Kebenaran memang tidak selalu menyenangkan. Terkadang kebenaran itu sendiri mampu menghancurkan seseorang. Adakalanya kebenaran memang penting adanya. Itu adalah beberapa hal yang dapat Sehun pelajari hingga detik ini. Entah harus senang atau sedih, marah atau kecewa, tapi rasa kesal juga memenuhi emosi hatinya saat ini.

Tangan kurusnya terkulai lemas disamping tubuhnya. Ia masih disana. Duduk diam diatas ayunan putih itu. Alat pikirnya ia paksa untuk bekerja keras. Sulit memang menerima bahwa selama ini Ibu yang selalu tinggal satu atap dengannya di rumah besar itu bukanlah Ibu kandungnya. Satu yang paling ia tangkap dari perkataan Paman Jang adalah bahwa ibu kandungnya telah meninggal saat usianya bahkan baru menginjak satu tahun.

"Ibu,,,,,"

Matanya memejam erat. Dahinya berkerut dan sedikit menimbulkan ringisan. Otaknya tak mampu lagi mencerna semua kata-kata itu. Terlalu banyak hal yang Paman Jang ucapkan hingga kepalanya serasa ingin meledak. Tangannya terangkat menjambak helaian coklatnya sendiri.

Airmatanya, setelah sekian lama dapat tertahan dibalik mata coklat kemerahan itu, kini kembali merembes keluar.

Bibir yang dulu hanya akan diam ketika ia menangis, kini mulai meracau tidak jelas. Sesekali mengucapkan kata-kata buruk untuk dirinya sendiri.

Dan tangan-tangan kurus yang dulu akan selalu memeluk tubuhnya sendiri, kini malah memukulkan telapak tangannya ke beberapa bagian tubuhnya hingga warna kemerahan itu terlihat jelas dikulit putihnya.

Dengan airmata yang semakin mengalir deras, petir diatas sana semakin bersemangat menampakkan eksistensinya.

Beberapa saat yang lalu, ibunya telah kembali dari perjalanannya diluar negeri. Entah kenapa beliau memutuskan untuk kembali sebelum waktu yang pernah diucapkan Paman Jang padanya. Memerintah Paman Jang untuk mengurusi sesuatu di Busan lewat pelayan. Meninggalkannya begitu saja. Meninggalkan dirinya dengan Jongin yang hanya diam membisu.

Hatinya semakin hancur saat dimana Jongin yang tak menginginkan sentuhan apapun darinya. Menarik tangannya kembali dan mencoba untuk bersuara, tetapi Jongin lebih dulu bergerak dengan terburu-buru. Kembali meninggalkan Sehun sendirian di taman tersebut.

Tess Tess

"Ibu jahat" suara isakan lirih itu memenuhi indra pendengaran Sehun sendiri. Membuat hatinya semakin sakit. Terlalu perih hanya untuk merintih kesakitan. Hatinya serasa dihantam batu besar hingga menyebabkannya kesulitan bernafas.

Tess Tess

"Ibu jahat!" tubuh kurus itu merosot ketanah berumput. Menanti Hujan yang mungkin sebentar lagi akan menyerangnya.

Tess

Jraaaaasssssshhh

"Hiks, kenapa Ibu merebut Ayah Jongin Hyung? Hiks,, hiks,," tangannya mengepal kuat dan memukulkannya berulang kali kedadanya mencoba mengurangi rasa sesak itu. " Ibu jahat" dan tubuh itu akhirnya hanya mampu menerima serangan hujan yang datang padanya bertubi-tubi.

Disana Jongin hanya mampu menatap sedih sosok Sehun. Adiknya itu terlihat begitu menyedihkan. Tangannya berada didepan tubuhnya diantara kaki yang menekuk kesamping. Pandangannya pun terlihat kosong. Tak peduli seberapa basah dan kencangnya petir yang menyambar diatas sana. Sehun hanya terdiam.

"Cepat masuk kedalam, kau tidak tahan dengan udara dingin" gumam Jongin mengepalkan kedua tangannya

Ingin rasanya ia berlari dan memeluk tubuh yang semakin terlihat pucat itu. Tapi segera ia urungkan niatnya dan melangkahkan kakinya. Membawanya masuk kedalam rumah besar itu. Tepat saat pintu terbuka Nyonya Kim Hyorin tengah menuruni anak tangga dan berhenti di anak tangga ketiga ketika melihat tubuh basah Jongin didepan pintu. Dan pintu tersebut berhadapan dengan tangga menuju lantai dua.

Jongin berjalan pelan menuju kamarnya dengan kepala setengah menunduk.

"Bisa kau jelaskan kenapa tubuhmu bisa basah kuyup seperti ini?" Nyonya Kim bersidekap didepan Jongin yang masih setia menundukkan wajahnya.

"…."

Jongin berjalan semakin mendekat kearah ibunya mencoba tak membuat perdebatan kecil dengannya. Tapi sayang, yang ia hadapi saat ini adalah Kim Hyorin, ibunya yang keras kepala dan egois. Menatap ibunya dengan pandangan sengit Jongin akhirnya menawab.

"Hanya bermain diluar" Jongin terdiam kemudian layaknya seorang prajurit yang selesai melapor pada atasannya. Hanya saja matanya tak menunjukkan seperti itu.

"Dengan- anak itu lagi?"

Jongin mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Dahinya berkerut tak suka.

"Siapa yang Ibu maksud dengan anak itu?" Jongin mengatupkan rahangnya keras. Tatapannya pun semakin tajam.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun berjalan letih kedalam rumahnya. Terlihat seperti orang yang sama sekali tak memiliki semangat hidup. Tubuhnya sangat basah dan pucat. Membawa air pada tubuhnya untuk mengukir jejak kakinya dilantai. Bibirnya bahkan telah berwarna putih keabuan. Tangannya terulur memutar kenop pintu.

"Sudah berapa kali Ibu bilang padamu, Jongin?"

"…"

"Jawab dengan mulutmu jika ada seseorang yang bertanya padamu"

Jongin yang kembali menundukkan kepalanya beberapa saat lalu kembali mendongak menatap tepat pada manik hitam Ibunya. "Apa yang harus kujawab?"

"Jongin, jangan menjadi kurang ajar seperti ini lagi" Nyonya kim menyipitkan matanya memperingati.

"Kalau ku minta kau menyayanginya dengan tulus sebagai imbalannya, apa kau mau?" Jongin menatap teduh Ibunya. Harapannya sangat besar kali ini.

"Kau bilang apa?" nyonya Kim sedikit tergagap menanggapi pemintaan anaknya

"Aku sudah tahu semuanya Ibu" tatapan Jongin begitu memohon pada ibunya. Dan kalimat yang Jongin keluarkan tadi mampu menurunkan kedua tangannya yang bersidekap.

"Paman Jang"

"Bicara apa kau?"

"Bisakah kau lakukan itu?"

"Jongin?"

"Bisakah kau menyayanginya sama seperti kau menyayangiku? Kemi memang berbeda Ibu, tapi Ayah kami satu. Kami saudara sedarah, Ibu. Ayah kami sama!"

"Cukup Jongin!"

"Haruskah kau menjadi egois seperti ini agar semua yang kau inginkan tercapai!?"

"Kim Jongin!"

PLAKKKK

Kilatan halilintar dan petir itu mengiringi sebuah tamparan keras dipipi tirus pemuda berkulit putih yang kini memucat. Kepalanya menunduk sedikit kesamping akibat tamparan itu. Semua terdiam membisu. Hanya bunyi derasnya hujan diluar sana yang terdengar. Bahkan tangan Nyonya Kim sendiri masih setia melayang diatas udara.

Jongin membelalakkan matanya tak percaya. Nafasnya tercekat. Memandang terkejut punggung lebar didepannya. Matanya memanas. Tangannya terangkat hendak menyentuh pundak itu tapi segera ia tarik kembali dan berlari menuju lantai dua, kamarnya.

"Maaf" suara lirih itu terucap dari bibir pucatnya. Matanya menatap sendu Nyonya Kim.

"Aku mohon maafkan Ibuku" runtuh sudah pertahanannya. Airmata yang sempat terhenti itu kembali mengalir bahkan lebih deras lagi. Kedua telapak tangannya mengatup didepan dada sembari menggosok-gosoknya pelan memohon.

"Ibuku jahat, kumohon maafkan dia"

Nyonya kim melotot tak percaya pada pemuda yang berdiri didepannya. 'Bagaimana bias seperti ini?'. Tangannya bergetar disamping tubuhnya. Ia dapat merasakan panas yang perlahan menjalar dimatanya. Detik itu juga ia menuruni 3 anak tangga terakhir dan berlalu. Meninggalkan Sehun yang merosot kebawah sembari menutupi wajahnya. Bersembunyi dibalik telapak tangan berjari kurus. Badannya bergetar hebat menandakan bahwa sekarang ini ia dalam keadaan yang sangat tidak baik-baik saja.

"Maafkan Ibuku, hiks,, hiks,,"

Nyonya Kim berjalan lurus dengan pandangan kosong. Pipinya telah basah oleh airmata. Sebelah tangannya terangkat untuk membekap mulutnya. Menghalau suara menyedihkan yang mungkin saja keluar.

Keadaan didalam kamar mandi disebuah kamar pun sama saja.

Jongin menangis kencang dibalik lipatan tangannya. Mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan isakan keras yang teredam oleh suara hujan diluar juga shower yang sengaja ia nyalakan.

Ketiganya berada dalam situasi yang cukup rumit saat ini. Saling menyalahkan diri dalam kesedihan.

'Harusnya aku tidak pulang hari ini'

SLAP

'Harusnya aku tidak usah mengajaknya bersepeda hari ini'

SLAP SLAP

'Apakah seharusnya aku tidak pernah hadir didunia ini?'

Zyats- JDARR!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam ini Sehun harus tidur sendirian diatas kasur tunggal diruangan itu. Ruangan yang tak pernah terbuka selama belasan tahun. Sebuah ruangan yang ternyata adalah kamar milik mendiang Ibunya, Jung Soojung.

Ibunya sendiri, Kim hyorin yang meminta Sehun agar menempati kamar tersebut. Dan Sehun, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Berbicara langsung dengan Ibunya adalah sebuah kebanggan tersendiri baginya. Walau kenyataannya hanya Nyonya Kim yang berbicara.

Sehun bangun dari tidurannya. Menghampiri puluhan foto yang tak terlalu besar yang tertempel rapi didinding. Bingkai lucu dan childish itu membungkus foto-foto disana. Sosok perempuan cantik itu yang sekarang menjadi perhatiannya. Membelai foto tersebut seraya tersenyum teduh kemudian melirik foto lainnya.

Sehun bisa melihat bingkai sebuah keluarga kecil disana. Ada Ayah, Ibu dan mungkin juga dirinya yang masih merah itu. Bibirnya terangkat mengulas senyum membuat lengkungan sabit dimatanya.

Penglihatannya kembali menjelajahi fofo-foto tersebut. Lalu terkekeh pelan begitu mendapati potret dirinya yang tengah merangkak sembari tersenyum lebar menampakkan dua gigi depannya yang baru tumbuh.

Matanya kembali menangkap sebuah foto dua orang gadis cantik yang tersenyum lebar. Kedua ibunya. Soojung terlihat begitu menyayangi Hyorin. Terlihat dari bagaimana cara gadis tersebut memeluk protektif leher Hyorin dari belakang dan Hyorin menangkupkan sebelah tangannya ke kepala Soojung. Mereka terlihat sangat bahagia. Mungkin itu diambil sebelum mereka menjumpai bagaimana jalan takdir yang akan mereka tempuh.

Sehun menundukkan wajahnya lesu. Tangannya bermain dibawah sana. Saling mengait satu sama lain. Kemudian beranjak menuju ranjang dan duduk dipinggirannya.

Suara ketukan pintu mengambil perhatian Sehun. Ia segera bangun dari duduknya dan membuka pintu. Matanya berbinar senang karena kali ini Ibunya kembali mendatanginya.

"Makanlah, makan malam sudah siap" ucap Nyonya Kim sedikit gugup

"I-Ibu?" panggil Sehun hati-hati

Tapi Nyonya Kim beranjak dari kamar tersebut meninggalkan Sehun yang menggigit bibir bagian bawahnya.

"Mungkin Ibu tidak dengar" gumam Sehun meyakinkan dirinya

Bukannya tidak mendengar, meski suara Sehun mirip seperti sebuah cicitan tapi Nyonya Kim bisa mendengarnya dengan jelas. Dan itu entah kenapa membuat hatinya menghangat. Ada letupan-letupan kecil didadanya yang membuatnya ingin sekali menyunggingkan sebuah senyuman. Tapi ia terlanjur gugup dan memutuskan meninggalkan kamar Sehun.

'Ibu macam apa yang gugup dengan anaknya sendiri seperti ini?' batinnya merutuk

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara dentingan alat makan mendominasi di sebuah meja makan yang terlihat sedikit aneh. Nyonya Kim yang sedikitnya masih meras gugup, Sehun yang terlihat takut-takut dan Jongin yang sangat tenang.

Pertama kali Sehun mendudukkan dirinya disana ia sedikit terkejut dan sedih. Pasalnya Jongin yang selalu duduk disebelahnya kini memilih untuk duduk disebelah Ibunya. Sehun merasa sedang disidang kalau begini caranya. Membuatnya semakin ragu dan takut untuk menyentuh apapun. Takut menimbulkan masalah kecil karena terlalu gugup.

Jongin terdiam dimeja makan setelah menyelesaikan makan malamnya. Tangannya sibuk mengotak-atik ponsel tipisnya. Nyonya Kim pun sebenarnya juga heran. Apa yang terjadi dengan anak sulungnya itu? Jangan sampai ia memilih meninggalkan Sehun karena masalah ini.

"Ibu sudah selesai" nyonya Kim beranjak dari duduknya. Melirik kearah anak-anaknya yang terlihat begitu berbeda. Dulu Sehun akan tetap menatap kearahnya walau sebentar tapi sekarang ia malah menundukkan kepalanya dalam. Dan bocah disebelahnya itu malah asyik bermain ponsel dengan santainya.

Nyonya kim memiringkan kepalanya seraya meninggalkan meja makan.

"Jo-Jongin Hyung" panggil Sehun pelan

"hm"

"Bisa kau membantuku mengerjakan PR ku?" Tanya Sehun semakin ragu

Jongin menghentikan kegiatannya kemudian melirik Sehun didepannya yang memandangnya takut sembari menggigit bibir bawahnya.

"Tidak bisa, aku mengantuk"

Setelah menjawab permintaan Sehun, Jongin langsung bergerak meninggalkan meja makan. Membuat Sehun kembali menundukkan kepalanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun teringat masih ada beberapa barangnya yang tertinggal dikamarnya yang dulu. Ia keluar dari kamar dan melangkah menuju lantai dua kamar Jongin.

TOK TOK

"Jongin hyung?"

Tidak ada sahutan Sehun kembali mengetuk pintu kamar itu.

TOK TOK

"Jongin Hyung?"

CKLEKK

"Sshh, ada apa?"

Begitu melihat sosok Jongin yang setengah mengantuk Sehun merubah niatnya untuk datang kekamar itu.

"Bisa aku tidur denganmu?"

"Tidak bisa"

"Ke-kenapa?"

"Kubilang tidak bisa ya tidak bisa"

"Ka-kalau begitu aku hanya ingin mengambil barangku yang tertinggal"

"Cepat ambil dan keluar dari sini"

Sehun mengangguk cepat. Tapi perasaannya sangat buruk mendapati perilaku Jongin yang seperti itu. Selesai mencari semua barangnya yang sedikit itu Sehun melangkah kearah pintu dengan ragu. Ingin rasanya tetap tertidur diatas kasur disamping kasur milik Jongin. Tapi ia segera mengurungkan niatnya ketika mendengar suara Jongin yang menyuruhnya untuk segera pergi.

"Sudahkan? Cepat keluar"

Sehun sekali lagi menurut. Ia berdiri didepan pintu menghadap Jongin tanpa bersuara. Membuat Jongin sedikit jengah dan memutuskan untuk menutup pintunya. Tapi sebelum pintu itu tertutup Sehun mengeluarkan suaranya demi menahan pintu tersebut.

"Apa kau marah padaku?"

"…."

"A-Apa kau tidak mau lagi mempunyai adik sepertiku?" Sehun menggenggam beberapa buku ditangannya erat menanti jawaban dari Jongin.

"Pergilah"

"Tunggu!"

"Apa lagi?"

"Kau belum menjawab pertanyaanku"

"Sudahlah lupakan"

"Hyung!"

BRAKKK

"Arrghhtt! Jongin hyung, jari Sehun!"

.

.

.

.

.

.

.

TBC :p

.

.

.

.

.

Thankyu thankyu udah mau nanggepin ini cerita angker. Saya seneng kalau readers nebak dengan benar jalan ceritanya. Tapi saya paling seneng lagi kalau tebakannya salah, hahaha! #BakarAuthor

Arigatou! Thank You! Terimakasih! Gamsahamnida!

Hayo loh, ini ceritanya makin aneh aja ya? Malah saling menyalahkan diri sendiri. Ini yang gak ngerti Si baby Hunhun apa Mommynya ya? Mungkin author juga kena ^V^

Untuk yang ini semoga masih berminat untuk terus mengikuti episode-episode selanjutnya ya!

Nanti kalau nggak kuat baca, author dengan sukarela bakal menyediakan kantong kresek merah dalam bentuk angan-angan pada para readers yang cantik-cantik and yang ganteng-ganteng kalau ada, hohoho #Modus

Oke sampai disini dulu cuap-cuapnya.

Sekali lagi gamsahamnida Yeorobun!

Chu~~

Eh tapi ngomong-ngomong, ada banyak yang minta sekuelnya FTTH ya?

Hohoho~ #kabur

Big Thanks To:

Hwa794 – enchris.727 – Uchiharuno Rozu – SF A30 – melizwufan – Nagisa Kitagawa – yunacho90 – Hilma Exotics – Kim Rae Sun – ayumkim – Syifa – BabyWolf Jonginnie'Kim – Arcan'sGirl – YoungChanBiased – – – kkamjongiekim - Seli Kim – Wonhaesung Love – Kaihun and Krisho ExoL – Yehet

Dan semuanya yang belum tertulis!

Gamsahamnida!