Selamat membaca.
Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Hurt comfort, tragedy, romance, family, angst
Warnings : Gender switch, typo(s)
Broken Wings
Chapter 4 : Nightmare
By : Fuyutsuki Hikari
Empat bulan sudah berlalu sejak kejadian naas yang dialami Naruto. Dia terus berlatih tanpa mengenal lelah tiap harinya. Perlakuan sinis dari teman-temannya dia abaikan begitu saja. Semua cibiran yang dia dapat tidak pernah dia gubris. Sabar, itulah kata yang sering dia rapalkan dalam hati. Seperti Sabtu siang ini, dia habiskan untuk berlatih piano.
"Naruto berhenti sebentar, Sayang! Kita makan siang dulu, lalu tolong belikan telur ke mini market yah!" teriak Kushina dari dapur.
Dengan perlahan Naruto menutup kap penutup tuts piano dan berjalan menuju ruang makan. "Naru belikan ibu telur dulu saja yah. Aku belum lapar." Jawabnya datar.
Mendengar penuturan Naruto, Kushina segera memberikan beberapa lembar uang dan secarik kertas, daftar belanjaan yang harus dibeli olehnya.
Naruto melirik Kushina dan mendengus. "Bukankah tadi Ibu hanya mengatakan membeli telur? Kenapa jadi sebanyak ini yang harus kubeli?" tanyanya sambil mengibas-ngibas kertas dari Kushina.
"Itu hanya sedikit tambahan," jawab Kushina sambil tersenyum lebar.
Dengan berat Naruto menghela napas. "Kalau begitu aku pergi dulu."
"Hati-hati di jalan!" seru Kushina sambil memandang punggung putrinya yang mulai menjauh dan menghilang. Untuk sekilas Kushina melihat sesosok pemuda yang mirip dengan Sasori sedang berada dalam sebuah mobil sport merah yang di parkir di seberang rumahnya. Kushina menggelengkan kepala cepat. "Tidak mungkin dia," katanya. "Dia kan sudah tidak ada di negara ini." Tambahnya sambil membuang napas keras. Dengan perlahan Kushina menutup pintu dan berjalan menuju ruang makan.
Naruto dengan cepat membeli semua barang yang diperlukan oleh ibunya. Setelah memeriksa belanjaannya untuk terakhir kali dia pun berjalan menuju kasir dan membayar belanjaannya. Dengan langkah tergesa Naruto berjalan kembali menuju ke rumahnya, tanpa menyadari jika sejak tadi ada sebuah mobil sport merah yang membuntutinya.
"Aku pulang!" teriak Naruto seraya menutup pintu di belakangnya.
"Selamat datang!" jawab Kushina. Naruto segera menaruh seluruh belanjaannya ke atas meja makan. "Apa pesanan ibu ada semua?" tanya Kushina.
"Ada," jawab Naruto pendek.
"Makanlah dulu, baru berlatih lagi!" kata Kushina sambil membereskan semua belanjaan yang baru saja dibeli Naruto. Tanpa banyak bicara, Naruto pun segera menyantap makan siangnya yang sudah tersedia di atas meja.
"Uhuk...uhuk..."
"Ibu baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir saat melihat Kushina batuk begitu lama.
"Ibu baik-baik saja," jawab Kushina sambil berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Perlahan Naruto mengetuk pintu kamar mandi. "Bu. Ibu yakin baik-baik saja?" tanya Naruto lagi sangat cepat. Gadis remaja itu berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
"Ibu baik-baik saja!" jawab Kushina setengah berteriak mencoba meyakinkan Naruto. Dengan cepat Kushina membilas darah segar yang keluar bersamaan dengan batuknya. "Aku harus kuat, aku harus bertahan!" katanya lirih seraya memandang pantulan dirinya sendiri di cermin.
Sebenarnya, sudah hampir tiga bulan ini dirinya mengidap radang paru-paru basah yang cukup parah. Tapi semua itu dirahasiakan dari Naruto, karena dia tidak ingin Naruto khawatir karenanya.
Setelah batuknya reda, Kushina pun keluar dari dalam kamar mandi. Dia terkejut saat mendapati Naruto masih berdiri tepat di depan pintu. "Akhir-akhir ini batuk ibu semakin parah, sebaiknya ibu segera memeriksakan diri ke rumah sakit!" tukas Naruto tegas.
"Jangan khawatir. Ibu baik-baik saja, ibu juga sudah periksa ke dokter beberapa hari yang lalu. Ini semua karena alergi udara saja." Katanya santai.
Naruto menghela napas keras dan memeluk Kushina erat. "Aku menyayangimu, hanya ibu yang Naru miliki. Karena itu, jangan rahasiakan apapun dariku!" Naruto menundukkan kepala dalam. Mulutnya bergetar menahan tangis.
Dengan lembut Kushina mengelus surai pirang rambut Naruto, memeluk tubuh anak perempuannya penuh kasih dan berkata dengan lembut. "Ibu juga menyayangimu. Sampai kapan pun ibu akan selalu bersamamu, menjagamu. Tapi jika nanti ada saatnya ibu tidak ada di sisi Naru dan jika pada saat itu Naru merindukan ibu, maka tutuplah mata, panggil nama ibu dalam hati, maka ibu akan memeluk Naru seperti saat ini."
"Jangan bicara seolah-olah ibu akan pergi meninggalkanku!"
"Ini hanya perumpamaan saja, Sayang." Sahut Kushina sambil mencubit kedua pipi putrinya dengan gemas. "Karena ibu akan selalu bersama Naru." Kushina memasang sebuah senyum palsu. Hatinya menjerit pilu, dia tahu jika waktunya sudah tidak lama lagi.
"Terima kasih." Naruto memeluk Kushina lagi lebih erat sebelum akhirnya melepaskannya dan memberikan sebuah kecupan singkat di pipi Kushina.
"Mau ibu temani berlatih?"
"Tentu," jawab Naruto semangat. Dan sepanjang hari ini mereka habiskan dengan bermain piano, tanpa sadar jika Sasori sedang menyusun rencana jahat untuk membalas keluarga Namikaze karena telah melaporkannya pada polisi tempo hari. Hingga dia harus di penjara, dipindahkansekolahkan, dan harus sekolah di luar negeri karenanya. Beruntung, Sasori bisa meyakinkan Kazekage jika dia akan berubah. Karena itulah, Kazekage mengijinkannya kembali ke Jepang, dengan syarat Sasori tidak boleh kembali sekolah di Suna Gakuen.
"Aku pasti membalasmu gadis kecil!" Katanya menyeringai jahat. Sudah beberapa hari ini Sasori mengikuti Naruto bahkan Kushina. Mencari tahu jam berapa Kushina pulang kerja, dan jam berapa Naruto berada di rumah seorang diri. Hal itu dia lakukan demi satu hal, balas dendam.
Keesokan harinya seperti biasa Naruto diantar Kushina pergi ke sekolah hingga tepat di depan gerbang sekolah Suna. "Ibu akan jemput tepat pukul empat sore nanti."
"Baiklah, kalau begitu aku akan tunggu di gerbang selepas pulang sekolah." Jawabnya sebelum akhirnya dia keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke kelasnya.
Sementara itu di Konoha, beberapa kali Kiba melirik ke arah Sasuke yang masih termenung di kursinya. "Kenapa Sasuke diam saja?" tanya Kiba pada Shikamaru saat jam makan siang.
"Memang dia biasanya seperti itu kan?" jawab Shikamaru santai.
"Ck. Tapi belakangan ini lebih parah, Shikamaru." Kiba melihat sekilas melewati bahunya pada sosok yang dia maksud. "Apa kau tidak sadar jika belakangan ini Sasuke sering melamun?"
"Tidak." Jawab Shikamaru datar.
"Kau terlalu sibuk tidur jadi tidak sadar akan perubahan di sekelilingmu." Cibir Kiba tajam.
"Merepotkan." Hanya itu jawaban akhir Shikamaru sebelum akhirnya kembali tidur dengan melipat kedua tangannya di atas meja dan menjadikannya sebagai bantalan kepala.
Sementara sosok yang dibicarakan, malah asyik dengan pikirannya sendiri dan menatap kosong ke luar jendela. Kau sedang apa, Dobe? Kau baik-baik saja? Tanyanya dalam hati. Aku ingin bertemu, aku ingin mengatakan maaf, aku juga rindu. Katanya lagi, hingga tidak sadar akan senyum tipis yang terukir di wajahnya. Aku rindu semua tentangmu. Pikiran Sasuke terus menerawang ke Suna, ke sosok Naruto yang begitu dirindukannya.
Semenjak kejadian terakhir di Suna, Sasuke menjadi lebih pendiam dari biasanya. Berkali-kali dia ingin pergi ke Suna dan menemui Naruto. Tapi, dia masih takut akan reaksi Naruto jika bertemu kembali dengannya. Bagaimana jika dia membenciku, atau bagaimana jika dia tidak mau melihatku? Kira-kira itulah yang ada di pikirannya tiap kali dia berniat pergi ke Suna untuk mencari Naruto.
Hari yang suram, renung Sasuke saat berjalan keluar sekolah menuju ke asrama putra. Langit memang mendung sore ini, dan sepertinya hujan akan turun sangat lebat. Sasuke mempercepat langkahnya untuk kembali ke asrama, tanpa menghiraukan panggilan teman-temannya yang sejak bel pelajaran terakhir memanggil-manggil namanya dengan keras.
Di tempat lain, Naruto sudah menunggu Kushina lebih dari lima belas menit di gerbang sekolah. Sesekali dia melayangkan pandangannya ke jalanan, mencari tanda-tanda kedatangan mobil ibunya. Naruto memencet nomor telepon genggam Kushina, namun yang didapatnya masih sama. Hanya ada suara penjawab menjawab panggilannya. Telepon yang anda hubungi sedang tidak aktif. Begitu katanya.
Beberapasaat kemudian hujan pun mulai turun, Naruto menikmati saat-saat ini, karena dia memang sangat menyukai hujan.
"Tiiiiiiitttttttt...!" Bunyi nyaring klakson mobil Kushina mengantarkan Naruto kembali ke dunia nyata.
"Cepat masuk, Naruto!" kata kushina berteriak dari balik kemudi sambil menurunkan kaca jendela pintu mobil. "Maaf, tadi ban mobilnya bocor. Telepon genggam ibu juga habis baterai," jelas Kushina saat Naruto masuk ke dalam mobil dan mulai memasang sabuk pengaman.
"Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir saat tidak bisa menghubungi ibu."
Kushina melemparkan senyum pada putrinya, sebelum akhirnya kembali membawa mobilnya ke dalam lautan kendaraan sore ini.
"Oh iya. Hari ini ibu harus kembali bekerja. Rekan kaa-san sakit, jadi kaa-san harus kembali bekerja hingga pukul sepuluh malam nanti."
"Ok," jawab Naruto pendek.
"Maaf," gumam Kushina penuh penyesalan.
Naruto menatap Kushina dan tersenyum lembut. "Tidak apa-apa. Naru akan baik-baik saja. Lagipula hanya sampai jam sepuluh malam-kan."
Kushina mendesah lega dan melirik Naruto sekilas. "Terima kasih, Sayang."
Beberapa saat kemudian, Kushina menurunkan Naruto tepat di halaman rumah mereka. "Hati-hati di rumah!" tukas Kushina. Naruto hanya mengangguk dan berlari menuju rumah. Dengan tergesa dia merogoh tas sekolahnya untuk mengambil kunci rumah dan segera membuka pintu setelah menemukannya.
Naruto menutup pintu di belakangnya dan lupa untuk menguncinya kembali. Dia berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Badannya menggigil karena terkena air hujan saat menunggu Kushina tadi. Baru saja Naruto hendak menutup pintu kamarnya, saat ada seseorang yang menyerobot masuk dan mendorongnya hingga dia jatuh dengan cukup keras.
Matanya menatap horor saat mengetahui siapa yang sudah mendorongnya. "Apa yang kau lakukan disini?" teriak Naruto panik.
"Merindukanku manis?" desis Sasori, sementara Naruto berusaha berdiri namun usahanya gagal. Sasori mencengkram kedua tangan Naruto erat, sementara tubuhnya memerangkap tubuh gadis remaja itu yang terus memberontak dan bergetar ketakutan.
"Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku?" tanya Naruto masih berusaha untuk menahan tangis dan rasa takut pada dirinya.
"Ini adalah balasan karena kau menolakku, juga balasan karena ibumu melaporkanku pada polisi." Sasori mulai menjilati leher Naruto, hingga Naruto menjerit ketakutan dibuatnya.
"Diam!" bentak Sasori. "Jangan melawanku! Lebih baik nikmati saja gadis kecil!"
Dengan paksa Sasori mulai mencium bibir Naruto yang terkatup erat. Sekuat tenaga Naruto memberontak, kakinya terus meronta-ronta untuk membebaskan diri dari kurungan Sasori. Tapi usahanya itu harus gagal karena kekuatan Sasori jauh di atasnya.
Naruto terus berteriak meminta tolong, tapi hujan yang turun sangat deras membungkam suaranya. Air mata yang sedari tadi dia tahan mengalir begitu deras saat ini. Kenapa ini harus terjadi lagi padaku? teriaknya dalam hati.
"Arghhhhhhhhh!" teriak Sasori keras bersamaan dengan bunyi barang pecah, yang ternyata adalah bunyi vas kaca yang Kushina pukulkan pada bagian belakang kepala Sasori.
"Ibu...?" panggil Naruto lemah. Kushina dengan cepat mengitari tubuh Sasori yang saat ini mengalami pendarahan hebat pada bagian belakang kepalanya dan memeluk tubuh Naruto yang menggigil ketakutan.
"Maaf, seharusnya ibu tidak meninggalkanmu sendiri. Perasaanku tidak enak, jadi ibu kembali." Katanya sambil menciumi puncak kepala Naruto. Kushina menangkup wajah Naruto dengan kedua tangannya dan bertanya dengan nada khawatir. "Naru baik-baik saja, apa dia melakukan-"
"Tidak, dia belum melakukannya. Terma kasih, Bu." Potong Naruto yang lalu melirik ke tubuh Sasori. "Lalu sekarang bagaimana? Apa dia mati?"
"Ibu tidak peduli jika dia mati, dia memang pantas mendapatkannya."
Sore itu bagaikan mimpi buruk yang kembali terjadi pada kehidupan Naruto. Beberapa saat setelahnya ambulance datang bersama mobil polisi.
Bagaimanapun Kushina harus melaporkan kejadian ini. Yang berakhir dengan penangkapan Kushina. Kazekage melaporkan Kushina dengan tuduhan percobaan pembunuhan yang direncanakan.
Lagi-lagi kekuasaan kembali bermain, dengan segala tipu daya, Kazekage membalikkan keadaan hingga akhirnya Sasori dianggap sebagai korban. Kushina harus mendekam di dalam penjara karenanya, hati Naruto hancur.
Kedua sayapnya yang memang sudah rapuh, kini hancur menjadi butiran debu.
"Jangan menangis, Sayang!" tukas Kushina saat Naruto menjenguknya di penjara. "Jangan biarkan mereka melihatmu menangis, dan menertawakan kelemahan kita. Kau harus kuat!"
"Aku kesal, mengapa tidak ada satu orang pun yang mempercayai kita, Bu? Kenapa?!"
Dengan lembut kushina menepuk tangan Naruto. "Yakinlah, suatu hari nanti, kebenaran akan terungkap."
"Tapi kapan? Kenapa Tuhan begitu tidak adil?"
"Jangan menyalahkan Tuhan!" tegur Kushina. "Tuhan selalu memiliki rencana pada tiap umatnya, saat ini Naru harus belajar merawat diri Naru sendiri. Ibu ada sedikit tabungan, tadinya itu akan ibu pakai untuk biaya Naru kuliah, tapi sepertinya kita harus bersiap untuk hal yang paling buruk. Pakailah uang itu, dan jika sesuatu terjadi pada ibu, Naru harus menemui nenek Mito di Konoha."
"Tidak!" Naruto menggelengkan kepala cepat. "Semua akan baik-baik saja. Ibu akan keluar dari penjara ini secepat mungkin. Kitahanya membela diri. Ibu saa sekali tidak bersalah." Potong Naruto.
Kushina hanya tersenyum tipis menanggapinya. Naruto tidak tahu, jika ibunya sudah melakukan perjanjian dengan Kazekage. Kushina akan mengakui semua tuduhan yang dialamatkan padanya, dengan syarat, Kazegake menjamin untuk menjauhkan Sasori dari Naruto.
"Bagaimanapun juga, kita harus siap akan hal yang paling buruk." Jawab Kushina lirih. "Berusahalah untuk meraih impian, jangan karena hal ini menjadikanmu patah semangat. Berjanjilah pada ibu, Naru akan hidup bahagia. Dan mungkin menjadi pianis yang hebat atau apapun yang kau inginkan asal kau bahagia."
Naruto memeluk Kushina erat, air matanya mengalir deras, tidak ada kata terucap dari mulutnya. Berkali-kali Naruto mengucapkan maaf pada Kushina, dan berkali-kali pula Kushina mengatakan jika ini semua bukan kesalahannya.
Dan begitulah, kehidupan Naruto semakin memburuk setelahnya. Kini dia dicap sebagai anak seorang pembunuh. Murid-murid yang pada awalnya mencibirnya menjadi ketakutan setiap melihatnya. "Jangan macam-macam, nanti kau dibunuh!" begitu kata mereka.
Sebenarnya hati Naruto sangat sakit karenanya, tapi dia memiliki hal yang lebih penting saat ini, mewujudkan keinginan ibunda tercinta. Dan sidang pun digelar, selama persidangan, Naruto terus berteriak pada saksi palsu yang sengaja dibayar oleh Kazekage, hingga akhirnya dia diusir dari ruang sidang. Hatinya bertambah hancur saat dia dengar ibunya di vonis bersalah dan dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara.
"Ini tidak adil!" katanya lemah. "Benar-benar tidak adil!"
Tapi apa daya, palu sudah diketuk. Upaya banding yang diajukannya berkali-kali ditolak. Setiap minggu, Naruto menjenguk Kushina di penjara. Hatinya begitu miris saat melihat keadaan ibunya yang begitu memprihatinkan. "Ibu sakit?" tanyanya khawatir."
"Tidak," jawab Kushina, padahal saat itu umurnya sudah di ujung tanduk karena penyakit radang paru-parunya semakin bertambah parah.
"Wajah ibu pucat sekali. Ibu juga sangat kurus." Kata Naruto, tangannya membelai kaca bening yang menjadi penghalang diantara mereka.
"Ibu hanya rindu untuk memelukmu," sahut Kushina. "Jangan khawatir, ibu pasti baik-baik saja."
Hari berganti minggu, dan minggu berganti menjadi bulan. Kehidupan Naruto berubah seratus delapan puluh derajat. Kehidupan di sekolahnya semakin memburuk, keadaan Kushina di penjara juga semakin buruk. Ingin rasanya dia mengakhiri semuanya, jika bukan ingat akan janjinya pada Kushina tentu dia sudah menyerah kalah. Naruto hidup dengan bergantung pada tabungan Kushina. Dia menghitung dengan cermat setiap pengeluaran untuk kebutuhan hidupnya. Bagaimanapun dia harus hemat, hingga dia bisa mencari uang untuk dirinya sendiri.
Siang itu matahari bersinar begitu terik, Naruto tidak mendapat firasat apapun saat dia menerima telpon dari sipir penjara, yang mengatakan jika Kushina baru saja meninggal karena sakit. Tanpa berpikir dua kali, Naruto segera berlari keluar kelas, dia tidak mengidahkan pandangan heran tiap murid padanya. Dia juga tidak menghiraukan teriak para sensei yang memanggilnya.
"Tidak mungkin," katanya pada diri sendiri. Naruto terus berlari kencang. Dengan tidak sabar dia mencari sebuah taksi untuk mengantarnya ke penjara. Dan benar, saat dia datang, dia hanya disambut oleh sosok Kushina yang telah terbujur kaku. Dia memeluk tubuh dingin itu erat, mencoba untuk mencari setitik saja tanda kehidupan disana. "Jangan pergi, Bu. Kumohon!" rintihnya setengah berbisik.
Pemakaman Kushina dilaksanakan tiga hari kemudian, hanya sedikit pelayat yang ikut untuk mengantarnya. Setelah semua orang pergi, hanya tertinggal Naruto disana seorang diri. Angin musim panas membelai wajah Naruto yang nampak begitu kosong. "Apa yang harus kulakukan tanpa kalian semua?" tanyanya pada ketiga pusara di hadapannya. "Bolehkah aku berharap pada Tuhan, untuk segera memanggilku juga?"
Naruto merogoh ke dalam saku rok hitamnya, diambilnya sepucuk surat yang ditinggalkan oleh Kushina untuk dirinya. Dengan perlahan dia membuka dan membaca isi surat tersebut lirih.
Teruntuk putriku tersayang,
Saat kau membaca surat ini, itu berarti ibu sudah pergi meninggalkanmu, Sayang. Maafkan ibu karena harus meninggalkanmu seorang diri. Ibu juga begitu berat harus meninggalkanmu. Tapi apa boleh dikata, lagi-lagi takdir berjalan tanpa bisa kita lawan.
Sebenarnya ibu sudah sakit dari beberapa bulan yang lalu, tapi ibu tidak bisa mengatakan semua itu padamu. Ibu tidak mau membebanimu dengan masalah kesehatan ibu, maaf yah sayang. Dari itu semua, yang paling ibu sesali adalah tidak bisa melihatmu tumbuh dewasa, tidak bisa melihatmu menjadi seorang ibu, dan tidak bisa mendampingi di saat-saat terberatmu. Lagi-lagi ibu hanya bisa berkata maaf.
Naruto, jika semuanya bertambah semakin berat, pergilah ke Konoha, cari nenekmu yang bernama Uzumaki Mito. Tunjukan padanya kalung rubi yang biasa ibu pakai, dia pasti mengenalinya. Suatu hari nanti, kita pasti bersama kembali. Sampai saat itu tiba, bersabarlah. Jadilah pianis hebat seperti yang selama ini kita impikan atau apapun yang kau inginkan.
Selamat tinggal sayang!
Dengan cinta,
Ibu
Air mata Naruto terus meluncur turun bersamaan dengan rintik hujan yang turun mengguyur bumi. Dengan erat dia memeluk kertas itu di dadanya. Badannya seketika rubuh, tangisnya pecah di antara suara petir yang menggelegar, tubuh mungilnya meringkuk di atas tanah hingga entah berapa lama.
Beberapahari kemudian, Naruto hanya berdiam diri di dalam rumah dengan memeluk foto keluarganya. Tidak ada lagi air mata yang turun dari kedua mata sapphire-nya. Dia sudah lelah, sangat lelah untuk menangis. Perlahan Naruto bangun dari tempat tidurnya, dan melangkahkan kaki menuju ruang bawah. Disingkirkannya debu yang menyelimuti piano tua itu dengan telapak tangannya.
Beberapasaat kemudian melodi indah Moonlight Sonata karya Beethoven pun mengalun dengan indah, mengiris hati jiwa setiap insan yang mendengarnya. Mengalun diantara gelapnya malam dan menembus kesunyian yang menyergap.
Sementara itu di kediaman Uzumaki, seorang wanita yang berusia enam puluh tahun memanggil salah satu pengawal setianya untuk menghadap.
"Temukan putriku!" katanya tegas dan menyerahkan berkas dalam ampol coklat tertutup pada seorang pria dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
Dengan sigap Kakashi, nama pria tersebut menerima berkas dan membaca isinya dengan teliti.
"Terakhir aku dengar berita tentangnya, hampir lima belas tahun yang lalu. Aku dengar dia melahirkan seorang putra dan putri, lalu pindah ke Suna beberapa bulan kemudian. Bawa mereka semua ke hadapanku, aku ingin bertemu mereka semua."
"Baik, kalau begitu saya permisi Nyonya Mito." Kakashi membungkuk dalam dan meninggalkan Mito yang masih duduk dengan tegak di kursi kerjanya.
"Aku harap penyesalanku ini masih belum terlambat, seharusnya aku merestui kalian sedari awal," katanya lirih dengan memandang foto Kushina kecil dengan pandangan rindu.
Sedangkan di Suna, para guru sedang berdebat hebat. Mereka berdebat mengenai siapa yang paling pantas untuk mewakili sekolah mereka dalam kejuaraan piano yang akan diadakan bulan depan di sekolah mereka.
"Aku rasa Naruto dengan latar belakangnya, bukan pilihan yang tepat untuk menjadi wakil dari sekolah kita." Tukas seorang guru wanita, dengan rambut pirang, dan kacamata bulat tebal yang bertengger di hidungnya.
"Maaf, Bu Shiho! Aku rasa musik tidak mengenal latar belakang. Di antara murid kita, Naruto adalah murid terunggul baik dalam segi penghayatan, maupun tekhnik. Daya ingatnya pun sangat kuat, aku rasa di-"
"Reputasi sekolah kita lebih penting dari semua itu Bu Konan," potong Kabuto tajam. "Aku sarankan Naruto digantikan oleh Karin. Dengan begitu kita tetap memiliki sepuluh orang perwakilan untuk kejuaraan piano nanti."
"Brakkkkkk!" dengan keras Konan menggebrak meja dan menatap setiap wajah yang ada di ruangan tersebut. "Jika memang sudah diputuskan untuk tidak mengikutsertakan Naruto, lalu untuk apa diadakan rapat ini? Semua ini hanya menyia-nyiakan waktu!" katanya lantang, seraya meninggalkan ruangan dan menutup pintu di belakangnya tidak kalah keras. Sementara ke dua belas guru lain yang berada di dalam ruangan dibuat membisu karenanya.
Konan berjalan menuju ruang musik, tempat Naruto sedang berlatih sekarang. Naruto mendongakkan kepala saat mendengar Konan masuk dengan membanting pintu cukup keras, membuat Naruto mendongak dan menoleh ke arahnya.
"Ada apa, Sensei?" tanya Naruto pada Konan yang sudah duduk di sampingnya.
"Maaf Naruto, aku gagal membelamu. Mereka menghapus namamu dari daftar wakil Suna untuk kompetisi nanti."
"Begitu?" jawab Naruto lirih. "Tidak apa-apa, ini bukan salah anda."
"Ini tidak adil, dari semua murid di sekolah ini, kamulah orang yang paling berhak untuk mewakili sekolah kita."
"Sudahlah Sensei, lebih baik kita kembali berlatih." Sahut Naruto tenang membuat Konan mendengus kecil sebelum akhirnya memfokuskan dirinya kembali untuk mengajar.
.
.
.
TBC
