Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Romance, Hurt Comfort, Family, Friendship, Angst
Warning : Gender switch, OOC, Oc, Typo (s)
Broken Wings
Chapter 15 : I Love You
By : Fuyutsuki Hikari
Gaara menatap kosong gedung tinggi berlantai tiga puluh dari dalam mobilnya. Sudah hampir tiga puluh menit dia berada di depan kantor perusahaan ayahnya, namun tubuhya mendadak kaku dan sulit untuk digerakkan. Ia menarik napas panjang dalam-dalam sebelum akhirnya melepas sabuk pengaman, dan membuka pintu mobil. Dengan langkah tegap dia memasuki gedung perkantoran itu. Beberapa karyawan lama yang memang mengenalnya segera membungkuk hormat, sementara karyawan baru yang tidak mengenalnya hanya mengernyit heran melihat perlakuan karyawan senior pada Gaara.
"Gaara?" panggil Kankuro keras, nyaris tak percaya pada penglihatannya saat ini. Ia memerintahkan sekretaris pribadinya untuk kembali ke ruang kerjanya terlebih dahulu, sementara dia bergerak mendekati Gaara yang berdiri di lobby.
Yang dipanggil hanya membalikkan badan tanpa ekspresi dan mengangguk kecil sebelum akhirnya membungkuk hormat. "Apa kabar, Kak?" tanyanya dengan nada datar.
Kankuro tersenyum memaklumi sifat antik saudara sepupunya itu. "Genki desu," jawab Kankuro lalu memeluk Gaara singkat. "Ayo ke ruanganku, sudah lama kita tidak bertemu." Tawar Kankuro ramah.
Gaara menggelengkan kepala, "aku ingin bertemu Ayah." Katanya masih dengan nada datar.
"Kau mencari Kazekage-sama?" tanya Kankuro, dengan nada tak percaya. Gaara mengangguk singkat. Kankuro kembali tersenyum. "Beliau ada di ruangannya. Tapi, sebaiknya kau menunggu di ruanganku dulu. Sekarang beliau sedang ada tamu."
"Kejaksaan?" tebak Gaara tepat sasaran. Kankuro hanya bisa tersenyum miris dan mengangguk singkat. "Sebaiknya aku langsung ke ruangan Ayah saja." Kata Gaara kemudian.
"Baiklah jika itu maumu," ujar Kankuro pengertian. Sejenak pria yang lebih tua lima tahun dari Gaara itu terdiam sebelum kembali angkat bicara. "Sesekali pulanglah ke rumah, Temari sangat merindukanmu." Pintanya sambil menepuk bahu Gaara pelan, kedua bola matanya menyiratkan harapan besar pada Sabaku bungsu.
"Akan aku usahakan," janji Gaara membuat Kankuro tersenyum senang. "Aku permisi, Kak." Gaara kembali membungkuk hormat dan segera berbalik menuju tujuannya semula. Ia masuk ke dalam lift yang membawanya naik hingga lantai tiga puluh dimana ruangan kantor ayahnya berada.
Wajah Gaara masih berekspresi datar seperti biasa saat dia melihat beberapa orang berjas hitam keluar dari ruangan Kazekage dengan membawa beberapa box arsip ditangannya. Gaara tahu betul siapa orang-orang itu, mereka adalah perwakilan dari Kejaksaan yang bertugas untuk mengumpulkan semua bukti kasus penggelapan pajak Kazekage.
Sejenak ia hanya berdiri di depan pintu, sedikit kikuk akhirnya Gaara mengetuk pintu jati di hadapannya dan segera masuk saat terdengar suara berat dari dalam ruangan mempersilahkannya untuk masuk.
"Ayah?" panggil Gaara pelan. Ia berjalan dan berdiri tepat dibelakang ayahnya yang berdiri memunggunginya saat ini.
Pria setengah baya itu tetap bergeming. "Gaara?" sahutnya tanpa melepaskan tatapannya yang menatap jauh keluar jendela kaca kantornya. Perlahan Kazekage berbalik menghadap putranya itu. "Tumben kau mampir," katanya dengan nada suara lebih santai. "Duduklah," tawarnya menunjuk sebuah sofa untuk tamu. Gaara segera duduk, sementara Kazekage berjalan menuju bar kecil yang ada di ruangannya. "Wine, vodka?" tawar Kazekage lagi.
Gaara menggelengkan kepala ringan. "Tidak. Air mineral saja, terima kasih."
Kazekage tersenyum kecil mendengar jawaban putranya. Dia membuka pintu lemari pendingin dan mengambil satu botol air mineral dari dalamnya. Kazekage menuang vodka untuk dirinya sendiri dan berjalan kembali menuju sofa dimana Gaara duduk. "Kau tidak kerja?" tanya Kazekage sambil meletakkan sebuah gelas kosong dan botol air mineral di atas meja kaca.
"Aku mampir sebentar," sahut Gaara mulai menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya pelan. "Kebetulan ada pekerjaan di sekitar sini." Jelasnya lagi. Kazekage mengangguk kecil dan menyesap vodka miliknya. "Jangan terlalu banyak minum," tegur Gaara. "Ayah sudah tidak muda lagi."
Kazekage kembali tersenyum. "Hm, kali ini saja, Gaara." Gumam Kazekage berjanji. Keheningan kembali menggantung setelahnya.
"Ayah sudah menyelamatkan apa yang menjadi milikmu, Gaara." Ujar Kazekage tiba-tiba. Ia meletakkan gelas minumannya di atas meja, matanya menatap lurus wajah putranya yang sudah lama tidak dilihatnya. "Sementara sisanya akan disita oleh Kejaksaan."
Gaara tersentak, pegangannya pada gelas mengendor, nyaris membuat gelas itu jatuh. "Ayah tidak perlu khawatir tentang masalah itu, aku sudah memiliki penghasilan yang cukup saat ini."
"Tidak," kata Kazekage berat. "Itu hakmu, milikmu. Siapa pun tidak bisa merebutnya darimu."
"Ayah?"
"Dengarkan aku, sekali ini saja." Mohon Kazekage. "Selepas kepergianku, tolong bantu kakak sepupumu Kankuro. Karyawan kita cukup banyak, mereka bergantung hidup pada kelangsungan perusahaan ini. Ayah takut jika Kankuro tidak sanggup untuk mengatasinya seorang diri. Sisanya, kita hanya bisa berusaha dan memohon belas kasih Tuhan." Kata Kazekage dalam satu tarikan napas panjang.
Gaara tidak sanggup menutupi kekagetannya, sejak kapan ayahnya menjadi umat beragama yang taat?
"Kau merasa aneh?" tanya Kazekage tersenyum, ia mampu membaca air muka putranya dengan baik. Ia kembali terkekeh pelan melihat kerutan di dahi Gaara yang semakin dalam. "Waktu mengubah segalanya putraku," jelasnya ringan. "Maaf karena Ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu. Dan mengenai Sasori," Kazekage menarik napas panjang, ia terdiam untuk sesaat. Kedua matanya terlihat sedih saat menyebut nama itu. "Sasori sangat berbahaya, Ayah sudah tidak bisa mengontrolnya lagi. Ayah merestuimu jika nanti kedepannya kau harus mengambil tindakan tegas padanya."
"Kak Sasori- dia sakit." Jawab Gaara parau. Tangan kanannya meremas celana panjangnya hingga kusut.
"Itu juga salahku," sesal Kazekage. "Aku melakukan segala hal untuk melindungi nama baik keluarga kita. Yang tidak aku sadari, aku menghancurkan sisi baik Sasori." Kazekage kembali menghela napas panjang. "Aku titipkan semua ini padamu, Gaara. Maaf, Ayah lagi-lagi membebanimu."
Gaara hanya mengangguk maklum. "Aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Ayah mungkin mendekam lama di penjara, tapi nanti dengan adanya dirimu di perusahaan kita, Ayah bisa bernapas lega." Kazekage menatap putranya penuh arti. Jika dilihat dengan baik, air mata terlihat menggantung di matanya yang lelah. Kerutan-kerutan halus kini menghiasi wajah tuanya. "Boleh aku memeluk-mu?" tanya pria paruh baya itu dengan wajah sendu lebih terdengar seperti sebuah permintaan.
Gaara berdiri dan berjalan menghampiri Kazekage, ia memeluk erat sang ayah untuk kali pertama sejak ia tumbuh dewasa. "Maafkan, Ayah." Bisik Kazekage parau. "Maafkan aku." Ulangnya lagi kini sedikit tercekat.
Gaara hanya mengangguk kecil di bahu sang ayah. Matanya menatap ke langit-langit ruangan, mencoba bertahan dari serbuan air mata yang berusaha membobol pertahanan kokohnya. Kapan terakhir kali ayah dan anak itu berpelukan? Ah, ya mereka berpelukan saat Ny. Sabaku meninggal dunia hampir delapan belas tahun yang lalu.
.
Dilain tempat, Kurenai berjalan menuju kolumbarium atau rumah abu jenasah. Dia sengaja meminta ijin untuk tidak masuk kerja agar bisa mengunjungi putrinya hari ini. Kurenai terus berjalan menyusuri lorong demi lorong panjang kolumbarium hingga akhirnya dia sampai ditujuannya.
Matanya nanar saat ia menatap kotak kaca tempat menyimpan abu jenasah Hotaru. Sebuah foto Hotru yang tersenyum lebar diletakkan tepat di samping guci marmer berwarna putih tempat menyimpan abu jenasah putrinya. Kurenai mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu ia membuka kaca kotak itu dan meletakkan tas tangan pemberian Naruto di dalamnya.
"Apa kabar, Sayang?" tanya Kurenai serak setelah selesai meletakkan tas tangan tersebut di dalamnya. "Maaf, Ibu jarang datang berkunjung." Tambahnya penuh sesal. "Ibu hanya belum bisa menerima kepergianmu, itu saja." Kurenai meremas dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Air matanya bergulir jatuh, napasnya tercekat saat ia kembali bicara. "Hotaru, apa kau marah jika mulai hari ini Ibu berniat untuk memulai hidup baru?" tanyanya sendu.
"Ibu, ingin mencoba untuk memaafkan diri Ibu sendiri yang telah gagal untuk melindungimu. Karena kegagalan Ibu kau harus menderita hingga akhirnya kau memutuskan untuk mengakhiri hidupmu sendiri."
Kurenai sejenak berhenti bicara untuk menarik napas panjang dan menenangkan diri. "Maaf, kau harus menderita karena bedebah itu. Maaf karena kau menjadi mangsa laki-laki yang seharusnya menjadi sosok pengganti Ayahmu. Maafkan Ibu, sayang. Maafkan Ibu," ulang Kurenai lagi kini ia duduk bersimpuh, kakinya sudah tidak sanggup menopang berat tubuhnya lebih lama lagi. Kakinya terasa begitu lemas, tenaganya seolah hilang menguap entah kemana, sementara itu tangisnya pecah, memecah kesunyian dan keheningan tempat itu.
Butuh waktu beberapa lama untuk Kurenai kembali tenang. Dia kembali bicara pada Hotaru, menceritakan kehidupannya yang mulai kembali berwarna setelah dia bekerja pada Naruto. "Dia gadis yang baik," ujar Kurenai. "Dia bahkan membelikanmu tas tangan cantik itu," kata Kurenai dengan senyum mengembang. "Kalian pasti cocok satu sama lain," katanya parau. "Ah, andai saja kau masih ada disini, Hotaru." Kurenai kembali berandai, tatapannya menerawang jauh namun terlihat kosong. Ia lalu menggelengkan kepalanya kembali. "Tidak, Ibu harus berlari maju. Bukan begitu? Suatu hari nanti, Ibu akan bawa Naruko-san untuk menemui mu. Ibu akan bercerita lebih banyak lagi. Sekarang Ibu pulang dulu, tapi Ibu janji, mulai saat ini Ibu akan sering mengunjungimu. Jaa, Hotaru." Pamit Kurenai sebelum berbalik untuk pulang.
.
.
.
Sudah dua hari berlalu setelah pertemuan Gaara dan Kazekage. Siang ini langit kembali mendung. Angin dingin berhembus dingin menembus tulang. Naruto mengeratkan mantel bulu yang dikenakannya, ia memiliki janji dengan orang hotel siang ini. Naruto menengadahkan kepala, napasnya berembun karena udara dingin. "Untung ada mobil Sasuke," gumamnya pelan. Mobil yang biasa dipakai olehnya masuk bengkel pagi ini, sedangkan Iruka sedang sibuk mengantar Mito untuk rapat di luar kantor.
Langkah Naruto berhenti saat telepon genggamnya bergetar menandakan ada telepon masuk. Senyum tipis terlukis saat dia melihat nama yang tertulis di layar telepon genggamnya. "Halo!" sapanya hangat.
"Kau dimana?" tanya pemilik suara lain begitu berat.
"Aku akan ke hotel." Jawab Naruto yang kini sudah berada di dalam mobil sport hitam milik Sasuke dan mulai memanaskan mesin kendaraan tersebut. "Aku pinjam mobilmu," kata Naruto kemudian.
"Memangnya mobilmu kemana?"
"Bengkel."
"Kenapa tidak meminta Paman Iruka untuk mengantarmu?"
Naruto memutar kedua bola matanya dan menjawab dengan nada biasa yang dipaksakan. "Dia sibuk mengantar Nenek hari ini."
Naruto bisa mendengar jelas suara helaan napas tunangannya. "Kabari aku jika sudah sampai," pinta Sasuke dengan nada lebih lembut.
"Aku mengerti. I love you."
"I love you more," balas Sasuke serak dan memutus hubungan telepon keduanya.
Naruto meletakkan telepon genggamnya kembali ke dalam tas tangannya dengan senyum manis. Tunangannya itu selalu mampu menghangatkan hatinya dengan sikapnya yang romantis walaupun kadang menyebalkan jika sisi possessive pria itu muncul. "Aku benar-benar beruntung bisa memilikimu di sampingku, Sasuke." Gumam Naruto sebelum membawa kendaraannya untuk keluar dari tempat parkir.
Naruto membawa kendaraan itu dengan kecepatan sedang, alisnya berkerut saat ia tidak mampu melambatkan laju kendaraannya. Lampu lalu lintas di depannya sudah berwarna merah, Naruto kembali menekan pedal rem namun pedal itu sama sekali tidak berfungsi. "Jangan panik Naruto! Tenang, kau harus tenang." Katanya pada dirinya sendiri. Namun akhirnya Naruto berteriak saat ia melihat ada kendaraan lain dengan kecepatan tinggi melaju dari sisi lain jalan, melaju lurus ke arahnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk membanting stir untuk menghindari tabrakan diantara keduanya, hingga akhirnya kendaraannya sendiri menabrak pagar pembatas jalan dengan suara debaman keras dan Naruto pun tidak sadarkan diri setelahnya.
.
Dunia Sasuke seolah runtuh saat dia mendapat kabar dari kepolisian jika Naruto mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit kota saat ini. Ia segera meninggalkan lokasi syuting dan secepat kilat ia melaju ke rumah sakit kota untuk melihat kondisi Naruto.
Saat ia tiba, sudah ada Mito, dan kedua orang tuanya disana. Di belakang Sasuke, Itachi juga berlari dengan raut wajah cemas. "Bagaimana keadaan Naruko?" tanya Itachi menyuarakan pertanyaan Sasuke yang entah kenapa suaranya mendadak hilang.
Ketiga orang tua itu menoleh ke arah Sasuke dan Itachi berdiri saat ini. Raut wajah ketiganya juga terlihat tidak jauh berbeda dengan Sasuke dan Itachi.
"Dokter sedang memeriksanya," jawab Fugaku. "Pihak kepolisian sedang menyelidiki penyebab kecelakaan ini, mereka akan segera memberi kabar jika mendapat petunjuk sekecil apapun." Tambah Fugaku menjawab pertanyaan yang tidak mampu diucapkan Sasuke. "Dia pasti baik-baik saja, " hibur Fugaku menenangkan. Sementara Sasuke hanya menundukkan kepala dan memanjatkan doa untuk keselamatan Naruto.
Itachi terus berjalan mondar mandir karena cemas. Sesekali dia menggigiti kukunya, kebiasaan yang selalu dia lakukan saat ia gelisah. Sudah hampir satu jam berlalu, tapi dokter belum juga keluar untuk memberi kabar. "Sial!" umpat Itachi pelan.
"Itachi, duduklah." Pinta Mito sambil menepuk kursi kosong di sampingnya. Itachi berhenti berjalan dan menghela napas pendek sebelum akhirnya ia mendudukkan diri di samping Mito.
"Maaf, Nyonya Mito." Kata Itachi parau.
Mito menggelengkan kepala dan tersenyum kecil. " Tidak, aku malah bahagia karena banyak orang yang mengkhawatirkan dan menyayangi cucuku. Arigatou." Katanya tulus.
Fugaku masih memeluk Mikoto yang terlihat jauh lebih tua karena raut cemas di wajahnya, sementara itu Sasuke masih berdiri menyandar pada tembok rumah sakit, terdiam sambil menundukkan kepala saat seorang dokter pria paruh baya yang memeriksa Naruto berjalan ke arah kelimanya.
"Bagaimana keadaan cucuku?" tanya Mito khawatir.
"Cucu anda menderita gegar otak ringan," jelas dokter itu sambil membetulkan letak kaca matanya. "Kami sudah memeriksa secara keseluruhan dan tidak ada luka dalam serius pada Nona Uzumaki. Dia sangat beruntung karena kendaraan yang dikendarainya dilengkapi kantung udara, jika tidak, kita mungkin tidak bisa berharap banyak." Jelas dokter itu lagi panjang lebar, membuat Mito dan Mikoto terkesiap dibuatnya. Mereka mengucapkan syukur karena Tuhan masih melindungi Naruto saat ini.
"Uzumaki-san akan segera kami pindahkan ke ruang inap, dia masih tidak sadarkan diri saat ini karena obat penenang yang kami suntikkan." Jelas dokter lagi.
"Boleh saya melihatnya?" tanya Sasuke serak.
"Tentu, anda bisa melihanya setelah dia dipindah ke ruang inap." Jawab dokter itu cepat. "Kalau begitu saya permisi," dokter itu mengangguk hormat saat Mito dan Fugaku mengucapkan terima kasih dan dokter itu pun segera berlalu pergi.
Tidak lama setelahnya, Naruto sudah menempati salah satu ruang inap VVIP di rumah sakit tersebut. Selang infus menempel di tangan kirinya, sebagai asupan gizi sementara untuk tubuhnya yang lemah.
Mito, Fugaku, Mikoto dan Itachi tinggal beberapa saat di sana sebelum akhirnya mereka pulang saat sore menjelang, mereka pamit dan meninggalkan Sasuke yang dengan keras kepala tidak mau beranjak dari sisi Naruto.
"Dobe?" panggil Sasuke lirih sesaat setelah keempatnya pergi. "Bangun," katanya lagi begitu lemah. "Sampai kapan kau mau membuatku cemas? Kau mau aku mati karena serangan jantung, huh?" tanyanya dengan senyum miris. "Aku nyaris berlari dengan bertelanjang dada dan tanpa alas kaki menuju kemari jika Neji tidak menghentikanku dan memberiku kemeja, jaket dan sepatu yang sekarang aku pakai." Sasuke meremas lembut tangan kanan Naruto dan mengecupnya penuh kasih. "Kenapa kau senang sekali membuatku cemas? Bangun, aku mohon..."
Lewat tengah malam, Naruto akhirnya sadarkan diri. Dia mengernyit saat merasakan rasa sakit pada kepalanya. Susah payah dia melihat ke sekeliling hingga matanya menatap sosok Sasuke yang tertidur di sisi kanan tempat tidurnya. Perlahan, Naruto membelai lembut rambut hitam pria itu. "Aku membangunkan mu?" tanya Naruto dengan sorot mata bersalah saat Sasuke terbangun karena merasakan sentuhannya.
Sasuke bangkit dari kursinya dan menatap Naruto dengan sorot mata khawatir. "Kau sudah bangun, mana yang sakit? Apa kau merasa pusing? Kau haus? Aku harus memanggil dokter. Kau-"
"Stttt," potong Naruto. "Aku baik-baik saja, Sasuke. Maaf sudah membuatmu cemas," kata Naruto masih terdengar lemah.
Sasuke mengatupkan mulutnya rapat lalu mengecup kening Naruto lama sebelum menyentuhkan keningnya sendiri dengan kening Naruto. "Terima kasih karena kau selamat, terima kasih karena kau masih berada disini bersamaku, terima kasih." Ucap Sasuke dengan suara bergetar sementara kedua matanya terpejam erat.
"Sasuke, kemarilah. Berbaring disisiku," pinta Naruto sambil menggeser tubuhnya ke sisi kiri tempat tidurnya, memberi ruang yang cukup bagi Sasuke untuk berbaring bersamanya.
Sasuke melepas sepatu yang dikenakannya dan segera berbaring di samping Naruto. Tangannya membelai lembut rambut pirang itu dan mengecup puncak kepala wanita itu penuh cinta.
"Tidurlah, Sasuke. Kau pasti lelah sekali hari ini. Maaf, lagi-lagi aku membuatmu khawatir." Bisik Naruto di dada Sasuke.
"Hn," jawab Sasuke berupa gumaman sebelum akhirnya dia kembali menutup mata untuk kembali tidur.
.
.
Berita mengenai kecelakaan yang menimpa Naruto menjadi topik panas keesokan harinya. Para wartawan berkumpul di depan gedung rumah sakit untuk menggali sumber berita. Asuma bahkan tidak sanggup membendung para wartawan itu hingga menyebabkan Mito dan Fugaku turun tangan untuk meredakan pemberitaan yang semakin hari semakin menyimpag dari kenyataan. Dan berita itu pun akhirnya sampai ke telinga Sasori.
"Kenapa Naruko yang kecelakaan?" desis Sasori. Matanya berkilat marah saat ia mengalihkan mata dari layar TV ke Zetsu yang berdiri tidak jauh di depannya. "Kenapa berita itu mengatakan jika Naruko yang mengalami kecelakaan?" tanya Sasori lagi kini dengan nada suara lebih tinggi.
"Uzumaki-san mengendarai mobil yang sudah disabotase oleh Kisame." Jelas Zetsu tenang.
"Bodoh! Manusia tidak berguna itu tidak pernah becus mengurus pekerjaannya." Raung Sasori. "Dia sangat beruntung karena dia sudah mati, jika tidak, aku sendiri yang akan menyiksanya hingga dia mati." Sasori menyeringai, mendesis puas atas kematian Kisame.
"Pergi dan cari tahu mengenai keadaan Naruko. Laporkan segera informasi apapun yang kau dapatkan padaku!" Sasori mendesis tajam sebelum mengatakan niat jahatnya lagi. "Jika ada kesempatan, culik dan bawa Naruko padaku!"
"Saya mengerti." Sahut Zetsu membungkuk hormat sebelum keluar pergi meninggalkan Sasori yang tertawa jahat di belakangnya.
Sasori menatap foto ditangannya dengan tatapan kosong, kemudian berbisik lirih. "Jika aku tidak bisa memilikimu, lebih baik aku membawamu serta ke alam baka bersamaku."
.
.
.
"Cih, mereka bilang jika kalian bertengkar hebat hingga Naruko frustasi dan mencoba bunuh diri," lapor Itachi mendecih sebal lalu melempar majalah yang baru dibacanya ke dalam tong sampah yang ada di dekat pintu masuk. "Benar-benar gosip murahan," tambahnya lagi kesal.
"Lalu untuk apa Kakak masih disini?" tanya Sasuke menatap lurus Itachi dengan tatapan sinis.
"Tentu saja menengok dan menjaga calon adik iparku," jawab Itachi tersenyum santai. Lalu dengan wajah menantang dia balik menatap mata adiknya itu lurus.
"Tapi tidak harus sepanjang hari juga Kakak berada disini." Sindir Sasuke tajam membuat Naruto mengerang, menghela napas panjang dan menarik selimut hingga ke atas kepalanya. Kedua kakak beradik di hadapannya ini akan kembali beradu argumen panjang hingga salah satunya mengalah kalah dan memilih pergi.
"Aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan baik tanpa harus pergi ke kantor, kenapa kau harus protes, otouto?"
"Aku yang harus menjaga Naruko, bukan Kakak." Kata Sasuke dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
Itachi sama sekali tidak takut mendengar nada ancaman adiknya itu, sebaliknya dia malah merasa lebih tertantang. "Lebih baik jika aku saja yang menjaganya dan kau kerjakan saja pekerjaanmu yang terbengkalai itu. Kau sudah semakin tua, banyak model-model muda yang mengincar posismu saat ini."
"Hn." Sahut Sasuke tidak peduli.
"Kak Itachi, benar." Sahut Naruto beberapa saat kemudian. Ia bangun dan kembali duduk di tempat tidurnya. "Sudah empat hari kau menjagaku, Sas. Sebaiknya kau kembali bekerja."
"Hn." Dengus Sasuke tidak suka.
"Sasuke?"
"Hn."
"Sasuke, dengarkan aku, ok?" Naruto menarik tangan kiri Sasuke agar pria itu menatap langsung dirinya. "Aku baik-baik, saja."
"Dengarkan apa kata calon istrimu, Otouto." Itachi tersenyum puas merasa dibela oleh Naruto.
Naruto kini mengalihkan pandangannya pada calon kakak iparnya itu. "Kakak juga harus kembali ke kantor. Jangan terus berada disini, aku pasti memberitahu Kakak jika Shion akan datang kesini." Kata Naruto cepat membuat Itachi terlonjak dari kursinya dan mendengus kasar.
"Siapa yang mau melihat wanita galak itu?" elaknya cepat. "Lebih baik aku pergi, dan kalian," Itachi menunjuk pada keduanya. "Kalian jangan merindukan aku!" katanya sambil membating pintu kamar ruang inap Naruto.
Naruto terkekeh dan melirik ke arah Sasuke yang menyeringai kecil. "Sepertinya Kak Itachi tertarik pada Shion." Kata Naruto kemudian.
Sasuke menghela napas dan duduk di samping tempat tidur. "Aku hanya berharap jika Kakak tidak menjadikan Shion sebagai sosok pengganti Deidara." Naruto mengangguk setuju dan tersenyum kecil mengamini harapan Sasuke. Dia juga tidak mau jika pada akhirnya Shion terluka karena Itachi. Karena Naruto tahu, jika sahabatnya itu sudah menaruh hati sejak kali pertama matanya bersirobok dengan mata Itachi empat hari yang lalu di kamar ini.
"Sasuke?" panggil Naruto setelah keheningan yang cukup lama.
"..."
"Sasuke?"
"..."
"Sasuke?" panggil Naruto untuk ketiga kalinya agak keras kali ini. Sasuke mengerjapkan mata dan melirik ke arah Naruto dengan wajah datar andalannya.
"Hn, Dobe."
Naruto memicingkan mata dan mendengus kesal. "Sudah kubilang, berhenti memanggilku dengan sebutan menyebalkan itu!"
Sasuke menyeringai dan mengacak rambut tunangannya gemas. "Kau memang Dobe," kata Sasuke keras kepala.
Naruto akhirnya hanya bisa mengalah kalah dan kembali bertanya dengan nada serius. "Kau melamun, Sasuke. Akhir-akhir ini kau sering melamun." Ujar Naruto membuat Sasuke terdiam untuk beberapa saat. "Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Naruto tepat sasaran. Kedua matanya menyipit penuh curiga.
"Tidak ada yang aku sembunyikan," elak Sasuke cepat.
Naruto kembali duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Punggungnya ditopang beberapa buah bantal agar lebih nyaman. "Apa ini berhubungan dengan kecelakan yang menimpaku? Apa pihak kepolisian sudah mengetahui penyebab kerusakan pada rem mobilmu?"
Sasuke menggelengkan kepala. "Mereka masih belum memberikan kabar," dustanya tanpa mampu menatap langsung mata Naruto. Jika dia menatap kedua mata tunangannya itu, kebohongannya pasti terbongkar oleh Naruto. Dia tidak mungkin mengatakan jika ada seseorang yang dengan sengaja merusak kabel rem mobilnya. Dan orang itu adalah orang yang sama yang menyerang dirinya beberapa minggu yang lalu. Hal ini menjelaskan, jika pada dasarnya Sasuke lah yang diincar oleh penjahat itu tapi gagal. Jika Naruto tahu, dia akan semakin cemas dibuatnya.
"Kenapa pihak kepolisian begitu lambat bekerja? Apa Gaara tidak bisa membantumu?" keluh Naruto panjang.
"Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin, tidak perlu cemas. Yang menimpaku dan yang menimpamu hanya kecelakaan biasa." Hibur Sasuke berusaha menenangkan Naruto.
"Entahlah, Sasuke."Sahut Naruto lirih. "Entah kenapa aku merasa semua yang terjadi akhir-akhir ini, seperti sudah terencana dan bukan kebetulan semata." Kata Naruto sambil menautkan kedua tangannya yang mulai berkeringat dingin. "Aku benar-benar mencemaskanmu, Sasuke." Ujarnya sekilas menoleh pada Sasuke sebelum kembali menekuri jari-jari tangannya.
"Jangan terlalu banyak pikiran, semua ini hanya kebetulan."
"Aku harap juga begitu, aku harap juga begitu." Ulang Naruto lirih dengan senyum dipaksakan. Sasuke merengkuh tubuh wanita itu dan mendekapnya mesra dalam pelukannya.
.
.
"Kapten, ini laporan dari forensik mengenai korban kecelakaan yang hangus terbakar tempo hari."
Gaara menerima berkas laporan itu dari tangan bawahannya dan mulai membacanya. Mimiknya berubah serius, keningnya mengernyit dalam beberapa saat kemudian. "Kisame? Jadi korban kecelakaan itu Kisame?" tanya Gaara tanpa mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Anak buahnya mengangguk kecil dan mulai menjelaskan dengan panjang lebar. "Benar, tim forensik menemukkan kecocokan struktur gigi antara korban dan Kisame. Lalu untuk memastikan lagi, mereka kembali memeriksa dna pada tulang korban dan ternyata hasilnya positif. Korban itu tidak lain adalah tersangka yang kita cari selama ini."
"Keparat!" desis Gaara dengan gigi gemertuk kasar. "Apa ada laporan lain?"
"Kapten?" potong salah satu anak buah Gaara yang lain datang dengan setengah berlari ke arahnya. "Kita sudah menemukan persembunyian terakhir Kisame," lapornya dengan napas terengah.
"Kisame sudah mati," kata Gaara menjambak rambutnya frustasi.
"Apa?" Goku terlihat terkejut mendengarnya.
"Aku baru saja memberi laporan mengenai korban kecelakaan beberapa minggu yang lalu. Ternyata korban adalah Kisame." Jelas Nibi.
"Sial," umpat Goku mengerang kesal.
"Benar, kita benar-benar sedang sial." Balas Gaara setuju. "Kita harus kembali memulai untuk mencari tahu siapa orang yang menyuruh Kisame untuk mencelakai Sasuke Uchiha."
Nibi mengagguk setuju. "Dari hasil CCTV jelas sekali memperlihatkan Kisame dengan sengaja memotong kabel rem mobil milik Tuan Sasuke, dia juga menyerang Tuan Sasuke secara langsung sebelumnya. Hal ini memberi kita kesimpulan jika Sasuke Uchiha merupakan target utamanya."
"Kalau begitu, Nona Naruko hanya target salah sasaran?" tanya Goku.
"Hm, seharusnya Sasuke yang membawa mobil itu, bukan Naruko." Ujar Gaar geram. "Siapa pun dalang dibalik semua ini, dia menginginkan kematian Sasuke." Desis Gaara dengan kedua tangan terkepal disisi kanan dan kiri tubuhnya. "Goku, kumpulkan semua barang bukti yang ada di persembunyian Kisame. Periksa dengan teliti, aku ingin laporannya ada di mejaku besok pagi!"
"Siap, kapten." Kata Goku sambil memberi hormat sebelum beranjak pergi.
"Dan kau, Nibi." Gaara mengalihkan pandanganya pada Nibi." Periksa dan ambil keterangan dari orang-orang yang berada di lokasi persembunyian Kisame, semoga saja ada petunjuk lain yang bisa kita dapatkan dari mereka."
"Siap, kapten!" seru Nibi tegas membuat Gaara mengangguk kecil melihatnya. Nibi memang anak buah Gaara yang paling cerdas dan selalu tahu apa yang dipikirkan atasannya itu. Nibi terkadang bertindak semaunya, membuat Gaara pusing tujuh keliling, tapi hasil kerjanya tidak pernah mengecewakan Gaara. Mungkin itu yang membuat Gaara berpikir untuk mempromosikan Nibi jika dia pensiun dini nanti. Setelah itu ia akan ikut membantu Kankuro untuk mengurus perusahaan milik Sabaku Corp.
.
.
.
Sasuke akhirnya kembali ke rutinitas pekerjaannya setelah enam hari absen. Sahabatnya menyambut kedatangannya dengan suka cita.
"Sasuke, akhirnya kau kembali!" teriak Kiba senang saat Sasuke datang pagi ini. Dia berlari menuju Sasuke, berniat untuk memeluk pria itu namun sayangnya Sasuke menghindar dengan cepat membuat Kiba menabrak tembok di belakangnya dengan keras. "Jahat sekali," erang Kiba sambil mengaduh sakit. "Padahal aku sedang menyambut kedatanganmu dengan sikap ramah, Sas." Protes Kiba yang ditanggapi dingin oleh Sasuke, pria itu malah memalingkan wajahnya acuh.
Shikamaru menggeliat, segera bangun dari tidurnya karena teriakan Kiba tadi. "Bagaimana keadaan Naruko?" tanya Shikamaru masih setengah mengantuk dan menguap lebar.
Sasuke berjalan mendekat dan mendudukkan diri pada kursi yag menempel di sudut ruangan tersebut. "Lebih baik," jawabnya pendek.
"Apa Gaara sudah memberitahu penyebab kecelakaan itu, Sas?" tanya Neji ingin tahu sambil menarik sebuah kursi untuk duduk di dekat Sasuke.
"Hn."
"Apa katanya?" tanya Neji lagi serius.
"Seseorang memutus kabel rem mobilku," jawab Sasuke datar.
"Gila!" teriak Kiba menimpali berlari mendekat. "Apa Gaara yakin mengenai hal itu? Aww... sakit!" teriak Kiba lagi sambil mengelus bagian kepalanya yang dijitak Neji keras.
"Gaara tidak mungkin memberi laporan palsu," kata Neji dengus sebal. "Lalu, apa pelakunya sudah tertangkap?"
Sasuke menggelengkan kepala membuat ketiga temannya yang lain mendesah kecewa. "Gaara tidak memberitahu secara detail mengenai hal ini, karena kasusnya masih dalam peyelidikan." Jelas Sasuke. "Hanya saja-"
"Hanya apa?" potong Kiba tidak sabar.
"Pelakunya adalah orang yang sama dengan pelaku penyerangan terhadapku." Jelas Sasuke yang seketika juga berhasil membungkam mulut ketiga temannya.
"Kau harus lebih berhati-hati, Sas." Ujar Shikamaru serius. "Ini bukan main-main, orang itu berniat untuk membunuhmu. Jika saja kau tidak terluka, pasti kau yang membawa mobil keparat itu, bukan Naruko. Dan Tuhan pun tahu seberapa gila kau mengendarai mobil kesayanganmu itu."
"Yah," timpa Neji setuju. "Jika saat itu kau yang membawa mobil itu, aku tidak yakin jika kita berempat masih bisa berkumpul seperti ini. Bukan berarti aku bersyukur karena Naruko yang membawa mobil, hanya saja aku berandai-"
"Aku tahu maksud kalian," potong Sasuke cepat. "Terima kasih, kalian sudah mengkhawatirkanku."
"Itu gunanya teman," seru Kiba beranjak dari kursinya untuk merangkul pundak Sasuke erat. "Kita akan saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain."
"Hn. Terima kasih."
"Jadi, sudah siap untuk bekerja hari ini?" tanya Neji. "Para fans mulai gila karena merindukanmu." Tambahnya dengan dengusan puas melihat perubahan mimik wajah Sasuke. Ucapannya sukses membuat Sasuke mengerang mendengarnya.
"Jangan lupakan wartawan yang terus mengendus, mencari keberadaanmu untuk mendapatkan berita," tambah Shikamaru menggeliat malas. "Mereka padahal sudah diperingatkan oleh ayahmu, mereka juga sudah diberi kabar terbaru oleh Asuma-san tapi tetap saja ada yang tidak puas dan mengeluarkan berita simpang siur mengenai kecelakaan yang menimpa Naruko."
"Asuma sedang mengatur untuk wawancara secara langsung agar para wartawan itu bungkam. Kami hanya menunggu waktu yang tepat," ujar Sasuke tenang dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
"Ngomong-ngomong, rencananya sore ini kami akan menjenguk Naruko ke rumah sakit."
"Para gadis juga akan ikut," kata Shikamaru menimpali ucapan Neji.
"Bukankah mereka sedang tour album baru?" tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat.
Kiba mengambil botol air mineral di atas meja dan meneguknya pelan sebelum menjawab pertanyaan Sasuke. "Mereka mempersingkat tour untuk menjenguk Naruko," jawab Kiba. "Hinata memberitahuku mengenai hal ini tadi malam." Tambahnya kemudian kembali meneguk sisa air di dalam botol hingga habis tak bersisa.
"Gaara juga akan datang, dia bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganku." Kata Sasuke.
"Semoga dia memberimu kabar baik, Sas." Harap Shikamaru.
"Aku juga berharap begitu," kata Sasuke tersenyum hambar, karena hatinya berkata jika kabar yang akan dibawa oleh Gaara bukan berita yang ingin didengarnya saat ini.
.
.
.
Rombongan Sasuke datang tepat pukul enam sore hari ini. Naruto dan Kurenai melempar senyum pada semua orang yang datang. Kurenai sengaja datang bersama Tenten siang ini untuk menjaga Naruto menggantikan Mikoto yang bertugas pagi.
Kurenai segera berdiri dan membungkuk hormat, Sasuke dan lainnya membalasnya sopan. Hinata menyeruak diantara kerumunan dan berlari untuk memeluk Naruto.
"Maaf aku baru datang," kata Hinata terisak kecil di bahu Naruto.
Naruto tersenyum dan menepuk-nepuk punggung temanya itu pelan. "Tidak apa-apa, lagipula aku baik-baik saja. Tidak ada luka serius," kata Naruto pada Hinata yang masih enggan untuk melepaskan pelukannya.
Kiba beranjak maju, perlahan dia mencoba melepas pelukan Hinata yang bertambah erat hingga Naruto meringis dibuatnya. "Kau bisa membunuhnya, Hinata." Tegur Kiba menarik tubuh Hinata ke belakang pelan.
"Maaf," pekik Hinata keras sambil melepaskan pelukannya.
Naruto pun tersenyum maklum dibuatnya. Tatapan wanita itu beralih pada Sakura yang kini berdiri kikuk di samping tempat tidurnya. "Semoga cepat sembuh," kata Sakura tanpa mampu melihat wajah Naruto.
"Arigatou," jawab Naruto dengan seringaian lebar.
Jantung Karin seolah berhenti berdetak saat ia melihat ekspresi wajah Naruto saat ini. 'Itu ekspresi milik Naruto,' katanya dalam hati.
Gaara yang melihat perubahan mimik wajah Karin terlihat tertarik. Sekilas dia melirik ke arah Naruto yang kini menggoda Sakura dan Hinata. "Kenapa?" bisik Gaara tepat di telinga kiri Karin.
Karin menggelengkan kepala dan tersenyum kaku. "Tidak ada," katanya pelan. 'Aku harus memastikannya,' batin Karin bulat. Perlahan dia berjalan untuk memberi pelukan singkat pada Naruto. "Syukurlah kau baik-baik saja, Naruto?"
"Terima kasih," jawab Naruto polos.
Karin tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban Naruto. Wajah wanita berambut pirang dihadapannya itu berubah pucat, terkejut saat menyadari apa yang diucapkan Karin barusan. Beruntung hanya mereka berdua yang menyadarinya, karena yang lain sibuk bercanda menggoda Hinata dan Kiba.
"Souka?" kata Karin mengangguk kecil. Gurat sedih terlihat jelas di wajah cantiknya. Namun ia kembali tersenyum penuh arti pada Naruto yang masih menatapnya tak berkedip. "Syukurlah, aku benar-benar bersyukur." Tambahnya lagi sambil menyeka air matanya cepat. Karin pun memalingkan wajah, memasang wajah gembira dan ikut larut dalam tawa dan kegembiraan teman-temannya yang lain sedangkan Naruto hanya mampu menghela napas pendek sebelum kembali tersenyum. Dari awal dia sudah tahu, jika suatu hari orang-orang yang dikenalnya akan mengetahui mengenai identitas aslinya.
Tawa kegembiraan itu terhenti saat Tenten masuk ke dalam kamar dengan sebuah vas berisi bunga matahari. Perlu dua tangan untuk memegang vas berisi penuh bunga tersebut, bahkan wajah Tenten hampir tertutup seluruhnya oleh rangkaian bunga yang dibawanya. "Saya sudah memberinya air," kata Tenten tanpa bisa melihat jelas sekelilingnya yang menatap lurus ke arahnya.
Perlahan Tenten meletakkan vas bunga itu di meja samping tempat tidur Naruto. "Bunga ini sangat cantik, Naruko-san. Seperti anda," katanya dengan mata berbinar. Tenten terkesiap saat mengetahui jika di dalam kamar itu kini penuh oleh teman-teman dekat Naruto.
Tubuh Tenten seolah membeku saat tatapan matanya bertemu dengan Neji. Naruto yang menyadari perubahan aura keduanya kemudian berdeham dan tersenyum jail.
"Tenten, bukankah kau ada kencan sore ini?" tanya Naruto dengan nada sing a song. Tenten seolah tersadar dari keterkejutannya dan mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menoleh ke arah Naruto.
"Hah?"
"Kau bisa terlambat," tegur Naruto dengan gaya berlebihan.
"Tenten berkencan?" beo Hinata dengan mata terbelalak. "Bukankah Kakak berken-" Hinata tidak mampu melanjutkan ucapannya saat melihat wajah Neji yang mengeras. Rahangnya terkatup rapat, matanya berkilat marah pada Tenten.
"Kemarilah," panggil Naruto pada Tenten. Ia mengeluarkan sesuatu dari bawah bantalnya dan menyemprotkan isi botol itu pada Tenten. "Hmmm... wangi," kata Naruto puas. "Tidak akan ada pria berakal sehat yang berani menolakmu. Kau benar-benar sempurna. Hanya dengan menggeraikan rambut saja sudah membuat berbeda."
"Apa menurut Anda, ini tidak berlebihan?" cicit Tenten malu.
"Tidak," potong Kurenai cepat. "Kau harus terlihat menawan saat perjodohan, itu benar-benar penting." Katanya mengedipkan mata pada Naruto, sekongkol.
"Pergilah," kata Naruto lagi. "Jangan biarkan calon suamimu menunggu."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Kata Tenten sambil membungkuk hormat pada semuanya dan setengah berlari dia keluar dari ruang inap Naruto.
Naruto dan Kurenai saling melempar senyuman penuh arti selepas kepergian Tenten. Sedangkan Neji nampak menahan amarahnya yang berada di ujung tanduk.
"Kejar!" usul Shikamaru dengan mimik serius.
Gaara menepuk bahu Neji dan mengangguk setuju, "kejar dia!"
Sasuke menatap Neji dan mengangguk kecil, menyutujui usul kedua temanya yang lain. Tanpa banyak bicara lagi Neji segera berbalik pergi untuk menyusul Tenten.
"Kalian berdua benar-benar usil," erang Kiba mendelik pada Naruto dan Kurenai yang terkekeh setelah kepergian Neji.
Naruto mengangkat bahu acuh dan menjawab ringan. "Aku hanya ingin mereka saling jujur satu sama lain." Katanya dan pembicaraan mereka mengenai Neji dan Tenten pun berhenti sampai di sana. Mereka kembali bercakap-cakap membahas kecelakaan yang menimpa Naruto, tanpa sadar jika Gaara sudah menarik keluar Sasuke bersamanya.
"Ada apa?" tanya Sasuke menutup pintu di belakangnya pelan seolah takut jika orang-orang yang berada di dalam kamar menyadari kepergiannya.
"Pelaku penyerangan dan penyabotase kendaraanmu sudah kami temukan," kata Gaara.
"Dia tertangkap?"
Gaara mengelengkan kepala.
"Lalu?" Sasuke kembali bertanya dengan kernyitan dalam.
"Dia mati," jawab Gaara dingin. "Maaf, aku tidak bisa menjelaskan lebih detail lagi."
Sasuke menghela napas panjang mendengarnya, ia memijit tengkuknya pelan, wajah tampannya terlihat lelah saat ini. "Apa ada yang harus aku ketahui lagi?"
"Hati-hati, jangan pergi seorang diri."
"Hn," gumam Sasuke tidak jelas.
"Sebaiknya kita masuk, mereka pasti curiga jika kita pergi terlalu lama."
"Hn," jawab Sasuke lagi datar.
.
.
.
Zetsu menunggu hingga keadaan di sekitarnya sepi. Tamu yang menjenguk Naruto baru saja membubarkan diri. Sedangkan dokter jaga sudah memeriksanya beberapa menit yang lalu.
Pria itu mendapat informasi jika Naruto sudah boleh pulang besok. Itu berarti kesempatannya untuk menculik wanita itu hanya malam ini saja.
"Semakin cepat aku membawa wanita itu pada Sasori, akan semakin menguntungkanku." Gumam Zetsu. "Dan aku akan meninggalkan negara ini dengan harta bedebah terkutuk itu." Zetsu menyeringai jahat. Matanya kembali melihat ke sekeliling untuk terakhir kali. Ia masih menunggu di tempat persembunyiannya, menunggu Sasuke keluar dari ruang inap Naruto.
Senyum jahat Zetsu semakin lebar saat waktu yang ditunggunya tiba. Sasuke keluar dari dalam kamar inap. Zetsu merapihkan jas dokter curian yang dikenakannya dan memakai kaca mata untuk membantu penyamarannya.
Ia melangkah cepat menuju ruang inap Naruto dan membuka pintu kamar itu tenang. "Dokter?" panggil Naruto heran. "Saya sudah diperiksa oleh dokter Hachibi tadi," terangnya.
Zetsu berpura-pura membuka laporan medis di tangannya dan berdiri tenang. "Saya hanya menjalankan perintah dokter untuk mengecek keadaan anda lagi, bukankah besok anda sudah boleh pulang?" Zetsu tersenyum manis pada Naruto.
"Ya," sahut Naruto. "Anda dokter baru?" tanya Naruto dengan tatapan menyelidik.
"Saya baru dipindah tugaskan hari ini," kata Zetsu sambil meletakkab rekam medis di tangannya. Zetsu merogoh sakunya sambil berjalan mendekati Naruto dan dalam gerakan cepat, dia membekap mulut Naruto dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
Naruto terus meronta, mencoba meminta tolong, dia mencakar tangan kanan Zetsu sebagai perlawanan hingga akhirnya gerakannya semakin melemah dan kegelapan menyelimutinya.
Zetsu membopong tubuh Naruto dan mendudukkannya di atas kursi roda. Ia lalu menutupi tubuh Naruto dengan selimut dan segera membawa wanita itu keluar ruangan.
Di belokkan pertama dia melihat Sasuke berjalan menuju ke arahnya. Ia menarik selimut hingga bagian kepala Naruto. Dengan tenang dia mendorong kursi roda, dan bersikap biasa saat dia berpapasan dengan Sasuke.
Sasuke sempat melirik ke arah Zetsu, namun seperti biasa dia hanya berlalu tanpa melirik dua kali. Sasuke terus berjalan dengan dua buah kaleng jus jeruk di tangannya. Naruto merengek untuk dibelikan minuman itu tadi, hingga akhirnya Sasuke harus pergi mencarinya sampai keluar.
"Dobe, kau harus berterima kasih padaku." Kata Sasuke menutup pelan pintu di belakangnya. Sasuke mengernyit saat mendapati ruangan itu kosong. "Naruto?" panggilnya lagi.
Sasuke meletakkan kaleng jus di atas meja dan beranjak menuju kamar mandi. Diketiknya pelan pintu kamar mandi, "Naruto kau di dalam?"
Ia memutar knop pintu, hatinya bertambah gelisah saat pintu kamar mandi terbuka tanpa ada Naruto di dalamnya.
Sasuke mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Naruto, dia bertambah panik saat tahu jika telepon genggam tunangannya itu ada di dalam ruangan tersebut.
Tanpa banyak bicara, Sasuke segera menghubungi Fugaku dan Mito. Ia meminta mereka segera ke rumah sakit sementara ia berlari menuju ruang suster jaga untuk mencari informasi.
Langkah kaki pria itu terhenti saat ia mendengar percakapan seorang dokter yang mengatakan jika jas kerjanya hilang. "Mungkin kau salah simpan," kata dokter lainnya.
"Tidak mungkin, aku yakin menggantungnya di sana tadi. Kita hanya pergi sebentar untuk makan malam dan jasku hilang." Kata dokter kedua.
"Sebaiknya kita cari lagi, bisa berbahaya jika pakaian tugas milikmu disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab."
Sasuke membeku di tempat, pikirannya melayang memikirkan hal terburuk. Dengan tangan gemetar dia menghubungi Gaara. Perlu beberapa saat hingga temannya itu menjawab panggilannya. "Gaara, Naruto diculik." Kata Sasuke parau, terdengar sangat panik.
.
.
.
TBC
