Dorm XOXO

.

.

.

.

.

.

Lay mengetuk pintu ruang kesehatan. Dia terus menggerutu karena ternyata tubuh Suho berat juga. Asal tahu saja, jika bukan ia yang melakukannya, mana sudi dia menolong laki-laki ini.

Dan sudah berkali-kali ia mengetuk pintu dan menyahut, tidak ada jawaban dan pintunya terkunci.

Tok tok tok tok!

"Guru Kim! Apa kau di dalam?" sahutnya memanggil Guru Kim—guru kesehatan. Dan lagi-lagi tidak ada jawaban jadi ia berdecak kesal. Kampret.

Karena ia tidak mau lengannya lepas karena tidak kuat membopong Suho, ia menyandarkan Suho di sebelah pintu ruang kesehatan. Ia mengetuk pintu itu lagi. "Guru Kim, apa kau di dalam? Aku membutuhkan bantuanmu!"

Tidak ada jawaban. Dia memperhatikan wajah Suho yang tidak sadarkan diri.

Tampan.

Eh—

Tidaktidaktidaakkkk.

Lelaki kelahiran Changsa itu pun berkacak pinggang, menghela nafas.

Dia balik badan untuk mendekati sebuah kaca yang memantulkan bayangan wajahnya yang manis. Yah, walaupun di pipinya ada tanah.

Lay merogoh saku celananya, mencari tisu untuk membersihkan tanah di pipinya. "Sial, tisunya habis," gerutunya ketika yang ia dapatkan hanya bungkusnya.

Terpaksa, ia menyeka tanah di pipinya dengan lengan jas seragamnya. Itu membuat lengan jasnya kotor. Bodoh kau Zhang Yixing, rutuknya dalam hati. Lalu dia membalikkan badannya lagi untuk melihat Suho yang tidak sadar-sadar itu.

"Aku tidak yakin jika orang ini pingsan," gumamnya sambil mengernyit. Dia berjalan perlahan mendekati Suho. "Atau dia pingsan dan terbawa tidur?"

Lay menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ah, bahkan dia bangun tidur setelah Kai."

Ia mendudukkan dirinya disebelah Suho yang pingsan—Lay ragu dia pingsan betulan atau bohongan—menatap wajahnya. Lalu ia menatap dinding di depanya dengan pandangan kosong.

Untung saja daerah ini tidak ada siapa-siapa alias hanya ia dan Suho saja. Kalau disitu ramai, pasti dia akan dikira membully Suho.

Hampir saja Lay memejamkan matanya kalau tidak ada yang—"Junmyeon-ssi? Yixing-ssi?"

Lay mendongakkan kepalanya. Ternyata itu guru Kim, guru kesehatan. Lay segera berdiri dan sedikit membungkuk. "Ah, Halo," sapanya.

"Halo. Err...kau kenapa duduk disini?" tanya guru Kim sambil membuka pintu ruang kesehatan. "Aku sedang menunggumu,"

Guru Kim membentuk huruf O dengan bibirnya. "Aku tadi ada di ruang guru, mengapa kau tidak bertanya?"

Oh iya.

Lay lupa dengan peribahasa 'malu bertanya sesat di jalan'.

Lay hanya meringis. Guru Kim melirik suho yang masih tidak sadarkan diri. "Astaga. Dia kenapa, Yixing-ssi?" tanya guru Kim sambil menujuk Suho.

"Tadi aku melemparnya dengan batu—hehe," jawab Lay sambil memasang tampang watados. Guru Kim membulatkan matanya. "Astaga. Cepat bawa masuk."

Lay mengangguk cepat dan dengan sigap ia membopong Suho. Ia merutuki badan Suho yang ternyata kecil tapi berisi. Siaaall.

Guru Kim membantu Lay untuk meletakkan Suho di brankar. Setelah itu, guru Kim memeriksa pelipis Suho setelah ditunjukki Lay mana yang berdarah. Setelah memeriksanya, Guru Kim menghela napas.

"Tidak. Dia baik-baik saja, aku akan mengobati lukanya," ucapnya sambil tersenyum. Lay hanya mengangguk dan memasang wajah masam.

"Err..Guru Kim?" sahut Lay. Guru Kim hanya berdengung sebagai respon. "Apakah sesakit itu? Kenapa dia bisa pingsan?"

Guru Kim menggeleng. Lalu dia sedikit mencubit pinggang Suho dan—"aw!" Suho memekik. Lay menaikkan alisnya.

Jadi...jadi...SUHO HANYA PURA-PURA.

OH.

OH.

OH.

MATI KAU KIM JUNMYEON.

"A-aw, apa yang lakukan guru Kim? Dan—oh, halo Lay," gerutu Suho dan setelah melihat wajah datar Lay dia nyengir ria. Suho mengubah posisinya menjadi duduk, ia sedikit melakukan peregangan tidak tahu bahwa emosi Lay sudah sampai ubun-ubun. "Terima kasih sudah—"

BUAAAGH

"RASAKAN INI KIM JUNMYEEEOOOONN!"

"AAARGGG"

"YIXING-SSI! KAU AKAN MEMBUATNYA BENAR-BENAR PINGSAAAN!"

Fufufu. Dan Suho benar-benar pingsan.

.

.

.

.

Dan...disinilah Chanyeol dan Baekhyun berada.

Kantin.

Memperdebatkan hal sepele. Lagi.

"CHANYEOL! Aku tidak mau tahu, es krim itu milikku karena aku datang duluan kesini!"

"Apa? Tapi aku sudah memesannya DUA HARI YANG LALU, Baekhyun!"

"Mau kau memesannya dua abad yang lalu pun, AKU. TIDAK. PE-DU-LI. Aku yang membelinya. Kau kan baru memesan!"

"Tapi aku sudah mencegah Bibi Lee untuk tidak ada seorang pun yang membelinya,"

"HISH! Tapi Bibi Lee memberinya!"

Kalian tentu tahu apa yang diperdebatkan mereka, bukan?

Ah, sepertinya tidak terlalu jelas, ya. Baiklah.

Jadi begini, Baekhyun pergi ke toilet, sekalian membolos. Tadinya, ia ingin ke atap, tapi ia bakal mati kebosanan disana. Karena ia haus juga lapar, ia pun pergi ke kantin. Dan Baekhyun memutuskan membeli es krim.

Ia membeli es krim rasa stroberi yang dicampur vanilla. Lalu, tiba-tiba datanglah Chanyeol mengklaim bahwa es krim cup itu miliknya. Padahal tadi Baekhyun yang membelinya duluan. Tapi Chanyeol bilang ia memesannya pada Bibi Lee—penjual es krim—dua hari yang lalu. Dan akhirnya mereka bertengkar.

"Aku tidak mau tahu. Es krim di tanganmu itu milikku," ucap Chanyeol menatap Baekhyun sengit. Baekhyun mendengus. "In your dream Park-ssi."

Chanyeol menarik paksa es krim cup dari tangan Baekhyun dan—terjadilah tarik-tarikan se-cup es krim.

"INI PUNYAKU, CHANYEOL!"

"AKUUU SUDAH MEMESANNYA!"

"I DON'T CARE!"

"BRING BAACCKKK!"

"NEVEEEERRR!"

"UURRRGGHH—AH!"

"AARRRRGHH—OH!"

Entah bagaimana, es krim itu terpental dan mengenai..

Guru Ahn.

Guru fisika kita yang terhormat.

"Baek. Lari. Sekarang," Chanyeol berbisik. Ia sudah mau mengambil ancang-ancang melihat Guru Ahn mulai menyadari siapa yang melemparinya es krim. Baekhyun mengangguk cepat.

"Now."

"LAAAARIIIII!"

"PARK CHANYEOL! BYUN BAEKHYUN! KURANG AJAR!"

.

.

.

.

-skip time-

Sore telah tiba.

Sebagian besar siswa SM Boys Senior High School sudah masuk ke asramanya. Sebagiannya lagi, ada yang masih berkeliaran di komplek asrama. Ada yang bermain di lapangan, atau sekedar membeli jajanan. Benar-benar suasana komplek.

Sekolah ini bentuk asramanya memang seperti komplek perumahan warga. Ada warung, lapangan untuk olahraga seperti lapangan basket dan lapangan sepak bola, dan juga danau buatan. Indah dan tentunya mahal.

Dua orang siswa dari sekolah itu, berjalan santai menuju asramanya sembari menenteng tas plastik dengan isi penuh. Chen dan Xiumin.

Dua orang terdamai di dorm XOXO. Seperti yang kita ketahui, mereka baru saja pulang membeli makanan ringan juga buah-buahan untuk di dorm mereka. Atau...mereka membolos seharian? Ah hanya mereka yang tahu. Yang bikin saja tidak tahu;p

Ting Tong~

Chen menekan bel asramanya. Tidak ada respon.

Ting Tong~

Kali ini Xiumin dan hasilnya sama.

Ting—

"BUKA SAJA BODOH! TIDAK DIKUNCI!"—Lay

Xiumin menaikkan alisnya, menatap Chen sejenak lalu menggeser pintu yang memang pintu geser.

Dan—wow.

Baru saja mereka menapakkan satu langkah di dalam asrama, mereka seperti disuguhkan adegan kapal Titanic. Amazing.

Mari kujelaskan bagaimana keadaannya.

Di depan televisi, ada Suho yang terkapar lemas dengan plester di dahinya dan tangannya memegang kantung es ke pipinya. Di sofa, banyak kain-kain—mereka melihatnya kain—tas-tas juga buku-buku entah punya siapa berserakan di lantai. Dua kaleng cola tergeletak diatas televisi.

Di meja makan, ada Kai sedang memakan ramen sesekali melemparkan daging ke Monggu. Itu membuat Xiumin jijik. Lay sedang membaca buku sambil memakan kacang dan melemparkan si kulit kacang ke lantai. Luhan melamun sembari mengaduk-aduk susunya yang sudah tumpah-tumpah tanpa meminumnya.

Yang lainnya entah kemana.

Sampah-sampah berserakan di lantai, juga noda-noda. Sepatu ditumpuk begitu saja di dekat dapur. Dan kursi yang ada di dekat kompor terbalik. Dapur juga—ew, siapa yang muntah disitu? pikir Chen. Padahal itu adalah oatmeal yang ditumpahkan Tao.

"Hm..halo?" sahut Chen. Luhan, Kai, Suho, dan Lay menoleh ke mereka sekilas. "Ya, halo..." sapa mereka kompak.

Xiumin dan Chen mulai melangkahkan kakinya menuju meja makan dan menaruh belanjaan mereka ke situ. Enggan membereskannya. "Kkamjong, yang lain kemana?" tanya Chen.

"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu Kris hyung sedang luluran di kamar mandi," jawab Kai sekenanya tetap fokus ke ramennya. Chen mendengus. Dasar seme berhati uke, batinnya.

Luhan terlihat menggeledah isi kantung plastik yang dibawa Xiumin juga Chen. "Banyak sekali...oh, pantas tadi Xiumin tidak ada di kelas," ujar Luhan. Xiumin mengangguk sambil duduk di sebelah Lay.

"Apelnya tadi kutendang dan aku harus menggantinya lalu kami akhirnya berbelanja sebanyak ini," ucapnya santai. Chen mengamini. "Yeah. Dia benar."

Chen berjalan menuju kamarnya dan kamar penghuni kamar nomor satu. Matanya sukses membelalak ketika melihat keadaan kamar ini juga berantakan seperti di luar.

Bagaimana responmu ketika melihat kamar dengan enam tempat tidur single dan enam dari duanya terbalik? Atau bagaimana jika sampah makanan ringan menggunung di sudut kamar? Atau poster-poster yang tertempel disana sudah mau lepas? Buku-buku pelajaran berserakan di lantai?

Pasti kau akan histeris. Kecuali jika kau bukan tipe orang yang hiperbolis atau kalem.

Di dalam sana, ada Chanyeol yang tertidur di kasurnya dengan noda es krim di seragamnya yang tidak terkancing. Lalu Sehun sedang anteng memainkan PSP-nya. Kris sedang menelpon dengan hanya menggunakan bathrobe.

Sehun melirik Chen yang terdiam di ambang pintu. "Oh hai, hyung. Tadi Chanyeol hyung mencari ponselnya hingga kasurmu dan kasur Suho hyung terbalik. Suho hyung mencari buku matematikanya dan maaf tadi aku dan Kai ngemil disini."

Wow. Kau hebat, Sehun! Kau menjawab bahkan Chen belum menanyakannya. Chen hanya mengangguk. "Its okay."

Chen berbalik badan lagi. "Lalu poster?"

"Baekhyun dan Chanyeol hyung habis perang."

Sesudah ia mendapatkan jawaban dari Sehun, ia membalikkan kasurnya, ia terlalu malas untuk marah-marah. Dia melepaskan jas seragamnya, kemejanya, jadi ia hanya memakai celana seragam dan kaos oblong. Daaan..ia menghempaskan dirinya ke kasur empuk itu.

Dia melirik Chanyeol yang ada di sebelahnya. Ya, dia ada di sebelah Chanyeol, Chanyeol di tengah dan di kiri itu Kris. Ia di kanan. Lagi-lagi, ia malas bertanya mengapa Chanyeol seperti orang diperkosa.

"Ibu. Aku merindukanmu."

Itu suara Kris. Jarang sekali ia mendengar Kris berbicara dengan nada memelas. Pernah sekali ia mendengar Kris dengan nada memelas ketika ia meminta pinjam PR Luhan. Tapi Luhan tidak peduli, padahal rewardnya ia akan ditraktir lho.

"Iya bu, titipkan salam untuk nenek, ya. Bilang aku merindukannya juga mencintainya. Ya, bye."

Chen mengernyitkan dahinya.

Apa baru saja dia mendengar seorang Wu Yifan terisak?

.

.

.

.

-malam-

Suasananya seperti malam-malam sebelumnya. Sepi. Tapi kadang juga ribut. Lihat saja nanti. Pasti akan ada keributan apapun itu, entah teriakan Baekhyun dan Chanyeol, atau Sehun dan Luhan melakukan perang dingin, atau juga sambitan dari Lay.

Who knows, laaa.

Tapi sekarang benar-benar damai. Yang terdengar hanya suara televisi atau suara-suara seperti sret, grek, ctek, ting ting, uhuk, ehem, toktok, dan sebagainya.

"Kyungsoo, kau tidak memasak?" tanya Chen. Kyungsoo menggeleng sebagai respon. Kai yang melihat itu mengernyit. "Apa? Kau tidak masak? Lalu kami makan apa, huh?"

Chanyeol yang—dia sudah bangun—sedang menonton film, menegakkan tubuhnya dan menoleh kearah meja makan mendengar seruan Kai. "Huh? Kau bercanda, Kyung!"

JGREK!

"Whut? JADI AKU TIDAK MAKAN MALAM? HUWEEE," pekik Tao kala keluar kamar mandi. Kenapa yang bikin cerita demen banget munculnya Tao abis dari kamar mandi, ya? ah yadong emang.

Dasar tiga anak babi. (re:Kai, Chanyeol, Tao)

"Ada apa, huh? Ribut sekali," ujar Kris yang baru keluar dari kamar. Dia melirik Suho yang diam saja. "Yo, Ho! Kenapa?"

Suho menggedikkan bahunya cuek. "Mungkin tiga anak babi itu sedang dalam masa darurat karena pengasuh mereka tidak memasak,"

GREK

"SIAPA YANG KAU SEBUT ANAK BABI, HUH?"

"AKU BUKAN ANAK BABI, HYUNG!"

"AKU TERSINDIR!"

"DAN AKU BUKAN PENGASUH TIGA BABI ITU!"

Lihat? Peperangan pun segera dimulai.

Suho bersiul-siul. "Aku kan mengatakan fakta. Ya kan, Kris? kau tahu siapa tiga anak bab—AW!"

PLETAK

Tutup toples mendarat mengenai kepala Suho. Untungnya tidak kena luka yang dibuat Lay-_-

Dan pelakunya Huang Zi Tao dengan antek-anteknya—Chanyeol dan Kai juga Kyungsoo. Suho menoleh ke belakang dimana mereka berada.

"KAU YANG MULAI YA, HYUNG!"—Tao

Terlihat Chanyeol sedang menggulung kaos panjangnya. "MAJULAH KIM JUNMYEON HYUNG!" Chanyeol menggerakkan telunjuknya maju mundur.

"Aku bukan anak babi, bodoh," gerutu Kai melempar Suho dengan sumpitnya. Suho mengaduh. "Dasar!"

"DAN AKU TIDAK SUDI MENJADI PENGASUH TIGA ANAK BABI DI SAMPINGKU!"

Setelah Kyungsoo berteriak seperti itu, semua yang ada disana menoleh kearahnya. Suasana krik. "Err...apa?"

Tao memasang wajah sedih. "Kau tidak mau menjadi pengasuh kami?"

"E-eh,"

Baekhyun yang sedang berkutat dengan ponselnya menepuk bahu Tao. "Hei, Tao. Kau mengatai dirimu sendiri anak babi, bodoh."

"Eh?"

"HAHAHAHAHAHA"

Dan Suho tertawa senang disana. Kai dan Chanyeol juga Kyungsoo sweatdrop.

"GRRR SUHO HYUUUNGG!"

Tao menjambak rambut Suho. "AAAAAA SAKIT SAKIT!"

Suho menarik-narik baju adik kesayangannya itu. Dan entah bagaimana, pihak yang diejek Suho tadi ikut masuk ke peperangan itu. Kai yang juga emosi jadi pingin ikut.

Lalu lama-kelamaan mereka saling dorong, saling jambak, bahkan Tao dan Kai saling menarik hidung, sebelah kaki Chanyeol membelit pinggang Kyungsoo membuatnya sesak, dan tangan kirinya menarik hidung Suho. Suho sendiri menarik cambang Kai, kakinya menendang-nendang Tao, deesbe.

Baekhyun menghela nafas melihat pemandangan itu. Dia memutuskan duduk di sebelah Kris yang sedang anteng dengan ponselnya. Sesekali ia meneguk susu kaleng yang dibeli Chen tadi.

Melihat raut wajah Kris, sukses membuat persimpangan di dahinya. Wajah Kris datar, tapi menyiratkan kesedihan. Tidak biasanya. Biasanya, wajahnya terlihat angkuh dan so(k) cool. "Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun.

"Bukan urusanmu."

Baekhyun mendengus. Judes sekali, batin Baekhyun. Dia kan bertanya baik-baik, ketus sekali menjawabnya.

Trrrtt...

Baekhyun melirik ponsel Luhan yang bergetar di meja. Ia terlalu malas untuk beranjak membrinya ke Luhan, jadi dia angkat saja.

"Halo. Baek—"

"Luhan? Axingqkjnkwjnk! Sknskedwsdfghjkljdeejdjehdjd. Luhan, jehdkehdkehdkhgaknjkswn! Dedbkedebhdkeb—"

Baekhyun mengernyit. Orang disana masih saja mengoceh menggunakan bahasa mandarin. Baekhyun yang tidak bisa sama sekali bahasa mandarin menutup sambungannya.

"Gila," gumamnya. Dia menoleh ke sampingnya, Kris. Kris menatap Baekhyun dengan tatapan panik. Kembali, Baekhyun mengernyit. "Kenapa?"

"Ibu..ibu Luhan kecelakaan, bodoh!" ucap Kris dengan nada rendah. "Ba-bagaimana kau tahu?" tanya Baekhyun ikut merendahkan suaranya.

"Aku tadi mendengar paman yang tadi menelpon Luhan. Aku warganegara Cina, kau lupa, huh?" kata Kris. Baekhyun mengangguk-angguk sambil bergumam 'ohiyaya'.

Baekhyun menegakkan tubuhnya. "LUHAN HYUNG! IBUMU—MMHH!"

Saat Baekhyun berseru begitu, Kris langsung membekap mulut Baekhyun yang cukup frontal itu. Luhan menoleh ke arah Kris dan Baekhyun, lalu mengernyit. "Apa?"

Kris tersenyum tanpa dosa. "Tidak. Hehe." Kris menyunggingkan cengirannya yang membuat giginya terlihat maju. Luhan mengernyit kembali dan menggelengkan kepalanya. Sementara Baekhyun meronta-ronta seperti gadis hendak diperkosa.

Tidak ada jalan lain, ia pun menggigit ibu jari Kris lumayan keras.

"AAAAAAAAGGHH!"

.

.

.

Lelaki berambut merah itu—benar-benar merah, sungguh—mendesah pelan, ia bosan. Sehun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar yang ditempatinya bersama teman-temannya. Tidak ada siapa-siapa, hanya Sehun seorang disana.

Tapi ia mendengar teriakan-teriakan dari luar. Tanpa melihatnya pun Sehun tahu itu adalah suara-suara dari penghuni Dorm XOXO. Ia mendengar suara teriakan Kyungsoo yang berat-namun-melengking itu—suara Kyungsoo juga berat karena dia memang lelaki.

Sehabis pulang sekolah tadi, Sehun langsung menyambar PSP-nya dan memainkannya hingga sekarang. Tapi tadi sempat terhenti karena dia pergi mandi. Dan sekarang dia sudah kebosanan. Mati gaya, huh?

Sehun melirik ponsel Kai yang sedang ter-charger diletakkan di nakas pembatas kasurnya dan kasur Kai. Ia tidak pernah menyentuhnya. Ehm, maksudnya tidak pernah menggeledah isinya karena sang empu tidak pernah mengizinkan.

Dan sekarang orangnya tidak ada.

Ini kesempatan, Oh Sehun!

Dengan senyum jahat terpampang di wajah tampannya ia meraih ponsel Kai. Hohoho, untung Kai tidak memakaikan ponselnya sandi. Lalu dengan perasaan excited, ia mulai menggeledah ponsel Kai.

Dari mulai inbox pesan—Sehun hanya menemukan pesan-pesan dari penghuni Dorm XOXO, ibu Kai, dan nama-nama yang asing yang mungkin kerabat Kai. Lalu galeri, hanya berisi selca Kai sendiri, foto-foto kartun Pororo, video Pororo dan lain-lain. Kai ternyata penggemar Pororo secara diam-diam.

Lalu ia menggeledah yang lain-lain. Dan terakhir, ia menggali voice-notes. Hanya berisi suara-suara tidak jelas. Tapi satu yang jelas—

"Aku adalah anak dari presdir perusahaan di China, presdir itu ibuku. Dan kenapa aku bisa lahir? Karena waktu itu, ibuku mabuk dan yah, ada pria yang tiba-tiba 'menerjang'-nya..."

Sehun tercengang. Ini suara Luhan.

"...ibuku dinyatakan positif hamil. Ibuku mencari pria yang waktu itu dan—ketemu. Tapi sayang sekali, pria itu sudah dijodohkan. Dan yang lebih membuatku ingin memenggal kepalanya adalah dia tidak mencintai ibuku,"

O-Ow.

Ini suara Luhan yang sedang bercerita mengenai hidupnya.

Sehun tertawa jahat, kepalanya mengangguk-angguk dengan ritme pelan. Tiba-tiba di kepalanya muncul sebuah rencana. Rencana jahat.

Segera, ia mengambil tape-recorder—entah apa alasannya ia mempunyai alat perekam suara itu—dan merekam voice-notes itu. Setelah selesai merekamnya, Sehun kembali mendengarkan rekamannya. Sempurna. Kau jenius, Oh Sehun, pujinya pada diri sendiri. Cih.

Jgrek.

Sehun langsung beringsut mematikan tape-recorder-nya ketika ia mendengar pintu kamarnya terbuka. Itu Kai.

Huf, untung Sehun sudah meletakkan ponsel milik lelaki berambut abu-abu itu seperti tadi. Sehun tersenyum kaku kepada Kai. "H-Hai, Kai."

"Hai. Kau kenapa? Kelihatan panik," ucap Kai sambil meraih ponselnya. Sehun meneguk ludahnya. "Tidak apa-apa. Aku tadi hanya panik karena ponselku ke -format, tapi ternyata tidak," tukasnya dengan nada sewajar mungkin.

Kai mengangguk sebagai respon.

Sehun menghela nafas lega. Mengingat rekaman tadi, ia mengepalkan tangannya di udara sambil menggumam 'Yes! Yess! Yes!'. Kai melirik Sehun dengan ekor matanya lalu mengernyit.

Anak itu sudah frustasi mungkin dengan dorm ini, pikir Kai dalam hatinya.

.

.

.

"Tao, bukakan pintunya sana," titah Luhan kala suara bel dorm terdengar. Tao mengernyit. "Memang kau siapa menyuruhku seenak pantatmu, ge. Hih," protesnya.

Luhan memutar bola matanya jengah. "Aku baru kali ini menyuruhmu, Tao."

"Tapi aku sudah sering dijadikan babu oleh Kai," gerutunya. "Aku tidak peduli. Cepat sana buka pintunya," ucap Luhan acuh masih memandang layar televisi.

Yah, setelah perang dorm XOXO yang ke-xxx kali (yang kali ini dari kubu Kim Joonmyeon dan kubu Tiga Anak Babi Serta Pengasuh Mereka), keadaan mulai mendingin. Kai kembali ke kamar, Chanyeol memainkan laptopnya, Suho memutuskan untuk berkeliaran di luar, dan Kyungsoo menghubungi kerabatnya.

Tao sendiri menonton televisi bersama Luhan yang di sebelahnya terdapat Lay. Akhirnya, Tao mengalah untuk membukakan pintunya. "Baiklah, baiklah. Dunia memang sudah terbalik, yang muda sekarang yang mengalah pada yang tua," ucap Tao dan merendahkan suaranya di kalimat akhir.

Luhan menoleh kearah Tao. "Apa?"

Tao menggeleng. "Tidak ada."

Tao menggeser pintunya.

Pintu pun terbuka dan menampakkan pria paruh baya berjaket membawa kotak bersampul coklat. Tao mengernyit. "Maaf, anda siapa?" tanya pria payuh baya itu.

Tao semakin mengernyit. Bukannya, ia yang harusnya bertanya begitu? Dunia benar-benar sudah terbalik. Edan.

"Ekhem. Maaf, bukankah harusnya saya yang bertanya begitu? Anda siapa?" tanya Tao berusaha terlihat biasa. Padahal dalam batinnya, ia mengutuk pria paruh baya di depannya ini. Pria itu terkekeh. Seperti pedofil, menyeramkan.

"Hehe. Aku tukang pos, apa betul ini dorm XOXO?" ucap pria paruh baya itu. Di sekolah ini kalau ada kiriman barang dan sebagainya, tinggal menyebut alamat sekolah ini dan menyebutkan nama dorm mereka.

Tao memutar bola matanya dan menunjuk papan yang tertempel di pintu. Terpampang tulisan 'D0rM X0xO'. Ia menatap malas pada pria paruh baya itu. "Iya, benar berarti. Anda yang memesan tas Gucci, kan?"

Tao kembali mengernyit. Lalu sejurus kemudian raut wajahnya menjadi sumringah. "Hm. Lalu sekarang aku harus—"

"Hei, aku yang memesan tas ini, Tao."

Sebuah suara berat memotong ucapan Tao. Itu Kris. Dua orang bersuara berat di dorm XOXO kalau tidak Chanyeol ya Kris. Mereka itu serupa tapi tak sama.

"Aku memesan dua minggu yang lalu dan seharusnya minggu ini sudah sampai. So, it's mine," ujar Tao mengklaim si kotak yang ternyata berisi tas bermerk Gucci itu miliknya. Kris mengernyit. "Tapi si penjual online itu bilang barang yang kupesan itu datang hari ini."

"Oh ya? Tapi kudengar kau memesannya baru tiga hari yang mungkin sekarang sudah sampai."

"Tao, aku membelinya ready stock bukan pre-order."

Tao mengerjapkan matanya beberapa kali. "Aku tidak tahu perbedaan dari dua kata yang terdiri dari dua kata itu."

"Pre-order itu satu kata, Tao."

Tao mengibas-ngibaskan tangannya tidak peduli. "Yayaya terserah. Tapi yang jelas ini milikku."

Kris mengernyit. "Tidak bisa. Ini milikku."

"Apa yang mendasari ini milikmu, huh?" ujar Tao sudah mulai jengkel. Kris menggeleng. "Tidak tahu. Tapi kurasa ini benar-benar milikku," ucap Kris santai dan mengambil kotak itu dari tangan si tukang pos.

Oh ya, selama Kris dan Tao berdebat dengan tema Pokoknya Tas Ini Milikku dan Aku Tidak Peduli, si tukang pos itu hanya cengok.

"A-Apa? Ini milikku!" seru Tao sambil berusaha merebut si kotak. Kris tetap mempertahankannya. "NONONO!"

Dan terjadi adegan tarik-tarikan.

"GIMMEEEEE"

"IN YOUR DREAAAMM"

Seperti pernah melihatnya.

Dan—BRET!

Sampul yang membalut kotak itu robek. Tao, Kris, dan si tukang pos memasang ekspresi shock.Penghuni dorm XOXO yang melihat itu juga memasang tampang shock.

"AAAAHH! AKU TIDAK PEDULI! KALIAN HARUS MEMBAYARNYA! AKU TIDAK PEDULI INI PUNYA SIAPA! HUUUUUU CEPAT BAYAR!" si tukang pos mengamuk.

Tao menunjuk Kris. "Di-dia! Barang itu punya dia!"

Kris membulatkan matanya dan ekspresi itu sungguh tidak pantas di wajah cool(i)-nya. "A-apa?"

"Itu punyamu, Zitao!"

"Tidak! Itu punyamu, Kris ge!"

"YOUUURSSSS!"

"NONONO! THAT BAG IS YOOOURSS"

Ehem.

Tadi siapa yang ribut dan saling rebutan tas bermerk itu, ya?

Lalu tiba-tiba di tengah-tengah Kris dan Tao yang sedang berdebat dengan topik yang beda yaitu Tas Itu Milikmu dan Aku Tidak Mau Membayarnya muncul Xiumin yang menyodorkan sesuatu pada tukang pos.

Uang yang diambil dari dompet Kris dan Tao.

"Sudah. Kau boleh pergi, pak. Terima kasih sudah mau datang dan membuat dua makhluk ini ribut," ucap Xiumin datar. Lalu si tukang pos pergi.

Kris dan Tao menatap Xiumin dengan tatapan apa-yang-kau-lakukan. Xiumin menggedikkan bahunya. "Membayarnya."

"XIUMIIIINNN!/XIUMIN GEEEE!"

Fufufu.

.

.

.

Luhan melirik jam digital di nakas yang membatasi kasurnya dan kasur Baekhyun. Pukul 22:54 PM. Sudah larut. Penghuni kamar satu sepertinya sudah ada di alam mimpi mereka semua, mengingat mereka itu tidurnya brutal. Dan penghuni kamar dua, hanya Lay dan Xiumin yang sudah terlelap.

Dia daritadi memikirkan apa yang akan dikatakan Baekhyun tadi. Yang menurut Luhan itu tidak jauh dari tentang ibunya.

Baekhyun masih sibuk dengan NintendoDS-nya, Kyungsoo masih mengganti sprei kasurnya, dan Tao masih meratapi uangnya. Tapi tiba-tiba Baekhyun menatapnya. Luhan menaikkan alisnya. "Ada sesuatu?" tanyanya.

Baekhyun menggeleng dengan mata sipitnya masih terpaku pada layar NintendoDS. Luhan bergumam 'oh'. Lalu lelaki manis itu mendudukkan dirinya di kasur. "Baekhyun," sahutnya pelan.

Baekhyun mendengung sebagai respon. Sebelum Luhan berbicara, dia menghela nafasnya. "Kau tadi mau bilang apa?"

Baekhyun sedikit tersentak, tetapi sesaat kemudian dia menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya bilang...err.." Baekhyun mengetuk-ngetukan stylus-nya pada layar NintendoDS.

Luhan memiringkan kepalanya menunggu jawaban Baekhyun. "Semoga ibumu selalu sehat. Khekhe," jawab Baekhyun disertai kekehan di akhirnya.

Luhan sedikit mengernyit, tidak masuk akal jawaban Baekhyun itu. Dia saja tidak tahu bagaimana seluk-beluk masa bodohlah, dia tidak mau ambil pusing karena sekarang ini matanya seperti ditarik-tarik. Lelaki Beijing itu menghela nafas lagi.

Lalu keadaan hening. Tao sudah masuk ke selimut tebalnya dan mulai memejamkan mata. Kyungsoo sedang melakukan stretching yang kebiasaannya sebelum tidur. Baekhyun men-charge NintendoDS miliknya.

Luhan sendiri...hanya terus-terusan menghela nafas.

Ia merasa ada sesuatu yang besar terjadi. Dan cobaan akan datang seiring berjalannya waktu—ah dia tidak tahu kalau soal ini. Ia percaya, semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Luhan pun mulai merebahkan dirinya dan membenarkan posisi selimutnya. "Selamat malam Baek, Kyungsoo," sahutnya pelan pada Baekhyun dan Kyungsoo yang belum terlelap.

"Ya. Malam juga."

.

.

.

-TBC-

a/n: hola! Chap 3 updated! Kalo ada penulisan kalimat yang salah atau apa tegur aku ya:3 nanti aku benerin kalo chap selanjutnya update. Aku terima kok segala protes readers-nim sekalian, asal jangan bash, di FF lainnya juga gitu'-' selow aja sama aku.-.

Mind to review? :3 /pose bareng PSP Sehun/ /Sehun: guenya kaga diajak-_-/

See ya next chap!'-')/