Dorm XOXO

.

.

.

.

.

Luhan berjalan gontai dengan tas diseret menuju dormnya. Matanya sangat kentara bahwa dia habis menangis. Rambutnya pun berantakan tidak karuan. Orang-orang pun menatapnya dan kasak-kusuk membicarakan apa yang terjadi di sekolah tadi mengenai dirinya.

Ya.

Mengenai suaranya yang menceritakan tentang ibunya yang tiba-tiba terdengar di radio. Saat itu ia sedang remedial mata pelajaran matematika di ruang guru. Tanpa babibu, dia langsung melempar kertas remedialnya dan berlari meninggalkan ruang guru.

Bukan menuju ruang jurnalisitik melainkan kelas Kim Jongin yang kerap dipanggil Kai. Ia langsung mendaratkan bogemannya di rahang Kai. Tentu saja dia kaget karena mendapatkan serangan tiba-tiba dari Luhan.

Flashback

Kai sedang membaca komik dengan damai sambil menimati angin musim gugur. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama dari headset yang menyumpal telinganya. "Cause you're a skyyyy full of staaarsss.."

"I think I saw—"

BUGH!

Ketika sedang menyenandungkan musik yang di dengarnya, seseorang tiba-tiba menonjoknya hingga ia tersungkur jatuh dari kursi. Ia meringis memegangi pipinya. "Luhan hyung..."

Ia menatap Luhan yang juga menatapnya tajam. Ekspresi wajah manis Luhan menampakkan kemarahan yang amat sangat. Tangan Luhan terkepal dan dadanya naik turun karena emosi.

"APA-APAAN KAU, BRENGSEK?!"

"Apa—"

Luhan menarik paksa headset yang masih menyumpal telinganya.

"...Lalu aku bertanya dimana ibuku. Pamanku bilang, ibuku meninggal. Yah karena waktu itu aku masih kecil aku hanya bisa percaya dan menangis. Saat aku masuk SMP, aku bertanya lagi keberadaan ibuku dimana.."

Kai menoleh ke arah speaker radio yang terletak di atas papan tulis, ia menganga. "Bukan aku yang melakukannya! Aku bersumpah!" seru Kai.

"Jangan berdalih, bajingan!" bentak Luhan sambil mencengkram kerah kemeja milik Kai. Kai memejamkan matanya. "Kalau aku yang melakukannya, aku pasti ada di ruang siaran, hyung! Bukan disini!" seru Kai membela dirinya sambil menepis tangan Luhan.

Luhan tertegun, ia melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja Kai. "Maaf."

"Hyung, aku memang merekam pembicaraan kita. Tapi aku berani bersumpah bukan aku yang melakukan ini," ucap Kai. Tangannya membenarkan kerahnya yang lecek karena cengkraman Luhan.

"Lalu... siapa...?" lirih Luhan. Matanya mulai berkaca-kaca dan bibirnya bergetar.

Kai terlihat memikirkan sesuatu. "Mungkin itu—"

"LUHAN! IKUT AKU KE RUANG JURNALISTIK!"

Tiba-tiba Myungsoo datang dan menyeret Luhan menuju ruang jurnalistik. Penasaran, Kai pun mengikuti mereka dari belakang.

Saat mereka sampai di ruang jurnalistik, Myungsoo membuka pintunya.

Namun tidak ditemukan siapapun disana. Myungsoo menghela nafasnya dan mengacak rambutnya. "Pantas saja kunci pintu ruang klub tidak ada di tasku," gerutunya. Ia melirik Luhan khawatir. "Maaf, Lu. Aku tidak tahu siapa yang melakukan ini..."

Luhan mengangguk. Myungsoo pun mengunci ruang klub jurnalistik dan pergi dari situ. Setelah kepergian Myungsoo, Luhan berjongkok lalu menunduk dan menangis. Kai ikut berjongkok, ia mengusap-usap punggung Luhan.

"Aku takut..." ucapnya di sela tangisannya.

"Aku takut jika seisi sekolah membully-ku..."

"Itu tidak akan terjadi hyung, tenang saja."

Flashback end

Luhan memencet bel. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Pintu digeser dari dalam dan menampakkan seorang lelaki bermata doe. "Hai, hyung. Uhmm.. kau oke?" tanya Kyungsoo yang tadi membukakan pintu.

Kyungsoo adalah orang pertama yang sampai di dorm karena ia membolos. Tapi ia tahu kejadian tadi karena itu terjadi pada jam sebelum istirahat makan siang sedangkan ia kabur setelah makan siang.

Jujur Kyungsoo sedikit iba pada Luhan. Sedikit. Ia membayangkan jika itu terjadi padanya dia pasti sudah putus asa dan bunuh diri karena malu setengah mati. Tapi untungnya itu tidak terjadi pada Luhan.

Sebagai jawaban atas pertanyaan Kyungsoo tadi, Luhan menggeleng. Kyungsoo menghela nafasnya. "Masuklah, aku akan seduh susu coklat," ucap Kyungsoo sambil memberi jalan untuk Luhan masuk ke dalam.

Ketika sampai di dalam dorm, Luhan menghempaskan dirinya di sofa. Melepas seragamnya dengan tidak sabar dan menyisakan kaos serta bokser. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.

Sementara Kyungsoo yang sudah selesai membuat susu coklat dan hendak memberikannya kepada Luhan, meletakkan susunya di meja. Ia memutuskan untuk meminumnya saja daripada mubazir dan keburu dingin.

.

.

.

Lelaki dengan wajah dingin itu berjalan menyusuri koridor gedung sekolah ini sambil memainkan ponselnya. Di bahunya tersampir sebuah tas ransel yang terlihat sama sekali tidak terawat. Sehun pun memasukkan ponselnya ke dalam saku jas seragamnya, menghela nafas.

Di pikirannya terngiang-ngiang apa yang sudah ia perbuat tadi. Sehun menyadari perbuatannya ketika ia keluar dari ruang jurnalistik yang merangkap ruangan siaran itu. Ia menepuk dahinya.

"Sialan..." umpatnya entah pada siapa dengan suara pelan.

Ketika akan menuruni tangga, ia bertemu dengan Kai yang menatapnya tajam. Jantungnya sekarang memompa darah lebih cepat. "O-oi, Kai," sapa Sehun sambil melambaikan tangannya.

Namun Kai tidak membalas sapaannya, ia malah berdiri di depan Sehun dan menatapnya lurus. Ia menelan ludahnya, Sehun merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.

"Oh Sehun," Kai menaruh tangannya di bahu tegap Sehun. "Kau..."

Sehun merasakan tangannya gemetar, maka dari itu ia mengepalnya. Jantung berdegup kencang seperti akan copot. Bagaimana jika dia tahu bahwa aku yang melakukannya?

"Kau..." Kai masih menggantungkan kalimatnya. Ia menatap Sehun tajam. Yang ditatap hanya memundurkan wajahnya—karena Kai mendekatkan wajahnya pada Sehun—dan memasang ekspresi sewajar mungkin. Padahal di pelipis Sehun keringat dingin sudah mengalir.

"Kau tidak diremedial."

Kalimat yang diucapkan Kai tadi membuat Sehun menghela nafas dan tiba-tiba jantungnya berdegup dengan normal kembali. Kai hanya tertawa-tawa sambil menunjuk-nunjuk wajah Sehun. "Sialan. Kukira apa—berhenti tertawa, bodoh!"

Sehun meninju bahu Kai yang masih tertawa-tawa. "Pft—wajahmu benar-benar seperti tertangkap basah mencuri pakaian dalam," Kai menahan tawanya. Sehun memutar bola matanya malas.

"Sudahlah, aku ingin pulang."

"Baiklah, sana pulang! Aku ada urusan dengan Taemin," kata Kai sambil berjalan melewati Sehun. Sehun hanya mendengus. Namun Kai menghentikan langkahnya dan entah Sehun juga jadi menghentikan langkahnya.

"Hun."

Sehun menoleh. "Mwo?"

"Apakah kau..."

.

.

.

.

.

.

Jantung Sehun mulai berdetak dengan cepat lagi.

.

.

.

.

"...menyontek?"

Gubrak.

"Soalnya setahuku kau lemah di fisika namun tiba-tiba mendapat nilai bagus. Bukankah itu patut dicurigai?"

"Ck, kau ini. Sudah, sana pergi! Bukan urusanmu aku menyontek atau tidak," ketus Sehun sambil melangkah menuruni anak tangga. Mendapat jawaban ketus seperti itu, Kai hanya menggedikkan bahunya lalu melangkah menuju kelas temannya.

.

.

.

Pukul enam, sore menjelang malam.

Suasana dorm XOXO masih lumayan damai. Lumayan.

Karena suara televisi membuat dorm berisik, salahkan Kris yang tidak mau mengecilkan volumenya. Padahal Lay sudah ngomel-ngomel pakai bahasa Cina tapi tak dihiraukan Kris jadi dia pergi keluar. Di dapur, Kyungsoo dan Xiumin sedang membuat makan malam. Beralih ke meja makan, Tao sibuk ber-selca atau ber-selfie ria sedangkan Chen membaca komik sambil mendengarkan musik dari headset-nya, dan Suho bermain Call of Duty di laptop milik Kai.

Luhan dan Kai berada di kamarnya masing-masing. Tadi setelah penghuni dorm lain mulai berdatangan, Luhan memindahkan dirinya ke kamar dan melanjutkan tidurnya. Kai, pulang-pulang dia langsung masuk ke kamar lalu tidur tanpa membuka seragamnya terlebih dahulu. Sementara Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun entah dimana.

"Sehun, Chanyeol dan Baekhyun mana?" tanya Xiumin sambil menaruh piring berisi makan malam di meja. Tao, Chen, dan Suho serempak menggeleng. "Kudengar tadi mereka dipanggil Guru Kwon tapi kalau Sehun aku tak tahu," ucap Chen seraya mencabut headset dari telinganya. Xiumin hanya mengangguk.

TANG TANG TANG TANG TANG

"AYO SEMUA MAKAN MALAAAAM!"

Kyungsoo memukul-mukul panci menggunakan spatula, itu menghasilkan bunyi yang sangat nyaring sehingga mereka semua—minus Kyungsoo—menutup telinga mereka. Tiba-tiba terdengar suara debuman yang cukup keras dari kamar nomor satu. Bisa ditebak, itu adalah Kai yang jatuh dari kasurnya karena kaget mendengar suara panci.

Dan benar saja, Kai keluar dari kamar dengan wajah khas orang bangun tidur sambil menggerutu tidak jelas. "Ribut banget sih. Orang lagi tidur juga," gerutunya. Ia melangkah menuju meja makan dengan langkah gontai.

"Serba salah banget sih. Kalau tidak dibangunin, marah-marah 'KOK AKU GAK DISISAIN BALABALABA' padahal sudah tahu orang-orang ini makannya seperti orang yang tidak makan seminggu," omel Kyungsoo. "Terus dibangunkan salah, marah-marah juga!" tambahnya sambil menunjuk-nunjuk Kai dengan sendok.

Kai mengikuti gaya bicara Kyungsoo dengan wajah dijelek-jelekkan. "Dasar cerewet," cibir Kai. Kyungsoo yang hendak menyuapkan nasi ke mulutnya, tidak jadi. Ia menaruh kembali sumpitnya dengan kasar. "Apa? Kau bilang apa tadi?"

"Tidak ada."

"Memangnya aku tidak punya telinga? Tadi aku dengar ya, kau bilang aku cerewet kan? Hah?" Kyungsoo menunjuk-nunjuk Kai dengan sumpit. Laki-laki penyuka anak anjing itu mendecih. "Tuh, kau dengar. Ngapain kau tanya?"

Kyungsoo diam. Tangannya menggenggam sumpit dengan erat, seakan ia sedang meremukkan badan Kai. Lelaki bermata doe itu menatap Kai yang menyuapkan makanan ke mulutnya itu dengan tatapan tajam.

Oke, Kai memancing emosi Kyungsoo sekarang.

"Baiklah. Mulai saat ini, aku tidak akan menyuruh-nyuruh kalian makan malam lagi," ujar Kyungsoo dengan suara lantang. "Aku hanya akan memasak dan menaruhnya di meja. Terserah mau dimakan atau tidak."

"Yaaaa," sahut yang lain kecuali Kai dan Kyungsoo. Kyungsoo menghela nafas dan ia pun melanjutkan acara makannya lagi.

"Puekh. Supnya terlalu asin!" seru Kai tiba-tiba.

Tao menyeruput kuah supnya dan mengernyit. "Tidak ah," katanya. Chen, Suho, Kris, dan Lay—dia sudah kembali—juga berpendapat yang sama dengan Tao. Kyungsoo pun turut menyeruput kuah sup buatannya, tidak asin.

DUAK

Tiba-tiba Kyungsoo menendang kaki meja (karena posisinya berada diujung, dekat kaki meja) dan berdiri. Menatap Kai tajam. "DAN MULAI SAAT INI JUGA, AKU TIDAK AKAN MEMASAK!"

Setelah itu, sendok berhasil mendarat di kepala Kai dan Kyungsoo berlalu ke kamarnya. Kai mengaduh.

Semuanya menatap Kai dengan tatapan menyalahkan. "Ah, siapa yang akan masak nanti?" gerutu Suho. Tao menunjuk Xiumin. Xiumin menepis tangan Tao yang berada di depan wajahnya. "Apaan sih. Aku sebenarnya tidak bisa masak! Selama ini aku hanya bantu-bantu Kyungsoo saja."

"Kau sih, Kai!"—Chen

"Apaan sih? Supnya memang asin, hyung!"—Kai

"Terus nanti kita makan apa dong :("—Lay

"Masa kita mau rebus ramyun terus?"—Xiumin

"Delivery terus gitu?"—Tao

"ADUH GIMANA DONG INI KITA BESOK PAGI MAKAN APA"—Suho

"Suho, kalem. Plisss. Oke, tenang! Semuanya, Kris sang pemimpin punya i—"

SREEETTT

Semuanya pun spontan menoleh ke pintu geser yang terdengar baru saja digeser oleh seseorang.

"AW, KAU BISA TIDAK SIH MENDAHULUKAN YANG KECIL?!"

"BERISIK KAU, KERDIL! MINGGIR, AKU DULUAN!"

Itu ChanBaek.

Posisi mereka sangat tidak elit. Lihat saja, mereka memaksa masuk langsung berdua padahal badan mereka itu tidak kecil dan pintu gesernya tidak begitu lebar. Jadi mereka nyangkut. Salahkan mereka karena tidak ada yang mau mengalah.

Penghuni dorm XOXO yang melihat itu hanya bisa sweatdrop.

.

.

.

Lelaki manis dan tampan dalam satu wajah(?) itu menghela nafasnya. Luhan baru saja bangun dari tidurnya lima menit yang lalu. Jadi dia hanya berguling-guling di kasurnya. Bosan, ia pun meraih ponselnya dan membuka beberapa sosial medianya.

Tiba-tiba matanya melebar sempurna ketika melihat sebuah post di beranda Facebook miliknya.

"Rumor Mengenai Xi Luhan Penghuni Dorm XOXO Adalah Seorang Anak yang Dilahirkan di Luar Menikah, Akhirnya Terungkap!"

Yang mengunggah artikel itu adalah akun milik klub jurnalistik sekolahnya. Luhan menekan link website klub jurnalistik, dan setelah menunggu loading, terlihatlah artikel mengenai dirinya di layar ponsel. Tak lupa juga ada fotonya. Entah kapan foto itu diambil dan siapa yang mengambil.

Luhan membacanya dengan seksama. Setelah selesai membaca artikel mengenai dirinya, ia menghela nafas panjang. Ia pun membaca beberapa komentar dari orang-orang.

'Tak kusangka ternyata itu benar..'

'Siapa yang menyebarkan itu, ya?'

'Kasihan sekali'

'Seperti di drama'

'Padahal kukira hidupnya bahagia dikelilingi harta lho'

'Akhirnya terungkap!'

'Luhan yang mana sih?'

'Aku lupa Luhan yang mana'

'Tidak seharusnya orang menyebarkan kisah hidup seseorang seperti itu! Benar-benar tidak sopan! Cih'

'Sabar, Luhan hyung'

'Luhan yang klub sepak bola sama jurnalistik itu, ya?'

'Kalau aku jadi dia, aku sudah stress berat. Luhan gege, fighting!"

Kurang lebih komentarnya seperti itu. Ada yang terkejut dengan berita ini, ada bertanya-tanya siapa yang menyebarkan rekaman Luhan, yang kasihan, protes, kritik, memberikan semangat, yang bertanya Luhan yang mana pun juga ada.

Dia tersentak kaget ketika mendengar suara panci.

"AYO SEMUA MAKAN MALAAAAM!"

Tanpa dilihat pun, ia tahu itu suara Kyungsoo. Luhan hendak beranjak dari kasur namun ia mengurungkan niatnya. Ia kembali berbaring di kasur dan menarik selimutnya. Dia malas jika harus bertemu Sehun di luar.

Luhan memejamkan matanya. Hanya memejamkan saja, tidak tidur. Dia bisa mendengar suara Kyungsoo yang mengomel di luar sana. Lalu hening, ia belum mendengar suara-suara ribut lagi. Luhan mendadak membuka matanya ketika mendengar teriakan Kyungsoo lagi.

"DAN MULAI SAAT INI JUGA, AKU TIDAK AKAN MEMASAK!"

Ia mendudukkan dirinya. "Serius dia tidak akan memasak—"

BRAKK

Luhan kaget bukan main ketika Kyungsoo membuka pintu dengan kasar lalu menutupnya dengan kasar juga. Kyungsoo berjalan sambil mencak-mencak menuju kasurnya yang berseberangan dengan kasur Luhan. Luhan hanya menatap Kyungsoo horror.

"Kenapa?" tanya Luhan hati-hati.

Kyungsoo menggeram kesal, ia menendang-nendang dinding yang tidak bersalah itu. "Si Hitam itu membuatku emosi!" serunya. Bahunya naik turun karena terlalu kesal. "Ya... kenapa?" Luhan bertanya lagi karena jawaban Kyungsoo tidak memberikan jawaban(?).

Lelaki yang lebih pendek tidak menjawab. Dia malah berbaring dan menyelimuti seluruh tubuh kecilnya. "Kau akan tahu, hyung," ujar Kyungsoo dari balik selimut. Melihat itu, Luhan menghela nafas untuk yang kesekian kali.

.

.

.

Dua laki-laki dengan tinggi kontras itu menyeruput mi-nya kompak. Mereka bertatapan tajam lalu melanjutkan acara makan-malam-pakai-mi-instan. Tiba-tiba Baekhyun tersedak, ia menepuk-nepuk dadanya sambil meraih segelas air putih. Baekhyun menenggaknya brutal.

Sedangkan Chanyeol hanya menatapnya datar. Jauh di dalam hatinya, Chanyeol ingin sekali tertawa keras-keras tapi ia tahu Baekhyun akan mengomel. Ia sudah lelah bertengkar dengan lelaki manis itu. Chanyeol pun menyeruput mi cup-nya lagi namun—

"AH MATAKU KENA KUAHNYA!"

"BAHAHAHAHAHA"

—mata Chanyeol terciprat kuah mi. Membuat Baekhyun yang melihat itu, tertawa bahagia. Baekhyun memang tipikal orang yang 'susah liat orang senang, senang liat orang susah'. Apalagi pada Chanyeol. Beuh.

Chanyeol kalang kabut membilas matanya dengan air keran. Baekhyun masih tertawa-tawa. Lay yang baru datang dan melihat itu hanya menggelengkan kepalanya heran. Ia duduk di salah satu kursi.

"Perih sekali," gerutu Chanyeol seraya mengeringkan mukanya yang juga kena air. Dia kembali ke tempat duduknya lagi. "Dasar bodoh," ejek Baekhyun. Chanyeol memberi death-glare pada Baekhyun namun karena orangnya juga tidak menghiraukannya, ia kembali menikmati mi cup-nya.

Mereka terpaksa menyeduh mi cup karena sup dan lauknya habis. Chanyeol dan Baekhyun tidak protes karena sudah tahu penghuni dorm ini makannya brutal. Atau juga mereka terlalu lelah untuk sekedar protes. Chen juga bilang bahwa Kyungsoo sedang murka jadi walaupun Baekhyun dan Chanyeol minta dibuatkan makanan lagi, sudah pasti dia tidak mau.

Mau tidak mau, ya.

Padahal Baekhyun sedang ingin makan sup buatan Kyungsoo :(

"Kenapa kalian pulang begitu sore?" tanya Lay sambil membuka sekaleng soda sehingga terdengar bunyi desisan. Kedua laki-laki di depan Lay itu saling bertatapan sesaat, setelah itu menghela nafas kompak.

"Begini.."

-flashback-

Karena ketahuan mengobrol ketika ulangan, akhirnya Baekhyun dan Chanyeol dihukum. Mereka dihukum merapikan perpustakaan sekolah yang cukup besar dan luas itu. Sekarang, mereka sedang merapikan buku-buku setelah membereskan kursi-kursi.

Baekhyun meletakkan tumpukkan buku di raknya, setelah itu ia menepuk-nepukkan tangannya yang agak berdebu. "Panasnya," gerutunya sambil membuka tiga kancing kemejanya dan melepas topinya untuk berkipas. Itu membuat rambutnya berantakan.

Ia memandang rak buku dengan seksama, memeriksa apakah ada letak buku yang salah. "Ah, itu ada," katanya. Sayang, letak buku itu berada dua kali lipat dari tinggi badannya jadi saat ia menjijitkan kakinya, Baekhyun tidak dapat menggapainya.

Chanyeol secara tiba-tiba menghampirinya. "Aku mau pulang, tugasku sudah selesai. Dah, aku dulu—"

"S-sebentar!" seru Baekhyun ketika Chanyeol hendak membalikkan badannya. Chanyeol menaikkan alisnya. "Apa?"

Baekhyun menggaruk kepalanya yang entah kenapa jadi terasa gatal. "Itu... ada buku yang letaknya salah, bisa kau benarkan?" ucap Baekhyun dengan nada yang dibuat semanis mungkin agar Chanyeol mau menolongnya.

"Kau punya tangan, kan? Pakai saja tangan pendekmu itu."

"APA KAU BILANG—ukh, begini. Masalahku adalah aku pendek dan bukunya berada jauh sekali di atas kepalaku. Dan dengan kau membantuku, tugasku menyusun buku selesai lalu kita bisa pulang. Sekarang kau mengerti?" oceh Baekhyun.

Chanyeol menghela nafasnya dan memutar bola matanya malas. "Baiklah," lalu Chanyeol menjijitkan kakinya. Tapi ternyata, tangannya hanya bisa sedikit menyentuh bukunya. Lalu—

"KAKIKU KRAM KAKIKU KRAM SIALAN"

kaki Chanyeol mendadak kram.

Dan lelaki tinggi itu duduk selonjoran dan memegangi kakinya. "Sialan kakiku," ia meringis. Baekhyun ingin tertawa tapi ia tahan karena melihat wajah Chanyeol yang memelas seperti itu Baekhyun tak tega juga. "Kau baik-baik saja?"

"BODOH. YA TIDAK LAH."

"Pft—baiklah, lemaskan kakimu," perintah Baekhyun sambil memegang pergelangan kaki Chanyeol. Chanyeol pun melemaskan kakinya lalu mengernyit ketika melihat Baekhyun komat-kamit.

"FUH!"

KRRRKK

"AAAAAAAAAAAKKKKKK"

Entah apa yang dilakukan Baekhyun sehingga terdengar suara seperti itu dan membuat Chanyeol berteriak. Mata Chanyeol berair seperti ingin menangis, ia terlihat kesakitan. "Sekarang gerakkan kakimu," ucap yang lebih pendek seraya meniup-niup kukunya seakan dia habis memegang benda kotor.

Namun Chanyeol menatap Baekhyun tidak yakin. "Cepat gerakkan," titah Baekhyun. Dengan ragu-ragu, Chanyeol menggerakkan kakinya. Tidak sakit. Seperti biasa.

"Wih, mejik," gumam Chanyeol. Baekhyun yang mendengar gumaman Chanyeol, tertawa sombong. "Berterimakasihlah," Baekhyun menyilangkan tangannya di dada. Pose sombong.

Chanyeol mendecih. "Makasih makasih," katanya dengan tidak ikhlas sambil menarik kursi. Baekhyun mendengus.

Chanyeol pun menaiki kursi dengan kaki kursi yang cukup panjang itu. Membuatnya dua kali lipat lebih tinggi. Sementara Baekhyun mendongak menatapnya. "Woah, raksasa."

Ia tidak menghiraukan Baekhyun, Chanyeol membenarkan letak buku yang salah sambil berdiri di atas kursi. Tanpa mereka ketahui, salah satu kaki kursinya sudah mulai reyot. Sehingga—

"WAAAAAA"

BRAK

BRUK

"AW!"

GUBRAK

Yap.

Kaki kursinya patah karena tidak kuat menahan berat tubuh Chanyeol dan akhirnya Chanyeol jatuh. Menubruk Baekhyun. Tapi yang Baekhyun heran adalah kenapa kepalanya tidak sakit membentur lantai.

Itu karena tangan Chanyeol menyangganya. Baekhyun yang tadi memejamkan matanya erat membuka matanya perlahan. Dan matanya langsung bersiborok dengan mata Chanyeol dengan jarak yang sangat dekat karena Chanyeol berada di atas tubuhnya.

Jantung Baekhyun mulai berdenyut tidak stabil—jadi lebih cepat dan sangat cepat.

Entah, mata Chanyeol seperti mengikat tatapan Baekhyun agar ia tidak menatap kemana-mana selain ke mata besarnya itu.

Dan entah bagaimana juga, sekarang Chanyeol mendekatkan wajahnya. Baekhyun refleks memejamkan matanya. Ia bisa merasakan deru nafas Chanyeol menyapu wajahnya. Jarak bibir mereka pun sangat tipiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii—

"ASTAGA!"

Oh, tidak. Guru Kwon datang.

-flashback end-

"...Chanyeol menubrukku dan jatuh di atasku. Lalu tiba-tiba Guru Kwon datang," ujar Baekhyun. "Dia histeris sekali. Lalu kami dibawa ke ruang Pak Kepsek. Dia bilang kami melakukan 'itu'! Astaga, dia salah paham. Kami tidak dibiarkan menjelaskan dan Pak Kepsek percaya."

Chanyeol menghela nafas panjang. "Jadi kami diskors seminggu."

Lay mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menenggak sodanya lagi. "Orang tua kalian tahu?" tanya Lay. Chanyeol dan Baekhyun serempak menggeleng. Lay ber-oh ria. "Tapi sebaiknya orang tua kalian tahu, lho."

Dua orang yang setahun lebih muda dari Lay itu mengangguk dengan kompak lagi. Lalu Lay melirik jam yang bertengger dinding."Sudah jam 9. Aku tidur duluan. Habiskan mi kalian dan jangan ribut," tukas Lay sambil berlalu dari hadapan Chanyeol dan Baekhyun.

"Ya, hyung," kata mereka.

.

.

.

Sehun menatap datar danau buatan di depannya sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba seseorang memegang bahunya, ia pun melepas headset-nya. Ternyata itu Choi Junhong atau biasanya orang-orang memanggilnya Zelo. Zelo membawa secangkir kopi hangat—di atasnya masih ada asap mengepul—dan memberinya kepada Sehun. Sehun tersenyum tipis dan menerimanya. "Terima kasih."

Zelo menaikkan alisnya sekilas dan duduk di kursi sebelah kursi Sehun. Ikut menatap ke danau buatan yang cukup indah itu. Sehun bisa melihat pemandangan danau sejelas ini karena ia berada di dorm bernama Coffee Shop. Bukan dorm ini juga membuka sebuah kedai kopi, itu dikarenakan penghuni dorm ini penyuka kopi dan dorm mereka beraroma kopi. Ia akan menginap disini.

Dan Zelo, Zelo adalah temannya semasa SMP. Namun saat kelulusan, ada suatu masalah yang membuat Sehun menjauhi Zelo. Sekarang, Sehun benar-benar membutuhkan teman untuk berbicara secara blak-blakan dan ia tidak tahu siapa lagi jadi ia memilih Zelo.

"Jadi... bagaimana?" ucap Zelo tiba-tiba.

Sehun menoleh, ia meletakkan cangkir kopinya setelah menyesapnya. "Entah kenapa aku menyesal," ujar Sehun. "Awalnya aku sangat ingin sekali menjatuhkan dia dan membuatnya malu setengah mati tapi setelah aku keluar dari ruang siaran aku menyesal."

Zelo mengangguk-anggukkan kepalanya. "Begitu," katanya. "Kenapa kau ingin menjatuhkan dia dan membuatnya malu?"

Sehun menggeleng. "Karena... aku membencinya, mungkin?" ia menerawang. "Ah, jangan tanya kenapa aku membencinya!" seru Sehun ketika melihat Zelo ingin membuka mulutnya lagi. Zelo hanya menunjukkan peace-sign. "Aku pun tidak tahu kenapa aku membencinya. Padahal dia tidak melakukan apapun padaku. Aku bertemu dia pertama kali juga saat di dorm XOXO."

"Mungkin karena terbawa penghuni yang lain?" tanya Zelo. Sehun menaikkan bahunya lalu menyesap kopinya lagi.

Hening.

Tidak ada yang berbicara. Sehun menatap lurus ke depan begitupun Zelo. Namun disini Sehun terlihat memikirkan sesuatu. "Sebentar, apa tadi aku bilang pertama kali bertemu dia saat di dorm XOXO?" ucap lelaki penyuka bubble tea itu. Zelo menoleh ke arah Sehun, mengangguk.

Sehun memegang dagunya. "Aku tidak yakin soal itu..."

.

.

.

-TBC/END?-

a/n: DIS IS CHAP 5! ung... mau kasih tau aja buat kristao ship, chapter depan ada mereka~ kekeke aku jd kangen sm ttuijang :( hix. Hehehehe. Review ya :3