Selamat membaca!
Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Hurt comfort, tragedy, romance, family, angst
Warnings : Gender switch, typo(s)
Broken Wings
Chapter 6 : A New Life
By : Fuyutsuki Hikari
Mito menatap sendu ketiga pusara yang ada di hadapannya. "Maafkan ibu yang datang terlambat." Ucapnya lirih pada pusara Kushina. "Aku akan menjaga putri kalian dengan baik, dan dendam itu akan aku hitung dan balas. Istirahatlah dengan tenang, aku akan sering mengunjungi kalian." Tambahnya sendu sebelum berbalik pergi dan segera masuk ke dalam kendaraan miliknya.
"Antarkan aku ke rumah cucuku. Sekarang!" perintah Mito tegas.
"Bukankah kita harus menjemput Nona di sekolah?" tanya Kakashi.
"Kita masih memiliki waktu untuk menjemputnya, aku ingin melihat rumah tempat tinggal mereka dulu." Jawab Mito. Kakashi mengangguk penuh hormat, dan memerintahkan supir menuju alamat yang dia berikan.
Kendaraan yang dikendarai oleh Iruka berhenti di seberang jalan rumah Naruto. Mito membuka kaca jendela mobil dan memandang rumah kecil berlantai dua dicat putih yang berdiri di seberang sana. "Jadi, disini kau tinggal selama ini, Kushina?" katanya lirih dengan helaan napas panjang. Beberapasaat kemudian mata Mito menangkap sebuah taksi yang berhenti di depan rumah kecil itu. Seorang gadis berambut pirang turun dari dalam taksi dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Apa itu Naruto?" tanya Mito pada Kakashi sambil menunjuk sosok Naruto yang telah menghilang ke dalam rumah.
"Benar."
"Bukankah seharusnya dia masih berada di sekolah, kenapa dia sudah pulang?" tanya Mito lagi dengan kening berkerut dalam.
"Seharusnya begitu, Mito-sama." Jawab kakashi. Mito menghembuskan napas dan kembali menatap rumah kecil itu.
"Lebih baik kita masuk dan memperkenalkan diri." Tukas Mito kemudian, dan dengan sigap Kakashi turun untuk membukakan pintu mobil dan membantu wanita tua itu keluar dari dalam mobil. Dengan perlahan Mito berjalan menuju rumah, sesampainya di depan pintu, Kakashi segera menekan bel rumah.
Tidak ada jawaban.
Kakashi kembali menekan bel beberapa kali, tapi tetap tidak mendapat jawaban dari dalam rumah.
"Kita masuk paksa saja Kakashi, perasaanku tidak enak." Ujar Mito setelah menunggu dan tak kunjung mendapat jawaban dari dalam rumah.
Kakashi segera melaksanakan perintah Mito dan memutar knop pintu tersebut. "Pintunya tidak dikunci," tukas Kakashi sambil menatap majikannya itu.
"Cepat cari Naruto! Perasaanku benar-benar tidak enak." Tukas Mito lagi, kini dengan ekspresi panik, sementara Kakashi segera masuk dan mencari Naruto ke segala penjuru rumah.
"Mito-sama!" teriak Kakashi menggema ke seluruh ruangan itu. Mito berjalan agak cepat dengan bantuan Iruka menuju Kakashi di lantai dua. Tubuh Mito lemas saat dia melihat cucunya pingsan, terkapar tak berdaya dengan darah segar yang terus mengalir dari pergelangan tangan kanannya, menyebabkan air di dalam bathub itu berganti warna.
"Angkat dia Kakashi! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Tukas Mito mencoba untuk tetap tenang. Kakashi segera meraih tubuh mungil Naruto ke dalam pelukannya, setengah berlari dia membawa tubuh itu keluar rumah dan memasukkan-nya ke dalam mobil.
"Cepat Iruka, kita harus segera ke rumah sakit."
"Baik Mito-sama." Jawab Iruka, segera menancap gas dan dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit.
Naruto segera mendapatkan pertolongan sesampainya di rumah sakit. Mito akhirnya bisa bernapas lega saat dokter yang menangani Naruto mengatakan cucunya itu sudah berhasil melewati masa kritis. "Cucu anda akan sadar dalam beberapa jam ke depan, anda tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja." Tukas dokter berkacamata tebal itu meyakinkan Mito.
"Terima kasih banyak dokter." Mito menjawab dengan helaan napas penuh kelegaan.
"Baik, kalau begitu saya permisi." Jawab dokter itu sebelum berlalu pergi.
Mito duduk di samping tempat tidur Naruto, air matanya kembali berlinang tatkala melihat cucunya yang berbaring tanpa daya. "Apa yang harus aku lakukan agar kau kembali hidup layaknya gadis normal seusiamu?"
Ketukan pada pintu kamar inap Naruto membuyarkan lamunan Mito. "Anda memanggil saya Mito-sama?" tanya Kakashi setelah menutup pintu.
"Aku ada tugas penting untukmu, aku harap kamu mengerjakannya dengan baik dan rapih!"
"Apapun perintah anda Mito-sama." Jawab Kakashi tenang.
"Buat surat kematian palsu atas nama Naruto. Bicaralah pada dokter dan berikan alasan yang masuk akal. Aku ingin setiap orang yang mengenal Naruto beranggapan jika dia sudah meninggal dunia." Jelas Mito tegas dengan kedua tangan terkepal erat dikedua sisi tubuhnya.
"Tapi, apakah Nona tidak akan keberatan nantinya?"
"Lihat dia Kakashi!" tunjuk Mito pada tubuh Naruto yang terbaring di atas tempat tidur pasien. "Dia bahkan mencoba untuk membunuh dirinya sendiri, aku yakin dia akan setuju akan rencanaku. Sekarang cepat lakukan tugasmu!"
"Baik, saya segera bereskan semuanya Mito-sama."
Hanya perlu satu malam bagi Kakashi untuk melaksanakan tugas sulit dari Mito. Walau sulit untuk meyakinkan dokter, pada akhirnya dia mendapatkan juga persetujuan dokter untuk membantunya. Dokter itu adalah dokter yang sama yang menangani Naruto pada saat dia mencoba bunuh diri untuk pertama kali. Dia akhirnya setuju, karena merasa jika Naruto memang memerlukan identitas baru untuk memulai hidupnya lagi.
Keesokan paginya Naruto sadar dan terkejut saat melihat seorang wanita asing yang duduk di samping tempat tidurnya. "Siapa anda?" tanyanya lemah.
"Akhirnya kau bangun juga, Sayang. Syukurlah." Jawab Mito lega. "Namaku Uzumaki Mito, aku adalah nenekmu."
Naruto tercekat, untuk pertama kali dia bisa melihat neneknya. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan cara seperti ini. "Anda yang menyelamatkan saya?" tanyanya masih dengan suara yang terdengar lemah.
Mito menggeleng. "Tidak, aku hanya membawamu ke rumah sakit. Tuhanlah yang sudah menyelamatkanmu."
Naruto terdiam, mulutnya seakan tersumbat, dia tidak tahu apalagi yang harus dikatakan di hadapan neneknya ini.
"Naru…?" panggil Mito lembut. Perlahan Naruto mengalihkan pandangannya hingga matanya bertemu dengan pandangan mata Mito. "Mulai saat ini, Namikaze Naruto sudah meninggal. Sekarang, kau adalah Uzumaki Naruko. Aku yang akan menjaga dan merawatmu mulai dari detik ini."
"Maksud anda apa?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Tidakkah kau ingin memulai kehidupan yang baru. Tidakkah kau ingin hidup layaknya gadis seusiamu? Karena itu, tanggalkan nama lamamu. Dan hiduplah sebagai Uzumaki Naruko!" jelas Mito lembut.
Naruto menghela napas dan menutup erat matanya. "Kenapa nenek baru datang sekarang?" tanyanya lirih dengan ekspresi sedih. "Kenapa nenek tidak datang saat ibuku masih hidup, andai saja nenek datang lebih awal, mungkin ibu masih bersama kita saat ini."
"Maafkan nenek, Sayang. Sungguh penyesalan itu datang sangat terlambat. Ijinkan nenek menebus semua kesalahan yang sudah kulakukan. ijinkan nenek hidup bersamamu, ijinkan nenek menjagamu, menyayangimu, mencintaimu. Kau tahu, saat ini nenek hanya seorang tua renta yang telah kehilangan putri kesayangan juga keluarganya. Kasihani aku. Nenek hanya ingin menghabiskan sisa hidup bersamamu." Jelas Mito setengah berbisik. Dengan susah payah Naruto bangkit, duduk di atas tempat tidurnya dan merengkuh Mito ke dalam pelukannya.
"Aku akan ikut nenek. Aku janji akan jadi anak yang baik. Aku janti tidak akan mengecewakanmu." Katanya sambil terisak.
"Nenek akan berusaha mencukupi semua kebutuhanmu. Kau tidak perlu khawatir akan masa depanmu. Kita mulai lembaran baru bersama-sama."
Sahut Mito seraya membelai lembut surai pirang Naruto. Entah berapa lama mereka terhanyut, meluapkan rasa rindu juga kebutuhan untuk saling berbagi kasih sayang dan juga saling melengkapi satu sama lain.
Satu hari berlalu sejak kejadian itu, di sekolah Konan begitu panik saat tidak bisa menghubungi Naruto. Kemarin dia ditugaskan oleh Kabuto untuk menjadi pengawas kejuaraan, hingga dia sibuk dan tidak mengetahui jika Naruto tidak masuk sekolah. Dan pagi ini saat dia mengajar, lagi-lagi Naruto absen. Aneh, pikirnya karena tidak biasanya Naruto mematikan telepon genggamnya.
Dengan tergesa dia berjalan menuju kantin untuk mencari teman sekelas Naruto. Keadaan kantin begitu ramai siang ini, karena selain murid Suna, para peserta maupun pendukung kejuaraan piano pun banyak yang menghabiskan jam makan siangnya di sini.
"Karin, apa kau melihat Naruto?"
"Tidak," jawab Karin sambil menggelengkan kepala.
"Kapan terakhir kali kau melihatnya?"
"Saat makan siang, dan itu sudah dua hari yang lalu."
Itu adalah hari saat aku mengajaknya makan siang, pikir Konan lagi. "Baiklah, terima kasih informasinya." Kata Konan seraya beranjak pergi, namun Karin menahan pergelangan tangannya.
"Sensei mau kemana?" tanya Karin ingin tahu.
"Ke rumah Naruto, aku takut dia sakit."
"Boleh saya ikut?" tanya Karin agak gugup.
"Baiklah. Aku ambil mobil dulu. Kau tunggu di gerbang sekolah!"
"Ya," jawab Karin singkat.
Sasuke yang duduk tidak jauh dari meja Karin, mendengar dengan jelas pembicaraan mereka berdua. Dua hari yang lalu dia tidak menyusul pergi Naruto karena berpendapat jika gadis itu memerlukan waktu untuk menenangkan diri. Kejadian dua hari yang lalu masih menyisakan syok pada diri Sakura, konsentrasinya terpecah hingga akhirnya dia gagal mendapatkan nilai cukup untuk melaju ke putaran berikutnya. Dia begitu menyesal akan ucapannya dan ingin meminta maaf pada Naruto.
"Kau mau kemana Sasuke?" tanya Neji saat melihat Sasuke berdiri dari kursinya.
"Mengikuti guru tadi ke rumah Naru."
"Aku ikut," tukas Sakura dan sukses mendapat tatapan dingin dari Sasuke. "Untuk apa?" tanyanya dingin.
"Aku ingin meminta maaf," jawab Sakura lirih dan penuh penyesalan.
"Baiklah, tapi jangan coba berbuat macam-macam Sakura. Atau kamu akan menyesal!" jawab Sasuke penuh penekanan, sementara Sakura mengangguk mengerti.
"Aku juga ikut," kata Gaara. "Aku harus menanyakan hal pribadi pada gadis itu. Bagaimana pun semua ini berhubungan dengan keluargaku."
"Sayang sekali aku tidak bisa ikut," sahut Ino. "Pertandinganku satu jam lagi."
"Aku pun sama, kalau ada apa-apa cepat hubungi kami." Kata Neji sambil menepuk pundak Sasuke, sedangkan Shikamaru hanya diam. Karena dia juga sama tidak bisa ikut, karena gilirannya tampil setelah Ino.
"Hn."
Setelah itu, Sasuke, Gaara, Kiba, juga Sakura segera masuk ke dalam mobil untuk mengikuti Konan. Sakura bahkan sengaja menunda kepulangannya ke Konoha agar dapat bertemu dan meminta maaf pada Naruto secara langsung.
Konan segera memarkir mobil SUV miliknya di halaman rumah Naruto dan dengan langkah cepat berjalan menuju pintu depan. Ditekannya bel pintu Naruto dengan tidak sabar. Sesekali dia menggedor pintu itu dengan keras dan memanggil nama Naruto.
"Naruto, buka pintunya! Ini sensei." Teriaknya lantang. Konan berjalan hingga perkarangan belakang rumah Naruto, tapi masih tidak menemukan keberadaan Naruto.
Betapa terkejutnya Konan saat mendapati empat orang murid asing yang berdiri di depan pintu Naruto saat dia berjalan kembali dari perkarangan belakang. "Siapa kalian?" tanyanya heran.
"Kami semua ingin bertemu Naruto." Jawab Sakura. Karin yang pada awalnya berdiri di belakang Konan maju ke depan dan mencoba untuk membuka knop pintu rumah Naruto, dia terkesiap kaget saat mendapati pintu rumah itu sama sekali tidak terkunci.
"Sensei?" panggilnya seraya berbalik untuk menatap Konan. "Pintunya tidak dikunci."
Tanpa pikir panjang, Konan akhirnya menyerbu masuk dan langsung mencari Naruto ke dalam rumah. Hati Konan tidak tenang saat dia tidak menemukan Naruto di dalamnya. Dengan cepat dia naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar Naruto diikuti oleh kelima murid yang lain di belakangnya.
Keadaan kamar Naruto begitu rapih, Konan membuka lemari pakaian Naruto dan mendesah lega saat melihat pakaian Naruto masih tergantung rapih disana. Ketenangan Konan terusik saat mendengar teriakan dari dalam kamar mandi.
"Ada apa?" tanyanya saat melihat ternyata Karin sudah menangis di dalam kamar mandi dan menatap horor pemandangan di hadapannya.
"Oh Tuhan tidak," kata Konan saat melihat sebilah pisau tergeletak di lantai dan air bathub yang mengeluarkan bau anyir juga berwarna merah. "Tidak. Tidak. Naruto tidak mungkin berbuat senekat itu." Katanya tak percaya dengan mata berkaca-kaca.
"Mau kemana, Sasuke?" tanya Kiba saat melihat Sasuke berjalan cepat keluar dari kamar Naruto.
"Rumah sakit, kita mencarinya disana."
Pernyataan Sasuke seakan mengembalikan pikiran tiap orang yang berada di sana. Mereka pun dengan cepat mendatangi satu persatu rumah sakit yang ada di Suna, tapi hasilnya nihil. Tidak ada pasien baru atas nama Namikaze Naruto di sana. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit ke tujuh, yang merupakan rumah sakit terbesar di Suna.
Dengan napas terengah, Konan kembali menanyakan kepada suster penjaga.
"Apa ada pasien yang masuk atas nama Namikaze Naruto?"
"Anda siapa?" tanya suster tersebut dengan suara ramah. "Apa hubungan anda dengan pasien?"
"Saya guru pembimbingnya." Jawab Konan tidak sabar.
Suster tersebut segera mengecek data pasien di dalam komputer dan kembali menatap Konan dengan pandangan simpati. "Nona Namikaze memang dibawa kesini dua hari yang lalu karena percobaan bunuh diri."
"Lalu dimana dia sekarang?" potong Sasuke tajam.
"Dia sudah dibawa kembali oleh keluarganya." Jawab suster itu tenang.
"Bagaimana mungkin? Naruto sebatang kara." Sahut Karin dengan air mata yang terus turun dari kedua pelupuk matanya.
"Begitulah, dua hari yang lalu jenasahnya dibawa pulang."
"Apa maksudmu jenasah?!" teriak Sasuke kencang.
"Nona Namikaze dibawa kesini dalam keadaan memprihatinkan, kami sangat menyesal tidak dapat menyelamatkannya." Jelas suster tersebut dengan suara professional, dan akhirnya tangis Karin pun pecah, penyesalannya membuncah keluar. Dadanya begitu sakit, penyesalan ini tidak bisa dia tebus hingga akhir hayatnya.
Konan dan Sakura terduduk lemas, sementara Sasuke terus berteriak pada suster, mengatakan jika dia sudah berdusta. "Sasuke tahan emosimu!" tukas Kiba mencoba untuk menenangkan teman baiknya itu.
Gaara hanya berdiri mematung, dalam hati dia mengatakan jika ini hanya mimpi buruk. Beberapa suster berhenti berjalan untuk melihat apa yang sedang terjadi di meja penerangan. Samar, Gaara bisa mendengar pembicaraan dua orang suster yang berdiri tidak jauh darinya.
"Gadis cantik itu begitu malang, aku masih ingat saat pertama kali dia dibawa kesini karena mencoba bunuh diri."
"Benar aku juga ingat, dia korban pemerkosaan. Tapi pelakunya bisa bebas karena kekuasaan. Benar-benar malang," sahut suster yang lain.
"Sayang sekali, kali ini nyawanya tidak bisa diselamatkan." Gumam suster itu dan dijawab anggukan kecil dari suster yang lain.
"Andai saja aku tidak memberikan keterangan palsu." Kata Karin lirih tapi masih mampu ditangkap dengan baik oleh telinga Gaara.
"Apa itu benar?" tanya Gaara pada Karin. "Jadi benar, yang dia katakan tentang kesaksian palsumu?"
"Be-nar," jawab Karin terbata. "Aku memang memberikan kesaksian palsu dalam persidangan Naruto."
Sasuke berbalik, berjalan ke arah Karin dan mengguncang tubuhnya dengan keras. "Kenapa?"
"Karena aku terpaksa," akunya lirih.
"Jelaskan!" tukas Gaara tajam tidak kalah marah.
"Kazekage mengancam keluargaku, dia akan membatalkan semua kerjasama dengan perusahaan tou-san jika aku memberikan kesaksian untuk membela Naruto."
Gaara terdiam, dadanya begitu sesak. Dia tidak mengira jika ayahnya akan bertindak sejauh itu untuk menyelamatkan kakak sepupunya.
"Naru menderita, dia tidak mendapat keadilan karenamu." Sahut Sasuke dingin.
"Kalian pikir aku tidak merasa berdosa?!" teriak Karin dengan wajah berderai air mata. "Naruto sahabatku, aku menyayanginya. Setiap kali melihatnya, aku selalu teringat akan dosa yang sudah aku perbuat. Demi Tuhan, aku menyesal! Aku benar-benar menyesal!" lanjutnya setengah berteriak.
Gaara yang sudah memanas, berbalik dan berlari. Dia harus menanyakan semua ini pada ayahnya, bagaimanapun dia sangat membenci ketidakadilan. Sesampainya di mansion keluarga Sabaku, Gaara segera berjalan masuk tanpa menghiraukan sapaan sopan dari butler maupun maid keluarganya.
"Dimana Ayahku?" tanya Gaara dingin pada seorang butler tua yang datang menyambutnya.
"Beliau ada di ruang kerja." Jawab butler itu sopan.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Gaara lekas berlari menuju ruang kerja Kazekage dan masuk tanpa ijin.
"Dimana sopan santunmu?" tukas Kazekage tajam saat melihat putra bungsunya masuk tanpa permisi.
tApa benar tou-san menggunakan kekuasaan tou-san untuk membela Saso-nii?" tanya Gaara tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Kazekage lagi, pura-pura tidak mengerti.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Seorang gadis muda kehilangan nyawa akibat perbuatan kalian!" teriak Gaara emosi.
Kazekage menggebrak meja keras, dan menjawab tidak kalah keras. "Jaga bicaramu Gaara!"
"Aku tidak mungkin diam saja, melihat ketidakadilan ini." Sahut Gaara.
"Kau tidak perlu ikut campur akan urusanku, kau harusnya bersyukur karena ayahmu ini sanggup memenuhi segala kebutuhanmu. Sekarang pergilah! Sekolah dengan baik. Sekali lagi ayah ingatkan, jangan ikut campur!"
"Jadi itu benar?" tanya Gaara lirih. "Apa alasan ayah melakukan itu semua?"
"Demi nama baik!" teriak Kazekage marah.
"Hanya karena nama baik, seorang gadis kecil mati karenanya. Seharusnya ayah mendidik Saso-nii dengan baik, agar dia tidak menjadi seorang penjahat!"
Plakkk! Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Gaara dengan keras. "Sudah kubilang, jangan ikut campur!"
"Aku menyesal, aku benar-benar menyesal terlahir di keluarga ini." Tukas Gaara dingin seraya berbalik pergi meninggalkan sang Kazekage berdiri membeku di tempatnya.
Perasaan Gaara begitu hancur saat mengetahui orang yang begitu di hormatinya di dunia ini tega melakukan hal sekeji itu. Andai saja Sasori ada dihadapannya saat ini, dia pasti sudah memukul kakak sepupunya itu sampai puas. Perbuatan ayahnya telah menghilangkan nyawa seseorang, merengut seseorang dari keluarganya, dan itu benar-benar tidak bisa dimaafkan.
Gaara terus berjalan menuju hotel tempat mereka menginap dan mendapati jika teman baiknya Sasuke juga sudah ada di sana. Sasuke duduk tanpa mengatakan apa-pun. Pandangannya begitu kosong dan kelam.
"Kau baik-baik saja, Gaara?" tanya Kiba yang sangat khawatir saat melihat satu lagi temannya nampak sangat kacau. Gaara hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia membiarkan air dingin membasuh seluruh tubuhnya yang masih terbungkus pakaian, membiarkan air itu membawa pergi tangisnya untuk seorang gadis malang.
Waktu berlalu begitu cepat setelahnya. Setelah berita kematian Naruto, Sasuke menjadi sosok yang lebih pendiam daripada biasanya. Dia sangat senang mengenakan pakaian yang berwarna hitam. Jika ada yang bertanya, dia hanya menjawab singkat. "Aku sedang berduka." Teman-temannya sudah lama menyerah mencarikannya gadis pengganti sosok Naruto karena hal itu tidak pernah berhasil. Sasuke lebih memfokuskan diri untuk keberhasilan band-nya dan tidak pernah tertarik akan urusan percintaan.
Sementara itu, Naruto selalu mendapatkan kasih sayang melimpah dari Mito. Dia dididik untuk menjadi dan bersikap layaknya seorang Uzumaki. Naruto memutuskan untuk menyelesaikan sekolahnya di rumah. Dengan bantuan guru-guru terbaik, dia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan berhasil diterima di salah satu Universitas ternama di New York. Awalnya Mito enggan untuk melepasnya pergi, tapi akhirnya dia luluh juga melihat ketekunan Naruto yang berjuang agar bisa masuk ke Universitas tersebut.
Tahun demi tahun, Mito terus menyusun rencana agar dapat membalas keluarga Sabaku. Dan rencana awalnya dimulai dengan cara menghancurkan sedikit demi sedikit perusahaan besar milik Kazekage. Kakashi dengan setia membantu dan menjalankan setiap tugas yang diembankan Mito padanya. Iruka bertugas untuk menjaga Naruto. Selama ini dia selalu berada disisi Naruto dan tidak pernah beranjak darinya.
Sasuke, Neji, Kiba dan Shikamaru mengadu nasib di bidang tarik suara dan sukses membuat mereka begitu terkenal dengan band-nya. Sakura, Ino, Karin dan Hinata yang belakangan ikut bergabung membentuk group vokal sebagai idol baru. Sementara Gaara lebih memilih untuk menjadi seorang detektif, bekerja di kepolisian Konoha yang tentu saja mendapat tentangan keras dari Kazekage namun itu sama sekali tidak digubrisnya.
Lain lagi dengan Naruto, setelah delapan tahun pergi dari sisi Mito dan berhasil dengan rumah modenya di New York akhirnya dia pun kembali ke Jepang untuk membuka cabang rumah mode di Konoha.
Rambut pirang sebahunya tertiup oleh sepoi angin yang begitu menyejukkan. Naruto menatap nanar pusara ayah dan kakak laki-lakinya. Andai saja aku meninggal bersama kalian pada saat itu, mungkin aku tidak akan kesepian seperti sekarang, batinnya sedih. Matanya lalu beralih pada pusara Kushina. "Benarkan, Bu. Jika kita ikut meninggal bersama ayah dan kakak, maka hal buruk tidak akan terjadi pada kita. Dan Ibu tidak perlu mengorbankan semuanya demi diriku." Gumamnya lirih.
Langit yang seakan ikut merasakan kesedihan Naruto, mulai menurunkan hujan. Air hujan turun membasahi bumi. Membasahi setiap insan yang tak berlindung untuk menghindarinya. Naruto menatap langit, dan tersenyum pahit. Dirinya sangat menyukai hujan, saat hujan turun dia bisa bebas menangis. Saat hujan turun, dia tidak perlu malu untuk menangis, karena hujan akan membawa pergi tiap tetes air mata yang jatuh dari kedua matanya. Dia menangis untuk mengatakan jika dia sangat rindu keluarganya, menangis untuk bertanya mengapa takdir begitu kejam padanya. Menangis untuk bertanya kapan dia kembali berkumpul bersama keluarganya.
Dengan cepat dia menghapus air matanya dan bergumam lirih. "Kalian jangan mengkhawatirkanku, sekarang aku memiliki Nenek yang selalu ada untukku. Aku akan hidup dengan baik, hingga nanti akhirnya aku bisa kembali berkumpul bersama kalian."
Naruto mengalihkan pandangannya pada pusara Kushina. "Maafkan aku, Bu. Aku lebih memilih menjadi designer daripada menjadi pianis seperti cita-cita kita dulu. Aku ingin memulai hidup baru, dan aku yakin ibu pasti mengerti."
Angin bertiup menerpa setiap insan yang menghalangi jalannya. Takdir akan segera datang untuk kembali mempertemukan insan yang telah lama terpisah, dan benang merah akan mengikat kembali dengan kuat dua insan yang dulu dipisahkan oleh sang takdir.
.
.
.
TBC
