Selamat membaca!
Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Hurt comfort, tragedy, romance, family, angst
Warnings : Gender switch, typo(s)
Broken Wings
Chapter 8 : Dinner
By : Fuyutsuki Hikari
Kedua mata Naruto terpejam, hidungnya dapat mencium aroma mint yang menguar dari tubuh Sasuke, aroma itu membuat Naruto nyaman. Walau enggan, Naruto harus mengakui jika dirinya juga begitu merindukan sosok yang saat ini sedang memeluknya erat. Naruto tidak mampu berpikir saat ini, dia hanya bisa menyerahkan kelanjutannya pada sang takdir.
"Uchiha-san, bisa tolong lepaskan aku?" lirih Naruto seraya menggeliatkan tubuhnya agar bisa terbebas dari pelukan erat Sasuke yang mulai terasa menyesakkan. Sasuke sama sekali bergeming, dia masih takut jika dia melepaskan pelukannya maka semua mimpi ini akan berakhir dan dia akan kembali ke realita yang tidak ingin dihadapinya.
Naruto tersentak kaget saat Sasuke dengan tiba-tiba melepaskan pelukannya. Menyingkirkan tubuh mungil Naruto dari pintu, dan dengan kasar membuka pintu kamar Naruto, membiarkan Naruto berdiri mematung menghadapi perubahan suasana hati Sasuke yang sangat tiba-tiba.
Harusnya aku bersyukur dia melepaskan pelukannya, bukan begitu? Pikir Naruto yang saat ini merasa sedikit kecewa karena harus kehilangan pelukan nyaman itu.
Dengan perlahan Naruto menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu. Dilihatnya Neji dan Sasuke sudah berdiri dan bersiap pergi. "Mau kemana?" tanya Naruto senormal mungkin.
"Kami harus pergi Ruko-san," jawab Neji sopan dengan senyum mengembang begitu memikat. Sementara Sasuke masih memalingkan muka dari Naruto.
"Tidak akan makan malam dulu?" tawar Naruto halus.
"Terima kasih, mungkin lain kali." Jawab Neji lagi.
"Begitu," sahut Naruto lalu melayangkan pandangannya pada Hinata. "Hinata akan tinggal untuk makan malam, kan?" tanya Naruto penuh harap.
"Tentu saja," Hinata menjawab penuh semangat. Dia sudah lupa kapan terakhir kali mereka makan malam bersama. Pasti akan menyenangkan, pikirnya untuk bisa makan malam bersama. Lagipula dia tidak ada pekerjaan malam ini, jadi tidak akan jadi masalah.
Sasuke keluar dari apartemen Naruto tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Neji yang melihat perubahan yang begitu jelas pada wajah Sasuke hanya bisa menghela napas. Neji segera pamit pada Naruto dan dengan cepat menyusul Sasuke. Debaman kecil terdengar saat Naruto menutup pintu apartemennya setelah mengantar Sasuke dan Neji pergi.
"Maaf, Sasuke memang seperti itu. Jangan diambil hati!" kata Hinata, sesaat setelah Naruto kembali bergabung dengannya di ruang tamu.
"Tidak masalah," sahut Naruto seraya mengibaskan tangan kanannya ke udara. "Sekarang aku ingin mendengar keseharianmu selama berada di sini, Hinata," ujar Naruto dengan suara antusias, memulai pembicaraan panjang mereka.
.
.
.
Waktu menunjukan pukul sebelas malam saat Hinata pamit pulang, Naruto mengantarnya hingga depan pintu. Awalnya Naruto menawarkan untuk mengantar Hinata pulang, bagaimanapun terlalu berbahaya bagi seorang wanita untuk pulang sendiri. "Tidak perlu Ruko, Kiba sudah menjemputku." Jawab Hinata dengan kedua pipi yang merona, malu.
Naruto tersenyum mendengarnya. "Baiklah, lain kali kita pergi keluar sama-sama?"
"Tentu saja, aku akan senang hati menemanimu."
Akhirnya mereka berpisah tepat di depan pintu apartemen Naruto, perlahan Naruto menutup pintu apartemennya dan berjalan ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Naruto menyandarkan diri pada counter dapur, kepalanya berdenyut. Bayangan diri Sasuke sore tadi mulai tergambar dengan jelas di pikirannya. Naruto memejamkan mata, mencoba mengenyahkan sosok rapuh Sasuke yang terus berputar di otaknya.
Lengkingan ceret membangunkannya dari lamunan. Dengan gesit dia menuangkan air panas ke dalam sebuah cangkir yang sudah dimasukkan kopi hitam giling yang beraroma khas. Naruto menambahkan dua sendok gula ke dalamnya. Biasanya dia suka kopi dengan sedikit susu, tapi kali ini dia benar-benar membutuhkan kafein yang kuat untuk menghilangkan sakit kepalanya.
Naruto duduk dalam keheningan, malam semakin pekat. Dia tidak tahu berapa lama dia duduk diam seperti itu, yang jelas kopinya sudah sangat dingin saat dirinya terganggu oleh suara bel rumahnya yang terus berbunyi tanpa jeda.
Kening Naruto berkerut, diliriknya jam yang tergantung pada dinding apartemennya. Siapa yang datang tengah malam begini? Tanyanya di dalam hati. Dia meletakkan cangkir kopi yang di genggamnya ke atas meja, lalu setengah enggan dia melangkahkan kaki menuju pintu masuk apartemennya. Alis Naruto saling bertaut saat dia melihat sosok Sasuke yang berada di depan pintu apartemennya melalui layar intercom. Apa yang dilakukan Sasuke disini? Batinnya heran.
Dia sedikit ragu saat akan membuka pintu apartemennya, tapi suara bel itu sangat mengganggunya. Berat hati akhirnya dia pun membuka pintu, keterkejutan Naruto kembali datang saat melihat Sasuke berdiri di hadapannya dalam keadaan mabuk. Tubuh Sasuke limbung ke arahnya, dengan susah payah Naruto memapah Sasuke untuk masuk ke dalam dan membaringkannya di atas sofa.
Naruto menutup hidung dengan telapak tangannya, saat penciumannya mencium bau alkohol yang menguar kuat dari tubuh Sasuke. "Bau sekali," katanya seraya memalingkan wajah dari tubuh Sasuke. Naruto melepas sepatu yang dikenakan Sasuke dan meletakkannya di rak sepatu miliknya. Setelah selesai, Naruto kembali menghampiri Sasuke. "Apa yang harus kulakukan terhadapmu?" tanyanya lirih.
Pandangan mata Naruto beralih pada kaos polo hitam yang dikenakan Sasuke malam ini. Kaos itu begitu lengket, mungkin terkena minuman yang ditenggak Sasuke. "Pasti tidak nyaman," kata Naruto. Akhirnya Naruto memberanikan diri untuk membuka kaos polo itu dari tubuh Sasuke, perlu usaha keras untuk melakukannya. Naruto mendesah lega saat dia berhasil meloloskan kaos itu dari kepala Sasuke.
Naruto segera memasukkan kaos Sasuke ke dalam mesin cuci dan mengeringkannya agar bisa kembali di pakai oleh pria itu esok harinya. Naruto membawa sebaskom air hangat dan sebuah handuk kecil saat dia kembali ke ruang tamu. Naruto berjongkok di samping Sasuke dan mulai menyeka wajah dan dada bidang pria itu yang saat ini masih tertidur dengan nyaman. Naruto terus menyeka Sasuke hingga tidak tercium bau alkohol dari tubuh pria itu, setelah selesai melakukannya, Naruto segera mengambil sebuah bantal dan selimut untuk Sasuke.
"Kenapa aku malah mengurusmu seperti ini?" dia berkata lirih, tidak mengerti. "Harusnya aku menelepon Hinata agar Neji bisa menjemputmu kesini." Katanya parau, dengan lembut Naruto menyelimuti Sasuke hingga bagian dadanya. Naruto bermaksud untuk kembali ke kamarnya saat tangan Sasuke menggenggam pergelangan tangan Naruto dan menahannya untuk tidak pergi.
"Sasuke?"
"Jangan pergi!" kata Sasuke lirih, matanya menatap lurus mata biru Naruto. Jantung Naruto berdegup begitu kencang saat ini, mulutnya seakan terkunci saat dia mendengar suara Sasuke yang terdengar pilu.
"Jangan pergi lagi Naru! Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Kali ini, aku tidak akan melepasmu pergi!"
Tubuh Naruto bergetar hebat saat mendengar penuturan Sasuke, dia sama sekali tidak pernah menyangka jika pria yang ada dihadapannya saat ini, bisa sangat rapuh karena kepergiannya. Mata oniks itu kembali terpejam, napasnya kembali teratur, tapi genggaman tangan Sasuke pada pergelangan Naruto masih begitu kuat.
"Kenapa kau bisa begitu kehilanganku? Kita hanya bertemu beberapa kali. Kenapa kau harus seperti ini?" Tanya Naruto pada sosok Sasuke yang sudah kembali tertidur. "Harusnya kau menikmati hidup! Apa yang harus kulakukan padamu?" Naruto kembali tenggelam dalam tangisnya, hatinya sakit, ingin rasanya dia mengatakan pada Sasuke jika dia adalah Naruto. Dia ingin menghapus kesedihan yang terpatri pada bola mata oniks itu, tapi Naruto takut, dia takut jika melakukannya maka semua kenangan buruk itu akan datang kembali dan menghantui setiap malam-malamnya.
Keesokan harinya, Sasuke terbangun dengan denyutan hebat pada kepalanya. Dia mendudukkan diri dan menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Sasuke akhirnya mendongakkan kepala saat rasa sakit itu berkurang, dia mengernyit saat melihat ruangan asing di sekitarnya. "Aku dimana?" tanyanya lirih.
"Sudah bangun?"
Sasuke tersontak kaget saat mendengar suara Naruto. Gadis itu berjalan melewatinya tanpa rasa canggung. "Anda bisa memakai kamar mandi jika mau Uchiha-san, saya sedang siapkan sarapan." Katanya sambil berlalu pergi dan menghilang ke dalam dapur.
Sasuke kembali menundukkan kepalanya, mengingat-ngingat kenapa dia bisa ada di apartemen wanita ini sekarang. Sasuke bertambah heran saat mendapati dirinya tidak mengenakan kaos yang dipakainya kemarin. Merasa bingung, akhirnya Sasuke memutuskan untuk meminjam kamar mandi Naruto dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin.
Pria itu benar-benar menyukai peralatan mandi Naruto yang beraroma jeruk. Dia mencuci rambutnya dengan shampo Naruto, dan membersihkan tubuhnya dengan sabun cair yang juga beraroma jeruk. Tubuhnya kembali segar saat dia selesai mandi. Sasuke menatap pantulan dirinya pada kaca besar yang terdapat di dalam kamar mandi. Dia mulai ingat kejadian tadi malam, dia pergi ke sebuah pub dan minum hingga mabuk karena pertemuannya dengan sosok yang begitu mirip dengan Naruto. Otaknya terus berkata jika Naruko bukalah Naruto, tapi hatinya terus berteriak jika wanita itu adalah Naruto. Sasuke ingin menghilangkan perasaan itu, tapi dia malah memperburuk keadaan dengan minum-minum.
Sasuke menghela napas, bersyukur karena dia masih bisa hidup hingga detik ini. Dia tidak habis pikir, kenapa tadi malam dia bisa begitu nekat mengendarai mobil dalam keadaan mabuk dan berakhir di apartemen wanita ini. Sasuke melangkah dengan perlahan tanpa suara menuju dapur. Sesaat dia mengamati sosok Naruto yang membelakanginya. Sasuke tidak mengerti kenapa ada rasa hangat yang masuk ke dalam hatinya saat dia melihat sosok pirang dihadapannya ini.
Bolehkah aku berharap jika kau memang Naruto? Tanya Sasuke dalam hati.
"Mau sampai kapan berdiri disitu? Duduklah!" kata Naruto tegas, seraya meletakkan dua buah cangkir berisi coklat hangat ke atas meja makan.
"Apa?" tanya Naruto saat mendapati Sasuke menatap tajam kearahnya, dengan kaki bersilang dan tangan dilipat di atas dada.
"Apa yang kau lakukan terhadapku tadi malam?"
Naruto menatap Sasuke dengan pandangan bosan, dan kembali meletakkan piring berisi sandwich ke atas meja. "Harusnya saya yang bertanya, kenapa malam-malam anda datang ke apartemen saya dalam keadaan mabuk?"
Alih-alih menjawab, Sasuke malah kembali melayangkan pertanyaan pada Naruto. "Dimana kaos milikku?"
Naruto berjalan menuju ruang cuci dan mengambil kaos polo hitam milik Sasuke yang sudah disetrika dan dilipat rapih. "Ini," katanya seraya menyerahkan kaos hitam itu. "Saya mencucinya tadi malam, asal anda tahu Uchiha-san, saya tidak suka bau alkohol. Karena itu saya mencucinya." Kata Naruto santai.
"Katakan saja jika kau mau melihat dada bidangku, Dobe!" ujar Sasuke dengan seringaian kecil, dia sendiri terkejut kenapa bisa memanggil wanita ini dengan panggilan sayang yang biasa dia ucapkan untuk Naruto.
"Anda terlalu percaya diri Uchiha-san," balas Naruto datar. "Saya sudah sering melihat tubuh atletik para model pria. Dan dapat saya pastikan pada anda, tubuh mereka jauh lebih mempesona dibandingkan dengan anda." Katanya setengah berbohong, dalam hati Naruto harus mengakui jika postur Sasuke lebih seksi dari postur model yang pernah dilihatnya selama ini.
"Yakin?"
"Apa maksud anda? Tentu saja saya yakin." Balas Naruto tanpa menatap langsung wajah Sasuke. "Duduklah, lebih baik anda sarapan dulu sebelum pergi."
Sasuke segera duduk berhadapan dengan Naruto dan dengan cepat mengenakan kembali kaos polonya. Naruto menyodorkan segelas coklat hangat kehadapannya. Rasa minuman itu mengalir hangat ke tenggorokan Sasuke, terasa begitu nikmat pada mulutnya yang kering. Sasuke menatap sandwich dan melirik ke arah Naruto yang saat ini sedang menyantap sarapannya dengan khidmat.
"Kenapa tidak dimakan?"
"Aku lebih suka sarapan ala Jepang." Jawab Sasuke sambil menyeruput coklat hangatnya.
Naruto berdecak dan menghela napas kasar. "Seharusnya anda berterima kasih, karena saya bersedia menyiapkan sarapan untuk anda. Saya bukan istri anda!" kata Naruto cepat.
"Hn." Jawab Sasuke datar. "Kalau begitu, jadilah istriku!"
Hampir saja Naruto tersedak mendengar penuturan Sasuke yang terdengar begitu santai. "Jangan bercanda Uchiha-san, cepat habiskan sarapan anda dan segera pergi dari apartemen saya!"
Sasuke hanya mengangkat bahu dan menggigit kecil sandwichnya. Aku akan mencari tahu siapa kau sebenarnya Naruko. Kata Sasuke dalam hati.
Naruto memijat kedua pelipisnya selepas kepergian Sasuke. Dia mengumpat dalam hati, karena lupa jika pria itu bisa begitu menyebalkan. "Dasar Teme jelek, narsis, angkuh, menyebalkan!" katanya sedikit histeris.
Sasuke melangkahkan kakinya menuju tempat parkir dengan semangat. Pertengkaran kecilnya bersama Naruto pagi ini sukses membuatnya bahagia. Dia mengatakan pada dirinya sendiri jika hal itu gila, bagaimana mungkin dia merasa bahagia hanya karena sebuah pertengkaran kecil? Sasuke menyeringai, saat dia memasang sabuk pengaman dan mulai menjalankan mobil pribadinya keluar dari tempat parkir. 'Mulai detik ini, aku akan terus menempel padamu Naruko. Jadi, jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku!' Katanya dengan senyum tipis yang terukir pada bibirnya.
Menjelang tengah hari, Sasuke memasuki studio tempatnya berlatih dengan langkah lebar. Wajahnya masih stoic seperti biasa, namun ada yang berbeda dengan penampilannya siang ini. "Apa?" tanya Sasuke saat mendapati teman-teman baiknya menatap kearahnya dengan heran.
Kiba berlari ke arahnya dan memeluk Sasuke. "Akhirnya kau bisa lepas dari warna hitam, Sas. Syukurlah." Katanya dengan ekspresi sedikit berlebihan.
"Semua pakaian hitamku kotor, jadi aku pakai kaos putih ini." Jawab Sasuke berdalih, dan melepaskan pelukan Kiba.
"Benarkah?" ejek Shikamaru santai.
"Hn."
"Carilah alasan lain yang lebih masuk akal, Sas!" Sahut Neji datar seraya menggelengkan kepalanya.
"Hn." Jawab Sasuke lagi, dirinya menghempaskan diri ke atas sofa putih yang begitu nyaman, meraih agenda milik Asuma yang tergeletak di atas meja yang ada di hadapannya dan membaca jadwal kegiatannya untuk hari ini. "Kita ada pemotretan di luar?" tanya Sasuke saat membaca jadwal.
"Benar," sahut Neji. "Pihak agensi majalah menginginkan photo dengan latar kehidupan para remaja."
"Hn."
"Semua sudah diatur Suke, tidak perlu khawatir tentang fans. Akan ada penjaga yang berjaga di luar cafe selama pemotretan itu berlangsung."
"Aku tidak khawatir tentang itu Neji," jawab Sasuke. "Dimana Asuma-san?" tanya Sasuke yang baru sadar jika Asuma tidak ada bersama mereka.
"Asuma-san ada meeting dengan kakakmu." Jawab Shikamaru.
"Nii-san?"
"Ya, aku dengar kakakmu menawarkan pekerjaan pada kita untuk menjadi model, apa Itachi-san tidak mengatakannya padamu?"
"Dia tidak mengatakan apapun padaku," jawab Sasuke, sementara Kiba hanya mengangguk mendengar jawaban dari Sasuke.
Beberapasaat kemudian Asuma muncul, dan memerintahkan anak asuhnya itu untuk segera ke lokasi. Asuma tidak mengatakan apapun tentang pembicaraannya dengan Itachi, dan keempat pemuda yang berjalan di belakangnya pun mengerti jika manager mereka ini pasti akan mengatakan semuanya jika waktunya tepat.
Saat ini, hanya Sasuke dan Neji saja yang pergi dengan kendaraan pribadi mereka. Kiba dan Shikamaru terlalu malas untuk menyetir dan memutuskan untuk ikut dengan Asuma. Perlu waktu lebih dari tiga puluh menit untuk mereka sampai ke cafe yang dituju. Cafe itu terletak di pusat jantung kota Konoha. Cafe dengan gaya arsitektur Victorian, mampu menyedot perhatian kalangan muda untuk duduk dan menjadi pelanggan tetap disana.
Keadaan cafe begitu sepi siang ini, mungkin karena tulisan 'Close' yang menggatung di kaca pintu cafe. Beberapa orang yang datang kesana mengeluh kecewa saat mendapati cafe tutup. Beberapa pria dengan postur besar berdiri di depan cafe, untuk berjaga-jaga jika berita tentang berkumpulnya anggota Black Knight untuk pemotretan di cafe ini tersebar luas.
Sasuke masuk ke dalam cafe dengan langkah mantap, diikuti Neji di belakangnya. Shikamaru dan Kiba sudah tiba lebih dulu bersama Asuma. Hawa dingin menyambut keduanya saat mereka masuk ke dalam cafe. Hawa itu begitu sejuk di kulit mereka, berbanding terbalik dengan udara panas yang sangat menyengat di luar.
Para kru sudah menyiapkan segala sesuatu untuk pemotretan kali ini, agar terkesan natural, sang photographer memerintahkan krunya untuk menjadikan cafe dan suasananya sebagai backdrop. Para penata rias langsung mengerjakan tugas mereka saat anggota Black Knight itu sudah berkumpul dengan lengkap.
Pemotretan itu berlangsung lancar, hingga satu jam kemudian terdengar suara gaduh karena pertengkaran di luar cafe. "Anda tidak boleh masuk, Nona!" suara baritone itu begitu tajam dan mengancam.
"Saya sudah ada janji dengan Choji-san, anda boleh bertanya padanya." Jawab seorang wanita, sedikit kesal.
"Itu bisa jadi hanya alasan anda saja!"
"Apa maksud anda?"
"Pokoknya anda tidak boleh masuk! Pergi dari sini!" lanjut pria kekar itu lagi dengan kasar.
"Katakan pada Choji-san, Uzumaki Naruko ingin bertemu!"
"Tidak bisa, Nona!"
Mendengar nama Naruko, Sasuke langsung mengalihkan pandangannya keluar kaca jendela. Dia langsung bangkit berdiri dari kursinya, dan menulikan telinga saat sang photographer memanggil-manggil namanya. Dengan tergesa-gesa Sasuke berjalan keluar cafe. "Biarkan dia masuk!" katanya dingin, penjaga itu juga Naruto mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang saat ini berdiri tepat di depan pintu masuk cafe.
"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Naruto heran.
"Ijinkan dia masuk!" kata Sasuke lagi, saat penjaga itu masih menghalangi jalan Naruto. Sasuke menarik pergelangan tangan Naruto untuk masuk ke dalam cafe bersamanya. Para kru menatap Sasuke tak percaya, saat ini baru pertama kali bagi mereka melihat Sasuke berjalan dengan menggandeng tangan seorang wanita. Neji hanya tersenyum melihatnya, sementara Kiba dan Shikamaru, wajah mereka memucat. Kiba mengerjapkan mata berkali-kali, memastikan jika dia tidak salah lihat. "Naruto?" katanya lirih.
"Dia bukan Naruto," jawab Neji. "Namanya Uzumaki Naruko, dia teman Hinata."
"Kau mengenalnya?" tanya Shikamaru yang sudah pulih dari keterkejutannya.
"Hinata mengenalkanku juga Sasuke pada Naruko kemarin sore."
"Kau yakin dia bukan Naru? Mereka begitu mirip." Sahut Kiba masih tak percaya.
"Begitulah," tukas Neji datar. "Kalian pasti mengerti jika sudah mengenalnya." Katanya seraya menatap Sasuke dan Naruto yang saat ini berjalan ke arah mereka.
"Lepaskan saya Uchiha-san!"
"Hn."
"Lepas!"
"Hn."
"Lepaskan!" seru Naruto seraya menginjak kaki kanan Sasuke begitu keras hingga menyebabkan pemuda itu mengerang kesakitan dan melepaskan pegangannya.
"Argggghhh," teriaknya agak keras. "Sakit Dobe!" bentak Sasuke, sementara Naruto menyeringai dan mendengus ke arahnya. Hidung kecilnya diangkat dengan angkuh. "Saya sudah meminta anda untuk melepaskan saya, Uchiha-san."
"Kenapa harus malu-malu Dobe? Bukankah kau kesini untuk mencariku?" Bisik Sasuke di telinga Naruto. Para kru yang tidak mendengar pembicaraan keduanya hanya bisa tersipu malu, karena sikap keduanya layaknya sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Saya tidak mengira jika anda mengidap penyakit narsis, Uchiha-san." Balas Naruto yang juga setengah berbisik. "Saya datang kesini untuk bertemu dengan Choji-san."
Sasuke tersenyum kecil pada Naruto, membuat para kru yang menjadi saksi senyum itu menatapnya tak percaya. Seorang pangeran es bisa tersenyum pada seorang wanita. Wanita itu pasti kekasihnya, pikir mereka kompak.
"Hn."
"Aku tidak berbohong."
"Hn."
Naruto mendengus dan memutar kedua bola matanya. "Terserah jika anda tidak percaya, maaf saya harus pergi. Permisi!" Katanya tegas, namun Sasuke tidak melepasnya pergi. Lagi-lagi dia meraih pergelangan tangan Naruto dan memaksanya untuk berjalan menuju Shikamaru, Kiba dan Neji duduk.
"Siapa nama wanita cantik ini, Sas?" tanya Asuma menyeringai saat dirinya mendapat tatapan tajam dari Sasuke.
"Dia Naruko." Jawab Sasuke singkat.
"Senang bertemu denganmu lagi Ruko-chan." Tukas Neji lembut, sementara Naruto menyambut uluran tangan Neji dengan sopan. "Kenalkan, ini rekan kami yang lain, Kiba dan Shikamaru. Dan pria tua ini manager kami, namanya Asuma-san." Asuma hanya mendengus saat mendengar penuturan Neji tentangnya. Demi Tuhan, pria tua? Aku bahkan belum berumur empat puluh tahun. Batin Asuma kesal.
"Senang bertemu dengan kalian semua, saya Uzumaki Naruko. Salam kenal!"
Kiba, Shikamaru dan Asuma hanya mengangguk dan menatap Naruto dengan pikiran yang berbeda. Shikamaru menatapnya penuh minat, pandangannya lalu beralih pada Sasuke, seolah-olah pria itu berusaha untuk menghalangi setiap pria yang ingin mendekati Naruko. "Merepotkan," tukas Shikamaru.
Sementara Kiba menatap Naruto dengan tatapan tak percaya. 'Bagaimana mungkin ada dua orang yang begitu mirip di dunia ini?" tanyanya dalam hati. Apa dia saudari kembar Naruto?
Sementara Asuma berpikir jika Naruto adalah kekasih Sasuke. "Jadi dia kekasihmu, Sasuke?" bisiknya pada telinga Sasuke, namun masih mampu didengar oleh telinga Naruto.
"Hn."
"Bukan!" bantah Naruto keras dan menatap tajam pada Sasuke. "Saya kemari untuk bertemu Choji-san."
"Ah, bukankah Choji-san pemilik cafe ini." Sahut Asuma santai.
"Benar, saya ada janji dengannya siang ini." Jelas Naruto.
"Kenapa kau harus bertemu dengannya Dobe?" Neji, Shikamaru, Kiba dan Asuma hanya bisa menelan ludah saat mendengar nada dingin dan tidak suka pada suara Sasuke.
"Bukan urusan anda!" Naruto menjawab ketus.
"Itu urusanku."
"Anda pikir, anda itu siapa?"
Sasuke terdiam, benar juga, memangnya dia siapanya Naruko? Kenapa dia tidak suka saat mendengar Naruko akan menemui pria lain. Ini gila, pikir Sasuke. Keadaan canggung ini diselamatkan oleh panggilan photographer yang meminta mereka berempat untuk kembali ke posisinya. "Jangan pergi, aku akan mengantarmu pulang!" tukas Sasuke tajam, sementara Naruto hanya bisa membelalakan matanya.
"Asuma-san, saya permisi. Saya harus menemui Choji." Kata Naruto sopan.
"Silahkan," jawab Asuma. "Ruko-san, boleh saya memohon satu hal?"
"Tentu."
"Jika anda sudah menyelesaikan urusan anda dengan Choji-san, saya mohon anda untuk kembali kesini."
"Hah?"
Asuma menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Maaf jika sedikit aneh, hanya saja, jika Sasuke tidak mendapat keinginanya, maka nasib tragis akan dialami kami yang ada di sekelilingnya." Jelas Asuma berlebihan.
Naruto menghela napas panjang dan menjawab. "Baiklah, saya akan kembali apabila urusan saya sudah selesai." Naruto menundukkan kepalanya pada Asuma dan berlalu pergi menuju kantor Choji berada.
Satu jam berlalu setelahnya, Naruto keluar dari kantor Choji dengan senyum lebar. Choji mengantar Naruto turun ke lantai bawah. "Maaf, aku lupa jika hari ini cafeku tutup karena ada pemotretan. Seharusnya aku memberi tahumu dari awal."
"Tidak apa-apa Choji, yang penting pesananku untuk acara pembukaan butik nanti sesuai dengan apa yang kuinginkan."
"Aku pasti berusaha sekuat tenaga Ruko, tidak perlu khawatir."
"Baiklah, untuk dp akan segera aku transfer. Pelunasannya akan aku bayar dua minggu sebelum acara."
"Tidak masalah," sahut Choji. "Satu bulan sebelum acara aku akan mengundangmu lagi kesini untuk test food, bagaimana?"
"Ok," sahut Naruto singkat. "Senang bekerja sama denganmu Choji."
"Jangan formal begitu Ruko! Kita ini teman lama."
"Benar juga," kata Naruto sambil terkikik kecil. "Kapan-kapan kita harus berkumpul, nanti aku akan ajak Hinata untuk makan disini."
"Aku akan dengan senang hati menjamu kalian." Tukas Choji semangat. "Senang rasanya jika bisa kembali bertemu teman lama."
"Baiklah, kalau begitu aku permisi Choji."
"Ya, hati-hati di jalan Ruko!"
"Terima kasih."
Asuma melambaikan tangannya untuk menarik perhatian Naruto. Dengan enggan akhirnya Naruto berjalan ke arahnya dan duduk di samping Asuma hingga pemotretan itu berakhir dua jam kemudian.
"Masih di sini Dobe?" cibir Sasuke tanpa merasa berdosa.
"Aku pulang!" tukas Naruto kesal.
"Aku antar," sahut Sasuke yang langsung menyusul Naruto yang sudah berjalan mendahuluinya.
"Apa mungkin Sasuke jatuh cinta pada Ruko-san?"
"Entahlah Kiba, mungkin saja." Jawab Neji.
"Aku hanya berharap Ruko bisa menyembuhkan luka hati Sasuke." Sahut Shikamaru, sementara Neji dan Kiba mengangguk setuju.
"Aku harus ke swalayan dulu, persediaan makananku habis." Tukas Naruto saat dia sudah duduk dengan berat hati di dalam mobil Porsche hitam milik Sasuke.
"Hn."
"Tolong antarkan saya ke sana, Uchiha-san."
"Panggil aku Sasuke, dan jangan terlalu formal denganku!"
"Terserah!" jawab Naruto dingin.
"Kau mau kemana?" tanya Naruto saat Sasuke membuka sabuk pengamannya dan memakai topi. "Masuk ke dalam swalayan tentu saja."
"Bagaimana kalau ada yang mengenalimu?"
"Hn."
"Jangan bercanda, Sasuke!"
"Hn." Jawab Sasuke lagi, tersenyum kecil saat mendengar Naruto menyebut namanya akrab. "Aku tidak bercanda, cepat turun!" Tukas Sasuke yang sudah keluar dari dalam mobilnya. Mau tidak mau akhirnya Naruto keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam swalayan berdampingan dengan Sasuke. Mereka membeli segala kebutuhan dapur layaknya pengantin baru. Beberapa pengunjung berbisik-bisik saat melihat keduanya. "Pria itu seperti Sasuke." Tukas salah satu pengunjung wanita. "Tidak mungkin," jawab pengunjung lainnya. "Bagaimana mungkin Sasuke berada di swalayan seperti ini, dengan seorang wanita lagi. Mungkin hanya mirip."
"Mereka mulai mengenalimu." Desis Naruto.
"Hn."
"Kenapa kau masih bisa bersikap santai?" tanya Naruto seraya memasukkan beberapa kotak susu cair ke dalam troli.
"Bersikap biasa saja," sahut Sasuke. "Mereka akan curiga jika kau gugup."
"Mudah untukmu berkata seperti itu."
"Hn."
"Kau benar-benar menyebalkan!"
"Hn."
"Keras kepala!"
"Hn."
"Narsis!"
"Hn."
"Berhenti mengucapkan 'hn'!"
"Hn."
"Terserah!" Naruto mendorong troli belanjaannya dengan gemas, meninggalkan Sasuke yang menatap punggungnya dengan senyuman yang terukir lembut di bibirnya.
Sesampainya di apartemen, Naruto yang dibantu oleh Sasuke segera meletakkan semua belanjaannya di atas meja makan. "Terima kasih sudah membantuku."
Sasuke hanya mengangkat bahu. "Dobe," tukas Sasuke datar.
"Berhenti memanggilku dengan panggilan itu!" protes Naruto keras.
Lagi-lagi Sasuke kembali mengangkat bahu. "Aku lapar."
"Lalu?"
"Siapkan aku makanan!" tukasnya santai, dan segera duduk di kursi meja makan.
"Kau pikir aku pembantumu apa?"
Lagi-lagi Sasuke mengangkat bahunya. "Baiklah, anggap saja ini ucapan terima kasihku. Aku akan buat pasta untuk makan malam, dan jangan banyak protes!" tukas Naruto tajam.
"Hn."
Setengah jam kemudian, Naruto memanggil pria itu untuk makan malam. Sasuke melahap habis semua pasta yang dihidangkan Naruto untuknya. Naruto akhirnya tersenyum kecil melihat perilaku Sasuke saat ini. "Enak?"
"Hn."
"Kau terlalu irit bicara tuan Uchiha Sasuke!" cibir Naruto.
"Boleh aku minta segelas kopi?"
"Ok, tapi setelah itu kau harus pulang!"
"Hn."
Naruto memutar kedua bola matanya dan segera membuatkan segelas kopi untuk Sasuke. "Pakai susu?"
"Tidak, masukkan sesendok gula ke dalamnya. Itu cukup." Jawab Sasuke. Naruto menyodorkan segelas kopi yang masih mengepul ke hadapan Sasuke dan mengamati dengan seksama saat pria itu menyesap kopinya.
"Jangan menatapku seperti itu, Dobe. Kau bisa jatuh cinta!"
"Apa tidak terbalik?"
"Hn." Sasuke kembali menikmati kopi-nya yang terasa begitu nikmat di mulutnya. Dan segera pamit pulang setelah dia menghabiskan kopinya. "Besok malam aku datang lagi, tolong siapkan masakan Jepang lengkap untukku!"
Dahi Naruto kembali berdenyut kesal mendengar penuturan Sasuke. "Ini bukan rumahmu, enak saja kau datang minta makan!"
"Kalau begitu, kita keluar untuk makan malam."
"Tidak mau!"
"Ah, jadi kau setuju aku makan malam di sini?"
"Tidak!"
"Pilih salah satu, kita makan di luar, atau aku makan di sini?"
"Tidak keduanya!"
"Sayang sekali itu bukan jawaban tepat," tukas Sasuke. "Besok malam aku makan disini, bye!" tukasnya dan berlalu pergi keluar dari apartemen Naruto dengan senyum terkembang.
"Dia benar-benar menyusahkan." Lirih Naruto frustasi.
Sementara itu, di kediaman Kazekage, seorang pria dengan rambut merah berbicara serius dengan Kazegake. "Aku ingin kau segera ke Konoha, pimpin cabang perusahaan kita di sana. Dan yang paling penting, awasi Uzumaki Mito!" desis Kazekage.
"Tidak masalah paman," sahut Sasori. "Aku pasti tidak akan mengecewakan paman." Katanya penuh percaya diri.
"Kau memang bisa diandalkan Sasori," tukas Kazekage bangga. "Kankuro akan menyiapkan segala kebutuhanmu."
"Hai, wakatta."
.
.
.
Keesokan harinya, para personil Black Knight disibukkan dengan rekaman untuk mini album mereka yang akan diluncurkan dua bulan mendatang. PR mereka masih menumpuk setelahnya, serangkaian tour, pemotretan dan promosi harus mereka lakukan untuk penjualan album.
"Kita perlu istirahat sebelum mengerjakan semua PR ini." Tukas Kiba tiba-tiba. "Aku ingin ke pantai." Katanya setengah merengek.
"Vila keluargaku kosong jika kalian mau." Tukas Shikamaru.
"Benarkah?" Tanya Kiba semangat. "Neji, Suke kita liburan ke vila Shikamaru yah, kita ajak para gadis juga Gaara bersama kita."
"Merepotkan jika membawa wanita, kalau Gaara sih aku setuju." Sahut Shikamaru.
"Tapi, kita sudah lama tidak liburan bersama." Tukas Kiba beralasan.
"Terserah, tapi kau yang ajak mereka."
"Hai, arigatou, Shika."
Sasuke, Neji dan Shikamaru hanya bisa mendengus dan berharap liburan kali ini tidak berubah menjadi mimpi buruk karena Sakura dan Karin.
"Ah, kita ajak juga Ruko-chan. Bagaimana?"
"Dia tidak mengenal kita Kiba, aku yakin dia pasti menolak." Sahut Shikamaru.
"Aku yang akan mengajaknya."
Neji, Shikamaru dan Kiba menatap Sasuke heran. "Apa tidak lebih baik jika Hinata saja yang mengajaknya Suke?" usul Neji.
"Kalian tenang saja, aku pasti bisa memaksanya ikut." Jawab Sasuke dengan seringai menakutkan, membuat ketiga temannya yang lain merinding ngeri.
Setelah itu, Kiba langsung menghubungi Hinata dan mengatakan semua rencananya. Kiba bisa mendengar teriakan Sakura dan Karin di belakang Hinata yang mengatakan jika mereka pasti ikut. Hinata dan Ino akhirnya setuju untuk ikut serta. Untuk Gaara, Shikamarulah yang bertugas untuk merayunya agar ikut serta.
"Aku tidak bisa, Shika." Jawab Gaara.
"Sekali ini ambil cuti Gaara, kita sudah lama tidak berkumpul bersama."
"Aku tidak yakin bisa, kenapa mendadak sekali?"
"Kiba ingin liburan."
"Begitu?"
"Selain itu, ada seseorang yang ingin kami kenalkan padamu. Aku yakin kau akan terkejut jika melihatnya."
"Siapa?"
"Itu kejutan Gaara, jadi sebaiknya kau ikut! Kamis depan aku akan menjemputmu, ok! Sampai jumpa." Kata Shikamaru mengakhiri hubungan telepon dengan Gaara.
Malam harinya, tepat pukul tujuh malam, Sasuke sudah berdiri di depan pintu apartemen Naruto dan menekan bel dengan tidak sabar. "Oh Tuhan, kau benar-benar datang?" Kata Naruto jengkel. Sasuke segera masuk tanpa harus dipersilahkan. "Kau belum masak?"
"Aku bukan istrimu, kenapa minta makan padaku?" omel Naruto kesal.
"Cepat masak, aku lapar!" tukas Sasuke santai, dan duduk dengan nyaman di sofa dan menyalakan TV seakan-akan berada di apartemennya sendiri.
"Kau benar-benar menjengkelkan Uchiha Sasuke!" teriak Naruto kesal, namun pada akhirnya dia mengalah dan mulai menyiapkan makan malam.
Satu jam kemudian mereka berdua duduk berhadapan dengan tenang di ruang makan. Sasuke begitu khidmat menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh Naruto. "Sampai kapan kau akan terus meminta makan padaku?"
"Hn."
"Seharusnya kau minta makan pada istri atau kekasihmu!" Gerutu Naruto lagi.
"Aku sedang melakukannya."
"Apa?"
Sasuke meletakkan mangkok nasi dan sumpitnya ke atas meja, dan menatap Naruto dengan intens. "Kau mau aku berhenti mengganggumu kan?"
"Tentu saja."
"Ada syaratnya."
"Apa?"
"Kamis depan ikut denganku untuk liburan."
"Hah?"
"Kau hanya perlu ikut denganku, dan aku akan berhenti meminta makan darimu." Tukas Sasuke datar. "Hinata juga ikut."
"Aku akan telepon Hinata untuk memastikan."
"Silahkan." Kata Sasuke mengangkat kedua bahunya cuek, seraya melanjutkan kembali makan malamnya.
"Jika aku setuju ikut, kau akan berhenti menggangguku?"
"Hn."
"Kau harus pegang ucapanmu!"
"Hn."
"Laki-laki tidak boleh menjilat kata-katanya kembali!" desis Naruto.
"Hn."
"Aku akan pikirkan. Dan berhenti mengatakan hn! Kau membuatku jengkel!"
"Hn." Dalam hati, Sasuke tersenyum gembira karena jika Naruko setuju untuk ikut, berarti dia memiliki waktu selama empat hari untuk menghabiskan waktu dengannya. Dan mencari tahu, siapa Naruko sebenarnya.
.
.
.
Hari Kamis datang begitu cepat, tepat pukul delapan pagi- Sasuke menjemput Naruto ke apartemennya. "Sudah siap?" tanya Sasuke santai saat melihat Naruto berdiri di depan pintu apartemennya dengan wajah ditekuk, sebal.
"Menurutmu?" jawab Naruto ketus, Sasuke hanya menyeringai dan membantu membawakan koper milik Naruto dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. "Yang lain mana?" tanya Naruto.
"Mereka sudah berangkat dengan mobil pribadi masing-masing." Jawab Sasuke, yang saat ini sudah mulai memanaskan mobilnya kembali.
"Kau tidak takut jika ada wartawan yang mengambil photomu saat pergi bersamaku seperti ini?" tanya Naruto saat dia selesai memasang sabuk pengamannya.
"Tidak masalah."
"Karirmu bisa hancur."
"Aku tidak peduli." Jawab Sasuke tenang.
"Tapi aku peduli," sahut Naruto serius. "Aku tahu, bagaimana sulitnya meniti karir hingga diri kita diakui oleh khalayak banyak."
Sasuke memalingkan wajahnya ke arah Naruto. "Tidak perlu khawatir berlebihan, aku bisa menjaga diri dan karirku." Jawab Sasuke santai, dan keduanya kembali terdiam lama setelahnya.
Mereka hanya memerlukan waktu selama dua jam untuk sampai di vila musim panas milik keluarga Shikamaru, perjalanan mereka begitu sunyi. Naruto bahkan tertidur karenanya. Sesekali Sasuke melirik ke arah Naruto yang tidur begitu damai. Sasuke berharap jika dia bisa terus bersama Naruto tanpa diganggu oleh siapapun.
Para personil yang lain sudah berkumpul dan istirahat di ruang tamu saat Sasuke dan Naruto memasuki wilayah vila milik Shikamaru. Karin dan Sakura menunggu dengan tidak sabar akan kedatangan Sasuke. "Sasuke-kun mana? Kenapa dia belum datang juga?" tanya Sakura kesal, sementara Karin masih berkutat dengan telepon genggam miliknya, mencoba untuk menghubungi Sasuke.
"Sebentar lagi dia pasti sampai," tukas Neji datar. Kenapa hanya Sasuke yang ada di dalam pikiran para wanita? Pikirnya tidak mengerti, sementar Gaara hanya diam, dirinya terlalu malas untuk meladeni Sakura yang tingkat cintanya pada Sasuke sudah melampaui batas manusia normal. Mungkin liburan kali ini akan menjadi liburan paling buruk, batinnya saat melirik kearah Sakura dan Karin yang kini mulai berseteru mengenai siapa yang berhak menjadi kekasih Sasuke.
"Itu dia datang," teriak Kiba saat mobil Sasuke memasuki perkarangan vila Shikamaru.
Sakura dan Karin baru saja akan berteriak dan memeluk Sasuke saat keduanya melihat sosok yang berjalan tepat di belakang Sasuke. Sakura, Karin, Ino dan Gaara membeku di tempat, wajah mereka berubah pucat. Yang terparah adalah Karin, yang langsung tidak sadarkan diri beberapa saat kemudian. Hanya Gaara saja yang mampu pulih dengan cepat. Dengan suara tercekat akhirnya dia bisa berkata.
"Naruto?"
.
.
.
TBC
