Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : OOC, OC, typo(s), gender switch

Broken Wings

Chapter 14 : Stroms

By : Fuyutsuki Hikari

Mito menatap Kakashi sejenak, sebelum akhirnya kembali fokus membaca laporan yang diberikan pria itu beberapa saat lalu. "Jadi, pihak kejaksaan sudah mulai mencium kejahatan Sabaku?" tanya Mito tanpa melirik Kakashi.

"Benar," jawab Kakashi pendek.

Wanita tua itu menghela napas panjang dan menyandarkan diri pada punggung kursi kerjanya. "Sabaku pasti dipenjara lama untuk kejahatannya, penggelapan pajak bukan hal kecil." Ujar Mito serius. "Kudengar keponakan Sabaku juga berada di kota ini, benarkah begitu?"

Kakashi terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan tenang. "Benar, Mito-sama. Dia juga sudah bertemu dengan Nona Naruko beberapa kali."

"Kenapa kau tidak mengatakan tentang masalah ini padaku?" Mito terlonjak kaget. "Apa Naruko yang melarangmu bicara?"

"Benar."

"Dasar anak nakal!" Mito memijit keningnya yang berdenyut sakit. "Pemuda itu sangat berbahaya, Kakashi. Aku tidak suka dia berkeliaran di dekat cucuku. Awasi pemuda itu dan laporkan gerak geriknya, mengerti?"

"Saya mengerti," jawab Kakashi sopan.

"Tolong panggil Naruko kemari, aku ingin bicara dengannya."

"Segera, Mito-sama." Kakashi membungkuk hormat dan segera berbalik pergi untuk melaksanakan tugas.

.

.

.

Naruto menatap keluar jendela mobil dengan perasaan gelisah. Tidak biasanya Kakashi menjemputnya tanpa memberitahu sebelumnya. Gadis itu semakin gelisah saat Kakashi hanya mengatakan jika Mito ingin bertemu saat ini juga. 'Kenapa Nenek tidak meneleponku langsung, kenapa harus mengirim Kakashi-san?'

"Kita sudah sampai, Nona," ujar Kakashi yang sudah membuka pintu mobil penumpang untuk Naruto. Gadis itu menarik napas dalam dan menghembuskannya cepat. Ditatapnya gedung perkantoran yang menjulang tinggi di depannya. Ia segera keluar dan berdiri beberapa saat, sementara Kakashi menutup pintu mobil pelan. Pria itu mempersilahkan Naruto untuk berjalan terlebih dahulu. Beberapa pegawai menyambut kedatangan Naruto dengan membungkuk kecil, gadis itu membalas santun dan tersenyum lembut. Kakashi menekan tombol lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana kantor Mito berada. Setelah berada di depan pintu kantor Mito, Kakashi segera pamit untuk mengerjakan pekerjaannya yang lain.

Naruto mengetuk pintu kantor Mito pelan dan beranjak masuk setelah mendengar jawaban dari dalam. Gadis itu membungkuk dan mencium pipi Mito sayang. "Nenek memanggilku?" tanya Naruto menyembunyikan perasaan gugup.

"Duduklah," kata Mito yang kini sedang duduk santai di sofa panjang yang ada di ruang kantor pribadinya. Sebuah ketukan kembali terdengar dari luar, "masuk." Tukas Mito jelas.

Seorang pria muda datang dengan membawa sebuah nampan berisi seceret teh Inggris panas dan sepiring cookies. Pria itu segera meletakkan bawaannya di atas meja dan segera pamit mundur setelah mengerjakan tugasnya dengan baik.

"Jadi kau sudah bertemu dengan Sasori, Naruko." Gadis itu hanya bisa menunduk, menautkan jari-jarinya yang gugup tanpa bisa menatap wajah neneknya yang begitu cemas. Rasa bersalah itu menyergap hati Naruto kuat, dia merasa sangat berdosa karena menutupi hal ini begitu lama dari neneknya.

"Ya, aku sudah bertemu dengannya, Nenek." Jawab Naruto lirih.

"Kenapa kau menyembunyikan hal penting seperti ini dariku?" Mito kembali bertanya dengan suara tegas.

Naruto menatap Mito dan menggenggam tangan wanita tua itu dengan lembut. "Aku tidak ingin Nenek cemas dan jatuh sakit. Karena itulah aku menyembunyikan hal ini, maafkan aku."

Mito mengusap rambut pirang cucunya itu penuh kasih sayang. "Apa Sasuke tahu tentang ini?"

"Dia tahu, dan dia terus memaksaku untuk kembali tinggal di rumah besar."

"Aku sependapat dengannya," sahut Mito dalam. "Lebih baik kau tinggal bersamaku, Naruko. Jika pria itu berani menemuimu, berarti dia memiliki ketertarikan padamu. Kita harus berhati-hati, ingat Naruko, dia sangat berbahaya."

"Ya, saya mengerti," jawab Naruto lirih. Mito memeluk cucunya itu dan mengusap punggung Naruto lembut. "Kita tidak bisa mengambil resiko, Sayang. Tinggallah bersamaku hingga kau menikah. Jika kalian sudah menikah, aku akan sedikit lebih tenang melepasmu untuk tinggal bersama Sasuke."

.

.

.

"Anda membuat sketsa gaun pengantin?" Kurenai bertanya dengan sebelah alis terangkat. "Untuk siapa?"

Naruto tersenyum manis dan menjawab hangat. "Untukku," katanya yang disambut tatapan terkejut dari Kurenai.

"Anda akan menikah dengan Uchiha-san?"

"Panggil dia Sasuke," ralat Naruto. "Jangan terlalu formal terhadap kami, Kurenai-san."

"Anda atasanku, dan dia kekasih anda. Tentu saja saya harus bersikap formal," kata Kurenai masuk akal.

"Anda sudah kuanggap keluargaku sendiri, bukan orang lain." Naruto menjawab dengan senyum terkembang.

Kurenai membalas tersenyum hangat dengan mata berbinar, melihat Naruto seolah melihat Hotaru putrinya. "Jadi kapan pernikahannya, apa aku diundang?"

"Rencananya akhir musim semi tahun depan," jawab Naruto. "Anda akan duduk di bangku depan bersama nenekku."

Kurenai terpekik dengan bola mata membulat sempurna. "Aku benar-benar merasa terhormat," katanya tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Ah, Kurenai-san. Aku membeli ini, satu untukmu dan satu untuk putrimu. Maaf, aku tidak bisa membelikan hadiah yang lebih baik."

Kurenai menerima dua buah kotak berpita dari Naruto dan menatap kotak itu sayu. "Kotak yang berwarna tiffany blue milikmu," jelas Naruto. Napas Kurenai tercekat saat melihat isi dari kotak tersebut. Sebuah selendang sutra berwarna broken white dengan sulaman bunga sakura, terasa begitu lembut di tangannya. "Ini untukku," mata kurenai berkaca-kaca menatap Naruto yang mengulum senyum tulus. Perasaan senang, terharu dan terkejut terus silih berganti menghiasi wajah wanita paruh baya itu.

"Aku tidak tahu barang yang disukai putrimu, jadi aku harap dia menyukai barang yang kubeli untuknya." Barang yang dibeli Naruto untuk Hotaru adalah sebuah tas tangan sederhana namun begitu cantik, keluaran terbaru dari LV.

"Dia pasti menyukainya, dia pasti sangat suka." Kata Kurenai dengan suara bergetar. Naruto berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Kurenai lalu memeluk wanita paruh baya itu sayang. "Andai saja kaa-san masih hidup, dia pasti sangat senang bila mengenalmu."

"Aku juga akan sangat senang bila bisa mengenalnya, Naruko." Jawab Kurenai menanggalkan segala formalitasnya dan balas memeluk Naruto erat.

Sebuah ketukan menghentikan acara sentimentil keduanya, "apa aku mengganggu?" tanya Itachi yang merasa jika dirinya hadir disaat yang tidak tepat saat ini.

"Tidak, anda tidak mengganggu, Uchiha-san." Sahut Kurenai menghapus air matanya cepat dan tersenyum manis. "Aku masih ada pekerjaan, sebaiknya aku kembali ke meja kerjaku." Kurenai merapihkan pakaian kerjanya yang sedikit kusut dan melempar senyum terakhir pada Naruto sebelum beranjak keluar kantor gadis itu dan menutup pintu.

Itachi menghempaskan diri dengan keras ke atas sofa, wakahnya yang kusut membuat Naruto menekuk wajah. "Mau segelas kopi, nii-san?" tanya gadis itu yang kini sudah berada di balik counter untuk membuat minuman.

"Punya vodca?"

Alis Naruto terangkat, lalu matanya menyipit melihat ke arah Itachi. 'Ada yang tidak beres,' batin Naruto. "Sayangnya aku tidak punya minuman keras, segelas kopi atau tidak sama sekali." Katanya tegas.

Itachi menghela napas. "Ok, segelas kopi hitam tanpa gula, please."

"Ok," jawab Naruto tersenyum simpul. "Apa yang terjadi?" tanya Naruto tanpa basa-basi, seraya menyodorkan segelas kopi hitam yang masih mengepul pada Itachi.

Itachi menerima gelas itu dengan senyum dipaksakan, gurat lelah terlukis nyata di wajah tampannya yang terlihat kusut. "Dei memutuskan hubungan kami."

Naruto hampir saja menyemburkan air kopi yang hendak ditelannya, beruntung dia bisa menguasai diri dan dengan tenang meletakkan gelas kopinya di atas meja. "Boleh kutahu alasannya?"

Pria itu kembali menarik napas lelah dan menatap langit-langit kantor dengan tatapan kosong. "Dia menghamili rekan kantornya, dan memutuskan untuk bertanggung jawab penuh pada wanita dan bayi yang ada di dalam kandungannya."

"Dia mengkhianatimu?"

Itachi mengacak rambutnya frustasi dan mengerang lemah. "Mereka berdua mabuk saat ada acara kantor dua bulan yang lalu, dan berakhir di tempat tidur. Wanita itu hamil, hingga Dei memutuskanku untuk menikah dengannya." Itachi memejamkan mata dan memberikan jeda sebelum kembali bicara. "Aku mengenal wanita itu, dia wanita baik. Tidak mungkin jika dia menjebak Dei, karena itulah aku setuju saat Dei memutuskan hubungan kami." Katanya begitu lirih dan pahit.

"Mau kupinjamkan bahuku untuk menangis?" tawar Naruto yang kini duduk di sebelah Itachi.

Pria itu mendelik ke arah Naruto kesal. "Aku pria," katanya tajam. "Seorang pria tidak menangis," tambahnya keras kepala.

"Seorang pria juga manusia," balas Naruto tenang. "Tuhan juga memberikan air mata pada setiap pria, kenapa harus merasa malu untuk menangis?"

"Naruko, rasanya aku ingin berteriak marah. Tapi siapa yang harus aku salahkan. Sepertinya Tuhan sedang menghukumku saat ini."

"Semua yang terjadi adalah bagian dari takdir, mungkin Tuhan sudah menciptakan seseorang khusus untuk nii-san, dan dia sudah menunggu nii-san di luar sana."

"Hatiku sangat sakit, Naruko." Ucap Itachi terdengar pahit. "Tapi aku juga tidak mungkin membiarkan bayi tak berdosa itu lahir tanpa kehadiran seorang ayah."

Naruto menghela napas panjang dan mengelus tangan Itachi lembut, mencoba memberikan kenyamanan pada pria itu. Gadis itu tidak bisa mengatakan sesuatu untuk menghiburnya, karena apa yang diucapkannya tidak akan bisa memperbaiki keadaan yang telah terjadi.

Mereka berdua terdiam cukup lama hingga akhirnya, Itachi berkata perlahan. "Aku tidak tahu mengapa aku menceritakan mengenai hal ini padamu, Naruko. Tolong jangan katakan mengenai apa yang kukatakan tadi pada siapapun, termasuk Sasuke. Kumohon."

"Aku mengerti, nii-san." Naruto tersenyum maklum. "Tapi, nii-san harus menceritakannya pada mereka setelah nii-san siap."

"Aku mengerti, terima kasih sudah mau mendengarkan keluhanku."

"Mesra sekali," ejek suara baritone itu mengagetkan Naruto dan Itachi. Sasuke bersandar dengan angkuh di depan pintu kantor Naruto dan menatap keduanya dengan mata menyipit.

"Sejak kapan kau disitu?" tanya Itachi datar menutupi kegugupannya dengan sempurna.

"Baru saja, kenapa?" tanya Sasuke mencium ketidakberesan di sini. "Apa yang kalian sembunyikan?" desaknya tajam.

"Hanya masalah kecil," sahut Itachi. "Ada apa kau kesini, Suke?"

"Memangnya aku tidak boleh mengunjungi calon istriku sendiri?" Sasuke menghempaskan diri di sebelah Naruto dan memaksa gadis itu agar duduk merapat ke arahnya. Itachi menggeleng pelan, mengerti betul jika adiknya itu sedang cemburu saat ini.

"Kau masih belum sembuh," sahut Naruto dengan nada khawatir. "Seharusnya kau istirahat di rumah."

"Hn," jawab Sasuke bosan. "Aku mau istirahat di sini, ditemani olehmu." Katanya terdengar ketus.

Itachi terbahak. "Kau benar-benar menggemaskan saat cemburu, otouto."

"Kau mau mati, baka aniki?" sahut Sasuke mendesis tajam.

"Aku masih ingin hidup, jadi sebaiknya aku pergi dari sini dan meninggalkan kalian berdua. Jaa, Naruko." Itachi sengaja mengecup pipi kiri Naruko, membuat Sasuke kembali mendesis marah karena cemburu.

"Kau benar-benar menyebalkan," kata Naruto memukul keras paha Sasuke hingga pemuda itu meringis. "Bagaimana bisa kau cemburu pada Itachi-nii?"

"Hanya aku yang boleh bermanja-manja padamu, yang lain tidak boleh." Sasuke membalas tajam, membuat Naruto gemas karena kesal hingga mencubit paha pemuda itu keras. "Sakit," desis pemuda itu meringis.

"Rasakan," tukas Naruto puas. "Kau diantar siapa, Suke? Jangan katakan jika kau menyetir mobil sendiri." Naruto melotot pada Sasuke.

"Hn."

"Kau benar-benar bandel, kau belum sembuh total. Kenapa memaksakan diri untuk menyetir? Kenapa tidak naik taksi atau meminta supir untuk mengantarmu kesini?"

"Ck, kau terlalu berlebihan."

"Aku akan mengantarmu pulang, dengan mobilku." Tukas Naruto tegas.

"Lalu mobilku?"

"Biarkan tetap di sini, kau boleh mengambilnya saat kau sudah sembuh." Kata Naruto final.

"Hn." Sahut Sasuke tidak bisa membantah. Rasanya benar-benar menyenangkan bagi pria itu karena bisa menghabiskan waktu bersama Naruto. Denyut sakit pada tangannya seolah hilang tak bersisa, dia seolah lupa akan rasa sakitnya hanya karena ada Naruto di sampingnya saat ini.

"Kau tidak merasa bosan?" tanya Naruto dari meja kerjanya sementara Sasuke merebahkan diri di atas sofa.

"Hn," jawab Sasuke pendek. Matanya terus memperhatikan gerak-gerik Naruto.

"Berhenti memperhatikanku, Sasuke. Kau membuatku gugup," ucap Naruto mendelik ke arah Sasuke yang menyeringai puas. "Aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku jika kau terus melihat ke arahku. Lebih baik kau tidur, aku akan membangunkanmu saat jam pulang."

"Hn."

Lima belas menit kemudian. "Aku serius, Sasuke. Berhenti menatapku seperti itu. Ayo, sebaiknya aku antar kau pulang untuk istirahat."

"Aku hanya melihatmu, tidak menyentuhmu. Kenapa kau harus merasa terganggu?" Sasuke tertawa mengejek.

"Karena tatapanmu membuatku gugup," jawab Naruto cepat. "Kau tidak ada pekerjaan hari ini?"

"Asuma-san memberiku libur selama tiga hari ke depan."

"Baik hati sekali," tukas Naruto. "Dan boleh aku tahu rencanamu selama tiga hari ke depan?"

Sasuke hanya menyeringai menatap Naruto. Gadis itu menutar kedua bola matanya bosan, mengerti benar akan apa yang dimaksud kekasihnya itu. "Ngomong-ngomong, aku lupa memberitahumu jika aku sudah pindah ke rumah Nenek kemarin malam."

"Benarkah?" Sasuke kembali duduk, suaranya terdengar lega. "Biar kutebak, nenekmu sudah mengetahui perihal Sasori."

"Benar," sahut Naruto. "Dia sangat cemas hingga memintaku untuk kembali tinggal bersamanya."

"Syukurlah, aku sedikit lega." Pria itu tersenyum begitu tampan. "Apa dia masih mengganggumu?" wajahnya kembali berubah keras saat menyinggung masalah Sasori.

Naruto meletakkan pensil serta buku sketsanya. "Dia datang mencariku saat aku ada di New York, dan kembali datang beberapa hari kemudian. Tapi, karena Kurenai-san sudah melakukan langkah pencegahan, Sasori tidak bisa masuk ke dalam kantor untuk kedua kalinya."

"Laki-laki itu benar-benar gila," Sasuke mendesis marah.

"Sasuke, masalah pernikahan kita." Naruto berdiri dan berjalan ke arah Sasuke dan mendudukkan diri di samping pemuda itu. "Bagaimana jika kita melaksanakan pesta tertutup, dan mengundang kerabat serta kolega dekat saja. Aku takut, bagaimana apabila Sasori datang dan mengacau pesta, jika kita melakukan pesta terbuka dan besar-besaran seperti apa yang Nenek inginkan."

"Kau cucu satu-satunya, jadi wajar jika Mito-sama menginginkan sesuatu yang istimewa untukmu." Jawab Sasuke tenang. "Kita akan bicarakan hal ini lagi dengan beliau. Jangan terlalu dipikirkan, kita pasti menemukan cara agar Sasori tidak bisa mengacau segala sesuatunya."

Naruto tersenyum lemah dan menghela napas panjang. Disandarkannya kepalanya pada bahu bidang Sasuke. Masalah Sasori terus saja menghantuinya, hal ini benar-benar membuatnya merasa tidak tenang dan gelisah setiap harinya.

.

.

.

"Detektif, ini laporan yang Anda minta." Seorang polisi muda menyerahkan sebuah arsip pada Gaara siang itu di kantor kepolisian pusat. "Kepolisian Sapporo baru mengirimnya. Mereka yakin jika pria yang meyerang Uchiha-san tempo hari sudah melarikan diri ke Tokyo."

"Begitu?" Gaara menerima arsip itu dan membaca isinya dengan wajah serius.

"Pria itu memiliki catatan kejahatan yang panjang, sering masuk penjara karena kasus pencurian, perkelahian, penyerangan dan pernah terlibat dalam kasus narkoba."

"Dan tidak pernah kapok," desis Gaara dingin. "Terjunkan mata-mata, aku ingin pria ini ditangkap dan masuk ke dalam penjara minggu ini juga."

"Siap," polisi muda itu memberikan hormat dan segera melaksanakan perintah Gaara dengan cepat.

"Aku pasti menangkapmu, Kisame." Ucap Gaara pelan, menatap foto buronan yang ada di tangannya dingin.

Sementara itu, Kisame tengah menyelinap ke dalam tempat parkir butik milik Naruto. Sudah satu minggu dia terus membuntuti kemana Sasuke pergi. Kisame memperhatikan keadaan sekeliling dengan seksama, setelah merasa aman, dia segera mendekat ke mobil pribadi Sasuke dan melancarkan aksinya, memotong kabel rem mobil sport hitam milik Uchiha bungsu dengan pisau lipat.

Bukan hal sulit bagi Kisame untuk menaklukkan alarm mobil sport seperti milik Sasuke. Pria itu sudah sering mencuri mobil model ini dengan cara menonaktifkan alarm terlebih dahulu dan membobol pintu secara paksa. Kisame tersenyum puas melihat hasil kerjanya dan meludahi mobil itu. "Mati kau!" katanya jahat. Penjahat itu segera mengendap-endap keluar, meninggalkan tempat parkir tertutup itu dengan cepat. Kisame sudah hampir frustasi karena usaha sabotasenya selalu berakhir gagal. Entah bagaimana, Sasuke selalu lolos dari perangkap maut yang dibuatnya.

.

.

.

Kisame berbaring di atas tempat tidur. Sudah dua hari ini dia tinggal di sebuah motel dan menyewa sebuah kamar untuknya. Ruangannya tidak terlalu besar, hanya ada sebuah tempat tidur single, sebuah lemari pakaian, dua buah meja, satu buah kulkas kecil, satu buah tv dan sebuah kamar mandi di dalamnya.

Pria itu terus menyalakan tv, dan mengumpat keras karena belum ada berita mengenai kematian Sasuke di sana. "Apa aku salah sasaran?" Kisame berdecak kesal. "Aku tidak akan mendapat uang kalau terus begini," keluhnya panjang.

Sebenarnya dia tidak salah sasaran hanya saja, mobil itu memang sengaja tidak dipakai dua hari ini. Sebab Naruto bersikeras, jika Sasuke tidak boleh mengendarai mobilnya sebelum pria itu benar-benar sembuh.

"Sasuke, kau diantar supir lagi?" tanya Shikamaru saat Sasuke masuk ke dalam studio.

"Hn."

"Memangnya mobilmu kenapa?" kini Kiba ikut menimpali dan duduk di samping Sasuke. Mereka berada di studio saat ini untuk latihan. Sedangkan Neji dan Asuma masih belum kelihatan batang hidungnya.

Sasuke menghela napas pendek. "Tidak rusak, Naruko melarangku mengendarai mobil sebelum aku sembuh benar."

"Keputusan bijak," sahut Shikamaru setuju. "Ngomong-ngomong, mana Asuma-san dan Neji?"

"Neji mengantar Tenten ke butik, kalau Asuma-san, aku tidak tahu." Jawab Kiba.

"Jadi, Neji benar-benar kencan dengan pegawai Naruto?" Shikamaru nampak tak percaya. Kiba mengangguk. "Berani sekali," dengus Shikamaru. "Kekasihmu akan menghajar Neji, jika dia hanya menjadikan Tenten sebagai selingan." Ujar pemuda itu menatap Sasuke serius.

Sasuke mengangkat bahu, "itu urusannya." Katanya enteng.

"Mana Sasuke?" Asuma berbicara keras setelah menutup pintu di belakangnya keras. "Ah, kau disitu rupanya, aku mencarimu dari tadi. Telepon genggamku habis baterai," kata Asuma berhasil menutup mulut Kiba yang hendak menyela.

"Ada apa?" tanya Sasuke datar.

"Pagi ini aku mendapat telepon dari salah satu stasiun televisi, mereka menginginkan wawancara eksklusif denganmu juga Naruko. Bagaimana?"

"Kapan?"

"Malam ini, bisa?"

"Secepat itu?" Sasuke mengernyit.

"Begitulah."

"Aku akan bicara dengan Naruko, jika dia bersedia, kenapa tidak." Jawab Sasuke enteng.

"Bagus, karena aku harus memberi kabar pada mereka satu jam lagi.

"Hn, aku akan menghubungi Naruko sekarang." Kata Sasuke beranjak pergi, mencari privasi untuk menelepon kekasihnya.

"Mana Neji?" tanya Asuma yang baru menyadari jika anak asuhannya kurang satu.

"Mengantar Tenten," jawab Kiba datar.

"Cepat hubungi dia, Kiba! Pekerjaan kalian masih menumpuk," kata Asuma tegas.

"Ha'i." Jawab Kiba, segera melaksanakan perintah manajernya itu.

Menjelang siang, akhirnya Neji datang ke studio dengan wajah kusut. Ketiga temannya yang lain menatapnya aneh, karena tidak biasanya dia seperti ini. Neji terkenal tenang, dan selalu bisa mengendalikan emosi dibanding ketiga temannya yang lain.

"Jangan bilang, kalau kau baru saja putus dengan Tenten." Kata Kiba tepat sasaran.

Neji menghela napas panjang dan menatap langit-langit sendu. "Dia memutuskanku," katanya parau.

"Benarkah?" Kiba terlonjak dari tempat duduknya, terlalu kaget dengan berita yang baru saja didengarnya. Neji berdiri, berjalan mondar-mandir dengan pose berpikir. Terkadang dia menggigit bibir bawahnya dan mengernyit. "Aku tidak mengerti, kenapa dia meminta putus dariku?"

"Ini kali pertama terjadi padanya, kurasa dia syok." Bisik Kiba pada Sasuke, sementara pria raven itu mengangguk setuju.

"Apa yang kurang dariku?" Neji berkata keras, begitu frustasi.

Shikamaru bergerak di kursinya, menyamankan diri dan bertanya tenang. "Apa kau benar-benar menyukainya, Neji?"

"Entahlah," jawab Neji. "Aku sendiri tidak yakin, yang jelas, hatiku mendadak kosong saat dia meminta putus."

"Biar kutebak," sahut Kiba. "Kau pasti bersikap cool dan menjawab 'ok'?"

"Memang apa lagi yang bisa aku katakan? Aku tidak mungkin mengemis cinta pada Tenten."

"Tapi, kau mencintainya." Sahut Sasuke datar. "Kukira, itu alasan yang cukup untukmu mempertahankan hubungan kalian."

"Aku belum siap untuk kehilangan Tenten," tukas Neji mulai jujur. "Apa yang harus aku lakukan?"

"Datangi dia, bersikaplah romantis dan berikan dia perhatian layaknya seorang kekasih. Dan berhenti bermain-main dengan gadis lain!" sahut Kiba cepat, membuat Neji berpikir dalam.

.

Langkah Naruto terhenti, saat telinganya mendengar samar isakan seorang wanita dari salah satu bilik toilet wanita. Naruto menajamkan pendengarannya dan mengetuk sebuah pintu asal suara itu. Perlahan pintu bilik terbuka, Tenten keluar dari dalam bilik dengan wajah kusut, merah akibat terlalu banyak menangis.

"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto.

Tenten menggeleng. "Tidak, saya tidak baik-baik saja." Jawab wanita itu, kembali terisak keras dan menghambur ke dalam pelukan Naruto.

"Menangislah," ucap Naruto tenang, menepuk-nepuk punggung Tenten lembut untuk menenangkan wanita itu.

"Jadi, apa yang terjadi?" kini keduanya sudah berada di dalam kantor Naruto. Tenten mengelap ingusnya dengan tisu kemudian melemparnya ke tempat sampah yang ada di samping kursi duduknya. "A-aku memutuskan Ne-Neji-kun." Jawab Tenten sedikit terbata.

"Jika kau yang memutuskannya, kenapa kau menangis?"

"Karena sebenarnya aku mencintainya," jelas Tenten. "Aku memutuskannya karena aku tahu jika dia hanya main-main padaku, dan suka bermain dengan wanita lain di luar sana."

Wajah Naruto mengeras, mendengar penuturan Tenten. Beruntung pengendalian dirinya sangat bagus hingga dia bisa menahan amarahnya saat ini. 'Bajingan,' tukas Naruto dalam hati. "Dan Neji, apa dia langsung menyetujui keputusanmu?" Tenten mengangguk lemah membuat kedua tangan Naruto mengepal begitu erat.

"Kau tahu, Tenten. Saat ini aku ingin sekali mencari Neji dan menghajarnya." Tukas Naruto tenang, namun membuat Tenten terbelalak tak percaya. "Tapi, ini masalah kalian. Aku ingin kalian menyelesaikan masalah ini. Cinta tidak harus selalu memiliki, terdengar klise dan mudah untuk diucapkan. Namun pada kenyataannya hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Tegarlah, jika Neji memang jodohmu, cepat atau lambat dia pasti kembali padamu."

"Arigatou, Naruko-san." Tenten menghapus jejak air mata di pipinya.

"Kurasa hari ini kau butuh menenangkan diri, kau boleh pulang. Tapi besok, kau harus kembali ke Tenten yang kukenal."

"Ha'i, sekali lagi terima kasih, Naruko-san. Sampai jumpa besok," kata Tenten lirih, kemudian berlalu.

.

.

.

Sasuke datang menjemput Naruto tepat pukul enam sore, dilihat dari mimik wajah tunangannya itu, Sasuke tahu jika mood Naruto sedang buruk saat ini.

"Aku sudah menduga, jika akhirnya akan seperti ini." Kata Naruto setelah duduk di kursi penumpang bersama Sasuke, sementara supir pribadi keluarga Sasuke menjalankan kendaraannya masuk ke jalan raya yang sedikit padat.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Naruto. Padahal dia tahu betul jika tunangannya menyinggung masalah hubungan Neji dan Tenten.

"Tentu saja mengenai Neji," jawab Naruto dengan dengus kesal. "Dia membuat Tenten menangis pilu hari ini."

"Ternyata bukan hanya Neji yang terpukul dengan putusnya hubungan mereka."

"Apa maksudmu?" Naruto menatap Sasuke lurus, meminta penjelasan.

"Neji bahkan tidak bisa konsentrasi karena memikirkan hubungan asmaranya, dia benar-benar mencintai Tenten."

"Omong kosong."

"Tidak, ini bukan omong kosong. Well, memang benar jika pada awalnya Neji hanya bermain-main, tapi siapa sangka jika pada akhirnya dia benar-benar mencintai gadis itu."

"Lalu kenapa dia menerima keputusan Tenten begitu saja?"

"Laki-laki memiliki ego tinggi, Sayangku. Mengertilah, biarkan mereka menyelesaikan masalah ini sendiri." Kata Sasuke lembut dan mengecup sekilas bibir Naruto.

"Jika aku mau ikut campur, aku pasti sudah mendatangi Neji dan menjambak rambutnya."

Sasuke terkekeh, sulit untuk tidak tertawa mendengar penuturan tunangannya ini. Tatapan galak Naruto tidak berefek pada Sasuke. Yang ada, pria itu semakin tertarik untuk menggoda wanita di sampingnya hingga puas.

Mereka berdua mampir ke sebuah toko makanan, untuk membeli makanan cepat saji sebagai makan malam mereka. Keduanya tidak bisa makan di luar karena acara televisi yang mengundang mereka akan mengudara tepat pukul delapan malam. Jadi, mereka hanya bisa makan malam lebih cepat dalam perjalanan menuju gedung stasiun televisi.

"Gugup?" tanya Sasuke saat keduanya berada di ruang tunggu artis. Tiga puluh menit lagi mereka akan mulai syuting.

"Sedikit," jawab Naruto dengan nada tenang dipaksakan.

"Jangan khawatir," Sasuke menggenggam tangan Naruto lembut. "Aku akan di sini, tidak perlu khawatir karenanya."

"Hm, arigatou, Sasuke." Balas Naruto meletakkan kepalanya di bahu kanan Sasuke. Mencari ketenangan dan kehangatan dari pria yang sangat dicintainya ini. Mereka terus berbincang ringan selama jam tunggu, hingga akhirnya mereka berdua dipanggil untuk masuk ke dalam studio.

Sebuah lampu sorot menyorot tubuh keduanya saat mereka memasukki studio yang sudah penuh oleh penonton. Acara ini berlangsung live, dan presenter acara sama sekali tidak memberitahu siapa bintang tamu kejutan di episode kali ini. Para penonton yang sebagian besar kaum hawa, berteriak senang saat mengetahui jika tamu kali ini adalah Sasuke. Namun pria itu tidak sendiri, dia datang seraya menggenggam erat tangan kekasihnya dan acap kali melemparkan tatapan mesra pada gadis beruntung itu.

Tepuk tangan penonton terus bergema, memantul pada tembok studio hingga keduanya duduk nyaman di sebuah sofa dengan seorang presenter yang menyapa keduanya ramah dan bersahabat.

"Sasuke-san, Naruko-san, senang sekali kalian berdua bisa hadir bersama kami malam ini." Sapa sang presenter bernama Yugito begitu ramah. Sasuke hanya memasang wajah datar seperti biasa, sementara Naruto tersenyum lembut pada Yugito.

"Ah, Sasuke-san, kekasih anda benar-benar cantik. Bukan begitu?" Yugito melempar pertanyaan pada penonton yang hadir, dan sebagian besar menyetujui pendapat Yugito. Sementara sebagiannya lagi begitu cemburu melihat kedekatan keduanya.

"Arigatou," kata Naruto lirih dengan wajah sedikit merona.

"Jadi, apa benar kalian berdua memiliki hubungan khusus?"

"Benar," jawab Sasuke serak. "Uzumaki Naruko, adalah tunanganku."

Yugito dan penonton terkejut, tak percaya jika Sasuke akan mengakui hal ini secara terang-terangan. Sang produser tersenyum, karena melihat grafik acaranya yang semakin meroket setelah pengakuan Sasuke.

"Oh, Tuhan. Kukira kalian hanya sebatas kekasih saja." Tukas Yugito cepat. "Jadi, kapan pernikahan kalian berlangsung?"

"Musim semi tahun depan," Sasuke kembali menjawab. Membuat fans girlsnya patah hati seketika.

"Sasuke-san, boleh saya bertanya hal yang sangat pribadi?"

"Dari tadi anda menanyakan hal yang bersifat pribadi," sahut Sasuke dingin membuat Yugito bergerak gelisah di kursinya.

"Kalian saling mencintai, atau terpaksa menikah karena keputusan keluarga? Yang kami tahu, Naruko-san adalah pewaris Uzumaki group, sementara anda sendiri merupakan putra bungsu dari Uchiha group."

"Aku mencintai wanita ini, sejak kali pertama bertemu." Sasuke melirik ke arah Naruto dengan tatapan lembut. Para penonton menahan napas, merasakan cinta tulus pria itu untuk Naruto. "Aku ingin segera mengikatnya untuk diriku sendiri. Walau seandainya kami dijodohkan, bagiku tidak masalah, karena siapa yang bisa menolak kecantikan hati seorang Uzumaki Naruko?"

"Benar-benar romantis," seru Yugito. "Bagaimana dengan anda, Naruko-san?"

Naruto menggenggam tangan Sasuke dan menjawab lembut. "Pria ini adalah satu-satunya pria yang mampu menembus pertahanan kokoh yang aku bangun begitu lama. Dengan tidak tahu malu dia menerobos masuk, dan menjungkirbalikkan duniaku yang tenang." Kata Naruto membuat beberapa penonton tersenyum mendengar pernyataannya. "Dia menerimaku apa adanya, mencintaiku karena aku adalah aku. Dan aku pun mencintainya, walau tak sebesar cintanya padaku, tapi rasa cintaku tidak bisa dibilang kecil."

Sasuke tersenyum kecil, menatap Naruto dan berkata cepat. "Kenapa berbelit-belit, katakan saja jika kau mencintaiku." Tukasnya seraya mengecup bibir Naruto lembut. Para penonton langsung gaduh seketika melihat tindakan spontan dari sosok yang mereka kagumi. "Karena itulah, aku memohon secara pribadi untuk semua fans, tolong jangan mengganggu tunanganku. Untuk para wartawan, tolong berhenti mengikuti kemana pun tunanganku pergi. Aku memohon dengan sangat," Sasuke membungkuk hormat. "Onegai..." Katanya lirih membuat perasaan siapa pun tersentuh karenanya.

"Aku sama sekali tidak menyangka, jika Sasuke-kun bisa bersikap sangat romantis." Seru Yugito, yang entah kenapa ikut senang untuk keduanya. "Kita akan segera kembali setelah break!"

.

.

"Mati!"

"Mati!"

"Mati!" raung Sasori melempar televisi flat miliknya dengan sebuah asbak kristal. "Kau pasti mati, Uchiha Sasuke!"

"Tuan?" Zetsu memanggil pemuda berambut merah itu tenang.

"Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh anak buahmu yang bodoh itu? Kenapa Sasuke belum mati?"

"Maaf, tuan. Saat ini, Kisame memerlukan uang untuk bersembunyi dan melakukan tugasnya." Lapor Zetsu.

"Uang? Uang kau bilang," teriak Sasori. "Si brengsek itu bahkan tidak mampu membunuh cecunguk Uchiha. Berani sekali dia meminta uang dariku?"

"Dia mengancam akan membuka suara jika kita tidak memberinya uang."

"Apa? Dia berani mengancamku?" Sasori berdesis jahat. "Bunuh dia, Zetsu. Aku tidak mau dia menjadi ancaman untuk kita."

"Baik, saya mengerti." Sahut Zetsu sebelum beranjak pergi.

"Tidak ada yang boleh mengancam Sabaku Sasori," pria itu kembali berdesis. Menenggak habis vodca yang ada di gelas kristal dan kembali membanting gelas itu hingga hancur berkeping-keping.

.

.

.

Kisame mengeratkan jaket tipis yang dikenakannya untuk mengusir rasa dingin yang sangat menusuk di malam musim dingin ini. Giginya gemeretuk menahan dingin, topi yang dikenakannya dia tarik semakin dalam untuk menyembunyikan wajahnya. "Kemana dia?" Kisame bergumam, tidak sabar menunggu seseorang yang memanggilnya keluar. Seseorang yang menjanjikan bayaran yang selama ini dia tunggu. Persetan dengan gagalnya usaha pembunuhan yang dilakukannya, saat ini dia benar-benar butuh uang. Dan itu akan dia dapatkan walau dengan cara mengancam sekalipun.

Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan Kisame. Kaca mobil yang juga gelap menyulitkan pria itu untuk mengetahui siapa pengemudi di dalamnya. Kaca jendela mobil pun terbuka, "masuk!" perintah suara itu tegas dan dalam.

Kisame tersenyum penuh kemenangan saat mengenali siapa yang ada di balik kemudi. Yah, dia adalah Zetsu, orang yang selama ini memberinya perintah. "Mana uangku?" tanya Kisame bersyukur karena mobil itu hangat dengan pemanas sentral. Dan mobil pun bergerak maju.

"Ini uangmu," sahut Zetsu menodongkan sebuah pistol berperedam tepat di kening kiri Kisame. Pria itu tidak sempat bertindak, karena Zetsu langsung menembak pria itu hingga Kisame mati seketika dengan sebuah peluru bersarang di otaknya.

Zetsu mengelap darah yang mengenai pipi kanannya dengan tangan yang bersarung tangan kulit berwarna hitam. Dengan santai dia memasukkan pistol yang baru saja digunakannya ke dalam saku jasnya. Zetsu mengendarai mobilnya ke pinggir kota, dimana ada sebuah jurang yang sangat dalam di sana.

Pria itu berhenti dan melihat ke sekeliling, merasa cukup aman, dia memindahkan mayat Kisame ke kursi pengemudi dan memakaikannya sabuk pengaman. Zetsu merusak rem mobil, berjaga-jaga jika seandainya polisi melakukan penyelidikan dalam terhadap kecelakaan mobil yang sengaja dia rekayasa. Pria itu lalu menghidupkan mesin mobil, dan mendorong mobil tersebut hingga masuk jurang yang memang tak memiliki pembatas kokoh di sepanjang jalan. "Semoga tubuhmu hangus menjadi arang," kata Zetsu setengah berbisik.

Zetsu mengulum senyum saat mendengar sebuah ledakan dari belakangnya. Pria itu kemudian menaiki mobil yang disembunyikannya dengan baik di balik semak-semak dan segera pergi dari tempat kejadian.

.

.

.

"Lapor kapten, baru saja terjadi kecelakaan lalu lintas di pinggir kota." Seorang polisi berpangkat rendah merangsak masuk ke dalam kantor Gaara, kebetulan malam ini pria itu bertugas untuk jaga malam.

"Korban?"

"Diperkirakan hangus terbakar bersama kendaraan yang dikemudikannya."

"Sial!" umpat Gaara. "Panggil beberapa petugas yang jaga juga pemadam kebakaran, kita langsung ke lokasi kejadia

n."

"Siap, kapten!"

.

.

.

"Bagaimana?" teriak Gaara di tengah guyuran hujan salju lebat malam ini. Polisi sudah memblokir jalan agar memudahkan proses evakuasi.

"Hujan salju terlalu lebat, beresiko jika kita menurunkan tim ke bawah sana malam ini." Jawab petugas pemadam kebakaran yang akan membantu proses evakuasi.

"Bagaimana dengan helikopter?" kini mata Gaara tertuju pada salah satu anak buahnya.

"Tidak bisa, helikopter tidak bisa turun karena hujan salju." Jawab anak buah Gaara membuatnya mengerang kesal.

"Kita baru bisa mengevakuasi korban setelah hujan salju reda, kapten."

"Baiklah, kita tunggu sampai besok pagi." Tukas Gaara dengan napas beruap karena dingin yang menusuk. "Kita kembali ke markas."

Keesokan paginya, Gaara beserta tim kembali ke lokasi. Hujan salju berhenti tepat pukul enam pagi, menyebabkan jalanan lebih licin dari biasanya. Sebuah helikopter terbang rendah, untuk membantu menarik mobil yang berada di dalam jurang naik ke permukaan.

Gaara sedikit senang karena mobil itu walaupun terbakar tapi tidak hangus sempurna, karena hujan salju tadi malam. Pria itu mendekati mobil dan melihat jika ada seseorang dengan tubuh setengah hangus duduk di kursi pengemudi. Petugas medis segera bertindak dan membawa korban masuk ke dalam ambulans yang akan dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Sedangkan tim forensik mengumpulkan beberapa benda yang mungkin akan berguna untuk penyelidikan polisi.

"Aku menginginkan laporan kalian secepat mungkin di atas mejaku, mengerti?" tukas Gaara dalam sebelum pergi meninggalkan lokasi untuk kembali ke markas. Sebenarnya anak dari keluarga Sabaku itu sedang terpecah konsentrasinya saat ini. Dia mendengar berita jika pihak Kejaksaan sudah mulai menyelidiki perusahaan milik keluarganya. "Kenapa aku harus peduli?" guman Gaara kesal. Namun, sebagai seorang anak, dia juga terenyuh saat melihat sosok ayahnya di televisi menjadi pemberitaan hangat, terkait kasus penggelapan pajak. Ayah yang selama ini begitu berkuasa kini terlihat kurus dengan mata berkantung. Entah apa yang terjadi padanya saat ini, alih-alih kembali ke markas, pria itu malah membelokkan mobilnya ke luar kota menuju Suna. Yah, dia harus menemui ayahnya saat ini juga.

.

.

.

TBC