Seoul, 1999.

Cahaya matahari sore nampak berkilauan di langit sana. Menerangi apapun disebelah timurnya dengan kilau keemasan. Termasuk pemuda tampan berperawakan tinggi putih tersebut. Langkahnya santai menyusuri koridor-koridor kelas dengan beberapa buku tebal ditangannya. Senyum ramah terus terlukis diwajahnya meski sekolah telah kosong, menyisakan dirinya dan segelintir murid serta guru.

Oh Sehun, merupakan murid teladan dengan prestasi yang mengagumkan. Selalu tersenyum ramah pada setiap orang yang berpapasan dengannya. Tipe ketua kedisiplinan sekolah yang terlalu baik hingga apapun hukuman yang ia berikan akan diterima dengan senang hati. Kecuali untuk seseorang bernama Kim Kai.

Kim Kai merupakan murid bermasalah langganannya. Ditahun ini, tidak heran lagi jika angka kekerasan dan juga iljin disekolah sangat mendominasi. Bahkan beberapa guru membiarkan kenyataan itu dengan menutup telinga dan mata mereka. Hanya saja seorang Oh Sehun bukanlah orang seperti itu. Perlu ditekankan lagi bahwa Oh Sehun adalah seorang pemuda yang terlanjur baik dan ramah. Perilakunya juga sangat baik. Orang yang lembut dan penuh kepedulian.

Dengan memeluk beberapa buku ditangannya serta tas punggung yang tersampir manis dipundaknya, ia melangkah mantap menuruni anak tangga. Ketika kaki membawanya menuju perpustakaan, ia disuguhi pemandangan dimana Kim Kai dan ketiga temannya tengah memukuli seorang siswa. Sehun mempercepat langkahnya, tapi belum sempat ia sampai disana, mata Kai lebih dulu menangkap pergerakannya.

Kai memberi kode pada teman-temannya untuk berhenti dan membiarkan korbannya lari menyelamatkan diri.

Airmuka Sehun menunjukkan kekhawatiran yang sangat. Matanya sempat mengikuti pergerakan dari siswa yang menjadi korban pembullyan itu hingga menghilang dibalik gerbang sekolah.

"Kim Kai", panggilnya lembut, "Park Chanyeol, Huang Zitao, dan Wu Yifan", lanjutnya.

"Ck, kau mengganggu lagi" ketus Zitao sembari mengacungkan telunjuknya didepan hidung Sehun.

"Baiklah, apalagi sekarang, tuan ketua?" Tambah Chanyeol dengan nada mengejek.

"Aku bingung, sebenarnya apa yang kalian dapatkan dengan berlaku seperti itu?" Ucap Sehun dengan nada yang cukup prihatin.

Jujur saja, ia menyayangkan murid-murid yang sebenarnya berbakat seperti kawanan berandal dihadapannya saat ini. Mereka adalah murid-murid berprestasi dari segi nonakademik.

Wu Yifan, anggota tertinggi itu berhasil membawa tim basket kebanggaan sekolah ke tingkat nasional. Huang Zitao, anak berwajah sadis itu juga seorang atlit bela diri andalan sekolah. Lalu ada juga Park Chanyeol, tokoh utama tim sepak bola sekolah yang memiliki segudang piala kemenangan. Dan terakhir, Kim Kai, seorang dancer profesional yang sempat ditawari belajar di salah satu universitas ternama di Amerika tapi entah apa alasannya, ia menolak tawaran itu.

Seorang pelanggan tetap diruang konseling, sekaligus cinta pertama seorang Oh Sehun.

"Hei, tuan ketua yang terhormat, bisakah kau membiarkan kami pergi sekarang?" Tanya Yifan dengan nada ketus membuat Sehun kembali terfokus.

Mungkin kesalahan orangtua mereka yang terlalu tenggelam dalam kekuasaan dunia. Orang tinggi, dimana uang adalah nomer satu.

"Maaf, tapi Kim Kai harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu" jawab Sehun kalem seraya tersenyum lembut membuat berandalan didepannya hampir tersedak liur mereka sendiri.

"Memangnya, apa yang harus kukerjakan?"

Sehun sedikit terkejut mendengar nada dingin pertanyaan Kai. Tatapannya berubah sendu. Seperti biasa, dengan keramah tamahannya Sehun menjelaskan apa yang harus dilakukan anak itu untuk tugas sastra bahasanya.

"Baiklah, tapi mereka juga harus ikut denganku" ucap Kai berubah santai.

Sehun kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Menggiring empat berandal sekolah itu menuju perpustakaan. Tak menyadari bahwa keempatnya menyeringai dibelakangnya.

Sesampainya mereka didepan perpuatakaan, tak sengaja Sehun berpapasan dengan petugas perpustakaan yang terlihat terburu-buru.

"Wah, Oh Sehun, kebetulan sekali, apa kau akan menginap di perpustakaan lagi hari ini?" Wanita paruh baya dengan perut membuncit itu melontarkan candaan pada Sehun membuatnya terkekeh pelan.

"Kau benar, noona"

"Haha, baiklah ini kuncinya, kau bawa saja karena mulai besok aku akan cuti"

"Baik, terimakasih noona"

"Oh ya, Sehun, kalau perlu beri tumpukan buku matematika dan fisika pada berandal tengil ini"

Sehun tertawa pelan dan keempat berandal tersebut melakukan lipsinc bebek dibelakang.

"Ayo, masuk"

Keempat anak itu melangkah malas memasuki perpustakaan. Mereka langsung mendudukkan tubuh mereka di kursi yang telah disediakan sedangkan Sehun sedang mengembalikan buku yang ia pinjam.

Sehun menggelengkan kepalanya menyerah mendapati empat kepala tergeletak diatas meja dengan gumaman nyanyian tidak jelas yang saling bersahutan. Sehun meletakkan beberapa buku yang tidak terlalu tebal disisi kepala Kai, membuat anak itu menolehkan kepalanya. Dan lagi-lagi Sehun tersenyum ramah.

"Ini sebagai bahan untuk membantumu, aku ada di pojok ruangan kalau kau butuh bantuan" ujar Sehun perhatian. Ia melangkah menjauhi berandal-berandal tersebut yang menatapnya malas.

Sehun tersenyum geli melihat kumpulan anak tersebut dari pojok ruangan. Ia membuka sebuah buku yang sepenuhnya masih bersih. Mengambil bolpoin dan mulai melakukan coretan diatasnya.

Pertama kali dirinya bertemu dengan pemuda itu, satu yang bisa mendeskripsikan semuanya. Dia sama sekali tidak bisa bersikap manis. Tatapan yang seakan haus akan kekuasaan dan kekuatan. Mengepalkan tangan dimanapun ia berada dan ia inginkan. Sosok iblis sekolah yang dihindari. Hanya satu kesalahan, tidak seharusnya ia menunjukkan kelemahannya pada Ketua kedisiplinan sekolah hingga membuat Guardian angel tersebut terpesona padanya. Lepas kendali hanya untuk mendapatkan pengampunan dengan cara yang amat manis dan membuat dirinya semakin terlihat menggelikan.

Hari dimana seseorang akan mendapatkan kesempatannya. Seorang ketua kedisiplinan dengan berani berdiri dihadapannya. Mata memandang mata. Hati melawan emosi. Dan yang tersisa hanya sebuah tawa meremehkan dan hati yang seakan menghitam. Tidak, dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia terlanjur jatuh pada iblis tersebut.

Sehun terlihat serius diatas kursinya. Menuliskan sesuatu yang mungkin akan ia sembunyikan saja didalam ruangan ini. Memikirkannya membuat Sehun meletakkan bolpoinnya dan menatap jauh pada lembaran yang telah terkotori oleh tinta hitam. Ia memikirkannya. Ya, sebenarnya ia hanya bermaksud mengajak seorang Kim Kai untuk mengerjakan tugas sastra anak tersebut. Tapi dia sama sekali tidak mempunyai kekuasaan atas keinginan seseorang.

Bukan apa-apa, hanya saja Sehun merasa tulisannya akan lebih sempurna jika orang yang bersangkutan ada dihadapannya.

Sehun menggelengkan kepalanya mencoba kembali berkonsentrasi. Ia mulai membuat coretan tinta tersebut dalam diam.

Dikelilingi ratusan buku yang tertata rapi, dia tetap terlihat mencolok diantaranya. Entah karena-

Srak srak

Penglihatan manusia yang buta akan seseorang atau memang seseorang itu yang begitu berbeda.

Srak srakkk

Hanya saja, ada yang mengganggunya saat ini. Perasaan gelisah dan waspada membayanginya. Pertama kali bagi seorang Guardian angel sekolah merasakan aura tidak benar disekitarnya.

Sehun mendongakkan kepalanya dan mendapati keempat pemuda berandal tersebut mengitari mejanya.

"Ada apa? Ada yang tidak kalian mengerti?" Ucap Sehun berusaha tenang. Entah, tapi hatinya sangat gelisah saat ini.

"Semoga saja, Baekki-ku yang manis tidak tahu tentang ini" kata Chanyeol tiba-tiba dengan suara yang amat datar.

"Kanapa?"

"Kurasa Yixing hyung lebih berharga dari kau"

"Tentu saja, Luhan yang terbaik, kalau kau, Kai?"

"Sama sekali tidak ada yang berharga dari apa yang kulihat saat ini" Kai bersuara rendah mengancam.

Sehun refleks menjatuhkan bolpoinnya. Rasa sakit itu nyata dan terasa amat tidak menyenangkan. Telinganya berdengung panas. Tanpa memberi kesempatan Sehun untuk bertanya,Tao lebih dulu meraih lengan Sehun kasar dan menjatuhkannya diatas lantai yang dingin.

"Hei, kawan, kudengar ada yang berani memamerkan cintanya ke Kai" ucap Chanyeol main-main. Tangannya bergerak melepas dasi Sehun sedangkan Tao mencekal kedua tangan Sehun.

"Benarkah, siapa dia? Beritahu aku" balas Yifan yang kini memegangi kaki Sehun yang berusaha berontak.

"Kalian mau apa?" Tanya Sehun pelan mencoba menyelesaikannya dengan kepala dingin.

"Hanya seseorang yang tidak tahu diri, haha!" Chanyeol tertawa keras setelah berhasil melepas sabuk Sehun. Dan telapak kaki Sehun telah telanjang oleh Yifan.

"Apa kalian ingin membullyku?" Tanya Sehun gelisah. Gerakannya semakin keras untuk melarikan diri. Tapi dengan tiga orang atau empat jika Kai ikut bergabung dengan tubuh yang sepadan, Sehun tidak akan bisa.

"Kai, siapkan kameranya" perintah Chanyeol yang menyeringai seperti iblis dan Kai melakukan perintahnya dengan ekspresi datar.

"Apa-"

"Wuu, ini akan jadi berita terpanas disekolah besok"

"Lepaskan aku!"

"Ssttt, kau hanya harus menikmatinya saja tuan ketua"

Kai menghadapkan ponselnya ke arah mereka. Ia mengaktifkan mode merekam pada kemeranya bersiap mengabadikan seluruh kegiatan itu. Sehun menggeleng tak percaya pada orang-orang yang dengan senang hati ia anggap teman. Hatinya berdesir sakit hingga tak peduli lagi pukulan-pukulan yang mereka layangkan padanya saat ia memberontak.

Dalam sekejap seluruh pakiannya telah terlepas dari tubuhnya. Membuat sorak sorai pelakunya membahana.

"Lepaskan aku! Brengsek!"

"Wohaa, pantaskah seorang ketua kedisiplinan berkata seperti itu?"

"Lepaskan aku! Kalian telah melewati batas- anghhh" suara teriakan Sehun berubah menjadi lenguhan panjang saat Tao dengan kurang ajar mencubit nipplenya. Tangannya telah terikat dengan dasi dibelakang tubuhnya.

"Tolong jangan lakukan ini"

"Diam, manusia bodoh! Beraninya kau mengucapkan ucapan busukmu itu pada Kai, kau pikir kau siapa, hah!?" Bentak Chanyeol tepat disamping telinganya.

"Apa karena itu kalian memperlakukanku seperti ini?" Tanya Sehun sendu.

"Kau pikir apa lagi?"

"Akhhh"

Sehun berteriak nyaring saat tangan Chanyeol meremas keras penisnya. Tapi kemudian remasan itu berubah menjadi pergerakan lembut yang mengerikan.

'Tidak, jangan seperti ini' batin Sehun. Sehun kembali memberontak sekuat tenaga dan menghasilkan tamparan keras dipipinya membuat sudut bibirnya berdarah.

"Jangan banyak bergerak, bodoh" Yifan menjambak rambut Sehun merontokkan beberapa helainya.

Sehun mendongakkan kepalanya berniat mengurangi rasa sakit jambakan tersebut. Tapi sayang, Chanyeol kembali melecehkannya dengan menciumi lehernya. Sedangkan Yifan meraup bibirnya dari atas.

Sehun menggelengkan kepalanya kuat-kuat mencoba melepaskan ciuman Yifan. Dan Yifan dengan senang hati menggigit bibir itu hingga berdarah dan melesakkan lidahnya kedalam mulut Sehun kasar.

"Mmphhh! Stopmmh!"

"Nanti dulu ketua, itu masih lama" sahut Tao dari bawah. Mulutnya telah bersiap didepan penis Sehun.

"Nice dick. Tidak kusangka milikku kalah dengan ini" Tao berujar sembari menggaruk penis tersebut menimbulkan erangan Sehun yang teredam mulut Yifan.

Tao menyeringai jahat dan mengambil sabuk Sehun untuk mengikat kaki telanjang itu. Setelah itu dengan cepat ia melahap penis Sehun.

Kai diam memperhatikan lewat ponselnya. Bagaimana tubuh polos sang ketua kedisiplinan yang dilecehkan oleh teman-temannya. Dan bagaimana mata itu memandang kecewa padanya. Kai tidak tahu, hanya saja ia merasa ada sesuatu yang meremas-remas dadanya hingga terasa sakit.

Kegiatan itu telah berlangsung beberapa menit. Kai baru saja akan menghentikan rekaman itu tapi suara Chanyeol menginterupsinya. Kai tidak tahu harus berbuat apa. Matanya membulat sempurna ketika ketiga temannya membuat Sehun menungging. Kai menjatuhkan tangannya dan membuat ponselnya terjatuh melihat bagaimana beringasnya ketiga temannya menyetubuhi Sehun.

Tiga penis dalam satu lubang kecil. Aliran merah pekat mengalir kepaha Sehun dan menetes dilantai. Kai menutup mulutnya merasakan sakit yang teramat di ulu hatinya. Dia sama sekali tidak membenarkan ini. Niat awal mereka bukan seperti ini. Mereka hanya berniat mengerjainya, tidak sampai seperti ini.

Kai tidak tahu kenapa airmatanya tiba-tiba keluar begitu saja. Pemandangan dimana Sehun yang menggapai-gapai lantai dan membungkam erat mulutnya menahan rasa sakit yang menderanya sama sekali bukan lelucon.

Rasa sakit didadanya semakin menjadi ketika suara kesakitan Sehun tak dapat pemuda itu tahan. Sehun berteriak penuh siksa. Tangannya mengepal menerima setiap perlakuan menjijikkan itu padanya.

Kepalanya menoleh kearah Kai membuat tubuh Kai merosot ke lantai. Airmata yang ia keluarkan semakin deras melihat Sehun yang tersenyum padanya dengan nafas tersengal hampir sekarat.

"K-kai, po-ponselmu terjatu-ugh!"

Pada akhirnya Kai terisak hebat karena ulahnya sendiri. Sedangkan ketiga temannya sama sekali tak menyadari apa yang telah mereka perbuat dan hanya terus mengejar kenikmatan masing-masing.

"Ja-akhh! Jangan khh menangis" ucap Sehun sendu. Ia tidak suka melihat bagaimana Kai menangis sekarang. Sedangkan Kai terus menggumam kata maaf padanya. Balasan Sehun merupakan pukulan menyakitkan didada Kai. Sehun tersenyum lembut padanya.

"Cukup, hiks..." Kai mencoba menggapai tangan Sehun, tetapi tubuhnya malah bergetar hebat, ia ketakutan.

"Kubilang cukup! Hiks,,, hentikan semuanya!"

Teriakan Kai sama sekali tak digubris ketiga temannya. Hingga saat ketiganya telah berhasil mencapai puncak dan melepaskan tubuh Sehun tergeletak dilantai begitu saja.

Chanyeol, Tao dan Yifan segera membenahi pakian mereka dengan gugup. Mereka sadar, mereka kelepasan. Rasa bersalah sedikitnya melingkupi hati mereka. Chanyeol beranjak menyeret paksa lengan Kai yang masih menangis sesenggukan. Dia hanya takut, entah apa yang harus ditakutkannya kalau teringat sudah beberapa kali ia melakukan ini dengan teman-temannya tanpa Kai.

"Tu-tunggu!"

Keempat anak tersebut menoleh pada Sehun yang berusaha bangun tapi tetap tidak bisa. Mata sayunya memandang empat pasang mata tersebut dan tersenyum lembut.

"Berjanjilah padaku, setelah ini jangan lakukan pembullyan lagi disekolah. Buat hidup kalian menjadi lebih baik, mengerti?" Nasihatnya setengah canda tapi malah membuat keempat orang disana diam membisu.

Mereka berempat meninggalkan sekolah dengan terburu. Kai yang merasa paling bersalah beberapa kali menengok kebelakang. Ia berharap Sehun menyusul mereka dan lebih memilih terkena hukuman daripada dibiarkan seperti ini. Kai takut. Ia telah berdosa pada orang yang sama sekali tak pernah menyakitinya. Orang yang setahunya selalu mempedulikannya. Dan orang yang berhasil menarik perhatiannya meski selalu ia sangkal kuat-kuat.

Karena Kai tidak pernah percaya apa itu kasih sayang dan ia tidak pernah merasa bahwa kasih sayang itu ada. Orangtuanya mendidik Kai bukan dengan kasih sayang seperti orangtua pada umumnya, mereka mendidik anak mereka dengan kekuasaan dan kekuatan.

Sehun menyeret tubuh telanjangnya menuju tempat dimana seharusnya ia berada. Tangannya bertumpu pada kursi untuk membantunya berdiri. Dengan wajah penuh luka serta dibeberapa bagian tubuhnya, ia dengan sisa tenaga yang tersisa meraih bolpoin serta bukunya.

Mungkin memang tidak seharusnya kalimat itu keluar. Mereka menyebutnya sebagai kelancangan. Sama seperti sebuah kertas yang lusuh, siapapun tak akan ada yang mau memperhatikannya.

Hingga ini terjadi padaku dan aku akan menghilang.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul, 2015.

Suara tawa membahana memenuhi koridor panjang dilantai satu sebuah sekolah menengah atas. Hanya saja tidak akan ada yang bisa mendengar suara tersebut. Seorang pemuda dengan rambut pirang panjang dan tindikan dikedua telinga dan hidungnya berlari kalang kabut menghindari kejaran makhluk yang sama sepertinya.

Zico, seorang hantu yang semasa hidupnya menjadi berandal sekolah gadungan itu berlari kencang sesekali bertransportasi pendek menghindari temannya yang terlihat lebih baik darinya.

"Zico! Apa yang kau katakan pada MAMA, ha!?"

"Tidak! Aku tidak mengatakan apapun! Ahahah!"

"Zicooo!"

"Huwaaaa!"

Keduanya terus saja saling mengejar dikoridor-koridor sekolah dengan teriakan dan tawa membahana. Sial saja bagi siswa yang mempunyai sensifitas tinggi terhadap hal-hal yang berbau gaib. Lihat saja dilantai 2 bangunan utama seorang siswi berdiri kaku sembari memegangi tengkuknya. Dan sialnya lagi, Zico adalah sesosok hantu yang sangat usil jadi ketika ia melewati tubuh siswi tersebut ia dengan usilnya meniup tengkuk siswi tersebut dan membuatnya pingsan.

"Zicooo! Dasar hantu usil!"

"Hahaha! Itu tugasku, Tuan- Ketua, ahahah!"

"Benar-benar, hei berhenti kau!"

Dan keduanya terus melakukan itu hingga satu persatu siswa mulai memenuhi area sekolah.

Ini adalah tahun baru, tahun ajaran baru bagi murid-murid di Korea. Tepatnya hari dimana mereka akan mengikuti kegiatan rancangan OSIS untuk siswa baru. Ya, seperti menerima perintah dengan senang hati, dibentak, dimarahi, dan dijadikan fans fanatik untuk sehari. Oke, itu mudah. Sangat.

"Pulang saja sana"

"Taemin-ah, ayolah, kau kan juga anggota OSIS, ijinkan aku ke UKS untuk kabur, ya ya ya"

"No, Jonginnie maow maow, kau harus ikut kegiatan ini apapun alasannya"

Jongin mengerucutkan bibirnya sedangkan tangan-tangan jahat Taemin setia mencubiti pipi tembam sahabat serta adik kelasnya itu.

"Jangan bertingkah seperti itu bocah, atau Minseok akan menculikmu"

"Benarkah? Minseok hyung?"

"Kenapa? -o oh, tidakk! Dia tidak ada disini, diatidak ada disini!"

Taemin memegangi kedua lengan Jongin yang berniat melarikan diri melewati jalur Minseok, hyungnya yang dengan senang hati akan menculiknya, membelikan makanan banyak untuknya, ice cream dan juga cokelat.

"Minseok hyung! Minseok hyung! Jongin disini! Halooo! Kau dimana!? Hyung!"

Jongin berteriak heboh di koridor kelas membuat beberapa siswa memperhatikannya sedangkan Taemin berusaha membungkam mulut Jongin sekuat tenaga.

"Jongin diam, ya ampun. Aku tidak mau dihukum dihari pertamamu disini, mengerti?"

Seketika Jongin diam serta mengangguk imut membuat beberapa siswa yang tak sengaja melihatnya tersandung kaki mereka sendiri atau lebih ringannya tersedak ludah sendiri.

"Jangan menunjukkan aegyo mu disini jika ingin selamat"

Jongin kembali mengangguk imut membuat Taemin menepuk jidatnya keras.

"Ayo kelapangan"

"Taemin payah"

"Apapun katamu, Jong"

Jongin mensedekapkan tangannya didepan dada sembari menggerutu. Sedangkan Taemin terlihat cuek dan tebar pesona pada adik-adik kelasnya dengan sebelah lengan merangkul leher Jongin.

Kagiatan hari pagi ini membuat Jongin menguap beberapa kali. Berkali-kali ia salah melaksanakan tugas yang diperintahkan padanya. Berkali-kali pula ia mendapatkan semburan panas dari kakak kelas perempuan karena tingkahnya itu dan juga karena para kakak kelas laki-laki berstatus dominan yang berusaha mendekatinya.

Dan pada akhirnya, Jongin dihukum lari keliling lapangan basket sebanyak tiga kali. Karena moodnya yang memang sudah tidak berniat sama sekali menjalani kegiatan hari ini maka ia putuskan untuk mengitari lapangan basket dengan berjalan. Dan itu sukses membuat seniornya bersungut-sungut.

Taemin yang tengah membimbing kelompok lain pun hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Jongin. Anak itu benar-benar. Sekali bilang tidak maka tidak itu adalah segala resiko.

Jongin akhirnya menyerah dan memilih menggeletakkan tubuhnya dipinggir lapangan.

Seorang senior perempuan menghampirinya dan menyuruhnya untuk pergi ke toilet menyegarkan diri. Perintah itupun disambut baik oleh Jongin hingga ia terlihat over semangat. Dan senior-senior yang lain melongo dibuatnya kecuali Taemin yang langsung balik kanan.

.

.

.

.

"Zicooo! Apa kau tidak bosan berlari, ha!?"

"Tidak! aku suka berlari! Itu membuatku jadi berandalan sejati"

"Astaga, hei aku tidak akan menghukummu kalau kau mau berhenti berlari!"

"Aku percaya padamu, sungguh, tapi aku suka kau yang mengejar-ngejarku!"

"Hei!"

"Ahahah!"

.

.

.

.

.

"Harusnya dari tadi dia menyuruhku pergi, aishh"

Jongin mengacak rambutnya frustasi. Tapi selanjutnya ia bergerak seperti melakukan gerakan dance sambil bersiul riang. Didepannya terdapat pertigaan koridor, tapi Jongin berbelok kearah kanan yang seharusnya kekiri. Jongin melambatkan langkahnya ketika sebuah angin yang cukup kencang menerpanya sekilas.

Deg

Zico berhenti menatap penuh ketertarikan mengusili seorang siswa yang baru saja ia lalui dipertigaan. Zico hampir saja melakukannya tapi mendapati keadaan sosok sejenisnya yang terdiam kaku sekaligus terkejut dibelakangnya tadi membuatnya heran.

Jongin dengan santai berjalan melewati dan menembus sosok tersebut. Seperti mendapatkan sebuah firasat, Jongin berhenti selangkah dibelakanhg sosok tersebut, memiringkan kepalanya heran kemudian kembali melangkah menuju rooftop sekolah.

"Hei, kau tidak apa-apa?" Zico bertanya sembari memperhatikan Jongin yang telah berlalu.

"Dia-"

"Ada apa dengan anak itu?"

"..."

"Ada apa denganmu, ketua kedisiplinan yang menyebalkan?"

"Zico- dia"

"Oh Sehun...?"

"Kim Kai"


TBC


huwahahaha!

ini adalah sekuelnya, mungkin? jelekkah? membosankankanh?

memang, hahaha!

semoga nggak terlalu kecewa saja ya, eh iya lupa typonya kalau boleh bisa diproteskan nanti, muehehehe

terus yang minta Sehun dihidupkan kembali saya menerima pendapat anda dengan baik, tapi sayangnya Orochimaru terlalu sulit untuk diajak sepakat, dia bilang Sehun mirip sasuke jadinya dia trauma sama anak macam itu, hahaha.

oke sepertinya author kebanyakan ketawa, bye bye

see you next chap,

yuhuuuuu


thank's to:

Keepbeef Chiken Chubu – Wookie – jonginisa – Guest – DwiKkamjong – cute – redfly – BabyWolf Jonginnie'Kim – FT afsih – sayangsemuamembersuju – Wiwitdyas1 – – Kim Kai Jong – Akasuna no Akemi – miszshanty05 – maya han – novisaputri09 – – Maple fujoshi2309 G.A.N – putrifibrianti96 – dejong13 – Kamong Jjong – sayakanoicinoe – Jongin48

#Deep bow