Selamat membaca!

Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Hurt comfort, tragedy, romance, family, angst

Warnings : Gender switch, typo(s)

Broken Wings

Chapter 5 : Darkness

By : Fuyutsuki Hikari

Siswa-siswi Suna baik dari tingkat SMP maupun SMA menunggu dengan tidak sabar para peserta kejuaraan piano dari kota lain. Kejuaraan ini diadakan setiap tiga tahun sekali. Pemenang dari kejuaraan ini berhak untuk mewakili Jepang dalam kejuaraan piano berskala internasional. Bahkan jika peserta mampu menarik perhatian para juri, mereka bisa mendapat undangan dan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.

Kejuaraan ini dibagi menjadi tiga kategori: umur sepuluh hingga empat belas tahun, umur lima belas hingga delapan belas tahun, dan kategori dewasa. Kejuaraan berlangsung selama tiga pekan, tiap sekolah hanya diperkenankan mengikutsertakan maksimal sepuluh murid sebagai wakil dalam kejuaraan ini. Peraturan di kejuaraan ini pun sebenarnya tidak terlalu sulit, para pemain hanya diharuskan memainkan karya dari komposer yang telah ditetapkan oleh para juri.

"Kau tidak ikut menyambut perwakilan sekolah lain, Naruto? Ibu dengar perwakilan dari Konoha benar-benar tampan." Kata Konan yang saat ini masih sibuk membereskan partitur miliknya setelah kelas usai. Konan merasa simpati atas apa yang terjadi pada Naruto. Selepas kematian Kushina, dia sering mengantar Naruto pulang dan memberinya pelajaran tambahan sepulang sekolah. Konan ingin Naruto bangkit dari keterpurukannya dan memandang dunia dengan kepala tegak saat dia beranjak dewasa nanti.

"Saya tidak tertarik," jawab gadis remaja itu datar. "Apa ibu bisa temaniku berlatih piano sepulang sekolah nanti?" tanya Naruto penuh harap.

"Bagaimana ya?" jawab Konan pura-pura bingung. Ia memberikan sebuah jeda sebelum kembali berkata. "Tentu saja, aku akan menemani murid kesayanganku berlatih." Lanjutnya seraya tersenyum lembut.

"Terima kasih." Jawab Naruto senang. Dia merasa sangat beruntung memiliki Konan sebagai guru pembimbingnya saat.

"Kalau begitu ibu tunggu di ruang musik usai jam sekolah nanti, tapi sebelum itu tolong bantu sensei membawa partitur-partitur ini ke ruang guru!"

"Ya." Jawab Naruto begitu pendek.

Konan dan Naruto berjalan berdampingan menuju ruang guru. Mereka melirik sekilas ke gedung pertunjukan, yang berada tepat di seberang ruang guru. Gedung pertunjukan sekolah Suna berdiri dengan megah, bangunan tiga lantai dengan gaya bangunan Victorian kini penuh disesaki oleh para murid. Mereka saling berdesakkan untuk melihat dari dekat para wakil dari kota lain yang akan mengikuti kejuaran piano. Merasa tidak tertarik, keduanya pun segera berlalu masuk ke dalam ruang guru untuk menyimpan partitur milik Konan.

Sementara itu, Sasuke keluar dari kendaraan yang mereka tumpangi dengan wajah datar seperti biasanya. Dia mengarahkan pandangannya ke setiap murid Suna yang saat ini berkumpul, berharap gadis yang dicarinya juga ada diantara kumpulan murid ini.

"Ayo, Sasuke!" kata Neji yang mulai berjalan memasuki gedung pertunjukan sekolah Suna. Sasuke melemparkan tatapannya untuk terakhir kali, dan mendesah kecewa saat dia tidak menemukan sosok yang dicarinya.

Sebenarnya Sasuke bukan wakil dari Konoha, dia hanya ikut untuk mendukung Neji, Shikamaru, Sakura dan Ino. Well, itu katanya, yang dijadikannya sebagai alasan untuk ikut datang ke Suna, padahal tujuan utamanya adalah untuk mencari Naruto dan kalau memungkinkan dia juga ingin meminta maaf padanya.

Sasuke juga datang bersama Kiba dan Gaara. Mereka bertiga merupakan murid dari kelas musik modern. Sedangkan Neji, Shikamaru, Sakura dan Ino adalah murid dari kelas piano klasik. Ketujuhnya berjalan penuh percaya diri, saat perwakilan dari Konoha ini datang, tidak sedikit siswi yang terpekik dan terpesona karena ketampanan Sasuke dan kawan-kawan, dan jadilah mereka sosok idola baru untuk siswi Suna maupun para siswi perwakilan dari kota lain.

"Menyebalkan!" tukas Sakura sebal saat melihat tatapan memuja para siswi ini untuk rekan prianya.

"Cemburu?" tanya Ino sambil terkekeh geli ke arah Sakura.

"Lihat perempuan-perempuan itu! Awas saja kalau mereka berani mengganggu Sasuke." Gerutunya kasar.

Ino hanya menaikkan sebelah alis dan menggelengkan kepala. "Sasuke itu bukan pacarmu, Sakura. Dia bebas memilih wanita man-"

"Dia milikku!" potong Sakura hingga Ino hanya bisa mengangkat bahu dan menyudahi pembicaraan mereka, yang menurutnya tidak akan ada habisnya.

Upacara pembukaan kejuaraan piano itu dibuka dengan permainan piano juara sebelumnya. Dalam kejuaraan ini hanya peserta yang mampu bertahan hingga empat besar saja yang akan tetap tinggal di Suna hingga tiga pekan. Sementara yang lainnya akan langsung pulang, bila mereka gagal dalam setiap babak yang mereka ikuti.

Sementara di gedung pertunjukan di adakan upacara pembukaan, Naruto dan Konan malah memilih untuk berlatih di ruang musik. Naruto sama sekali tidak keberatan saat dirinya ditolak untuk mewakili Suna. Tujuannya saat ini hanya satu, lulus masuk ke Konoha gakuen. Ujian masuk ke sekolah itu lebih sulit daripada di Suna. Karena itulah dia menggunakan waktu yang tersisa untuk berlatih.

"Latihannya sampai sini dulu. Besok kita latihan lagi sepulang sekolah." Tukas Konan yang menyadari jika hari sudah semakin senja.

"Baik. Maaf karena saya banyak menyita waktu anda." Jawab Naruto tertunduk dan lirih.

"Aku tidak keberatan." Sahut Konan. "Akan jadi suatu kebanggan untukku jika nanti muridku yang satu ini berdiri dengan penuh kebanggaan di panggung dunia." Jawab Konan penuh keyakinan. Naruto tersenyum lembut karenanya.

"Ayo, aku antar kau pulang. Tunggu ibu di depan gerbang! Aku ambil mobil dulu." Naruto hanya mengangguk dan mulai membereskan peralatan sekolahnya, menutup kap tuts piano perlahan sebelum akhirnya berdiri dan berjalan di samping Konan.

Mereka berdua keluar bersama-sama dari ruang musik, Konan berjalan ke ruang guru untuk mengambil tas kerja juga kunci mobilnya. Sementara Naruto terus melangkah menuju pintu gerbang sekolah.

"Hei, Sasuke. Sebaiknya kau katakan alasan sebenarnya padaku. Menurutku rasanya klise saat kau mengatakan ingin memberikan aku juga Neji dukungan, sampai-sampai kau rela ikut bersama kami ke Suna."

Sasuke mendongak, dan menatap Shikamaru lurus. Sial, pikirnya. Kadang dia lupa jika Shikamaru terlalu pintar untuk dikelabui.

"Jadi?" tanya Shikamaru lagi.

"Hn."

"Itu bukan jawaban, Sasuke!" dengus Shikamaru kesal.

Sasuke mendecak dan melirik tajam pada Shikamaru yang balas menatapnya dengan menantang. "Sejak kapan kau suka mencampuri urusan orang lain, Shikamaru?" tanyanya ketus, sementara Shikamaru hanya mengangkat bahu tak peduli.

"Jadi?"

Sasuke mengerjap. "Apa?"

"Oh Tuhan, kau hanya perlu menjawab pertanyaanku. Apa sesulit itukah untuk menjawab?"

"Hn," jawab Sasuke singkat dan memalingkan wajahnya dari Shikamaru.

"Bisakah kalian diam?" tegur Neji tajam, yang sebenarnya sejak tadi begitu terganggu dengan pertengkaran kecil Sasuke dan Shikamaru. Sayangnya Neji hanya mendapat dengusan sebal dari keduanya. Dan sungguh, terkadang kedua sahabatnya ini lebih menjengkelkan daripada teriakan Kiba.

Kelima pemuda itu berjalan keluar gedung bersama-sama, meninggalkan Sakura dan Ino di belakangnya. Kelimanya sama sekali tidak menghiraukan tatapan memuja yang jelas-jelas dilemparkan para siswi pada mereka. Bahkan Shikamaru hanya menguap bosan karenanya.

Langkah Sasuke terhenti saat matanya melihat sosok yang dicarinya berada kurang lebih dua ratus meter dari tempatnya berdiri saat ini. Sosok Naruto yang terkena sinar matahari senja terlihat begitu rapuh. Tanpa Sasuke sadari, dia mempercepat langkahnya, hingga kini dia berlari untuk mencapai Naruto. Sayangnya, sebuah mobil SUV berhenti tepat di samping Naruto dan dia menghilang ke dalamnya dengan cepat.

"Sial," umpat Sasuke yang masih terengah dan mencoba untuk mengatur napasnya kembali. Keempat temannya hanya menatap perilaku Sasuke ini dengan tatapan aneh.

"Ah, rupanya dia alasanmu berada disini. Bukan begitu, Sasuke?" tukas Shikamaru datar.

"Cih!" Sasuke segera berbalik menuju kendaraannya. Aku pasti menemukanmu besok, janji Sasuke dalam hati.

"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Kiba tak mengerti. "Lalu murid perempuan tadi itu siapa? Kenapa Sasuke mengejarnya?" tanyanya lagi beruntun.

"Entahlah," jawab Shikamaru datar meninggalkan Kiba, Neji dan Gaara di belakangnya. Kiba melayangkan tatapannya pada Gaara dan Neji, bertanya tanpa kata pada mereka. Tapi mereka berdua juga hanya menggelengkan kepala, tanda tidak tahu.

Sesampainya mereka di hotel, Kiba tanpa henti memberondong Sasuke dengan pertanyaan-pertanyaan yang mulai terasa mengganggu. Tapi bukan Sasuke rasanya kalau menyerah kalah, dengan teguh dia tetap pada pendiriannya untuk menutup mulut.

"Kau masih belum mau menjawab?" tanya Shikamaru santai, sementara Sasuke masih tetap diam dengan wajah datarnya. "Siapa tahu kami bisa membantu, siapa namanya? Pencarian oleh lima orang bisa lebih cepat menghasilkan daripada hanya seorang diri."

"Aku tidak tahu." Jawab Sasuke.

"Hah?!" teriak keempatnya bersamaan.

"Aku tidak tahu namanya, kalau aku tahu pasti tidak akan sesulit ini untuk mencarinya." Jelas Sasuke panjang lebar. Sesaat hanya ada keheningan diantara mereka berlima, hingga akhirnya tawa keempatnya pecah. Membuat Sasuke merutuki dirinya sendiri.

"Kau mencarinya tanpa tahu namanya?" tanya Neji yang masih tertawa sambil menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak menyangka jika Sasuke bisa sebodoh ini.

"Hn."

"Siapa sangka seorang Sasuke bisa seperti ini hanya karena seorang gadis kecil." Sahut Kiba yang masih tertawa begitu keras.

"Kalian sama sekali tidak membantu!" tukas Sasuke memberikan tatapan mematikan terbaiknya pada keempat pemuda di hadapannya yang masih tertawa terpingkal-pingkal.

.

.

.

Keesokan harinya, Sasuke berjalan mengelilingi Suna Junior High School seorang diri. Murid-murid Suna dipulangkan setelah jam makan siang selama kejuaraan ini berlangsung. Sasuke sama sekali tidak peduli akan ejekan teman-temannya yang menertawakan dirinya karena menyukai gadis kecil. Ingin sekali Sasuke mengatakan jika Dobe-nya itu juga sama seperti mereka yang duduk di kelas tiga SMP, tapi bagaimana dia bisa menjawab sementara keempat temannya itu terus saja tertawa.

Langkah Sasuke terhenti di depan sebuah ruangan. Dia bisa mendengar dengan jelas alunan piano dan suara sopran yang menyanyi lembut dari dalam ruangan tersebut. Sasuke mengintip ke dalam, suara itu bisa jelas terdengar karena pintunya tidak tertutup rapat. Sasuke terhenyak saat mendapati gadis remaja yang dicarinyalah yang sedang bermain piano dan menyanyi dengan suara sopran yang indah.

Ave Maria

Gratia Plena

Maria, gratia plena

Maria, gratia plena

Ave, ave dominus

Dominus tecum

Benedicta tu in mulieribus

Et benedictus

Et benedictus frutus

Suara Naruto seakan menarik jiwa Sasuke ke dalamnya, entah kenapa suara sopran itu terdengar begitu menyedihkan dan menyayat hati. Tanpa sadar, Sasuke masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintu perlahan.

Ave Maria

Ave Maria

Mater Dei

Ora pro nobis peccatoribus

Ora pro nobis

Ora, ora pro nobis peccatoribus

Nunc et in hora mor-

Alunan suara merdu Naruto terhenti saat dirinya menyadari ada kehadiran orang lain di tempat itu. "Apa yang kau lakukan di sini? Ini ruang musik murid Suna, orang luar dilarang masuk!" tegur Naruto dengan nada agak keras.

Sasuke mengangkat bahunya ringan. "Hn," hanya itu jawaban dari Sasuke.

Naruto memandang Sasuke dengan tatapan tidak suka. Sementara Sasuke memandangnya dengan datar. Naruto mengernyit dalam, mencoba mengingat-ngingat. Dimana aku pernah bertemu dengan pemuda ini? Tanyanya dalam hati. Akhirnya dia menyerah dan bertanya. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Berani sekali dia melupakanku, tukas Sasuke dalam hati. "Kita memang pernah bertemu, Dobe. Dua kali malah." Jawab Sasuke dingin.

Keheningan menyergap keduanya saat Naruto kembali mengingat dimana dia pernah bertemu pemuda ini. "Ah, kau laki-laki mesum itu!" teriak Naruto marah, mengingat Sasuke yang pernah menciumnya dengan paksa.

"Aku juga menyelamatkanmu di hari itu, bagaimana mungkin kau lupa bagian itu."

Naruto kembali menatap tajam Sasuke, bola mata safirnya berkilat marah. "Aku tidak memintamu untuk menyelamatkanku."

"Terserah," jawab Sasuke datar. Dia menyandarkan diri pada pintu dengan nyaman, sedangkan kedua tangan dibenamkannya dalam saku celana.

"Pergilah!" kata Naruto lagi. "Kau mengganggu latihanku."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya dan menyeringai kecil. "Jika aku tidak mau?"

"Aku yang akan pergi dari sini." Jawab Naruto sambil berdiri, meraih tas sekolahnya dan berjalan untuk keluar. "Minggir!" kata Naruto agak tinggi tapi Sasuke sama sekali bergeming karenanya.

"Aku bilang minggir!"

"Hn."

"Jangan menguji kesabaranku, Teme!"

"Sasuke, namaku Sasuke. Siapa namamu?"

"Aku tidak bertanya namamu, minggir!" teriak Naruto lagi mulai tidak sabar.

"Katakan dulu namamu, dan aku akan pergi dari sini."

Naruto menimang-nimang, dia tidak ingin keluar dari ruangan ini. Tapi dia juga malas berurusan dengan pemuda yang menurutnya sangat aneh ini. Naruto menghembuskan napas keras sebelum akhirnya menjawab. "Naruto, namaku Namikaze Naruto."

"Ok, kalau begitu aku pergi." Sasuke menepati janjinya, setelah Naruto memberitahukan namanya, dia pun segera berlalu pergi dari ruang musik tersebut. Meninggalkan Naruto yang masih berdiri disana tak mengerti, karena Sasuke adalah orang kedua selain Konan yang mampu membuat dirinya bicara begitu banyak setelah kematian Kushina.

Sasuke berjalan menuju gedung pertunjukan dengan suasana hati yang gembira. Bahkan Gaara bisa merasakan perubahan hati temannya itu dengan hanya sekali lihat saja. "Apa yang membuatmu begitu senang?" tanya Gaara saat Sasuke duduk di sampingnya.

"Tidak ada," dustanya. "Bagaimana hasilnya?" tanyanya mencoba mengalihkan perhatian.

"Neji dan Shikamaru sudah lolos ke lima puluh besar. Sakura dan Ino mendapat giliran besok," jawab Gaara.

"Lalu dimana Kiba?"

"Ke toilet," jawab Gaara singkat.

Keesokan harinya Sasuke kembali ke ruang musik untuk menemui Naruto. Awalnya Naruto terus mengusirnya pergi, tapi semakin hari dia semakin lelah untuk menghadapi kekeraskepalaan Sasuke, dia hanya diam saja setiap Sasuke datang. Dalam hati Sasuke berpikir, kenapa murid seperti Naruto tidak diikutsertakan dalam kejuaraan piano kali ini? Menurut Sasuke, kemampuan Naruto diatas rata-rata. Bahkan permainannya lebih baik dibandingkan Neji maupun Shikamaru.

"Apa?" tanya Naruto saat merasakan tatapan intens dari Sasuke.

"Aku heran, kenapa kau tidak ikut serta untuk mewakili sekolahmu?"

"Batas perwakilan tiap sekolah hanya sepuluh orang, aku tidak mungkin menjadi orang kesebelas." Jawab Naruto cepat.

"Maaf, tapi menurutku perwakilan dari Suna tidak begitu bagus. Kalau memang mereka bagus, tidak mungkin enam diantaranya gagal masuk lima puluh besar."

Naruto hanya diam, tidak menanggapi ucapan Sasuke. Dalam hati dia tahu mengapa dia tidak diikutsertakan, tapi perasaan itu dia kubur dalam-dalam demi tujuan utamanya.

"Teme, kau sekolah di SMP Konoha bukan?" tanya Naruto tiba-tiba.

"Hn."

"Menurutmu, ujian masuk SMA Konoha apakah sangat sulit?"

"Kau mau masuk SMA Konoha?" tanya Sasuke menyembunyikan kegembiraannya.

"Entahlah," jawab Naruto sambil mengangkat bahu. "Dengan kemampuanku saat ini, aku tidak yakin bisa lulus dengan mudah."

"Permainan pianomu sangat baik, bahkan lebih baik dari Neji dan Shikamaru yang merupakan pianis nomor satu dan nomor dua di Konoha junior high school. Aku yakin kau bisa masuk ke SMA Konoha dengan mudah."

"Benarkah?" tanya Naruto tak percaya.

"Apa kau mau mendengar permainan mereka? Kalau tidak salah, sebentar lagi Neji akan tampil sementara Shikamaru akan tampil setelahnya."

"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi untuk melihat penampilan mereka." Naruto membereskan perlengkapan sekolahnya dan berjalan keluar. Dirinya baru saja akan membuka pintu, saat tangan Sasuke menggenggamnya erat.

"Kita pergi bersama." Kata Sasuke setengah berbisik. Naruto mencoba melepaskan genggaman tangan itu, tapi tidak berhasil. Sasuke menggandeng tangan kanannya hingga mereka tiba di gedung pertunjukan.

Naruto bisa merasakan tatapan benci dari para siswi yang dilewati olehnya. Cibiran dan hinaan itu kembali dia dengar. Tatapan tajam mereka terasa sangat menusuk, Naruto berusaha untuk melepaskan kembali genggaman erat Sasuke pada telapak tangannya, tapi lagi-lagi dia gagal. Karena semakin dia berusaha melepaskan diri, semakin erat Sasuke menggenggamnya.

Di sudut lain, Sakura mendesis dan menatap kedatangan Naruto dan Sasuke dengan tatapan tidak suka. "Siapa dia? Berani sekali dia mendekati Sasuke!" geramnya marah. "Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan untuk memisahkan mereka." Katanya menyeringai licik.

Naruto mendengarkan dengan khidmat dan begitu terpesona dengan permainan piano Neji yang mengalun lembut, sementara Shikamaru memainkan pianonya dengan semangat, tidak sesuai aturan memang, tapi menjadikannya begitu unik dan terasa nyaman di telinga.

"Bagaimana?" tanya Sasuke setelah mereka berdua keluar dari gedung.

"Entahlah, aku rasa kemampuanku saat ini masih jauh dibawah mereka."

"Ck, kau terlalu merendahkan kemampuanmu!"

Naruto baru saja akan menjawab perkataan Sasuke, tapi terpotong oleh panggilan keras Konan padanya. "Naruto, ayo kita pulang!" teriak Konan dari depan ruang guru, yang terletak persis di seberang gedung pertunjukan.

"Iyah. Tolong tunggu sebentar!" balas Naruto.

Konan mengangguk dan memberi isyarat pada Naruto untuk menunggunya di tempat biasa. Naruto berbalik ke arah Sasuke setelahnya. "Terima kasih karena sudah mau menemaniku." Tukas Naruto lirih.

"Tidak masalah," jawab Sasuke acuh. Padahal hatinya begitu gembira mendapat ucapan terima kasih dari Naruto.

"Kalau begitu aku pulang. Sampai jumpa!"

"Sampai jumpa!"

.

.

.

Malam harinya, Sakura memaksa masuk ke dalam kamar Hotel tempat Sasuke dan yang lainnya menginap. "Ini sudah malam Sakura, kalau ada yang mau dibicarakan besok lagi saja!" tegur Gaara.

"Tidak bisa!" Sakura tidak bisa menguasai emosinya. Dirinya begitu cemburu melihat kedekatan Naruto dengan Sasuke. "Aku hanya ingin bertanya satu hal pada Sasuke, setelah itu aku akan pergi."

"Apa yang mau kau tanyakan?" sahut Sasuke dingin.

"Kenapa kau begitu dekat dengan anak pembunuh itu?"

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke tak mengerti.

"Gadis pirang itu, dia bukan anak baik. Aku dengar sendiri dari murid-murid Suna, dia anak bermasalah. Dia pernah menjebak seorang murid SMA Suna dengan tuduhan perkosaan, lalu ibunya berusaha membunuh pemuda itu." Jelas Sakura, membuat semua orang yang ada di dalam kamar tersebut terkejut.

"Kau tahu nama pemuda itu?" tanya Gaara.

"Kalau tidak salah namanya Sasori."

Gaara terhenyak, itu adalah nama kakak sepupunya. Dia memang pernah dengar jika kakak sepupunya masuk rumah sakit karena percobaan pembunuhan, tapi dia tidak menyangka jika ibu dari gadis kecil itu yang melakukannya.

"Dia bukan perempuan baik-baik Sasuke, jauhi dia!" kata Sakura lagi.

"Jangan seenaknya menyimpulkan sesuatu Sakura, bisa saja apa yang kau dengar itu hanya gosip murahan." Tukas Shikamaru mencoba menengahi.

"Tidak mungkin," teriak Sakura kasar. "Semua murid Suna mengatakan hal yang sama padaku, jadi tidak mungkin salah."

"Pergi!" teriak Sasuke.

"Apa?" tanya Sakura tak percaya.

"Aku bilang pergi dari sini!" teriak Sasuke lagi tepat di wajah Sakura, membuat Sakura mundur ketakutan melihat wajah Sasuke saat ini. Sakura pun berlari meninggalkan kamar itu dengan menangis.

"Jangan ganggu aku," kata Sasuke lirih. "Aku ingin sendiri." Lanjutnya lagi, Neji, Shikamaru, dan Kiba hanya mengangguk mengerti. Sedangkan Gaara masih berusaha mencerna akan informasi yang baru saja di dapatnya.

.

.

.

Sementara itu, dilain tempat- Uzumaki Mito menunggu dengan resah kedatangan Kakashi malam ini di kediamannya. Kenapa Kakashi begitu terlambat? Tidak biasanya dia seperti ini, gumam Mito dalam hati mulai tidak sabar.

Ketukan pada pintu ruang kerjanya membuat Mito kembali dari lamunannya. Setelah diijinkan masuk, Kakashi pun segera masuk untuk melaporkan hasil pencariannya.

"Bagaimana?" tanya Mito tanpa basa basi.

Sejenak Kakashi terdiam, bagaimanapun kabar yang dibawanya saat ini, bukan kabar baik. "Sebaiknya Anda membaca sendiri hasil laporan saya." Katanya seraya menyodorkan berkas laporan pada Mito.

Mito membuka berkas itu dengan cepat. Perlahan dia tutup berkas tersebut. "Katakan padaku hasil penyelidikanmu dengan singkat, aku tidak yakin sanggup membaca semua berkas ini dalam satu malam."

"Baik," jawab Kakashi sambil mengangguk hormat. "Menantu dan cucu pertama anda meninggal dalam kecelakaan hampir delapan tahun yang lalu. Sementara putri anda-" Kakashi menjeda perkataannya, karena dia yakin kelanjutan laporannya hanya akan menambah rasa sedih pada nyonyanya ini.

"Nyonya Kushina meninggal beberapa bulan yang lalu di penjara."

"Apa maksudmu dengan Kushina di penjara?"

"Beliau dituduh melakukan percobaan pembunuhan pada salah satu anggota keluarga Sabaku. Hingga akhirnya beliau dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara."

"Tapi itu tidak mungkin, putriku tidak mungkin melakukan hal itu!"

"Saya memang menangkap kejanggalan pada kasus itu, selain itu juga ada kasus lainnya." Jelas Kakashi setenang mungkin.

"Kasus apa Kakashi, cepat katakan padaku!"

"Kushina-sama menuntut anggota keluarga Sabaku itu dengan tuduhan perkosaan pada cucu kedua anda."

"Oh Tuhan, putri dan cucuku benar-benar malang." Gumam Mito lirih.

"Tapi kasus tersebut dimenangkan oleh keluarga Sabaku, dan karena itu cucu kedua anda mencoba untuk bunuh diri."

"Lalu bagaimana keadaan cucuku?" tanya Mito agak histeris.

"Nyawanya berhasil diselamatkan."

"Syukurlah," kata Mito lega. "Dimana dia sekarang?"

"Di Suna. Dia tinggal seorang diri saat ini, dan sekolah di SMP Suna."

"Tapi dia belum genap lima belas tahun, bagaimana mungkin dia tinggal sendiri?" tukas Mito tak percaya. "Kakashi, apa kau tahu dimana makam putriku?"

"Saya tahu," jawab Kakashi singkat.

"Besok antarkan aku kesana! Setelah itu, kita jemput Naruto untuk tinggal bersama kita."

"Baik, Nyonya." Jawab Kakashi penuh hormat, dan mengundurkan diri untuk pulang.

Selepas kepergian Kakashi, Mito menatap sedih foto Kushina kecil. "Maafkan ibu sayang, harusnya ibu mencarimu jauh lebih awal." Katanya penuh penyesalan. "Ibu akan menjaga putrimu dengan baik, ibu akan berusaha membalas semua penjahat itu untukmu." Mito menangis malam itu, menangis hingga air matanya kering. Sinar bulan perak menjadi saksi bisu akan sumpah yang di ucapkan Mito malam itu, sumpah untuk membalas perlakuan keluarga Sabaku pada putri dan cucunya.

.

.

.

Sinar matahari bersinar sangat terik hari ini, Konan menyeret Naruto untuk makan siang bersamanya di kantin sekolah. Naruto menolak tentu saja, tapi Konan bersikeras hingga akhirnya dia pun duduk di sudut kantin sekolah bersama Konan siang ini.

Konan dan Naruto memesan paket bento lengkap untuk makan siang, tidak lupa jus jeruk dingin untuk menyegarkan mereka dari cuaca panas siang ini. Naruto merasa tidak nyaman berada disini, tatapan-tatapan itu sangat menusuk. Tapi, demi Konan dia mencoba untuk bertahan.

"Maaf mengganggu anda, tapi Pak Kabuto memanggil anda ke ruang guru." Tukas seorang murid wanita berkacamata tebal.

"Baiklah, aku segera kesana." Jawab Konan, dan murid itu pun membungkuk hormat dan berlalu pergi. "Naruto, aku tinggal sebentar. Kau tunggu di sini sendiri, tidak apa-apa kan?"

"Tidak apa-apa," jawab Naruto tenang. Konan sebenarnya agak was-was meninggalkan Naruto seorang diri, tapi Naruto meyakinkannya lagi kalau dia akan baik-baik saja. Setelah yakin, Konan pun pergi untuk menemui Kabuto.

Sakura yang sedari tadi mengawasi Naruto berjalan menghampir meja Naruto dan menggebrak meja itu dengan keras, hingga Naruto kaget dibuatnya. "Kau siapa?" tanya Naruto menatap sosok asing yang berdiri menjulang di hadapannya.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku," desis Sakura. "Aku minta kau jauhi Sasuke. Dasar perempuan tidak tahu diri!" teriak Sakura, sementara Ino berdiri di belakangnya, mencoba untuk menenangkan Sakura.

"Hentikan Sakura!" perintah Sasuke keras, yang kebetulan di ajak Kiba untuk mencari makanan ke kantin siang ini. Gaara pun ikut di belakang mereka.

Sakura membalikkan badan, dan terkejut saat melihat Sasuke yang menatapnya marah saat ini. "Jangan membelanya Sasuke!" balas Sakura yang tidak rela Sasuke yang lebih memilih untuk membela Naruto. "Dia itu perempuan tidak tahu diri!" tunjuk Sakura pada Naruto. "Dia tidak layak hidup, dan ibunya seorang pembunuh!" teriak Sakura lagi dengan lantang.

Dengan cepat Naruto menarik tangan Sakura hingga gadis itu menghadap padanya dan dia mendaratkan tamparan yang sangat keras tepat di pipi Sakura. "Berani sekali kau menghina ibuku!" desis Naruto berdiri menantang.

"Kau sama sekali tidak tahu apapun mengenai diriku, jadi tutup mulutmu!"

Semua murid yang berada disana terdiam membisu. Baru kali ini mereka melihat Naruto marah. Naruto melayangkan pandangannya ke setiap penjuru, melihat wajah setiap murid satu persatu, hingga akhirnya tatapannya kembali pada Sakura.

"Ibuku bukan pembunuh, bagiku dia adalah seorang pahlawan. Kau tidak tahu akan apa yang dilakukan laki-laki bejat itu padaku." Lanjut Naruto menyisakan keheningan yang menyiksa.

"Dia memperkosaku saat aku berumur empat belas tahun," jelasnya. Ino terkesiap kaget, Sasuke mengepalkan tangan menahan amarah. Hatinya bisa merasakan sakit pada diri Naruto saat ini.

"Tapi hukum berpihak padanya, mereka membebaskannya. Kalian tahu kenapa?" tanya Naruto dengan senyum tipis, pahit. "Dia bebas karena sahabatku memberikan kesaksian palsu." Katanya datar, sementara matanya menatap tajam Karin yang menunduk dan menangis.

"Kau bilang aku tidak pantas hidup?" Naruto kembali tertawa kecil. "Aku sudah mencoba untuk mengakhiri hidupku, Nona. Namun gagal. Bukan begitu, Tuan Sasuke?" tanya Naruto pada Sasuke yang saat ini berdiri mematung. "Temanmu itu pernah menyelamatkanku, kalau kau mau protes katakan padanya yang sudah lancang menyelamatkanku."

Sakura tercekat, tenggorokannya terasa kering. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah merasa sebersalah ini. Dia bisa melihat kesedihan, kehilangan dan sakit hati pada kedua mata Naruto saat ini.

"Dan hari itu, lagi-lagi bajingan itu datang untuk memperkosaku. Beruntung ibuku datang menyelamatkanku. Dia bukan pembunuh, bukan. Dia melakukan itu untuk menyelamatkanku." Desis Naruto. "Selama ini kalian terus bergunjing tentangku, tentang ibuku, salah kami apa?" teriak Naruto. "Jawab!" teriak Naruto lagi. "Kenapa kalian tidak menjawab? Kenapa kalian begitu jahat padaku? Apa salahku pada kalian? Apa?" tanyanya lirih.

Naruto berlari pergi meninggalkan keheningan yang begitu mencekam di belakangnya. Sasuke terduduk lemah saat mengetahui kebenaran tentang Naruto, sementara murid lainnya hanya tertunduk, merasa malu akan apa yang telah mereka lakukan selama ini pada Naruto.

Air mata mengalir sangat deras dari kedua sudut mata Naruto. Dia terus berlari tanpa menghiraukan tatapan aneh yang ditujukan padanya. Naruto segera mencari sebuah taksi untuk mengantarnya pulang. Lima belas menit kemudian dia sampai di rumah sederhananya. Naruto segera masuk, menuju ke dapur untuk mengambil sebilah pisau.

Setelah berhasil mendapatkan apa yang dia cari, Naruto melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandinya di lantai dua. Naruto mengalirkan air dari keran hingga bathtub-nya terisi penuh. "Maafkan aku, Bu. Aku tidak bisa mewujudkan cita-cita kita." Katanya setengah berbisik.

Dengan cepat Naruto mengiris nadi pada pergelangan tangannya. Mengalirkan darah segar yang mengalir begitu deras karenanya. Naruto membenamkan pergelangan tangannya yang terluka ke dalam bathtub yang terisi penuh. Air mata itu terus mengalir, perlahan Naruto menutup kedua matanya. Kesadarannya mulai hilang sedikit demi sedikit, hingga akhirnya kesadarannya hilang total dalam kegelapan.

.

.

.

TBC