Jongin memejamkan matanya menikmati sapuan lembut angin dirooftop sekolah. Bergerak meregangkan ototnya, ia memutuskan untuk tidur disana dengan nyaman. Satu tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya dari sinar matahari. Mengacuhkan seseorang yang sedari tadi duduk diam dan memperhatikannya dari dekat.

"Kim Kai"

Jongin membuka matanya perlahan karena sayup-sayup mendengar orang berbicara. Memutar kepalanya ke penjuru sudut rooftop, ia hanya mendapati dirinya seorang ditempat itu.

Sehun tersenyum senang melihat Jongin yang sepertinya juga sedikit sensitif dengan hal-hal berbau gaib seperti ini. Pasalnya, meskipun ia mencoba untuk membuat manusia mendengar apa yang ia katakan mereka tidak akan pernah bisa mendengar karena mereka sama sekali tak memiliki ketertarikan atau kepekaan tentang hal-hal semacam itu.

Jongin mendudukkan tubuhnya menyandar pada pagar pembatas rooftop. Kakinya tertekuk satu sebagai tumpuan dagunya.

"Kim Kai? Seperti pernah dengar nama itu"

Sehun membelalakkan matanya mendengar gumaman Jongin. Ia semakin mendekat kearah anak itu dan duduk tepat disampingnya. Mengamati wajah bocah yang terlihat mirip dengan Kim Kai hanya saja teksturnya lebih lembut dan menggemaskan membuat ia ingin sekali mencubit pipi tembam itu.

Tanpa sadar, Sehun menatap antusias pada Jongin seperti anak kecil yang menemukan mainannya. Ia sangat senang melihat replika wajah Kai dalam tubuh bocah disampingnya itu. Tapi beberapa saat mengamati wajah itu, ia menundukkan kepalanya sedih.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul, 1999.

Beberapa polisi dan pihak rumah sakit memenuhi area perpustakaan sekolah dini hari itu. Seorang petugas keamanan yang sedang melaksanakan tugasnya melaporkan temuan mayat seorang siswa meringkuk dipojok ruang perpustakaan. Menurut pengakuannya pada polisi, ia mendengar suara anak perempuan meminta tolong. Dalam keadaan takut dan gemetar, ia mencoba mencari sumber suara itu dan berhasil menemukannya, menemukan sesosok tubuh yang meringkuk dipojok ruang perpustakaan. Tapi anehnya mayat tersebut adalah mayat seorang siswa laki-laki sedangkan penjaga itu yakin bahwa suara yang ia dengar adalah suara milik seorang perempuan.

Berita itu menyebar keseluruh penjuru sekolah pagi harinya. Para siswa langsung berkumpul disekitar perpustakaan sekolah tanpa diminta. Meski sudah tidak dapat melihat apapun disana kecuali garis polisi yang menyegel ruangan tersebut mereka tetap berada disana dan mulai menyebarkan isu-isu yang beredar.

Huang Zitao, murid berandalan yang anehnya akan datang lebih pagi dari siswa berandal lainnya segera menghubungi ketiga saudara genk nya. Dapat dipastikan reaksi mereka sama. Terkejut dan takut. Tapi mungkin berbeda untuk seorang Kim Kai, ia menatap kosong jendela kamarnya dan mulai menggumamkan nama yang sama.

"Oh Sehun"

.

Hasil outopsi telah keluar dan dipegang erat oleh kepala sekolah mereka. Seharusnya kasus ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan. Tapi secarik kertas dalam genggaman Sehun membuat seluruh pihak yang terkait dalam kasus itu menutup mulut mereka rapat.

Dan keputusan itu diumumkan.

Seorang siswa kebanggaan sekolah sekaligus Ketua Kedisiplinan sekolah telah dinyatakan meninggal karena bunuh diri.

Meninggalkan seorang Kim Kai dalam tangis kekosongannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul, 2015.

"Aku menyesal melakukan itu, tapi mau bagaimana lagi, dengan tubuh yang tak lagi bersih mana mungkin aku bisa mendapatkan Kim Kai"

"Dasar ketua bodoh, kau bahkan belum tahu bagaimana perasaannya kan?"

"Aku tahu"

"Kau tahu karena kau bodoh, aku jadi meragukan otak jeniusmu kalau begini caranya"

"Ya, apa maksudmu zico"

"Kau itu sama sekali tidak berpengalaman, makanya kau mati"

"Benar"

"Ah maaf, aku tidak bermaksud-"

"Tidak apa-apa, lanjutkan saja"

Zico memandang bocah yang tertidur lucu disampingnya. Sebenarnya ia tadi mengikuti Sehun yang juga membuntuti anak ini. Jadilah ia ikut terdampar disini. Duduk bersandar pada pagar pembatas dengan bocah manis itu diantara mereka.

"Kau tahu kan kalau dia bukan Kim Kai"

"Ya aku tahu, mana mungkin Kim Kai awet muda seperti ini, tapi kalau Kai sepertinya aku percaya, hahaha"

Zico memandang sedih sahabatnya itu. Ia tidak tahu karena Zico sama sekali tak mempunyai keberanian itu. Ia memilih mengalihkan pandangannya keatas, menatap langit biru dengan gumpalan awan putih yang bergerak lambat.

"Sehun, aku minta maaf"

"Hm? kenapa?"

"Sebenarnya-"

"Hoeyy! Kim Jongin!"

Ucapan Zico terpotong oleh kehadiran teriakan salah satu siswa sekolah ini yang kita ketahui bernama Lee Taemin.

"Wow, mereka mirip!" pekik Zico antusias sambil bertepuk tangan girang sedangkan Sehun hanya melongo.

'Ya ampun, mereka juga mirip' batin Sehun nelangsa.

Taemin melangkah mantap menghampiri mereka bertiga atau lebih tepatnya Jongin. Ia mengguncang keras bahu Jongin agar anak itu segera tersadar.

"Dasar tukang tidur, cepat bangun atau kucium kau!"

Taemin berteriak gemas dan kalimatnya itu tadi adalah seratus persen gertakan tapi Sehun melotot tajam kearah Taemin sebagai ungkapan salah pengertiannya. Zico bergidik ngeri melihatnya dan segera berteleportasi kesamping Sehun. Memegang bahu ketua kedisiplinan itu agar tetap menjadi hantu yang baik.

"Tenang ketua, dia hanya menggertak"

Deg

"Astaga, aku hampir kelepasan, maafkan aku"

"Hahha, kau hantu aneh"

"Semasa hidupku aku ini orang baik, jadi hantupun juga harus baik"

"Kalimatmu itu sungguh menusuk hidungku"

"Oeyy Jongiiin! Ya ampun! Harus pakai cara apa agar kau bangun!? Arrght" Entah kenapa Taemin menjadi out of character seperti ini. Tapi yang jelas ia sangat kesal dan jengkel tanpa bisa diganggu gugat.

"Oey oey ketua, kau mau apa?" Zico mewanti-wanti gerakan Sehun yang mulai menempel pada Jongin.

"Aku akan membangunkannya, kasihan temannya"

Zico memutar bola matanya malas dan memilih mengganggu Taemin.

'Mumpung ketua sedang sibuk' begitu pikirnya.

Zico meniup niup telinga Taemin pelan benar-benar khas sesosok hantu. Tapi sialnya Taemin yang sedang kesal hanya mengibas-kibaskan tangannya ke telinga tanpa ada negatif thinking. Ingat, Kesalnya Taemin tidak dapat diganggu gugat.

"Dasar tidak peka" rajuk Zico manyun.

Sedangkan Sehun menyiapkan dirinya untuk membangunkan Jongin.

"Jongin, ayo bangun"

"Eunghhh"

"Akh, akhirnya!" Pekik Taemin girang.

"Jongin, buka matamu"

"Euh, sebentar"

"Apa kau bilang!?" Taemin kembali mengamuk.

Cup

"Aarrghtt mataku!" Zico lari terbirit-birit sambil menutup matanya.

"Hei, apa maksudnya itu, kau bilang kau sudah berpengalaman!" Teriak Sehun jengkel.

"Aku kan bohong ketua, huwaaa!"

"Zico, sialan"

Jongin mengerjapkan matanya yang sangat sayu. Dan menemukan sosok itu didepannya. Pandangannya mengabur jadi dia tidak terlalu jelas melihat. Dan Jongin segera mendudukkan dirinya cepat mengucek kasar matanya. Dia mendapati Taemin duduk diam menatapnya datar disampingnya, bukan didepannya.

Sehun yang merasakan pergerakan Jongin segera menghadapkan tubuhnya pada bocah itu. Jujur saja, kalau dia adalah seorang manusia sudah dipastikan pipinya akan memerah karena telah mencium anak orang sembarangan dengan bonus menodai mata Zico si berandal gadungan, pembohong sialan.

"Taemin, dengan siapa kau kesini?" Jongin bertanya penasaran.

"Kau tidak lihat aku sendiri disini?" Jawabnya kesal

Jongin tak merespon ucapan Taemin, ia lebih memilih meraba bibirnya yang terasa dingin dan lembut. Sehun yang melihatnya segera menyusul Zico. Kalaupun malu itu ada, Sehun lebih dari itu.

"Kau kenapa?"

"Tidak, aku bermimpi seseorang menciumku"

"Bagus sekali"

"Kenapa?"

"Kau tahu"

"Tidak"

"Kkamjong!"

"Hm"

"Dengat ya, aku disuruh mencarimu yang tak kunjung kembali dari toilet. Kupikir kau tertidur didalamnya lalu ternyata kau tidak ada disana kemudian aku berlari-lari mencarimu dan akhirnya menemukanmu disini. Tidur dengan damainya sampai bermimpi dicium segala, bagus!" Cerocos Taemin panjang lebar sedangkan Jongin hanya mengorek lubang telinganya dengan jari kelingking.

"Ayo turun" ucap Jongin santai dan meninggalkan Taemin.

Taemin megap-megap sambil menunjuk Jongin merasa sangat kesal.

"Ya, dasar bocah kurang ajar, kuadukan kau pada Suho hyung!"

Jongin cuek saja diancam seperti itu, palingan kalau dihukum mereka sendiri yang akan kalah dengan aegyonya.

'Kapan ya aku dicium sungguhan, hihi' batin Jongin mesum. Tidak tahu saja dia bahwa ciuman tadi adalah nyata.

Sedangkan ditempat lain Sehun kembali kejar-kejaran dengan Zico.

"MAMA! Sehun mencium manusia!"

"Zicooo!"

"Huwaaa!"

.

.

.

.

.

.

Seoul, 1999.

Duk

"Aww!"

Sehun mengerang tertahan. Kepalanya baru saja membentur sebuah kaki. Tidak tidak, ia tidak terbentur tapi dibenturkan.

"Siapa kau?"

"Aku penghuni sekolah ini, aku mati di tahun 1997. Namaku Zico"

"M-mati?"

"Hm, kenapa? Apa kau ketakutan?"

Sehun menggeleng cepat mencoba meyakinkan diri.

"Ini Siyeon, aku akan mengatakan dia angkatan 97 sama sepertiku, dia yang membantu tubuhmu untuk ditemukan"

"Tu-tubuh?"

Zico menunjuk tempat dibelakang punggung Sehun. Seketika Sehun terdorong kebelakang begitu mendapati tubuhnya meringkuk dipojok sana. Matanya membelalak lebar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Disana, ia bisa melihat tubuhnya sendiri berlumuran darah dipergelangan tangannya.

"Aku ingat, aku telah bunuh diri?"

"Tidak apa-apa, aku sudah sering melihatnya. Setidaknya setiap tahun ada"

Memang benar semenjak dibangunnya sekolah ini pada tahun 1884, sekolah ini merupakan sekolah dengan angka pembullyan terbesar kelima di Korea Selatan. Tidak dapat dipungkiri lagi jika mereka lebih memilih bunuh diri disekolah untuk mengakhiri pembullyan. Bahkan ada yang sengaja dibunuh karena hal sepele.

"Kau mau menunggu disini atau diluar?"

"..."

"Kepolisian akan datang sebentar lagi"

"Bukankah kita tidak terlihat?"

"Aku hanya tidak ingin kau memelototi tubuhmu"

"Aku akan kekelas"

Sehun berjalan lemah menuju kelasnya. Sepanjang koridor dia hanya menundukkan kepalanya. Ketika ia sampai pada kelasnya ia dikejutkan oleh beberapa sosok berseragam sama sepertinya duduk santai diatas meja.

"Wah, anggota baru"

"Kapan kau mati?" Jujur itu menyakitkan.

"Hei, dia pasti baru saja bangun, jaga perasaannya, ia masih terikat dengan dunia manusia"

"Eh tunggu, aku tahu kau, kau ketua kedisiplinan tahun ini kan? Wah padahal kau orang baik, sayang sekali kalau mati"

"Hyungshik!"

"Iya-iya maaf"

"Hei, aku Kwon Jiyoung angkatan tahun 95, salam kenal"

"Aku Lee Chaerin, 96"

"Dan aku Hyungshik, 98"

"Hei, margamu" sela Chaerin.

"Aku tidak ingat"

"Ya!"

"Ya, namaku Oh Sehun, 99 , salam kenal"

"Kau pasti sangat sedih" Chaerin berjalan mendekati Sehun, menarik tangan pemuda tersebut dan mengajaknya bergabung dengan yang lain.

"Ngomong-ngomong siapa yang membangunkanmu?" Tanya Chaerin sembari mencoba mendudukkan dirinya diatas meja.

"Eh? Kurasa seseorang bernama Zico" jawab Sehun seraya memperhatikan Chaerin yang sibuk mencari kenyamanan.

"Ouhh Zico, anak itu memang bertugas mengurusi hal seperti ini. Apa ada lagi?" Sahut Jiyoung. Sehun sempat kaget sebenarnya karena Jiyoung mengeluarkan rokok dan menyalakannya. Hampir saja ia menegurnya, tapi mengingat mereka sekarang ini apa, ia membatalkan niatnya.

"Kau tahu?"

"Kurasa Siyeon" Hyungshik menyambung.

"Benar" gumam Sehun tersenyum tak percaya. Ia yakin pasti mereka berdua itu yang selalu melakukan hal sama yang mereka lakukan tadi padanya.

"Berarti sebentar lagi sekolah ini akan ramai" Hyungshik tersenyum jahil dan bergerak menarikan tarian ubur-ubur membuat yang lainnya tertawa.

Keempatnya kini tengah bersantai diruang kelas itu sembari menunggu keramaian datang. Tapi sepertinya tidak untuk Sehun. Entah kenapa ia merasakan kesedihan yang sangat. Jadi ia hanya diam memperhatikan Jiyoung dan Chaerin yang tertawa entah menceritakan apa dan Hyungshik yang menggambar coretan absurd dipapan tulis.

"Kim Kai?"

.

.

.

.

"Kai, buka pintunya sayang, kau harus makan. Ayah, bagaimana ini? Ia sama sekali tidak keluar kamar sejak tadi pagi" seorang wanita paruh baya dengan perutnya yang membuncit besar terlihat gelisah didepan pintu anaknya.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Coba kau hubungi teman-temannya. Tinggalkan dulu anak itu"

"Tapi-"

"Ayo"

Kedua orangtua itu pergi meninggalkan kamar yang tak kunjung terbuka. Kai sengaja menguncinya dari dalam agar siapapun tak dapat mengetahui keadaannya sekarang.

Gambarannya adalah Kai yang duduk di bingkai jendela sembari menatap langit yang sedikit gelap karena bintang yang tak muncul seperti biasanya. Pipinya terlihat agak pucat bahkan terdapat bekas aliran air disana. Dan matanya, bengkak hampir tidak bisa membuka. Tatapannya kosong sesekali memanggil nama seseorang yang kini-

"Kenapa!? Aku belum mengatakannya padamu, kenapa kau mati!? Kenapa!? Kenapa!? Arghhhtt!" Kai merosot kebawah sembari menjambaki rambutnya yang sudah sangat berantakan. Bunyi derap langkah keras menggema di tangga menuju lantai dua kamarnya. Dan setelah itu terdengar ketukan brutal dipintunya serta teriakan kekhawatiran untuknya.

Kai hanya diam masih dengan tangisan kerasnya yang membuat beberapa orang diluar sana semakin khawatir. Ia tahu, itu orangtua dan teman-temannya. Tidak, ia tidak mau menemui mereka semua terutama temannya. Ia membenci mereka, dan ia lebih membenci dirinya sendiri.

"Hu~uuuu, arghht! Sehun!"

"Kai! Buka pintunya!"

"Kembalikan Sehunku!"

"Kai, tolong, buka dulu pintunya"

"Kembalikan dia! Kalian semua jahat!"

"Kai, maafkan kami"

"Huwaaaa~aaa~! Sehuuun sehuun!"

Semua orang yang ada didepan pintu kamar tersebut menundukkan kepala mereka merasa bersalah. Kedua orangtua Kai membiarkan anak-anak muda itu sendiri yang menyelesaikannya. Tao, Chanyeol dan Kris memerosotkan tubuh mereka didepan pintu kamar Kai. Kris mengerang frustasi sedangkan Tao dan Chanyeol memegangi kepala mereka yang seakan ingin meledak. Mereka takut. Mereka tidak ingin dipenjara.

Dan akhirnya ketiganya meminta maaf sekali lagi sebelum meninggalkan rumah Kai. Kai yang berada didalam kamar menatap tajam pintu kamarnya. Ia melemparkan apa saja yang dapat ia jangkau pada pintu kamarnya. Menimbulkan kegaduhan hingga Ayahnya memutuskan untuk mendobrak pintu itu dan alangkah terkejutnya beliau menemukan anaknya yang meringkuk disamping ranjang sembari menggumam tidak jelas.

"Kai, ada apa denganmu nak?"

"Ayah, kembalikan Sehun"

"Ayah-"

"Kai, maafkan Ibu, Ibu sayang Kai, jangan seperti ini"

"Sehuuun"

"Kai?"

"Sehun"

"Ayah, bagaimana ini?"

"Sehun"

Ayahnya menggelengkan kepala membuat satu-satunya wanita disana menenggelamkan wajahnya pada dada sang suami guna meredam isakannya. Melihat anaknya seperti itu orangtua manapun tak akan pernah tega kan. Jadi mereka mencoba menuntun Kai keatas ranjang walau sedikit sulit dan membaringkan anak itu disana.

"Sehun"

"Ayah akan mencarikan Sehun untukmu"

"Sehun"

"Tunggu Ayah"

"Sehunnn"

Dan keduanya kembali meninggalkan kamar Kai tanpa menutup pintunya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul,2015.

Jongin berjalan santai menyusuri koridor kelas yang terlihat lengang karena seluruh siswa saat ini tengah mengikuti pelajaran didalam kelas. Dirinya baru saja keluar dari toilet karena masalah perut yang tak dapat ia tahan. Dan sekarang dengan santainya ia berjalan dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku sambil bersiul riang.

Didepan sana ia dapat melihat salah satu teman sekelasnya merangkap ketua kelas lari terbirit-birit menuju kearahnya.

"Hei, ada apa?"

"Ah, Jongin, syukurlah, ayo bantu aku"

Jongin yang tak tahu apa-apa pasrah saja ditarik-tarik seperti itu. Dan ia sadar akan dibawa kemana dirinya sekarang.

"Hei, sebenarnya ada apa?"

"Jung saem yang mengajar sastra menyemburku karena tidak membawa bahan materi dari perpustakaan untuk anak-anak"

"Ha? Memangnya dia sudah mengatakan sebelumnya untuk mengambil bahan terlebih dahulu?"

"Sebenarnya tidak"

"Lalu kenapa dia marah?"

"Aku juga tak mengerti. Tapi setidaknya bisa jadi pelajaran untuk kita diwaktu berikutnya"

"Hm, apa yang harus kita ambil?"

"Cari buku sastra bahasa jilid 10A, eh, berapa banyak murid kelas kita?"

"Kurasa ada 24"

"Baiklah ambil 24 paket"

"Hmm"

Jongin berkeliling dibagian sastra rak pertama untuk mencari buku tersebut. Sedangkan temannya mencari dirak kedua. Entah kenapa saat memasuki ruang perpustakaan lebih dalam ia merasakan hawa dingin yang tidak enak. Jongin menyadarinya hanya saja ia tak mau ambil pusing. Saat ia berjalan mengitari rak untuk bergabung dengan temannya sekilas ia melihat seseorang yang duduk disalah satu kursi ruangan ini. Tapi nyatanya saat ia memastikannya, tak ada siapapun disana.

Jongin menggelengkan kepalanya dan segera bergabung dengan temannya yang telah menemukan apa yang sedari tadi ia cari. Temannya yang melihat sedikit perubahan pada Jongin hanya menatapnya heran lalu memberikan setengah berat beban yang dibawanya ketangan Jongin.

Mereka berdua segera meninggalkan perpustakaan setelah menyelesaikan urusan peminjaman pada petugas perpustakaan.

"Kau kenapa Jongin?"

"Tidak, eh tapi menurutmu siapa saja yang ada didalam perpustakaan tadi?"

"Eh? Tentu saja aku dan kau"

"Hanya berdua?"

"Hmm kenapa?"

"Tidak, kurasa aku melihat seorang siswa lain tadi disana"

Deg

Jongin hampir saja menjatuhkan bukunya karena temannya berhenti mendadak membuatnya hampir menabrak. Jongin tidak tahu apa yang dilakukan anak itu, tapi dilihat dari belakang, bahu anak itu tampak tegang seperti menyadari sesuatu.

"Hei, ada apa lagi sekarang"

"Jongin,"

"Apa?"

"Kau yakin melihatnya?"

"Tidak yakin, soalnya aku hanya melihatnya sekilas tapi setelah kupastikan lagi sepertinya mataku yang bermasalah"

"Ehmmm, Jongin, dimana kau melihatnya?" Tanyanya takut-takut.

"Melihat apa?"

"Yang kau bicarakan tadi"

"Tentu saja diperpustakaan"

"Aish maksudku lebih detailnya"

"Dibangku paling pojok sepertinya, entahlah"

Jongin mengendikkan bahunya. Beberapa kali buku yang ia bawa hampir merosot. Dan menunggu temannya yang hanya terbengong didepannya membuat Jongin manyun.

"Kapan kita kembali kekelas?"

"Ah iya, ayo"

Keduanya kembali berjalan kali ini beriringan. Meninggalkan Sehun juga Hyungshik yang melongokkan kepalanya dari pintu perpustakaan.

"Apa tadi dia melihatku?" Tanya Sehun terkejut.

"Kau tidak berusaha menunjukkan dirimu kan?"

"Tentu saja tidak, aku tadi hanya menulis disana"

"Mungkin dia memang terlalu sensitif" gumam Hyungshik sumringah dan langsung diam ketika mendapatkan tatapan malas dari Sehun.

"Baiklah, aku akan pergi"

"Awas kau"

"Hehe tidak janji, Zico, ayo kita main!"

"Hyungshik, Zicoo!"

Jongin memutar kepalanya kebelakang dengan tetap berjalan menuju kelasnya. Entahlah, Jongin merasa baru saja ada yang berteriak dan bulu kuduknya mulai merinding.

"Tidak, tidak ada yang seperti itu, tidak ada!"

"Kau kenapa?"

"Tidak, ayo cepat sebelum Jung saem mengamuk"

Jongin ganti menyeret temannya itu agar berjalan lebih cepat. Ia berkomat-kamit dalam hati. Meyakinkan dirinya bahwa hal-hal seperti itu tidak ada. Dia hanya kelelahan dan akhirnya berhalusinasi.

'Ini pasti gara-gara aku tertidur diatap waktu itu' pikirnya asal. Ketahuilah Jongin bahwa itu karena kau berbelok dibelokan yang salah waktu itu, ck ck.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul, 1999.

Chanyeol, Tao dan Kris berjalan beriringan disekolah. Mereka datang tanpa ada Kai diantara mereka. Sudah tiga hari semenjak kematian Sehun, Kai menjadi pendiam, sangat. Ia bahkan tidak mau berbicara sama sekali dan hanya berbaring diatas kasur. Makanpun harus menunggu Ayahnya pulang karena yang terekam pada memori otaknya hanyalah sang Ayah yang berjanji akan mencari Sehun untuknya. Dan dengan bujukan Sehun yang sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah baru ia mau makan.

Ayahnya pun hanya menatap sedih anaknya. Selama ini ia telah salah dalam mendidik anak. Ia membiarkan anaknya berbuat hal sedemikian itu pada teman-temannya disekolah walau dalam kasus terakhir yang menyebabkan kematian pada seseorang tidak sepenuhnya salah anaknya.

Jujur ia tidak tahu saat berjanji pada anaknya untuk menemukan seseorang yang ia tidak tahu bahwa keadaannya saat itu telah tak bernyawa. Ia nekat mendatangi rumah Sehun dan hanya mendapati beberapa orang berpakaian serba hitam serta kerangka bunga sebagai ucapan bela sungkawa.

Ia kembali pulang dengan keadaan shock tak percaya hingga ia memutuskan mendatangi sekolah dan langsung dihadapkan pada kepala sekolah. Ia hampir saja menghancurkan ruangan kepala sekolah waktu itu ketika mendengar cerita tak masuk akal dari mulutnya. Ia marah, sangat. Tapi sebuah kertas yang menunjukkan hasil otopsi dan juga beberapa saksi yang mengatakan Sehun terakhir kali terlihat bersama genk anaknya, ia sudah tidak bisa berkutik.

Ia kembali pulang dengan keadaan lelah seluruhnya. Ia bersyukur, anak bernama Sehun itu sangat baik. Sehun bahkan sama sekali tak ingin melibatkan orang-orang yang jelas-jelas telah terlibat.

Tuan Kim menghela nafas lelah. Ia baru saja pulang dari kantornya dan mendapati istrinya berdiri diambang pintu utama adalah sebuah obat tersendiri baginya. Tuan Kim berjalan mendekati istrinya. Mengusap perut itu lembut kemudian mencium sayang kening istrinya.

"Apa Kai sudah makan?" Tanyanya ragu. Ia yakin jawaban istrinya itu akan selalu sama seperti sebelumnya.

Seoul, 2015.

Sehun duduk santai dipagar pembatas rooftop. Kali ini ia hanya sendirian. Ia memandang langit yang terbentang luas dan terlihat sangat indah. Beberapa kali ia dapat melihat burung-burung yang melintas disana. Bahkan ada seekor yang mencoba menggodanya dengan terbang mengitari tubuhnya kemudian kembali pada kelompoknya membuat Sehun tersenyum lebar.

Suara tawa, teriakan dan obrolan para siswa disana menambah kesan tersendiri baginya. Ingin sekali melakukan hal-hal seperti itu dengan teman-temannya.

Ia kembali mendongakkan kepalanya menatap langit dengan mata teduhnya.

"Apa kabar Kai?"

Menyebut nama Kai, ia jadi teringat belasan tahun lalu saat beberapa hari setelah kematiannya. Ia selalu menunggu sosok Kai datang. Tapi yang ia lihat hanya Tao, Chanyeol dan Kris. Ia putus asa setelah beberapa minggu Kai juga tak menampakkan batang hidungnya disekolah ini. Ia juga sempat berpikir bahwa jauh didalam jurang hati Kai, ia sangat amat dibenci oleh pemuda manis itu.

Sehun menghela nafas lelah, mengurusi hantu-hantu disini ternyata lebih sulit dibandingkan mengurusi teman manusianya dulu, pikirnya mengalihkan topik. Apalagi jika buronnannya adalah Zico atau Hyungshik, Sehun rasanya ingin gigit jari karena gemas dengan tingkah menjengkelkan mereka.

"Jongin! Kembalikan buku ku!"

"Ini ambil saja! Aku tidak akan melarangmu kok"

"Ya, bagaimana aku mau mengambilnya kalau kau terus lari!?"

"Kalau begitu larilah!"

"Ya! Jongiiiiiinn!"

"Hahahha!"

Sehun tersenyum mendapati manusia favoritnya tengah berlarian disepanjang koridor sesekali memasuki ruangan yang bukan kelasnya membuat penghuninya mengamuk dan ikut mengejar Jongin.

Dan Sehun tertawa saat anak itu tertangkap dan mendapatkan cubitan disana sini oleh beberapa orang. Dan semakin tertarik saat Jongin memanyunkan bibirnya melas karena mendapat cubitan-cubitan yang lumayan menyakitkan ditubuhnya. Sehun tidak sadar menimbulkan kilat merah dimatanya membuat hawa dingin disekitarnya. Para hantu dimana pun mereka berada pun dapat merasakan hawa dingin yang ditimbulkan Sehun membuat mereka semua membeku tak terkacuali Zico si biang onar.

Mereka takut dan khawatir jika Oh Sehun akan terjerumus dalam naluri Iblisnya. Itu tidak boleh terjadi. Selama ini MAMA sendiri yang mengawasi tindakan mereka dan baru melimpahkannya pada orang yang sangat tepat, Oh Sehun. Itu semua dikarenakan pengendalian naluri keiblisan Sehun yang sangat hebat hingga ia tidak berbeda jauh dari dirinya sebelum mati. Oh Sehun adalah hantu kepercayaan MAMA yang diistimewakan mengawasi, menjaga dan menghukum saudaranya. Ia ditempatkan dengan posisi sama ketika ia masih hidup.

Dan dengan aura yang tak sengaja Sehun keluarkan ini, membuat para hantu tegang dan ketakutan bahkan MAMA pun langsung memanggil Zico untuk mengawasi Sehun.

Zico dengan cepat berteleportasi menuju tempat Sehun. Ketika ia sampai disana, ia dapat melihat aura kehitaman menguar dari tubuh Sehun membuatnya secara tak sadar memundurkan langkahnya.

"Ketua! Auramu!" Zico berteriak memperingati dengan langkah yang tetap sama, mundur.

Sehun menoleh lambat kearah Zico yang ketakutan dibelakang sana. Ia menyeringai mengerikan membuat Zico jatuh terduduk. Warna merah itu hampir memenuhi mata Sehun. Dengan cepat dan gemetar, Zico menarik Sehun dan melemparnya jauh disudut rooftop.

Nafasnya terengah-engah jika ia punya nafas. Tangannya berasap seperti terbakar saat menyentuh Sehun. Dan itu bahkan hanya pakaian yang dikenakan Sehun bukan tubuhnya.

Zico bergerak mendekati Sehun yang terlentang disudut rooftop dengan nafas memburu jika dia seorang manusia. Dan ia langsung terduduk lega melihat Sehun yang menatapnya bingung dengan mata hitamnya.

"Kenapa kau melemparku, Zico!?"

"Ketua brengsek! Kau hampir membahayakan kami semua, bodoh!"

"Apa?"

"Apa yang kau pikirkan tadi, ha!?"

"A-aku, tidak-"

"Jangan pernah berpikiran untuk memiliki manusia! Kau itu hantu, apa kau lupa!? Kau ketua kami, kau yang dipilih MAMA karena keistimewaanmu, jangan sampai seperti ini lagi, kumohon"

Zico menundukkan kepalanya menghindari tatapan terkejut dan tak mengerti dari Sehun.

"Kau hampir saja membuka naluri iblismu bodoh!"

Sehun membelalakkan matanya mendengar penjelasan Zico. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Zico padanya hingga kumpulan aura hitam bersatu didepan mereka berdua. Zico langsung menunduk memberi hormat pada sosok hitam itu sedangkan Sehun masih menatap Sehun tak percaya.

"Oh Sehun"

Sehun terkejut saat sebuah suara familiar memanggilnya. Ia langsung menunduk hormat dihadapan sosok tersebut.

"Apa yang kau lakukan?"

"A-aku"

"Jika kau mengulanginya lagi, aku akan menghukummu, ingat itu"

"Iya, MAMA"

Sosok itu kembali lenyap dari hadapan keduanya membuat Zico bernafas lega. Sedangkan Sehun, dia berdiri dalam diam dan melangkah mendekati pagar rooftop. Ia memandang datar langit diatasnya kemudian menghilang meninggalkan Zico.


TBC


Big Thank's To:

Novisaputri09 - sayakanoicinoe - vitamins2711 - - Kamong Jjong - miszshanty05 - dhantieee - Akasuna no Akemi - geash - BabyWolf Jonginnie'Kim - Maple Fujoshi2309 - Keepbeef Chiken Chubu - steffifebri - KimKaihun8894 - LuHanBin-EXOiKON Jinwoo LOVER - funkychen2199 - kukuruyuuk - dejong13 - maya han - - asmayae - thedolphinduck - Jungkrystal432 - kim bii - Mizukami Sakura-chan - Wiwitdyas1 - tak dikenal - - soojung-ie - - Medusa Kim Siska - dailyxing - sukmawindia - cute - vihan - Guest - redfly - bapexo - Soororo - aliyya - baekyeolsekai - herlin - Angelnya Kai - Jongin48 - kaishixun


Yuhuuuu! That is chap 2.

wahhh kemaren banyak banget typonya, yang harusnya teleportasi jadi transportasi, ckckck #sembunyidikolong

Ada yang masih ngeh sama ceritanya?

Ada yang nggak ngeh? Haha

Sama saya juga. #buagh

Tapi saya seneng banget sama respon para readers, terimakasih banyak.

Apalagi banyak yang tahu tentang naruto, hahaha, give me five! #wusss

Buat yang bingung,

Gini,

Gimana ya,

Jadi kan nanti ada flasbacknya tapi langsung saya tandai sama tahunnya. Alurnya pun juga maju mundur tapi tetep cantik kok tenang aja. Buat yang masih bingung, maaf saya juga. Dan bila ada yang kurang menarik atau nggak seru di chap ini, bunuh aja Sehun sekali lagi biar nggak ngejar-ngejar kakak saya.

Hahahhaha!

Oh iya edo tenseinya lupa, kebetulan kemarin Yamato, Sai sama Anko gak bisa nemuin Kabuto, apalagi saya yang cuma nangkring depan tv, hahaha!

Dan saya gembira karena Sehun gak bakal bisa idup lagi , nyahahahhaha!

#authorkesurupansehun

Ok, bye.

Thank you so much, muacchh muacchh.

Bye.