Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : OOC, typo(s), genderswitch
Broken Wings
Chapter 10 : Stalker
By : Fuyutsuki Hikari
Matahari sudah tenggelam sore ini, namun Naruto masih enggan untuk beranjak dari bibir pantai. Dia masih menikmati indahnya matahari terbenam hingga akhirnya semburat jingga itu menghilang ditelan malam. "Ayo masuk ke dalam, udara semakin dingin," bujuk Sasuke yang sudah meletakkan kemejanya di atas pundak Naruto.
"Sebentar lagi, Sas." Sahut Naruto setengah berbisik. "Semoga malam ini tidak turun hujan, aku ingin melihat bintang jatuh," tambahnya penuh harap.
"Memang apa bagusnya bintang jatuh?" cibir Sasuke. "Jangan katakan, jika kau ingin mengucapkan permohonan pada bintang jatuh!"
Naruto menggelengkan kepala, sedikit kesal. "Aku tidak percaya akan hal seperti itu Suke, aku hanya ingin melihat langit malam bertabur bintang, dan jika beruntung, aku ingin melihat bintang jatuh. Di kota sudah sangat sulit untuk melihat bintang di malam hari, bukan begitu?"
Sasuke menghela napas panjang. "Baiklah, nanti malam aku akan menemanimu. Tapi sekarang, lebih baik kita masuk ke dalam." Sasuke menggenggam tangan Naruto dan membantunya untuk berdiri, berdua mereka berjalan berdampingan menuju ke vila. Sakura melihat kedatangan mereka dengan tidak suka. Dalam hati, terus menyerapah, bertanya kenapa Sasuke lebih memilih Naruto daripada dirinya?
Tepat pukul delapan malam semua orang berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Sesekali terdengar denting sendok dan garpu dari sana. Beberapa diantaranya makan dengan cepat, dan memilih berkumpul di ruang keluarga, untuk menikmati wine, menyisakan Naruto, Gaara, Karin, Ino dan Sakura.
Setelah kepergian Sasuke dari ruang makan, sikap Sakura bertambah menyebalkan. Beberapa kali dia melayangkan sindiran pedas untuk Naruto, hingga Ino harus turun tangan dengan membekap mulut Sakura dan membawanya pergi dari ruang makan. Selepas kepergian Sakura, tinggal Karin yang masih menaruh curiga pada jati diri Naruto. Beberapa kali dia melontarkan pertanyaan jebakan, beruntung Naruto bisa menjawabnya dengan tenang.
"Jadi, kau bisa berenang Naruko-san?" tanya Karin selepas kepergian Sakura dan Ino.
"Tentu, sangat baik malah."
"Apa warna kesukaanmu?"
"Hitam."
"Kau bisa bermain piano?"
"Sedikit."
"Pernah tinggal di Suna?"
"Tidak."
"Kau bertanya atau mengintoregasi?" Gaara yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan keduanya mulai angkat bicara. Karin mendengus ke arah Gaara dan tersenyum palsu, berdesis dan menjawab dengan halus namun penuh penekanan di dalamnya. "Aku ingin lebih mengenal Naruko, kenapa kau yang sewot Gaara?"
"Tidak apa-apa Gaara-san, saya tidak keberatan," tukas Naruto yang mulai melihat tensi keduanya semakin tinggi dan mengeluarkan aura hitam.
"Lihat, Naruko bahkan tidak keberatan," desis Karin dengan mendelik ke arah Gaara. Karin kembali memutar otaknya yang mulai kehabisan pertanyaan untuk Naruto, semua pertanyaan yang diajukan oleh dirinya mungkin saja dijawab dengan kebohongan. Yang Karin tahu, Naruto tidak bisa renang, dan takut kedalaman. "Ah, Naruko-san, bagaimana kalau besok kita snorkeling bersama. Sepertinya akan menyenangkan."
"Tentu, tidak masalah. Besok aku ikut kalian snorkeling."
Karin mengangguk dan tersenyum kecil. Besok, adalah satu-satunya kesempatan untuk membuktikan jika wanita yang duduk di hadapannya saat ini bukanlah Naruto atau bukan.
.
Rencana Naruto dan Sasuke untuk melihat bintang harus gagal, hujan mengguyur bumi begitu deras malam ini, cuaca dingin seakan menina bobokan semua orang untuk segera berlindung dibalik selimut hangat hingga terbangun keesokan harinya.
.
Pukul sepuluh pagi, Naruto dan yang lain sudah berkumpul di dermaga untuk menyebrang ke spot snorkeling. Karena hujan tadi malam, spot snorkeling terdekat menjadi agak keruh, hingga mereka harus menyebrang ke spot snorkeling yang lebih jauh lagi, perlu waktu dua puluh menit untuk sampai kesana. Shikamaru yang sudah berada di atas kapal berteriak kencang. "Cepat naik!"
Setelah semua naik, kapal yacht mewah itu pun segera melaju, membelah lautan dengan kecepatan sedang. Langit begitu biru, hanya ada sedikit awan putih yang menghiasi di beberapa titik. Angin laut meniup lembut, sedikit meredam sengatan sang mentari yang nampak perkasa siang ini.
"Jangan menyelam terlalu jauh dariku!"
Naruto melirik ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang dimaksud oleh Sasuke. "Maksudmu- aku?" tanya Naruto sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Tentu saja kau, Dobe," tukas Sasuke gemas.
"Kenapa aku harus menyelam di dekatmu?"
"Ini pertama kali kau menyelam bukan?"
"Tidak juga," sahut Naruto cepat. "Aku sudah biasa snorkeling, Teme. Jadi tidak perlu khawatir berlebihan."
"Hn."
"Sasuke..?!" teriak Sakura kencang, dia mengenakan bikini berwarna pink yang cukup provokatif. Dengan manja dia bergelayut pada tangan Sasuke, dan menatap Sasuke dengan pandangan malu-malu. "Menyelam di sisiku yah, aku takut jika harus menyelam sendiri."
"Kita menyelam bersama-sama, Sakura. Apa yang harus kau takutkan?" kata Kiba ketus, memotong pembicaraan Sakura.
"Aku tidak bicara denganmu Kiba," desis Sakura marah, sementara Kiba hanya mengangkat bahu dan berjalan menuju tempat Hinata duduk.
Sakura kembali mengubah nada suaranya saat berbicara dengan Sasuke, dengan genit dia kembali merayu Sasuke. "Tolong temani aku menyelam!"
Sasuke menepis tangan Sakura agak keras, dia sudah cukup bersabar menghadapi sikap Sakura yang sering kali bersikap berlebihan terhadap dirinya. "Seperti kata Kiba, kita menyelam bersama-sama. Tidak perlu takut Sakura," kata Sasuke datar. Sasuke meraih tangan Naruto dan menggenggamnya erat, sengaja mengumbar kemesraan di depan Sakura agar dia mengerti dan menyerah.
Namun yang terjadi, Sasuke malah semakin menyulut emosi Sakura. Saat Sasuke lengah, Sakura melepaskan genggaman tangan Sasuke pada Naruto dan mendorong Naruto hingga dia terjebur ke laut.
Naruto terlalu kaget dengan apa yang terjadi, kejadiannya terlalu cepat untuk dia bereaksi, saat dia sadar dia sudah tenggelam dan sekuat tenaga mendorong tubuhnya dari dalam laut untuk mengambil napas. Naruto terbatuk, terengah-engah karena kehabisan napas. Naruto bisa mendengar suara Sasuke yang terus berteriak memanggil namanya. Beberapa saat kemudian, Sasuke terjun ke dalam air laut, berenang untuk menyelamatkan Naruto.
Dengan sigap Sasuke menarik tubuh Naruto menuju kapal yacht, dirinya nampak panik dan marah akan apa yang baru saja terjadi. Shikamaru dan Gaara membantu menarik Naruto naik ke atas kapal, sementara Kiba dan Neji membantu Sasuke.
Hinata menyampirkan handuk pada tubuh Naruto yang sedikit menggigil. Setelah memastikan Naruto baik-baik saja, Sasuke mulai mencari sosok Sakura yang mulai ketakutan oleh tatapan intimidasi dari Sasuke. "Kau sudah gila Sakura, kau bisa membunuhnya!" teriak Sasuke.
"Tapi di-dia baik-baik saja," jawab Sakura terbata.
"Kau benar-benar keterlaluan, cepat minta maaf pada Naruko!"
"Sudahlah, Sasuke. Tidak apa-apa," sahut Naruto datar. Ditatapnya Sakura tajam dan penuh intimidasi. "Kali ini aku memaafkan-mu Sakura, lain kali, kau akan berhadapan dengan pengacaraku." Naruto berkata dengan tenang tapi juga mengancam, Sakura bahkan bisa mengetahui jika ucapan Naruto serius saat ini.
"Maaf," kata Sakura lirih. Dia terlalu takut untuk berurusan dengan keluarga Uzumaki. Dia harus menyalahkan dirinya karena bisa tersulut cemburu dengan begitu mudah.
Kejadian ini akhirnya menggagalkan rencana snorkeling mereka, Shikamaru memutuskan untuk membalik arah kapal kembali menuju dermaga. Tidak ada satu pun yang protes karenanya, bagaimanapun mereka semua masih sedikit syok.
Mereka semua segera kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat, setelah tiga puluh menit berlalu, Sasuke mengetuk pintu kamar Naruto dan meminta ijin untuk masuk.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke, sementara Naruto duduk menatap keluar jendela Prancis-nya, dengan sesekali menyesap es teh di tangannya.
"Aku baik-baik saja, Sasuke. Terima kasih," sahut Naruto tanpa mengalihkan pandangan matanya.
"Aku sama sekali tidak menyangka jika Sakura bisa melakukan hal itu."
"Dia cemburu. Cemburu pada orang yang salah."
"Maksudmu?" tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat.
"Dia cemburu, karena mengira kau menyukaiku."
"Hn."
"Jangan membuat wanita cemburu! Karena wanita yang cemburu bisa sangat menakutkan."
"Hn."
"Itu bukan jawaban."
"Hn."
"Aku benci jika kau menjawab seperti itu!"
"Hn."
"Terserah," kata Naruto akhirnya.
"Hn." Jawaban Sasuke ini berhasil membuat Naruto melayangkan sebuah bantal sofa berbentuk hati yang tepat mendarat pada wajah Sasuke yang tampan.
"Katakan 'hn' lagi, dan aku pastikan yang akan melayang selanjutnya adalah sofa yang kita duduki."
"Kekerasan dalam percintaan," kata Sasuke setengah berbisik.
"Apa?"
Sasuke tidak menjawab, dia hanya menyeringai kecil dan mengangkat kedua bahunya. Setelah kejadian itu, Sasuke terus menempel kemana pun Naruto pergi, sebisa mungkin menjauhkan wanita itu dari Sakura. Sasuke bahkan meminta Gaara menggantikannya untuk menjaga Naruto jika memang dia harus pergi beberapa saat dari sisi Naruto. Hal itu terus terjadi hingga Naruto kembali dengan selamat pulang ke apartemennya diantar oleh Sasuke.
.
.
.
Naruto kembali menyesap air kopinya perlahan, mug keramik itu dia genggam dengan protektif. Sudah hampir satu bulan dia kembali dari vila, dan sudah satu minggu dia mendapat kiriman karangan bunga mawar merah besar ke kantor pribadinya yang masih belum resmi launching, hal itu membuatnya gelisah dan resah.
Buku sketsanya masih bersih, belum nampak coretan apapun disana. Naruto terlalu malas untuk bekerja hari ini, padahal launching merk dan peresmian kantor barunya hanya tinggal dua bulan lagi. Black Knight sudah bersedia untuk menjadi model prianya, sementara Hinata akan menjadi model utama wanita di samping beberapa model ternama lainnya yang akan turut serta dalam acara launching merk perusahaan Naruto di Jepang.
Untuk kesekian kalinya, Naruto meraih telepon genggamnya, menimang-nimang sejenak untuk menghubungi Sasuke. Namun lagi-lagi niat untuk menghubungi Sasuke diurungkannya.
Dia tahu, jika dia harus mencari tahu siapa pengirim mawar-mawar itu. Apa mungkin semua mawar itu dari Sasuke? pikir Naruto berulang kali. Sudah dua minggu ini Sasuke dan para personil 'Black Knight' melakukan promo tour keliling Jepang, dan akan berakhir dua hari lagi, menjadikan Naruto tidak enak hati jika harus mengganggu Sasuke. Naruto kembali meraih telepon genggamnya, dan lagi-lagi dia meletakkan kembali telepon genggamnya ke atas meja dan menghembuskan napas dengan kasar. Matanya terpejam, kalau memang bunga mawar itu dari Sasuke, tidak masalah, tapi kalau semua itu bukan dari Sasuke, maka itu akan jadi masalah baru. Naruto sudah membayangkan reaksi Sasuke jika dia tahu Naruto mendapat kiriman bunga dari pengirim misterius, dia pasti langsung mengambil penerbangan pertama ke Konoha dan menemuinya. Menyelidiki pengirim misterius itu, dan akan terus menempel disisi Naruto sepanjang hari hingga si pengirim misterius diketahui identitasnya. Sebuah ketukan pada pintu kantornya membuyarkan lamunan Naruto.
"Boleh aku masuk?"
Naruto langsung bisa mengenali pemilik suara baritone itu. "Masuk saja," sahut Naruto agak keras.
Itachi membuka pintu kantor Naruto dan menutupnya perlahan. "Sedang sibuk, Naruko?" tanya Itachi sebelum dia duduk dengan nyaman di hadapan meja kerja Naruto.
"Tidak juga," jawab Naruto cepat. "Tumben Tachi-niidatang kemari," lanjutnya tersenyum simpul.
Itachi menopangkan kaki kanannya pada paha kirinya, dan meletakkan kedua tangannya yang terlipat disana. "Kebetulan kantor kekasihku ada di dekat sini, jadi aku mampir setelah mengantarnya kesana," jelas Itachi. "Kaa-san memintamu untuk berkunjung ke rumah hari Minggu nanti, apa kau ada waktu, Naruko?"
Naruto mengecek agenda pribadinya sebelum menjawab. "Sepertinya bisa, aku memang sudah rindu ingin bertemu bibi Mikoto."
"Baguslah," sahut Itachi gembira. "Selain itu, sebenarnya aku juga ingin mengenalkanmu pada adikku," lanjutnya seraya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada meja kerja Naruto.
"Adik?"
"Ya, namanya Sasuke. Kau tahu, dia vokalis grup band yang sangat terkenal, banyak wanita cantik mengejar-ngejarnya," ujar Itachi bangga.
Naruto terkekeh dibuatnya. "Kenapa tertawa Ruko, aku tidak berbohong. Pernah dengar 'Black Knight'? Itu nama band adikku, adikku benar-benar tampan," jelas Itachi.
"Bukan itu," sahut Naruto seraya mengibaskan tangan kanan di depan wajahnya. "Hanya saja aku sudah mengenal Sasuke."
"Benarkah?"
Naruto mengangguk kencang. "Kami sudah saling mengenal," katanya menutup buku sketsa dan meletakkan pensil gambarnya ke kotak pensil.
"Ah, aku tahu, kalian pasti sudah bertemu untuk membicarakanlaunchingprodukmu. Iya, kan?"
"Benar," sahut Naruto. "Tapi, kami juga sudah saling mengenal sebelumnya."
Kening Itachi berkerut dalam, saat mendengarnya. "Kenapa Sasuke tidak mengatakan padaku, jika sebenarnya kalian sudah saling mengenal?"
"Entahlah," jawab Naruto seraya mengangkat kedua bahunya. "Nii-sanmau aku buatkan kopi?" tawar Naruto seraya berjalan menuju counter kecil. Counter itu sengaja dia buat di dalam ruang kerjanya, agar dia tidak perlu bolak-balik ke pantry bila ingin membuat secangkir kopi.
"Boleh," kata Itachi. "Kopi hitam dengan sedikit gula dan susu."
"Ok."
"Kau belum mencari pekerja?"
"Sudah, baru minggu depan mereka mulai bekerja."
Itachi mengangguk dan menatap ke sekeliling ruang kerja Naruto yang lumayan luas. Sangat nyaman, puji Itachi dalam hati. Hingga akhirnya mata Itachi menangkap karangan bunga mawar merah besar yang diletakkan di sudut ruangan itu.
"Ini," kata Naruto seraya menyodorkan secangkir kopi panas pada Itachi.
"Arigatou," balas Itachi, dia menerima cangkir itu dan meletakkannya di atas meja. "Kau suka mawar merah?"
"Tidak juga," jawab Naruto yang saat ini sudah kembali duduk di kursi kerjanya yang nyaman.
"Jadi itu dari penggemarmu?" tanya Itachi menunjuk ke arah karangan bunga mawar merah.
"Aku tidak tahu, tidak ada kartu apapun di karangan bunga itu."
"Mungkinkah itu dari Sasuke?"
"Entahlah, seharusnya Sasuke mengabariku jika dia mengirimku buket bunga. Apalagi ini sudah satu minggu, aku malah jadi takut."
"Kau sudah menghubungi Sasuke? Mungkin saja karangan bunga itu dari ototouku."
"Aku belum menghubunginya," kata Naruto menyandarkan diri pada punggung kursi kerjanya. "Saat ini Sasuke sedang sibuk, dua hari lagi dia pulang, aku akan bertanya pada Sasuke saat dia pulang nanti," jawab Naruto dengan senyum tipis.
Itachi dan Naruto terus mengobrol, sebagian besar berisi pujian Itachi terhadap Sasuke. Tujuan Itachi sangat nyata, dia berusaha untuk melukis kesan baik tentang Sasuke pada Naruto. Dia sangat ingin Naruto untuk menjadi adik iparnya. Itachi tahu, Sasuke selalu lambat jika menyangkut tentang romansa. Karena itulah, dia sendiri yang akan turun tangan untuk menjodohkan Sasuke dan Naruto.
Itachi melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Sudah jam makan siang rupanya, mau makan bersama kami? Tapi, aku harus menjemput kekasihku dulu."
"Bolehkah? Apa aku tidak mengganggu?" Naruto merasa tidak yakin jika harus makan siang bersama Itachi dan kekasihnya, dia takut menjadi pengganggu.
"Tidak masalah, malah akan lebih ramai jika kita makan bertiga."
Naruto tersenyum mendengarnya, dia segera menyambar tas tangannya dan mengikuti Itachi berjalan keluar kantor.
"Itachi-nii, ngomong-ngomong kenapa hari ini nii-san bisa keluar kantor seharian?"
"Aku mengambil cuti," jawab Itachi santai.
"Heeee...?"
"Aku juga karyawan, aku berhak mengambil cuti." Kata Itachi membela diri, seraya membukakan pintu mobil untuknya.
Naruto tersenyum mendengarnya, berdiri tepat di samping Itachi. "Nii-san, lebih baik aku di belakang saja," tolak Naruto lembut.
"Tidak apa-apa, Dei pasti mengerti," sahut Itachi memaksa Naruto untuk duduk di kursi depan. Naruto sempat ragu, namun akhirnya dia duduk juga di sebelah Itachi.
Itachi memasang sabuk pengamannya dan melirik sekilas ke arah Naruto. "Ruko, jangan kaget kalau nanti kau bertemu dengan kekasihku."
"Maksudnya?" Naruto mengernyit tidak mengerti.
"Kekasihku laki-laki." Jawab Itachi tenang, namun dia tertarik dengan reaksi Naruto setelah mendengarnya.
"Oh," kata Naruto pendek tanpa rasa kaget sedikitpun.
"Kau tidak kaget?" tanya Itachi yang sudah mulai memanaskan mesin mobilnya.
"Tidak," jawab Naruto jujur.
"Kok bisa?"
"Aku sudah menebaknya dari awal," jawab Naruto jujur.
"Maksudmu?"
"Bagaimana yah? Aku sebenarnya heran, bagaimana seorang pria mapan dan tampan seperti nii-san tidak pernah terdengar terlibat asmara dengan seorang wanita. Karena hal itulah aku mulai menebak, mungkin kau menyukai sesama jenis."
"Begitu?"
Naruto mengangguk. "Selain itu, alasan lainnya adalah nii-san juga tidak tertarik pada wanita cantik seperti aku!"
Itachi tergelak mendengar penuturan Naruto yang kedua, dia sama sekali tidak menyangka jika Naruto bisa bersikap narsis. "Memangnya kau cantik?"
"Tentu saja aku cantik," dengus Naruto. "Karena aku adalah wanita, dan pada dasarnya setiap wanita itu cantik."
"Aku ingin sekali mencubit kedua pipimu, boleh aku mengacak rambutmu?"
"Tidak," jawab Naruto cepat, sementara Itachi hanya terkikik. Dalam hati, dia semakin meneguhkan Naruto, untuk menjadi adik iparnya.
Hanya memerlukan waktu lima belas menit bagi Itachi untuk sampai ke kantor kekasihnya. Sebelum pergi, dia sudah mengirim email pada Deidara, jika dia akan menjemputnya untuk makan siang, bersama calon adik iparnya.
"Itu kekasihku," tukas Itachi saat dia melihat Deidara sudah berdiri di depan pintu lobby untuk menunggunya.
Naruto tersentak kaget saat melihat sosok Deidara. Kenapa dunia begitu sempit? batin Naruto miris. Naruto berusaha untuk tersenyum dan mempertahankan air mukanya. Aku harus bersikap normal, katanya dalam hati.
Itachi menghentikan kendaraannya tepat di depan Deidara. Keluar dari dalam mobil, berjalan memutar dan membukakan pintu penumpang untuknya. Tanpa banyak bicara, Deidara langsung masuk dan duduk dengan nyaman. Membiarkan udara dingin dari AC menyejukkan wajahnya yang panas karena cuaca di luar.
"Kau tidak akan mengenalkanku padanya?" tanya deidara saat Itachi sudah kembali masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman. Itachi tersenyum dan menengok ke arah Deidara. "Ini Uzumaki Naruko, calon adik iparku. Dan Naruko, ini Deidara, kekasihku."
Naruto terlalu sibuk untuk bisa mendengar kata 'calon adik ipar' dari mulut Itachi, dia sibuk untuk menormalkan detak jantungnya, sibuk untuk mempertahankan air mukanya, dan sibuk untuk memaksa bibirnya agar tersenyum manis sebelum berbalik menghadap Deidara.
"Uzumaki Naruko, yoroshiku!"
Wajah Deidara menjadi pucat seketika, tubuhnya kaku saat wanita yang dikenalkan Itachi sebagai calon adik iparnya itu berbalik untuk bersitatap langsung dengannya. Tangan Deidara bergetar, jantungnya seakan meloncat keluar, sementara suaranya entah hilang kemana. Bulir-bulir keringat mulai mengalir dari pelipis Deidara, tubuhnya belum sanggup untuk memberikan tanggapan pada perintah yang diberikan otaknya.
Tangan Naruto mengambang di udara, karena Deidara sama sekali tidak menyambut uluran tangannya. "Dei-nii, anda baik-baik saja?" tanya Naruto yang melihat wajah Deidara semakin pucat.
"Dei, kau kenapa?" tanya Itachi khawatir.
Deidara menelan air ludah dengan susah payah, matanya mengerjap beberapa kali. Perlahan dia mulai mengatur napas dan detak jantungnya. Disambutnya uluran tangan Naruto yang masih mengambang di udara. "Se-senang bertemu d-denganmu," ucapnya terbata.
Naruto melayangkan senyum kecil, sebelum akhirnya kembali duduk dengan tegak dan mengarahkan pandangannya ke depan.
"Dei, apa kau sakit?" tanya Itachi yang menangkap sikap aneh kekasihnya itu.
"Tidak Tachi, aku baik-baik saja," jawab Deidara yang masih menatap sosok Naruto melalui kaca spion dengan tatapan menyelidik.
Sesaat keheningan menyelimuti perjalanan mereka, hingga akhirnya Itachi memutuskan rantai sunyi itu. "Kalian mau makan dimana?"
"Terserah," sahut Deidara datar.
"Aku ingin masakan Jepang," sahut Naruto semangat. "Dei-nii keberatan tidak jika kita makan siang disana?" tanya Naruto lembut.
"Tidak masalah," kata Deidara yang masih berjuang untuk sembuh dari kekagetannya. Deidara tidak mampu untuk menangkap pembicaraan antara Itachi dan Naruto, dia masih terlalu terkejut melihat sosok yang duduk tepat di samping Itachi.
Namanya Uzumaki Naruko, tapi kenapa wajahnya begitu mirip dengan Naruto? tanya Deidara dalam hati. Apa saat ini aku sedang berhalusinasi? aku pasti berhayal, Naruto sudah lama meninggal. Tidak mungkin orang meninggal bisa bangkit dari kubur.
Deidara bahkan tidak sadar saat Itachi membelokkan kendaraannya untuk masuk ke tempat parkir restoran Jepang yang mereka tuju. "Dei?" panggil Itachi. "Dei," panggilnya lagi, tapi masih saja tetap tidak ada respon. "Deidara?" panggil Itachi lebih keras.
"Hai," jawab Deidara terperanjat kaget. "Ada apa?"
"Kau melamun?"
"Tidak," sanggah Deidara cepat. "Naruko mana?" tanya deidara saat melihat kursi penumpang di depannya kosong.
"Ruko sudah turun lebih dulu, mau ke toilet katanya." Jelas Itachi, sambil menggandeng tangan Deidara untuk keluar dari dalam mobil. "Kau itu sebenarnya kenapa? Wajahmu pucat setelah melihat Naruko."
"Jadi namanya memang Uzumaki Naruko?"
Itachi mengangguk. "Dimana kau mengenalnya?" tanya Deidara penuh selidik.
"Dia cucu dari kolega ayah, dia calon adik iparku Dei. Kau tidak perlu cemburu pada Ruko," terang Itachi yang salah paham akan sikap Deidara.
"Aku tidak cemburu," sanggah Deidara cepat dengan ekspresi serius.
"Lalu?"
"Ceritanya panjang, aku sendiri sudah menguburnya rapat-rapat."
"Aku ingin mendengarnya Dei," bujuk Itachi lembut.
Deidara melirik ke arah Itachi dan menghembuskan napas panjang. "Aku akan menceritakannya, tapi kau harus berjanji padaku."
"Janji apa?"
"Jangan membenciku, jika kau sudah mendengar cerita masa laluku."
Itachi mengernyit bingung, namun akhirnya dia tersenyum kecil dan menjawab lirih. "Aku janji Dei."
Pembicaraan mereka terpotong tepat di pintu depan restoran. Seorang waiter membungkuk, menyambut kedatangan mereka dan membukakan pintu dengan senyum terkembang. Naruto sudah berdiri menunggu keduanya di dekat meja kasir. Itachi langsung memesan sebuah ruangan VIP untuk mereka bertiga. Memisahkan ketiganya dari tamu lain, agar lebih nyaman. Naruto dan Deidara menyerahkan pilihan menu pada Itachi, dan beginilah akhirnya, meja makan mereka penuh oleh makanan yang mungkin cukup untuk mengisi perut sepuluh orang.
"Ini sangat berlebihan, Tachi-nii," kata Naruto yang masih memegang sumpitnya ke udara.
"Tidak, ini porsi yang pas untuk kita bertiga," kilah Itachi santai.
"Kalau begitu, kau yang harus menghabiskan sisanya!"
"Ok," balas Itachi. Dia mulai mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan berkata lirih. "Itadakashimasu!"
"Itadakashimasu!" sahut Naruto dan Deidara bersamaan.
.
Perut Naruto sudah setengah terisi saat dia mendengar nada panggilan masuk dari telepon genggamnya. Dia merogoh tas tangannya dan mengeluarkan telepon genggamnya.
"Baa-san?" kata Naruto lirih, saat melihat nama pemilik nomor telepone yang masuk.
"Moshi-moshi?"
"..."
"Ruko sedang makan siang dengan Tachi-nii, ada apa baa-san?"
"..."
"Ok, Ruko segera kesana."
"Tidak perlu dijemput, Ruko naik taksi saja."
"..."
"Hai, wakatta. Jaa nee," kata Naruto menutup pembicaraan keduanya dan mengembalikan telepon genggamnya kembali ke dalam tas.
"Ada apa Ruko?"
"Gomen Tachi-nii, Dei-nii, Ruko harus segera pulang. Baa-san meminta Ruko untuk pulang ke rumah utama secepat mungkin."
"Apa ada sesuatu terjadi?" tanya Itachi lagi.
"Kurasa tidak," sahut Naruto tersenyum. "Sepertinya baa-san hanya merindukanku. Lebih baik aku segera kesana, sebelumbaa-san menurunkan satu kompi pasukan untuk menyeretku pulang," kata Naruto sedikit berlebihan.
"Ayo... biar aku antar."
"Tidak perlu, lagipula Tachi-nii harus menghabiskan semua makanan ini. Aku naik taksi saja."
"Kau yakin?"
"Tentu," jawab Naruto mantap.
Naruto membungkuk hormat pada Itachi dan Deidara. "Senang bertemu denganmu Dei-nii, semoga kita bisa bertemu lagi."
"Ha'i, senang bertemu denganmu juga." Jawab Deidara lirih.
Setelah itu, Naruto pun segera keluar, menggeser pintu ruangan dan menutupnya kembali, menyisakan keheningan yang menggantung di udara setelah kepergiannya. "Sikapmu semakin aneh Dei, bisakah kau menceritakan semuanya sekarang?"
Deidara meneguk air ludah dan menatap Itachi dengan pandangan sedikit kabur, buliran air mata mulai berebut untuk mengalir turun. "Semuanya bermula saat aku duduk di kelas satu SMA," kata Deidara memulai pembicaraan serius mereka.
.
Itachi duduk diam menatap tak percaya pada Deidara, kekasihnya itu masih menceritakan tentang kejadian masa lalunya dengan seseorang yang mirip dengan Naruko. Deidara terisak beberapa kali, air mata yang turun dia hapus dengan cepat.
"Jangan menatapku seperti itu, Tachi. Aku sudah cukup merasa bersalah selama ini," kata Deidara setelah dia selesai menceritakan semuanya.
"Kenapa kau tega melakukannya?"
"Sasori sahabatku, selain itu, saat itu ayahku memiliki hutang yang sangat besar pada Kazekage. Beliau mengancam akan menghancurkan perusahaan ayahku, jika aku tidak mau memberikan kesaksian palsu untuk Sasori."
"Tapi, karena hal itu seseorang meregang nyawa," tukas Itachi menahan emosi.
"Aku sangat menyesal Tachi, bahkan sampai sekarang, aku bahkan masih belum bisa memaafkan diriku sendiri."
"Lalu dimana pria yang bernama Sasori itu?"
"Aku tidak tahu," jawab Deidara jujur. "Setelah Naruto meninggal, aku memutuskan untuk pindah sekolah dan memutuskan hubungan dengan Sasori. Aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya atau keluarga besarnya."
"Dan katamu, Naruko begitu mirip dengan Naruto?"
"Benar," jawab Deidara lemah.
"Apa sangat mirip?"
"Wajah mereka sama, hanya saja sifat mereka berbeda," jelas Deidara.
"Maksudmu?"
"Naruto sangat pendiam, sedangkan Naruko begitu energik dan ceria."
"Souka?"
"Tachi, apa kau membenciku?"
"Tidak," jawab Itachi mantap.
"Benarkah?"
"Aku memang kecewa Dei, tapi nasi sudah menjadi bubur. Yang penting kau sudah menyesal, dan berjanjilah, jangan sampai terulang kembali."
"Ya, aku berjanji!"
Dilain tempat, Naruto memerlukan waktu hampir satu jam untuk sampai di rumah utama. Dengan langkah cepat dia masuk ke dalam rumah dan mencari Mito.
"Iruka-san, Baa-sandimana?" tanya Naruto saat berpapasan dengan Iruka di teras rumah berlantai vinyl.
"Mito-sama ada di ruang kerjanya hime," jawab Iruka penuh hormat.
"Berhenti memanggilku Hime!" gerutu Naruto tidak suka.
"Tapi anda memang hime, anda putri untuk keluarga ini, dan putri bagi kami semua." Jelas Iruka sopan.
"Baiklah terserah," sahut Naruto menyerah. "Ngomong-ngomong, kenapa baa-san memanggilku dengan tiba-tiba?"
"Saya kurang tahu."
"Yakin?" tanya Naruto penuh selidik.
"Benar, saya tidak berbohong."
"Baiklah, kalau begitu lebih baik aku mencari baa-san. Jaa nee Iruka-san."
"Jaa..."
Naruto berjalan melalui lorong-lorong rumah utama menuju ruang kerja Mito yang berada di sebelah kamar tidur wanita tua itu, mengetuk pintu dan masuk ke dalam setelah diijinkan.
"Konichiwa, Baa-san," sapa Naruto seraya memeluk erat Mito.
"Konichiwa Ruko," balas Mito. "Kau agak kurus sekarang, apa kau makan dengan baik?" tanya Mito yang melihat pipi Naruto semakin tirus.
"Tentu saja," jawab Naruto. "Aku hanya sedikit lelah karena persiapan launching nanti."
"Jaga kesehatanmu, Naruko!"
"Hai, wakatta." Naruto duduk dengan nyaman di sebuah sofa panjang berwarna putih, tangannya mengambil sebuah foto yang diletakkan pada meja cabinet di samping sofa. Foto itu adalah foto dirinya dan Mito yang tersenyum bahagia, diambil saat Naruto lulus kuliah. Disana Naruto masih mengenakan toga dan menggenggam gulungan ijasahnya dengan bangga.
"Rasanya baru kemarin kau lulus," tukas Mito saat melihat Naruto tersenyum dan menatap rindu pada foto yang dia pegang.
"Benar, dan untuk Ruko, rasanya baru kemarin Ruko menginjakkan kaki ke rumah ini," katanya setengah berbisik. "Serasa mimpi, Ruko masih bisa hidup hingga hari ini, lulus kuliah dan memiliki rumah mode sendiri."
Dengan lembut Mito mengecup puncak kepala Naruto sebelum duduk di sebelah Naruto. "Malam ini kau ada acara?"
"Tidak, kenapa?"
"Jam tujuh malam nanti baa-san ada undangan pesta peresmian produk baru milik Hyuuga Group, tolong temani baa-san kesana."
"Siap," jawab Naruto semangat.
Mito tersenyum kecil mendengarnya. "Kau mau bersiap disini, atau mau ke apartemen dulu?"
"Disini saja, dan sepertinya untuk malam ini aku akan menginap di sini."
"Baiklah kalau begitu, sekarang baa-san harus kembali ke kantor. Kau harus sudah siap pukul enam sore nanti, mengerti?"
"Hai, wakatta."Naruto meletakkan kembali pigura foto yang masih dia pegang ke tempatnya semula, mencium pipi kiri Mito dan tersenyum kecil. Mito berdiri, mengacak rambut Naruto penuh kasih dan bergegas untuk kembali ke kantor.
Di tempat lain, Sasori menyeringai saat membaca hasil laporan dari anak buahnya. Dia cukup puas dengan semua laporan yang ada di tangannya. Keingintahuannya tentang Uzumaki Naruko, berubah menjadi obsesi untuk memiliki. "Aku pasti mendapatkanmu cantik, wajahmu yang serupa dengan Naruto, menjadikan nilai lebih untuk mendapatkanmu!"
Sasori meraih gagang telepon, menunggu beberapa saat hingga terdengar jawaban dari seberang sana. "Besok kirimkan lagi karangan bunga mawar merah besar ke kantor Uzumaki Naruko!"
"..."
"Tidak perlu menulis berita dan pengirim, lakukan saja seperti biasa!" katanya seraya menutup telepon dan meletakkannya kembali sedikit keras. Sasori memang memerintahkan sekretaris pribadinya untuk melakukan semua yang diperintahkannya dengan rapih, terutama pekerjaan yang berhubungan dengan usahanya untuk mendapatkan Uzumaki Naruko.
.
Tepat pukul enam sore, Mito dan Naruto berangkat ke Hotel Konoha, tempat dilangsungkannya perayaan peluncuran produk baru dari Hyuuga Corp. Jalanan sedikit macet sore ini, menyebabkan mereka berdua sedikit terlambat. Kedatangan Mito dan Naruto disambut langsung oleh Hyuuga Hiashi.
"Selamat datang Mito-sama, terima kasih anda sudah berkenan untuk datang," sambut Hiashi sopan.
Mito mengangguk dan tersenyum kecil. "Akulah yang harus berterima kasih, terima kasih karena sudah berkenan untuk mengundangku."
"Bukankah gadis cantik ini Naruko? Bagaimana bisa kau tumbuh semakin cantik?"
"Terima kasih paman, senang bisa bertemu dengan paman kembali."
"Paman juga sangat senang," kata Hiashi tulus. Mito dan Naruto segera berbaur dengan tamu yang lain untuk menikmati pesta malam ini. Naruto diharuskan untuk memberi salam pada semua kolega Uzumaki. Disana Naruto bertemu dengan Fugaku, Mikoto dan Itachi, lalu kedua orang tua Shikamaru, orang tua Kiba dan beberapa kalangan elit lainnya.
Sesosok pria terus mengamati Naruto dari sudut ballroom hotel sejak kedatangan wanita itu, matanya memandang Naruto dengan tatapan lapar, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia terus mencari celah saat Naruto sendiri, terbebas dari semua koleganya untuk mendekatinya.
Senyum tipisnya terus terukir, dia tak henti-hentinya berdecak kagum melihat penampilan Naruto yang mengenakan kimono berwarna putih dengan list pink muda pada obi. Gambar bunga sakura dan peony terlukis cantik pada kain sutra kimono Naruto. Setiap kali dia berjalan, tatapan kagum para tamu terpancar begitu jelas, membuat pria itu harus mengepalkan tangan karena tidak suka.
Pria itu menyeringai saat mendapati Naruto berdiri di salah satu stand makanan seorang diri. Perlahan namun pasti, pria itu berjalan semakin dekat. Naruto baru saja selesai memilih makanan ringan untuk mengganjal perutnya yang kosong, dia hendak berbalik menuju tempat Hinata berdiri saat matanya melihat sosok itu. Sosok yang merupakan mimpi buruknya, hanya Tuhan yang tahu bagaimana caranya Naruto bisa bersikan tenang dan berjalan melewati pria itu seolah-olah tidak mengenalnya. Naruto hampir saja sukses melewati Sasori, namun pria itu berjalan mundur beberapa langkah dan menghalangi langkah Naruto.
"Permisi, saya mau lewat," kata Naruto sopan. Namun Sasori bergeming, dia terus menatap Naruto dengan intens, membuat hati Naruto menjerit karena mengingat hal buruk yang pernah terjadi pada dirinya dulu.
"Nama saya Sabaku Sasori, boleh saya tahu nama anda nona?" tanya Sasori basa-basi.
"Uzumaki Naruko, yoroshiku!" jawab Naruto sesopan mungkin, dia ingin segera pergi menghindar dari Sasori. Naruto bisa merasakan ancaman yang membuat bulu kuduknya sedikit meremang. "Permisi tuan, kawan-kawan saya sudah menanti."
"Jangan pergi!" Sasori terus menghalangi langkah Naruto dan menyunggingkan senyum ramah yang dibuat-buat. "Saya ingin sekali berbincang dengan anda Uzumaki-san."
"Tapi saya harus pergi," Naruto terus berusaha untuk melarikan diri, tapi pakaian yang dikenakannya membuat pergerakannya sedikit terhambat. Naruto hanya bisa berharap jika neneknya atau siapa pun menyelamatkannya dari Sasori.
"Ngomong-ngomong, apa anda suka karangan bunga mawar yang saya kirimkan pada anda satu minggu ini?" tanya Sasori, memaksa Naruto untuk tetap diam di tempat.
Keringat dingin mulai keluar dari pelipis Naruto, dia sama sekali tidak pernah membayangkan jika ternyata Sasori-lah yang mengirimkan bunga-bunga mawar itu padanya. "Terima kasih banyak, tapi sejujurnya saya tidak terlalu menyukai mawar merah."
"Tidak masalah, besok saya akan menggantinya dengan jenis bunga lain. Apa bunga kesukaan anda nona Uzumaki?" Sasori kembali bertanya dan menjulurkan tangannya menuju pipi Naruto, semenjak melihat foto Naruto, dia sudah memiliki keinginan untuk menyentuh kulit putih Uzumaki Naruto yang nampak begitu lembut. Namun sebelum tangannya sampai di pipi Naruto, seseorang meraih pergelangan tangan Sasori dan memerintahkannya dengan nada tajam. "Tinggalkan nona ini sendiri!"
.
.
.
TBC
