Selamat membaca.

Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Hurt comfort, tragedy, romance, family, angst

Warnings : Gender switch, typo(s)

Broken Wings

Chapter 3 : Second Meet

By : Fuyutsuki Hikari

Naruto termenung, menatap kosong keluar jendela kamar inapnya. Sudah hampir satu minggu dia dirawat di rumah sakit. Beruntung, begitu kata dokter yang mengatakan jika saja Naruto telat mendapat pertolongan, dapat dipastikan jika jiwanya tidak dapat tertolong lagi.

Tidak ada satu patah katapun keluar dari bibir mungilnya, bahkan air matanya sama sekali tidak mengalir. Jiwanya begitu kosong, raganya hidup bagaikan tanpa roh saat ini.

Kushina yang melihat keadaan puterinya saat ini benar-benar hancur, tetapi dia terus mencoba untuk tetap tegak berdiri. Bagaimanapun harus ada yang bertahan diantara mereka, dirinya harus mendapatkan keadilan bagi Naruto.

Dalam waktu satu minggu, Kushina terus bolak-balik dari kantor polisi ke rumah sakit. Polisi sudah menerima pengaduan tertulis Kushina, dan menangkap Sasori di kediamannya. Hal ini menyebabkan keluarga besar Sabaku geram tentu saja. Karena jika hal ini sampai tercium keluar, bisa hancur reputasi keluarga tersebut.

"Naruto, kenapa tidak dimakan makan siangnya? Jika seperti ini, kau akan lebih lama dirawat di rumah sakit." Kata Kushina, sambil meletakkan barang bawaannya di kursi kosong dekat jendela.

Naruto sama sekali tidak bergerak, dirinya tetap memandang kosong keluar jendela. Surai pirangnya nampak kusam tak bercahaya, kulitnya begitu pucat, dan wajahnya juga tirus. Bagaimana tidak, selama di rumah sakit, hanya cairan infus yang menjadi asupan makanan untuk tubuhnya. Dia selalu menolak makanan yang disediakan, bahkan Kushina sudah mencoba berbagai cara tetapi selalu gagal untuk membujuknya.

Kushina menghapus air mata yang mulai terjatuh dari kedua pelupuk matanya. "Bu...-"

Kushina tersentak, saat di dengarnya suara Naruto untuk pertama kali di minggu ini. "Ya," jawab Kushina.

"Kapan aku bisa pulang?" tanya Naruto lirih.

"Jika kondisimu sudah baik, dokter pasti akan mengijinkanmu pulang. Tapi jika melihat kondisi Naru saat ini yang sama sekali tidak mau makan, ibu tidak yakin jika dokter akan mengijinkan Naru pulang cepat." Jelas Kushina panjang lebar.

Tanpa banyak bicara, Naruto meraih nampan makan siangnya. Dia mulai menyuapi mulutnya dengan makanan dingin itu. Sedikit demi sedikit makanan itu masuk, dan dengan cepat dia habiskan makan siangnya tersebut.

Beberapa hari kemudian, Kushina berjalan tergesa-gesa menuju ruang inap Naruto. "Ibu ada kabar gembira," tukasnya seraya menutup pintu.

"Berita apa?" tanya Naruto tak tertarik.

"Penjahat itu sudah ditangkap," jawab Kushina semangat.

"Benarkah?"

Kushina mengangguk. "Benar, karena itu Naruto harus sehat. Mungkin bulan depan kamu harus berdiri di pengadilan."

"Ya," jawab Naruto lirih. Sekarang muncul secercah harapan di hatinya, dia merasa sedikit lega karena keadilan akan segera diraihnya.

Sementara itu, Sasori terus berteriak di dalam penjara. "Aku tidak bersalah!" teriaknya berulang-ulang. Teriakkannya begitu memekakan telinga. Beberapa polisi menggelengkan kepala mendengarnya. Mereka tidak berani mengambil tindakan lebih, mengingat posisi Sasori sebagai anggota keluarga Sabaku.

Kazekage yang merupakan panggilan untuk pemimpin klan Sabaku berjalan dengan penuh wibawa, menyusuri lorong-lorong kantor kepolisian Suna untuk menemui Sasori yang berada di sel tahanan sementara.

"Tuan Kazekage?" sapa kepala kepolisian tersebut penuh hormat saat Kazekage masuk dan duduk di kursi yang ada di ruang kerjanya.

"Kenapa kalian menahan keponakanku?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Ada laporan mengenai keponakan anda, seorang wanita bernama Namikaze melaporkan keponakan anda yang telah memperkosa puterinya." Jawab kepala polisi yang berusia hampir setengah baya itu dengan lugas.

"Keponakanku tidak mungkin melakukan semua itu!" bentak Kazekage berang.

"Kami hanya melaksanakan tugas kami, Tuan Kazekage. Perihal bersalah atau tidaknya tergantung dari keputusan pengadilan." Jawabnya bijak.

Kazekage menyipitkan mata. "Keponakanku masih berusia enam belas tahun, kalian tidak bisa menahannya di sini." Tukasnya tajam.

"Kami harus tetap menahannya disini selama penyelidikan berlangsung."

"Kalian bisa menetapkan Sasori sebagai tahanan rumah," potong Kazegake.

Kepala polisi itu menggelengkan kepala. "Maaf, kami tidak bisa melakukan itu. Kami tidak bisa memberi keluarga anda keistimewaan." Jawabnya lagi.

"Aku ingin menemui keponakanku!" seru Kazekage lebih menyerupai perintah.

"Tentu, bawahan saya akan membawa anda menemuinya." Dengan cepat kepala polisi menekan tombol pada telepon yang ada di atas meja kerjanya, setelah beberapa saat seorang polisi muda mengetuk pintu dan memberi hormat pada atasannya tersebut. "Tolong antarkan Tuan Kazekage ke ruang interogasi." Perintahnya tegas.

Polisi muda itu memberikan hormat terakhir pada atasannya dan meminta dengan sopan pada Kazekage untuk mengikutinya. Pertemuan Kazekage dan Sasori itu berlangsung cukup singkat, hanya dengan melihat gerak tubuh Sasori saja, Kazekage sudah tahu jika keponakannya ini bersalah. Tapi demi nama baik keluarga, dia akan melakukan segala cara agar keponakannya itu lepas dari segala tuduhan dan berbalik menjadi seorang korban. Sebuah rencana licik sudah disusun dengan rapih oleh sang Kazekage, dalam hati dia merasa kasihan pada gadis yang sudah menjadi korban Sasori, karena sang gadis tidak akan pernah mendapatkan keadilan, selama sang Kazekage hidup.

.

.

.

Satu minggu kemudian Naruto akhirnya diijinkan pulang. Kushina mendesah lega, tapi dalam hati dia pun masih belum tenang. Beberapa hari yang lalu, polisi mengatakan jika tidak ada satu pun yang bersedia menjadi saksi membela Naruto. Mereka semua mengatakan jika Naruto dan Sasori itu sepasang kekasih, dan semua yang terjadi dilakukan karena sama-sama suka.

Kushina belum memberitahukan mengenai hal ini pada Naruto. Dia tidak yakin dengan apa yang didengarnya, Naruto tidak mungkin berbohong padanya.

Dengan cekatan, Kushina membelokkan mobil tua mereka ke tikungan jalan terakhir menuju rumah sederhana mereka. Naruto segera masuk ke dalam kamarnya begitu mereka tiba, dia duduk di depan jendela, menatap keluar dengan pandangan kosong.

"Naru... sayang," panggil Kushina lembut.

"..."

Hanya ada keheningan yang menjawab panggilan Kushina. Dengan lembut Kushina memeluk Naruto dari belakang. "Ibu akan memasak semua makanan kesukaanmu untuk makan malam, Naru mau bantu?" tanyanya setengah berbisik, sementara yang ditanya hanya menggelengkan kepala.

"Kalau begitu, Naru tunggu disini. Ibu akan panggil Naru jika makan malam sudah selesai." Kushina mengecup puncak kepala Naruto sekilas sebelum akhirnya turun untuk menyiapkan makan malam.

Setelah kepergian Kushina, Naruto berjalan menuju meja belajarnya. Dibukanya laci sebelah kanan dan dikeluarkannya sebuah album bersampul kulit berwarna coklat tua dari dalamnya. Dengan lembut Naruto membelai cover album tersebut yang ternyata berisi photo keluarga Namikaze.

Naruto membuka halaman demi halaman album tersebut, tenggorokannya tercekat serta air matanya mengalir saat dia lihat photo Kurama dan Minato di dalamnya.

"Jika saja Kakak ada disini bersamaku, kau pasti menghajar orang itu kan? Dan ayah pasti melindungiku dari penjahat itu. Kenapa kalian pergi begitu cepat meninggalkan kami? Kenapa?" tanyanya lirih. Dadanya semakin sesak karena kenangan buruk itu kembali berputar di dalam pikirannya.

"Aku sudah kotor Kak, Yah. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak yakin bisa menanggung aib ini. Kenapa ini harus terjadi padaku?" Naruto terus menangis pilu, air matanya yang sudah lama dia bendung, mengalir sangat deras.

Dia sangat membenci Sasori, tapi dia lebih membenci dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi diri. "Seharusnya aku membunuhnya saat itu, seharusnya aku membunuhnya!" desis Naruto dengan kemarahan nyata pada bola mata safirnya. Bola mata itu tak lagi bersinar seperti dulu, hanya ada dendan tertanam disana, rasa benci yang begitu kentara, benci pada takdir yang lagi-lagi tidak adil.

Entah berapa lama Naruto terdiam seperti itu, rasanya waktu berlalu sangat cepat. Hingga akhirnya Naruto mendengar Kushina berteriak memanggil namanya. "Naruto cepat turun! Makan malam sudah siap, Nak." Katanya lantang.

Dengan langkah gontai Naruto berjalan keluar kamarnya menuju ruang makan.

"Ayo Naru. Lihat, ibu sudah siapkan semua ini khusus untukmu." Kata Kushina dengan senyum lembut di bibirnya.

Naruto segera duduk berhadapan dengan Kushina dan mulai menyantap makan malamnya dengan hening. Kushina menatapnya sedih, dia sudah kehilangan kata-kata saat ini. Dia sudah tidak tahu lagi dengan apa yang harus dikatakannya untuk menghibur Naruto.

"Ibu, besok Naru ingin kembali sekolah."

Pernyataan Naruto ini kontan membuat Kushina membeku dan berhenti menikmati makan malamnya. "Kau yakin, Naru?" tanyanya seraya meletakkan sumpit dan mangkok yang sedari tadi dia pegang. Naruto hanya mengangguk kecil. "Baiklah, kalau begitu besok ibu akan antar Naru sekolah."

"Terima kasih, Bu." Sahut Naruto tanpa banyak basa-basi. Mereka pun melanjutkan makan malam mereka dalam keheningan. Setelah kejadian yang menimpa Naruto, Kushina hanya mengambil satu pekerjaan saja saat ini. Jadi memungkinkan untuknya untuk menyiapkan makan malam dan menjaga Naruto sepanjang sore hingga malam.

Keesokan harinya Naruto pergi ke sekolah dengan diantar oleh Kushina. Naruto bisa merasakan tatapan jijik dari siswa lain terhadapnya. Ternyata keluarga Sabaku sudah menyebarkan berita bohong tentang Naruto yang sudah memfitnah Sasori agar Naruto mendapat kekayaan sebagai ganti rugi.

Naruto terus berjalan menuju ruang kelasnya, ruang kelas yang begitu ramai mendadak sepi saat Naruto datang.

"Aku tidak menyangka jika Naruto masih berani menampakkan muka." Desis seorang siswi.

"Dasar tidak tahu malu," jawab yang lain.

"Dia memang cantik, tapi sayang hatinya busuk."

Begitulah, perkataan seperti itu terus di dengar oleh Naruto sepanjang hari. Bahkan Karin yang notabennya adalah sahabatnya, kini menjauhinya. Hari-hari bahkan minggu-minggu dilalui Naruto dengan berat, tapi semua ini tidak dia ceritakan pada Kushina. Bagaimanapun saat ini ibunya sedang sibuk untuk menghadapi sidang pertama Naruto. Naruto mencoba untuk bertahan, di sekolah dia selalu menyendiri, tidak pernah bicara atau bergaul bersama yang lain. Bukannya dia tidak mau, tapi memang semua orang menjauhinya, tidak ada yang mengajaknya bicara. Hanya ada cibiran dan cemoohan yang diterimanya setiap hari, kehidupan Naruto di sekolah begitu terkucil.

Sementara itu di Konoha, seorang Hyuuga Neji sedang kebingungan saat ini. Dia terus berjalan mondar-mandir di hadapan Sasuke, hingga membuat si bungsu Uchiha itu terganggu.

"Berhenti Neji, kau membuatku pusing!" perintah Sasuke tajam seraya melayangkan pandangan sebal pada Neji.

Neji segera duduk saat mendengar nada tinggi pada suara sahabatnya ini. "Aku sedang bingung, Sasuke."

"Kenapa?"

"Aku harus mengantarkan undangan kompetisi piano ke Suna, ta-"

"Kemana?" potong Sasuke yang langsung duduk tegak di kursinya.

Neji menatapnya bingung. "Ke Suna." Jawab Neji lagi.

Dengan cepat Sasuke menarik Neji. "Ayo, aku antar." Kata Sasuke tanpa basa-basi.

Neji yang masih kebingungan mau tidak mau melangkah mengikuti Sasuke, lagipula kapan lagi Sasuke mau mengantarnya dengan sukarela. Selepas makan siang, Sasuke dan Neji segera berangkat menuju Suna dengan ijin Orochimaru sebagai kepala sekolah tentu saja. Selama perjalanan, Sasuke hanya menjawab pertanyaan Neji dengan ucapan 'Hn' saja.

Merasa tidak dianggap, akhirnya Neji pun berhenti bicara dan mereka pun terlarut dalam pikirannya masing-masing.

Semoga aku bertemu kembali denganmu, gadis kecil. Batin Sasuke yang mulai merapalkan harapan untuk bisa kembali bertemu dengan Naruto. Mobil yang ditumpangi mereka pun akhirnya sampai di SMP Suna tepat pada saat jam pulang sekolah. Sasuke gembira saat melihat seragam yang dipakai oleh siswi di sekolah ini sama dengan seragam yang di kenakan oleh gadis pirang yang dirindukannya.

"Aku akan segera kembali, Sasuke. Kau mau menunggu disini atau mau ikut denganku?" tanya Neji sebelum keluar dari mobil mereka.

"Aku tunggu di sini," jawab Sasuke cepat.

Sasuke melayangkan pandangannya, berharap gadis itu muncul saat ini. Dengan berat Sasuke menghela napas, saat sosok Naruto tidak kunjung muncul.

"Aku pergi sebentar, kalau Neji datang katakan aku ke toilet!" tukas Sasuke, yang lebih menyerupai perintah. Supir Sasuke hanya mengangguk tanda mengerti.

"Luas juga," kata Sasuke sambil terus berjalan berkeliling. "Auwwww..." Teriak Sasuke saat ada sebuah benda jatuh tepat ke atas kepalanya. Sasuke berjongkok untuk mengambil benda tersebut yang ternyata sebuah sepatu wanita.

Sasuke menatap ke atas, sekilas matanya melihat ada sosok yang berdiri di sana. Pikiran buruk menyergap Sasuke saat ini. "Jangan-jangan dia mau bunuh diri." Dengan cepat Sasuke berlari mencari tangga untuk menuju ke atas gedung berlantai lima ini.

Napasnya begitu memburu, dengan kasar Sasuke membuka pintu atap sekolah dan mencari sosok yang sekilas dilihat nya tadi. Benar saja, seorang siswi berambut pirang, berjalan-jalan di atas tembok pembatas saat ini. Angin yang bertiup menerbangkan helai halus rambut pirang itu.

Jantung Sasuke berdegup semakin cepat saat menyadari jika gadis yang di hadapannya saat ini adalah gadis yang dicari olehnya. Apa yang dia lakukan di sini? Tanya Sasuke dalam hati.

Naruto berhenti berjalan di atas pagar pembatas, matanya sekarang menatap jauh ke dasar bangunan di bawahnya. Jika aku loncat dari sini aku langsung mati kan? Tanyanya dalam hati. Tapi bagaimana dengan ibu? Katanya lagi mulai ragu. Naruto terus bicara dalam hati, hingga suara Sasuke menyadarkannya dari lamunan.

"Jangan lakukan itu, Dobe!" kata Sasuke mencoba untuk bicara setenang mungkin, dia berjalan mendekat, sementara jantungnya terus berdetak tak karuan karena gugup, takut, juga hal lainnya yang saat ini bercampur menjadi satu. Tidak lucu rasanya jika gadis yang kamu cari, mati begitu saja di depan matamu.

Dengan perlahan, Naruto membalikkan badannya hingga sekarang mereka berdua bertatap muka. Siapa dia? Tanya Naruto dalam hati, Naruto melihat Sasuke dari atas hingga bawah. Dari seragam yang dipakai, Naruto bisa langsung tahu jika pemuda ini bukan siswa Suna.

Betapa terkejutnya Sasuke saat melihat kesedihan yang begitu nyata pada kedua bola mata gadis di hadapannya. Saat pertemuan pertama mereka, iris safir itu begitu hidup dan gembira. Tapi kenapa hanya ada kegelapan dan kesepian yang tergambar saat ini.

"Apapun yang ada di pikiranmu, jangan kamu lakukan, Dobe!" katanya masih menatap horor pada Naruto.

"Kau bicara padaku?" tanya Naruto sementara kedua alisnya saling bertaut tak percaya.

Sasuke mendecak kesal. "Tentu saja aku bicara padamu, memangnya ada orang lain?"

Naruto sekilas menoleh ke belakang. "Itu pasti sakit, benar-benar sakit. Ayo turun." Rayu Sasuke seraya menjulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memegang sepatu milik Naruto yang terjatuh tadi.

Naruto kembali memandang Sasuke dan tersenyum tipis. "Selamat tinggal!" katanya lirih.

Sasuke begitu terkejut saat melihat tubuh Naruto mulai melayang, beruntung dia bisa menarik tangan Naruto ke arahnya hingga sekarang Naruto terjatuh tepat di atas tubuhnya. Sasuke benar-benar merasa sangat kesal saat ini, bagaimana mungkin seseorang memutuskan untk mengakhiri hidupnya dengan begitu mudah. Orang lain berusaha mati-matian untuk bertahan hidup, sedangkan gadis yang masih berada di pelukannya malah ingin mengakhirinya begitu saja.

Dengan keras Sasuke mengguncang kedua bahu Naruto, hingga Naruto mengerjap dan menatap Sasuke lurus. Safir dan oniks bertemu pandang. "Apa yang kau lakukan?" teriak Sasuke marah hingga Naruto bergetar dalam cengkramannya dan mulai menitikan air mata.

Sebersit rasa bersalah mulai menyelimuti Sasuke, dengan cepat dia merengkuh tubuh mungil Naruto dan memeluknya. "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu." Katanya sambil mengelus surai pirang rambut Naruto dengan lembut.

Naruto mulai menangis dalam pelukan Sasuke. Entah kenapa, pelukan orang asing ini begitu hangat dan nyaman. Naruto tidak merasa terancam bersamanya. Tangis Naruto pun semakin pecah. Dengan lembut Sasuke mengecup rambut Naruto dan berkata. "Menangislah, menangislah jika itu bisa membuat beban hatimu sedikit terangkat."

Selama beberapa menit, Naruto terus menangis hingga jas dan kemeja yang di kenakan Sasuke basah karenanya. Sasuke mengeluarkan sapu tangan dan dengan lembut menyeka sisa-sisa air mata yang ada di pipi Naruto.

"Maaf," tukas Naruto lirih menatap lurus pada sosok Sasuke saat ini.

"Hn," jawab Sasuke yang masih menyeka air mata Naruto. "Sudah lebih baik?" tanyanya sementara Naruto hanya mengangguk.

"Kau tidak bertanya mengapa aku melakukannya?"

"Kau mau menceritakannya?" kata Sasuke balik bertanya, dan dijawab gelengan kepala Naruto. "Kalau begitu aku tidak akan bertanya." Dalam hati Sasuke merasa heran, kenapa dia yang biasanya sangat irit bicara, malah bisa berkata panjang lebar pada gadis ini.

"Hei, kenapa menangis lagi?" tanya Sasuke sambil mengusap air mata Naruto dengan kedua ibu jarinya. Dan hal yang tidak terduga pun terjadi. Sasuke mengecup lembut kedua pipi Naruto hingga membuat Naruto tersentak kaget. "Maaf," kata Sasuke yang menyadari kekurang ajarannya.

Dengan gugup Naruto memasukkan helaian rambut pirangnya ke belakang telinga, wajahnya menunduk malu. Menyadari gadis di depannya ini tersipu malu, malah membuat Sasuke tersenyum simpul. Naruto segera meraih sepatu yang tadi dibawa Sasuke dan memakainya kembali.

"Kau sekolah di sini?" tanya Sasuke, Naruto mengangguk lagi. "Kelas berapa?"

"Dua," jawab Naruto yang membuat Sasuke keheranan.

"Kukira kau masih SD," katanya sambil menyeringai. Melihat Naruto yang menekuk wajah tidak suka akhirnya Sasuke kembali bicara. "Hei, jangan salahkan aku jika aku kira kau masih SD. Badanmu ini terlalu mungil untuk ukuran kelas dua SMP." Jelasnya panjang lebar.

Naruto baru saja hendak pergi, saat Sasuke meraih pergelangan tangannya. "Berjanjilah kau akan terus hidup!" Naruto tertegun mendengar perkataan Sasuke. "Apapun yang terjadi, seberat apapun masalahmu, berjanjilah padaku kau akan terus bertahan!"

Sasuke mengencangkan pegangannya saat dia merasakan Naruto berusaha untuk melepaskan diri. "Berjanjilah, maka aku akan melepaskanmu."

Naruto menelan ludah dengan susah payah, berani sekali orang asing ini, pikirnya. Dia sama sekali tidak tahu beban apa yang sedang kutanggung saat ini. Naruto berkata di dalam hati sambil mengepalkan jari-jarinya dengan erat.

"Aku tidak punya kewajiban untuk berjanji padamu." Katanya dingin.

Dan entah apa yang ada di pikiran Sasuke saat Naruto mengatakan hal itu padanya. Sasuke menarik tubuh Naruto ke pelukannya dan mulai mencium bibir Naruto dengan paksa. Naruto memberontak dalam pelukannya, mencoba untuk berteriak, tapi hal itu malah dimanfaatkan Sasuke untuk memperdalam ciumannya. Sasuke memasukkan lidahnya ke dalam mulut Naruto dan menyesap rasa itu hingga puas. Hingga akhirnya Naruto berhasil melepaskan diri dan menampar pipi Sasuke dengan keras.

Wajah Naruto diselimuti kemarahan yang begitu nyata. "Ma-af," ucap Sasuke terbata.

Naruto sama sekali tidak mau peduli akan ucapan Sasuke, dia langsung berbalik dan berlari pergi meninggalkan Sasuke yang berdiri mematung.

"Apa yang kulakukan?" tanya Sasuke pada dirinya sendiri. "Arghhhhhhh...!" Sasuke berteriak sekuat tenaga karena frustasi. "Kenapa aku malah membuatnya takut. Kenapa?" tanyanya berulang-ulang.

Sementara itu, Naruto terus turun menuruni tangga dengan berlari. Semua laki-laki itu sama! Runtuknya dalam hati. Yang tidak mereka ketahui, benang merah diantara keduanya, baru saja diikat sangat kuat oleh sang takdir.

Naruto menutup pintu rumahnya cukup keras, hingga Kushina kaget dibuatnya. "Aku pulang," teriak Naruto yang masih agak kesal.

"Selamat datang!" jawab Kushina dari dapur. Dengan langkah kecil, Naruto berjalan menuju kamarnya. Naruto segera berbaring di atas tempat tidurnya dan menutup mata.

Tanpa Naruto sadari, ibu jari dan telunjuknya sedari tadi bertengger di bibir mungilnya. Di sana masih tersisa jejak dari ciuman Sasuke, Naruto bisa mengecap rasa mint pada mulutnya. Setelah sadar, dia langsung berhambur masuk ke kamar mandi dan menggosok gigi untuk menghilangkan rasa Sasuke.

"Bedebah!" desisnya tajam. "Tapi, kenapa aku juga merasa nyaman dalam pelukannya?" lirihnya tak mengerti.

Dilain tempat, Sasuke terus diam selama perjalanan pulang menuju Konoha. Hari ini benar-benar mengejutkan untuknya, pertama : gadis yang dicarinya nyaris mati karena bunuh diri, kedua : gadis itu menangis dalam pelukannya, ketiga : dia mencium gadis itu paksa, keempat : tamparan kerasnya masih terasa hingga saat ini dan yang kelima : Sasuke belum tahu nama gadis itu.

Neji yang bisa membaca suasana hati sahabatnya saat ini sama-sama membisu. Cari masalah namanya jika dia mengganggu Sasuke saat ini.

Walaupun wajah Sasuke masih datar seperti biasanya, tapi Neji bisa merasakan aura gelap mengelilinginya hingga membuat dia merinding ngeri karenanya.

Saat makan malam, Kushina memberitahu Naruto jika sidang akan berlangsung tiga hari lagi, dan atas permintaan keluarga Sabaku, sidang akan diadakan secara tertutup.

"Kau sudah siap, Sayang?" tanya Kushina khawatir.

"Aku siap, cepat atau lambat aku harus menghadapinya juga." Jawab Naruto dengan penuh keyakinan.

Kushina tersenyum lembut karenanya. "Ibu akan selalu berada di pihakmu, Naru. Apapun hasilnya nanti, ibu akan selalu dipihakmu." Katanya berulang.

"Terima kasih, Bu!" ucapnya lirih.

Kepercayaan, yah itulah yang diperlukan Naruto saat ini. Kepercayaan orang yang di cintainya, kepercayaan keluarganya, itu cukup untuknya.

Hingga akhirnya sidang itu pun berlangsung. Naruto memandang sosok Sasori penuh kebencian. Dia bisa melihat Sasori menyeringai jahat padanya saat ini. Persidangan dimulai dengan pembacaan tuntutan dari korban, dan mendengarkan saksi-saksi. Sayangnya Naruto sama sekali tidak memiliki saksi yang bisa membantunya.

Bahkan Karin menolak membantunya. Posisi Naruto di persidangan begitu lemah saat ini. Hingga akhirnya pengacara terdakwa membacakan pembelaan dan memanggil satu persatu saksi yang mendukungnya. Naruto begitu terkejut saat pengacara Sasori memanggil Karin untuk bersaksi melawannya.

Yang lebih menyakitkan adalah, Karin bersaksi jika sebenarnya Naruto sangat tergila-gila pada Sasori dan melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatiannya. Hati Naruto seperti ditusuk-tusuk mendengar penuturan Karin saat ini.

Bagaimana mungkin, Karin yang adalah sahabat baiknya, tega mengkhianatinya. Mengapa hal ini terjadi, batinnya sedih. Begitupun dengan kesaksian beberapa siswa yang lain, yang pada dasarnya menyatakan hal yang sama. Dan rasanya Naruto ingin bumi menelannya hidup-hidup saat hakim menyatakan Sasori tidak bersalah, dan di bebaskan dari segala macam hukuman.

Kushina membeku di tempat, wajahnya sepucat kapas, keringat dingin keluar dari tubuhnya. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Tanyanya dalam hati. Kushina bisa melihat Sasori tersenyum bahagia saat mendapatkan pelukan dari pamannya sang Kazekage. Kushina melirik ke arah putrinya yang saat ini menatap Sasori dingin. "Ayo kita pergi," katanya datar.

Pengacara Naruto meminta maaf karena dia gagal membela Naruto. Baik Kushina maupun Naruto memakluminya, bagaimanapun juga sulit jika kita tidak memiliki seorang saksi yang berada di pihak kita. Tanpa banyak bicara, Kushina dan Naruto meninggalkan ruang persidangan. "Kita akan ajukan banding, kau tidak perlu khawatir."

"Tidak perlu," jawab Naruto. "Apa ibu tidak lihat, semua sudah digenggam oleh keluarga Sabaku. Sekeras apapun kita melancarkan protes, hasilnya tetap akan sama."

"Tapi Na-"

Naruto berhenti berjalan dan menatap Kushina lurus. "Kita lupakan saja, kita mulai hidup baru. Setelah lulus SMP, kita pindah rumah dan lupakan semuanya." Katanya tegas. Sebuah senyum tersungging di mulutnya. Senyum yang tidak mencapai kedua bola matanya.

Dengan penuh kasih sayang Kushina memeluk Naruto. "Apapun yang kau inginkan Naru, ibu akan lakukan, asal itu membuatmu bahagia."

Beberapa hari setelahnya, Naruto mendengar jika Sasori dipindahsekolahkan ke luar negeri. Naruto mendesah lega karenanya, dia hanya perlu bertahan selama satu tahun lagi sebelum dia bisa pergi meninggalkan Suna.

.

.

.

TBC