. Naruto duduk di samping Kushina dan mendengarkan permainan Kushina dengan khidmat. Malam ini, Kushina memainkan Moonlight Sonata, karya Beethoven.

"Bu...?"

"Hm..." Jawab Kushina, masih memainkan tuts-tuts piano.

"Boleh Naru bertanya?"

Kushina menatap Naruto dan tersenyum lembut. "Tentu," jawabnya singkat.

Naruto berpikir sejenak, gusar takut pertanyaan yang akan dilontarkannya menyakiti hati Kushina. Setelah merasa yakin, akhirnya dia mengatakannya. "Apa ibu pernah menyesal menikah dengan ayah?"

Pertanyaan Naruto menghentikan permainan piano Kushina untuk sesaat. Kushina mengambil napas dalam dan menjawab. "Menikah dengan ayahmu adalah hal terindah untukku, dan memilikimu juga Kurama merupakan kebahagian terbesar bagi ibu." Kushina tersenyum dan berkata kembali. "Ibu tidak menyesal, Sayang. Sama sekali tidak menyesal."

"Tapi, ibu melepaskan kesempatan untuk menjadi seorang pianis. Kehilangan kemewahan yang selama ini ibu miliki, dan harus bersusah payah mencari nafkah." Seru Naruto.

"Ibu menukar semua itu dengan memilikimu, memiliki Minato juga Kurama. Walau kaa-san hanya sesaat memiliki mereka, setidaknya ibu masih memilikimu. Dan itu, adalah harta yang tak ternilai bagi kaa-san."

Naruto meletakkan kepalanya pada pundak kanan Kushina, pandangannya yerlihat sendu. "Apa ibu pernah merindukan Nenek?" tanyanya lagi.

"Terkadang," jawab Kushina jujur.

"Menurut ibu, beliau itu seperti apa?"

Kushina mengerutkan kening, berpikir sejenak dan menjawab dengan lantang. "Dia wanita paling keras kepala sedunia."

Naruto terkikih. "Kukira wanita paling keras kepala di dunia itu adalah ibu," katanya bergurau dan menghasilkan cubitan sayang dari Kushina pada kedua pipinya. "Auw, sakit!" seru Naruto berusaha melepaskan cubitan Kushina.

Kushina tersenyum dan melepaskan cubitannya dari kedua pipi Naruto. "Ibu sudah lama tidak mendengar permainan pianomu, Naruto. Jangan-jangan selama kaa-san bekerja, kamu jarang berlatih yah?" tanya kushina menyelidik.

"Naru berlatih kok, karena nanti Narulah yang akan melanjutkan cita-cita kaa-san untuk menjadi seorang pianis terkenal." Tukasnya bangga. "Ibu mau Naru mainkan lagu apa?" tantang Naruto lagi.

"Fur Elise; Beethoven," kata Kushina.

"Tema malam ini Beethoven yah?" goda Naruto. "Tidak masalah," katanya yakin. Naruto merenggangkan jari-jarinya dan mulai memainkan sonata tersebut dengan sempurna.

Setelah selesai, Naruto menatap wajah Kushina lurus dan bertanya.

"Bagaimana menurut Ibu?"

Kushina tersenyum dan menjawab. "Permainan Naru sempurna, sangat sesuai dengan peraturan. Tapi..." Kushina memberikan jeda sebelum melanjutkan.

"Selain peraturan, dalam bermain musik, kita juga harus mengikutsertakan hati dan emosi kita." Katanya seraya meletakkan sebelah tangannya di atas dada.

"Naru harus memberikan jiwa pada setiap permainan musik Naru, agar setiap orang yang mendengarnya dapat ikut merasakan setiap emosi pada lagu yang Naru bawakan. Setiap lagu memiliki makna tersendiri di baliknya. Ada suka, duka, cinta, patah hati, rindu, bahkan nasionalisme pada suatu negara. Naru harus bisa menyelaminya, agar Naru dapat melebur bersama dengan melodi yang Naru mainkan."

Naruto mengangguk dan tersenyum, "Naru akan ingat semua itu." Janjinya.

Kushina memeluk dan mengecup kening Naruto lembut. "Jika saja ayahmu masih ada bersama kita, setiap saat dia pasti mengatakan betapa dia bangga memiliki putri sepertimu, Naruto." Katanya dengan nada suara bergetar.

Jika ayah dan kakak masih ada, mungkin saat ini kami sedang berkumpul, mendengarkan permainan piano ibu. Tertawa, bercanda, gembira dan saling melengkapi satu sama lain. Batin Naruto. Untuk beberapa saat mereka terus seperti itu, saling menghibur satu sama lain. Hingga akhirnya rasa kantuk mengantarkan mereka untuk tidur malam itu.

.

.

.

Keesokan harinya, seperti biasa Naruto pergi ke sekolah penuh semangat. Naruto mengikat rambut pirang panjangnya di belakang kepala menyerupai ekor kuda. Kulitnya yang putih bersih, tubuh mungil serta bola mata biru miliknya selalu menarik perhatian para siswa di sekolahnya. Termasuk perhatian siswa kelas 1 SMA, bernama Sabaku Sasori.

Naruto sekolah di Institute Suna, Institute ini terdiri dari TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Masing-masing memiliki komplek tersendiri, tapi tetap harus melewati gerbang yang sama sebelum masuk ke komplek gedung masing-masing. Institute Suna merupakan sekolah elit di Suna. Sekolah ini memiliki kelas musik klasik yang cukup terkenal, walau masih di bawah Konoha Gakuen. Karena hal itulah Kushina menyekolahkan Naruto disini.

"Pagi, Naruto! Semangat sekali seperti biasa," sapa seorang murid wanita yang bernama Karin.

Naruto tersenyum dan membalas. "Pagi, Karin!" jawabnya singkat.

Setengah berbisik Karin berkata pada Naruto. "Lihat Naru, lagi-lagi Sabaku senpai melihat ke arahmu."

Naruto menggeleng dan menjawab. "Pasti hanya kebetulan," tukas Naruto lembut. "Mana mungkin siswa SMA tertarik pada anak kecil sepertiku," katanya tak percaya.

"Cinta tidak memandang usia," seru Karin sambil menyikut tangan Naruto.

"Lagi pula, kalian hanya berbeda tiga tahun. Orang tuaku saja berbeda usia hampir delapan tahun, tapi itu tidak menghalangi mereka untuk menikah." Jelas Karin.

Naruto hanya tersenyum mendengar penjelasan Karin, tanpa berkomentar ataupun merasa tertarik karenanya.

Karin yang tidak mendapat respon dari Naruto memutar kedua bola matanya. "Dia itu kakak kelas paling populer, Naruto. Bagaimana mungkin kau tidak menyukainya?" tukas Karin heran, sambil berjalan mundur ke belakang agar tetap bisa bertatap muka dengan Naruto.

"Perhatikan jalanmu, Karin. Nanti kau jatuh!" tegur Naruto.

"Aisss, kau belum menjawab pertanyaanku," kata Karin kesal.

Dengan tenang Naruto menjawab. "Aku masih kecil, sekarang tugas utamaku adalah belajar. Kalau jodoh tidak akan kemana." Katanya santai.

"Terserah kau. Yang jelas saat ini Sabaku senpai masih menatapmu seakan-akan kamu ini kue yang lezat."

"Jangan berkata seperti itu Karin, kau membuatku takut."

Mulut Karin terbuka lebar, mendengar perkataan Naruto. "Gadis lain akan sangat senang mendapat tatapan seperti itu, eh... kau malah takut?"

"Sudah, kita hentikan pembicaraan tidak bermutu ini. Kau sudah siap dengan tes hari ini?" tanya Naruto pada Karin sambil terus berjalan menuju komplek gedung SMP Suna. Mereka terus mengobrol, sampai dengan tiba di kelas.

Sementara itu di sudut lain, Sasori menatap Naruto hingga sosok gadis muda itu hilang dari pandangan mata.

"Sepertinya kau mengincar mangsa baru, Sasori?" tukas seorang pemuda pirang bernama Deidara.

Sasori menyeringai. "Dia sangat manis, bukan begitu Dei."

"Tapi dia masih SMP, kusarankan kau mencari yang lain. Yang seumuran denganmu maksudku." Tukas Deidara.

"Tidak, lebih muda lebih baik. Lebih segar, bukan begitu!" kata Sasori dengan senyuman tipis di bibirnya.

Mata Deidara menyipit menatap Sasori. "Aku baru tahu jika kamu phedopil, jangan main-main!"

Sasori mengangkat bahu dan menjawab santai. "Aku hanya menyukainya, Dei. Umur tidak jadi masalah untukku." Sasori segera berjalan dari tempatnya berdiri, di taman depan gerbang sekolah untuk menuju ke komplek SMA, dalam hati dia berkata. Dan aku akan mendapatkannya, tidak peduli bagaimanapun caranya!

Naruto melirik jam yang bertengger manis pada pergelangan tangan kirinya. "Sudah hampir jam enam sore, aku terlalu asyik main piano." Gumamnya sambil menutup kap tuts piano dan membereskan partitur miliknya. Naruto baru saja akan melangkah keluar gerbang, saat ada seseorang yang menarik tangan kanannya. Naruto terpekik kaget, dan memberontak untuk melepaskan diri.

"Wow, wow, wow! Tenang, aku tidak akan menggigitmu." Kata seorang pemuda berambut merah seraya melepaskan tangan Naruto.

"Anda mengagetkanku," tukas Naruto sebal.

Sasori menggaruk kepalanya, dan menjawab tenang. "Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu."

"Apa ada yang bisa saya bantu Senpai?" tanya Naruto dengan nada suara datar.

"Tidak ada," jawab Sasori. "Aku hanya ingin mengantarmu pulang," kata Sasori lagi.

Sasori bisa melihat ekspresi terkejut pada Naruto saat ini, setelah diam beberapa saat akhirnya Naruto pun menjawab. "Terima kasih. Tapi saya pulang sendiri saja." Naruto menundukan kepala untuk memberi hormat pada Sasori dan berlalu pergi meninggalkan Sasori yang meruntuk dalam hati karena penolakannya.

"Aku pasti mendapatkanmu gadis cantik, aku pasti mendapatkanmu," gumam Sasori dengan seringai jahat.

Di tempat lain, Sasuke menggertakan giginya karena tidak sabar. "Apa kita tidak bisa mencari jalan alternatif lain?" tanyanya pada Neji yang saat ini duduk di sampingnya pada jok belakang mobil pribadi Neji.

"Jalanan begitu macet, Sasuke. Kita tidak bisa bergerak. Sabar saja," jawab Neji datar.

"Hn, kalau tahu begini, aku tidak akan ikut menjemput Gaara." Gerutu Sasuke kesal.

"Ya ampun, Sas. Kau seperti nenek-nenek cerewet! Rumah Gaara sudah cukup dekat- kok!"

Sasuke membuka pintu mobil. "Lebih baik aku tunggu di cafe itu saja," tukas Sasuke sambil menunjuk salah satu cafe di ujung jalan. "Nanti kalian jemput aku di sana." Katanya lagi sambil keluar dari mobil, tidak memberikan kesempatan pada Neji untuk menjawab. Baru saja Sasuke berjalan beberapa saat, ketika hujan turun dengan derasnya. Memaksa dirinya untuk berteduh di depan toko musik, karena cafe yang dimaksud olehnya masih agak jauh letaknya.

"Ck, mengganggu saja." Gumam Sasuke sambil menatap langit mendung di atasnya. Beberapa saat kemudian penjuru mata Sasuke menangkap sosok mungil berrambut pirang yang berlari-lari menuju ke arahnya untuk melindungi diri dari hujan.

Naruto mengibaskan rok, kemeja seragam serta rambut pirangnya yang basah karena hujan. Naruto menengadahkan tangan kanannya hingga tetesan air hujan jatuh pada telapak kanannya. Naruto memandang langit dan tersenyum lembut. Dirinya sangat menyukai hujan, terlebih pelangi setelahnya. Sayangnya saat ini hujan turun menjelang malam, hingga tidak akan ada pelangi. Naruto begitu asyik dengan dunianya hingga tidak menyadari ada sosok lain di sampingnya, yang saat ini menatapnya penuh minat.

Sasuke mulai meneliti gadis mungil di sebelahnya. Tubuhnya mungil sekali, dia mungkin satu tahun di bawahku. Sasuke menatap Naruto dari ujung kepala hingga ujung kaki. Senyumnya benar-benar cantik, gumam Sasuke lagi dalam hati.

Tanpa disadarinya, dia pun ikut menengadahkan tangannya pada udara kosong di hadapannya. Dinginnya air hujan jatuh pada telapak tangannya yang putih. Walau udara begitu dingin, entah kenapa perasaan Sasuke begitu hangat saat ini. Tidak ada satu pun diantara mereka yang bicara, hanya ada suara rintik hujan, desauan angin malam, yang diselimuti kerlipan lampu. Sasuke berharap jika hujan tak akan berhenti, karena dia ingin berada di sisi gadis mungil ini lebih lama lagi.

Sayangnya doa Sasuke tidak terkabul, karena hujan segera berhenti beberapa saat kemudian. Naruto segera berlari pulang menuju ke rumahnya, meninggalkan Sasuke yang masih menatap punggungnya hingga sosok Naruto hilang ditelan malam.

Setelah sosok Naruto hilang, Sasuke segera berjalan ke cafe yang sejak awal ditujunya. Suara bel bergemerincing saat Sasuke masuk ke dalam cafe dan menutup pintu kaca cafe dengan perlahan. Sasuke segera duduk di kursi paling sudut di cafe tersebut, memesan segelas cappuccino panas untuk dirinya sambil menunggu Neji dan Gaara menjemputnya.

Hampir satu jam kemudian Gaara dan Neji menjemput Sasuke. "Maaf lama menunggu, jalanan begitu macet." Tukas Neji menyesal.

"Hn," jawab Sasuke tak peduli.

"Sebaiknya kita segera kembali ke Konoha, agar kita bisa sampai sebelum jam tutup asrama." Tukas Gaara santai.

Neji menghela napas keras. "Kita tidak akan berada di sini, jika saja kau tidak pulang secara diam-diam. Kau tahu, kita bisa dapat masalah jika tidak sampai di asrama tepat waktu!"

"Ayolah, dari Suna ke Konoha hanya memerlukan waktu satu jam. Lagipula apa gunanya teman jika tidak saling membantu?" tukas Gaara lagi terdengar begitu santai.

Neji melemparkan pandangan pada Sasuke yang sedari tadi diam dan memandangi cappuccino miliknya yang telah lama dingin tanpa minat. "Ada apa, Sasuke. Kenapa kau diam saja?"

"Dia memang begitu," potong Gaara sambil menyeringai.

"Kapan kita ke Suna lagi?" tanya Sasuke tiba-tiba, menyebabkan Neji dan Gaara bertukar pandang heran.

"Sejak kapan kau menyukai Suna? Padahal tadi sore, aku sampai harus menyeretmu serta untuk menjemput Gaara." Tukas Neji.

Sasuke sama sekali tidak menjawab, dia mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar cappuccino dan tips. "Ayo kita pulang," katanya datar meninggalkan Neji dan Gaara di belakang yang masih memandangnya heran.

Tidak terasa waktu sudah berlalu beberapa minggu semenjak pertemuan pertama Sasuke dan Naruto. Hari-hari berlangsung monoton bagi Naruto. Kegiatan setiap harinya sama, sekolah, berlatih piano, pulang, memasak, lalu berlatih piano lagi, dan tidur. Naruto tidak memiliki waktu luang walau hanya sekedar bermain bersama teman-temannya yang lain.

"Naruto lihat, Sasori senpai lagi-lagi menunggumu." Tukas Karin penuh minat.

Naruto melirik ke arah telunjuk Karin dengan malas. "Kenapa dia begitu keras kepala? Aku sudah menolaknya berkali-kali, terkadang dia membuatku takut."

"Ya ampun, Naruto! Aku tidak percaya kamu menolak Saso senpai. Dia siswa pujaan para siswi di sini, keluarganya juga sangat kaya raya dan berpengaruh di Suna. Bagaimana mungkin kau bisa menolaknya?" tanya Karin tak percaya.

"Karin," kata Naruto manis. "Boleh aku meminta bantuanmu?"

"Tentu," jawab Karin singkat.

"Tolong alihkan perhatian Sasori senpai, agar aku bisa keluar tanpa bertemu dengannya." Kata Naruto setengah berbisik.

"Tapi, aku harus melakukan apa?"

"Apa saja," sahut Naruto. "Yang penting, jauhkan dia dariku."

Karin mengeluarkan napas panjang. "Baiklah, kali ini aku akan menolongmu." Ia kemudian berjalan keluar kelas untuk menemui Sasori dan mengeluarkan segenap kemampuannya untuk mengalihkan perhatian Sasori dari Naruto.

Sementara Karin berbicara penuh semangat dengan Sasori, Naruto berjingkat keluar kelas secara diam-diam, bersembunyi di balik punggung siswa lain yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Naruto mendesah lega saat dirinya berhasil melarikan diri dari Sasori. Tapi Naruto sama sekali tidak sadar jika Sasori melihatnya keluar ruangan dan bersembunyi darinya.

Naruto memutuskan untuk kembali berlatih di ruang musik beberapa saat, sebelum pulang ke rumah. Keadaan sekolah sudah sangat sepi saat dia selesai berlatih dan beranjak pulang.

Dengan cepat dia melangkahkan kaki, langkah Naruto terhenti saat ada seseorang membekap mulutnya dan menyeret tubuhnya masuk ke dalam gudang sekolah yang tak terpakai.

Naruto terus meronta, dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari sergapan orang asing tersebut. Saat ini Naruto begitu ketakutan, pikiran buruk melintas di otaknya. Lindungi aku Tuhan, kumohon. Doanya dalam hati.

Dengan kasar orang tersebut menghempaskan tubuh mungil Naruto ke lantai, hingga membuatnya meringis kesakitan. Naruto mencoba memfokuskan pandangan dan menatap wajah orang yang sudah menyergapnya.

"Sasori senpai," tukas Naruto tak percaya. "Apa yang kau lakukan, kenapa anda menyerangku?"

Sasori mendesis dan menghampiri Naruto. "Kenapa kau menolakku, Naruto? Apa yang kurang dari diriku?" tanyanya membuat bulu kuduk Naruto berdiri karena takut.

"Aku sudah pernah menjelaskannya pada anda, saat ini aku hanya ingin fokus sekolah." Jawab Naruto lemah.

Sasori menyeringai. "Kau tahu gadis kecil, kamu adalah wanita pertama yang berani menolakku. Dan aku harus menghukummu karena itu."

Naruto bergerak mundur, giginya terkatup seperti hewan terperangkap. "Kumohon, tolong ijinkan aku pulang."

"Tidak semudah itu, kau boleh pergi jika aku sudah dapat apa yang kuinginkan!" setelah itu Sasori terus berjalan mendekati Naruto hingga Naruto terpojok.

Naruto terus berteriak saat Sasori mulai melakukan hal yang tidak pantas padanya. Naruto memohon, menangis dan berteriak secara bersamaan padanya. Tapi Sasori sama sekali bergeming, dia tidak mengidahkan tubuh Naruto yang gemetar karena ketakutan. Saat ini Sasori sudah diselimuti oleh nafsu juga amarah.

"Percuma kau teriak, tidak akan ada seorangpun yang menolongmu!" Sasori berteriak kasar dan penderitaan Naruto pun berlanjut.

Setelah puas, Sasori meninggalkan Naruto yang tergeletak tak berdaya di lantai kotor itu. Mata Naruto sudah bengkak karena menangis, suaranya hilang karena terlalu banyak berteriak. Naruto sama sekali tidak pernah berpikir jika kejadian seperti ini bisa terjadi pada dirinya.

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Naruto mengenakan kembali pakaiannya yang tercecer, diseret kakinya keluar dari ruangan tersebut. Air matanya telah kering saat ini, dia terus berjalan layaknya mayat hidup yang tak memiliki jiwa.

Sesampainya di rumah, Naruto langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sapaan hangat Kushina sama sekali tidak didengarnya. Dinyalakannya air keran yang kini mulai membasahi tubuhnya. Naruto terus berdiri mematung di bawah air keran tanpa melepaskan pakaian juga sepatunya. Tatapan mata Naruto begitu kosong,

Kushina yang melihat sikap aneh Naruto langsung menyusul ke kamarnya. Dengan lembut dia memanggil Naruto dari balik pintu kamar mandi. Kushina benar-benar khawatir saat dia tidak mendapat jawaban dari Naruto. Kushina mencoba membuka pintu kamar mandi, dan bersyukur karena Naruto tidak mengunci pintu.

Betapa terkejutnya Kushina saat melihat Naruto yang berdiri di bawah air keran tanpa melepas pakaian seragamnya. "Ada apa, sayang? Apa yang terjadi?" Kushina menangkup wajah Naruto lembut, matanya menatap ke dalam bola mata Naruto yang begitu kelam saat ini.

Naruto bergeming, dirinya masih diam hingga beberapa saat kemudian bahunya berguncang dan pecahlah tangisnya dalam pelukan Kushina. "Sssst, ada apa Naru? Ceritakan pada Ibu, ada apa sebenarnya?" bujuk Kushina lembut.

Saat ini hanya terdengar suara tangisan Naruto yang begitu memilukan, Naruto terus menangis dalam pelukan erat Kushina. Hingga akhirnya jawaban itupun keluar dari mulut Naruto yang bergetar. "Aku diperkosa, Bu. Aku diperkosa." Jawaban Naruto berulang, dan hasilnya begitu dasyat untuk Kushina.

Kushina merasakan dunianya hancur untuk kedua kalinya, putri kecilnya diperkosa. Putri yang begitu dicintainya harus dinodai oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kenapa hal ini harus terjadi pada putriku? teriak Kushina dalam hati.

Sepanjang malam, Kushina terus mendampingi Naruto untuk menenangkannya. Dengan hati-hati, Kushina bertanya siapa orang yang bertanggung jawab atas semua ini. Setelah mendapat jawaban dari Naruto, Kushina langsung menelepon polisi untuk melaporkan kejadian ini. Dia ingin anaknya mendapat keadilan atas semua ini. Bagaimanapun caranya, dia akan berjuang hingga keadilan itu ditegakkan.

Setelah melaporkannya lewat telepon, Kushina diminta untuk datang keesokan harinya ke kantor polisi untuk membuat berita acara, bersama Naruto tentunya. Kushina menutup telepon, dan langsung berjalan kembali menuju kamar Naruto.

Kushina berteriak saat mendapati tubuh Naruto tergeletak di lantai, dengan mulut berbusa. Naruto mencoba bunuh diri dengan menenggak hampir setengah botol obat tidur.

"Tidak, Naruto. Jangan tinggalkan ibu!" teriak Kushina frustasi.

Kushina segera berlari untuk menelepon ambulan. Dan lima belas menit kemudian, ambulan pun datang dan membawa Naruto juga Kushina ke rumah sakit.

Para dokter berusaha menyelamatkan Naruto dengan cara menguras habis isi perutnya. Kushina menunggu dengan cemas di luar. Pikirannya terus bergolak, marah, sedih, cemas, semua itu bercampur menjadi satu.

Kushina bersimpuh dan memohon pada Tuhan agar menyelamatkan putrinya. "Ambilah sebagian sisa umurku, dan berikanlah pada putriku. Kumohon Tuhan, ijinkan dia untuk hidup."

.

.

.

TBC