Selamat membaca!
Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Hurt comfort, tragedy, romance, family, angst
Warnings : Gender switch, typo(s)
Broken Wings
Chapter 7 : We Meet Again
By : Fuyutsuki Hikari
Ada yang berbeda di dalam ruang kantor Kazekage siang ini. Sang Kazegake yang biasanya terlihat begitu angkuh dan tenang nampak begitu kesal dan marah. Beberapa barang pecah menjadi korban pelampiasan amarahnya siang ini. "Sial!" makinya untuk kesekian kali. Digebraknya meja kerja jati yang mengkilat itu dengan keras. Kankuro sang asisten hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya dalam.
Kankuro yang sejatinya merupakan anak angkat dari sang Kazekage tak mampu berkata saat ini. Kemarahan ayah angkatnya itu terlihat begitu jelas. Perusahaan mereka lagi-lagi kalah bersaing dengan perusahaan Uzumaki dalam tender pembangunan Hotel milik Uchiha Corp.
"Wanita tua itu benar-benar membuat kesabaranku habis!" teriak Kazekage geram. "Sudah berapa kali mereka mengalahkan kita dalam persaingan tender?" tanyanya pada Kankuro yang berdiri diam membatu. "Jawab, Kankuro!" bentaknya keras. "Berapa banyak kita kalah dari nenek tua itu?"
Kankuro menelan ludah beberapa kali, takut jika jawabannya nanti akan menambah amarah sang Kazekage bertambah parah. "Le-lebih dari sepuluh." Jawabnya lirih dan terbata, dengan kepala yang semakin menunduk dalam.
"Arghhhhh...!" lagi-lagi Kazekage berteriak frustasi. "Jika terus seperti ini kita bisa bangkrut!" ujarnya seraya menghempaskan diri pada kursi kerjanya yang nyaman. "Aku harus memikirkan cara agar nenek tua itu berada di bawah kekuasaanku." Kazekage melirik tajam pada Kankuro dan berkata dengan nada agak tinggi. "Panggil pulang Sasori! Aku memerlukan bantuan kakak sepupumu itu."
Kankuro membungkuk dalam untuk memberi hormat, tanpa banyak bicara dia langsung keluar dari dalam ruangan itu dan segera menjalankan perintah sang Kazekage. Kankuro sebenarnya putra dari adik Kazekage yang telah meninggal dunia. Dikarenakan kedua orang tua Kankuro meninggal dunia karena kecelakaan, makan Kazekagelah yang bertanggungjawab untuk menjaganya juga menjaga Temari yang merupakan adik dari Kankuro. Mereka pertama kali masuk ke dalam rumah Kazekage saat Kankuro berumur sepuluh tahun, sementara Temari berumur delapan tahun saat itu.
Setelah lulus kuliah, Kankuro tidak memiliki pilihan lain selain bekerja di bawah Kazekage. Tidak terasa sudah hampir lima tahun dia bekerja bersamanya. Terkadang dia ingin pergi, namun dia terikat oleh hutang budi pada sang Kazekage yang telah merawatnya hampir selama tujuh belas tahun.
Sementara itu di tempat lain, Mito bertemu dengan Fugaku untuk menandatangani proposal kerja sama mereka. "Senang bisa kembali bekerja sama dengan perusahaanmu Fugaku." Kata Mito dengan suara halus nan berwibawa.
"Justru kami yang sangat senang dapat bekerja sama dengan anda, Mito-sama." Jawab Fugaku penuh hormat. Tak dapat dielakkan lagi, di dunia bisnis nama Uzumaki Mito begitu dihargai dan dikagumi. Wibawanya dan juga sikapnya yang tegas menjadi contoh bagi para pembisnis yang lain. Mito yang saat ini sudah hampir berumur enam puluh lima tahun menjadi panutan bagi para pebisnis lain, dirinya lebih dihormati dan disegani walaupun sebenarnya Uchiha Corp memiliki kekayaan yang jauh di atas Uzumaki Corp.
"Bagaimana jika hari ini anda makan malam bersama kami? Istri saya pasti sangat senang jika anda dapat makan malam bersama kami." Tawar Fugaku sopan. Mito tersenyum dan menatap Fugaku.
"Mungkin lain kali Fugaku, hari ini aku sudah ada janji dengan cucu perempuanku."
"Cucu perempuan?" tanya Fugaku heran, selama ini dia sama sekali tidak pernah mengetahui jika Mito memiliki seorang cucu. Dunia luar hanya tahu jika putri tunggal Mito sudah lama meninggal dunia karena kecelakaan, dan dunia tidak pernah tahu jika Mito memiliki seorang cucu.
"Benar," jawab Mito. "Cucuku baru saja pulang beberapa hari yang lalu." Katanya lembut. "Jika tawaranmu masih berlaku, mungkin aku dapat membawa serta cucu perempuanku untuk makan malam di kediaman kalian minggu malam nanti."
"Tentu saja Mito-sama, tawaran saya berlaku sampai kapanpun." Jawab Fugaku senang. "Kami akan menunggu kedatangan anda, juga cucu anda." Lanjutnya lagi.
Mito tersenyum lembut dan mengangguk. "Sampaikan salamku untuk istrimu!" katanya seraya berdiri dari tempat duduk, menjabat tangan Fugaku dan akhirnya keluar dari ruang meeting Uchiha Corp dengan penuh wibawa. Kakashi langsung bergabung untuk berjalan di belakangnya. Semua orang yang berada di ruang meeting itu berdecak kagum melihat sosok Mito yang berjalan dengan penuh percaya diri, seakan-akan dunia tunduk di bawah kakinya.
"Tou-san, mengapa tou-san lebih memilih Uzumaki Corp dibanding dengan Sabaku Corp?" tanya Itachi saat mereka berdua sudah kembali duduk dengan nyaman di dalam ruang kerja milik Fugaku. Fugaku menyimpan dokumen yang sudah dia tandatangani ke dalam brankas yang terletak di bawah meja kerjanya. "Bukankah Sabaku Corp menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan Uzumaki Corp?" lanjut Itachi saat Fugaku tidak menjawab pertanyaannya yang pertama.
"Ada beberapa alasan, Putraku," jawab Fugaku tenang. "Design hotel yang diajukan oleh Uzumaki Corp sangat sesuai dengan ciri khas perusahaan kita." Katanya seraya memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Bukankah design dari Sabaku Corp juga mirip dengan Uzumaki Corp, Tou-san?"
"Benar, serupa tapi tidak sama." Kata Fugaku tenang. "Aku akui design dari Sabaku Corp memang sangat mengesankan. Namun justru itu yang membuatku merasa aneh."
Itachi hanya bisa mengerut bingung akan jawaban dari Fugaku. "Maksudnya?"
"Dengan design seperti itu, bagaimana mungkin harga yang mereka tawarkan bisa jauh di bawah Uzumaki Corp?" Fugaku tersenyum kecil saat melihat wajah putra sulungnya yang semakin bingung.
"Jangan tertipu dengan harga murah, Itachi!" tegur Fugaku. "Teliti, pelajari dan lihat ke depannya. Jangan tergoda oleh hal indah, namun menyimpan racun di dalamnya." Fugaku berdiri dan menepuk bahu Itachi pelan. "Kau masih harus banyak belajar, renungkan apa yang tou-san katakan tadi! Ayo kita pulang!"
Itachi hanya bisa menghela napas panjang dan segera mengikuti langkah Fugaku keluar dari dalam ruangan itu dan sepertinya malam ini Itachi harus berpikir keras untuk mengartikan arti dari penjelasan Fugaku tadi.
.
.
.
Dalam sebuah mini van, Sasuke hanya bisa memandang keluar jendela mobil, berpura-pura tidak mendengar ocehan Kiba yang sejak keluar dari studio latihan tidak henti-hentinya bicara. Shikamaru sudah tertidur dengan pulas seakan tidak terganggu akan suara Kiba yang begitu berisik. Sementara Neji menenggelamkan diri pada sebuah buku yang selalu dia bawa untuk membunuh rasa bosannya.
Sementara itu- Naruto, dia segera kembali ke rumah setelah berada cukup lama di makam keluarganya. Langit yang beberapa saat lalu sempat cerah kini mulai digantungi oleh awan gelap. Naruto kembali menatap langit penuh minat. Hujan turunlah! Mohonnya dalam hati. Dia sengaja turun di halte bus yang masih berjarak cukup jauh dari kediamannya, dan melanjutkan perjalanan pulangnya dengan berjalan kaki.
Beberapa pejalan kaki melirik ke arah Naruto dengan berbagai macam emosi, ada yang berdecak kagum, tertarik juga beberapa wanita merasa iri melihat sosok Naruto yang terlihat begitu memesona dengan dress hitam di atas lutut yang dipadankan dengan sepatu bot kulit hitam berhak tinggi membungkus kaki jenjangnya begitu sempurna. Dia terlalu fokus dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari akan perubahan suasana di sekitarnya.
Sasuke menatap langit yang semakin menghitam. Kenangan itu kembali muncul di pikirannya. Naruto... Katanya dalam hati seraya menatap langit. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju studio TV, untuk menjadi bintang tamu dalam sebuah talkshow.
Tetes air hujan mulai membasahi bumi, para pejalan kaki mulai menyingkir untuk menghindari, beberapa yang lain mengeluarkan payung untuk melindungi diri, ada juga yang berlari menyelamatkan diri mereka dari air hujan yang turun semakin deras. Berbeda dengan Naruto, dia malah tersenyum, menengadahkan wajahnya ke langit, menutup kedua matanya dan merentangkan tangan lebar seakan ingin meraup semua air hujan itu. Dia terus berjalan tanpa mempedulikan keadaan tubuhnya yang semakin basah kuyup.
Sasuke kembali melayangkan pandangannya keluar jendela saat mini van yang ditumpanginya berhenti karena lampu merah. "Kenapa harus turun hujan?" desis Asuma dibalik kemudinya, dengan cuaca seperti ini membuatnya harus lebih hati-hati dalam mengendarai kendaraannya. Dia sedikit kesal karena tidak bisa memacu kendaraannya lebih cepat saat hujan, karena jalanan menjadi lebih licin, sementara dia harus membawa para idol asuhannya ini kurang dari satu jam lagi.
Senyum kecil terukir di wajah Sasuke saat dia menangkap sosok seperti Naruto berdiri di bawah guyuran air hujan dengan merentangkan kedua tangan dan kepala yang menengadah menatap langit. Sepertinya aku begitu merindukanmu, hingga aku mulai berhalusinasi. Katanya dalam hati. Sasuke mendecak saat beberapa wanita berjalan melewati sosok Naruto, dia kesal karena biasanya sosok itu akan menghilang beberapa saat kemudian.
Sasuke mengerjapkan mata beberapa kali dan duduk dengan tegak, jantungnya berdebar begitu cepat saat matanya masih dapat melihat sosok Naruto yang masih berdiri tegap tak jauh dari mini vannya. "Dobe?" panggilnya lirih, Sasuke begitu kalut saat mendapati sosok Naruto mulai berbalik pergi.
"Tunggu!" teriaknya keras mengagetkan semua orang yang berada di dalam mini van itu.
Tanpa pikir panjang dia membuka pintu mobil dan berlari mengejar sosok Naruto yang sudah menjauh pergi, Sasuke tidak menghiraukan teriakan Asuma yang memanggilnya keras serta guyuran hujan yang mulai membasahi seluruh tubuhnya. Para pejalan kaki yang mulai mengenalinya terpekik saat melihatnya. Beberapa wanita muda berteriak histeris dan mulai berlari untuk mengejar Sasuke. Tidak sedikit diantara mereka yang mulai mengambil photonya, Sasuke semakin panik saat kehilangan jejak Naruto. Dia terus berlari tanpa menyadari jika para fansnya ikut berlari untuk mengejarnya.
Sasuke menjambak rambutnya yang lepek karena terkena air hujan dengan keras dan mulai frustasi. "Dobe," bisiknya lirih. Napasnya semakin memburu, dia terus berlari mencari sosok Naruto. Sasuke berhenti tepat di bibir jalan dan berteriak keras, suaranya teredam oleh suara hujan yang turun semakin deras sore itu. Sasuke tersentak kaget saat ada seseorang yang menariknya kembali masuk ke dalam sebuah mobil.
"Apa yang kau pikirkan, Sasuke? Berlari di tengah hujan, lihat ke belakangmu!" omel Asuma saat dia kembali membawa kendaraannya, menyelamatkan Sasuke dari kejaran fans yang semakin bertambah banyak di belakangnya. Asuma membawa kendaraannya kembali untuk menembus jalanan kota Konoha. Sasuke tidak menjawab, matanya terpejam begitu erat sementara kedua tangannya dia pakai untuk menangkup kepalanya.
"Ada apa?" tanya Neji yang begitu heran melihat tingkah sahabatnya ini yang begitu tidak lazim.
Kiba yang melihat ini hanya bisa diam, sementara Shikamaru menatap Sasuke penuh tanya. "Sasuke?" panggil Neji lagi yang mulai khawatir saat Sasuke diam membatu tanpa berkata apapun.
"Aku melihatnya." Jawab Sasuke setengah berbisik, namun masih mampu di dengar oleh keempat pria lain yang berada di mini van itu.
"Siapa?" tanya Neji bingung.
Sasuke menegakkan tubuh untuk duduk bersandar, tatapannya begitu kosong, air hujan menetes jatuh dari helai rambut ravennya. Kiba menyodorkan sehelai handuk dan diterima Sasuke penuh terima kasih. "Kau masih belum menjawab pertanyaanku Suke, siapa yang kau lihat?"
"Naruto." Jawab Sasuke getir.
Asuma yang tidak mengerti pembicaraan ini hanya bisa mendengarkan dan kembali berkonsentrasi untuk menyetir. Neji, Shikamaru dan Kiba menghela napas berat dan menatap Sasuke prihatin. "Sas, dia sudah meninggal-"
"Aku tahu," kata Sasuke memotong perkataan Neji tajam. "Tapi itu dia, aku yakin."
"Mungkin hanya mirip," sahut Shikamaru sambil menepuk pundak Sasuke beberapa kali. "Atau mungkin hanya halusinasimu saja Suke." Timpal Kiba yang kemudian menyesali ucapannya saat mendapat tatapan tajam yang begitu menusuk dari Sasuke. "Maaf, Sas!" kata Kiba takut.
Sasuke menghembuskan napas panjang. "Aku yang harusnya minta maaf, kau benar Kiba. Itu hanya halusinasiku saja, bagaimanapun dia sudah pergi."
Keempat pria itu bisa menangkap nada sedih pada suara Sasuke. Khusus untuk Neji, Shikamaru dan Kiba, mereka sudah mengetahui jika Naruto adalah sosok yang menjadi sumber kesedihan, keputusasaan dan penyesalan bagi Sasuke selama ini. Beberapa kali mereka mencoba untuk mengenalkan wanita cantik kepada Sasuke, namun Sasuke selalu menampiknya dengan dingin, hingga akhirnya mereka membiarkan Sasuke sendiri, berharap sang waktu mampu untuk mengobati luka hati Sasuke.
Pada akhirnya, hanya ada keheningan yang menggantung selama perjalanan mereka. Tidak ada satu pun yang buka suara untuk mengenyahkan kesunyian yang terasa sedikit mencekik diantara mereka. Mereka lebih memilih diam dan memberikan waktu untuk Sasuke menenangkan diri.
Sementara itu, di kediaman Uzumaki, kepulangan Naruto yang dalam keadaan basah kuyup disambut dengan omelan panjang dari Iruka yang terlalu mencemaskan keadaannya. "Kenapa Ruko-sama tidak memanggilku untuk menjemput?" tanya Iruka kesal. "Kenapa tidak berteduh dulu? Bagaimana kalau anda sakit?" tanyanya lagi beruntun, yang sukses membuat Naruto berbalik badan dan menatapnya intens.
"Karena aku ingin jalan-jalan. Aku tidak berteduh karena aku suka hujan. Kalau aku sakit, bukankah ada Iruka-san yang akan menjagaku?" jawab Narutopanjang lebar dengan senyum terkembang. Sementara itu, Iruka hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban dari nonanya ini. "Baa-san sudah pulang?" tanya Naruto kemudian.
"Belum, mungkin sebentar lagi." Jawab Iruka sopan.
"Kalau begitu, lebih baik aku membersihkan diri dulu saja. Aku akan turun saat jam makan malam." Tukas Naruto yang segera masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan berendam di dalam air hangat untuk menghilangkan hawa dingin yang mulai menyergap sekujur tubuhnya.
Neji, Shikamaru dan Kiba hanya bisa menyembunyikan rasa kagum mereka pada Sasuke yang saat ini sudah bisa kembali bersikap biasa, seakan tidak ada sesuatu hal pun yang mengganggu pikirannya.
Sasuke mampu fokus akan setiap pertanyaan yang sesekali ditanyakan pembawa acara itu kepadanya. Jeritan para fans menggema di studio itu tiap kali dia menjawab. Dalam hati Sasuke mengumpat, berharap jika waktu cepat berlalu dan dia bisa kembali ke apartemen-nya untuk beristirahat.
Talk show itu ditutup dengan lagu yang dibawakan oleh para personil Black Knight, Sasuke membawakan lagu sedih itu penuh penghayatan. Dirinya terhanyut pada tiap suku kata yang merupakan lirik dari lagu yang dibawakannya. Lagu itu benar-benar menyampaikan perasaannya saat ini, perasaan rindu, kehilangan, cinta dan harapan yang terlalu sulit untuk menjadi nyata. Beberapa penonton menitikan air mata mendengar lagu ini, dan akhirnya riuh tepuk tangan mengiringi para personil band ini untuk pergi menghilang dari panggung show.
.
.
.
"Cukup, Sasuke!" tegur Neji keras, saat mendapati Sasuke mulai meminta bartender untuk mengisi kembali gelasnya dengan vodka dingin. "Kau sudah mabuk," Neji memberikan tanda untuk bartender itu agar menjauh, hingga Sasuke melakukan protes dengan cara mengetukkan gelas kosongnya pada meja bar. "Ayo kita pulang!" kata Neji seraya menopang tubuh Sasuke dengan susah payah.
Sasuke bersikeras untuk diantar ke klub malam Akatsuki setelah talk show itu selesai. Neji yang sangat khawatir akhirnya memutuskan untuk menemaninya, sementara Neji dan Shikamaru lebih memilih untuk pulang dan istirahat, bagaimanapun besok jadwal mereka lebih padat dari hari ini, dan hal itu membutuhkan tenaga dan kondisi fit untuk melaluinya.
Dengan susah payah Neji membawa Sasuke pulang ke apartemen milik Sasuke. Beruntung mereka bisa mendapatkan taksi dengan cepat saat itu. Hari ini tidak ada satu pun diantara mereka yang membawa kendaraan pribadi, karena sudah satu minggu mereka berempat selalu diantar oleh Asuma dengan mini vannya, lebih praktis katanya, dan sepertinya Neji harus melancarkan protes untuk kebijakan Asuma itu.
Neji meraih pigura photo yang ada di atas meja nakas di samping tempat tidur Sasuke dan menatap sosok yang ada di dalam photo itu sendu. "Jika saat itu Sasuke bisa menemukanmu tepat waktu, mungkin saat ini kau bisa berada di sisi Sasuke. Dan Sasuke tidak akan terus menerus hidup dalam rasa bersalah." Gumam Neji lirih, pada photo Naruto yang Neji sendiri tidak tahu kapan Sasuke mengambil photo Naruto. Di dalam photo itu, terlihat Naruto yang masih mengenakan baju seragam SMPnya duduk di balik piano, dan sepertinya begitu khidmat memainkan alat musik itu hingga tidak menyadari jika Sasuke mengambil photo dirinya secara diam-diam.
Perlahan Neji meletakkan kembali pigura photo itu ke tempatnya, mematikan lampu kamar Sasuke dan segera keluar dari apartemen itu untuk pulang ke rumahnya sendiri. "Semoga tidak sulit mencari taksi," doanya lirih.
Keesokan harinya, Sasuke terbangun dengan rasa nyeri yang begitu menyiksa di kepalanya. Kepalanya serasa mau pecah dan terus berdenyut tanpa ampun. "Sial!" Umpatnya kasar, dengan berat dia langkahkan kaki menuju kamar mandi dan dengan cepat mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin, berharap rasa sakit itu bisa sedikit hilang. Setelah selesai mandi, Sasuke segera bersiap dan berjalan menuju dapur untuk membuat segelas kopi, dan beberapa sandwich tomat untuk mengganjal perutnya pagi ini yang terasa begitu lapar, karena kemarin malam dia sama sekali tidak sempat untuk makan.
Sasuke menatap layar telepon genggamnya datar, saat telepon itu bergetar menandakan ada email masuk. Email itu berasal dari Asuma yang mengatakan jika latihan akan dimulai tepat pukul delapan pagi, dan hari ini Sasuke harus pergi ke studio dengan kendaraannya sendiri. Dia dengan cepat menghabiskan sarapannya, diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, dengan segera dia menyambar kunci mobilnya dari atas meja console dan bergegas pergi menuju studio tempat mereka biasa berlatih selama ini.
Naruto kembali tersenyum manis pada Mito yang saat ini masih melancarkan rayuannya agar cucu semata wayangnya itu mengurungkan niatnya untuk hidup terpisah darinya dengan membeli sebuah apartemen untuknya tinggal. "Tidak perlu khawatir baa-san, aku pasti baik-baik saja." Jawabnya untuk kesekian kali, saat mereka berdua tengah menyantap sarapan pagi ini.
"Tetap saja aku khawatir. Selain itu, rumah ini akan kembali sepi jika kau pergi."
"Aku akan sering menginap, aku janji."
"Baiklah," jawab Mito akhirnya menyerah kalah. "Tapi ingat, kau harus sering menginap!"
Naruto berdiri dan memeluk Mito dari belakang, di kecupnya kedua pipi Mito penuh kasih sayang. "Arigatou baa-san!"
"Hm, tapi ada syarat yang lain." Tukas Mito lembut.
"Apa?" tanya Naruto lirih, sementara kedua tangannya masih memeluk Mito erat.
"Minggu malam nanti temani aku untuk makan malam di luar!"
"Hanya itu?" tanya Naruto semangat sementara Mito mengangguk kecil. "Ok, malam Minggu nanti aku akan temani baa-san makan malam diluar." Katanya manja.
"Habiskan sarapanmu dulu, hari ini kau mau keluar?"
"Rencananya hari ini aku akan mencari apartemen lagi."
"Masih belum dapat yang sesuai dengan keinginanmu?"
"Begitulah." Jawab Naruto singkat, dia benar-benar tidak menyangka jika akan sesulit ini untuk mencari apartemen yang sesuai dengan keinginannya. Naruto tidak suka apartemen mewah, yang dia inginkan hanya sebuah apartemen bergaya minimalis, memiliki satu kamar tidur dengan kamar mandi di dalamnya, sebuah dapur yang hanya di pisahkan oleh sekat untuk ruang makan, juga ruangan luas yang akan dia gunakan sebagai ruang tamu, merangkap ruang keluarga, juga tempat meja kerja serta rak gantung untuk menyimpan hasil karya-nya. Tidak lupa juga sebuah pojok untuk meletakkan sebuah baby piano hitam.
"Mau baa-san bantu cari?" tawar Mito hingga Naruto berbinar menatapnya. "Tentu saja," jawab Naruto semangat.
"Baiklah, aku akan bantu cari."
"Terima kasih," sahutnya Naruto lembut.
Hari sudah siang saat para personil Black Knight menyudahi latihannya. Kiba mengibas-ngibaskan kemejanya yang terasa begitu lengket menempel pada tubuhnya. "Panas sekali," keluhnya entah untuk yang ke beberapakali.
"Ini," Shikamaru menyodorkan sekaleng minuman dingin yang diterima penuh rasa terima kasih oleh Kiba. "Terima kasih."
"Kau mau, Sasuke?" tawar Shikamaru saat melihat Sasuke hanya duduk dan memetik senar gitarnya asal. "Tidak," jawab Sasuke singkat. "Mana Neji?" tanya Sasuke saat tidak mendapati Neji di dalam ruang latihan mereka.
"Dia keluar bersama Asuma-san untuk membeli makan siang." Jawab Shikamaru, sementara Kiba meletakkan pipi kirinya di lantai untuk mendapatkan rasa dingin yang menguar dari lantai porselen itu. "Apa yang kau lakukan Kiba?"
"Lantai ini membuatku nyaman Shika," jawab Kiba tanpa mengangkat pipinya dari atas lantai. "Aku rasa Ac ruangan ini rusak," keluh Kiba.
"Bukan rusak, tapi musim panas tahun ini memang lebih panas dari tahun-tahun sebelumnya." Timpal Shikamaru yang sudah mulai mencari tempat nyaman untuk tidur. "Tolong bangunkan aku saat makan siang kita tiba."
"Hn."
Kiba bangkit untuk duduk bersila, di teguknya minuman kaleng yang ada di tangannya hingga tetes terakhir. Dengan tangkas dia melempar kaleng kosong itu dan mendarat mulus di keranjang sampah yang terletak di pojok ruangan. "Sasuke, kau masih terganggu dengan kejadian kemarin sore?" jari-jari Sasuke yang sedang memetik senar gitar berhenti seketika saat mendengar pertanyaan Kiba. "Maaf," kata Kiba. "Aku hanya khawatir, ini sudah hampir sepuluh tahun, kita semua tumbuh dewasa, dan kurasa sebaiknya kau mulai lembaran baru."
"Aku tahu Kiba," jawab Sasuke. "Tapi, kenyataannya tidak semudah membalikkan telapak tangan." Lanjutnya tanpa ekspresi. "Mungkin terdengar gila, tapi hati kecilku mengatakan jika Naru masih hidup, sehat, dan bahagia, walau entah dimana." Dia mengangkat bahu saat mengatakan kalimat terakhir.
Kiba hanya bisa menatap Sasuke prihatin, jarang sekali bisa memancing Sasuke untuk bicara, terlebih mengenai Naruto. Kiba mengalihkan pandangannya pada kedua tangannya yang kini saling bertaut. "Kau pasti dapat kebahagiaan itu. Aku yakin." Katanya lirih, yang hanya mampu di dengar oleh telinganya sendiri.
Beberapa saat kemudian Neji dan Asuma masuk membawa dua buah kantong yang penuh berisi makan siang mereka. Kiba berdiri untuk membangunkan Shikamaru yang tertidur lelap, sementara Neji dan Asuma mengeluarkan semua makanan serta minuman yang mereka beli untuk makan siang di atas meja.
"Ayo cepat isi perut kalian!" tukas Asuma. "Dua jam lagi kalian harus ada di lokasi syuting untuk iklan terbaru." Lanjutnya mengingatkan, keempat anak didiknya hanya bisa menatapnya intens tanpa kata.
"Apa?" tanya Asuma yang merasa di pojokkan oleh tatapan mata keempatnya. "Hei, jangan salahkan aku untuk jadwal padat kalian, syukuri saja. Kalian tahu, artis lain begitu sulit untuk bisa berada di tangga yang sama seperti kalian. Jadi jangan banyak mengeluh!"
"Kenapa, Sasuke?" tanya Neji saat melihat Sasuke menekuk wajahnya dalam. "Kaa-san memintaku pulang minggu malam nanti." Jawab Sasuke yang kemudian meletakkan kembali telepon genggamnya di atas meja. "Asuma-san, apa mungkin jika jadwal minggu malam nanti di reschedule?"
"Maaf, Sasuke. Kali ini sepertinya tidak mungkin." Jawab Asuma. "Kita sudah merubah jadwal wawancara sebanyak tiga kali."
"Hn, ok." Jawab Sasuke singkat.
"Apa perlu aku bicara dengan Mikoto-san?" tanya Asuma lagi.
"Tidak perlu, nanti aku akan menjelaskan tentang ini pada kaa-san. Aku yakin dia bisa mengerti."
Tepat pukul tujuh di minggu malam, Naruto dan Mito sudah berdiri di depan pintu kediaman Uchiha. Mito yang mengenakan kimono berwarna merah dengan aksen bunga kanzashi dan sakura pada obi putihnya nampak begitu anggun dan berkelas. Sementara Naruto, dia mengenakan dress selutut tanpa lengan, berleher V warna royal blue, lengkap dengan high heel dengan warna senada. Sebuah kalung dari platina berbandul berlian, gelang platina pipih dan anting berlian kecil melengkapi penampilannya malam ini. Rambut sebahunya dia bentuk sanggul tidak rapih di tengkuk, riasan tipis pada wajahnya membuatnya nampak begitu memesona.
Kedatangan keduanya langsung disambut oleh Fugaku, Mikoto juga Itachi. Ketiganya sudah biasa melihat Mito, namun mata ketiganya tidak dapat beralih dari gadis cantik yang berdiri tepat di samping kiri Mito. Naruto hanya bisa tersenyum membalas tatapan ketiganya. Naruto melirik ke arah Itachi, melihat sosok Itachi, entah kenapa menimbulkan ingatannya akan seorang pemuda yang dulu pernah ada dalam kehidupannya. 'Mirip sekali dengan Teme.' Pikir Naruto.
Fugaku dengan sopan mempersilahkan keduanya untuk masuk. Keluarga ini menyenangkan, pikir Naruto. Fugaku sang kepala keluarga walau terlihat dingin, namun pada kenyataannya begitu ramah dan nyaman untuk diajak bicara. Sama seperti Mito dan Naruto, keluarga Uchiha begitu menyukai musik hingga mudah bagi Naruto untuk mengarahkan topik pembicaraan. Mereka begitu larut dalam pembicaraan hangat dan ringan selama makan malam berlangsung.
Selesai makan malam, Fugaku, Mikoto dan Mito beranjak ke ruang tamu untuk membahas beberapa hal mengenai proyek dan bisnis. Sementara Itachi membawa Naruto berkeliling untuk melihat koleksi lukisan keluarga Uchiha yang tergantung dengan apik di sepanjang koridor sayap utara kediaman mereka. Naruto mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan dari Itachi tentang lukisan yang ada di sana, hingga akhirnya mata Naruto bersibobrok dengan sebuah lukisan yang merupakan lukisan keluarga Uchiha.
Napas Naruto seakan tercekat saat mengenali dengan samar salah satu pemuda yang terlukis di sana. Seorang pemuda berambut raven, bermata onyx seperti Itachi dengan garis wajah yang sangat dingin dan terasa angkuh. "Itachi-san, siapa dia?" tanya Naruto seraya menunjuk. Itachi mengikuti arah telunjuk Naruto dan tersenyum. "Itu Sasuke, adik-ku. Hari ini dia tidak bisa pulang karena ada pekerjaan. Lain kali aku akan mengenalkan kalian." Jawab Itachi yang masih menatap lurus pada lukisan keluarganya, yang terdiri dari Fugaku, Mikoto, dirinya dan Sasuke. Sekuat tenaga Naruto berusaha untuk mengontrol emosinya dan kembali bersikap senormal mungkin.
"Naruko berapa usiamu saat ini?"
"Hampir dua puluh lima tahun," jawab Naruto. "Kenapa?" tanyanya seraya mengalihkan pandangannya pada Itachi.
"Kalian seumuran rupanya," jawab Itachi dengan senyum penuh arti. "Naruko, kapan rumah modemu dibuka?"
"Paling cepat tiga bulan lagi," jawab Naruto tidak yakin dengan kening ditekuk dalam. "Masih banyak yang harus disiapkan. Lagipula, aku masih belum dapat model yang akan membawakan hasil karyaku untuk launching nanti. Masih belum ada yang cocok."
Mata Itachi langsung berbinar saat mendengar jawaban Naruto. "Kau perlu model pria atau wanita?"
"Keduanya," jawab Naruto cepat.
"Mau aku bantu cari?" tawar Itachi, dengan maksud tersembunyi. "Aku bisa mencarikan model sekaligus artis yang saat ini sedang populer. Mereka pasti cocok untuk jadi modelmu nanti. Pasti tidak akan mengecewakan," ujarnya dengan semangat. "Bagaimana, tertarik?"
"Sepertinya layak dicoba," sahut Naruto dengan pose berpikir. "Terima kasih, Itachi-san."
"Panggil aku nii-san, ok?"
"Ok. Terima kasih, Nii-san."
Itachi kembali tersenyum menatap sosok Naruto. Gadis ini harus menjadi adik iparku. Aku yakin, dia gadis yang tepat untuk Sasuke. Gumamnya dalam hati. Mereka terhanyut pada pikirannya masing-masing setelahnya, dengan tatapan pada objek yang sama, yaitu lukisan sosok Sasuke.
Jam menunjukkan pukul dua puluh dua saat Mito dan Naruto pulang. Mikoto meminta Naruto untuk berjanji akan datang berkunjung menemuinya lain kali. Naruto hanya bisa tersenyum dan mengangguk setuju. Fugaku, Mikoto dan Itachi baru masuk ke dalam rumah saat kendaraan yang membawa Mito dan Naruto keluar dari gerbang kediaman Uchiha. "Sayang, akhirnya aku menemukan calon menantu kita." Kata Mikoto lirih.
"Maksudmu untuk Sasuke?"
"Tentu saja untuk Sasuke," jawab Mikoto tenang.
"Bagaimana jika Itachi juga tertarik pada Naruko?"
"Tidak mungkin Yah. Karena aku sudah memiliki Deidara di hatiku." Potong Itachi, yang sukses membuat kedua orang tuanya itu berbalik menatapnya. "Apa?" tanya Itachi.
"Jangan memotong pembicaraan orang tua!" tegur Mikoto.
"Bukan salahku, tou-san dan kaa-san yang salah. Berbicara seakan-akan tidak ada aku di dekat kalian." Sahut Itachi. "Selamat malam," lanjutnya saat kedua orang tuanya itu tidak memberinya tanggapan.
"Selamat malam," jawab Fugaku dan Mikoto bersamaan. Itachi langsung melesat ke lantai dua menuju kamarnya, sementara Fugaku dan Mikoto kembali ke kamar pribadi mereka.
Beberapa minggu berlangsung dengan cepat setelahnya, saat ini Sasuke begitu kesal oleh ulah Sakura dan Karin yang sedari awal terus saja berusaha untuk menarik perhatiannya. Sasuke ingin sekali mencekik Asuma karena dia menyetujui permintaan Anko untuk menggabungkan latihan. Kiba tentu saja menerima dengan senang hati, karena dengan itu dia bisa bebas untuk berdekatan dengan Hinata sepanjang hari. Sementara Neji dan Shikamaru hanya menanggapinya acuh.
"Hinata, mau pulang bersamaku?" tanya Ino, saat sesi latihan usai. Hinata mendongak dan menatap Ino. "A-aku pulang bersama Neji-nii, a-arigatou Ino." Jawab Hinata sopan.
"Baiklah, kalau begitu aku duluan, sampai besok."
"Sampai jumpa, Ino."
Di pojok ruangan, Sakura dan Karin terus berebut untuk diantar pulang oleh Sasuke. Sasuke yang sudah mulai jengah akhirnya mengeluarkan jurus andalannya, Sakura dan Karin membeku saat melihat tatapan dingin Sasuke yang terasa menusuk, hingga akhirnya keduanya pun pamit untuk pulang diantar oleh Anko.
"Merepotkan," gumam Shikamaru saat melihat keduanya pergi. "Kalau begitu aku juga pulang, jaa." Katanya berlalu pergi, sementara Kiba mengekor di belakangnya.
"Siapa yang telepon Hinata, sepertinya kau senang sekali."
"Neji-nii ingat temanku yang bernama Naruko?"
Kening Neji berkerut, mencoba mengingat-ngingat. "Bukankah dia temanmu saat di New York." Jawab Neji.
"Benar," Hinata mengangguk. "Dia sudah pulang beberapa mingggu yang lalu dan rencananya hari ini aku akan berkunjung ke apartemenya."
"Seperti apa orangnya? Selama ini aku hanya pernah mendengar namanya saja."
"Se-bentar, rasanya aku menyimpan foto Ruko-chan." Hinata membuka menu gallery pada telepon genggamnya dan mulai mencari foto Naruto di dalamnya. "Ah, ini dia." Serunya semangat, seraya memberikan telepon genggamnya pada Neji. Wajah Neji berubah pucat seketika saat melihat sosok yang dikatakan Hinata bernama Naruko. "Dia cantik, kan!"
Neji sama sekali tidak menjawab, dia terlalu syok untuk bicara. Matanya membulat sempurna, nada suaranya aneh saat bibirnya memanggil nama Sasuke. "Sasuke, lihat ini!"
"Hn," jawab Sasuke tanpa beranjak dari tempatnya duduk.
"Cepat, Sas!" ujar Neji tidak sabar. Sasuke akhirnya berdiri dan duduk di samping Neji. Tangan Sasuke meraih telepon genggam milik Hinata yang disodorkan Neji padanya. Keadaan Sasuke saat ini sama dengan keadaan Neji beberapa saat yang lalu. Hinata hanya bisa menatap keduanya heran, karena tidak mengerti akan apa yang terjadi.
"Naruto?" kata Sasuke kemudian seraya menatap lekat foto yang ada di layar ponsel Hinata. Dalam foto itu nampak Naruto yang masih berusia sekitar dua puluh tahun tersenyum cerah ke arah kamera. Rambut pirangnya yang masih panjang diikat menyerupai ekor kuda, Naruto mengenakan celana jeans biru pucat dengan kaos putih yang memeluk tubuhnya ketat. Dia duduk bersila di bawah rindangnya pohon willow dengan sebuah buku sketsa di atas pangkuannya.
"Namanya Naruko, bubukan Naruto." Hinata mengoreksi.
"Kau mengenalnya?" tanya Sasuke pada Hinata.
"Tentu, kami pernah kuliah di universitas yang sama di New York, hanya saja berbeda jurusan." Jelas Hinata.
"Dimana dia sekarang?" tanya Sasuke lagi.
"Di Konoha."
"Bisa kau membawaku ke sana?" tanya Sasuke lagi, sementara Hinata hanya bisa mengangguk.
"Aku memang mau ke apartemennya hari ini."
"Bagus, kalau begitu aku akan ikut denganmu."
"Tapi untuk apa?" tanya Hinata dengan ekspresi terkejut.
"Aku akan jelaskan nanti. Tolong bawa kami bersamamu, ada yang harus kami pastikan tentang ini." Sahut Neji tenang.
"Baiklah kalau begitu."
Dalam perjalanan menuju apartemen Naruto, Neji menjelaskan tentang kemungkinan jika Naruko yang dikenal oleh Hinata adalah orang yang sama dengan yang dikenal oleh Sasuke. "Tapi itu tidak mungkin," seru Hinata. "Naruko bukan tipe tertutup seperti nii-san katakan. Naruko sangat periang."
"Apa dia memiliki saudari kembar?"
Hinata terdiam, terlihat berpikir sebelum akhirnya menggelengkan kepala dan menjawab pertanyaan Neji, "rasanya itu juga tidak mungkin."
"Hanya ada satu cara untuk memastikannya, aku harus bicara langsung dengannya." Tukas Sasuke memotong pembicaraan keduanya, baik Hinata maupun Neji tidak bisa berkata apa-apa lagi. Keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing, hanya ada keheningan yang menyelimuti ketiganya selama sisa perjalanan menuju apartemen Naruto.
Naruto tidak pernah menyangka akan kembali bertemu dengan Sasuke secepat ini. Dia begitu kaget, saat membuka pintu bukan hanya Hinata yang berdiri di depan pintu apartemennya, melainkan juga Sasuke dan seorang laki-laki yang Naruto ingat adalah teman dari Sasuke. Hinata mengenalkan laki-laki itu padanya, dia bernama Neji, kakak sepupu Hinata.
Beruntung, Naruto sanggup untuk bersikap biasa saat melihat Sasuke dan Neji. Dia memeluk erat Hinata yang memang sudah lama di rindukannya. "Maaf aku tidak memberitahu akan datang bersama teman."
"Tidak masalah, ayo masuk. Maaf, masih berantakan, aku baru pindah kesini beberapa hari yang lalu." Jelas Naruto, membuka lebar pintu apartemennya dan membiarkan ketiga tamunya itu masuk ke dalam. Hinata, Neji dan Sasuke membuka sepatu mereka dan menggantinya dengan sandal rumah yang sudah tersedia. Naruto membimbing mereka ke ruang tamu dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Sebentar, aku ambilkan minuman dingin untuk kalian." Ujar Naruto seraya tersenyum hangat, meninggalkan ketiganya di ruang tamu. Sesampainya di dapur, Naruto mencoba untuk mengatur kembali detak jantungnya yang berdetak sangat cepat. Dia sama sekali tidak menyangka jika pertemuan kembali dengan Sasuke menjadi sesulit ini, seakan-akan kenangan lama yang ingin dikuburnya dalam kembali menguar ke permukaan dan menyakitinya.
Tenang, saat ini aku adalah Naruko bukan Naruto. Aku pasti bisa menghadapinya, katanya dalam hati.
Lain lagi dengan Sasuke, otaknya seakan-akan membeku saat melihat sosok wanita yang begitu dirindukannya. Sosok itu begitu nyata terpampang di hadapannya, namun ada yang berbeda. Wanita ini terlihat begitu bahagia, penuh percaya diri dan pandai membawa diri.
Naruto kembali dengan nampan yang membawa empat buah gelas berisi jus jeruk dingin dan beberapa makanan kecil bersamanya. "Maaf, saat ini hanya ada ini saja. Tinggallah untuk makan malam, aku akan dengan senang hati menyiapkannya untuk kalian."
"Terima kasih, maaf merepotkanmu." Hinata tersenyum kikuk.
"Sama sekali tidak merepotkan, aku malah senang ada yang datang berkunjung."
"Apartemenmu benar-benar nyaman." Puji Neji tulus saat melihat apartemen Naruto yang bergaya minimalis itu tertata dengan cantik dan feminim namun tetap berkesan efisien. "Anda dapat bermain piano Ruko-san?"
"Ehm, begitulah. Aku bermain piano untuk membunuh rasa bosan saat bekerja," jawab Naruto, tersenyum kecil. Sasuke hanya diam mengamati setiap gerakan dan menangkap setiap suara yang dihasilkan oleh mulut Naruto. Dirinya begitu bingung, hati kecilnya mengatakan jika wanita cantik di hadapannya ini adalah Naruto, tapi otaknya berkata sebaliknya. Sasuke begitu terhanyut saat mendengar gelak tawa Naruto saat dirinya berbicara dengan Hinata. Dulu dia tidak pernah melihat Dobenya tertawa serenyah itu, mungkin karena itulah Sasuke begitu menikmati moment ini.
"Maaf, apa aku boleh ikut ke toilet?" tanya Sasuke tiba-tiba menghentikan pembicaraan antara Naruto dan Hinata.
"Tentu, kebetulan toilet luar sedang rusak. Anda dapat menggunakan toilet dalam." Naruto berdiri dan membimbing Sasuke masuk ke dalam kamarnya. "Itu toiletnya, Sasuke-san." Tunjuk Naruto ke pintu toilet saat mereka berdua di dalam kamarnya. Naruto baru saja akan pergi, saat tangan Sasuke menarik pergelangan tangan kanannya dan memerangkap tubuhnya diantara pintu kamar dan tubuh Sasuke.
"Apa yang anda lakukan?" desis Naruto tajam.
"Naruto?" Sasuke memanggil lirih.
Tubuh Naruto membeku saat mendengar Sasuke memanggil namanya begitu lirih. Dia bisa melihat sorot mata Sasuke yang berubah sendu dan terasa sangat menyedihkan. "Nama saya Naruko bukan Naruto."
Sasuke menangkup wajah Naruto dengan kedua tangannya. Dia menempelkan dahinya dengan dahi Naruto, hingga Naruto bisa merasakan hembusan napas Sasuke menerpa wajahnya. "Katakan jika kau adalah Naruto." Kata Sasuke setengah berbisik. "Tolong, katakan padaku jika kau adalah Naru. Kau adalah Dobe, kumohon." Katanya lirih.
"Aku bukan Naruto!" tukas Naruto, ia menepis uluran tangan Sasuke dengan kasar. "Aku- Naruko," kedua matanya menatap sinis, ia kemudian mendengus dan kembali berkata, "aku tidak tahu mengapa anda bisa salah mengenali orang. Yang jelas saya baru mengenal anda, Sasuke-san. Saya bukan orang yang anda cari." Katanya dengan nada tegas dan meyakinkan.
Sasuke terdiam mendengarnya, dia menyandarkan kepalanya pada bahu mungil Naruto dan memeluk pinggangnya erat. Naruto meronta, mencoba untuk melepaskan diri. Namun ucapan Sasuke berhasil membuatnya diam. "Ijinkan aku memelukmu, biarkan aku bersandar di bahumu untuk sejenak. Tolong, aku benar-benar membutuhkannya." Kata Sasuke lirih dan sedikit bergetar.
Suara Sasuke yang terdengar begitu rapuh, entah kenapa terasa mengoyak hati Naruto. Saat ini bukan hanya hati Sasuke yang terasa sakit, tapi hatinya juga begitu sakit saat dirinya harus menyangkal jati diri yang sebenarnya.
"Ijinkan aku untuk melepas rindu dengannya, berpura-puralah menjadi Naruto walau untuk sejenak, kumohon!"
Naruto hanya mampu membalas pelukan Sasuke tanpa bisa berkata, suaranya terasa tercekat dan hilang entah kemana. Sasuke memintanya berpura-pura menjadi Naruto, padahal dia memang Naruto. 'Selanjutnya aku harus bagaimana saat menghadapimu? Aku takut jika terus berada di dekatmu maka topeng yang selama ini aku pakai akan retak dan hancur. Tapi melihatmu seperti ini membuatku merasa bersalah. Kenapa kau harus seperti ini Teme, kenapa kau harus merasa kehilangan?'
Kedua mata Naruto terpejam, hidungnya dapat mencium aroma mint yang menguar dari tubuh Sasuke, aroma itu membuat Naruto nyaman. Walau enggan, Naruto harus mengakui jika dirinya juga begitu merindukan sosok yang saat ini sedang memeluknya erat. Naruto tidak mampu berpikir saat ini, dia hanya bisa menyerahkan kelanjutannya pada sang takdir.
.
.
.
TBC
