Hai, Hanako! Thank you yah udah nyempetin review. Moga chap ini bisa menjawab semua pertanyaan Hanako :)
Ola... Lily Angelica! Maaf yah updatenya lama. Sampaikan salam juga untuk teman2 Lily, thank you udah mau nyempetin baca fict saya yang jauh dari kata sempurna ini.
Kiss and hug untuk semua silent readers dan semua reviewers #Muach
Selamat membaca!
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : gender switch, OOC, typo (s)
Broken Wings
Chapter 9 : Pretending
By : Fuyutsuki Hikari
Naruto memilih untuk berjalan-jalan di tepi pantai saat ini. Pantai bagian barat hanya ada sedikit pasir di pantainya dan langsung di sambut oleh rimbunnya pepohonan. Ia duduk di sebuah ayunan yang tergantung di sebuah pohon besar yang terdapat di bibir pantai. Pasirnya begitu putih dan halus laksana bedak. Naruto menyukai perasaan damai ini, air laut yang berwarna biru jernih begitu kontras dengan warna hijau dari pepohonan. Dia lalu memejamkan mata saat angin meniup lembut wajahnya, dan mulai mengayunkan tubuhnya di atas ayunan. Kaki telanjangnya sesekali menyentuh air laut yang begitu menyegarkan.
Bagian barat pantai dibatasi oleh bukit, membentuk sebuah kolam renang pribadi dengan air yang begitu tenang. Beberapa karang berdiri begitu kokoh di sana, air yang begitu jernih dan kedalaman air yang tidak terlalu dalam memungkinkan kita untuk dapat menikmati keindahan kehidupan laut di dalamnya.
Bagian timur pantai, menghampar pasir putih yang begitu lembut dan bersih. Air lautnya berwarna toska nan jernih, ombak kecil menggulung sebelum akhirnya hilang dan menjadi buih di bibir pantai. Tapi untuk Naruto, dia lebih menyukai sisi barat pantai ini, lebih terasa damai untuknya. Ia terus berayun, tidak ada satu orang pun yang mengikutinya keluar Vila. Saat ini dia butuh sendiri, lebih tepatnya dia butuh menenangkan diri.
Pertemuannya kembali dengan Sakura dan Karin benar-benar seperti mimpi buruk yang kembali datang. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana dia mampu menahan diri untuk tidak berteriak di depan wajah Sakura untuk mengembalikan semua kata-kata yang pernah dilontarkan wanita itu padanya. Naruto juga ingin sekali tertawa begitu keras saat melihat Karin yang jatuh tak sadarkan diri. Bayangan Karin saat memberikan kesaksian palsu di persidangan kembali tergambar jelas di ingatannya.
Dan pria berambut merah itu. Pria berambut merah itu dengan lancang memanggil nama yang sudah dia kubur dalam-dalam, pria yang bermarga Sabaku. Marga yang begitu Naruto benci, marga yang sudah merengut kebahagiaan juga merengut orang yang dicintainya. Naruto ingin berteriak pada pria itu saat dengan keras Gaara mengguncang bahunya dan meneriakkan nama Naruto tepat di wajahnya, ingin sekali dia mengatakan jika dia memang Naruto. Dia ingin tahu bagaimana reaksinya, dia juga ingin bertanya kenapa keluarga pria itu begitu kejam. Ingin bertanya apa sebenarnya kesalahan dirinya.
Naruto tidak yakin berapa lama dia bisa menahan diri, berpura-pura memasang wajah tidak mengerti. Berpura-pura tersinggung dengan sikap Gaara yang tidak sopan, dan menjadikannya alasan untuk keluar vila untuk menenangkan diri. Naruto bahkan menolak Hinata dan Sasuke saat mereka menawarkan diri untuk menemaninya keluar. Ayunan itu terus berderit saat Naruto mengayunkannya sedikit agak kencang, dan sebulir air mata akhirnya lolos dari pelupuk matanya yang terpejam.
Nuansa damai Naruto berbanding terbalik dengan keadaan di dalam vila. Selepas kepergian Naruto, suasana di dalam vila terasa begitu mencekik. "Dia Naruto!" teriak Gaara. "Aku harus menyusulnya," tambahnya seraya berusaha untuk melepaskan diri dari kurungan Shikamaru yang sedari tadi menahan dirinya agar tidak pergi keluar untuk menyusul Naruto.
"Dan apa yang akan kau lakukan Gaara?" tanya Sasuke dingin, dari awal dia terus menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan terhadap Gaara yang saat ini lepas kendali. Sasuke tahu, jika Gaara terus menyalahkan diri atas apa yang dilakukan keluarga Sabaku pada Naruto. Namun Sasuke juga tahu, memaksa Naruko bukanlah jalan keluar yang terbaik. Sasuke takut jika karena hal ini Naruko akan berbalik dan menjauh.
Gaara melepaskan diri dari kurungan Shikamaru, lalu mengacak rambutnya frustasi dan mendudukkan dirinya di samping Neji. "Aku akan memaksanya untuk mengaku. Aku sangat yakin jika dia Naruto," jawab Gaara setengah berbisik.
"Dia bukan Naruto. Dia Naruko, teman lamaku, kau salah mengenali orang, Gaara." Sahut Hinata, sementara Gaara menggelengkan kepala mendengar penuturan Hinata. Dia masih bersikeras jika wanita yang dilihatnya adalah Naruto.
"Berhenti menyalahkan diri Gaara!" kata Neji seraya menepuk-nepuk bahu Gaara. "Semua yang terjadi pada Naruto bukan kesalahanmu," tambahnya bijak.
"Tapi keluargaku yang menyebabkan semua kemalangan dalam hidupnya. Kalian semua tahu itu." Teriak Gaara histeris, suaranya menyiratkan penyesalan yang begitu dalam. Matanya menyorot sedih saat dia menatap satu demi satu temannya yang berada di ruangan itu. "Aku selalu berharap dia masih hidup, aku ingin menyeret ayah dan bajingan itu ke hadapannya. Aku ingin mereka bersimpuh dan meminta maaf padanya. Mungkin itu tidak cukup, aku tahu itu. Perasaan ini terus menggerogotiku, kalian pasti mengerti."
"Kami tahu Gaara," tukas Shikamaru lirih. "Tapi dengan bersikap histeris seperti ini, tidak akan menyelesaikan masalah. Naruko malah tersinggung dengan sikapmu, jangan sampai liburan kita rusak karena hal ini!" katanya mengingatkan. "Dan Karin. Kumohon, berhenti menangis!" Shikamaru melirik ke arah Karin yang masih terisak-isak, Ino berada di samping Karin berusaha untuk menenangkannya.
"Dia sangat mirip dengan Naru," kata Karin di antara isakannya. "Melihatnya membuatku teringat akan dosa yang kulakukan pada Naru." Katanya agak keras.
"Kendalikan diri kalian," pinta Neji tenang. "Dia bukan Naruto, jadi aku minta kalian perlakukan dia seperti biasa. Jangan sampai hal ini terjadi lagi!" Neji melirik ke arah Sakura yang masih terdiam, tak mengucapkan sepatah kata pun. "Hal ini juga berlaku untukmu Sakura!"
Sakura menengadahkan wajah dan menatap Neji. "Ya. Aku mengerti Neji. Aku juga tidak ingin kejadian dulu terulang kembali." Katanya penuh rasa bersalah.
"Bagus jika kau sadar!" sahut Sasuke tajam dan dingin. Sakura kembali menundukkan kepalanya, saat ini dia merasa terintimidasi dengan tatapan intens Sasuke yang di arahkan kepadanya. "Aku mengerti, Sasuke." Jawab Sakura setengah berbisik.
"Sudah kita hentikan semua ini, lebih baik kita istirahat! Makan siang akan siap pukul satu siang." Tukas Shikamaru tenang. "Kamar pria ada di sayap selatan di lantai dua, sedangkan wanita di sayap utara. Kalian bebas memilih kamar," Shikamaru menguap, dia merasa jika kejadian hari ini terlalu menguras emosi, dia hanya ingin beristirahat dan tidur dengan nyaman di kamar.
Mereka berpisah di sebuah lorong untuk memilih kamarnya masing-masing. Sasuke yang membawakan koper Naruto memilih kamar untuk gadis itu terlebih dahulu sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamarnya sendiri. Selepas menyimpan koper di dalam kamar, Sasuke memutuskan untuk pergi menyusul Naruto keluar. Sudah hampir satu jam wanita itu pergi keluar, bagaimanapun Naruto baru satu kali datang ke tempat ini, dan Sasuke takut jika wanita itu tersesat.
Sasuke berjalan sedikit tergesa, pandangannya terus mencari sosok Naruto, hingga akhirnya matanya menangkap sosok itu duduk berayun disebuah ayunan yang terpasang di sebuah pohon besar. Senyuman terukir pada bibir Sasuke saat dia melihat Naruto terus berayun, angin menerbangkan helai pirang rambut sebahu gadis itu.
Perlahan Sasuke berjalan menghampiri Naruto, menghentikan gerakan ayunan itu, dan duduk di samping Naruto tanpa mengatakan apapun. "Jangan pergi!" pinta Sasuke lembut saat Naruto berdiri dari ayunannya. Dengan halus dia menarik Naruto untuk kembali duduk di sampingnya. "Temani aku disini!" katanya lirih namun Naruto hanya diam. "Maaf jika kejadian di dalam membuatmu tidak nyaman." Lanjut Sasuke lagi.
"Aku memang merasa tidak nyaman," kata Naruto jujur. "Sabaku Gaara, kenapa dia histeris saat melihatku? Dan Naruto, siapa Naruto?"
Sasuke mengayunkan ayunan itu dengan perlahan, dia menarik napas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Naruto. "Naruto, dia gadis yang sangat malang. Dia menderita hingga akhir hidupnya, karena keluarga Gaara."
"Maksudmu?" tanya Naruto lagi, pura-pura bingung.
"Aku tidak bisa menceritakan lebih detail, yang pasti, selama ini Gaara terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia keluar dari kehidupan nyamannya dan hidup dengan menanggung rasa bersalah." Jelas Sasuke. "Padahal semua itu bukan kesalahannya, bukan keinginannya untuk lahir di keluarga Sabaku. Bukan begitu?"
Naruto mengangguk kecil, hati kecil Naruto sedikit tersentuh mendengar penuturan Sasuke. Memang benar, rasanya tidak adil jika dia membenci Gaara hanya karena dia menyandang marga Sabaku. "Lalu siapa wanita berambut pink dan merah itu? Mereka juga aneh."
Sasuke melemparkan pandangannya pada hamparan air laut di depannya, menghirup udara dalam dan menjawab dengan tenang. "Mereka juga melakukan kesalahan yang sama pada Naruto, terlebih Karin."
"Apa mereka menyesal?" tanya Naruto penuh selidik.
Sasuke mengangkat kedua bahunya, "mungkin," jawabnya pendek.
"Maksudmu?"
"Kita tidak bisa menyelami isi hati seseorang, Ruko. Aku tidak tahu apa mereka benar-benar menyesal atau tidak."
"Begitu," sahut Naruto lirih. Sudahlah, aku tidak boleh kembali terlarut dalam masa lalu, aku harus menatap masa depan, batin Naruto, tanpa sadar dia menyandarkan kepalanya pada bahu tegap Sasuke, kembali memejamkan mata, sementara Sasuke terus mengayunkan ayunan itu, membiarkan angin membelai lembut wajah mereka.
"Lelah, Naruko?"
"Sedikit."
"Kita kembali ke vila saja," usul Sasuke dengan nada lembut.
"Tidak, aku ingin lebih lama di sini," sahut Naruto setengah mengantuk. "Aku sangat menyukai suasana ini, begitu damai."
Keheningan menggantung diantara mereka, sayup terdengar debur ombak yang datang silih berganti. Sasuke menikmati saat-saat ini, damai dan indah. Ya, indah, hal itu yang ada dalam pikiran Sasuke. Entah sudah berapa kali dia datang ke tempat ini, namun hatinya tidak pernah sedamai sekarang. Diliriknya Naruto yang saat ini jatuh tertidur dengan tenang, napasnya begitu teratur, hingga Sasuke tersenyum kecil melihatnya.
Sasuke mengangkat tubuh Naruto ke dalam dekapannya, berhati-hati agar gadis itu tak terbangun dari tidurnya. Perlahan dia berjalan masuk ke dalam vila dan membaringkan tubuh Naruto di kamarnya. Sasuke menarik selimut hingga dada Naruto, sekilas mencium kening gadis itu dan akhirnya keluar dari kamar dengan menutup pintu dengan debaman sepelan mungkin.
Semburat jingga terukir indah di langit saat Naruto bangun. Dia mengerjapkan mata saat menyadari dimana dirinya saat ini, Naruto duduk di pinggiran tempat tidur, menatap sekeliling ruangan dan melihat keluar jendela Prancis yang ada di kamarnya. Naruto berjalan untuk mengambil kopernya yang terletak di sisi lemari pakaian. Mengeluarkan seluruh isinya, merapihkan ke dalam lemari dan mengambil beberapa helai pakaian yang akan dikenakannya malam ini.
Naruto membawa peralatan mandi dan handuk ke dalam kamar mandi. Tubuhnya segar kembali saat air dingin itu membasahi seluruh tubuhnya. Setelah selesai mandi, berpakaian, dan merapihkan diri, dia pun keluar dari kamar, menyusuri lorong dan turun ke lantai bawah. Perutnya berbunyi, terakhir dia mengisi perutnya adalah pagi tadi, jadi pantas rasanya jika saat ini perutnya minta untuk diisi.
"Kau sudah bangun?" suara Hinata membuat Naruto terlonjak kaget. "Maaf, apa aku mengagetkanmu?"
"Sedikit," jawab Naruto, tersenyum kecil.
"Yang lain sudah menunggu di ruang makan." Katanya kemudian membimbing Naruto untuk berjalan menuju ruang makan. "Aku mengetuk pintu kamarmu tadi siang, tapi tidak ada jawaban. Kau melewatkan makan siang, pasti kau lapar sekali saat ini."
Naruto menepuk-nepuk perutnya sendiri dengan dramatis. "Rasanya aku bisa menghabiskan sepuluh mangkuk ramen saat ini, Hinata. Aku benar-benar lapar."
Hinata terkikik mendengar jawaban Naruto, namun beberapa saat kemudian wajahnya kembali serius. "Mengenai tadi siang, maaf jika membuatmu tidak nyaman."
Naruto mengibaskan telapak tangan kanannya di udara, "sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi," ujarnya tenang. "Yang penting saat ini adalah perutku," katanya santai. Hinata mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban dari Naruto hingga akhirnya mereka tiba di ruang makan. Suasana mendadak hening saat Naruto masuk ke dalam ruangan itu, dengan tenang Naruto duduk di samping Hinata dan mulai melahap makan malamnya.
"Maaf, apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Naruto saat menyadari tatapan Gaara, Sakura dan Karin padanya, dia merasa sangat risih. Karin mengerjapkan mata, segera dia mengalihkan pandangannya pada makanannya kembali, melahap dan mengunyah perlahan, begitupun dengan Sakura, sementara Gaara masih terus menatapnya intens. Shikamaru berdeham dan menyikut Gaara hingga pria itu mengalihkan pandangannya pada Shikamaru. "Ingat apa yang kita bicarakan siang tadi Gaara!" bisiknya, mengingatkan.
Gaara mendengus dan kembali menikmati makan malamnya yang kini terasa hambar di dalam mulutnya. Sasuke meletakkan garpu dan sendoknya di atas piring, napsu makannya mendadak hilang. Diliriknya Naruto yang melakukan hal yang sama saat ini. "Sudah selesai, Naruko?" Naruto menatap Sasuke dan mengangguk kecil. "Kita ke ruang tengah saja kalau begitu," usul pria itu seraya bangkit dari kursinya, beberapa detik kemudian Naruto pun mengikuti Sasuke, berjalan menuju ruang tengah.
"Mungkin lebih baik jika aku pulang, Sasuke. Aura di sini menjadi tidak nyaman karena keberadaanku." Kata Naruto saat mereka berdua duduk dengan nyaman di depan perapian yang ada di ruang tengah itu. Api menjilat-jilat, mengantarkan kehangatan pada tiap orang yang berada di dekatnya.
Sasuke terdiam cukup lama mendengar perkataan Naruto, sesekali dia memasukkan kayu bakar ke dalam tungku, menjaga agar api di dalamnya tetap menyala. "Apa dengan kepulanganmu akan merubah suasana di sini?" ia balik bertanya dengan suara tenang.
"Entahlah," jawab Naruto tidak yakin seraya mengangkat kedua bahunya ringan.
"Lalu untuk apa kau pulang?"
"Aku yang membawa ketidaknyamanan ini, Sas. Aku mengganggu liburan kalian. Keputusanku untuk ikut denganmu memang salah." Shikamaru dan yang lain berjalan masuk dan segera duduk dengan nyaman di sofa saat Sasuke hendak menimpali perkataan Naruto. Dalam hati, Sasuke menyerapah, yang diinginkannya saat ini adalah duduk berdua dan menghabiskan malam bersama dengan Naruto, walau hanya sekedar mengobrol.
"Aku tahu kau Naruto!" tukas Gaara tiba-tiba membawa kembali ketegangan diantara mereka, keheningan menyeruak tajam di ruangan itu setelahnya, menghasilkan tekanan yang terasa sedikit mencekik.
"Jangan mulai lagi Gaara!" kata Neji tajam, memperingatkan.
"Aku yakin dia itu Naruto," sahut Gaara menggebu. Shikamaru menggelengkan kepalanya yang terasa kembali sakit malam ini, sementara Kiba, Hinata, Sakura, Ino dan Karin diam membisu, mereka terlalu takut untuk ikut campur dalam masalah ini, terutama Sakura dan Karin.
"Jadi apa yang anda inginkan Sabaku-san?" tanya Naruto tenang, namun ada nada sinis dalam suaranya.
"Akui jika kau adalah Naruto!" seru Gaara.
"Lalu, apa yang akan anda lakukan jika saya memang Naruto?" tantang Naruto yang saat ini sudah berbalik untuk menatap Gaara tajam. "Saya tanya, apa yang akan anda lakukan jika saya memang Naruto?" tanya Naruto lagi saat melihat Gaara hanya diam tak menanggapinya.
"Hentikan, Naruko!"
"Aku hanya ingin tahu, Sas." Naruto berbalik, menatap Sasuke tajam. "Sabaku-san terus berteriak jika aku ini Naruto. Aku hanya bertanya apa yang akan dia lakukan jika aku memang Naruto."
Sakura dan Karin tiba-tiba membeku, jantung mereka berdetak lebih cepat, tenggorokan mereka terasa kering, mereka melirik ke arah Gaara yang saat ini sedikit pucat, dan kembali melirik ke arah Naruto yang begitu tenang dan percaya diri.
"Aku akan menyeret ayah dan Sasori untuk bersujud, meminta maaf padamu!" jawab Gaara dengan nada satu oktaf lebih tinggi, begitu yakin dan mantap.
Naruto mengangkat sebelah alisnya, tersenyum mencemooh. "Menurut anda, dengan menyeret kedua orang itu ke hadapan Naruto, lalu semua masalah akan selesai?" tanya Naruto lagi, mencemooh. "Sebenarnya apa alasan anda hingga melakukan semua itu?"
"Aku merasa bersalah," teriak Gaara frustasi. "Semua penderitaan Naruto karena keluargaku, rasa bersalah itu terus menggerogotiku!"
Naruto mendengus, sebelum kembali bicara dengan sikap tenang namun perkataannya begitu tajam dan sinis. "Anda tahu Sabaku-san, saya benar-benar merasa kasihan pada anda. Nasib Naruto memang menyedihkan, tapi nasib anda lebih menyedihkan. Terus menyalahkan diri sendiri, dan terpaku pada masa lalu?" ejeknya. "Bukankah itu menyedihkan?"
"Apa maksudmu?" bentak Gaara kasar.
"Menyalahkan diri atas kesalahan orang lain, itu tidak pintar. Seharusnya anda melakukan sesuatu agar Namikaze Naruto mendapat keadilan, bukan hanya sekedar menyeret kedua orang itu untuk meminta maaf, karena maaf tidak akan mengembalikan semuanya menjadi normal."
Sasuke tersentak kaget saat Naruto mengatakan Namikaze. Dia mengingat-ingat pembicaraannya dengan Naruto tadi siang, dan Sasuke ingat jika dia sama sekali tidak mengatakan marga Naruto.
Dia Naruto, atau bisa jadi dia saudari kembar Naruto, kata Sasuke dalam hati seraya menatap Naruto yang saat ini masih menatap Gaara tenang.
"Maaf jika membuat anda kecewa Sabaku-san, tapi saya bukan Naruto." Kata Naruto menutup pembicaraan dan segera keluar dari ruangan itu, tanpa tahu jika Sasuke mengikutinya dari belakang.
Selepas kepergian mereka berdua, Kiba angkat bicara, dia melepaskan napas yang sedari tadi terasa berat. "Kau menyinggungnya, Gaara. Bahkan sampai dua kali." Katanya, sambil menggeleng pelan, prihatin.
"Dia bukan Naruto," potong Karin tiba-tiba menyebabkan pandangan semua orang beralih padanya. "Maksudmu?" tanya Sakura.
"Naruto tidak mungkin bisa berkata seperti itu," jawab Karin. "Mereka mirip, tapi dia bukan Naruto, aku yakin."
"Kau dengar Gaara?" tegur Neji. "Jadi hentikan khayalanmu itu, dia Naruko bukan Naruto. Aku harap hal ini tidak terjadi lagi!"
"Dia benar," cetus Gaara. "Seharusnya aku menyeret ayah dan Sasori ke pengadilan, menjebloskan mereka ke dalam penjara dan memberikan keadilan pada Naruto, bukan terus menyalahkan diri tanpa melakukan tindakan apapun seperti ini." Katanya seraya menenggelamkan kepalanya ke dalam kedua tangannya.
"Sudahlah Gaara, jangan berpikir hingga sejauh itu." Sahut Shikamaru. "Bagaimanapun mereka keluargamu, yang berlalu biarkan berlalu. Yang penting kau tidak seperti mereka."
"Tapi, sudah menjadi tugasku untuk menangkap orang-orang seperti mereka."
"Benar," jawab Neji tenang. "Tapi dengan kondisi saat ini, kau tidak mungkin melawan ayahmu. Terlalu beresiko."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" pekik Gaara putus asa.
"Jalani hidupmu seperti biasa," tukas Shikamaru. "Biarkan Tuhan yang menghukum keduanya."
"Lalu Naruto?"
"Aku yakin, cepat atau lambat Naruto akan mendapat keadilan itu. Kita hanya harus yakin." Jawab Neji.
"Besok, kau minta maaf pada Naruko!" kata Shikamaru seraya menepuk pundak Gaara. "Jangan sampai liburan kita rusak karena hal ini. Ingat Gaara, orang yang sudah meninggal tidak mungkin hidup kembali!"
Gaara memijat tengkuknya yang terasa berat dan menjawab. "Aku mengerti, aku akan minta maaf padanya besok."
Sementara itu, Naruto melangkah masuk ke dalam kamar, menatap Sasuke dengan tatapan tidak suka saat mengetahui jika lelaki itu membuntutinya ke dalam kamar. "Apa maumu?" tanya Naruto tanpa menyembunyikan amarahnya. Kejadian tadi terlalu menguras emosinya, Naruto sudah tidak mampu mengendalikan diri dan mempertahankan topeng yang dikenakannya selama ini.
"Bagaimana kau bisa tahu marga dari Naruto?" tanya Sasuke lansung pada tujuan.
"Maksudmu?" Naruto balik bertanya dengan suara tajam, dalam hati dia menyerapah, menyumpahi kebodohannya.
"Aku tidak pernah menyebutkan nama keluarga Naruto padamu." Desis Sasuke yang terus berjalan mendekati Naruto.
"Kau menyebutkannya di pantai, tadi siang." Bantah Naruto membelakangi Sasuke dan memeluk dirinya sendiri karena tegang. Sasuke membalik tubuh Naruto hingga menghadap padanya, ditatapnya mata safir itu lurus.
Ingatan Sasuke cukup baik, sangat baik malah. Dia ingat, jika siang tadi dia sama sekali tidak menyinggung mengenai nama keluarga Naruto. Jika Naruko mengetahui nama keluarga Naruto, maka yang paling memungkinkan adalah, jika wanita yang dihadapannya saat ini memang Naruto. "Jadi kau Naruto?" katanya lebih pada pernyataan daripada pertanyaan.
"Aku Naruko," sanggah Naruto setenang mungkin, namun tak bisa dipungkiri jika saat ini jantungnya berdegup sangat cepat, dia bahkan tidak bisa menutupi bahasa tubuhnya yang saat ini mengatakan jika dia cemas dan gelisah.
"Kau boleh berbohong di hadapan mereka, tapi jangan dihadapanku!" kata Sasuke setengah berbisik, namun penuh penekanan pada tiap katanya.
"Aku Naruko! Aku Naruko!" jawab Naruto lemah, dia mulai terisak, sementara air mata mulai menggenang di kedua ujung matanya. "Aku bukan Naruto," katanya seraya memukul dada Sasuke dengan kedua tangannya. Beberapasaat Sasuke terdiam, merengkuh wajah Naruto dengan kedua tangannya hingga gadis itu menatap lurus wajah Sasuke dengan air mata yang mulai berlinang.
Sasuke bisa melihat kesedihan yang tergambar begitu jelas di kedua bola mata Naruto. Gadis itu terus berkata dengan lirih jika dia bukan Naruto. Hati Sasuke seakan disayat sembilu saat melihat Naruto seperti saat ini. Sasuke mendekap Naruto ke dalam pelukannya, setengah berbisik dia bicara. "Baiklah, jika dengan menjadi Naruko bisa membuatmu bahagia, maka kau adalah Naruko. Bagiku yang terpenting adalah mengetahui jika kau masih hidup." Katanya lembut dan mengecup puncak kepala Naruto yang saat ini masih terisak di pelukannya. Sebenarnya Sasuke kecewa karena Naruto tidak mau jujur kepadanya, namun bagi Sasuke yang terpenting adalah kebahagiaan wanita itu. Aku akan melindungimu, dan memastikan senyum itu tidak akan hilang lagi, janjinya dalam hati. Mereka terus seperti itu hingga beberapa saat lamanya, Sasuke terus memeluk tubuh Naruto yang bergetar hingga akhirnya wanita itu tenang.
"Sasuke, kau tidak mau bertanya padaku, mengapa aku bisa selamat?" tanya Naruto yang saat ini sudah berbaring dengan nyaman diatas kasurnya, sementara Sasuke duduk di pinggir kasur dan merapihkan selimut Naruto.
"Kau mau membicarakannya denganku?"
"Tidak."
"Kalau begitu, aku tidak akan bertanya."
"Kau akan mengatakan semua ini pada yang lain?" tanya Naruto lagi lirih, sementara tangannya memelintir selimut yang dia pakai karena khawatir akan jawaban yang akan dilontarkan Sasuke.
"Kau ingin aku memberitahu mereka?"
Naruto menggelengkan kepala dengan cepat.
"Kalau begitu aku tidak akan memberitahu mereka." Jawab Sasuke tenang. Apapun akan aku lakukan, asal kau bahagia, kata Sasuke dalam hati, jemarinya menyingkirkan beberapa helaian rambut yang melintang di wajah Naruto dengan lembut.
"Sasuke?"
"Hn."
"Kenapa kau begitu baik padaku?"
"Karena aku mencintaimu." Jawab Sasuke tegas, tak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Dia mengatakan hal itu seraya menatap lurus kedua mata Naruto yang berbalik menatapnya.
Napas Naruto seakan tercekat mendengar pengakuan Sasuke saat ini, dia tidak menyangka jika Sasuke bisa mencintainya. "Sejak kapan?"
"Sejak pertama kita bertemu."
Naruto mencoba mengingat-ngingat, kapan mereka pertama bertemu. "Kau menyukaiku saat aku mencoba untuk bunuh diri?" tanya Naruto, mengernyit dalam.
Sasuke menggelengkan kepala. "Kita bertemu jauh sebelum itu, Dobe."
"Berhenti memanggilku Dobe!" bentak Naruto, sementara Sasuke hanya menyeringai kecil menanggapinya. "Maksudmu kita pernah bertemu sebelum itu?" Sasuke hanya mengangguk kecil. "Kapan?" tanya Naruto lagi, penuh rasa ingin tahu. "Aku sama sekali tidak ingat jika kita pernah bertemu sebelum itu." Kata Naruto yakin.
"Apa aku harus memberitahumu?"
"Kenapa tidak?"
"Karena itu rahasiaku, dan aku tidak ingin membaginya denganmu." Jawab Sasuke santai.
"Licik!" desis Naruto tidak suka.
"Kau juga punya rahasia, dan kau tidak menceritakannya padaku. Jadi kita seri," ujar Sasuke mengingatkan sementara Naruto hanya bisa mendengus kesal. "Lalu bagaimana?"
"Apa maksudmu?"
Sasuke memutar kedua bola matanya dan menatap Naruto tak percaya. "Aku baru saja mengungkapkan isi hatiku, Dobe!" katanya jengkel.
"Lalu?"
"Aku mencintaimu, apa kau mencintaiku?"
Naruto terdiam beberapasaat, mengumpulkan kembali suaranya yang seakan menghilang di tenggorokannya. "Entahlah. Dengan latar belakang masa laluku, rasanya aku tidak pantas untukmu." Jawab Naruto, memalingkan wajah, tak sanggup menatap wajah Sasuke.
"Masa lalu adalah masa lalu, bukankah kau mengatakan hal itu?"
"Aku kotor, Sasuke. Aku sudah kotor." Kata Naruto dengan suara tercekat, tubuhnya kembali bergetar menahan luapan emosi yang sudah siap meluncur bebas dari kedua sudut matanya.
"Jangan katakan itu!" Sasuke berucap lembut, seraya menangkup wajah Naruto agar menghadap padanya. Dihapusnya air mata Naruto yang sudah turun dengan jari-jarinya. "Kau tidak kotor, kau tidak kotor." Naruto bangkit dan memeluk Sasuke dengan erat, tangisnya kembali pecah malam itu. Dadanya sakit, dia tidak habis pikir kenapa lelaki yang ada dihadapannya bisa mencintainya seperti ini? Sasuke pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada dirinya. "Kau pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku, Sasuke," katanya mengutarakan isi pikirannya.
"Tapi aku hanya mencintaimu," jawab Sasuke setengah berbisik. "Sudah tidak ada tempat bagi wanita lain dihatiku. Tolong ijinkan aku untuk mencintai dan menjagamu seumur hidupku."
"Aku tidak yakin." Jawab Naruto lirih, menunduk dalam.
"Kalau begitu, tolong ijinkan aku untuk meyakinkanmu, bahwa cintaku ini tulus. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang aku butuhkan hingga kau mencintaiku Naru. Seberapa lamapun, aku akan terus menunggu." Tukas Sasuke begitu lembut.
"Bodoh! Kau adalah lelaki paling bodoh!" ujar Naruto dengan suara bergetar.
"Jika kebodohanku bisa membuatmu mencintaiku, maka aku rela menjadi bodoh seumur hidup."
"Penggemarmu akan lari jika kau bodoh," cibir Naruto sambil mengusap air matanya dan tersenyum kecil.
"Jika hal itu terjadi, maka kewajibanmulah untuk menjagaku seumur hidup!" kata Sasuke santai.
"Aku tidak mau menjaga orang bodoh!" desis Naruto.
Sasuke menghela napas dan mengeluarkannya cepat, perdebatan ini akan berlangsung lama jika dia terus meladeninya. "Sebaiknya kau tidur!"
"Aku tidak ngantuk, aku sudah tidur sepanjang siang hingga sore." Kata Naruto protes.
"Kalau begitu, mau berjalan-jalan ke pantai? Kita bisa melihat bintang. Aku bisa buatkan api unggun, memainkan gitar juga bernyanyi untukmu." Tawar Sasuke.
"Sejak kapan tuan Uchiha Sasuke bersikap romantis seperti itu?" dengus Naruto, sementara Sasuke hanya mengangkat bahu. "Para penggemarmu akan pingsan jika melihat sisi lainmu ini, Sas!" kata Naruto tertawa renyah.
"Jadi bagaimana, mau tidak?" tanya Sasuke datar.
"Tentu, kapan lagi aku bisa mendapatkan kesempatan langka seperti ini?" jawab Naruto riang. "Pakai baju hangat, udara di luar bisa sangat dingin," perintah Sasuke tegas.
"Hai, wakatta." Keduanya segera turun dan keluar menuju pantai, berencana menghabiskan setengah malam dengan menatap bintang, ditemani oleh derik api dari api unggun, dan secangkir kopi hangat di tangan mereka.
"Mau kemana Sakura?" tanya Ino saat melihat Sakura mengenakan sweater. "Aku mau menyusul Sasuke, aku lihat dia pergi keluar bersama Naruko." Jawab Sakura.
"Jangan ganggu mereka Sakura!" sahut Neji datar.
"Kenapa?" tanya Sakura jengkel.
"Kau hanya akan mengganggu," jawab Shikamaru santai.
"Kalian pikir aku serangga apa?" tukas Sakura marah. "Aku hanya ingin bergabung menikmati malam bersama mereka."
"Kau yakin?" tanya Neji mencibir.
Sakura melipat kedua lengannya di atas dada dan menjawab dengan ketus. "Aku memang tidak suka melihat kedekatan keduanya!"
"Lebih baik kau mengakui kekalahanmu," potong Kiba menyulut emosi Sakura yang saat ini menatap Kiba dengan benci. "Sasuke melihat wanita itu sebagai Naruto, aku akan menyadarkannya. Dan wanita itu sebaiknya tidak besar kepala hanya karena Sasuke dekat dengannya." Sergah Sakura kasar.
"Itu urusan Sasuke," kata Ino mengingatkan. "Aku tidak mau kejadian dulu terulang kembali Sakura, ingat semua itu terjadi karena rasa cemburu-mu! Kau yang mengatakan, jika kau menyesal. Apa kau lupa?"
"Tapi, aku mencintai Sasuke." Jawab Sakura lirih.
"Kalau begitu, berjuanglah dengan sportif!" tukas Neji serius, sementara Kiba dan Hinata mengangguk setuju.
"Sasuke hanya akan membencimu jika kau datang menghampiri mereka saat ini Sakura." Karin kembali menyesap coklat panasnya dan kembali menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada punggung sofa.
"Bukankah kau juga menyukai Sasuke?" tanya Sakura tanpa melepaskan pandangannya pada Karin.
"Benar, tapi aku tahu waktu dimana aku harus menyerah." Jawab Karin tenang. "Apa kau tidak melihatnya Sakura, Naruko membawa kembali nyala kehidupan pada kedua bola mata Sasuke. Sasuke bahagia saat dia berada disamping Naruko, karena itu aku menyerah."
"Kalian semua temanku, seharusnya kalian mendukungku!" teriaknya memekakkan telinga. Sakura menghentakkan kakinya dengan keras sebelum akhirnya naik ke atas dan mengurung diri di dalam kamar.
"Aku tidak tahu jika kau bisa berkata sebijak itu Karin," cibir Gaara yang sejak tadi hanya diam, mendengarkan pembicaraan mereka.
"Apa maksudmu panda?" tanya Karin tak terima, sementara Gaara hanya menyeringai kecil dan kembali menyeruput kopi hitamnya. Neji dan Shikamaru bertukar pandang, dan mengangkat alis mereka.
Terjadi lagi, apa nanti akan ada pasangan baru? Tanya mereka dalam hati kompak.
"Dasar Panda, kau selalu saja merusak moodku yang sedang baik." Kata Karin dengan nada suara satu oktaf lebih keras. Ino menahan tubuh Karin agar tetap di tempat, menyumpal mulutnya dengan tangan agar berhenti bicara. Gaara memang selalu bisa menyulut emosi Karin dengan perkataan pedasnya, dan Karin selalu saja membalas Gaara dengan emosi yang meluap-luap. Jika sudah seperti itu, maka hanya Ino dan Hinatalah yang bisa kembali menenangkan Karin.
Dilain tempat, Sasori yang saat ini sudah pindah dan menetap di Konoha menatap berkas laporan anak buahnya dengan pandangan tak percaya. Dia memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki segala sesuatu tentang Uzumaki Mito, direktur perusahaan yang menjadi saingan perusahaannya saat ini.
Dia tidak pernah menyangka jika perintahnya untuk menyelidiki Uzumaki Mito akan berakhir dengan sesuatu yang sangat mengejutkan. Sasori menatap foto yang terlampir di dalam berkas itu, foto Uzumaki Mito yang berjalan berdampingan dengan Naruto. "Bagaimana mungkin, bisa ada dua orang dengan wajah yang serupa?" gumam Sasori, dengan cermat dia memperhatikan foto itu. "Mereka benar-benar serupa, rasanya mustahil ada kebetulan hingga seperti ini." Diambilnya berkas itu dengan kasar, dia mencari informasi mengenai gadis muda yang berjalan di samping Uzumaki Mito. "Uzumaki Naruko, cucu tunggal dan penerus keluarga Uzumaki. Menyelesaikan kuliah dan membuka rumah mode di New York." Sasori terus membaca laporan itu hingga akhirnya dia membaca jika saat ini Naruto berada di Konoha.
"Ah, rupanya sang putri berada di Konoha saat ini." Katanya tersenyum kecil. "Aku akan memastikan, apakah kau Naruto atau memang orang lain." Katanya lirih seraya mencium foto Naruto, merobek foto bagian Mito dan menyimpan potongan foto Naruto ke dalam dompetnya.
Keesokan harinya, Naruto kembali duduk di atas ayunan yang ada di pinggir pantai dengan buku sketsa dan sebuah pensil diantara jempol dan telunjuknya. Dia menolak dengan halus saat Shikamaru dan yang lainnya mengajaknya untuk snorkling. "Ada PR yang harus kukerjakan," katanya dengan senyum manis.
Naruto bahkan menolak saat Sasuke mengatakan jika dia akan tetap tinggal untuk menemaninya. "Kau harus pergi, Sasuke. Aku harus membuat beberapa sketsa, aku tidak terbiasa jika mengerjakannya di hadapan orang lain."
"Maksudmu, aku akan mengganggu?" tanya Sasuke tidak terima.
"Begitulah," jawab Naruto santai. Hingga akhirnya Sasuke pun ikut pergi untuk snorkling bersama dengan yang lain. Naruto terus menggoreskan pensilnya di atas kertas, menuangkan semua ide yang ada di otaknya. Beberapa sketsa pakaian berhasil dia gambar saat hari semakin siang. Naruto terlalu asyik dengan dunianya hingga tidak menyadari jika saat ini Sasuke berjalan mendekat ke arahnya.
"Berapa sketsa yang berhasil kau kerjakan?" tanya Sasuke dari belakang Naruto.
"Jangan mengendap-endap seperti itu, Sas! Kau membuatku kaget!"
"Hn."
"Dan jangan dekat-dekat, tubuhmu basah. Sketsaku bisa hancur!" kata Naruto sedikit berlebihan. Sasuke akhirnya duduk di bawah pohon, menyandarkan diri dengan nyaman pada batang pohon dan membiarkan angin meniup tubuhnya.
"Lekas ganti pakaian, kau bisa masuk angin!" katta Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari sketsa yang sedang dia buat.
"Khawatir, Dobe?"
"Sudah kukatakan berapa kali, berhenti memanggilku Dobe!"
"Hn. Aku lapar, lebih baik kita kembali ke vila," kata Sasuke seraya bangkit berdiri, mengulurkan tangan kanannya pada Naruto hingga gadis itu meraih tangan kanan Sasuke dan menggenggamnya.
"Tapi aku mau berjalan-jalan sebentar sepanjang pantai, Sas."
"Ok," jawab Sasuke singkat. Mereka berjalan berdampingan, saling berpegangan tangan, tanpa menyadari jika saat ini Sakura berjalan ke arah mereka dan menatap keduanya dengan iri.
"Kau mau kemana, Sakura?" teriak Ino saat melihat Sakura membelokkan badan dan berjalan ke arah berlawanan. Dengan keras Sakura menyenggol tangan kiri Naruto yang membawa buku sketsa hingga akhirnya buku sketsa itu terjatuh dan basah oleh air laut.
"Maaf," teriak Sakura pura-pura merasa bersalah. Dengan cepat Naruto mengambil buku sketsa itu, mencoba untuk menyelamatkannya. Sasuke menatap Sakura tajam, seolah-olah ingin mengulitinya hidup-hidup. "Maaf, Ruko-san. Aku benar-benar tidak sengaja." Katanya dengan suara bersalah yang dibuat-buat.
"Tidak apa-apa, Haruno-san. Aku hanya perlu menjemurnya saja. Semua sketsa kubuat dengan pensil, jadi seharusnya tidak ada masalah." Jawab Naruto kurang yakin.
"Ayo, aku bantu keringkan." Tukas Sasuke. Sementara Naruto mengibas-ngibaskan kembali buku sketsanya, berharap agar air laut tidak menghancurkan jerih payahnya.
"Biar aku bantu." Sahut Sakura.
"Tidak perlu," potong Sasuke tajam sementara Sakura kembali mengatupkan mulutnya, terlalu takut untuk menimpali Sasuke saat ini. Naruto dan Sasuke akhirnya kembali ke vila, untuk menyelamatkan buku sketsa Naruto. Ino berjalan menghampiri Sakura dan berkata dengan tajam. "Kau sengaja melakukannyakan, Sakura?"
"Tidak," jawab Sakura keras.
"Aku terlalu mengenalmu dengan baik, jadi sebaiknya kau berpikir ulang jika mau membodohiku!" kata Ino dingin dan berlalu pergi meninggalkan Sakura yang kembali kesal saat ini.
Naruto menjemur buku sketsanya di atas batu besar yang terdapat di halaman vila, dengan sabar dia membalikkan halaman demi halaman hingga halaman itu mengering sempurna karena panas sinar matahari, walaupun hasilnya tetap saja membuat Naruto jengkel. Gadis pink itu benar-benar menyebalkan, tukas Naruto dalam hati, dia benar-benar kesal. Sebenarnya dia ingin sekali marah, tapi marah tidak akan mengembalikan bukunya seperti semula.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Gaara tiba-tiba.
Naruto menengok ke belakang, melihat ke arah kedatangan Gaara dan mendengus kecil. Apa lagi yang diinginkannya sekarang? Tanyanya di dalam hati.
"Kau masih marah padaku?" tanya Gaara lagi yang saat ini berdiri di samping Naruto dan menatap buku sketsa itu prihatin. "Maaf jika kemarin aku menyinggungmu dan sudah membuatmu tidak nyaman," kata Gaara tulus.
Naruto melirik ke samping, dan melepaskan napas panjang. "Aku juga harus minta maaf karena sudah berkata kasar."
"Tidak, yang kau ucapkan memang benar adanya," tukas Gaara. "Aku malah harus berterima kasih, karena perkataanmu tadi malam membukakan mataku." Katanya santai. "Kenapa bukumu? Lalu kemana Sasuke."
Naruto kembali mendengus. "Sakura tidak sengaja menyenggolku sampai buku sketsaku jatuh kena air laut," katanya dongkol. "Sementara Sasuke, dia masuk ke dalam untuk berganti pakaian."
"Begitu, boleh aku membantumu?" tanya Gaara menawarkan bantuan.
"Terima kasih, Sabaku-san. Tapi aku bisa mengerjakannya sendiri." Jawab Naruto sopan.
"Gaara, panggil aku Gaara. Tidak perlu seformal itu denganku, Naruko," katanya santai.
"Ok," jawab Naruto seraya kembali membalikkan halaman buku sketsanya. Mereka hanya bicara ringan, tentang cuaca, dan hal lainnya tanpa menyinggung kembali pembicaraan tadi malam. Gaara hanya ingin memulai ikatan yang baru dengan gadis ini. Gadis yang membuatnya nyaman, gadis yang membuat keinginan untuk melindunginya kembali muncul. Mungkin karena Naruko mirip dengan Naruto, pikir Gaara. Dan yang jelas, perasaan itu bukan seperti perasaan khusus atau cinta, melainkan perasaan kasih seorang kakak pada adik, tidak lebih.
Di Konoha, Sasori kembali memanggil anak buahnya untuk datang menghadap ke kantornya siang ini. "Aku ingin kau menyelidiki Uzumaki Naruko lebih dalam, aku ingin tahu dimana dia tinggal, no telepon dan siapa saja teman-temannya di sini. Dan aku ingin laporan mengenai dia secepat mungkin."
"Saya akan usahakan sebaik mungkin Sabaku-san."
"Bagus," tukas Sasori. "Aku akan membayarmu mahal jika hasil kerjamu sesuai keinginanku."
"Saya mengerti," jawab pria paruh baya itu. Setelah memberikan hormat, dia pun berlalu keluar dari dalam kantor Sasori yang nyaman.
"Aku akan segera menemuimu, Tuan Putri!" katanya seraya menatap foto Naruto penuh arti.
.
.
.
TBC
