Dorm XOXO
.
.
.
.
.
Suho tak henti-hentinya menyeka keringat yang membasahi pelipisnya. Tak jauh darinya, seorang lelaki berparas manis sedang menggemburkan tanah untuk di tanami tanaman bawang. Wajah keduanya memperlihatkan bahwa mereka tidak senang dengan perkerjaan mereka.
Suho berjalan ke pinggir lapangan dan duduk disana seraya berkipas menggunakan topinya. Sementara lelaki berparas manis itu hanya menatapnya dengan salah satu alisnya ia naikkan. Lelaki berparas manis bernama Lay itu berdecak.
"Kasihan sekali pangeran salju kepanasan..ckckck," ucapnya. Suho yang merasa tersindir menyipitkan matanya. "Apa?"
Lay menoleh kearah Suho yang ia panggil 'pangeran salju' itu. "Ups, kau mendengarnya? Maafkan hamba, Yang Mulia Junmyeon."
Suho menautkan alisnya. "Apa-apaan kau?" katanya.
"Aku? Apa? Aku manusia dan namaku Lay," ucap Lay datar masih asyik dengan menggemburkan tanah.
Suho mendekati Lay. "Apa maumu?"
"Mauku? Kau melanjutkan pekerjaanmu, Tuan Salju," ucap Lay dengan nada manis dibuat-buat. Suho memutar bola matanya malas. "Aku kepanasan."
"Hohoho, kau pikir kau saja? Aku juga kepanasan," ucap Lay.
"Nah, kenapa kau tidak berteduh sepertiku?"
"Aku ingin hukuman ini cepat selesai, Tuan Salju."
"A-Apa? Tuan Salju?"
"Yah. Itu julukan untukmu Kim Junmyeon. Kau yang berkulit putih dan tidak tahan panas, betul?" ucap Lay sinis tetap sambil menggemburkan tanah.
Suho terdiam beberapa saat. Lalu tersenyum miring yang agak tidak cocok dengan wajah malaikatnya."Baiklah jika itu maumu, aku akan melanjutkan pekerjaanku."
Pruk
Dengan sengaja Suho menginjak tanaman bawang yang terletak di belakang Lay yang akan Lay tanam. Lay pun menghela napasnya. Ia tahu itu Suho pelakunya dan ia sangat tahu itu sengaja. Kalau tidak sengaja, tidak mungkin Suho menginjak tanaman bawang itu.
Lay menaruh cangkul yang ia pakai untuk menggemburkan tanah tadi asal. Ia berjalan mendekati Suho yang sedang mencabuti rumput liar. "Sekarang aku yang bertanya, mau kau apa Kim-ssi?" tanya Lay dengan nada sinis.
"Ups, aku tidak sengaja menginjaknya. Maaf," kata Suho santai. Melihat itu, Lay merasa darahnya naik ke ubun-ubun. Lay menarik nafasnya dan menghitung. Lay menghitung agar emosinya tidka meluap—seperti film Tinkerbell. "Satu, dua, tiga, empat, lima...huff—nah, Tuan Salju kau tahu tidak? tanaman bawang itu akan kutanam."
Suho menaikkan satu alisnya. Ia agak bingung kenapa tadi Lay menghitung. "Lalu?"
"Dengan aku menanam dan kau selesai membersihkan rumput liar itu, hukuman selesai," ucap Lay dengan senyumnya. Suho tidak tahu, dibalik senyum itu Lay ingin sekali melempar Suho dengan cangkul.
Oh ya, kalian tahu kenapa Suho dan Lay dihukum begini? Ingat PR mereka tadi pagi belum diselesaikan karena peliharaan Kai—Monggu? Yah, karena itu.
"Bukan urusanku. Aku lelah, kau saja yang mengerjakan, ya Lay," perintah Suho santai sambil melepas sarung tangan yang ia gunakan untuk mencabut rumput.
Dada Lay naik turun. Tangannya mengepal. Oh, mati kau Kim Junmyeon. Kau membuat Zhang Yixing marah. Tanpa babibu, Lay meraup tanah basah disekitarnya dan melemparkannya ke wajah Suho yang sedang berjalan menuju ke pinggir lapangan.
"Apa-apaan?" seru Suho.
Lay tertawa mengejek. "Kau yang apa-apaan Kim-ssi! Apa itu menyuruhku seenaknya? Memang aku siapamu?"
Suho tertawa sinis. Lay tidak tahu, di tangan Suho sudah ada tanah yang ia ambil tadi. Lalu tawa sinis Suho berubah menjadi senyum manis yang menurut Lay mengerikan. Suho berjalan mendekati Lay masih dengan senyumnya.
"Kau siapaku? Kau kekasihku Zhang Yixing."
Plek
Lay membulatkan matanya ketika ia merasa ada sesuatu di tangan Suho yang menyentuh pipinya. Ia menepis tangan Suho kasar dan menyentuh pipinya. Suho tertawa ketika melihat wajah Lay yang pipinya penuh—tanah?
"AAAAAAAAA KAU MENABUH GONG PERANG PADAKU KIM JUNMYEOOONN!"
Setelah itu, Lay melemparkan tanah kearah Suho bertubi-tubi. "ZHANG YIXING KAU TIDAK SOPAN PADA LEADER!"
"AKU TIDAK PEDULI! KAU ITU TIDAK ADA SIFAT LEADERNYA TAU!" seru Lay masih melemparkan tanah. Oh benarkah tanah?
TUK!
"AKH!"
BRUK
"HAHAHAHA MATI KAU!"
Sementara Suho terkapar di tanah, Lay tertawa puas. Tapi tawanya berhenti ketika ia menyadari Suho tidak bangun-bangun. Dia menghampiri Suho yang terkapar. Dia menarik-narik cambang(?) Suho yang panjang. "Hey."
Suho tidak bangun. Lay mengedarkan pandangan ke sekitar Suho. Oh tidak—ada batu di sebelah kepala Suho. Ini masih mending kalau batu kerikil kecil, itu batu. Tidak besar tidak kecil. Tapi sakit kalau kena kepala.
Lay memeriksa kepala Suho. Saat a menyentuh pelipis Suho, ia merasa ada yang seperti basah, lengket ah pokoknya licin(?). Saat dia melihat tangannya—"darah?"
Ia mengecek pelipis Suho dan matanya membulat sempurna ketika melihat darah mengucur dari pelipis Suho. Darahnya mungkin tidak mengalir secara deras tapi ini cukup membuat Lay panik. Ia segera merogoh kantong jas seragamanya.
Segera ia menyeka darah itu dan mencoba membopong tubuh Suho yang mungkin eum kecil. Tapi jangan salah, gelar Suho itu seme. Seme berbadan uke mungkin(?).
Lay membawa Suho ke UKS dan melupakan hukumannya.
.
.
.
.
.
Seseorang berwajah manis berjalan seraya membawa tumpukan kertas di tangannya. Mungkin sekarang ini orang-orang akan mengiranya kertas berjalan karena wajah manis lelaki itu tertutupi kertas-kertas itu. Sesekali ia menggerutu sambil mempoutkan bibirnya.
Lelaki manis bernama Kyungsoo ini sebenarnya agak kesusahan membawa kertas sebanyak ini. Namun karena tadi ia telat masuk kelas karena membenahi dorm yang amburadul. Dan Kyungsoo cinta kebersihan.
Bibirnya sesekali tersenyum kala murid bergelar seme menyapanya. Seperti 'hai, manis~' 'selamat pagi Kyungie~' 'Kyungie, mau kubantu?' 'hai, Kyungie~', dan Kyungsoo hanya menyapanya balik dan tersenyum.
"Huft, kenapa diantara banyaknya siswa yang telat, aku yang disuruh? Menyebalkan sekali," gerutunya seraya menatap tajam kertas-kertas ini.
Sebenarnya, apa kertas-kertas itu? itu angket pemilihan ketua osis.
Dan pasti yang terpilih adalah salah satu dari penghuni dorm XOXO. Kyungsoo sendiri pernah menjadi wakil ketua osis. Ia tidak tahu kenapa ia bisa terpilih padahal ia tidak terlalu pintar dan tidak berprestasi—malah ia melanggar peraturan.
Jangan salah, semanis-manisnya Kyungsoo dia juga bandel.
Tapi setahu Kyungsoo, mereka memilih karena ketampanan dan kemanisan dorm XOXO. Aish, pemilihan macam apa itu?—pikir Kyungsoo.
Padahal kalau soal tampang, yang lain ada. Seperti dorm Sherlock—terletak disebelah dorm XOXO yang isinya anak-anak yang suka menyelidiki. Disana ada Lee Taemin yang manis, Choi Minho yang tampan berkarisma, dan cantik? Ada Kim Kibum disana.
Atau...dorm Coffee Shop yang semua penghuninya adalah penyuka kopi semua. Cantik? Kim Himchan ada. Lalu ada dorm yang isinya anak-anak kelas dua belas semua. Ah, lama-lama kita melakukan sensus dorm.
Dan mereka semua menamai dorm mereka dengan hal yang berhubungan dengan penghuninya. Lalu dorm XOXO—yang artinya kiss&hug itu maksudnya apa?
Tidak mungkin karena semua kebiasaan penghuni itu memeluk dan mencium. Malah sebaliknya, mereka lebih suka saling menyakiti. Ide nama XOXO itu dari Kris, ya, Kris. Lalu semuanya mengiyakan karena mereka malas berpikir dan saat itu satu-satunya yang bicara hanya Baekhyun dan Kris.
Flashback.
Hening.
Ruang tengah dorm ini hening.
Makhluk-makhluk disana sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sekarang mereka sedang berunding masalah nama dorm yang akan mereka tempati sampai mereka lulus. Namun, ini lebih cocok disebut berkumpul daripada berunding karena daritadi tidak ada yang membuka suara.
Setelah bermenit-menit hening—"Uhm, jadi apa nama dorm ini?" tanya Baekhyun memecah keheningan.
Yang lainnya hanya menatap Baekhyun sekilas lalu menggedikkan bahu dan melanjutkan aktivitas berpikir mereka. Oke,mungkin salah satu mereka tidak ada yang benar-benar berpikir.
Sehun, Kai, dan Kris mengotak-atik ponsel mereka. Luhan dan Suho bengong sambil menopang dagunya dengan tatapan kosong. Chanyeol bermain dengan semut yang lewat seperti orang gila. Chen sedang memainkan poni rambutnya. Xiumin dan Kyungsoo memandangi kukunya. Lay mendengarkan musik dan Tao mengetuk-ngetuk meja. Oh iya, Baekhyun sendiri dari tadihanya berkaca ria mengagumi dirinya.
Namun karena Baekhyun merasa hening yang tidak aka nada habis-habisnya, ia pun menanyakan hal tersebut.
Merasa tidak ada yang membuka suara, Baekhyun kembali berkaca.
"Nama dorm ini XOXO saja."
Oh, akhirnya ada yang bersuara dan itu Kris.
Semuanya menatap Kris sekilas dan mengangguk.
"Terserah, aku menerima apapun nama dorm ini," ucap Kai sambil beranjak dari duduknya. Lalu semuanya mengamini—minus Kris dan beranjak.
Kris memutar bola matanya malas dan kembali berkutat ke ponselnya.
Flashback end
"Hah...diawal saja sudah seperti itu. Terserahlah," ucap Kyungsoo lirih.
Tiba-tiba wajahnya berubah sumringah ketika melihat seorang pria paruh baya memasuki ruangan. "Ah! Pak Kepsek!" serunya.
Kyungsoo sedikit berlari kearah pria paruh baya itu lalu—
DRAP DRAP DRAP
BRUKKK
"GYA!"
Kyungsoo menabrak seseorang lalu ia jatuh ke terdorong ke belakang dan kertas angket yang dibawanya berserakan. Dan sepertinya seseorang yang ditabrak Kyungsoo itu ikut jatuh.
"Keparat! Jalan pakai mata!" maki orang yang ditabrak Kyungsoo. "Oh iya, kaki juga!" imbuhnya.
Kyungsoo bangun dan membungkuk berkali-kali—"maafkan aku maafkan aku maafkan aku"—meminta maaf lalu memunguti kertas-kertas yang berserakan. "Kyungsoo?"
Kyungsoo berhenti memunguti kertas angket itu dan mendongak. "Kai?"
Ternyata orang yang ditabrak Kyungsoo itu—Kai. Jadi, saat Kyungsoo berlari, Kai juga berlari dari arah lain sehingga saat di depan pintu ruangan kepsek mereka tertabrak. Err..mengerti kan?
Kyungsoo merubah ekspresinya menjadi datar. "Sedang apa kau?" tanyanya ketus sambil memunguti kertas angket itu dengan cepat.
"Menemui Pak Kepsek Sooman. Kenapa?"ucap Kai tak kalah ketus.
"Maaf, tapi aku ingin menemui Pak Kepsek lebih dulu," ucap Kyungsoo dengan nada ketus. Kai tertawa mengejek. "Urusanku dengan Pak Kepsek lebih penting."
Kyungsoo menaikkan salah satu alisnya. "Sayangnya, angket ini akan kuserahkan lebih dulu kepada Pak Kepsek."
"Aku sudah membuat janji dengan Pak Kepsek."
"Lalu?"
"Jadi aku berhak masuk duluan. Karena seorang Kim Jongin sudah membuat janji dengan Pak Kepsek."
"Yayaya aku tahu. Kau kan masalah pribadi. Bisa lain waktu atau menungguku sebentar, bukan?"
"Ini penting,"
"Urusan sekolah lebih penting,"
"Urusan pribadi menurutku lebih peting,"
Kyungsoo mendengus. "Cih, egois."
"Memang. Aku memang egois," ucap Kai memperlihatkan smirk-nya dan mulai jalan mendekati pintu kepsek tapi—
SRET
"TIDAK SEMUDAH ITU!" pekik Kyungsoo menghalangi Kai. Kai mendesah dan memutar bola matanya dan malas. "Mau apa kau?"
"Aku. Masuk. Duluan." ucap Kyungsoo dengan penekanan di setiap katanya.
Kai memegang pundak Kyungsoo, hendak menggeser tubuhnya. Tapi Kyungsoo menahan tubuhnya. Kai tetap kekeuh. Sebenarnya Kyungsoo agak kerepotan dengan kertas angket yang dipegangnya. "Tunggu sebentar,"
Kai melepas pegangannya dari bahu Kyungsoo. Mengernyit ketika Kyungsoo meletakkan kertas angket itu di lantai. "Apa yang kau lakukan?"
"Meletakannya. Nah, sekarang kita akan perang. Siapa yang menang akan masuk ke ruang Pak Kepsek terlebih dahulu," ucap Kyungsoo tegas sambil memegang bahu Kai yang notabene lebih tinggi. Kai tersenyum miring dan memegang pundak Kyungsoo dan—
Aksi dorong-dorongan pun terjadi.
Aksi mereka itu membuat murid-murid lain yang lewat sedikit terkekeh dan ada yang berjalan pelan sambil memandang aksi aneh itu. Tapi Kai dan Kyungsoo tidak menghiraukannya. Malahan sekarang kening mereka saling menempel.
Oh Kyungsoo tidak tahu bahwa tubuh Kai lebih besar daripada tubuhnya sehingga—
"AH!"
Cklek
BRUK
BRUK
BRUK
"AKH!"
Kyungsoo terdorong.
Tapi karena pintu ruang kepsek yang ada di belakang Kyungsoo itu terbuka, Kyungsoo menubruk seseorang di belakangnya. Orang itu ikut terjatuh, Kyungsoo ada diatasnya, dan Kai—karena dia mendorong Kyungsoo terlalu semangat, ia jadi ikut jatuh.
Jadi mereka(Kyungsoo, Kai, dan orang itu)tubruk-tubrukan. Dengan posisi dari bawah keatas: orang itu-Kyungsoo-Kai.
Orang itu—Lee Sooman sang kepala sekolah yang terhormat.
"GGRRRR! KIM JONGIIINNN! DO KYUNGSOOOOOO!"
Kai dan Kyungsoo tidak menghiraukannya, mereka sibuk jambak-jambakan.
.
.
.
.
.
.
Seorang lelaki dengan santainya berjalan menyusuri koridor sekolah seraya memakan apelnya. Terkadang ia melemparkan senyum kearah murid lain yang lewat. Namja itu adalah Kim Jongdae atau dipanggil oleh masyarakat Chen.
"I wanna be a billionare~ soo freakin baad"
Terkadang mulutnya menggumamkan sebuah nyanyian.
Hm. Sebenarnya apa yang dia lakukan di jam pelajaran seperti ini? Tentu saja bolos. Guru-guru yang lewat hanya bisa men-deathglare anak dari seorang konglomerat yang terkaya keempat itu di sekolah ini. Dan Chen hanya tersenyum manis.
Lihat? Murid-murid di dorm XOXO memang disegani.
Tahu apa yang orangtua mereka katakan?
"JIKA KALIAN MENYAKITI ANAKKU, AKU TIDAK SEGAN-SEGAN MENUNTUT KALIAN!"—ayah Baekhyun mengatakannya karena ia overprotektif terhadap anaknya.
"Sooman-ssi, sekolah ini tidak akan ada setelah anda berani menghukum Chanyeol dengan hukuman yang membuat anakku mengeluarkan darah lagi."—ibu Chanyeol mengatakannya setelah Chanyeol jatuh ke semak-semak tajam karena dihukum.
"AKU SANGAT MENYAYANGI ANAKKU! JIKA KUDENGAR DIA DIHUKUM LAGI SEPERTI INI, AKU AKAN MENGHANCURKAN SEKOLAH INI!"—ayah Sehun(dia mengatakannya setelah Sehun dihukum mencabuti rumput lapangan hingga kulitnya agak menggelap)
"Ehm. Kau boleh menghukum anakku, tapi jangan pernah membuat kulitnya terbakar atau sekolah ini akan kugusur."—ayah Suho. Hanya begini, tapi Sooman paling ngeri karena dia pemilik perusahaan besar yang cabangnya mendunia.
"YA TUHAN JONGINNIE SAYANGKU! KAU DIAPAKAN NAK?! SOOMAN-SSI! AKU AKAN MEMOTONG KEPALA ANDA JIKA KAU MENGHUKUM ANAKKU SEPERTI INI, BAIK?!"—ibu Kai mengatakannya setelah Kai dihukum memungut daun di lapangan hingga pingsan kepanasan.
"IBU GURU! BILANG PADA KEPALA SEKOLAH KALAU IA MEMBUAT LAY TERLUKA HINGGA HEMOFILIANYA KAMBUH AKU TIDAK SEGAN UNTUK MEMBAYARNYA DENGAN SEBUAH NYAWA!"—ayah Lay yang waktu itu sangat shock mendengar Lay terluka.
"Kepala sekolah, anda tidak boleh menghukum anakku. Tapi kau boleh menghukumnya jika dia tidak sopan terhadapmu. Kalau tidak, tidak segan-segan saya akan menjadikan sekolah ini komplek warga."—ibu Kyungsoo berkata dengan tegasnya karena overprotektif pada kyungsoo.
"Sooman-ssi, jangan harap kau masih hidup jika kau menghukum Kris. Bukan aku yang membunuhmu, tapi Kris sendiri. Be careful."—ayah Kris dengan logat inggrisnya.
"JONGDAEE! MANA YANG SAKIT? SOOMAN-SSI! KAU APAKAN JONGDAE-KU?! LIHAT SAJA JIKA KAU MELAKUKANNYA LAGI, KAU AKAN MASUK KE LIANG LAHAN!"—ayah Chen dengan sadisnya meneriakkan kata itu ketika melihat Chen luka-luka karena jatuh dari lantai dua habis mengelap jendela sebagai hukuman.
"Kau apakan Minseok-ku? Jika kau berani membuat Minseokkie-ku yang manis terluka, jangan harap kau akan melihat sinar matahari. Minseok terlalu manis untuk dihukum."—ibu Xiumin langsung mengancam kala mendengar Xiumin jatuh dari pohon untuk bertanggung jawab karena sudah melempar heels gurunya hingga nyangkut ke pohon tinggi.
"ZITAOOOOO! BILANG PADA MAMA APA YANG DILAKUKAN PAK TUA ITU?! HEY PAK TUA, BERANI KAU MELUKAI BABY PANDA MAKA KAU AKAN MEMOTONG LEHERMU! INGAT ITU!"—ibu Tao langsung histeris saat mendengar Tao sakit demam karena hujan-hujanan dihukum tidak boleh masuk asrama.
"Terserah kau apakan Luhan. Asal jangan membuatnya terluka. Cukup jaga dia baik-baik. Aku akan menggusur sekolah ini jika Luhan terluka."—paman Luhan berkata dengan sangat datar.
Yah begitulah kira-kira. Sangat protektif, kan?
Tapi justru itu yang membuat mereka makin menjadi. Seenaknya.
Kembali ke Chen.
Ia masih setia dengan apel merah segarnya.
"Three six five—"
Jduk
BRUKK
"Ouch!"
Malang sekali nasib Kim Jongdae. Karena ia tidak was-was dan malah memejamkan matanya sambil berdendang dan mengunyah apel, kakinya terantuk sesuatu dan akhirnya jatuh posisi tengkurap. Dan apelnya menggelinding ke depan agak jauh.
Ia meringis. Sepertinya ia keseleo. Akhirnya, ia mendekati apel itu dengan cara merangkak seperti tentara yang sedang diuji. Chen tidak menghiraukan orang-orang menatapnya.
Saat tinggal beberapa sentimeter apel itu terjangkau—
DUAKKK
"TIDAAK! APELKU!"
Ada yang menendangnya.
Chen mendongak untuk melihat siapa pelakunya—"Xiumin hyung?"
"Eh, Chen?" ucap Xiumin—si pelaku dengan tampang polos. Xiumin mengulurkan tangannya. Chen hanya menghela napas dan menerima uluran tangan Xiumin. "Terima kasih."
Chen menepuk-nepuk jas seragamnya agar bersih dan sedikit merapikannya. Dia menatap Xiumin yang sedang bersiul-siul dengan tatapan heran. "Jadi...kau tidak ada penawaran untuk menggantikan apelku?"
Xiumin berhenti bersiul dan mengangkat alisnya. "Apa?"
"Apelku, hyung," ujar Chen. Xiumin mengangguk-angguk lalu bertanya ada apa dengan apel Chen.
Chen sweatdrop. "Apelku tertendang," ucapnya. Xiumin berdecak dan menggeleng-geleng. "Siapa yang menendang? Malang sekali nasibmu."
Chen jawdrop. Jadi? Tadi dia tidak sadar kalau dia menendang apelnya? Lalu untuk apa dia tadi minta maaf? Apa otak Xiumin yang sedang...err..konslet?
"Apelku. Tertendang. Olehmu." Kata Chen menekankan setiap kata pada kalimatnya. Xiumin menatap kakinya lalu membulatkan matanya. "Oh! Itu tadi apelmu? Kukira...apel yang terbuang! Maaf Chen."
Sepertinya koneksi Xiumin not connected.
Chen memasang tampang (-_-).
"Ah baiklah, karena Chen baik hati aku akan segera minta pertanggung jawaban!"ujar Chen yang sebenarnya tidak nyambung itu.
Xiumin mengernyitkan dahinya. "Tanggung jawab apa?"
"Tentu saja darimu."
Xiumin memasang tampang shock dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Aku kan tidak berbuat—"
"...Apel. Aku mau kau membelikanku apel yang baru," potong Chen. Ia tahu apa yang akan Xiumin katakan. "O-Oh iya, apel. Kau betul, dimana aku harus membelinya?"
Chen menggedikan bahunya dan menyilankan tangannya di dada. "Kantin...mungkin?"
"Apa? Kantin...kantin...Oh iya kantin! Wait for a moment please," ucap Xiumin berbalik badan hendak ke kantin. Namun sejurus kemudian ia balik lagi dan menatap Chen. "Tunggu. Sejak kapan kantin sekolah ini menjual buah-buahan?"
"Entah. Mungkin saat kau mengatakannya—oh ayolah, kantin tidak menjual buah! So..."Chen menggantung kalimatnya.
"So...?"
"Kau kan juga membolos, keluar sekolah dan ke supermarket membeli buah, apa salahnya?" bisik Chen seraya merangkul Xiumin. Xiumin menjentikkan jarinya. "Good idea! Come on."
Dan mereka dengan wajah tanpa dosa keluar gedung sekolah.
See? Xiumin dan Chen memang bukan pencari ribut, kan?
.
.
.
Laki-laki berambut abu-abu yang seperti kakek-kakek ubanan itu berjalan gontai menuju kantin. Itu Kim Jongin atau yang maunya dipanggil Kai. Ia berjalan menuju stan bubble tea dan memesannya.
"Rasa apa?" tanya si penjual. Lelaki berambut abu-abu seperti kakek-kakek ubanan itu bergumam sebentar. "Stroberi."
Penjual itu mengangguk. "Baiklah, tunggu sebentar."
Lalu ia menyerahkan beberapa lembar uang setelah bubble tea itu datang. Kai pun duduk di salah satu bangku panjang di kantin itu. Ia memainkan game di ponselnya sambil menyedot bubble tea-nya.
Sebenarnya, ia agak badmood karena insiden tadi. Karena habis jambak-jambakan dengan Kyungsoo, Kepsek Sooman Yang Terhormat pun menyuruh mereka membantu menyetak brosur sekolah sebagai hukuman. Well, tidak terlalu berat.
Tapi menyetak brosur dengan jumlah banyak itu tidak mudah, sobat.
Pandangannya beralih ketika seorang lelaki berambut jingga yang sedang memesan bubble tea. Lelaki berambut jingga itu Luhan. Tak sengaja, mata mereka bertemu. Kai menyunggingkan senyumnya.
"Hai," sapa Luhan ketika ia menghampiri Kai dan duduk di depan Kai. Kai masih tersenyum. "Hai juga, kau membolos, hyung?"
Luhan tertawa pelan. "Yep. Keadaan kelasku membosankan sekali jika kau mau tahu. Erm..tahu guru Park?"
"Iya, kelasmu diapakan oleh si hidung besar itu?" ujar Kai.
Luhan terkekeh ketika mendengar julukan yang diberikan Kai. "Tidak, dia berceramah sangat panjang dan ceramahnya itu sangat out of topic."
Kai mengangguk-angguk mendengarnya. "Lalu bagaimana cara kau membolos?"
"Yah, aku pura-pura ke toilet. Seperti biasa, alasan kuno," ucap Luhan sambil memainkan sedotan bubble tea-nya. "Kau?"
Kai menaikkan alisnya. "Haha, aku tadi keluar kelas untuk menemui Pak Kepsek, sekalian bolos. Padahal tadi aku sedang ulangan."
"Iyakah? Hebat sekali."
Kai tertawa pelan. "Kau tahu? orang-orang di kelasku tidak ada yang berani menegur atau menatapku dan Sehun. Keren kan?" Yah, Kai dan Sehun memang sekelas. Sedangkan Luhan, dia ada di kelas 12 yang berarti jika Kai naik kelas, dia akan lulus.
Luhan sedikit merubah ekspresinya. Menurut Luhan, ucapan Kai tadi pamer bahwa Sehun dan Kai adalah orang yang disegani. Luhan adalah murid di dorm XOXO yang satu-satunya tidak terlalu disegani.
"Ehm hyung, apa benar kau itu anak haram—"
BRAK
Kai tersentak kaget ketika melihat Luhan menggebrak meja kantin. Itu membuat orang-orang di kantin itu menoleh kearah Luhan. Kai sedikit memundurkan badannya.
Sedangkan Luhan, ia menatap Kai tajam. "Kau tidak tahu apa-apa tentangku, Kim Jongin! Tutup mulutmu!"
Bukannya merasa takut atau apa, Kai malah memandang Luhan santai. "Wow wow...aku benar? Santai hyung, kau ceritalah padaku. Apa salahnya menceritakan kisahmu pada temanmu?"
Luhan kembali duduk. Ia menghela napasnya. Sekali ini saja ia menceritakan kisahnya pada orang lain selain Xiumin. "Kau benar. Puas?"
Kai menaikkan alisnya. "Sangat puas. Cepat cerita!"
Luhan kembal menghela napasnya. "Yayaya. Dan sebelum aku mulai kau harus bersyukur karena kau adalah orang kedua yang akan mendengar kisahku setelah Xiumin."
Kai mengangguk.
"Aku adalah anak dari presdir perusahaan di China—presdir itu ibuku. Dan kenapa aku bisa lahir? Karena waktu itu, ibuku mabuk dan yah, ada pria yang tiba-tiba 'menerjang'-nya,"
Luhan memberi jeda ceritanya untuk menyedot bubble tea-nya.
"Kau salah jika bilang ibuku selingkuh karena melakukan 'itu' bukan dengan suaminya. Waktu itu dia masih lajang dan muda. Ibuku seorang presdir muda, yeah,"
Kai mengangguk-angguk mendengar cerita Luhan.
"Beberapa minggu kemudian, ibuku dinyatakan positif hamil. Ibuku mencari pria yang waktu itu dan—ketemu. Tapi sayang sekali, pria itu sudah dijodohkan. Dan yang lebih membuatku ingin memenggal kepalanya adalah dia tidak mencintai ibuku,"
Kai membulatkan matanya. "Huah, benarkah? Bejat sekali."
Luhan mengangguk sambil menghisap bubble tea-nya. "Yeah dan beberapa bulan kemudian, lahirlah aku. Tanpa seorang ayah. Entah bagaimana caranya, berita tentang ibuku melahirkan anak di luar menikah menyebar di seluruh cabang perusahaan ibuku di China—"
Ia menghela napasnya. "—sehingga ibuku dijuluki wanita jalang."
Kai terhenyak. Ia bisa melihat mata Luhan berkaca-kaca. Ada rasa menyesal juga di dalam hati Kai telah membuat lelaki di depannya ini sedih. "Eum...maaf, tapi rasa penasaranku lebih besar. Tolong lanjutkan."
Luhan mengangguk. "Lalu kakekku mendengar berita itu. Sehingga ibuku dipecat sebagai presdir perusahaan yang sebenarnya itu adalah perusahaan kakekku. Lama-kelamaan, ibuku semakin stress karena ekonomi kami makin menipis,"
Kai memotong. "Tunggu. Ibumu kan presdir, pasti kan kaya? Kenapa bisa ekonomi kalian menipis begitu?"
"Kai, uang itu tidak selamanya banyak. Uang itu sudah dipakai untuk kebutuhanku, makan, kebutuhan ibuku dan kebutuhan rumah tangga lainnya," ujar Luhan. Kai mengangguk mengerti.
Luhan memulai ceritanya lagi. "Ekonomi kami menipis dan saat itu a-a-aku...dibuang, aku baru berumur delapan bulan. Aku diletakkan begitu saja di depan rumah megah yang entah itu rumah siapa,"
Luhan mulai terisak. "Dan pemilik rumah i-i-itu mengambilku. Aku di rawat sampai besar dan saat aku berumur delapan tahun aku pindah ke Korea bersama keluarga itu. Dan yang membuatku terkejut adalah ternyata itu pamanku."
Selagi Luhan menghapus air matanya, Kai bertanya—"Bagaimana dia tahu bahwa kau adalah keponakannya?"
"K-Karena ibuku menuliskan namanya di surat yang waktu itu ia tinggalkan bersamaku," jawab Luhan. Suaranya menjadi bindeng.
"...Lalu aku bertanya dimana ibuku. Pamanku bilang, ibuku meninggal. Yah karena waktu itu aku masih kecil aku hanya bisa percaya dan menangis. Saat aku masuk SMP, aku bertanya lagi keberadaan ibuku dimana,"
Kai mengangguk. "Lalu?"
"Pamanku waktu itu bohong, bahwa ibuku tidak meninggal tapi menikah dengan saudagar kaya di Ciina. Aku benar-benar marah waktu itu. Aku terus berteriak dan berkata bahwa aku benci ibuku. Tapi, bibiku menceritakan bagaimana ibuku bersusah payah merawatku dan—" Luhan menghela nafasnya.
"—aku belajar menyayangi ibuku walaupun dia tidak merawatku lagi. Dan aku hidup bersama pamanku dan bibiku hingga akhirnya aku masuk sekolah ini. Tamat," ucap Luhan mengakhiri ceritanya.
Kai mengangguk berkali-kali dengan cepat. "Woah, kalau dijadikan drama bagus sepertinya. Okay, aku mau tanya.."
"Apa?"
"Kenapa ibumu waktu itu tidak tahu rumah pamanmu?" tanya Kai. Luhan berpikir sebentar. "Aku tak tahu. Mungkin hubungan pamanku dan ibuku tidak terjalin erat sampai ibuku tidak tahu rumah kakaknya sendiri."
Kai hanya ber-'oh' ria.
.
.
.
.
.
-TBC-
a/n: annyeong! Chapter 2 updated! Wehehe, FF abal ini ada yang baca juga meskipun gak bisa dibilang banyak, apalagi banyak banget tapi seenggaknya ada walaupun cuma satu daripada enggak sama sekali, ya gak? /keinget kata-kata Chen (;_;`)/
Mind to review? /aegyo bareng kepala sekolah sooman:3/
Saran dan kritik allowed! Bash? Not allowed! :
