Selamat membaca!
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : Gender switch, OOC, typo(s)
Broken Wings
Chapter 11 : I'll Protect You No Matter What
By : Fuyutsuki Hikari
Tawa dan obrolan dari tamu undangan memeriahkan suasana pesta malam ini, gaun-gaun mewah juga seksi para nyonya besar nampak memukau sementara perhiasan mahal mereka berkilau, memantulkan cahaya lampu gantung.
Sasori menyipitkan mata, memandang tidak suka pada Kakashi yang sudah lancang menginterupsi pembicaraannya dengan Naruto. Garis-garis rahangnya semakin mengeras, saat dengan sigap Kakashi berdiri di hadapan Naruto, seolah-olah menjadi perisai pelindung bagi gadis itu.
"Dan siapa kau, berani memerintahku?" tanya Sasori dengan nada sinis, dan meremehkan.
"Saya, Hatake Kakashi," jawab Kakashi sopan. "Dan saya berhak meminta anda untuk menjauhi Nona ini, karena beliau adalah Nona besar saya." Jelas Kakashi tenang dan berwibawa.
Sasori mendengus mendengar penjelasan Kakashi. "Aku tidak mengganggu Nona-mu, lagipula, pembantu macam apa yang berani menginterupsi pembicaraan majikannya?"
"Jangan bicara sembarangan Sabaku-san!" sela Naruto dingin. "Dia, bukan pembantu. Kakashi-san adalah keluarga dan bagian penting dari klan Uzumaki."
"Benarkah?" ejek Sasori.
"Tidak perlu berdebat lagi Nona, itu hanya akan membuang tenaga anda. Mito-sama mencari anda sedari tadi, lebih baik kita temui beliau."
Naruto kembali berdiri berhadapan dengan Sasori, sekali lagi dengan berani dia menatap lurus mata pria itu. "Terima kasih karena telah mengirimkan semua karangan mawar itu untuk saya, tapi saya minta tolong kepada anda Sabaku-san, tolong jangan kirimkan bunga-bunga itu lagi, karena saya merasa terganggu." Setelah mengatakan itu, Naruto berbalik, berjalan menjauhi Sasori yang masih berdiri kaku di tempat. Kakashi sedikit menundukkan kepalanya pada Sasori, sebelum berbalik dan berjalan mengekori Naruto.
Sial! Umpat Sasori kesal. Aku pasti akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya aku pasti mendapatkanmu. Aku hanya perlu sedikit bersabar, dan mendapatkan dirimu seutuhnya cantik, tukas Sasori dalam hati berulang-ulang. Dengan keras dia mencengkram leher gelas wine yang ada di dalam genggamannya, dan menghabiskan isinya dalam sekali teguk.
.
Tubuh Naruto sedikit bergetar saat ini, saat bertemu kembali dengan Sasori, dia terus berjuang untuk menekan rasa takutnya pada pria itu. Naruto bahkan ingin bertepuk tangan untuk kemapuan aktingnya tadi. Dirinya mengutuk Sasori yang masih bisa tersenyum, mencoba memikat. Naruto juga bernapas lega, saat dia mampu menahan diri untuk tidak berlari ketakutan, menjauh dari setan berbentuk manusia itu.
"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Kakashi khawatir saat melihat wajah Naruto yang pucat.
"Aku baik-baik saja," jawab Naruto, tersenyum agak dipaksaakan, karena dia tidak mau Kakashi khawatir.
"Kakashi-san, boleh aku minta tolong padamu?" ujar Naruto dengan nada ragu.
"Tentu," jawab Kakashi sopan.
Naruto berhenti melangkah dan menatap Kakashi penuh harap. "Tolong, jangan katakan masalah ini pada Baa-san, aku mohon!"
Kakashi menghela napas dalam, sedikit bimbang dengan permintaan Naruto. "Tapi-"
"Aku mohon..." pinta Naruto lagi. "Aku tidak mau jika beliau terlalu cemas, itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya."
Kakashi kembali menghela napas dalam, dan mengeluarkannya perlahan. "Baiklah, tapi saya minta anda juga berjanji satu hal."
"Apa itu?" mata Naruto berbinar bahagia, dia tidak menyangka jika Kakashi akan mengabulkan permintaannya ini. Karena, walau bagaimanapun, Kakashi adalah orang yang paling setia terhadap neneknya.
"Jika pria itu mengganggu lagi, anda harus memberitahukannya pada saya. Bagaimanapun juga pria itu sangat berbahaya," ujar Kakashi serius.
Naruto mengangguk mengerti dan mengalungkan tangannya pada tangan kanan Kakashi. "Ha'i, wakatta. Arigatou Kakashi-san, terima kasih untuk semua bantuan dan pengertianmu."
"Sama-sama," sahut Kakashi tulus.
"Lalu, dimana Baa-san?" Naruto menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan neneknya itu.
"Maaf, tadi saya berbohong. Sebenarnya, Mito-sama saat ini ada rapat kecil dengan Uchiha-san, Nara-san dan Hyuuga-san. Tadi, saya hanya mencari alasan saja, agar anda bisa terbebas dari pria itu."
"Rapat apa, kenapa ada rapat di acara penting seperti ini?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Kalau masalah itu, saya juga tidak tahu. Karena Mito-sama, memerintahkan saya keluar ruangan untuk menemani anda, dan sepertinya keputusannya sangat tepat."
Naruto kembali tersenyum kecil, mendengar penuturan Kakashi. "Apa jadinya diriku, tanpamu Kakashi-san?"
"Menjadi suatu kebanggaan, jika dapat melayani anda, Nona!" jawab Kakashi penuh hormat.
Keduanya melangkahkan kaki menuju balkon. Mereka terus berbincang disana, menjauhi hiruk pikuk pesta yang menurut keduanya membosankan. Baik Kakashi maupun Naruto, sama-sama tidak menyukai pesta. Kakashi hadir karena kewajiban, sementara Naruto, dia hadir atas permintaan neneknya.
Hinata dan Itachi ikut bergabung bersama mereka beberapa saat kemudian, mungkin mereka juga lelah harus terus berbasa-basi, menebar senyum manis demi kepentingan sosialnya.
Telinga Naruto menangkap alunan musik Waltz dari dalam ballroom. Itachi mengulurkan tangan kanannya pada Naruto dan berkata lembut. "Maukah anda berdansa dengan saya?" tanyanya sedikit berlebihan. Naruto tersenyum kecil dan menjawab. "Suatu kehormatan untuk dapat berdansa dengan anda, Tuan Uchiha," katanya yang juga dengan intonasi manis berlebihan.
Mereka berdua berdansa, melangkah mengikuti ritme alunan Waltz yang mengalun lembut. Kakashi dan Hinata bergabung beberapa menit kemudian, mereka terus menari hingga alunan musik itu dihentikan untuk break tepat pukul sebelas malam. Para pelayan lelaki membawa nampan berisi kue, minuman dan es krim, berkeliling, menghampiri para tamu undangan satu persatu. Setelah break usai, pesta pun kembali dimulai, dengan iringan symphony klasik yang mengalun lembut, membelai telinga setiap tamu yang masih tetap bertahan hingga pesta usai tepat pukul satu dini hari.
.
.
.
Mito pamit pulang tepat tengah malam. Sang tuan rumah pun maklum, mengingat usia Mito yang tidak lagi muda. Setelah menyalami beberapa tamu penting, dan mendapat pelukan selamat malam dari Mikoto, Naruto pun beranjak pergi mengikuti neneknya yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya, sementara Kakashi mengekor di belakang Naruto.
Tepat pukul satu dini hari mereka tiba di rumah utama. Setelah mengucapkan selamat malam pada neneknya dan Kakashi, Naruto pun masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk tidur.
.
Naruto terbangun dari tidurnya, pertemuannya kembali dengan Sasori membuatnya mimpi buruk. Napasnya memburu, keringat dingin mengucur begitu deras. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya, kenangan buruk itu kembali datang, kenangan yang ingin dia hapus dari ingatannya, kenangan buruk saat Sasori menodainya terus berputar di ingatannya. Naruto menangis, terus menangis dalam keheningan malam yang pekat.
Setelah merasa puas menangis, Naruto turun dari tempat tidur, beranjak menuju kamar mandi, meraih sebuah handuk basah dan mengusapnya ke wajah. Handuk itu terasa dingin pada kulit wajahnya, memberi kenyamanan pada otot-otot wajah yang tegang beberapa saat lalu. Setelah itu, Naruto turun ke dapur untuk membuat segelas susu panas untuknya sendiri dan membawanya kembali ke dalam kamar. Dia menenggak minuman itu seteguk demi seteguk, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. Naruto melirik ke arah nakas, menghela napas panjang saat jam digital yang terletak disana masih menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit- dini hari.
Naruto meraih telepon genggamnya yang juga tergeletak disana, menggenggamnya erat, dan tanpa sadar dia menekan nomor telepon genggam Sasuke. Dirinya terlonjak kaget saat menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Naruto memutuskan sambungan telepon itu cepat saat pulih dari keterkejutannya, merasa beruntung karena tidak ada jawaban dari sebrang sana. "Apa yang aku lakukan? Dia pasti sudah tidur, aku hanya akan mengganggunya," gumam Naruto tidak jelas, menatap nanar layar telepon genggam miliknya.
Naruto baru saja hendak meletakkan telepon genggamnya kembali ke atas nakas, saat telepon genggamnya itu bergetar. Dia menghela napas panjang saat melihat nomor panggilan yang masuk. "Sasuke?" kata Naruto lirih. "Jawab, tidak?" Naruto bimbang.
"Moshi-moshi?" jawab Naruto pada akhirnya.
"Belum tidur, Naruto?" sahut Sasuke, suaranya yang dalam terdengar begitu menenangkan di telinga Naruto.
"Aku tidak bisa tidur," ujar Naruto lirih.
"Aku terkejut saat melihat ada sebuah panggilan masuk darimu, ada apa? Merindukanku?"
"..." Naruto tidak menjawab, mulutnya bergetar menahan tangis.
"Naruto?"
"Ya... aku memang merindukanmu," jawab Naruto parau.
"..." Kini Sasuke yang terdiam, rasanya tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
Hening melanda setelahnya, sesaat hanya terdengar suara napas dari keduanya. "Kau sendiri belum tidur?" Naruto kembali bicara dengan nada suara senormal mungkin.
"Konser baru selesai dua jam yang lalu, dan aku baru kembali ke Hotel."
"Maaf mengganggumu," tukas Naruto menyesal, sementara jemarinya meremas seprai miliknya erat. Dia benar-benar ingin mengatakan semua yang terjadi di pesta pada Sasuke, tapi, masih ada keraguan dalam hatinya.
"Kau tidak mengganggu, aku senang bisa mendengar suaramu."
"Lalu kenapa tidak pernah meneleponku, jika kau senang mendengar suaraku?" tanya Naruto tidak mengerti. Naruto bisa mendengar helaan napas panjang Sasuke setelahnya.
"Aku takut," jawab Sasuke jujur.
"Takut?" beo Naruto tidak mengerti.
"Ya, asal kau tahu, aku sangat merindukanmu. Aku takut, jika aku mendengar suaramu, aku akan langsung memesan tiket pesawat untuk pulang menemuimu, dan menelantarkan semua pekerjaanku."
"Kau berlebihan," Naruto tersenyum kecil, menghapus jejak air mata di pipi dengan punggung tangan kanannya.
"Bagiku, kau adalah candu, duniaku, kau menggenggam hatiku seutuhnya Naruto. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," sahut Sasuke melankolis. Naruto terisak kecil dan membekap mulutnya agar suara tangis itu tidak terdengar oleh Sasuke. "Aku, sudah katakan berulang kali padamu, a-aku tidak layak untukmu," tukas Naruto lirih menahan tangis yang lagi-lagi hampir meledak.
"Dan aku bisa mati tanpamu," sahut Sasuke tanpa keraguan di dalamnya.
Naruto terhenyak mendengarnya. "Jangan katakan itu," dia kembali terisak tanpa bisa menutupi suaranya yang bergetar.
"Kau menangis?"
"Ti-tidak," jawab Naruto terbata, berbohong.
"Kau dimana sekarang?" tanya Sasuke cemas, jika saat ini Naruto berada di apartemennya seorang diri.
"Di rumah Baa-san."
Mendengar itu, Sasuke menghela napas lega. "Besok sore aku sampai, jangan menangis lagi! Maafkan aku, aku tidak akan berkata seperti itu lagi."
"Janji?"
"Hn."
"Berjanjilah padaku," pinta Naruto dengan suara yang kembali bergetar.
"Aku berjanji. Aku janji," tukas Sasuke berulang-ulang. "Besok bisa menjemputku di bandara?" tanyanya penuh harap.
"Gomen, sepertinya tidak bisa," sahut Naruto menyesal.
"Kenapa, kau sibuk?" tanya Sasuke kecewa.
"Tidak, aku tidak sibuk," jawab Naruto, tangan kanannya meraih tisu dan mengelap hidungnya yang sedikit berair. "Tapi, di bandara pasti banyak fans yang berkumpul menunggu kepulangan kalian. Aku ada di kantor hingga malam, bisa bertemu di kantorku saja?"
"Tergantung," sahut Sasuke memberikan jeda. "Apa aku akan mendapat ciuman selamat datang?" godanya mencoba untuk mengembalikan mood gadis yang dicintainya itu.
"Mungkin iya," jawab Naruto singkat dan memutuskan sambungan telepon mereka setelahnya. Naruto kembali meletakkan telepon genggam ke atas nakas dan membenamkan wajahnya pada bantal, yang sekarang memerah karena malu, memejamkan mata dan akhirnya bisa kembali tertidur nyenyak. Entah kenapa, hatinya kembali tenang setelah mendengar suara Sasuke.
Lain lagi dengan Sasuke, senyum tipis terukir di bibirnya. Di pandanginya wallpaper telepon genggam miliknya yang bergambar foto Naruto, begitu lama. Dia berdoa di dalam hati, berharap dirinya memimpikan bidadari cantiknya malam ini. Dan jika beruntung, besok, dia akan mendapatkan ciuman itu.
.
.
.
Seperti biasa, Naruto berangkat ke kantor tepat pukul delapan pagi. Dia menolak dengan halus tawaran neneknya yang ingin mengantarnya ke kantor. Naruto pergi dengan naik taksi, sebelum ke kantor, Naruto mampir ke sebuah toko kue, dan membeli sebuah lemon cake untuk menyambut kedatangan Sasuke hari ini. Sesampainya di kantor, Naruto menghela napas lega, saat tidak lagi mendapati rangkaian bunga mawar disana.
Dengan langkah tergesa, dia masuk ke dalam ruangannya, setelah menyimpan tas kerjanya, dia-pun beranjak menuju counter, memasukkan cake yang dibawanya ke dalam kulkas, dan kembali berkutat dengan pekerjaannya yang masih menumpuk. Selain disibukkan persiapan launching, Naruto juga harus memeriksa laporan keuangan butik miliknya yang ada di New York.
.
Matahari semakin meninggi di luar, sementara Naruto begitu tenggelam dalam pekerjaannya, hingga tidak menyadari kedatangan seseorang ke dalam ruang kerjanya siang ini. "Sibuk?" Naruto terkesiap kaget, jantungnya berdetak begitu cepat, sementara si pelaku, duduk santai bertopang kaki dan tersenyum kecil kepadanya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Naruto saat jantungnya sudah kembali normal. "Bukankah seharusnya kau tiba sore nanti?"
"Aku mengambil penerbangan pagi," sahut Sasuke meraih buku sketsa Naruto dan membalikkan halaman demi halaman.
"Kenapa tidak memberitahuku tentang ini di telepon tadi malam?"
"Aku ingin memberimu kejutan," kata Sasuke santai dan kembali meletakkan buku sketsa Naruto ke atas meja.
Mata Naruto menyipit menatap Sasuke, sementara jari tangannya mengetuk meja kerjanya berulang-ulang. "Kau mengagetkanku! Jangan lakukan itu lagi!"
"Hn," sahut Sasuke menatap lurus Naruto.
Naruto kembali berkutat dengan pekerjaannya, mengabaikan Sasuke yang menatapnya intens. Naruto yang kahirnya merasakan tatapan intens Sasuke, bergerak gelisah di kursinya. "Ke-kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya sedikit tergagap.
Sasuke meletakkan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto dan berkata dengan datar. "Aku menagih janjimu."
Dengan susah payah Naruto menelah air ludahnya, dia tahu pasti akan apa yang dimaksud oleh Sasuke saat ini. "Ja-janji apa?"
"Jangan pura-pura lupa, Dobe!" cibir Sasuke. "Aku meminta ciuman selamat datang darimu. "Ouwww," teriak Sasuke, dan meringis saat Naruto menamparkan buku sketsanya tepat ke wajah Sasuke. "Aku akan meminta ganti rugi jika wajahku terluka," desis Sasuke kesakitan.
"Luka kecil tidak akan membuatmu jelek, Teme!" balas Naruto menghela napas dalam. "Kalau berbekas, operasi saja! Bukankah banyak artis yang melakukannya?" balas Naruto tanpa merasa bersalah.
"Jadi, menurutmu aku tampan?" Sasuke menyeringai kecil.
"Sedikit," ujar Naruto dengan nada datar. "Kau lapar? Aku punya lemon cake," tawarnya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin ciuman, bukan cake," sahut Sasuke keras kepala, sementara Naruto beranjak menuju counter.
"Minta saja pada Sakura, atau pada Koyuki, mereka pasti dengan senang hati memberikannya padamu," teriak Naruto dari seberang counter, membuka lemari es dan memotong cake untuk Sasuke. "Kau mau kopi?"
Sasuke tidak menjawab pertanyaan Naruto, senyumnya terukir begitu tipis saat telinganya mendengar Naruto memberikan penekanan, ketika menyebutkan nama Koyuki. "Jadi, menurutmu aku akan mendapat ciuman selamat datang dari Koyuki?"
Naruto terdiam, giginya menggigit bagian dalam mulutnya keras, tangannya bergetar saat mengocek kopi untuk Sasuke. "Yah, dia pasti melakukannya dengan senang hati," kata Naruto dengan nada suara satu oktaf lebih tinggi, termakan oleh umpannya sendiri.
"Well, tidak bisa aku pungkiri, Koyuki memang sangat seksi," racau Sasuke menggoda Naruto, senyumnya terukir tipis saat melihat wajah Naruto yang berubah masam.
Naruto berjalan ke arah Sasuke, meletakkan cake juga secangkir kopi hitam untuk pria itu, dan kembali duduk di kursi kerjanya dengan hempasan keras. "Dan cantik, sangat cantik, jangan lupakan itu," desis Naruto dingin.
"Hn, kau sudah lihat video klip terbaru kami? Koyuki seperti bidadari di sana. Benar katamu, dia memang benar-benar cantik," puji Sasuke berlebihan. Tentu saja Naruto sudah melihatnya, hatinya bahkan terasa panas saat melihat Koyuki meliuk-liukan tubuh seksinya di hadapan Sasuke. Naruto tahu jika semua itu hanya akting, tapi tetap saja, hati kecilnya berteriak tidak rela.
"Tubuhnya benar-benar seksi, kulitnya begitu putih, sesuai dengan namanya. Benar-benar wanita idaman."
Naruto yang sudah habis kesabaran menggebrak meja keras dan menyahut dengan tajam. "Kalau begitu, pergi, temui dia. Kenapa kau malah datang kesini?" Sasuke yang melihatnya malah tertawa, egonya benar-benar senang saat melihat Naruto terbakar cemburu seperti saat ini. "Kenapa tertawa?" desis Naruto penuh amarah.
Sasuke berdiri dan beranjak menuju kursi kerja Naruto, memeluk tubuh gadis itu dari belakang, dan mengecup pipi kanannya lembut. "Aku, suka melihatmu cemburu," katanya berbisik di telinga Naruto.
"A-aku tidak cemburu," sanggah Naruto setengah kasar. Ibu jari Sasuke meraih dagu Naruto agar menghadap ke arahnya, dia tersenyum kecil, dengan berani, dia mendaratkan kecupan ringan di bibir merah milik Naruto. "Aku hanya bercanda Dobe, bagiku, kau adalah wanita tercantik, terseksi, dan wanita yang paling aku inginkan dalam hidupku."
"Jangan menggombal!" protes Naruto dengan semburat merah tipis pada wajahnya.
Sasuke kembali tersenyum puas melihat wajah Naruto saat ini. "Aku suka melihat kekasihku cemburu."
Naruto menaikkan sebelah alis dan mengerutkan kening. "Aku belum setuju untuk menjadi kekasihmu."
Sasuke tidak menjawab, dia malah memberikan satu kecupan lagi di mulut Naruto, dipeluknya tubuh gadis itu erat, dan setelah beberapa saat, dia pun berkata lirih. "Mulai saat ini, kau adalah kekasihku, calon istriku, dan calon ibu untuk semua anak-anakku."
"Jangan bercanda!" Naruto meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Sasuke. "Aku tidak bercanda," tukas Sasuke serius. "Dan kau, tidak boleh bilang 'tidak'," lanjutnya menyentil ringan hidung Naruto.
"Tukang paksa!" dengus Naruto kesal.
"Hn," sahut Sasuke tidak acuh, dan kembali mendudukan diri di atas kursi, di hadapan Naruto. "Naru, hari ini kau ada waktu?"
"Memangnya kenapa?" tanya Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari sketsa gambar yang baru saja dia buat.
"Aku ingin kencan," ujar Sasuke, menatap datar Naruto. Sementara gadis itu yang kembali terkejut, terdiam beberapa saat, dan menjawab dengan nada senormal mungkin. "Jangan bercanda Teme, akan jadi masalah jika para pencari berita memergoki kita, dan bagaimana jika ada fans yang mengenalimu? Dan lagi, memangnya kau tidak punya jadwal show hari ini?"
Sasuke menggelengkan kepala. "Kakashi memberi kami libur penuh satu hari ini, dan aku tidak peduli jika pencari gosip itu memergoki-ku saat jalan denganmu."
"Tapi, aku peduli, Teme. Itu bisa berpengaruh pada karirmu."
"Ck, jangan berpikir terlalu jauh, Dobe. Ayo kita pergi, kita harus menikmati masa muda!"
"Aku masih banyak pekerjaan, kita pergi lain kali saja," tolak Naruto beralasan.
"Aku mau hari ini, kita harus kencan hari ini," ujar Sasuke keras kepala. "Kau boleh memilih tempatnya."
Naruto meletakkan pensil gambarnya dan menatap Sasuke serius, entah kenapa dia ingin menjahili Sasuke saat ini. "Yakin?"
"Hn."
"Kau tidak akan menyesal, Teme?"
"Hn."
"Baiklah, kalau begitu, kita pergi ke kebun binatang saja."
"Apa? Kenapa harus kesana? Kenapa tidak ke taman bermain, nonton ke bioskop atau makan di restoran mewah, kenapa harus ke kebun binatang?"
"Mau tidak? Kalau tidak mau, ya sudah." Naruto mengangkat bahu, dan mulai mewarnai sketsa design pakaiannya. Sasuke akhirnya hanya bisa pasrah dan mengalah. "Ok, kita pergi sekarang?" Naruto tersenyum lebar mendengarnya, menutup buku sketsa dan merapihkan semua peralatan gambarnya.
"Kau harus menyamar!" ujar Naruto saat keduanya keluar dari ruang kerjanya.
"Aku tahu," sahut Sasuke datar, dan mereka berdua pun beranjak pergi keluar bangunan berlantai empat, yang juga akan merangkap sebagai butik setelah launching, menuju tempat dimana mobil Sasuke terparkir.
.
.
.
"Mereka akan mengenalimu, Sasuke," kata Naruto sedikit khawatir saat melihat penampilan Sasuke saat ini. Mereka baru saja tiba di kebun binatang, dan sudah hampir sepuluh menit mereka melempar argumen, tentang penyamaran Sasuke. Karena pria itu hanya memakai kaca mata hitam bermerek Calvin Klein dan topi yang ditarik dalam untuk menutupi wajahnya. "Kenapa tidak membawa jaket?"
"Ini musim panas, akan terlihat mencolok jika aku mengenakan jaket," jelas Sasuke yang saat ini mengenakan kaos polo putih dan celana jeans panjang berwarna biru usang.
"Aku jadi tidak yakin, lebih baik kita kembali saja."
"Kau yang mengusulkan untuk pergi ke tempat ini," protes Sasuke tajam.
"Entahlah, aku takut jika ada orang yang mengenalimu. Kita kembali ke kantorku saja, dan pergi lain kali, bagaimana?" ujar Naruto mengusulkan.
"Kita sudah sampai Dobe, ayo turun dan masuk ke dalam." Setelah itu mereka kembali berdebat panjang, hingga akhirnya Naruto mengalah, dan mengikuti Sasuke keluar dari dalam mobil, dengan langkah berat dia berjalan di samping Sasuke, masuk ke dalam kebun binatang.
Suasana cukup ramai siang ini, mungkin karena sudah masuk liburan musim panas, jadi banyak sekali keluarga yang memilih untuk mengajak anak-anaknya berlibur kesana. Naruto yang pada awalnya takut jika ada yang mengenali Sasuke akhirnya menghela napas lega, karena tidak ada satu pengunjung pun yang mengenali Sasuke. Memang, ada beberapa remaja wanita mencuri pandang ke arah Sasuke, tapi hal itu masih terbilang wajar.
Naruto dan Sasuke berjalan santai, mengelilingi kebun binatang untuk melihat koleksi binatang, yang beberapa diantaranya termasuk hewan langka, seperti harimau Siberia dan orang utan. Mereka juga tidak melewatkan pertunjukan lucu anjing laut yang berenang bebas di sebuah tangki air berbentuk tabung raksasa.
"Mirip denganmu," kata Naruto menunjuk ke arah orang utan, sementara Sasuke mendengus kecil dan meninggalkan Naruto yang masih terkikik geli di depan sangkar orang utan tersebut.
Sasuke berhenti tepat di depan sangkar penguin kaisar, sangkar itu berupa kolam besar yang sekelilingnya dibatasi oleh pagar setinggi seratus dua puluh lima centimeter. "Mereka mirip denganmu," balas Sasuke menunjuk sekelompok pinguin yang berjalan santai dan meluncur turun ke dalam kolam untuk berenang.
Mata Naruto menyipit ke arah Sasuke dan berkacak pinggang. "Menurutmu aku gendut?"
"Kau tidak gendut," tukas Sasuke mencubit kedua pipi Naruto gemas. "Hanya saja tinggi badanmu dan kedua pipimu ini begitu mirip dengan pinguin-pinguin itu, pendek dan chubby," ejek Sasuke datar.
"Puas meledekku?" desis Naruto dengan aura hitam di sekelilingnya, tapi Sasuke sama sekali tidak takut, dia malah menyukai Naruto dengan ekspresi seperti ini, terlihat lebih hidup dan normal. "Dan aku, hanya mencintai penguin yang bernama Uzumaki Naruto alias Namikaze Naruto," katanya seraya mengecup lembut bibir Naruto.
Dan kejadian selanjutnya membuat Sasuke membeku tidak percaya, Naruto berjinjit dan mengecup bibir Sasuke mesra. "Itu, ciuman selamat datang yang kujanjikan," tukas Naruto lirih, beranjak pergi untuk menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di wajahnya. Sasuke tersenyum lembut saat pulih dari keterkejutannya, dengan cepat dia menyusul tiap langkah Naruto, hingga mereka berjalan berdampingan dengan kedua tangan yang saling bergandengan erat.
Lelah berjalan, keduanya duduk di sebuah kursi taman di bawah pohon rindang, cuaca terasa sangat panas siang ini, sementara air mineral yang mereka bawa sudah habis tidak bersisa.
"Sasuke?"
"Hn."
"Aku mau es krim," pinta Naruto dengan wajah memelas. "Tunggu disini," sahut Sasuke dan beranjak pergi untuk membeli es krim. Hampir lima belas menit Naruto menunggu, dan akhirnya Sasuke datang dengan membawa tiga buah cone es krim dengan rasa berbeda, coklat, vanila dan strawberry.
"Ini," Sasuke menyodorkan ketiga cone es krim itu pada Naruto.
"Banyak sekali, Sasuke?"
"Aku lupa menanyakan rasa yang kau inginkan, jadi, aku membeli semua rasa yang ada," jelas Sasuke panjang lebar.
"Kawai…" sahut Naruto gemas. "Aku mau rasa vanila," katanya seraya mengambil cone itu dari Sasuke. "Mau kemana?" tanya Naruto saat melihat Sasuke beranjak dari tempat duduknya.
"Membuang sisanya," jawab Sasuke datar.
"Kau tidak mau?"
"Aku tidak suka makanan manis," sahut Sasuke membuang kedua es krim ditangannya ke dalam tempat sampah.
"Yakin tidak mau?" Naruto menyodorkan cone es krim ke depan mulut Sasuke. Pria itu menyeringai kecil dan berkata lirih tepat di depan wajah Naruto. "Aku, berubah pikiran," katanya seraya menjilat es krim yang masih menempel di bibir atas Naruto. "Terlalu manis," tukas Sasuke tersenyum puas melihat keterkejutan di mata kekasihnya ini.
"Mesum!" pekik Naruto, dan beringsut duduk membelakangi Sasuke. Kekasihnya yang melihat hal itu hanya menatapnya datar, memperpendek jarak diantara keduanya, dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
"Teme?" panggil Naruto saat Sasuke diam dan membenamkan wajahnya di leher Naruto. "Kau lelah?" tanyanya lagi. "Kalau begitu kita pulang saja."
Sasuke menghirup aroma tubuh Naruto dalam, aroma yang selama ini begitu dia rindukan, kehangatan Naruto membuat dirinya begitu terbuai dan terlena. "Teme?" panggil Naruto lagi.
"Hn."
"Kau mau pulang?"
"Tidak," jawab Sasuke datar.
"Mau mencari makan?"
"Hn."
"Kalau begitu ayo kita pergi, perutku juga sudah lapar." Naruto menarik kedua tangan Sasuke yang terulur, hingga pemuda itu berdiri dan menyeretnya untuk keluar dari kebun binatang.
"Sas, lihat itu!" langkah Naruto terhenti, sementar jari telunjuknya menunjuk ke arah stand penjual souvenir di dekat pintu keluar. "Lucunya," tukas Naruto seraya memasangkan bando berbentuk telinga kelinci berwarna pink itu di kepalanya. "Lihat, bandonya sepasang, cepat pakai!"
"Tidak!" tolak Sasuke tegas.
"Ayolah..."
"Tidak."
"Please!"
"No."
"Pakai, atau aku akan berteriak jika kau adalah Uchiha Sasuke," kata Naruto penuh ancaman.
"Mengancam, Dobe?"
"Menurutmu?" sahut Naruto santai seraya menekuni kuku jari-jari tangannya yang terawat baik.
"Ck, ok, aku pakai," kata Sasuke tidak rela.
"Kawai..." pekik Naruto senang saat Sasuke memasangkan bando itu di atas topi yang dikenakannya.
"Kami beli ini," tukas Naruto sambil menanyakan berapa jumlah uang yang harus dia bayar. Naruto melirik ke arah Sasuke, seakan mengerti maksud Naruto, pria itu pun menyodorkan beberapa helai uang kertas pada paman penjual. Selesai membayar, Naruto menyeret Sasuke yang masih berwajah masam masuk ke dalam photo box.
"Buka topi dan kacamatamu!"
"Untuk apa?"
"Aku mau kita berdua difoto mengenakan bando ini, ayo buka!" rengek Naruto manja hingga akhirnya Sasuke kembali mengalah, dibukanya topi dan kacamata hitamnya dengan berat hati, setelah itu, dia mengenakan bando telinga kelinci di atas kepalanya.
"Senyum Teme," tukas Naruto menarik pipi Sasuke agar tersenyum. "Aku harap hasilnya bagus," kata Naruto lagi menatap lurus ke arah kamera.
.
"Woaaaa... kau benar-benar manis disini," Naruto tersenyum bahagia dan memperlihatkan hasil foto instan itu pada Sasuke. Sementara Sasuke hanya mendecih dan memalingkan muka, apa jadinya jika sampai foto itu tersebar, atau jatuh ke tangan Itachi, hal itu pasti akan menjadi mimpi buruk bagi dirinya.
"Kenapa, Sasuke. Tidak suka?" tanya Naruto datar.
"Hn."
"Aku tidak bohong! Kau benar-benar manis," lanjut Naruto menahan tawa. "Itachi-nii harus melihatnya," katanya lirih namun masih bisa didengar jelas oleh Sasuke.
"Jangan!" potongnya cepat. Saat ini, Sasuke sudah dapat membayangkan ekspresi wajah Itachi jika melihat foto yang dipegang oleh Naruto. Itachi pasti akan terus mengolok-olok dirinya, atau mungkin yang lebih parah, Itachi akan menjadikan foto itu untuk mendapatkan sesuatu dari Sasuke.
Naruto menaikkan sebelah alis dan menatap Sasuke. "Kenapa?"
"Hanya kau yang boleh tahu, lainnya tidak," tukas Sasuke mengancam.
Naruto mengangkat kedua bahunya dan menjawab datar. "Baiklah, aku akan menyimpannya untuk koleksi pribadiku, puas?"
"Hn," sahut Sasuke masih sedikit kesal, meninggalkan Naruto yang berjalan beberapa meter di belakangnya.
"Jadi, kita mau makan dimana?" tanya Naruto yang sudah duduk di dalam kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman.
Sasuke menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang, keluar dari halaman parkir. "Fast food saja, kita makan di tempatmu," jawab Sasuke, sementara Naruto menatapnya bingung. Sejak kapan Sasuke suka junk food? Tukas Naruto dalam hati, namun akhirnya dia hanya mengangguk setuju dan kembali bertanya. "Makan di kantor?"
"Apartemen," sahut Sasuke singkat.'
"Aku masih ada pekerjaan di kantor. Kita makan di kantor saja yah!" tawar Naruto.
"Tidak."
"Ayolah..." pinta Naruto dengan nada memohon.
"Tidak, aku lelah, aku ingin istirahat," kata Sasuke beralasan.
"Kalau begitu kau pulang saja, aku akan kembali ke kantor naik taksi!"
"Tidak mau," sahut Sasuke keras kepala. "Aku mau makan dan istirahat di tempatmu, titik!"
Naruto menghela napas pasrah. "Baiklah, terserah kau saja," katanya datar tanpa merasakan aura kemenangan dan puas dari dalam diri Sasuke.
.
Sasuke membelokkan mobilnya, masuk ke dalam komplek gedung apartemen Naruto. Setelah sebelumnya membeli makanan cepat saji untuk makan siang mereka. Dia memarkirkan mobil di basement, dan segera masuk ke dalam lift menuju lantai 25, tempat apartemen Naruto berada.
Dengan tangan sedikit bergetar Naruto membuka pintu apartemennya. Sasuke yang bisa merasakan kegugupan pada Naruto hanya tersenyum kecil. "Kenapa, Dobe. Takut, berduaan denganku?" godanya seraya masuk ke dalam apartemen Naruto.
Namun gadis itu sama sekali tidak menjawab. Naruto menggigit bibir bawahnya tanpa bisa menatap balik Sasuke. Sasuke mengumpat dalam hati, merutuki sikapnya yang sama sekali tidak peka. Naruto tetap Naruto, trauma pada diri gadis itu pasti masih ada, dengan perlahan, Sasuke berjalan mendekati Naruto, dan saat jarak diantara keduanya hanya tinggal setengah meter, Sasuke mengangkat dagu Naruto dengan ibu jarinya. "Kau, benar-benar takut padaku?" tanya Sasuke begitu lirih.
"Ti-tidak, hanya saja-"
"Maaf, aku tidak peka," kata Sasuke memotong perkataan Naruto. "Kalau begitu, lebih baik aku pulang."
"Jangan," cegah Naruto. "Tinggallah, kita makan siang bersama. Bukan salahmu, jika tubuhku tiba-tiba menggigil takut. Perasaan ini memang terkadang masih datang, saat aku hanya berdua bersama seorang pria di ruangan tertutup. Seringkali aku harus menekannya, tapi, terkadang, alam bawah sadarku terlalu kuat untuk kulawan. Maaf, jika membuatmu tidak nyaman."
Dengan berani, Naruto menggenggam tangan Sasuke, dan menarik tubuhnya untuk duduk di sofa ruang santai. Setelah yakin Sasuke merasa nyaman, Naruto beranjak untuk mengambil beberapa piring dari dapur dan memindahkan makanan dalam kotak kardus ke atas piring.
"Ini," kata Naruto seraya memberikan makan siang bagian Sasuke.
"Terima kasih," tukas Sasuke dalam.
Mereka berdua menghabiskan makan siang mereka dalam keheningan yang mencekik. Sasuke diam, karena merasa bersalah, awalnya dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Naruto, jauh dari keramaian, tanpa ada satu orang pun yang mengganggu. Tapi, hasilnya, dia malah kembali mengingatkan kenangan buruk Naruto.
"Sasuke?" panggil Naruto memutus keheningan diantara keduanya.
"Hn," jawab Sasuke, lalu meletakkan piring yang makanannya masih setengah habis ke atas meja.
"Ada apa?"
Sasuke menutup mata dan menarik napas dalam. "Kau tahu, aku sangat mencintaimu," tukasnya lirih, matanya kembali terbuka dan menatap Naruto lurus. "Tapi, sepertinya, aku terlalu terburu-buru. Aku, sama sekali tidak peka. Lihat! Bahkan tubuhmu bergetar karena takut-"
"Sssttt!" potong Naruto, meletakkan jari telunjuknya pada bibir Sasuke. "Tubuhku bergetar di luar kendaliku Suke, jangan salahkan dirimu lagi! Psikis ku memang belum sembuh sepenuhnya, dan aku ingin, kau membantuku untuk sembuh."
"Tapi-"
"Tidak ada kata 'tapi'," potong Naruto, tangannya membelai helai raven Sasuke lembut. "Apakah ciumanku, tidak menegaskan apapun untukmu? Aku bahkan tidak menolak saat kau menciumku." Sasuke tersenyum mendengarnya, tangannya menggenggam erat kedua tangan Naruto di pahanya. "Aku yakin, rasa takutku akan sembuh sepenuhnya, dengan bantuanmu," katanya lagi penuh keyakinan.
Sasuke beringsut memperpendek jarak diantara mereka, dan memeluk tubuh Naruto lembut. "Aku mencintaimu, Naru. Sangat mencintaimu," tukas Sasuke berbisik di telinga gadis itu.
"Aku harap, kau tidak akan pernah menarik kembali pernyataanmu ini. Karena, mulai saat ini, aku akan berjuang untuk mempertahankanmu," balas Naruto dalam pelukan Sasuke.
"Maksudmu?" tanya Sasuke melepaskan pelukannya.
"Maksudku, aku akan menghajar setiap wanita yang berusaha merebutmu dariku!" tukas Naruto berapi-api.
"Benarkah?" goda Sasuke.
"Aku serius dengan ucapanku, karena mulai detik ini, Uchiha Sasuke adalah milikku!"
"Bagaimana nasib penggemarku?"
"Mereka hanya boleh melihatmu dari jauh, tidak lebih!" Sasuke tersenyum senang mendengarnya, dia mencium pipi Naruto sekilas. "Kau sudah tidak bergetar?"
"Sudah aku bilang, rasa takutku hanya muncul disaat-saat tertentu. Buktinya, aku tidak merasa takut, saat berduaan bersamamu di dalam mobil, ataupun saat berada di vila."
"Kau hanya takut saat berada di ruang tertutup?"
Naruto mengangguk kecil. "Begitulah, tapi, aneh juga. Pada saat bersama dengan Itachi-nii aku merasa tidak takut."
"Maksudmu?" tanya Sasuke dengan nada suara begitu dingin. Naruto tersenyum kecil dan membelai pipi Sasuke lembut. "Jangan cemburu Suke, mungkin, aku merasa tidak takut karena aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari Tachi-nii."
"Kau tahu kalau dia gay?" Sasuke bertanya dengan sebelah alis terangkat.
"Ya, aku tahu. Aku bahkan sudah bertemu dengan kekasihnya."
"Kapan?" tanya Sasuke menyelidik.
"Beberapa waktu yang lalu kami sempat makan siang bersama. Kau tahu, kekasih Tachi-nii adalah teman sekolah Sasori."
Tubuh Sasuke berubah kaku seketika, matanya menatap tajam, dan napasnya berubah berat. "Dia teman bajingan itu?"
"Tenan, Sasuke. Dei-nii sudah tidak ada hubungan lagi dengan Sasori."
"Darimana kau tahu?"
"Aku mengorek informasi dari Tachi-nii, aku tanya, kenapa sikap Dei-nii berubah saat melihatku. Dan akhirnya Tachi-nii menjelaskan alasannya. Aku sudah memaafkan Dei-nii."
"Jadi, dia juga terlibat?" desis Sasuke, kedua tangannya terkepal begitu erat.
"Ya, tapi, dia juga sama seperti Karin. Dia melakukannya karena terpaksa," jelas Naruto lirih.
"Bagaimana mungkin, kau bisa memaafkan semudah itu, Naruto?"
"Entahlah," jawab Naruto jujur sambil mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu."
"Bagaimana dengan pria brengsek itu, apa kau juga sudah memaafkannya?"
Sekarang, tubuh Naruto yang berubah kaku. Wajahnya terlihat gusar, dan telapak tangannya berkeringat.
"Kenapa?"
"A-aku juga sudah bertemu dengannya."
"Dimana?" tanya Sasuke dengan nada suara datar, menyembunyikan emosinya saat ini.
"Di pesta Hyuuga, kemarin malam."
"Lalu?"
"Dia mendekatiku, dan memperkenalkan diri."
"Apa lagi yang dia lakukan?" desis Sasuke.
"Hanya itu," sahut Naruto berbohong, tanpa mampu menatap kedua mata Sasuke.
"Naruto?" panggil Sasuke lirih. "Apa lagi yang dia lakukan, bukankah aku kekasihmu. Tolong, jujur padaku."
Mulut Naruto bergetar menahan tangis, setengah berbisik dia menjawab. "Di pesta itu, aku juga baru tahu, jika dia adalah orang yang mengirimiku buket mawar merah."
"Dia lakukan itu?" Naruto mengangguk kecil. "Brengsek," umpat Sasuke. "Nenekmu tahu?" Naruto menggelengkan kepala.
"Aku tidak mau beliau khawatir."
"Tapi, kau bisa saja dalam bahaya!"
Naruto kembali terdiam. "Dan, kenapa kau tidak mengatakannya padaku dari awal?"
"Aku juga tidak mau membuatmu khawatir."
"Apa karena itu, kemarin kau meneleponeku?"
"Benar," sahut Naruto lirih. "Dia membuatku takut, tapi, aku juga takut untuk memberitahumu. Aku tidak mau kau cemas," ujarnya dengan berlinang air mata. Sasuke kembali merengkuh tubuh Naruto ke dalam pelukannya. Dikecupnya puncak kepala Naruto lama. "Maaf, aku tidak bersamamu kemarin, maafkan aku."
"Jangan marah padaku, aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir," katanya dengan isakan kecil.
"Aku tidak marah padamu Naru, aku, aku marah pada diriku sendiri. Seharusnya, aku selalu ada dan melindungimu dari penjahat itu," ujar Sasuke pelan, wajahnya menunduk penuh sesal.
"Aku juga bersalah, seharusnya aku jujur dari awal, maafkan aku, Sasuke."
"Hn, aku memaafkanmu. Tapi, jangan pernah menyembunyikan apapun dariku lagi!"
"Ha'i."
"Lalu, kapan pegawai barumu mulai bekerja?"
"Dua minggu lagi," jawabnya, sementara Sasuke menghapus air mata Naruto dengan ibu jarinya. "Kenapa?"
"Bisakah kau meminta mereka bekerja lebih awal?"
"Entahlah. Paling cepat mereka bisa masuk kerja minggu depan. Karena aku harus menyiapkan ruang kerja yang layak untuk mereka, kau tahu kan, jika kantor-ku belum selesai sepenuhnya."
"Begitu," sahut Sasuke parau. "Aku akan lebih tenang jika kau tidak sendirian selama di kantor. Dan mungkin, sebaiknya kau kembali tinggal bersama nenekmu."
"Untuk kembali ke rumah utama, aku akan pikirkan lagi. Aku takut, jika nanti nenek curiga."
"Kau bisa mengarang alasan, kau juga tidak boleh pergi seorang diri, harus ada seseorang yang menemanimu," kata Sasuke serius.
"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja," sahut Naruto mencoba menenangkan Sasuke.
Sasuke berpikir keras, memikirkan cara agar Naruto tetap aman, selama ketidak hadirannya. "Aku akan memikirkan caranya, yang jelas, kau harus memberitahuku jika melihat sesuatu yang ganjil, mengerti?" Naruto pun mengangguk mengerti.
"Bukankah kau mau istirahat?"
"Hn."
"Kalau begitu tidurlah, aku akan membangunkanmu saat jam makan malam." Dengan patuh Sasuke berbaring di sofa, dia menjadikan paha Naruto sebagai bantal penyangga kepalanya. Jemari lentik gadis itu terus membelai helai raven Sasuke lembut.
Setelah beberapa lama, Naruto bisa mendengar suara napas Sasuke yang teratur. Setelah merasa yakin jika Sasuke tertidur, Naruto meraih sebuah bantal sofa yang menggantikan dirinya sebagai penyangga kepala pria itu. Naruto beranjak ke dalam kamar, mengambil sebuah selimut, menyelimuti tubuh Sasuke hingga sebatas dada dan mengecup kening pria itu lembut.
.
.
.
"Kenapa wanita itu ada di sini?" desis Sakura tidak suka saat melihat Naruto di studio latihan Black Knight, matanya menatap penuh benci.
"Entahlah," jawab Ino mengangkat bahu. "Tapi, yang aku dengar, sudah satu minggu ini, Sasuke membawa Naruko kemanapun dia pergi, menurutmu mereka mempunyai hubungan khusus?"
Sakura mengalihkan tatapan tajamnya dari Naruto pada Ino. "Tidak mungkin."
"Kenapa tidak," Ino balas menatap Sakura dengan berani. "Menurutku mereka cocok," katanya tanpa peduli akan aura mengancam dari Sakura. "Aku sudah curiga sejak liburan di vila, aku rasa mereka memang memiliki hubungan khusus."
"Jangan membual."
"Enak saja, aku tidak membual," protes Ino. "Aku menyimpulkannya sesuai dengan pengamatanku."
Sakura hanya bisa mendesis, kembali melayangkan tatapan tidak suka pada Naruto dan menghentakkan kaki, meninggalkan Ino yang nampaknya tidak merasa menyesal, karena membuat gadis berambut pink itu kesal.
"Sakura kenapa?" Karin berjalan mendekat ke arah Ino dan menatap punggung Sakura yang semakin menjauh dengan heran.
"Cemburu," sahut Ino seraya menunjuk ke arah Naruto dan Sasuke, sementara Karin, mengangguk mengerti. "Hinata mana?"
"Masih belum datang, macet katanya," jawab Ino, sementara Karin kembali mengangguk mendengar jawaban parternya.
Sebenarnya, bukan keinginan Naruto untuk terus mengekor kemanapun Sasuke pergi. Tapi, semua itu adalah keputusan pria itu. Sasuke sangat cemas, meninggalkan Naruto seorang diri. Karena itu, dia terus membawa Naruto kemana pun dia pergi. Hal ini, sudah berlangsung selama satu minggu sejak kunjungan Sasuke ke apartemen Naruto. Awalnya Naruto menolak, namun, Sasuke mengancam akan mengatakan tentang Sasori pada Mito, hingga akhirnya Naruto pun setuju untuk mengikuti keinginan Sasuke.
Sasuke mengakui tentang hubungannya dengan Naruto pada Asuma, sedangkan ketiga rekannya yang lain tentu sudah bisa menarik kesimpulan sendiri. Asuma mengingatkan pada Sasuke agar menyembunyikan hubungan diantara dia dan Naruto. Bukan hanya untuk kepentingan karir Sasuke, namun, lebih pada keselamatan Naruto. Sikap fans yang cemburu terkadang menakutkan, karena itu, Asuma meminta Sasuke untuk bersabar dan merahasiakan semuanya.
Akhirnya, Sasuke mengenalkan Naruto sebagai stylish pribadinya. Naruto sebenarnya merasa rikuh, pada tatapan para staff yang diarahkan kepada dirinya. Para staff itu tentu merasa aneh, karena selama ini, Sasuke tidak pernah membawa stylish, apalagi, stylish itu seorang wanita. Melihat kelakuan yang berbeda dari sang idola, tentu melahirkan spekulasi orang-orang disekitar Sasuke. Namun, para staff terlalu takut untuk mengungkapkan kecurigaan mereka tentang status wanita itu.
Naruto beruntung, karena para anggota Black Knight yang lain menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Bahkan, Sasuke sering kali menatap ketiganya kesal, saat dia melihat ketiganya bercanda dengan Naruto. Gadis itu juga masih tetap bekerja, beberapa sketsa berhasil dia selesaikan, sementara Sasuke berlatih atau show.
.
Di tempat lain, Sasori membanting laporan hasil kerja anak buahnya dengan keras ke atas meja. Dia meraih lembaran foto yang tergeletak di atas meja, dan merobeknya hingga menjadi lembaran kecil. Foto itu adalah foto yang diambil saat Naruto dan Sasuke berkencan di kebun binatang tempo hari. Sasori mendesis, dia sangat marah mengetahui kedekatan Naruto dan Sasuke saat ini.
"Aku pasti memisahkan kalian berdua, Naruko hanya milikku. Milikku!" raungnya keras, menggema ke seluruh sudut ruang kerjanya.
.
.
.
TBC
