Disclaimers : Naruto milik Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : OOC, OC, typo(s), gender switch
Broken Wings
Chapter 13 : I'm Sorry
By : Fuyutsuki Hikari
Seperti hari-hari biasanya, bandar udara JFK - New York selalu ramai. Udara sejuk dari AC yang dipasang begitu banyak di titik-titik ruangan itu, meniup tubuh Naruto yang baru saja turun dari pesawat. Tubuh gadis itu benar-benar lelah, perjalanan selama empat belas jam dari bandara Narita ke JFK bukan waktu singkat. Naruto beruntung karena tidak mengalami jetlag akibat perbedaan waktu yang hampir empat belas jam.
Gadis itu segera mengambil koper miliknya dan bergegas keluar melalui pintu kedatangan. Naruto membuka kacamata hitam bermerk Chanel miliknya dan menyampirkannya dia atas kepala saat dia melihat sosok seorang wanita bersurai blonde panjang melambai-lambaikan tangan begitu semangat ke arahnya. Naruto berjalan semakin cepat dan memeluk wanita itu. "Apa kabar, Shion?" sapa Naruto lembut masih memeluk wanita itu penuh rindu.
"Membosankan," keluh Shion sambil mendengus. "Aku hampir mati bosan di sini karena tidak ada kau." Sahut Shion lagi membalas pelukan Naruto tak kalah erat.
Naruto melepaskan pelukannya dan tersenyum simpul. "Bagaimana bisa kau merasa bosan, sementara ada Sai yang selalu ada di sisimu?"
Shion memutar kedua bola matanya dan berdecak sebal. "Lebih baik kau bawa dia kembali ke Jepang. Keberadaannya di sini hanya mengganggu hari-hari tenangku," keluh Shion. Naruto tertawa renyah mendengar penuturan Shion dan mengalungkan tangannya pada tangan kiri Shion, menarik wanita itu keluar dari bandara.
"Setidaknya kau tidak akan merasa kesepian jika ada Sai di sampingmu." Naruto merapatkan long coat coklat selututnya, dinginnya udara semakin terasa, menjanjikan datangnya musim dingin dalam beberapa minggu yang akan datang.
"Yang benar saja," sahut Shion mengibaskan tangan di depan mukanya. "Pekerjaannya hanya menggoda model wanita, merayu mereka dengan rayuan gombalnya, mengencani mereka untuk beberapa saat dan mencampakkannya. Begitu seterusnya," keluh Shion sebal untuk kesekian kali.
"Kita baru saja bertemu kembali, tapi kau sudah mengeluh beberapa kali." Kata Naruto terkekeh kecil. "Ngomong-ngomong, dia masih seperti itu?" Naruto melirik Shion tidak percaya. "Aku pikir dia sudah sadar," tambahnya. Naruto memasukkan koper ke dalam bagasi mobil dan menutup bagasi itu dengan pelan setelahnya. Shion segera membuka pintu pengemudi dan masuk, disusul oleh Naruto beberapa saat kemudian. Shion segera melaju setelah Naruto selesai memasang sabuk pengaman, membawa kendaraannya masuk ke jalan raya untuk pulang ke apartemen miliknya.
"Hanya keajaiban Tuhan saja yang mampu membuat dia sadar," balas Shion tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Naruto kembali tersenyum, menghidupkan radio lalu mencari saluran stasiun radio yang selalu memutar lagu pop klasik. Ia kembali duduk tegak setelah mendapat saluran yang diinginkannya.
"Dimana dia sekarang? Kenapa tidak datang menjemputku?"
"Kemarin dia pergi, mencari inspirasi untuk melukis, katanya. Aku tidak tahu dia pergi kemana. Aku sengaja tidak memberitahunya mengenai kedatanganmu," jawab Shion cuek. "Itu adalah hukuman untuknya. Gara-gara dia, salah satu model kita kembali mengundurkan diri karena patah hati."
"Sialan!" umpat Naruto.
"Yeah, damn!" beo Shion. "Sayangnya selain dirimu, hanya dia yang bisa kusebut teman." Kata Shion dengan helaan napas panjang. "Jika tidak, aku mungkin sudah memotong kemaluannya dan memberikannya pada anjing penjaga."
Naruto tertawa renyah, menggelengkan kepala dan berdeham setelahnya. "Sadis," katanya. Namun diam-diam dia menyetujui ucapan Shion.
"Hanya itu yang bisa menghentikan kebiasaan buruknya," sahut Shion tenang. "Aku sudah tidak mampu menghitung berapa banyak model kita yang pergi akibat ulahnya. Setidaknya, jika dia tidak memiliki 'junior', dia tidak akan mampu melayani gadis yang dikencaninya." Lagi-lagi Naruto tertawa lama mendengar penuturan Shion yang terdengar santai namun serius secara bersamaan.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu? Sepertinya media di Jepang sedang panas memberitakanmu dengan artis itu." Wajah Shion merengut, mencoba mengingat. "Siapa nama artis itu?"
"Sasuke," jawab Naruto singkat, dia lalu beringsut untuk menyamankan diri pada kursi penumpang di sebelah Shion.
"Yah, Sasuke." Shion mengerem laju mobilnya pelan saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. "Jadi, kau benar-benar pacaran dengannya?" Naruto mengangguk kecil. "Kau gila!" tukas Shion tidak percaya. "Untuk pasangan selebritis, kalian terlalu berani. Sebenarnya apa yang ada dipikiran kekasihmu saat dia menciummu begitu mesra pada penutupan launching kemarin di Jepang?"
"Jangan tanya padaku," Naruto menghela napas panjang. "Saat di belakang panggung, dia hanya menyeringai, begitu menyebalkan dan memasang wajah tanpa dosa ketika aku berteriak mengatakan hal yang sama padanya."
"Benarkah?" Shion kembali melajukan kendaraannya.
"Hmmm, dia bahkan ingin agar kami segera menikah."
"Oh Tuhan, sepertinya dia benar-benar tergila-gila padamu, Naruko."
"Penggemarnya juga gila," sahut Naruto. "Mereka berubah sangat ganas dan terus menerorku. Belum lagi para wartawan yang tidak ada habisnya. Mereka bahkan menguntit diriku untuk mendapatkan berita."
"Menakutkan!" Shion memekik keras.
"Memang," Naruto mengangguk setuju. "Mungkin aku akan menambah waktu kunjunganku untuk kali ini."
"Melarikan diri?" cibir Shion pelan.
"Setidaknya di sini, aku bisa tenang." Jawab Naruto datar dan mengangguk kecil. "Di sini, aku tidak perlu menyamar hanya untuk berjalan keluar apartemen. Atau menyelinap diam-diam, untuk keluar kantor."
"Sampai separah itu?" Shion bertanya kaget dengan mulut terbuka lebar.
"Sebenarnya Sasuke berjanji jika dia akan mengatasi semua itu. Saat ini, aku hanya memberinya waktu dan kembali setelah keadaan lebih tenang." Jelas Naruto menutup pembicaraan mereka, saat Shion membelokkan kendaraannya, menuju gedung apartemennya berada.
"Sepertinya kita akan bergadang, Ruko." Ujar Shion serius. "Kau harus menceritakan kehidupanmu selama berada di Jepang."
.
.
.
"Sasuke, kau masih belum tidur?" Neji menguap, merentangkan tangannya dan mengerjapkan mata beberapa kali, merasa terganggu akan cahaya lampu yang sengaja dinyalakan oleh Sasuke. Neji melirik dan megerutkan kening. "Jam tiga pagi?" katanya setengah berbisik. Pemuda itu bangkit dan menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur sebelum melirik ke arah Sasuke yang saat ini begitu serius menatap layar telepon genggamnya.
"Sebenarnya, ada apa denganmu?" tanya Neji lagi, sementara Sasuke masih diam. Neji menghela napas panjang sebelum kembali berkata. "Apa ada hubungannya dengan Naruko?" tanyanya tepat sasaran.
"Hn." Jawab Sasuke pendek.
"Ada apa dengannya kali ini?" selidik Neji setengah mengantuk.
"Dia belum menghubungiku."
Neji mengangkat kedua alisnya dan menggelengkan kepala tak percaya. "Kau tidak tidur, mengganggu tidurku hanya karena Naruko belum meneleponmu?" Sasuke melayangkan tatapan sinis pada Neji, mendesis dan kembali menatap layar telepon genggamnya serius. "Kalau dia belum menghubungimu, hubungi saja dia lebih dulu!"
"Teleponnya tidak aktif," sahut Sasuke mengerang frustasi.
"Mungkin baterainya habis, atau dia terlalu lelah saat ini hingga belum memberimu kabar." Kata Neji lagi. "Sasuke, kau beruntung karena kali ini kau satu kamar denganku. Coba bayangkan, jika kau sekamar dengan Kiba, kau akan menjadi bahan olokannya jika dia melihatmu seperti ini."
"Aku cemas, Neji. Ok?!" kata Sasuke melempar telepon genggamnya ke atas meja samping tempat tidurnya.
"Dia pasti menghubungimu," hibur Neji. "Sebaiknya kau tidur, besok pagi kita masih ada pemotretan. Manager akan komplain jika dia melihat matamu berkantung. Dan matikan lampunya, aku tidak bisa tidur jika masih ada cahaya!" seru Neji kini kembali berbaring dan berbalik memunggungi Sasuke yang masih belum bisa menutup mata untuk tidur.
Sasuke akhirnya mematikan lampu meja di sebelahnya, mencoba berbaring dan kembali melirik telepon genggamnya yang tergeletak di atas meja. Sasuke kembali duduk dengan cepat dan meraih telepon genggamnya saat telepon genggamnya bergetar, karena panggilan masuk.
"Halo?" jawab Sasuke sambil berjalan menuju jendela kamar. Sasuke menyibak gordyn, hingga terpampanglah pemandangan malam kota Kobe di hadapannya.
"Kau belum tidur," sahut Naruto di seberang sana.
"Bagaimana aku bisa tidur, jika aku belum mendengar suaramu dalam enam belas jam terakhir."
Naruto terkekeh kecil dan menjawab. "Kau merindukanku?"
"Sangat," jawab Sasuke jujur. "Kapan kau pulang?"
Sasuke bisa mendengar jika Naruto berdecak saat ini. "Aku baru pergi selama beberapa jam, dan kau sudah merindukanku?"
"Yah, aku rindu setengah gila." Jawab Sasuke berlebihan. "Di antara kita, mungkin hanya aku saja yang rindu. Karena kau tidak pernah pedu-"
"Aku juga merindukanmu," kata Naruto memotong cepat.
"Kalau begitu cepat pulang," pinta Sasuke dengan nada memohon. "Atau aku yang pergi ke sana?"
"Jangan macam-macam!" ancam Naruto. "Lagipula, saat ini kau masih memiliki PR, bukan begitu?"
"Hn," sahut Sasuke mengerti akan maksud Naruto. "Aku akan menyelesaikannya, jangan khawatir."
"Aku tahu," sahut Naruto mengulum senyum kecil. "Ingat, Sasuke. Jangan macam-macam selama aku pergi, mengerti? Aku akan menghajarmu, jika aku tahu kau berselingkuh!"
"Hn," sahut Sasuke, dalam hati bersorak senang saat dia mendengar nada cemburu pada suara Naruto. "Jaga kesehatanmu di sana!"
"Ha'i, aku tahu. Sebaiknya kau tidur, bukankah sekarang sudah menjelang pagi, di sana? Aku tutup sekarang, I love you, Sasuke!"
"Hn... I love you more!" jawab Sasuke tulus dan menutup sambungan teleponnya. Sasuke kembali berbaring di tempat tidurnya, mengulum senyum kecil. Sebelum akhirnya dia terlelap tidur, tanpa menyadari jika sebenarnya, Neji mendengar semua yang dikatakannya pada Naruto, barusan. 'Dasar pemuda yang sedang dimabuk cinta,' batin Neji kemudian menarik selimutnya hingga sebatas dada, dan kembali merapatkan matanya untuk tidur.
.
.
.
Beberapa hari berlalu dengan cepat setelahnya. Sesi pemotretan Sasuke, dkk berjalan lancar walau harus memakan waktu lebih lama demi mendapat hasil yang memuaskan bagi sang photographer. Mereka juga masih disibukkan latihan untuk pembukaan Kobe Collection, akhir minggu nanti. Benar-benar minggu yang melelahkan dan padat.
Kobe Collection merupakan acara fesyen tahunan yang biasa digelar setiap musim semi dan musim gugur setiap tahunnya. Banyak perancang baru maupun perancang senior ikut ambil bagian di sana. Bahkan beberapa tahun belakangan ini, merek-merek internasional mulai ikut meramaikan pagelaran tahunan ini.
Band Sasuke cs, diberi kehormatan untuk menjadi band pembuka. Namun, mereka menolak secara halus saat ditawari untuk menjadi model beberapa merek fesyen yang akan ditampilkan di sana. "Itu bukan keahlian kami," tukas Shikamaru saat tawaran itu datang.
"Tapi, Anda semua bersedia menjadi model untuk nona Uzumaki."
"Itu pengecualian," sahut Neji dalam.
"Naruko sahabat kami, kami tidak mungkin menolak keinginan seorang sahabat." Timpal Kiba tenang, sedangkan Sasuke hanya tersenyum kecil mendengar penuturan ketiga sahabatnya ini.
.
.
.
"Perintahkan anak buahmu untuk menyerang saat dia sendiri, lakukan dengan cepat. Buat jika seolah-olah itu hanya penyerangan biasa dengan motif perampokan. Yang paling penting, pastikan dia mati. Aku ingin berita kematiannya menghiasi semua layar TV dan majalah, secepat mungkin."
"Saya mengerti, Sabaku-san." Jawab pria di seberang sambungan telepon. "Kami sudah mengikutinya selama dia berada di Kobe, tapi masih belum ada kesempatan. Teman-temannya selalu berada di sekitarnya." Jelas pria itu.
Sasori mendesis dan menjawab dingin. "Kerjakan saja tugasmu dengan baik, aku tidak akan pernah menerima alasan akan kegagalanmu."
"Saya mengerti," jawab Zetsu kemudian mematikan sambungan telepon. Pria itu lalu menghubungi anak buahnya yang kini berada di Sapporo untuk mengikuti targetnya. Anak buah Zetsu mengangguk mengerti akan perintah majikannya. Setelah selesai bicara dengan Zetsu, pria itu menyimpan kembali telepon genggamnya ke dalam saku jaket, sementar matanya kembali beralih pada Sasuke yang saat ini baru saja keluar dari studio, tempat mereka berlatih untuk sementara selama di Kobe bersama dengan yang lainnya.
Sasori menusuk-nusuk foto Sasuke dengan pisau lipat, kedua bola matanya berkilat marah. Dirinya baru terlihat puas saat foto Sasuke habis dilalap api dan berubah menjadi abu di dalam sebuah asbak. Tumpukan file yang ada di atas meja kerjanya tidak dihiraukannya. Padahal, beberapa kali sang Kazekage menegurnya karena dia melalaikan pekerjaan utamanya, dan hal itu membuat Kazekage tidak suka.
"Kau harus bertanggung jawab atasku, Naruko." Kata Sasori menatap foto Naruto dengan tatapan lapar. "Aku tidak bisa berkonsentrasi karenamu. Aku harus mendapatkanmu. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain pun sama."
.
.
.
"Sudah berapa kali saya katakan pada anda, Uzumaki-san tidak berada di kantor saat ini." Kata Kurenai dengan nada profesional. Kedua tangannya terbuka lebar, menghalangi jalan Sasori yang hendak berjalan menuju ruangan kerja Naruto.
"Aku tidak percaya," desis Sasori. Kembali mencoba untuk merangsak masuk ke dalam kantor Naruto. "Kalau dia memang tidak ada, kenapa kalian tidak mengijinkan aku untuk melihat ke dalam ruangannya?"
Kurenai menghela napas panjang dan menatap tajam Sasori, sementara Tenten terlihat ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh Kurenai. "Tidak sopan jika anda masuk, tetapi sang pemilik sedang tidak ada." Jelas Kurenai dengan ekspresi datar.
"Aku hanya ingin memastikan!" teriak Sasori tidak mau kalah.
"Baik, saya akan ijinkan anda untuk melihat ke dalam. Setelah itu, anda harus pergi!" katanya dengan nada tegas. Kurenai berjalan ke arah kantor Naruto dan membuka pintu ruangan Naruto dengan anak kunci yang ada di tangannya serta mempersilahkan Sasori untuk melihat ke dalam. "Anda lihat, sudah saya katakan sedari awal, Uzumaki-san sedang tidak ada di kantor." Katanya tenang.
"Kemana dia?" tanya Sasori tajam. Kurenai dan Tenten tetap bungkam di bawah tatapan intimidasi pria itu. "Kemana dia?" ulang Sasori dengan nada keras.
"Kami tidak tahu."
"Bohong!" teriak Sasori kasar.
Kurenai balas menatap Sasori tanpa rasa takut dan berkata dingin. "Pergi, atau saya panggil keamanan untuk mengusir anda!"
"Saat ini aku akan pergi," ujar Sasori merapihkan jas hitam miliknya dan menatap Kurenai dengan tatapan benci. "Tapi, aku akan datang lagi dan mengadukan perbuatan tidak menyenangkan kalian pada Naruko. Kalian camkan itu!" serunya sebelum melangkah pergi, meninggalkan Kurenai dan Tenten yang akhirnya bisa bernapas lega.
"Sebenarnya, dia itu siapa?" tanya Tenten selepas kepergian Sasori.
"Orang sinting," jawab Kurenai sekenanya. "Pasang gambar wajahnya, tempel dibagian keamanan dan resepsionis. Jangan pernah ijinkan dia untuk masuk ke dalam, mengerti?"
"Ya, saya akan mengerjakannya secepat mungkin." Sahut Tenten.
.
.
.
"Hei, hari ini cuacanya sangat bagus. Bagaimana kalau kita pergi ke Himeji?" tanya Kiba saat mereka sudah masuk ke dalam mobil mini van dengan Asuma sebagai supir.
"Aku lapar, kita cari kedai sushi yang enak saja." Ujar Shikamaru dengan mata mengantuk.
"Kau mau makan dimana, Sas?" Neji melirik ke arah Sasuke yang duduk di sampingnya. Pemuda raven itu masih saja sibuk berkutat dengan telepon genggamnya, sejak mereka keluar dari studio.
"Terserah," jawab Sasuke pendek, kemudian menempelkan telepon genggamnya di telinga kiri dan mendesis saat nomor yang dia hubungi tidak menjawab panggilannya.
Neji menggelengkan kepala, "biar kutebak, Naruko lagi?"
"Memangnya Naruko kenapa?" Kiba yang duduk di depan, membalikkan badan dan menatap Sasuke lurus, dirinya penuh rasa ingin tahu.
"Dia tidak menjawab panggilan teleponku," jawab Sasuke dingin.
"Sas, saat ini di New York masih jam satu malam. Dia pasti sudah tidur," ujar Neji sabar.
"Biasanya dia menghubungiku sebelum tidur," Sasuke beralasan dan kembali menghubungi nomor telepon Naruto.
"Atau saat ini dia sedang bersenang-senang bersama teman-temannya," sambar Kiba cepat, memperkeruh keadaan.
"Kiba benar," sahut Shikamaru tanpa membuka kelopak matanya. "Mungkin Naruko sedang pergi minum bersama teman-temannya. Semacam pesta penyambutan," tambahnya datar tanpa menyadari jika saat ini Sasuke melemparkan tatapan begitu tajam ke arahnya. Sasuke akhirnya menyerah dan menyimpan kembali telepon genggamnya ke dalam saku jaketnya, dan memalingkan wajah, menatap keluar jendela mobil. Asuma yang menjadi pendengar setia hanya bisa menghela napas panjang, mencoba membiasakan diri dengan sikap Sasuke yang baru. Pemuda itu sering kali berubah badmood jika tidak bertemu dengan Naruto dalam beberapa waktu, dan itu membuat Asuma seringkali menjadi frustasi.
Kiba terus bicara sepanjang perjalanan, sesekali mengeluh jika saat ini dia sangat merindukan anjing kesayangannya, yang bernama Akamaru. "Menurut kalian, apa nee-sanku akan menjaga Akamaru dengan baik? Bagaimana jika dia kelaparan di sana?" tanya Kiba suram. "Terkadang Akamaru bisa sangat nakal, aku takut jika nee-san akan membentak dan menghukumnya. Bagaimana ini? Seharusnya aku membawanya serta, Akamaru juga pasti sangat merindukanku saat ini."
"Kiba?" potong Asuma tajam.
"Apa?" Kiba melirik ke arah Asuma.
"Kau sedang membicarakan seorang bayi, atau seekor anjing?"
"Memangnya kenapa? Akamaru lebih menggemaskan daripada seorang bayi." Kiba membela diri.
"Aku benar-benar tidak beruntung," celetuk Asuma kemudian. "Pantas saja aku terlihat lebih tua daripada usiaku, aku terlalu stres memikirkan sikap antik kalian." Siapa juga yang tidak stres, jika setiap harinya dia harus menghadapi Kiba yang terus bicara mengenai anjing, Shikamaru yang selalu tertidur tanpa mengenal tempat, atau Neji yang begitu rewel dan Sasuke yang sering berubah-ubah mood belakangan ini.
"Sifat antik kami membuatmu kaya, Asuma-san." Neji membela diri.
"Benar, tapi juga mampu membuatku mati muda." Sahut Asuma dengan wajah datar tanpa emosi. "Aku hanya minta satu hal pada kalian. Tolong tetap fokus pada pekerjaan kalian. Jangan lupa, kalian akan tampil besok." Dan hanya udara kosong yang menjawab pernyataan Asuma. Keempat artisnya hanya diam dan menyibukkan diri dalam pikirannya masing-masing. Sedangkan Asuma hanya kembali menghela napas pasrah.
.
.
.
Naruto benar-benar lupa untuk mengembalikan mode telepon genggamnya, dari mode getar ke mode normal. Tadi malam, Shion mengajak Naruto pergi ke Lincoln Center untuk menonton live Jazz di sana. Selepas dari sana, Shion membawa Naruto untuk berjalan-jalan ke Time Square. Mereka sudah lama tidak pergi keluar bersama, karena itulah malam ini mereka bersenang-senang hingga lupa waktu. Tempat itu begitu hidup dimalam hari. Layar-layar berukuran ratusan inchi, terpasang di beberapa gedung. Menampilkan beberapa iklan dan hal lainnya, termasuk menampilkan aktivitas pengunjung di sana. Hingga akhirnya mereka pulang pada pukul tiga dini hari. Karena terlalu lelah, akhirnya Naruto langsung tertidur, sesaat setelah dia kembali ke apartemen Shion.
Naruto sengaja mampir ke Central Park sebelum ke butik siang ini. Naruto mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam tas, dan betapa terkejutnya dia saat mendapati ada tiga puluh panggilan tak terjawab dari Sasuke, juga ada sebuah email dari Kurenai untuknya. Naruto menghela napas pendek saat membaca isi email Kurenai, yang mengatakan jika Sasori datang ke kantornya. Naruto segera membalas email Kurenai dan berterima kasih, karena wanita paruh baya itu tidak mengatakan kemana Naruto pergi. Setelah membalas email, ia langsung menghubungi Sasuke, dan tidak perlu waktu lama untuknya menunggu, karena Sasuke langsung menjawab panggilan telepon tersebut.
"Halo?"
"Kau dimana?" tanya Sasuke tajam tanpa basa-basi.
"Central Park," jawab Naruto pendek.
"Kenapa tidak menjawab teleponku?"
"Maaf sudah membuatmu cemas," ujar Naruto tanpa menjawab pertanyaan Sasuke. Ia bisa mendengar jika Sasuke melepas napas keras di seberang sana. Naruto tahu, jika Sasuke begitu cemas karena kecerobohannya. "Maaf," kata Naruto lagi begitu lirih. "Aku baru tahu jika kau menghubungiku terus dari semalam." Kata Naruto begitu lirih. "Kenapa belum tidur, di sana sudah jam dua belas malam kan? Dan lagi, bukankah besok pagi kalian ada show live?"
"Bagaimana aku bisa tidur, Naruto? Aku terlalu cemas karenamu." Andai saja Naruto bisa melihat sosok Sasuke yang menundukkan kepala begitu dalam karena lelah dan cemas pada saat yang sama sekarang ini. Wajahnya terlihat kusut, sementara rambutnya sedikit berantakan. "Dua hari lagi kau pulang kan?" tambahnya pelan.
"Tidak, aku pulang satu minggu lagi." Jawab Naruto.
"Kau menunda kepulanganmu?" tanya Sasuke dengan suara datar dipaksakan.
"Ya."
"Begitu?"
"Aku masih ada pekerjaan di sini, jadi aku mengundur jadwal kepulanganku." Jelas Naruto.
"Terserah," sahut Sasuke dingin dan memutuskan sambungan telepon mereka. Naruto menatap layar telepon genggamnya tak percaya. Sasuke memutus pembicaraan mereka, dan ini adalah kali pertama pria itu lakukan padanya. Naruto menghela napas, dan kembali menyimpan telepon genggamnya di saku jaket yang dikenakannya saat ini. "Dia benar-benar marah," gumam Naruto dengan helaan napas panjang, sebelum akhirnya kembali berjalan untuk berkeliling taman.
Naruto berjalan seorang diri, berjalan menyusuri jalan setapak dengan suguhan pemandangan yang menakjubkan. Berjalan di tempat ini, serasa berada di belahan dunia lain. Kota New York yang padat, penuh dengan gedung-gedung beton pencakar langit, lalu lintas yang begitu sibuk, serta keramaian jalan, tidak nampak di tempat ini. Central Park hanya menyuguhkan ketenangan bagi siapapun yang memilih menghabiskan waktu di tempat itu. Saat ini, taman dipenuhi oleh warna dedaunan yang cerah, perpaduan antara warna jingga, merah dan kuning. Dedaunan yang berguguran, menambah suasana semakin romantis. Walaupun suhu udara semakin menurun karena musim dingin yang semakin dekat, tapi tidak menyurutkan niat Naruto maupun banyak orang untuk berjalan-jalan menikmati suasana taman siang ini.
Lelah berjalan, akhirnya ia duduk disebuah kursi taman yang menghadap salah satu arena seluncur es. Arena itu akan sangat ramai saat musim dingin dan masa liburan tiba. Sayangnya saat ini masih musim gugur, hingga masih jarang yang bermain di atasnya. Gadis itu kembali termenung, tatapannya menerawang jauh. Dia teringat akan percakapan dirinya dan Sasuke beberapa saat yang lalu, dan hal itu membuatnya merasa sangat bersalah saat ini.
Merasa cukup berkeliling, Naruto pun akhirnya kembali ke butik. Ia menggunakan sebuah taksi, karena jarak yang cukup jauh dari tempatnya berada saat ini. Perlu waktu hampir tiga puluh menit untuknya sampai di sana. Butik miliknya berada di sebuah gedung berlantai tiga bergaya klasik, dengan struktur batu bata.
Meja-meja kayu dan perabot bergaya vintage, balok kayu asli dan lantai kayu serta dinding bata tidak berplester membuat suasana di dalam gedung itu terasa misterius. Naruto mengulum senyum saat beberapa staf dan model menyapa dirinya ramah. Ia terus berjalan menuju ruangan kantornya yang berada persis di lantai tiga. Naruto terus berada di dalam ruangan itu hingga pukul enam sore, memeriksa semua laporan keuangan dan perkembangan perusahaannya selama dia pergi. Ia bahkan mengabaikan ajakan Shion untuk makan malam bersama.
Sementara itu di Jepang, Sasuke berjalan seorang diri, keluar dari Hotel untuk mencari udara segar. Topi yang dikenakannya ditarik dalam untuk menutupi sebagian wajahnya. Ia berhasil mengelabui beberapa wartawan yang sengaja berkumpul di luar Hotel untuk mendapatkan berita darinya.
Pria itu ingin berjalan-jalan, menikmati suasana pagi Sapporo yang indah. Pikirannya kalut, saat ini dia sangat merindukan Naruto. Namun, keputusan gadis itu yang memilih untuk memundurkan jadwal kepulangannya membuat pria itu kecewa. Harga diri Sasuke yang terlampau tinggi mencegah dirinya untuk memohon pada gadis itu agar segera pulang.
Jalanan sepi, datar dan tidak bergelombang, serta deretan pepohonan berwarna jingga menyambut langkah Sasuke pagi ini di kota itu. Pria itu menghirup napas panjang, menikmati pemandangan kota tanpa menyadari jika ada seseorang yang mengikutinya sejak dia keluar dari Hotel.
Sasuke terus berjalan, berhenti di sebuah kedai ramen dan memesan ramen rasa miso yang sangat terkenal di Sapporo. Pria itu tersenyum kecil, entah setan mana yang menempel pada dirinya saat ini, hingga dia memutuskan untuk sarapan makanan penuh lemak itu pagi ini. Ah, dia hanya rindu akan Naruto.
Setelah selesai mengisi perut, dia kembali berjalan hingga taman Odori. Ada beberapa pengendara sepedah dan beberapa orang tua yang berada di sana pagi ini. Di belakangnya, pria berjaket hitam tebal itu terus mengikuti kemana Sasuke melangkah. Dan dengan langkah cepat, pria itu berjalan semakin dekat dengan pisau berada di tangan kanannya. "Berikan harta bendamu!" perintah pria itu tajam, kini berdiri berhadapan dengan Sasuke. Pria itu menodongkan pisau army tepat di depan muka Sasuke.
Sasuke hanya menarik tinggi alis kanannya dan menatap remeh pria setengah baya itu dengan tatapan merendahkan. "Aku sedang tidak mood untuk berkelahi denganmu," balas Sasuke datar.
"Brengsek, kau mau mati rupanya." Umpat pria itu kasar dan mulai menyerang Sasuke dengan membabi buta. Sasuke yang belum siap, agak kewalahan menghadapi serangan mendadak, hingga pada akhirnya ayunan pisau penjahat itu telak mengenai tangan kanan Sasuke, menyebabkan darah merembes keluar dari luka sepanjang sepuluh centi yang menganga. Tubuh Sasuke terhuyung, dan kembali menghindar dari ayunan senjata yang kembali diarahkan padanya. Sementara itu, seorang wanita tua yang berada tidak jauh dari mereka terus berteriak keras, meminta pertolongan saat menyaksikan penyerangan tersebut.
Penjahat itu mulai terlihat panik, dan melihat ke sekeliling. Beberapa orang pria berlari menuju ke arahnya untuk memberi pertolongan pada Sasuke. Hingga akhirnya dia memilih melarikan diri dan meninggalkan Sasuke yang saat ini terluka cukup parah di tangan bagian kanannnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya salah satu pria yang berlari mendekat, sementara beberapa pria lain mencoba mengejar pria itu. Sasuke mengangguk kecil dan meringis kesakitan karena luka yang dialaminya. Topi yang dikenakannya sudah terlepas, hingga wajahnya terlihat jelas kini. Menyebabkan seorang wanita muda terpekik karena mengenali siapa dirinya sebenarnya. "Sasuke-san?" kata wanita itu dengan suara tertahan, nyaris tidak percaya.
Kumpulan orang-orang yang mengerumuni Sasuke mulai ribut saat satu persatu dari mereka mulai mengenalinya. "Lukau cukup parah," salah satu pria buka suara. "Ambulance sebentar lagi datang, aku juga sudah menelepon polisi. Sebaiknya anda duduk sambil menunggu," tawar pria itu disahut anggukan beberapa orang lainnya.
"Ya, terima kasih." Balas Sasuke tenang. Wanita tua yang tadi berteriak menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi taman dan menemaninya hingga ambulans datang. Tidak perlu waktu lama bagi wartawan untuk mencium kejadian ini, mereka segera berkumpul di depan rumah sakit tempat Sasuke di rawat dan melontarkan beberapa pertanyaan pada polisi yang datang untuk mengambil terkait peristiwa itu pada Sasuke.
"Kau gila, kenapa kau pergi seorang diri? Seharusnya kau membangunkan salah satu diantara kami untuk mengantarmu," raung Asuma. Wajahnya terlihat sedikit pucat, dengan raut cemas yang terlihat nyata. Sasuke baru saja dipindahkan dari UGD ke kamar inap VIP beberapa saat yang lalu, hingga keempat pria itu bisa bebas merangsak masuk dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan layaknya wartawan. "Jangan melakukan hal seperti ini lagi, Sasuke. Atau aku akan merantaimu agar kau tidak bisa pergi kemanapun tanpa sepengetahuanku." Ancam Asuma keras.
"Kau kira aku anjing?!" balas Sasuke datar semakin membuat Asuma berang.
"Sudahlah, Asuma-san." Shikamaru menengahi. "Yang penting, Sasuke baik-baik saja."
Asuma menghela napas panjang dan kembali melirik tajam pada Sasuke. "Sebaiknya aku menghubungi keluargamu, mereka pasti cemas jika tahu mengenai berita ini dari infotainment."
"Beritanya sudah tersebar," sahut Kiba memperlihatkan tablet miliknya pada Asuma. "Dan sepertinya para wartawan itu membumbui berita mengenai kejadian ini dengan tambahan bumbu ekstra. Mereka bilang jika kau saat ini kau koma, Sas." Kiba melirik ke arah Sasuke yang kini mengacak rambutnya frustasi. Berita mengenai penyerangan terhadap Sasuke sudah menyebar di internet, juga sudah diberitakan melalui stasiun TV lokal.
"Sebaiknya kita mengadakan jumpa pers, agar berita ini tidak semakin besar dan keluar jalur." Usul Neji tenang.
"Aku setuju," sahut Shikamaru dan Kiba bersamaan, sedangkan Sasuke menutup mulutnya rapat.
"Kalau begitu aku akan mulai menghubungi kantor, biar mereka yang mengatur semuanya." Kata Asuma. "Kalian tinggallah di sini untuk sementara waktu, aku akan menghubungi kalian jika para wartawan sudah pergi." Kata Asuma pada Neji, Shikamaru dan Kiba. "Dan kau Sasuke," Asuma berkata sedikit keras. "Kau harus istirahat beberapa hari. Aku akan mengatur agar kau bisa dipindahkan ke rumah sakit di Tokyo sesegera mungkin, dan jangan membantah!" tambahnya saat Sasuke mendelik ke arahnya. Asuma pun bergegas pergi, meninggalkan keempat pemuda itu di dalam ruang inap Sasuke untuk mengatur segala sesuatunya.
"Sebenarnya apa yang terjadi," Neji membuka suara dan duduk nyaman di sebuah kursi tepat di samping kanan ranjang Sasuke.
"Dia menyerangku karena aku tidak mau memberikan harta bendaku," jelas Sasuke datar.
"Apa salahnya jika kau berbagi sedikit dengannya?" sahut Shikamaru tegas. "Kau tidak akan jatuh miskin hanya dengan menyerahkan dompetmu padanya," tambahnya cepat. "Lihat keadaanmu sekarang, bagaimana jika kau terluka lebih parah?"
"Hn," jawab Sasuke tidak jelas. Pria itu tidak mungkin mengatakan jika dia tidak akan pernah menyerahkan dompet miliknya pada pencuri itu karena ada beberapa foto kenangan dirinya dan Naruto di sana. Dia tidak peduli akan harta lain yang berada di dalamnya, dia hanya tidak ingin kehilangan foto-foto berharga itu.
"Dia menyerangmu karena kau melawan, benar 'kan?" ucapan Neji membuyarkan lamunan Sasuke.
"Hn," sahut Sasuke menjawab pernyataan Neji. Ketiga temannya menghela napas panjang dan menggelengkan kepala. "Penjahat sekarang sering kali berbuat nekat, Sas. Kau harus lebih hati-hati."
"Aku tahu," jawab Sasuke. "Aku hanya sedang sial, maaf, aku jadi merepotkan kalian semua."
"Jangan berkata seperti itu," kata Shikamaru. "Kita teman, maaf jika ucapan kami terlalu keras. Kami begitu, karena sangat mengkhawatirkanmu, Sas."
"Hn, terima kasih." Balas Sasuke, sambil memejamkan mata. Dirinya terlalu lelah saat ini, dia benar-benar memerlukan tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya.
.
"Jadi, kau gagal?" Sasori berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya yang penuh dengan foto bingkai foto Naruto. Matanya melirik tajam seorang pria yang kini hanya mampu berdiri di depan meja kerjanya dengan kepala menunduk dalam. "Kenapa anak buahmu bisa gagal? Apa sulitnya membunuhh bajingan itu?" Teriak Sasori menggema.
"Maaf, tuan." Pria bernama Zetsu itu membungkuk kecil. "Menurut anak buah saya, keadaan taman tidak terlalu sepi. Hingga anak buah saya tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik." Sasori mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja, masih menatap Zetsu dengan tatapan penuh amarah. "Lagipula," lanjut Zetsu pelan. "Bukankah anda sendiri yang mengatakan jika pembunuhan terhadap Sasuke harus dilakukan seperti pencurian biasa?"
"Benar," desis Sasori. "Dan anak buahmu sangat bodoh, dia melepaskan kesempatan yang sangat jarang terjadi. Aku ingin melihat berita kematiannya, bukan hanya berita murahan seperti sekarang!" tambah Sasori menggebrak meja keras membuat Zetsu semakin menunduk dalam. Sasori menarik napas dan membuang muka. "Cepat habisi dia! Aku akan memberimu imbalan tiga kali lipat jika kau bisa menghabisinya dalam satu bulan ini, mengerti?"
"Saya mengerti," sahut Zetsu dalam.
"Pergilah!" usir Sasori tajam. Zetsu membungkuk memberi hormat, sebelum akhirnya beranjak keluar dari dalam ruangan kantor Sasori siang itu.
Sasori meraih pigura berwarna putih gading dan berukir rumit di hadapannya. Ia mengelus kaca pelapisnya lembut. Foto itu menampilkan foto diri Naruto yang tersenyum begitu manis. "Jika bajingan itu mati, kau pasti berpaling padaku, Naruko." Pria itu melirik ke layar laptopnya yang menampilkan berita mengenai Sasuke, lengkap dengan profil pria itu. Sasori mendesis tajam. "Kau pasti mati, pasti mati!" tawa Sasori kembali bergema keras, terdengar begitu jahat.
.
.
.
"Sasuke, kenapa telepon genggammu tidak aktif?" Itachi menerobos masuk kamar inap Sasuke, mengabaikan dua penjaga yang sengaja ditempatkan oleh Asuma untuk berjaga di luar kamar. "Asuma-san dan yang lainnya sedang mengadakan konferensi pers di ruang serbaguna rumah sakit.
"Aku tahu," sahut Sasuke pendek.
Itachi menatap bingung ke arah Sasuke yang berwajah kusut dan menarik sebuah kursi hingga dia duduk di sebelah kanan tempat tidur Sasuke saat ini. "Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa telepon genggammu tidak aktif?"
"Kaa-san sudah menanyakan tentang itu, kau tanya saja pada beliau jawabannya." Kata Sasuke cuek.
"Sekarang Kaa-san kemana?"
"Entahlah," Sasuke mengangkat bahu.
Itachi memijit pelipisnya yang berkedut sakit dan kembali bicara dengan nada normal. "Naruko meneleponku, dia terdengar sangat panik. Dia membaca berita mengenaimu di internet, dia bertambah panik saat telepon genggammu tidak bisa dia hubungi."
"Dia bisa menghubungi Asuma-san dan yang lainnya," ujar Sasuke acuh.
Itachi menghela napas panjang. "Kalian bertengkar?" tanya Itachi tepat sasaran.
"Hn."
"Kau benar-benar kekanakkan," kata Itachi dengan kedua tangan bersidekap di depan dada. "Naruko begitu panik karena berita berlebihan di internet mengenai kondisimu. Aku tidak akan heran jika dia datang dengan wajah bengkak karena seharian menangis."
"..."
"Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya karena dia terburu-buru pulang untuk melihat keadaanmu?"
"Jangan berpikir macam-macam!" potong Sasuke tajam, menatap Itachi tidak suka. "Dia akan baik-baik saja." Sasuke segera menyalakan telepon genggamnya dan mulai menghubungi Naruto. Itachi hanya tersenyum kecil melihat wajah Sasuke yang berubah panik saat dia tidak bisa menghubungi kekasihnya. "Sial!" umpat Sasuke keras.
"Mungkin dia berada di dalam pesawat saat ini," hibur Itachi tenang. "Cobalah, sekitar..." Itachi melirik jam tangan miliknya. "Empat belas jam lagi," ujarnya dengan tawa keras dan menghambur pergi keluar untuk menyelamatkan diri dari tatapan membunuh adik satu-satunya. "Selamat menunggu..." kepala Itachi kembali menyembul dari balik pintu dan terkekeh puas, menghasilkan sebuah lemparan bantal yang melayang tepat ke arahnya.
Sasuke mulai bergerak gelisah di tempat tidurnya, kata-kata Itachi terus terngiang-ngiang ditelinganya. "Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Naruto? Tapi, dengan begini dia akan segera pulang. Bukankah ini yang aku harapkan?" Sasuke kembali duduk bersandar pada kepala tempat tidur dengan punggung disangga oleh beberapa buah bantal. "Baka aniki, kenapa dia harus berbicara seperti itu?" raung Sasuke frustasi.
.
.
.
Konferensi pers itu berjalan lancar dan memakan waktu hampir satu jam lamanya. Asuma menjelaskan jika kondisi Sasuke saat ini sudah membaik, dan hanya perlu waktu beberapa hari untuk masa penyembuhan. Dia juga menghimbau agar para fans tidak terlalu panik, dan berhenti mengepung kantor polisi pusat. Para fans sengaja berkumpul di sana, menuntut polisi agar segera menangkap penjahat yang sudah melukai Sasuke.
Gaara hanya menggeleng lemah saat melihat tempatnya bekerja dikepung ratusan fans girls. "Kejadiannya di Sapporo, mengapa mereka mengepung kantor pusat?" Gaara bergumam pelan dan meminum dua buah aspirin untuk meredakan sakit kepala yang menyerangnya sejak pengepungan berlangsung. Siang itu, Gaara memutuskan untuk menengok Sasuke, sekaligus menuntut pertanggungjawaban, karena gangguan para fans pemuda raven itu sukses membuat pekerjaan tenang Gaara berubah seratus delapan puluh derajat.
Keesokan harinya, tepat pukul dua belas siang, pesawat yang membawa Naruto mendarat dengan mulus di bandara Narita. Gadis itu mengumpat saat melihat telepon genggamnya yang sudah mati karena habis baterai. Salahkan saja kecerobohannya, yang terlalu panik hingga dia pergi mencari tiket pulang dan lupan mengisi ulang baterai telelpon genggamnya.
Beruntung baginya, karena kemarin Itachi mengatakan jika Sasuke dirawat di ruang VIP nomor empat ratus lima, di rumah sakit pusat saat ini. Naruto segera menberhentikan taksi dan memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rumah sakit pusat," ujar Naruto cepat. Sang supir mengangguk mengerti dan segera melajukan kendaraannya ke tempat yang dimaksud.
Naruto meremas jemarinya, gurat cemas terlihat nyata pada wajah putihnya. Kondisi jalan yang macet membuatnya semakin tidak tenang, dia ingin segera melihat kondisi Sasuke saat ini. "Ayolah," gumam Naruto pelan saat mobil yang ditumpanginya kembali berhenti karena lampu merah. Akhirnya setelah hampir satu jam dia sampai juga di rumah sakit. Naruto menarik koper miliknya dan bergegas menuju lantai empat. Dia berpapasan dengan Shikamaru dan Neji saat hendak masuk ke dalam ruangan Sasuke. "Biarkan dia masuk," kata Neji pada penjaga dengan nada datar.
Naruto membungkuk, mengucapkan terima kasih pada Neji dan tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan. Wanita itu menghambur memeluk Sasuke erat dengan isakan keras, lupa pada pintu kamar yang belum ditutupnya. Shikamaru tersenyum melihat kejadian itu dan menutup pintu di belakangnya pelan.
"Syukurlah kau baik-baik saja," ujar Naruto di tengah isakannya. "Jangan menakutiku seperti ini lagi, Sasuke. Jantungku serasa berhenti saat Shion memperlihatkan berita mengenai dirimu kemarin sore."
Sasuke menghela napas panjang dan balas memeluk Naruto erat. "Jangan menghukumku seperti ini," kata Naruto pelan, begitu marah dan terluka. "Aku sangat cemas saat telepon genggammu tidak aktif. Saat itu, aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak bermaksud mengabaikan telepon darimu, aku bersumpah." Dan tangis Naruto pun pecah.
Pria yang berada dipelukannya itu begitu merasa bersalah saat ini. Itachi memang benar, dia sangat kekanak-kanakan. Sasuke tidak pernah berpikir jika tindakannya ini bisa melukai Naruto begitu dalam. "Aku yang seharusnya meminta maaf," kata Sasuke dalam. "Maaf, sudah membuatmu cemas." Tambahnya pelan.
Naruto melepaskan pelukannya dan menggelengkan kepala pelan. Ditangkupnya wajah Sasuke dan ditatapnya wajah pria itu sendu. "Aku yang salah," ujar Naruto mengecup bibir Sasuke lembut. "Seharusnya aku segera membereskan pekerjaanku dan pulang secepat mungkin. Maaf..." Ucap Naruto begitu lirih.
Sasuke menghapus air mata Naruto dengan ibu jarinya dan tersenyum. "Aku juga bersalah, aku terlalu egois karena selalu menginginkan dirimu untuk diriku sendiri. Seharusnya aku memberimu kebebasan lebih dan segera membereskan masalah mengenai wartawan dan fans yang selalu mengganggumu. Maaf..." Pria itu kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Naruto dan mencium bibir wanita yang bergetar itu lama, hingga suara dehaman keras menghentikan aktivitas mereka.
"Sepertinya kita harus mempercepat pernikahan mereka, Mito-sama." Tukas Fugaku dengan nada dalam, membuat Naruto salah tingkah. Sementara Sasuke nampak gembira mendengar penuturan ayahnya itu.
"Sepertinya begitu," sahut Mito setuju. "Kalau begitu, sebaiknya kita kembali ke kantorku dan membicarakan masalah ini. Kita biarkan mereka berdua untuk melepas rindu." Ujar Mito tersenyum maklum. Fugaku mengangguk mengerti dan mempersilahkan Mito untuk keluar terlebih dahulu, meninggalkan Naruto yang kini terlihat syok dan Sasuke yang bersenandung senang.
"Setelah hujan, akan ada pelangi. Aku mulai percaya akan pepatah itu." Ujar Sasuke tersenyum puas. Naruto yang baru saja tersadar dari syoknya hanya bisa menatap horor pada Sasuke. "Jangan-jangan kau sengaja merencakan semua ini, benarkan?"
"Hn..."
"Kau benar-benar menjengkelkan!" tukas Naruto memukul tangan kanan Sasuke hingga pria itu meringis kesakitan. Naruto terkesiap dan kembali menatap Sasuke penuh rasa bersalah. "Sakit?"
"Tentu saja sakit?" balas Sasuke dingin masih meringis. "Maaf..." Naruto kembali berkata lirih. "Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?"
Sasuke menatap Naruto dengan binar jail dan menyeringai penuh kemenangan. "Cium aku, dan temani selama aku berada di sini."
Naruto memutar kedua bola matanya dan mengalugkan kedua tangannya di leher Sasuke. "Sepertinya, aku tidak bisa membantah." Katanya pura-pura sebal dan mulai mencium bibir pria itu mesra dan lama.
.
.
.
"Aku pulang!" ujar Kurenai lirih membuka pintu apartemen sederhananya pelan. Dibukanya sepatu kerja miliknya dan segera diganti dengan sandal rumah. Kurenai menggapai saklar lampu dan menyalakan lampu ruang tengah yang gelap karena hari sudah malam. Ruangan itu terang seketika saat lampu menyala. Kurenai menghela napas lelah dan mendudukkan diri pada sofa di dekatnya, tatapannya tertuju pada sesuatu. Sebuah seragam sekolah SMA tergantung rapih pada sebuah paku yang menancap di tembok tengah rumah. Apartemen itu cukup luas walau terkesan sederhana. Perabotan yang ada di dalamnya pun tidak terlalu banyak, namun terawat dengan baik dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
"Kaa-san pulang, Hotaru." Ucap Kurenai dengan senyum dan binar mata sendu. "Maaf, kaa-san pulang terlambat hari ini. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan." Katanya penuh penyesalan. "Kau mau makan apa malam ini? Bagaimana kalau kita makan shabu-shabu? Cuaca sangat dingin belakangan ini, musim dingin tahun ini sepertinya akan lebih dingin dari tahun yang lalu. Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau senang? Andai saja aku bisa meluangkan waktu lebih banyak denganmu."
.
.
.
TBC
