Hallowww! I'm backkkkk! #krikkrikkrik
Maaf garing, masihkah ada penghuninya ff satu ini?
Maaf saya kelamaan muncul soalnya masih ngurusin surat lamarannya Jongin yang digantungin sehun ditiang kota. Maklumlah anak sedeng semua jadinya yang tinggal ambil pake helikopter Jonginnya malah mau ngambrukin tiangnya. Yaudah sebagai Kakak dan adiknya yang baik, saya cukup menunggu mereka selesai ngerubuhin tiangnya. Kalo nggak salah sich lebar tiangnya 2,5 m dan tingginya kalo gak salah 30m.
Terus kenapa jadi ngebahas begituan coba. Biarlah mereka urus sendiri rumah tangga mereka para readers cukup tahu aja.
Ok, this is a new chapter for u all. Happy reading. Just enjot it. Typoooooooooooooo!
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun menatap telapak tangan kirinya yang dibalut perban putih. Airmatanya tak kunjung berhenti dan semakin keras.
"Salahnya sendiri yang keras kepala"
"Jongin?"
"Ibu mau membelanya? Terserah, aku tidak peduli"
Brakk
Sehun menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangan. Kemudian ia mengusap kasar wajahnya dari airmata dan merebahkan diri diatas kasur.
Waktu telah menunjukkan pukul satu dinihari namun Sehun masih saja terjaga diatas kasurnya. Ia tidak bisa tidur. Memikirkan hyungnya yang ia pikir mulai membencinya. Ia tidak bisa jika semua orang kini membencinya. Paman Jang yang menjadi satu-satunya harapannya pun harus pergi ke Busan entah untuk berapa lama.
Sehun bergerak gelisah diatas kasurnya. Hawa dingin mulai menyelimutinya. Tapi saat telapak tangannya tak sengaja menyentuh kakinya, ia tersadar, ia mungkin kembali sakit. Sehun menenggelamkan tubuhnya didalam selimut mencoba untuk memejamkan mata.
'Aku tidak boleh sakit' batinnya bertekad.
Tapi yang ada keringat dingin mulai menyelimuti kening dan dadanya. Telapak tangan dan kakinya terasa seperti es.
Sehun membuka selimutnya dan melompat dari kasur. Ia melonjak-lonjak diatas lantai mencoba membuat suhu tubuhnya normal. Tapi bukannya seperti yang ia harapkan, Sehun merasa tubuhnya semakin lemas dan kepalanya mulai pusing. Sehun sempat akan mengeluarkan isi perutnya jika saja ia tak segera berhenti. Sehun terbatuk keras seraya memegangi dadanya.
Sehun merangkak kembali keatas kasur. Olahraga bukan pilihan terbaik sepertinya. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut. Kepalanya yang menyembul memperlihatkan giginya yang bergemeletuk kedinginan. Dan beberapa saat setelah itu ia mulai mengigau memanggil nama Jongin.
.
.
.
.
.
Nyonya Kim terihat sibuk pagi ini. Dan itu merupakan pemandangan langka dirumah ini. Jarang sekali Nyonya Kim menyentuh dapur tapi kini ia sedang berkutat didalam ruangan tersebut dibantu bibi Yoon.
.
Jongin telah lengkap dengan seragam dan keperluannya. Ia menuruni tangga menuju meja makan dan terkejut mendapati Ibunya berkutat didalam dapur dengan bibi Yoon.
Jongin meletakkan tas dikursi sampingnya sembari menatap aneh pada Ibunya. Ia mengeluarkan ponselnya tanpa mengalihkan tatapannya. Kemudian dengan usil dia berkata sedikit berteriak.
"Bibi Yoon, awas Ibu bisa membakar dapurmu!" Jongin mengulum bibir bawahnya menahan tawa.
"Ya, apa maksudmu anak nakal?" Nyonya Kim mengacungkan spatulanya pada Jongin membuat anak itu tertawa.
"Ibu kan tidak pernah menyentuh dapur" Jongin berkata acuh seolah dirinya tidak berkata apa-apa.
"Hei, Ibu memang tidak pernah menyentuh dapur sejak diperusahaan, tapi Ibu kan seorang wanita dan pernah bergelut didalam ruangan ini"
Jongin tersentak dari duduknya. Ia bahkan tidak fokus pada ponsel yang dipegangnya. Baru kali ini, setelah sekian tahun Ibunya kembali berbicara panjang lebar padanya. Bahkan Ibunya itu seperti bukan Ibu yang biasanya. Sosok didepan sana benar-benar Ibunya yang dulu. Seorang Ibu normal tanpa beban perusahaan yang memburu.
Jongin tersenyum teduh. Kemudian ia kembali mencoba menggoda Ibunya.
"Ibu jadi banyak bicara ya sekarang?"
"Eh, benarkah?"
"Tapi aku suka Ibu yang seperti ini"
Jongin kembali sibuk pada ponselnya meninggalkan Ibunya yang tersenyum lega.
"Jongin"
"Ya bu?"
"Ehm, bisa kau lihat Sehun? Dari tadi dia belum keluar kamar"
Nyonya Kim menundukkan kepalanya takut jika Jongin kembali marah seperti tadi malam. Sedangkan Jongin sebenarnya berusaha untuk tidak tersenyum dihadapan Ibunya. Bibi Yoon yang sedari tadi mendengarkan percakapan Ibu dan anak tersebut melirik kearah Tuannya yang menundukkan kepala. Ia tidak dapat menahan senyumnya menyadari perubahan sikap tuannya.
"Oh jangan-jangan Ibu berubah seperti ini karena anak itu ya"
"Jongin, dia adikmu"
"Dulu Ibu juga bilang begitu"
Nyonya Kim terdiam mendengar perkataan Jongin. Tidak, ia tidak akan menyalahkan perkataan anak itu, justru ia membenarkannya. Nyonya Kim semakin menundukkan kepalanya kemudian berbalik memunggungi Jongin.
"Bibi Yoon, tolong lihat Sehun" lirihnya sembari menyiapkan masakan yang telah matang diatas piring.
Bibi Yoon mengangguk tanpa suara. Tangannya meremas apron miliknya bermksud membersihkan tangannya. Tapi sebelum ia beranjak sepenuhnya dari dapur suara derit kursi menarik perhatiannya begitu pula Nyonya Kim.
"Biar aku yang melihatnya"
Jongin beranjak dengan wajah datarnya membuat Nyonya Kim was-was. Tanpa sadar ia terus mengikuti langkah Jongin hingga sampai didepan pintu sebuah kamar yang dapat ia lihat dari dapur. Ia semakin gelisah melihat Jongin yang memasuki kamar putra bungsunya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hingga suara bibi Yoon menyadarkannya dan kembali berkutat pada pekerjaan awalnya.
.
.
Jongin menutup pintunya pelan melihat Sehun yang ternyata masih terbaring diatas tempat tidur. Ia rindu melihat wajah lucu Sehun saat anak itu tertidur. Tapi yang ia lihat saat ini adalah Sehun yang tertidur dengan wajah gelisah. Jongin mengernyit curiga dan melangkah cepat menuju pinggiran ranjang.
Sayup-sayup ia mendengar gumaman Sehun yang memanggil namanya. Jongin membelalakkan matanya dan sontak menempelkan telapak tangannya diatas dahi Sehun.
"Astaga, panas sekali"
Jongin panik. Berkali-kali ia mengecek kembali suhu tubuh Sehun untuk memastikannya. Dan Sehun memang sedang sakit saat ini. Dahinya terasa sangat panas. Jongin menyibak selimut Sehun kemudian menggenggam tangan kanan Sehun yang tidak terbalut perban dan ia bisa merasakan dingin dikedua telapak tangannya.
Jongin reflek akan berteriak, tapi mengingat ia sudah mulai belajar menjauhi Sehun, ia mengurungkan niatnya.
Jongin kembali menyelimuti Sehun sampai dagu anak itu kemudian berniat memanggil Ibunya atau bibi Yoon. Tapi igauan Sehun membuatnya kembali menjatuhkan pantatnya diatas kasur.
"Hyung~ Jongin hyung~ hiks hiks"
Jongin memandang lekat wajah Sehun yang mulai berkeringat dan pucat.
"Hyung~ jangan tinggalkan Sehun~ Sehun takut~ jangan tinggalkan Sehun~"
Tangan Jongin terangkat ingin menyentuh kepala Sehun. Ia sempat ragu untuk melakukannya. Berkali-kali ia menarik dan mengulurkan tangannya. Dan akhirnya ia berhasil mendaratkan telapak tangannya dikepala Sehun. Mengusap lembut rambut yang mulai basah karena keringat itu. Ia mendekatkan mulutnya pada telinga Sehun yang masih memejamkan matanya dan mengigau.
"Aku- tidak akan meninggalkanmu"
Jongin mengecup pelan dahi Sehun kemudian keluar dari ruangan tersebut kembali dengan wajah datarnya.
"Dia masih tertidur, kurasa ia sakit lagi" ucap Jongin mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.
"Apa!?"
"Dasar penyakitan"
Jongin mengambil beberapa ikan dan sayur dan segera melahapnya. Sedangkan Nyonya Kim tampak terkejut dengan penuturan putra sulungnya. Ia meletakkan sendoknya hilang sudah nafsu makannya.
Sebenarnya Jongin juga telah kehilangan selera makannya, tapi ia harus sekolah kan, dan hari ini ia akan sangat sibuk sekali.
"Aku berangkat"
Jongin berjalan mendekati Ibunya dan mencium pipi wanita tersebut dan langsung berlari keluar rumah.
Nyonya Kim hanya diam karena sibuk memikirkan seseorang yang kini mulai ia kasihi. Ia memanggil bibi Yoon untuk membersihkan meja makan tanpa menghabiskan makanannya dan beranjak menuju kamar Sehun.
Nyonya Kim membuka pelan pintu kamar Sehun dan ia mendapati putra bungsunya itu bergerak gelisah diatas ranjang. Ia segera menutup pintu tersebut dan mendekati Sehun. Ia mendudukkan tubuhnya disisi ranjang. Tangannya terulur menyentuh dahi Sehun. Ia melotot merasakan panas ditangannya. Dengan segera ia berlari kearah dapur mengabaikan bibi Yoon yang menatapnya heran. Bibi Yoon hanya belum pernah melihat tuannya itu panik dan memilih tetap fokus pada pekerjaanya.
.
Nyonya Kim mengobrak-abrik isi kotak p3k dan tersenyum ketika ia menemukan obat penurun panas. Ia menyimpan obat itu disakunya dan kembali berkutat dengan peralatan dapur berniat membuatkan bubur untuk Sehun. Karena terlalu panik dan sebelumnya dia hanya tinggal menyuruh bibi Yoon mengurus anaknya yang sakit, ia bingung apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu. Sehingga ia kembali meletakkan peralatan dapurnya kemudian menganbil sebuah baskom dan mengisinya dengan air.
Ia membawa baskom berisi air dingin itu kekamar Sehun. Tapi belum sempat ia membuka pintu ia teringat, ia belum membawa handuk kecil untuk mengompres nanti, hingga ia sampai meninggalkan baskom tersebut didepan pintu begitu saja. Ia berlari menuju kamarnya dan mengahamburkan apa saja yang ada didalam lemari pakiannya. Setelah menemukan apa yang ia cari, Nyonya Kim kembali berlarian menuju kamar Sehun. Bahkan ia sempat tersandung kakinya sendiri. Dan bibi Yoon yang melihatnya hanya bisa menunjukkan ekspresi tak berminatnya.
Nyonya Kim dengan hati-hati meletakkan handuk basah diatas dahi Sehun. Ia meringis melihat Sehun yang tersentak karena sensasi dingin handuk basah didahinya. Nyonya Kim beranjak menuju lemari pakaian Sehun. Ia mengeluarkan sebuah jaket dari sana kemudian meletakkannya dipinggir ranjang.
Ia meninggalkan kamar Sehun untuk melanjutkan acara membuat buburnya setelah sebelumnya mengganti kompres di dahi Sehun.
.
.
.
.
.
.
"Permisi seonsaengnim, Heechul saem menyuruh saya untuk memanggil Kim Jongin sunbae"
Jongin mendongak mendengar namanya disebut. Ia mengalihkan perhatiannya pada guru pengajarnya dan menganggukkan kepala setelah mendapat ijin dari beliau.
"Saya permisi seonsangnim"
Jongin berjalan dibelakang siswa tinggi didepannya. Tak ada percakapan diantara keduanya karena selain tidak saling kenal Jongin juga berusaha mengingat sosok didepannya itu.
"Kau, Shim Jaeho kan?" Tebak Jongin dan sosok didepannya itu berhenti seketika membuatnya ikut berhenti.
"Ah, bagaimana sunbae bisa tahu? Apa aku seterkenal itu, hah, harusnya aku tahu itu"
Jongin terkiki geli mendengar penuturan hoobaenya. Pantas saja kelas Sehun selalu ramai, rupanya anak seperti ini yang menghuninya.
"Dasar, percaya diri sekali kau"
"Hehe, tidak apa-apakan sunbae, daripada menunggu orang yang tak kunjung memujiku, lebih baik memuji diri sendiri"
"Eh?"
"Huwaaa! Miris sekali"
Dan Jongin tertawa keras dibuatnya hingga mendapatkan teguran dari penghuni kelas yang ia lewati. Tanpa sadar kedua bocah itu berhigh five ria.
Sesampainya diruang konseling, Jaeho sempat-sempatnya melemparkan candaan pada Heechul seonsaengnin membuat guru galak itu jengkel dan mengusirnya keluar.
"Ada apa seonsaengnim memanggil saya?"
"Dimana Sehun? Dia Alfa hari ini" ucap Heechul sembari mengecek data absensi siswa. Hanya kelas Sehun, karena pagi ini ia bertugas mengajar dikelas itu.
"Alfa?"
"Iya, kemana dia? Setahuku dia tidak pernah melakukannya"
"Sebenarnya, hari ini dia sakit lagi saem. Aku tidak tahu jika orang rumah tidak ada yang memberitahu pihak sekolah"
"Bukankah biasanya kau yang membawa suratnya?"
"Saem, kan aku sudah bilang"
"Eoh? Sudah mulai ya, maaf maaf aku tidak tahu"
"Tidak apa-apa"
Benar, Heechul saem adalah salah satu dari segelintir guru yang mengetahui status kedua bersaudara itu dan mengetahui secara detail masalah apa yang mereka hadapi sekarang. Secara dia ini adalah keponakan ayah dua bersaudara itu yang artinya ia adalah kakak dari keduanya. Heechul adalah anak dari anak kakak kakeknya.
"Jongin, apa kau tidak khawatir?"
"Tentu saja aku khawatir, bagaimana saem ini"
"Hahha, kukira kau akan sepenuhnya terpengaruh"
"Tidak akan"
"Baiklah kau boleh pergi"
"Sebenarnya kalau saem menyuruhku mendekam disini aku akan sangat berterimakasih"
"Akan ku adukan kau nanti"
"Baiklah baiklah aku pergi"
"Jangan coba untuk kabur Kim, seenaknya sendiri datang dan pergi, kau pikir sekolah ini area bermain apa?"
Jongin nyengir mengingat beberapa waktu lalu ia menghajar Jongup dan dengan seenaknya langsung meninggalkan sekolah.
Membungkuk sebentar, Jongin melangkahkan kakinya kembali kekelas. Ia menghela nafas berat sembari mendongak dan mengeluh.
"Apa Ibu masih belum bisa melakukannya? Ahh~ kepalaku~"
.
.
.
.
.
.
Nyonya Kim menaruh nampan berisikan semangkuk bubur dan segelas susu putih diatas meja. Ia mencoba membangunkan Sehun yang tertidur tak tenang.
"Sehun, ayo bangun, kau harus minum obat"
"Eunghh, Jongin hyung~?"
"Jongin sedang sekolah, ayo bangun Sehun"
Sehun mengerjapkan matanya yang mengabur. Ia mencoba mendudukkan tubuhnya dan sadar bahwa orang disebelahnya adalah Ibunya. Nyonya Kim meraih jaket Sehun dan memakaikannya ditubuh anak itu telaten. Sehun diam menerima perlakuan itu. Tentu saja ia senang. Ini adalah pertama kalinya. Haruskah Sehun melompat-lompat diatas ranjang sekarang.
"Buka mulutmu"
"P-pahit"
"Ibu tahu, tapi kau harus makan dan meminum obat, mengerti?"
"Hm"
Sehun mencoba menelan buburnya yang terasa tidak enak karena indra pengecapnya selalu bermasalah tiap kali ia sakit. Sehun menolak suapan Nyonya Kim yang kesekian. Mulutnya benar-benar pahit. Dan Nyonya Kim menuruti keinginannya. Ia mengambil gelas berisi susu dan menyodorkannya pada Sehun. Pada tegukan pertama Sehun merasa ada yang aneh. Kemudian pada tegukan kedua ia berhenti sedikit lama. Dan pada tegukan ketiga Sehun mengeluarkan semua isi perutnya diatas selimut membuat Nyonya Kim terkejut dan segera meletakkan gelasnya.
"Astaga!"
"Ma-maaf"
"Tidak apa-apa, jangan bergerak dulu"
"Eum, hmmpp!"
Nyonya Kim melotot melihat Sehun yang seperti ingin kembali mengeluarkan isi perutnya.
"Keluarkan saja sayang, jangan ditahan" bahkan sepertinya ia tidak sadar berbicara seperti itu.
Sehun mengeluarkan semuanya dan terbatuk. Nyonya Kim memijit tengkuk Sehun kemudian beranjak mengambil air putih hangat dan segera meminumkannya pada Sehun. Setelah itu ia membungkus selimut tersebut dan meletakkannya diantara pakaian kotor secara terpisah. Ia mengambil sebuah selimut baru dan menyuruh Sehun nerebahkan diri dan langsung menyelimutinya.
Reflek ia mencium kening Sehun membuat anak itu terkejut dan menyuruhnya menunggu.
Nyonya Kim terlihat terburu-buru membuat bibi Yoon semakin bingung. Setelah memastikan mobil Nyonya Kim benar-benar pergi, ia mendatangi kamar Sehun dan terkejut mendapati anak itu ternyata tidak ikut berangkat bersama Jongin tadi pagi.
"Sehunnie, kenapa?"
"Hmm"
"Astaga panas sekali"
Bibi Yoon hampir saja melakukan apa yang tadi dilakukan Nyonya Kim. Tapi melihat sebuah mangkuk dan gelas susu diatas meja ia melongo.
'Oh, Jadi Nyonya Kim seperti orang gila tadi gara-gara ini?' Batinnya sweatdrop.
"Dimana Nyonya?"
"Tidak tahu, Ibu menyuruhku menunggu"
"Kenapa selimutnya ditaruh dibawah?"
"Aku muntah diatasnya"
"Benarkah?"
Bibi Yoon terlihat masih ingin menanyakan suatu hal tapi mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumah ia mengurungkan niatnya lalu berbisik pada Sehun.
"Aku akan pura-pura tidak tahu, jadi kau juga tidak boleh mengatakan aku tahu kalau kau sakit, setuju?"
"Kenapa?"
"Sudah setuju saja, aku harus segera keluar, cepat sembuh Sehunnie"
Sehun menatap bingung pintu kamarnya yang baru tertutup kemudian melebarkan matanya ketika pintu itu kembali terbuka dengan sosok yang berbeda.
Nyonya Kim mendekati ranjang dan duduk disisinya. Ia mengecek suhu tubuh Sehun dengan tangannya kemudian mengeluarkan plester pereda panas dan merekatkannya didahi Sehun. Ia mengambil beberapa butir obat dari dalam tas plastik yang ia bawa. Dengan lembut ia membantu Sehun untuk duduk sedangkan anak itu menurut saja.
"Ayo minum obatnya"
Sehun hampir saja muntah mencium aroma obat-obatan itu. Ia menutup hidungnya sembari menelan pil warna warni itu membuat Nyonya Kim tersenyum melihat tingkahnya.
Setelah Sehun menelan semua obatnya Nyonya Kim menyuruhnya segera berbaring. Ia mengeluarkan sebotol minyak gosok dari dalam tas plastik. Ia membuka selimut Sehun sebatas pinggang kemudian membuka resleting jaketnya dan menyingkap kaos sebatas dada Sehun. Ia menumpahkan minyak itu ketangannya kemudian mengusapkannya keperut Sehun secara merata.
Sehun diam merasakan usapan lembut diperutnya. Itu benar-benar membuatnya nyaman hingga matanya menjadi sayu dan akhirnya tertidur.
Nyonya Kim membenarkan pakaian dan jaket Sehun kemudian menyelimutinya. Ia beranjak membersihkan peralatan makan diatas meja. Sekembalinya ia hanya mengambil selimut kotor Sehun dan keluar lagi.
.
.
.
"Nyonya, apa yang kau lakukan?" Bibi Yoon bertanya antusias melihat tuannya bergelut dengan selimut kotor dibagian belakang dapur.
"Ini tidak bisa jika menggunakan mesin cuci, jadi pakai cara tradisional saja" ucapnya sedikit tersengal karena bergelut dengan seekor selimut tebal didepannya.
"Mau saya bantu?"
"Ah tidak perlu Bi"
Nyonya Kim kembali mengucek sudut demi sudut selimut tersebut kemudian berhenti karena teringat sesuatu.
"Astaga, aku belum memberitahu pihak sekolah. Bi! Bibi Yoon! Tolong ambilkan ponselku dimeja makan!"
Nyonya Kim membilas tangannya cepat dan mengeringkannya pada pakaian bawahnya. Ia segera menerima ponselnya dan mencari kontak seseorang.
"Yeoboseyo"
"..."
"Ya, Sehun tidak masuk hari ini, dia sakit, maaf aku baru memberitahunya sekarang"
"..."
"Tidak, aku sudah melimpahkannya pada Ayahmu"
"..."
"Baiklah, aku tutup, terimakasih Heechul"
Nyonya Kim menyimpan ponsel disaku roknya dan melanjutkan kegiatannya.
.
.
.
.
.
.
Jongin membuka pintu kamar Sehun pelan mengira tidak akan ada yang tahu kelakuannya tapi baru saja ia memalingkan wajahnya kedalam kamar reflek ia balik kanan dan keluar dari kamar. Jongin mengelus dadanya yang berdebum lumayan cepat. Ia tidak tahu jika Ibunya ada disana dan sedang berbaring disamping Sehun.
Ia bernafas lega melihat peubahan Ibunya tapi kalau begini caranya ia juga akan semakin sulit bertemu Sehun. Ia jadi sedikit menyesali keputusannya.
"Eunghh, Jongin hyung? Jongin hyung"
Jongin tersentak mendengar lirih suara Sehun didalam sana. Sepertinya anak itu kembali mengigau. Ia ingin sekali masuk kedalam sana tapi sudah ada Ibunya yang menunggu.
'Tidak-tidak, pergi saja dari sini'
"Hikss Jongin hyung~"
Kan Jongin jadi tidak tega. Ia membuka pintu kamar Sehun pelan, hanya sedikit. Ia bisa melihat dari sana Ibunya yang mengusap lembut kepala Sehun dan mengganti plester pereda panas dengan kompres biasa. Jongin mengerucutkan bibirnya.
"Seharusnya aku yang melakukan itu" dumelnya seraya manyun.
Puk
"Hmmpp!"
'Aduh hampir saja kelepasan! Eh? Siapa yang berani mengagetkanku!?'
"Heechul hyung!?"
"Apa yang kau lakukan dengan pintu ini, bocah!?"
"Ssstt, jangan keras-keras nanti Ibu dengar"
Heechul membelalakkan matanya. Telunjuknya bergantian menunjuk pintu didepannya dan hidung Jongin membuat bocah dihadapannya menatap malas.
"I-ibu mu didalam?"
"Iya"
"Wah, cepat sekali"
"Hm"
"Dan kenapa kau cemberut seperti itu"
"Kan harusnya aku yang didalam, bagaimana sich"
"Malangnya nasibmu, sudah minggir aku mau masuk"
"Ikut~"
"Baiklah dan aku akan membiarkan kalian bertiga berada didalam"
"Jahat~"
"Ish sana, kembali ke habitat mu"
"Aku manusia hyung"
"Siapa yang bilang kau beruang pesek?"
Jongin menggeleng pelan dan Heechul masuk dengan terburu-buru.
"Ya! Hyuuuung!"
Heechul tersenyum lebar mendengar teriakan tertahan Jongin. Ia bersyukur anak itu tidak akan berani masuk kalau tidak, bisa dipastikan dia akan bergulat dengan beruang pesek itu hingga titik tenaga penghabisan.
"Heechul, kau disini?" Nyonya Kim buru-buru beranjak dari kasur membuat Heechul kembali tersenyum.
"Iya, harusnya dari pulang sekolah sore tadi, tapi Ayah menyuruhku kesana"
"Jadi kau belum sempat menginjakkan kaki dirumah?"
"Bibi, ini kan juga rumahku"
Nyonya Kim terkekeh pelan dan menyuruh Heechul mendekat. Heechul mendudukkan dirinya disisi ranjang yang lain. Ia tersenyum mendengar Sehun yang masih saja mengigau memanggil nama Jongin. Meletakkan tangannya diatas dahi Sehun, ia sedikit meringis karena merasakan panas tubuh anak itu.
"Apa dia sudah meminum obatnya?"
"Teratur. Pagi tadi ia sempat mengeluarkan isi perutnya tapi untungnya tidak berlanjut"
"Bibi, apa tidak sebaiknya Jongin dipanggil kesini?" Heechul terlihat mengusap peluh yang menetes didahi Sehun sedangkan Nyonya Kim tampak berpikir.
"Kupikir juga begitu, tapi- aku takut dia yang seperti itu"
"Bibi" Heechul menggenggam jemari bibinya lembut, "Percayalah, Jongin tidak akan seperti itu"
"Hmm, kuharap juga begitu"
Nyonya Kim akhirnya menuruti saran Heechul bergegas pergi ke kamar Jongin. Meminta anak tersebut ikut menemani Sehun dikamar.
"Sehun, bersabarlah, tinggal tunggu hasil dari kerja keras hyung bodoh mu itu, kekekeke"
.
.
.
.
.
.
Heechul telah meninggalkan rumah itu beberapa saat yang lalu ketika sepasang Ibu dan anak memasuki kamar Sehun. Ia berusaha untuk tidak tertawa melihat tatapan tajam Jongin padanya. Ia hanya membatin 'rasakan itu' yang ia tujukan pada Jongin. Dan terpaksa Jongin harus memasang wajah datar bin tripleknya.
Jongin duduk disamping Ibunya yang tersenyum. Ia sedikit terkejut saat Ibunya menarik kepalanya terjatuh dipangkuan. Dengan senang hati, Jongin menyamankan posisinya. Berpura-pura menghadap kearah Sehun agar ia bisa lebih leluasa memandangi wajah adik kekanakannya.
"Kau lihat, Sehun bahkan langsung tenang saat kau ada disini"
"..."
"Jongin, apa kau ingat, dulu saat kita masih hidup ber- lima" Nyonya Kim tersenyum teduh sembari mengusap helaian rambut Jongin.
"Pasti tidak ingat, kau bahkan masih berusia 3 tahun waktu itu" Nyonya Kim membenarkan letak kepala Jongin dipangkuannya.
"Kau sering sekali menempel pada Soojung eomma daripada denganku. Kemanapun ia pergi kau akan selalu mengekor dibelakangnya. Ibu tahu, ibu bukan seorang yang baik waktu itu karena terlalu dikuasai perasaan cemburu dan marah. Dan melihatmu yang terus menempel padanya membuat Ibu sedih. Tapi mau bagaimana lagi, Soojung memang benar-benar gadis yang baik"
Nyonya Kim tersenyum lembut mendapati ekspresi wajah Jongin yang tampak memperhatikan.
"Saat Ibu terlalu larut dalam perasaan yang salah itu hingga akhirnya sempat meninggalkan rumah, ia yang selalu merawatmu. Bahkan ketika masih ada aku, ia yang selalu terlihat paling panik saat kau sakit. Dan walaupun dia telah memiliki anak dari rahimnya sendiri, ia tidak pernah membedakan kasih sayangnya pada kalian"
Nyonya Kim beralih mengusap surai Sehun yang terlihat sedikit terganggu tidurnya.
"Aku sangat ingat waktu itu. Kau menangis keras saat ditinggal olehnya kerumah sakit, padahal dia akan segera melahirkan adikmu ini, khukhukhu. Dan akhirnya Ayah mengajakmu serta Ibu ikut dengannya"
"Apa yang terjadi selanjutnya?" Nyonya Kim tersenyum menanggapi tanggapan anaknya.
"Kau bahkan bersikeras ikut masuk ruang persalinan waktu itu"
"Benarkah!?"
"Dan karena takut mengganggu pasien lainnya karena kau menangis dengan sangat keras, akhirnya dokter lebih memilihmu ketimbang Ayah untuk menemani Soojung. Bahkan mereka meletakkanmu diranjang yang sama duduk tepat disamping kepala Soojung eomma" Nyonya Kim mencium gemas kening Jongin.
"Benarkah?"
"Kau tahu, Ayah sampai mondar-mandir diluar ruangan karena takut kau menangis.
.
"Thujong emmmma"
"Jo-jonginnie, kenapa disini sayang? Akh"
"Jonin mau iyat adik jonin"
"T-tapi, adiknya belum keluar, Jongin"
"Ayo, Nyonya tarik nafas, dorong perlahan"
"Jonin nundu adik cini"
"Akhh, a-apa kau tidak takut, eum?"
"Tidak, jonin mau iyat adik"
"Jongin kau menangis, sayang- akhh"
"Emmmma thatit, hikss"
"Tidak apa, k-khaaan adiknya akhh mau keluarrrr"
"Ayo Nyonya sedikit lagi, kepalanya akan terbebas"
"Emmma~"
Oekkk oekkk
"Emmma! Adik Jonin! Adik Jonin!"
.
"Rasanya Ibu ingin tertawa waktu mendengarkan penjelasan dokter waktu itu"
"Memangnya kenapa?"
"Mereka bilang kau sangat cerewet didalam sana. Bahkan para perawat yang membantu hanya geleng-geleng kepala. Mereka bilang pada Ayah kalau mereka kagum padamu yang bisa memfokuskan diri pada Soojung eomma dan adikmu saja"
"Tentu saja, aku kan laki-laki"
"Haisshhh kau ini"
Nyonya Kim menyentil kening Jongin membuat anak itu meringis.
"Eunghhh,"
"Kau mau bilang apa sekarang, eum?"
"Ibu, aku mau keluar saja"
"Hei, tidak mau-"
"Tidakk!"
"Jongin~"
Jongin berlari menuju kamarnya dan menghempaskan tubuhnya kasar keatas ranjang. Posisinya tengkurap dengan kedua tangan dan kaki yeng terbuka lebar.
"Hahhh, Soojung eomma maafkan anakmu yang tampan ini"
.
Dan berakhir dengan aku yang semakin marah dan cemburu.
Tbc
Big Thank's To:
Nagisa Kitagawa - hwa794 - HilmaExotics - - levy95 - YoungChanBiased - BabyWolf Jonginnie'Kim - Scarletshad1230 - MaknaEXO - Xing1002 - Arcan'sGirl - Kim Rae Sun - kimihyun211 - kaishixun - - - lianclouds - yunacho90 - - Uchiharuno Rozu - - melizwufan - KimKaihun8894 - yoyoyo - sukha1312 - dlsrhmaa - Silent readers - mengkyuwind - Seli kim - Hunhun - enchris.727 - KaiNieris - babyhunhun94 - Haesan - Aliyya - geash
Terimakasih atas perhatiannya dan sampai jumpa.
#disikat
Huahahaha! Sebenarnya saya mau ketawa dari tadi.
So, what do you think about this chap?
Pasti membosankan, pasti kurang ngefeel, pasti kurang gereget, pasti kurang dapet dan yang lebih penting pasti kurang panjang.
Maafkan saya yang ndal ndul ini. Maklumlah yang saya urus makhluk makhluk aneh bin ajaib. #lirikEXO
Jadi kalo masih kurang gimanaaaaa gitu, ya maafkan saya sebagai manusia yang poloth ini, hikth.
Sampai jumpa lagi, bye bye.
