Dorm XOXO
.
.
.
.
Chanyeol mendengus kesal dan menatap selembar kertas tak berdosa di depannya ini tajam. Selembar kertas berisikan soal-soal matematika yang sangat ia benci—dia lebih benci matematika daripada ia harus berperang dengan teman se-dorm-nya. Demi bokser Kris, dia tidak bisa menjawabnya satupun.
Merasa frustasi, ia menghela nafasnya kasar dan menelungkupkan wajahnya di meja. Beberapa menit kemudian, dia berjengit kaget saat smartphone-nya bergetar. Ada tweet baru yang muncul di timeline akunnya.
Sebelum mengecek smartphone -nya, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas, memastikan tidak ada yang melihatnya. Guru Kwon pun sedang fokus kepada bukunya yang sepertinya novel. Lalu setelah yakin, dia mengecek timeline-nya.
Dia berhenti men-scroll layarnya yang layar sentuh. Berhenti di satu tweet.
Baekliner byunbaek
Hm, hm~ soal matematika kali ini cukup mudah.
Chanyeol membulatkan bibirnya. Sejurus kemudian dia mengalihkan pandangannya kepada Baekhyun yang sedang menaruh pensilnya di philtrum-nya dan memajukan bibirnya. Dia mendengus.
Jadi kerdil itu bisa mengerjakannya, huh? pikirnya.
Sebelum itu, apakah kalian berpikir kenapa mereka itu berstatus eternal enemy tetapi saling mem-follow?
Flashback
Baekhyun melirik lelaki tinggi menjulang di sebelahnya. Chanyeol sedang berkutat dengan smartphone-nya. Baekhyun membulatkan matanya dan dia memanjangkan lehernya guna mengintip apa yang dilakukan Chanyeol sehingga ia terlihat serius sekali.
Ternyata sedang bermain sosial media yang tengah naik daun, Twitter.
Baekhyun yang notabene adalah anak yang tidak pernah ketinggalan zaman, tahu apa itu dan mempunyai akun Twitter. Dia menyesap coklat panasnya, saat itu suhu di Seoul memang sedang dingin.
"Hei."
Chanyeol menoleh ke samping kirinya, tempat Baekhyun duduk. "Kau memanggilku?" tanyanya. Baekhyun mengangguk tanpa memandang Chanyeol.
"Kau punya akun Twitter?" tanya Baekhyun. Chanyeol mengangguk. "kalau begitu, follow aku."
Chanyeol mendecih. "Kerjaan banget," gumamnya. Baekhyun menyipitkan matanya lalu mendengus. "Kalau tidak akunmu akan ku-block."
"Kau saja tidak tahu apa username-ku," tukas Chanyeol. Baekhyun menghela nafasnya kasar. Dia berdiri sehingga kursinya agak terdorong ke belakang. "FOLLOW AKU!"
Chanyeol ikut berdiri dan meletakkan smartphone -nya dengan agak membanting. Karena Baekhyun yang nyolot, emosinya menyulut. "TIDAK! Memang kau siapa?!"
Baekhyun menginjak kaki Chanyeol. "FOLLOW!" pekiknya. Chanyeol meringis lalu menggeleng kuat-kuat sehingga rambutnya ikut bergoyang. Baekhyun menyipitkan matanya dan menggeram kecil.
Sejurus kemudian, dia menyambar smartphone Chanyeol. Chanyeol membulatkan matanya. "KEMBALIKAN!"
Baekhyun bersikukuh. Dia menjauhkan benda persegi panjang tipis itu dari Chanyeol. Chanyeol berhasil menggapainya karena ia lebih tinggi tetapi Baekhyun masih mempertahankannya.
Dan terjadilah rebutan benda itu sampai guru patroli datang dan menengahi. Singkat cerita, Chanyeol terpaksa mem-follow Baekhyun. Baekhyun pun mem-follback-nya.
Minta follow aja musti berantem dulu, ya. Ckck.
Kembali ke mereka.
Merasa dipandangi, Baekhyun memandang Chanyeol balik. Baekhyun menaikkan alisnya dan menarik sudut bibirnya ke bawah. Bibir bawahnya ia majukan dan Chanyeol bersumpah demi boneka panda Tao, itu jelek sekali di matanya. Baekhyun memasang tampang mengejek. Chanyeol membulatkan matanya dan mengernyit.
Si raksasa kembali pada smartphone-nya. Dia menekan tombol reply.
byunbaek: hei, kerdil, kau yakin mengerjakannya sendiri?
Semenit kemudian, smartphone-nya bergetar.
pcyeol: ya. kenapa? kau tidak bisa mengerjakannya, raksasa gigi besar?
Chanyeol mengernyit dan kembali melirik Baekhyun yang cekikikan tanpa suara. Chanyeol mendengus.
byunbaek: GIGIKU BAGUS, KERDIL. Tentu saja aku bisa mengerjakannya.
Bohong besar, padahal dia belum mengerjakan satu nomor pun.
pcyeol: oh, benarkah? Aku ragu
byunbaek: kalau berani kau ke mejaku sini!
Tweet sent.
Raksasa bermarga Park itu membulatkan matanya. Dia salah omong. Harusnya dia bilang 'coba saja tes aku'. Lalu berdecak merutuki kesalahannya sendri. Chanyeol kembali meraih pensilnya dan mulai mengerjakan soalnya sebisa dirinya. Namun sekarang ini pikirannya blank.
Mau ngasal gak bisa, mau ngerjain beneran juga gak bisa, ya? :-(
Bagaimana kalau si kerdil itu benar-benar ke sini? Pikirnya.
"Hm, jadi ini yang namanya bisa mengerjakan, ya?"
DENG.
Alih-alih kaget karena suara gong yang bertabuh di pikirannya(?), ia justru terlonjak karena mendengar suara lembut. Dia menoleh ke kanan lalu membulatkan matanya. Byun Baekhyun tengah berkacak pinggang dan menatap kertas ulangannya dengan tatapan iba—bohong-bohongan.
Chanyeol mejauhkan kertas itu dari Baekhyun. "A-a-apa yang kau lakukan?" ucapnya tergagap. Baekhyun menggedikan bahunya sebelum berkata, "kan kau yang menyuruhku."
"Pergi sana."
Baekhyun menaikkan alisnya. "Hm, jadi Park Chanyeol kita tidak bisa mengerjakan soal matematika murid kelas sepuluh, huh? HAHAHAHA—ups."
Chanyeol mendengus.
Oh ya, kenapa kelas sepuluh? Karena Guru Kwon ingin melihat sejauh mana murid-muridnya bisa mengerjakan soal-soal terdahulu. Alih-alih mengawasi muridnya, dia malah tidur-_-
Chanyeol menaruh telunjuknya di depan bibirnya lalu memelototi Baekhyun. "Nanti Guru Kwon bangun, bodoh!" bisiknya. Baekhyun terkikik pelan. Sementara lelaki yang sedang duduk memutar bola matanya malas.
Baekhyun masih terkikik. Baekhyun seperti sedang menonton acara komedi yang terlucu dan yang paling terlucu di dunia. Chanyeol mulai jengkel karena menurutnya Baekhyun menertawakan dirinya—memang menertawakannya.
Chanyeol memasang wajah datarnya. "Baekhyun diam."
Si lelaki yang berwajah manis masih tertawa pelan.
"Byun Baekhyun," ucap Chanyeol dengan datar tapi ada kesan mengancam(?). Baekhyun masih tertawa sampai-sampai air matanya keluar dan wajahnya memerah. Selucu itukah Chanyeol?
Chanyeol mengepalkan tangannya di samping tubuhnya. Dia merapatkan giginya yang seperti model pasta gigi ternama. Chanyeol secara perlahan menggerakkan kakinya ke dekat kaki Baekhyun menapak. Dia tersenyum jahat dan—
TEP!
"AW!"
"BWAHAHAHAHA!"
Dia menginjak kaki Baekhyun lalu tertawa keras.
Seluruh pasang mata yang berada di kelas 11-C—dimana anak-anak yang kurang pintar di tempatkan—tertuju kepada Chanyeol yang tertawa-tawa dan Baekhyun yang meringis sambil memegangi kakinya. Tidak terkecuali Guru Kwon yang terbangun dari sleeping beauty-nya.
Guru Kwon mengernyitkan alisnya dan menyipitkan matanya yang terhiasi eye shadow. Dia pun berdiri dan menghampiri Baekhyun dan Chanyeol. Chanyeol segera merapatkan bibirnya dan menahan tawa.
Ia menatap tajam muridnya yang sedang mengaduh kesakitan—kaki Baekhyun begitu sakit karena Chanyeol menginjak kelingkingnya yang tadi pagi terbentur kaki meja. "Baekhyun-ssi..."
Lalu dia juga menatap sangat tajam kepada muridnya yang sedang menahan tawa. "Chanyeol-ssi..."
Guru Kwon meraih dasi Chanyeol dan Baekhyun, menariknya lalu—
"KUHUKUM KALIAN!"
.
.
.
Sehun berjalan menuju ruang siaran. Di tangannya, sebuah tape-recorder yang akan membantu jalannya rencana—jahat—Sehun. Sebelum membuka pintu, ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang lewat atau yang lihat. Oke, mungkin biasa saja jika Sehun murid klub jurnalistik masuk ke ruang siaran. Karena memang yang siaran disini adalah murid klub jurnalistik.
Namun disini Sehun adalah murid klub menggambar. Mana ada murid klub melukis masuk ke ruang siaran kalau tidak ada keperluan?
Syukurlah daerah-daerah terpojok sekolah ini jarang sekali ada yang melewati. Lalu ia memasukkan kunci pintu—dia mendapatkan kunci ini dari Myungsoo, ketua klub jurnalistik—ke lubangnya dan berhasil membuat pintu tidak terkunci. Sehun pun membuka pintunya, masuk, dan menutup pintunya kembali.
Sehun menghela nafas lega. Dengan langkah pelan, Sehun mendekati sebuah meja yang dipenuhi dengan mic, kabel-kabel, headphone, dan sebuah benda yang penuh tombol-tombol. Dia mengernyit.
Sial. Dia tidak mengerti bagaimana caranya memakai itu semua. Sehun menggaruk kepalanya bingung. Ia berkacak pinggang sambil celingukan mencari sesuatu yang bisa diupayakan. Sehun berdecak kala ia mulai frustasi mencari cara untuk menyalakannya.
Menit berikutnya, Sehun beringsut bersembunyi di bawah meja yang terletak di sebelah pintu karena seseorang baru saja datang. Dia merutuk. Aku lupa menguncinya! Serunya dalam hati.
Dengan hati-hati, ia mengintip sedikit siapa yang datang. Lalu membulatkan bibirnya serta matanya saat ia mengetahui bahwa itu adalah Luhan. Nafasnya memburu. Tapi dia menutup mulutnya agar suara deru nafasnya tidak terdengar.
Asal tahu, Luhan adalah orang yang akan dijadikan korban oleh rencana—sekali lagi, jahat—Sehun. Luhan adalah murid klub jurnalistik jadi wajar saja ia masuk kesini seenak pantat—seksi—nya.
Di sisi Luhan, ia sedang mencari paspornya yang kemarin tertinggal saat siaran kemarin. Paspor? Tentu saja dia punya. Kalau dia tidak punya, mungkin dia sudah dideportasi pulang ke Cina dikira warga asing illegal karena tidak punya paspor. Luhan kan warga negara Cina.
Luhan mendengus kesal dan menggaruk kepala bagian belakangnya. "Kemarin Myungsoo bilang ada pasporku di sini? Kok tidak ada?" gumamnya sambil menunjuk sebuah kursi.
Sementara Sehun, ia melihat sebuah buku tipis—paspor—tergeletak di dekatnya. Dan ia dengar Luhan menyebut-nyebut paspor. Ia membulatkan matanya. Jangan-jangan ia mencari ini. Maka dengan pelan, saaaangaaat pelaaan ia mendorong si paspor untuk menjauh.
Paspor itu sekarang sudah berjarak satu meter dari Sehun. Tapi sialnya, paspor itu ada di depan Sehun yang mana jika Luhan memungutnya Luhan akan melihat Sehun meringkuk di bawah meja dengan sebuah tape-recorder.
Luhan memutar tubuhnya, menunduk mencari sebuah buku tipis yag sangat berharga baginya itu. Dan ia mengangkat alisnya kala melihat paspor miliknya tergeletak di meja untuk menyimpan kertas-kertas surat para pendengar—tentu saja para murid SM Boys SHS. Ia pun mendekati paspor itu.
Sehun panik. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Mampus gue—bisik Sehun dengan bahasa gaulnya.
Sebelum tangan Luhan meraih si paspor, ada yang berteriak, "LUHAN KAU DI-REMEDIAL LAGI, BODOH!"
Sehun bisa mendengar helaan nafas Luhan beserta decakkan kesal. Lalu Sehun melihat ada seorang lagi masuk—Minho.
Minho menatap Luhan malas. "Ck, kau dipanggil Guru Shin. Ayo cepat Si Gentong dari Lembah Hantu itu sudah mengamuk!" seru Minho sambil menarik tangan Luhan. "Paspor—"
"Tidak ada penolakkan! Cepat!"
Lalu Luhan dan Minho pergi. Sehun menghela nafas lega. Setelah memastikan Luhan benar-benar sudah menjauh dan pergi dari situ, Sehun keluar dari persembunyiannya. Lalu ia memungut paspor yang hendak diambil Luhan.
Tertera nama Luhan di sana. Namanya ternyata benar-benar Xi Luhan, jadi itu bukan hanya hoax(?). Sehun menahan tawanya ketika melihat foto Luhan yang ada di paspor itu. Rambut Luhan masih gondrong, kumis tipis dan jerawat pun menghiasi wajahnya. Foto itu diambil ketika Luhan masih kelas dua sekolah menengah pertama.
Setelah menaruh paspor itu di saku jasnya, ia mengunci pintu. Lalu Sehun mulai mendekati meja yang penuh dengan alat-alat untuk siaran. Lelaki berkulit putih itu memandang kesal alat-alat siaran itu.
Tapi...
Ia jadi ingat ketika dirinya masih kelas tujuh.
Flashback
"SEHUN KAU HARUS MASUK KLUB JURNALISTIK!"
Sehun mendengus mendengar perintah ayahnya. "Malas, ah. Membosankan."
"Atau...kau harus ikut klub sepak bola?" tanya Tuan Oh pada anaknya. Sehun membulatkan matanya. "Ti-tidak mau! Oke, oke. Aku-ikut-jurnalistik."
Tuan Oh pun tersenyum troll.
Akhirnya, Sehun masuk klub jurnalistik pada tahun pertamanya di sekolah menengah pertama. Padahal ia ingin ikut klub golf seperti saat ia kelas enam.
.
.
.
Sehun memasuki ruang siaran. Dia bingung harus menyalakan apa, melakukan apa, memencet apa, dan mengucapkan apa. Karena pasalnya, ini adalah pertama kalinya ia ditunjuk untuk siaran selama masuk klub—yang menurutnya—membosankan ini.
Tapi tiba-tiba seorang kakak kelas sembilan menghampirinya dan tersenyum manis. "Hei, kau murid kelas tujuh, ya?" tanyanya. Sehun menganggguk. "Aku ditunjuk oleh Guru Dong untuk siaran."
Kakak kelas itu mengangguk dan melihat name-tag Sehun. "Oh..Sehun?"
Sehun kembali mengangguk. Kakak kelas berwajah cantik—padahal dia lelaki—itu menarik lengan Sehun untuk duduk. Sehun mengerjapkan matanya bingung. Lalu jari kakak kelas itu menekan tombol-tombol. Sehun bisa melihat sebuah tulisan 'ON AIR'di atas pintu.
"Katakan sesuatu," bisik kakak itu. Sehun mengangguk ragu. "Hmm..halo? Aku Oh Sehun...murid kelas 7-C...hmm..mohon bantuannya," ucap Sehun dengan gugup.
Oh ayolah, saat sekolah dasar lidahnya tidak bisa melafalkan huruf 's' dengan benar. Ia sangat malu jika cadel itu kembali lagi karena dulu dia sudah berlatih setengah hidup sampai bisa melafalkan 's' dengan sempurna.
Kakak kelas itu tersenyum. "Nah, kau bisa, kan? Bahan untuk siaran sudah kau pegang, kau tinggal bicara, lalu memutar musiknya. Kau harus tekan ini, terus ini, kkay?" ujar si kakak kelas. Sehun mengangguk.
"Semoga beruntung!" seru si kakak kelas perlahan sambil mengacak rambu Sehun dengan senyuman di wajahnya. Sehun terpana melihat senyum itu. terbersit rasa kecewa saat sang kakak kelas pergi.
"Baiklah, FIGHTING!" ucap Sehun pelan.
Flashback end
Sehun tersenyum sendiri ketika mengingat kakak kelas itu. Tapi kenapa saat mengingat kakak kelas itu, yang ada di kepalanya justru adalah Luhan? Ah mungkin mirip.
Dia tersenyum mesum—mesumnyacoret—jahat.
Sekarang, dia tahu bagaimana cara mengatasi rencananya.
.
.
.
Kelas 12-D.
Dimana seorang Kris Wu bersantai sambil menyangga kepalanya dengan tangan serta menaikkan kaki panjangnya ke atas meja. Pose like-a-boss. Telinganya disumpal dengan headset. Matanya terpejam menikmati angin musim gugur.
Tiba-tiba masuk seorang lelaki dengan kertas-kertas di tangannya. Wajahnya tersirat kejengkelan. Suho melangkah untuk menghampiri Kris yang sedang bersantai itu. Kemudian dia meletakkan kertas-kertas itu di meja Kris dengan membanting.
Kris tidak bergeming. Suho menggeram. Langsung saja dia menarik headset yang menyumpal lubang telinga Kris. Kris mengaum. "HEI!"
Suho menatap Kris datar. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Suho. Kris mengernyit. "Bukankah harusnya aku yang bertanya? Ini kan kelasku. Dan ini bukan kelasmu karena kau 12-C, pergi sana."
"Aish. Bukan itu, bodoh. Kau tahu, daritadi ada berita panggilan untuk Wu Yifan blablablabla dipanggil ke ruangan OSIS blablabla—BLAH!" omel Suho. Lelaki yang tinggi menaikkan alisnya. "Untuk apa?"
Informasi, Kris menjadi ketua OSIS di sekolah ini. Sedangkan Suho, dia adalah sekretarisnya. Yang menjadi wakil ketua OSIS adalah Kim Sunggyu.
Padahal Kris tidak ada tanggung jawab menjadi ketua yang baik.
"TADI. ADA. RAPAT."
Kris membulatkan bibirnya. "Ya terus?"
Suho jengkel. "HARUSNYA KAU ADA DISANA, LALU KAU MEMIMPIN RAPAT ITU TAPI KAU MALAH ENJOY SAJA DISINI!"
"TAPI KAN ADA SUNGGYU! APA GUNANYA WAKIL?"
"TIDAK! DIA DI ASRAMA KARENA DEMAM!"
"OKE!—aku kalah."
Kris pun kalah bacot.
Suho menghela nafas berat lalu dia memilih duduk di meja yang berada di sebelah meja Kris. "Kau harus menandatangani kertas itu," Suho menunjuk tumpukan kertas-kertas itu dengan dagunya. Kris mengangguk.
"Itu ap—"
"Aku adalah anak dari presdir perusahaan di Cina, presdir itu ibuku..."
Tiba-tiba terdengar suara dari radio.
.
.
.
Di ruang guru, Luhan mengerjakan soal perbaikan nilai dengan tidak ikhlasnya. Dia terus-terusan menggerutu dan merengut. Jelas saja dia kesal kalau sudah menulis rumus panjang yang memuakkan akhirnya salah juga. Begitu berulang-ulang.
Lalu Luhan juga tidak merasa nyaman gara-gara guru-guru memperhatikannya. Siapa juga yang tidak risih dilihatin begitu?
Luhan mengacak-acak rambutnya. "Huhuhu, Guru Shiiin! Apa yang salah lagi? Kurasa semua sudah betul. Ini dibagi ini, lalu...hm..ini dikali yang ini, kuadrat, blablabla..." Luhan mengoceh sambil menuliskan rumusnya.
Guru Shin menghela nafas sambil membuka kacamatanya. "Ada yang salah. Ingat baik-baik rumusnya!"
"Tapi apa yang kurang? Apa aku salah menghit—"
"Aku adalah anak dari presdir perusahaan di China, presdir itu ibuku..."
Semua orang yang disana menoleh ke arah speaker yang berada di atas pintu ruang guru. Luhan tercengang. Tubuhnya melemas seketika.
"...ibuku dinyatakan positif hamil. Ibuku mencari pria yang waktu itu dan—ketemu. Tapi sayang sekali, pria itu sudah dijodohkan...
.
.
.
-TBC-
a/n: hai:3 chap 4 updated! xD maaf ngaret ya, yeorobeun! /emang ada yg nungguin lu?/-_- hayo tebak kira-kira si Thehun ngapain? XD gampang ketebak inimaaah~ dan maaf banget ff ini lama-lama gaje parah-_-
Oke, review please?:3
