Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Broken Wings
Chapter 12 : Before The Strom
By : Fuyutsuki Hikari
Waktu terasa berjalan begitu cepat bagi Naruto. Minggu ini kantor barunya sudah mulai beroperasi. Bangunan tiga lantai dengan gaya minimalis itu nantinya juga akan berfungsi sebagai butik selain dipakai sebagai kantor. Kantor yang kini ramai oleh pekerja begitu sibuk menyiapkan segala keperluan untuk peluncuran label merk fesyen serta peragaan busana yang akan diselenggarakan kurang dari dua minggu lagi di sebuah hotel ternama di pusat kota Konoha.
Naruto begitu bersyukur karena akhirnya dia mendapatkan seorang sekretaris, yang walaupun umurnya telah menginjak empat puluh tahun namun cara kerjanya begitu efisien dan profesional. Sebenarnya banyak calon pelamar muda yang berebut untuk mendapatkan posisi tersebut, namun pilihan Naruto jatuh pada Kurenai. Yah, wanita itu bernama Yuuhi Kurenai. Dia memiliki putri yang katanya berusia hampir sama dengan Naruto. Namun, hingga saat ini Naruto tidak pernah bertemu dengan putri Kurenai. "Putriku sangat sibuk," itu alas an yang diucapkan Kurenai saat Naruto menanyakan keberadaan putri sekertaris barunya tersebut.
Semua jadwal Naruto sudah diatur dengan rapih oleh Kurenai hingga satu bulan ke depan. Kurenai bahkan sudah menjadwalkan keberangkatan Naruto ke New York tiga minggu yang akan datang. Hal itu perlu dilakukan, karena Naruto tidak bisa lepas tangan akan urusan kantor utamanya yang ada disana. Walau pun di New York ada Shion yang bisa menangani segala sesuatu agar perusahaan berjalan dengan baik, namun sebagai pemilik, Naruto tetap berkewajiban untuk memberikan perhatian khusus pada perusahaannya di sana.
.
.
.
Siang ini, kantor Naruto lebih sibuk dari hari biasanya. Bagaimana tidak, hari ini seluruh model yang akan berpartisipasi dalam peragaan busana dan launching perusahaan sedang melakukan fitting pakaian untuk terakhir kali. Beberapa karyawan dan karyawati Naruto bahkan mencuri kesempatan untuk sekedar mendapatkan foto artis favorite mereka secara langsung. Beruntung Kurenai mampu mengatasi keadaan dan mengusir semua orang yang tidak berkepentingan dari dalam fitting room, hanya dengan satu ucapan tegas dari mulutnya. "Keluar!" itu ucapnya yang terlontar pelan namun terdengar begitu tegas.
Naruto menghela napas lega saat melihat satu persatu karyawannya mulai keluar dari ruangan. "Apa yang harus kulakukan jika aku tidak memiliki Kurenai-san disisiku?" ucap Naruto yang saat ini berjalan masuk ke dalam fitting room.
"Yang pasti, kau harus membayarnya ekstra," sahut Neji menimpali ucapan Naruto yang sekarang mengangguk setuju. Neji berdiri dengan angkuh saat Tenten selesai membantunya mengepas pakaian. "Apa aku terlihat tampan?" tanya Neji mulai narsis pada tiga rekannya yang lain sementara matanya menatap Tenten genit. Oh, dan jangan lupakan kedipan mata yang selalu mampu meluluhkan hati setiap wanita. Namun sayangnya Tenten tidak mudah luluh, dia malah mendengus tidak suka saat Neji terus menerus menggoda dirinya.
Kiba mengangkat jempol tangan kanannya dan berseru keras. "Kau kelihatan keren," katanya memuji. Neji hanya mendengus puas mendengar pendapat salah satu sahabatnya itu. "Kurasa karena efek pakaian yang kau kenakan," tambah Kiba kemudian dengan tawa tertahan, membuat Neji mengerling dan menyipitkan mata kesal, Tenten bahkan harus menutup mulut dengan telapak tangannya agar tidak tertawa mendengar pernyataan Kiba.
Neji yang kesal melepas kasar jas dan kemeja yang dikenakannya saat ini, dan segera mengambil pakaian lain untuk dicoba. "Kenapa hanya Neji dan Sasuke yang mendapat perlakuan istimewa di sini? Kenapa tidak ada yang membantuku untuk mencoba semua pakaian ini?" keluh Kiba panjang lebar saat melihat Naruto mulai membantu Sasuke untuk mengepas pakaian yang akan dikenakannya nanti, sementara Neji dibantu oleh Tenten.
"Kurenai-san akan membantumu Kiba. Bersabarlah!" timpal Naruto seraya tersenyum manis sementara kedua tangannya sibuk mengancingkan kancing kemeja putih milik Sasuke.
"Kenapa harus Kurenai-san yang membantuku? Apa tidak ada yang lain?" keluh Kiba lagi, kini tertunduk lesu.
"Saat ini kami sedang sibuk, nanti aku juga akan membantumu," sahut Naruto seraya merapihkan kerah kemeja Sasuke.
"Tidak perlu," potong Sasuke tegas. "Dia bisa mengenakan pakaiannya sendiri. Bukan begitu, Kiba?" tanya Sasuke yang lebih menyerupai perintah daripada pertanyaan.
Kiba yang mendengar nada tajam dari sahabatnya itu, hanya bisa menelan air ludah dan tersenyum hambar. "Baiklah, baiklah," sahutnya menahan kesal. "Aku akan mengepasnya sendiri," tambahnya cepat dan segera masuk ke dalam bilik kamar pas berukuran besar dan menarik tirai penutupnya dengan kasar.
"Kau tidak mencoba bagianmu Shikamaru?"
"Aku sudah mencoba semuanya," sahut Shikamaru menjawab pertanyaan Neji. "Semuanya sudah pas, sesuai dengan ukuranku," katanya menguap lebar dan mulai mengambil posisi nyaman disebuah sofa untuk tidur. Neji hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Shikamaru, Neji yakin jika Shikamaru mengepas pakaiannya dengan cepat hanya demi mencuri waktu untuk tidur.
Naruto tersenyum kecil melihat kelakuan Shikamaru, yang saat ini sudah kembali tertidur dengan pulas. "Apa dia selalu seperti itu?" tanya Naruto seraya membetulkan kerah kemeja Sasuke.
Sasuke melirik ke arah Shikamaru dan menjawab singkat. "Hn."
"Manis sekali," ucap Naruto tanpa melepas tatapannya dari sosok Shikamaru, dan langsung dihadiahi tatapan tajam dari Sasuke. "Apa?" tanya Naruto pelan saat melihat ekspresi wajah Sasuke yang mulai diselimuti aura gelap. Hati kecil Naruto sangat senang saat melihat sisi lain dari sosok Sasuke yang biasanya datar tanpa ekspresi.
"Kau tidak merasa bersalah dengan mengatakan manis pada laki-laki lain?" sindir Sasuke setengah berbisik.
"Cemburu?" ucap Naruto yang hanya berupa bisikan.
"..."
"Kau juga sangat manis jika sedang cemburu," goda Naruto dengan mencubit kedua pipi Sasuke gemas, sementara sang korban memberikan death glare terbaiknya. "Jangan menatapku seperti itu, Suke. Tatapanmu itu sama sekali tidak membuatku takut," celoteh Naruto menantang. "Aku dan Tenten harus pergi ke kamar sebelah untuk membantu Hinata, Karin dan Ino, apa kalian bisa melakukan sisanya sendiri?"
"..."
"Tidak masalah," sahut Neji, sementara Shikamaru sama sekali tidak merespon dan Sasuke masih berdiri dengan sikap seolah tak peduli. "Ayo Tenten!" seru Naruto dan bergegas keluar ruangan bersama dengan Tenten yang tanpa banyak bicara mengekor di belakangnya.
"Dia cantik sekali," ujar Neji santai dan mendudukkan diri di sebuah sofa di sebelah Shikamaru. "Sabar Sasuke, maksudku gadis ber-rambut cepol itu, bukan kekasihmu," ucapnya cepat saat mendapatkan tatapan dingin dari Sasuke.
"Hati-hati Neji," tegur Kiba dari dalam bilik kamar, menarik kain gordyn pemisah tanpa memalingkan pandangan dari refleksi dirinya di cermin. "Naruko akan menghajarmu jika kau macam-macam dengan pegawainya."
Neji menyilangkan kedua tangannya di atas dada dan mengernyit. "Menurutmu begitu?"
Kiba menghela napas panjang dan menjawab. "Apa kau tidak lihat bagaimana Naruko yang mengerling tidak suka ke arahmu saat kau menggoda gadis itu?" ucap Kiba cepat. "Siapa namanya?" tambahnya lagi.
"Tenten," sahut Shikamaru tanpa membuka kedua kelopak matanya.
"Hei, kukira kau tidur, Shika."
Shikamaru menguap lebar menjawab ucapan Kiba. "Hm..." Balas Shikamaru datar, dan mengubah posisi tidurnya yang kini berbalik menghadap punggung sofa.
"Jangan bermain-main dengan api, Neji!"
"Sejak kapan kau suka ikut campur urusan orang lain, Sasuke?" sindir Neji dalam.
"Hn."
Lagi-lagi Neji hanya bisa mendengus dan berdecak sebal, dia sendiri terlalu malas jika nanti harus berhadapan dengan Naruko hanya karena Tenten. Neji yakin jika dia bisa mendapatkan Tenten dalam waktu singkat, namun seperti biasanya, perasaannya terhadap seorang wanita tidak pernah lebih dari tiga puluh hari. Dan jika hubungannya dengan Tenten kandas, yang pasti akan berakhir seperti drama dengan tangis dan permohonan lirih yang sudah sering Neji dengar selama ini dari mulut setiap wanita yang dicampakkannya. Dan jika itu terjadi pada Tenten, Neji yakin jika Naruko yang akan maju dan menghajarnya, belum lagi Hinata yang notabennya merupakan teman baik Naruko, dia pasti berada di pihak Naruko. "Ck, baiklah aku tidak akan mengganggunya. Lagi pula, dia bukan tipeku," ucap Neji setengah berbohong.
"Pegang kata-katamu!" ucap Sasuke datar.
"Hm..." Jawab Neji ambigu sedangkan Shikamaru bergumam lirih, "merepotkan."
.
.
.
"Jika setiap hari butikmu ini dikunjungi artis seperti mereka, mungkin aku akan mati muda," keluh Kurenai seraya merapihkan beberapa dokumen ke dalam boks file dan menyimpannya di sebuah cabinet penyimpanan arsip yang terletak di pojok ruangan sebelah kanan.
"Mereka idola remaja saat ini," sahut Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop, sementara jari-jari tangannya menari-nari diatas keyboard.
"Remaja sekarang terlalu berlebihan dalam mengidolakan artis," ucap Kurenai dengan kening berkerut dan menggelengkan kepalanya pelan. "Aku rasa mereka mencintai idolanya melebihi rasa cinta mereka pada diri sendiri, terlalu mengagung-agungkan. Mereka akan marah jika idola mereka dikritik, bukankah itu aneh? Padahal, artis juga manusia, hanya kebetulan saja pekerjaan mereka sebagai entertainment, aku benar-benar tidak habis mengerti," katanya setengah melamun. "Mau kopi, Ruko-san?"
"Boleh," jawab Naruto tersenyum. Kurenai segera beranjak ke counter dan membuat dua cangkir kopi hitam untuk mereka berdua. "Mungkin, saat mereka sudah seusiaku saat ini, mereka hanya akan tersenyum jika mengingat hal-hal yang mereka lakukan saat remaja."
"Kurenai-san, apa dulu anda seperti remaja saat ini? Mengejar-ngejar idola misalnya?"
"Ya, dulu aku juga sama. Hanya tidak sefanatik remaja saat ini."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar," jawab Kurenai cepat. "Jadi, pria bernama Sasuke itu kekasihmu?" tanya Kurenai mengalihkan pembicaraan dan meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja Naruto. "Terima kasih," ucap Naruto sementara Kurenai membawa satu cangkir kopi bersamanya dan duduk dengan nyaman di sofa tamu yang ada di ruang kerja Naruto.
"Yah... begitulah," jawab Naruto tersenyum simpul menjawab pertanyaan Kurenai.
"Sepertinya dia pria yang baik. Well, walaupun wajahnya terkesan dingin dan tidak bersahabat," lanjut Kurenai seraya menyeruput kopi hitamnya.
Naruto terkekeh dan melirik ke arah Kurenai. "Wajahnya memang seperti itu, tapi, hatinya baik."
"Aku bisa merasakannya Ruko-san, auranya begitu berbeda saat dia bersamamu. Andai saja putriku bisa mendapatkan sosok pemuda yang baik sepertinya, mungkin dia akan bahagia."
Sejenak jari-jari Naruto berhenti menari di atas keyboard, sekilas matanya melirik ke arah Kurenai yang begitu nikmat menyeruput kopinya yang masih mengepul. "Putrimu, masih sendiri?"
"Begitulah," jawab Kurenai pendek.
"Putrimu pasti mendapat pemuda yang baik, Kurenai-san. Semua ada waktunya," ujar Naruto lembut. "Bukankah dia seusiaku?"
"Ya."
"Sekali-kali, bawa putrimu kesini. Kami pasti bisa menjadi teman baik."
"Ya," jawab Kurenai lagi pendek. "Aku akan kembali ke mejaku, ada beberapa berkas yang harus aku selesaikan, dan harus kau periksa hari ini juga, Ruko-san."
"Hai, wakatta," jawab Naruto. Kurenai segera berdiri dengan cangkir kopi di tangan kanannya dia melangkah keluar dari kantor Naruto dan kembali ke mejanya yang berada persis di depan ruang kantor Naruto.
Kurenai menyelesaikan pekerjaannya tepat pukul empat sore, menyerahkan laporannya pada Naruto untuk diperiksa dan pamit pulang tepat pukul delapan malam. Kurenai menolak dengan halus saat Naruto menawarkannya makan malam bersama malam ini. "Putriku menungguku di rumah," kilahnya sopan.
"Rumahmu dimana Kurenai-san? Ijinkan aku dan Sasuke mengantarmu pulang," tawar Naruto lagi seraya mengambil jaketnya yang menggantung di punggung kursi kerjanya dan memakainya dengan cepat.
"Tidak perlu," tolak Kurenai lagi. "Arah rumahku bertolak belakang dengan rumahmu. Lagipula aku lebih suka naik bus, rasanya lebih nyaman."
Naruto hanya mengangguk paham, mematikan lampu dan menutup pintu kantornya dengan bunyi klik pelan. "Baiklah, tapi lain kali kita harus makan malam bersama, ajak putrimu serta, dan tidak ada tolakan!" ucap Naruto serius.
"Ok, lain kali tidak akan ada tolakkan," kata Kurenai tersenyum tipis. Mereka berdua berjalan berdampingan melewati lorong kantor yang hanya diterangi sedikit cahaya lampu, karena hampir semua pegawai sudah pulang dan hanya ada empat orang satpam saja yang berjaga hingga shift mereka berakhir esok pagi untuk menjaga kantor sekaligus butik milik Naruto ini.
Naruto dan Kurenai berpisah tepat di depan pintu kaca besar gedung. Kurenai mengambil arah kanan menuju jalan besar setelah sebelumnya pamit untuk pulang, sementara Naruto tetap berdiri disana hingga jemputannya datang.
.
.
.
"Sudah lama menunggu?" tanya Sasuke yang saat ini sudah berdiri tepat di depan Naruto, membukakan pintu mobil dan mempersilahkannya untuk masuk.
"Tidak. Sebenarnya aku masih ada pekerjaan yang belum selesai," jawab Naruto beranjak masuk ke dalam mobil Sasuke dan memasang sabuk pengaman dengan cepat. "Kurenai-san bersikeras menemaniku malam ini, dia bilang, tidak aman jika aku berada di kantor seorang diri."
"Dia benar," ucap Sasuke yang saat ini sudah duduk nyaman dibalik kursi kemudi dan menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
"Tapi sekarang masih jam delapan malam," protes Naruto sambil memutar kedua bola matanya bosan.
"Tetap saja ini sudah malam, Naruto. Jika aku tidak bersikeras menjemputmu, aku tidak yakin kau akan pulang dibawah jam sepuluh malam."
Naruto mengernyit dan bertanya heran. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Jalan pikiranmu mudah dibaca, Dobe." Sasuke menyeringai dan mengacak rambut Naruto lembut.
"Hei, aku melakukannya karena sibuk, Teme! Aku harus memastikan hari besarku nanti, berjalan dengan sempurna."
"Jangan terlalu memaksakan diri," ucap Sasuke tegas.
"Aku sudah terbiasa bekerja hingga larut malam," balas Naruto santai.
"Rubah kebiasaanmu itu!"
Naruto tersenyum kecil dan menjawab ketus. "Coba lihat siapa yang bicara, padahal jam kerjamu jauh lebih panjang daripada aku."
"Jangan membuatku khawatir," sahut Sasuke lirih tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Naruto.
"Hai, wakatta," sahut Naruto saat mendengar nada cemas pada suara Sasuke. "Kau pun sama. Kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik, jaga pola makan, dan istirahat yang cukup. Asuma-san, seharusnya memberimu libur minimal dua hari dalam seminggu," ucap Naruto panjang lebar.
Ekspresi Sasuke berubah untuk sesaat saat mendengar ucapan Naruto, bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Sekilas dia kembali melirik ke arah Naruto yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang membuat dirinya gemas dan ingin mencium bibir wanita itu dengan rakus. "Jangan melihatku seperti itu, Dobe. Atau kau akan menyesal."
"Memangnya kenapa?" protes Naruto pelan. "Apa aku tidak boleh menatap wajah kekasihku?"
"Hn."
"Kenapa?"
"Ck, karena aku ingin sekali mencium-mu jika kau terus menatapku seperti itu," ucap Sasuke sukses membuat Naruto gugup, wajahnya memerah seketika, dengan cepat Naruto mengalihkan tatapannya keluar jendela, mengipasi wajahnya yang memanas dengan tangan kanan, sementara Sasuke hanya menyeringai puas menyisakan keheningan disisa perjalanan mereka.
.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Naruto tepat di depan pintu masuk apartemennya.
"Kau tidak mengundangku masuk?" tanya Sasuke tanpa basa-basi, sementara punggungnya menyandar ke tembok dengan kedua tangan disilangkan di depan dada.
Naruto kembali tersenyum dan menjawab lirih. "Ini sudah malam, Teme."
"Lalu?"
"Lalu... sudah saatnya kau pulang dan istirahat. Jadwalmu pasti padat besok, bukan begitu?"
"Hn."
"Selamat malam, Sasuke!"
Naruto terkejut saat Sasuke menangkup kepalanya dan menariknya mendekat ke wajahnya. Dengan perlahan, Sasuke mengecup ujung bibir Naruto dengan lembut. "Aku masih ingin bersamamu," katanya setengah berbisik.
Sejenak Naruto terkejut, sebelum akhirnya membalas ciuman Sasuke singkat. "Baiklah, kau boleh ikut masuk, secangkir kopi dan pulang!"
Sasuke menggenggam tangan Naruto, menatapnya erat dan berkata dengan nada lelah. "Aku ingin tidur di sini, aku terlalu lelah untuk menyetir dan pulang ke apartemenku."
Naruto menghela napas panjang dan menjawab. "Ok, kau boleh menginap. Tapi, kau tidur di sofa," katanya tegas.
"Hn."
Naruto memasukkan kode kunci dan membuka pintu apartemenya, bergegas masuk dan menyalakan lampu. Sasuke yang mengekor di belakangnya membuka sepatu, menggantungkan jaket pada coat rack dan menghempaskan diri ke atas sofa, membaringkan tubuhnya dengan nyaman disana.
"Sasuke, kau sudah makan malam?" teriak Naruto dari dalam kamar.
"Belum."
"Kau bisa menggunakan kamar mandi, sementara aku akan membuatkanmu makan malam. Ada beberapa pakaian rancanganku tergantung di rack sample yang mungkin bisa kau pilih dan kenakan untuk tidur, masukkan pakaianmu ke dalam keranjang pakaian kotor di dekat lemari pakaian, aku akan mencucinya nanti." Ucap Naruto sambil berjalan keluar dari kamar menuju dapur.
"Ya," jawab Sasuke yang segera bangkit dan masuk ke dalam kamar, sementara Naruto beranjak ke dapur, menyiapkan bahan dan mulai memasak untuk makan malam mereka.
Selang dua puluh menit kemudian, Naruto masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaian kotor milik Sasuke. Naruto terlonjak kaget saat dalam waktu bersamaan, Sasuke keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan sebuah handuk yang melilit disekitar pinggangnya, sementara tangan kanannya menggosok rambut dengan selembar handuk lain untuk mengeringkan air yang masih menetes dari helaian rambutnya.
"A-aku mau mengambil pakaian kotor," ucap Naruto gugup, tanpa bisa menatap ke arah Sasuke untuk kedua kalinya sementara Sasuke menyeringai kecil.
"Kau sudah mengambil pakaian ganti?" tanya Naruto mencoba menutupi kegugupannya, sementara pandangan matanya masih menunduk menatap keranjang pakaian kotor yang saat ini sudah kosong.
"Hn."
"Baiklah, sebentar lagi makan malam siap," ucap Naruto lagi dan segera melarikan diri keluar dari dalam kamar dengan beberapa pakaian kotor di tangannya, meninggalkan Sasuke yang masih berdiri santai di tempatnya dan menatap punggung Naruto dengan tersenyum penuh kemenangan.
Jantung Naruto berdetak begitu cepat saat ini, memorinya masih saja berputar, menampakkan bagian tubuh Sasuke yang terekspos tadi. "Shit," umpatnya kasar. "Aku hanya melihatnya sekilas, tapi, kenapa masih terbayang-bayang?" gumam Naruto seraya memasukkan pakaian kotor milik Sasuke ke dalam mesin cuci. Wajah Naruto kembali memerah saat tangannya mengambil celana bokser Sasuke berwarna biru tua polos dari dalam keranjang, Naruto melemparkan celana itu ke dalam mesin cuci. Setelah memasukkan sabun, dia segera menutup mesin cuci tersebut, menyalakannya, dan menunggu beberapa saat hingga detak jantungnya kembali normal. Selang beberapa menit, Naruto kembali ke dapur, mengecek masakannya yang kini telah matang, dan segera menatanya di atas meja makan.
Makan malam mereka berlangsung hening, tidak ada satu pun yang bicara. Naruto masih merasa canggung dan malu tiap kali melihat ke arah Sasuke. Entah kenapa, tiap kali dia melirik ke arah pria itu, otaknya malah menampakkan dada bidang Sasuke dan rambutnya yang basah dan terkesan seksi. Tiba-tiba Naruto kembali teringat akan celana bokser milik Sasuke. Wajahnya kembali merah padam, saat menyadari jika mungkin Sasuke sama sekali tidak mengenakan pakaian dalam saat ini.
Sementara Sasuke yang bisa merasakan kegugupan Naruto hanya bisa bersorak dalam hati. Dengan perlahan dia menghabiskan hidangan lezat yang disiapkan Naruto untuknya, tanpa berniat untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. Naruto segera membereskan dan mencuci piring kotor setelah makan malam mereka selesai.
Sebenarnya bukan tanpa alasan, Sasuke menginap di apartemen Naruto. Dia terlalu takut untuk meninggalkan Naruto seorang diri. Sasuke merasa aneh saat Naruto mengatakan jika Sasori sudah tidak pernah mengganggunya lagi sejak pesta di keluarga Hyuuga. Sasuke merasa jika Sasori sedang merencanakan sesuatu, dan itu membuatnya semakin waspada.
Kantuk mulai menyerang Sasuke usai perutnya terisi penuh, perlahan kelopak matanya mulai menutup. Naruto yang sudah menyelesaikan kegiatannya di dapur tersenyum saat melihat Sasuke sudah tertidur pulas di sofa. Naruto segera mengambil selimut dan menyelimuti tubuh pemuda itu, mengecup keningnya lembut, mematikan lampu, dan beranjak masuk ke dalam kamar untuk bersiap tidur.
.
.
.
Sasuke bangun keesokan paginya dengan mencium wangi kopi yang begitu menggoda. Perlahan dia membuka kelopak mata, dan mengenyahkan selimut yang masih membungkus tubuhnya hingga dada.
"Selamat pagi," sapa Naruto lembut dan mengecup puncak kepala Sasuke yang saat ini sudah bangun dan duduk di atas sofa.
"Selamat pagi."
"Sarapan sudah siap, mandilah, pakaianmu sudah aku siapkan di kamar," katanya kembali melenggang pergi ke dapur.
Sasuke segera beranjak dan masuk ke dalam kamar, senyum tipis tersungging di mulutnya saat dia melihat pakaian yang dikenakannya kemarin sudah terlipat rapih di atas tempat tidur. Di sebelah pakaiannya, Sasuke juga melihat satu stel pakaian lain, yang sudah disiapkan Naruto untuk dipakai Sasuke agar dia tidak perlu pulang ke apartementnya dan berganti pakaian.
Dengan cepat pria itu mandi, mengenakan pakaian yang disiapkan Naruto dan mematut diri di depan kaca untuk memeriksa penampilannya. "Lumayan," kata Sasuke lirih saat melihat pantulan dirinya saat ini yang nampak memukau.
Naruto tersenyum saat melihat Sasuke yang keluar dari dalam kamar, mengenakan pakaian hasil rancangannya yang terlihat begitu pas di tubuh pria itu. "Kekasihku tampan sekali pagi ini," puji Naruto mengesampingkan rasa gugup yang entah kenapa masih ada saat ini. "Ah, kurasa karena pakaian yang kau kenakan?"
"Aku memang tampan, Dobe. Akui saja, selain itu, kurasa kau terlalu memikirkan aku saat membuat pakaian ini, bagaimana bisa pakaian ini begitu pas di tubuhku?" ucap Sasuke disertai senyuman tipis.
"Anda terlalu percaya diri, tuan Uchiha, untuk apa aku memikirkanmu saat bekerja?" balas Naruto datar. "Kopi?"
"Hm." Sahut Sasuke dengan anggukan kecil sementara Naruto meletakkan sebuah cangkir berisi kopi hitam di atas meja untuk Sasuke. "Aku akan mengantarmu ke kantor," kata pria itu seraya mengigit roti bakar yang sudah disiapkan Naruto. "Pakaianku simpan di sini saja, mungkin aku akan membutuhkannya nanti."
"Jangan bilang, jika kau berencana untuk menginap lagi disini." Mata Naruto memicing penuh selidik, sedangkan Sasuke hanya mengangkat bahu tidak peduli. "Baiklah, terserah..." balas Naruto dengan mengangkat kedua tangannya ke udara, dengan lebih santai akhirnya dia bisa melanjutkan kembali sarapannya.
"Sebenarnya, kemarin kaa-san telepon dan mengundangmu untuk makan malam, malam minggu nanti. Kau ada acara?"
Naruto terdiam, mencoba mengingat-ingat jadwalnya untuk minggu ini. "Aku harus kerja untuk mengejar batas waktu, tapi akan aku usahakan pulang jam empat sore hari Sabtu nanti."
"Aku akan menjemputmu."
Naruto menggeleng dan menjawab. "Tidak perlu, jadwalmu pasti sangat padat. Kita bertemu di rumahmu saja."
"Kalau begitu, aku akan meminta kakakku untuk menjemputmu."
"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri. Tachi-nii juga pasti sibuk," tolak Naruto halus.
"Aku akan meminta Iruka-san untuk menjemputmu, mengantarmu ke rumah, dan itu final!" kata Sasuke dengan nada tegas.
"Apa tidak bisa ditawar lagi?"
"Jika menyangkut keselamatanmu, maka jawabannya adalah tidak."
Naruto akhirnya mengangguk setuju karena terlalu malas untuk berdebat di pagi buta karena hanya akan menguras energi. Selain itu, dia juga sadar jika Sasuke pasti sangat khawatir, terlebih setelah dia menceritakan kejadian di pesta Hyuuga pada pria itu. Naruto menggigit bibir bawahnya, sementara tangannya bergerak gelisah di pangkuannya. Sasuke yang menyadari perubahan sikap Naruto akhirnya kembali bicara. "Aku tidak berniat untuk mengekangmu, Naruto. Aku hanya khawatir, benar-benar khawatir. Aku harap, kau bisa mengerti."
"Aku tahu," sahut Naruto lirih dengan kepala tertunduk. "Aku hanya tidak ingin membuat kalian semua repot, aku juga tahu jika kalian khawatir, terlebih kau, Suke. Hanya saja, aku takut jika kau akan menganggapku beban, dan pada akhirnya merasa bosan dan pergi," lanjutnya dengan suara tertahan.
"Bodoh!"
"Hah?"
Sasuke mengambil napas dalam dan menjawab. "Menjagamu adalah kewajibanku, kau adalah separuh nyawaku, jika sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri untuk seumur hidupku." Naruto terdiam, meresapi setiap kaliam yang diucapkan oleh Sasuke, hingga senyuman kecil itu terukir di bibir mungilnya. "Terima kasih, Sasuke." Katanya sedikit bergetar.
"Jangan pernah berpikir jika kau adalah beban, aku tidak suka."
Hening menyelimuti mereka setelahnya, jemari tangan Naruto kembali bergerak gelisah di pangkuannya. "Aku sudah terbelenggu erat olehmu, Naruto. Karenanya, kau harus bertanggung jawab hingga akhir," kata Sasuke.
"Dan aku sendiri sudah keluar dari kegelapan yang mengikatku selama ini, karena itu, kau bertanggung jawab untuk menjagaku hingga akhir," balas Naruto.
"Kulaksanakan dengan senang hati," kata Sasuke menatap Naruto lembut. Naruto berdiri, berjalan memutari meja makan, memeluk Sasuke dari belakang dan mengecup pipinya mesra. "Dan siapa yang bisa menolak jika memiliki penjaga hati yang menawan sepertimu," bisik Naruto halus tepat di telinga kanan Sasuke. Mereka terus seperti itu untuk beberapa menit kedepan, menikmati kebersamaan yang terasa hangat dan menyenangkan. Andai saja waktu bisa berhenti di detik ini, mungkin aku akan bahagia selamanya, pikir keduanya kompak.
Sementara itu di tempat lain, Sasori kembali menyesap wiski yang dituang ke dalam gelas kristal dan menghabiskannya dalam sekali tenggak. "Brengsek," umpatnya yang entah untuk keberapa kali. Sasori mengambil pematik api untuk membakar selembar foto yang ada di tangannya. "Kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya, karena dia milikku," desis Sasori setengah mabuk.
Sasori bukan tipe orang yang mudah mabuk, tapi jika kau bergadang sepanjang malam, dengan ditemani wiski dan berbungkus-bungkus rokok, siapa juga yang tidak akan mabuk. Sasori cukup beruntung karena dia masih sentengah sadar saat ini, tidak terkapar menyedihkan dalam kondisi mabuk.
"Kau tidak boleh bersamanya, cantik. Kau harus bersamaku," racaunya menatap foto Naruto dengan pandangan agak kabur. "Tidak ada yang boleh memilikimu, jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada orang lain yang akan memilikimu," katanya dengan tawa yang menakutkan.
Sasori membuang laporan hasil penyelidikan anak buahnya mengenai Naruto ke dalam keranjang sampah yang terbuat dari kaleng. Menyiramnya dengan wiski dan menyulutnya dengan api hingga kertas itu terbakar dan menjadi abu. "Uchiha Sasuke, kau tidak tahu siapa lawanmu. Aku, akan menyingkirkanmu lebih dulu."
.
.
.
Perhelatan itu pun akhirnya tiba, waktu sudah menunjukan pukul tiga sore. Setelah cek sound, Naruto mengadakan GR terakhir. Pelataran Hotel sudah penuh dengan papan bunga ucapan selamat, sementara ruang ganti yang sengaja dibuat di belakang panggung, kini penuh oleh rangkaian bunga dari kolega. Panggung catwalk berdiri ditengah Ballroom, berbentuk huruf 'T' dengan ukuran lebar tiga puluh meter dan panjang lima puluh meter.
Sisi kiri dan kanan panggung, diisi oleh kursi yang berjejer memanjang untuk para tamu undangan. Sementara untuk pers diberikan tempat tepat di depan panggung catwalk. Meja buffet berjajar rapih di sisi kanan dan kiri ruangan. Dan jangan lupakan meja bar yang sengaja diletakkan di sudut kanan ruangan, lengkap dengan stool dan beberapa sofa puff yang nantinya akan dipakai untuk after party.
"Cemas?" tanya Sasuke lirih tepat di telinga Naruto.
"Sedikit," jawab Naruto jujur. "Bagaimana denganmu, gugup?"
Sasuke mengeratkan pelukannya pada kekasihnya itu dan menjawab pendek. "Hn." Naruto tersenyum mendengar pengakuan Sasuke, membalikkan tubuhnya dan balas memeluk Sasuke. "Aku akan meminjamkan kekuatanku untukmu."
"Tidak perlu," balas Sasuke hingga Naruto mendongakkan kepala tidak mengerti. "Kenapa?" tanyanya heran. "Karena aku yang akan meminjamkan kekuatanku untukmu," ucapnya yang lalu mengecup lembut puncak kepala Naruto.
"Bisakah kalian berhenti mengumbar kemesraan," protes Kiba tiba-tiba. "Kalian tahukan, jika aku sangat iri setiap melihat kemesraan kalian?" tambahnya lagi dengan kesal.
Shikamaru yang berjalan dibelakang Kiba tersenyum dan menepuk bahu pemuda itu pelan. "Carilah kekasih Kiba, agar kau bisa seperti mereka," katanya dengan mengangkat dagu ke arah Naruto dan Sasuke. Kiba menghela napas lelah dan memijat leher bagian belakangnya pelan. "Sulit Shika jika kau harus berhadapan dengan buldog yang siap menggigit setiap aku mendekati sepupunya."
"Maksudmu aku?" potong Neji yang kini sudah berdiri menatap tajam ke arah Kiba. "Siapa lagi?" keluh Kiba tanpa rasa takut.
"Jangan salahkan aku Kiba, Hinata bisa hamil jika dekat-dekat denganmu."
"Hei, aku bukan pemuda brengsek yang akan meninggalkan kekasihnya saat dia hamil."
"Tidak ada seks diluar nikah, Kiba. Jika kau memang serius, nikahi dia, tidak perlu pacaran."
"Bagaimana denganmu?" protes Kiba tajam. "Kau selalu meniduri kekasihmu."
Neji berdecak dan berjalan ke arah Kiba dengan langkah cepat. "Hal itu berbeda," desisnya tajam tepat di depan wajah Kiba.
"Tidak ada bedanya," semprot Kiba marah.
"Ada," potong Neji. "Karena Hinata adalah adikku," ucapnya sungguh-sungguh. "Aku tidak mau dia terluka," sambungnya lagi.
"Stop!" teriak Naruto kencang. "Kiba-san, fokus pada pekerjaanmu saat ini," kata Naruto tegas. "Dan Neji-san, kurasa Hinata sudah cukup dewasa untuk mengatur kehidupan pribadinya saat ini. Jangan mengekangnya, karena dia bisa berbalik membencimu nanti," tegur Naruto yang seperkian detik membuat Neji terkejut. "Satu lagi, jika kau berani menyakiti Tenten, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa melanjutkan keturunanmu lagi," ucapnya dengan nada mengancam, menyebabkan keempat pemuda itu menelan ludah.
"Bersiaplah, kita akan latihan terakhir, para tamu undangan akan datang pukul lima sore. Aku akan ke belakang mengecek persiapan model yang lain," kata Naruto dengan mood yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat. "Semangat!" lanjutnya dengan senyum lebar dan berlalu pergi.
"Kekasihmu menakutkan," ujar Kiba selepas Naruto pergi, sementara Sasuke bergeming dengan wajah datar andalannya. Neji tampak memijat keningnya pelan, sedangkan Shikamaru yang saat ini bersandar pada sebuah pilar hanya menatap plafond Ballroom dan bergumam pelan, "wanita memang merepotkan."
"Dan siapa yang mengatakan dia bukan tipeku?" sindir Sasuke melirik tajam kearah Neji.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, para tamu undangan dan pers mulai memadati ruangan Ballroom itu. Beberapa tamu VVIP sudah duduk di tempat yang disediakan di pinggir panggung. Beberapa artis yang memang diundang, menjadi sorotan kamera pers dan sejenak berpose di depan 'Wall of Fame' dan menjawab singkat beberapa pertanyaan wartawan.
Sebuah mobil Audi A8 berhenti tepat di pelataran pintu masuk Hotel, Sakura menggandeng tangan seorang pemuda berambut merah dan melenggang masuk ke dalam Hotel. Sakura melambai ramah ke arah kamera wartawan dan tersenyum.
"Jika aku tahu, kau akan mendapat sorotan seperti ini, aku pasti akan berpikir tiga kali saat kau mengajakku untuk pergi bersama." Bisik Gaara tepat ditelinga Sakura. Sebenarnya Gaara sendiri diundang secara pribadi oleh Naruto, namun karena dia tidak terbiasa pada acara seperti ini, akhirnya Gaara menerima ajakan Sakura untuk datang bersama.
"Aku ini artis terkenal, Gaara-kun," jadi biasakan dirimu untuk menjadi pusat perhatian." Jawab Sakura tanpa melepas senyuman dari bibirnya. "Bisakah kita cepat masuk ke dalam ballroom?" keluh Gaara yang mulai risih dengan flash kamera yang tidak berhenti menerpa wajahnya. "Ok," sahut Sakura cepat.
Gaara dan Sakura baru saja masuk ke dalam hotel saat mereka berpapasan dengan Karin, yang menatap mereka berdua dengan sebelah alis terangkat. "Ajaib rasanya melihat kalian datang bersama-sama," sambut Karin dengan nada datar dipaksakan. Sakura tersenyum mengejek dan melihat ke arah kanan kiri Karin. "Datang sendiri?"
"Begitulah," jawab Karin tak acuh.
"Seharusnya kau mengajak seseorang Karin, sekali-kali membuat sensasi juga penting untuk karir kita," ujar Sakura menggurui sementara Karin memutar bola matanya bosan. "Lagipula, sedang apa kau disini, mencari udara segar sebelum naik panggung, hah? Kebiasaan jelek!"
"Terserah," balas Karin dingin dan berjalan pergi meninggalkan Sakura.
"Lebih baik kita juga segera ke ballroom, Gaara. Sebentar lagi acaranya akan dimulai," kata Sakura melirik ke arah Gaara, dirinya berusaha menutupi rasa kesalnya saat menyadari jika Gaara sudah tidak ada di sampingnya yang pergi entah kemana. Sakura menghentakkan kaki, dan akhirnya beranjak pergi seorang diri menuju ballroom.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Sasori berbalik dan tersenyum lebar saat melihat sosok yang berdiri dihadapannya saat ini. "Oh, lihat siapa yang bicara. Apa kabar, Gaa-chan?" sindir Sasori tajam. "Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa seorang polisi rendah sepertimu ada di sini?" Gaara mengepalkan kedua tangan dan menekan emosinya yang mulai tersulut. "Ruko-san dan Sasuke adalah temanku, mereka mengundangku," balas Gaara dingin.
"Naruko temanmu?" tanya Sasori tertarik sementara Gaara hanya mengangguk kecil. "Seharusnya kau mengatakannya padaku, Gaara," ujarnya sambil merangkul pundak Gaara akrab, namun Gaara segera menepisnya kasar.
"Jangan macam-macam," desis Gaara penuh penekanan disetiap kata.
"Normal jika kita tertarik pada wanita cantik, bukan begitu Gaara?" balas Sasori tidak menghiraukan peringatan Gaara.
"Naruko calon istri Sasuke, bukan hanya aku yang akan kau hadapi jika kau berani mengganggunya, tapi juga keluarga Uchiha."
"Mengancam, heh?" Sasori tertawa sombong. "Semua itu kuanggap sebagai tantangan, adik kecil," katanya seraya menepuk bahu Gaara sebelum berlalu meninggalkan pemuda yang lebih muda itu sendiri.
"Tidak tahu diri!" desis Gaara menatap tajam punggung Sasori. "Aku tidak akan tinggal diam Sasori, aku akan melindungi orang-orang yang berharga untukku."
.
.
.
Fashion show itu dimulai tepat pukul enam sore, Naruto mengangkat thema elegance untuk rancangan yang ditampilkan malam ini. Menurut Naruto, tidak perlu glamour untuk dapat menarik decak kagum, tapi, lebih pada apresiasi selera busana yang terkesan menawan. Naruto memadumadankan setiap corak, model, pola, dan ragam bahan dengan pemanis berupa aksesoris dan pernak-pernik lainnya, baik untuk pria maupun wanita.
Naruto menuangkan daya kreasinya pada setiap koleksi rancangan yang hendak dijadikan trend, tanpa memandang gender, menarik setiap mata yang terpikat pada dunia seni adibusana. Di atas panggung peragaan busana yang cantik dan menawan, rasanya menghapuskan segala kepahitan yang harus dilalui Naruto untuk bisa sampai dititik ini. Karena seperti yang kita ketahui persaingan di dunia fesyen kadang bisa sangat sadis. Dan setelah hampir satu jam, peragaan busana itupun ditutup dengan tepukan meriah dari tamu undangan dan diakhiri dengan peluncuran merk dan label fesyen milik Naruto.
Tepukan meriah terus terdengar saat Naruto melangkahkan kaki diatas catwalk bersama Sasuke berjalan disampingnya. Para model berjajar menyambut dan melemparkan senyum menyambut Naruko. Sebuah bouquet besar bunga lily of the valley diberikan kepada Naruto sebagai penghargaan. Naruto menunduk dan mengucapkan terima kasih, pipinya merona saat tanpa terduga Sasuke mengecup pipi itu mesra, para wartawan yang seakan mendapat tangkapan besar segera mengabadikan moment tersebut dengan kamera.
Tanpa mereka sadari, Sasori terus mengamati kemesraan mereka dengan amarah memuncak. Sasori mengambil telepon genggam miliknya dan berjalan keluar Ballroom, menghindari suara bising yang memang menghentak-hentak di ruangan tersebut. Sasori menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya seseorang menjawab panggilan telepon darinya. "Percepat rencana kita. Bunuh Uchiha Sasuke dan lakukan sebersih mungkin!"
.
.
.
TBC
