"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah terhadapmu?"

Sakura menoleh lalu menggeleng. Tentu saja ia tak ingin membuat Sai yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri ini cemas. Sai tak bertanya lagi namun ia semakin mengeratkan genggamannya pada Sakura. Seolah ingin berbagi kekuatan, padahal iapun taktahu kekuatan apa dan untuk alasan apa harus berbagi padanya.

"Sepertinya lain kali aku harus mencari permen kapas yang lebih kecil untukmu," ujar Sai lebih kepada diri sendiri. Sakura tertawa geli. Karena selera Sakura mendadak hilang, terpaksa Sai-lah yang menghabiskan permen kapasnya. Tidak seluruhnya juga, Sakura ikut membantu walau hanya sedikit.

"Terimakasih Kak." Sakura tersenyum saat sudah membuka pagar rumahnya. "Sama-sama. Kau tidak keberatan menemaniku lagi untuk besok 'kan?" kata Sai. "Tentu saja tidak. Bukannya setiap weekend aku selalu menemani Kakak? Lagipula aku masih ingin mendengar curahan hati seorang yang sedang ditinggal pergi kekasihnya," ucap Sakura dengan ekspresi jahil. Sai hanya merengut dan mengalihkan pandangannya. Menggoda Sai memang menjadi keasyikan sendiri bagi Sakura.

"Besok kujemput seperti biasa," kata Sai. "Ah, satu lagi, lebih baik kau tenangkan pikiranmu atau mungkin hatimu. Sepertinya hari ini kau sedang dalam suasana tidak baik, aku tidak ingin melihatmu seperti itu besok." Lalu Sai beranjak setelah menggumamkan pamit dengan singkat.

"Menenangkan hati dan pikiran, eh?" gumamnya sebelum masuk ke dalam rumah.

Sakura memikirkan hal yang baru saja diucapkan Sai. Sai benar, suasana hatinya sedang tidak baik. Terkadang Sakura lupa bahwa ia berteman baik dengan seorang yang sangat pandai mengamati perubahan seseorang secara teliti. Padahal, kalau dipikir-pikir perubahan suasana hatinya yang mendadak tadi itu juga disebabkan oleh Sai. Ucapan Sai di taman tadi, mengingatkannya pada suatu kejadian. Suatu kejadian yang disana ada satu sosok.

"Sakura, aku serius. Kau 'kan sudah kuanggap adikku sendiri."

—Persis. Bahkan nada dalam ucapannya benar-benar mirip. Ekspresi saat mengatakan itupun tak jauh berbeda. Dan kalimat itu terus menerus membayangi benak Sakura.

.

.


.

.

"Teme, kau kenapasih?"

Naruto menatap Sasuke yang masih bergeming dengan heran. Melambai-lambaikan tangan tepat di hadapan wajah itupun tak berguna. Sasuke masih tetap menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. "Kupikir kau tadi mengejar sesuatu," ujar Naruto.

"Dia masih disini…" gumam Sasuke pada dirinya sendiri, masih menatap kosong ke depan. "Heh? Dia siapa? Siapa yang masih disini, Teme?" tanya Naruto penasaran, seraya mengigit suapan kelima takoyaki miliknya. Sasuke tak menjawab, memilih beranjak pergi. Sekarang ia benar-benar ingin cepat pulang ke rumah dan menenangkan diri di kamar. Mungkin tidur sore sebentar dapat membantunya. Mungkin setelah Sasuke bangun nanti, ia segera dapat membedakan kejadian barusan ini adalah nyata atau ilusi semata.

"HEI TEME! TUNGGU AKU!" Naruto bergegas berlari menyusul, tak ingin ditinggalkan lagi.

.

.


.

.

"Sakura, kau kenapa?"

Cowok berumur empat belas tahun itu menatap bingung pada gadis yang satu tahun lebih muda darinya, sedang menangis sesegukan sambil memeluk erat lutut sendiri. Gadis itu menggeleng, masih membenamkan wajahnya diantara lutut. Cowok itu tak memaksa, ia ikut duduk di sampingnya lalu mengelus lembut helaian merah jambu itu.

"Kak Sasuke kenapa ada disini?" Gadis itu mendongak dengan wajah memerah dan sisa-sisa air mata berada disana. Menatap heran pada cowok yang berada di sebelahnya, yang berhasil menemukan dirinya sedang menangis di halaman belakang sekolah.

"Tadi tidak sengaja lewat sini, lalu melihatmu sedang menangis seperti ini," sahutnya. Tentu saja ia takmau mengatakan bahwa saat ia bermain basket bersama teman-temannya, ia melihat gadis itu berlari dengan tangan menutupi wajah, dan ia segera meninggalkan permainan yang belum selesai itu karena memilih mengikuti gadis yang menjadi tetangga sekaligus adik kelasnya.

"Apa yang terjadi?"

Bertanya lagi. Dan dijawab dengan gelengan kepala lagi. Namun bedanya, gadis itu tidak menyembunyikan wajahnya lagi, ia menatap lurus ke depan dengan wajah muram. Merasa suasana hatinya sedikit membaik karena kehadiran pemuda di sebelahnya. Mana bisa ia jujur dan berkata bahwa ia menangis karena gerombolan gadis itu selalu mengancamnya dalam berbagai kesempatan. Mengancamnya agar tidak dekat-dekat dengan seseorang yang telah gadis itu kenal selama tiga belas tahun ini. Seseorang yang kini mencoba menenangkannya dengan usapan halus di rambutnya dan sentuhan nyaman kulit berpeluh keringat yang bergesekan saat mereka duduk bersebelahan seperti ini.

"Sakura, kalau kau sedih atau terluka, katakan saja padaku." Cowok itu mengusap lembut sisa air mata di pipi gadis itu dengan jempolnya. Gadis itu mengulas senyum lalu mengangguk. "Iya Kak Sasuke yang cerewet." Cowok itu mendengus.

"Sakura, aku serius. Kau 'kan sudah kuanggap adikku sendiri."

Gadis itu tecengang sebentar lalu kembali tersenyum. "Iyaiya, Kak Sasuke~"

Lalu mereka mencoba tak mengacuhkan sedikit rasa sesak yang tiba-tiba muncul di hati masing-masing saat mendengar itu.

.

.


.

.

"Kau kelihatannya lemas Sasuke," kata Minato. Sasuke menggeleng. "Hanya sedikit kelelahan, tadi aku sudah tidur sebentar kok," sahutnya sambil memegang kepalanya, masih merasa pusing terlebih lagi karena mimpi yang tadi sore ia dapatkan. "Sasuke tidak mau mengunjungi Itachi?" tanya Kushina saat mereka berempat sedang menyantap makan malam. "Mungkin besok, Bi," jawab Sasuke sopan. Bersikap sopan pada tuan dan nyonya Namikaze yang telah bersedia memberikannya tempat untuk tinggal sambil menunggu orangtuanya pulang ke Konoha, mungkin hal yang cukup setimpal untuk segala bantuan mereka. Sasuke bersyukur Kushina dan Minato tidak seidiot Naruto, anak mereka. Yah, walaupun pasangan bahagia itu sering bersikap konyol juga, namun setidaknya itu tidak menganggu seperti Naruto. Sasuke jadi bertanya-tanya, sebenarnya Naruto didapatkan dari alam mana, mengapa begitu berbeda dari kedua orangtuanya? Namun Sasuke belum sempat mengutarakan pertanyaan itu.

"Begitu," Kushina mengangguk. "Ohiya, aku sudah mendaftarkan kalian di SMA Konoha Gakuen. Semuanya sudah kuurus, jadi lusa kalian tinggal masuk saja," lanjutnya lagi. "Terimakasih Bi," kata Sasuke sopan. "Apa disana ada cewek-cewek cantik, Bu?" tanya Naruto antusias. Sasuke memutar bola matanya.

"Ah sepertinya ada banyak disana," jawab Kushina seraya terkekeh geli. "Teman-temanmu semasa kecil juga masih banyak disana."

"Oh ya?" Naruto semakin antusias. Kushina mengangguk. "Ibu masih sering melihat mereka kok, ada Neji, Lee, Shikamaru, Chouji, Temujin, Shiho dan Tenten," Kushina mengucapkan nama-nama itu bersamaan dengan jari jemarinya yang direntangkan. "Dan juga Shino, Kiba, Hinata, Ino dan Sakura," lanjut Minato ceria. Sasuke mendadak membeku saat mendengar nama terakhir yang disebutkan oleh Minato. "Ah ya, tentu saja aku masih ingat, Ino adik kelasku yang rempong itu, Hinata yang pendiam dan Sakura yang dulunya kutaksir," ujar Naruto sambil tertawa lebar.

Jadi dia benar-benar masih ada disini ya?

.

.


.

.

"Ya, hanya jalan-jalan sebentar lalu duduk di café dan disitu dia cerita ehm…bisa dikatakan dia curhat panjang lebar," ucap Sakura pada seseorang di seberang sana yang sedang tersambung dengannya di telpon.

"Curhat panjang lebar?"

Sakura mengangguk, seolah Ino yang berada disana bisa melihatnya. "Hu-uh."

"Curhat tentang apa? Apa ada namaku terselip disitu?"

Sakura tersenyum geli mendengar pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya. Mengingat kembali setiap kalimat yang keluar dari mulut Sai tadi sore, membuat perutnya terasa digelitik. "Jangan ge-er, Pig! Aku tidak boleh mengatakannya, itu rahasia antara aku dan Sai saja," kata Sakura sambil terkikik.

"Oh, jadi kalian sudah berani menyimpan rahasia berdua saja, eh?"

Sakura tertawa mendengar ucapan Ino yang tentu saja bersifat main-main. "Makanya kau jangan lama-lama di sana! Ingat aku dan Sai di sini."

"Jadi kalian berdua merindukanku?"

"Hm, tidak juga sih. Maksudku ingat saja kalau kekasihmu dan sahabatmu ini sering jalan berduaan saat kau tak ada, jadi peluangnya lumayan besar untuk kami membuat hubungan tanpa sepengetahuanmu," kata Sakura dengan nada pura-pura polos.

"Kau baru saja mengatakannya Forehead. Dan itu takkan terjadi, karena sebelum itu aku akan mematahkan tulang-tulang kalian berdua, huh."

Sakura kembali tertawa kali ini terbahak-bahak. Sama halnya dengan Sai, menggoda Ino juga termasuk hal paling menyenangkan. Sakura menjadi heran, bagaimana bisa ia sangat suka menggoda sepasang kekasih itu.

"Ah Forehead, ini sudah larut malam dan kami tidak diperbolehkan tidur lewat dari jam 10. Sudah dulu ya, besok aku telpon lagi dan titip salam untuk Sai saat kalian pergi berdua besok."

"Oke, bye Pig."

Sambungan telpon diputuskan oleh Ino. Sakura menatap jam weker di atas meja sebelah tempat tidurnya. "Ino nggak asik ah, baru juga jam setengah sembilan." Sakura merebahkan tubuhnya di atas ranjang, berbaring menghadap langit-langit kamarnya. Mencoba untuk menutup mata namun tidak bisa. Ia belum mengantuk. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, namun ia juga tak tahu itu. Sakura meraba-raba sisi ranjangnya, mencoba mencari boneka miliknya ditengah keremangan kamarnya. Tidak sulit menemukan boneka itu mengingat bentuknya yang sangat besar. Boneka beruang kesayangannya yang tingginya satu meter ini sangat nyaman untuk dipeluk. Bulunya yang lembut dan ukurannya yang pas untuk didekap, apalagi boneka ini pemberian dari seseorang yang dulunya istimewa bagi Sakura. Jika Sakura memeluk boneka ini, ia dapat tidur dengan lelap. Takterkecuali untuk saat ini, sekejap saja Sakura telah diantarkan ke alam mimpinya.

.

.


.

.

"Selamat ulang tahun yang keempat belas, Haruno Sakura."

Gadis berambut merah jambu itu tersenyum gembira saat menerima ucapan itu, terlebih lagi saat ia melihat boneka beruang besar lengkap dengan pita merah muda yang besar juga, berada di hadapannya—menjadi rupa pengganti seseorang yang tadi melontarkan kalimat itu.

"Kak Sasuke mengingat ulangtahun ku?" Sakura bukanlah gadis bodoh yang tidak mengenal siapa pemilik suara itu, walaupun wajahnya dihalangi oleh boneka.

"Tentu saja," Sasuke menurunkan boneka yang berada dalam genggamannya untuk langsung menatap wajah tetangga kecilnya itu yang sekarang bertambah usia satu tahun. "Aku selalu mengingatnya, duapuluh delapan maret." Dan Sasuke juga sudah lama selalu mengingat akan membuat kejutan seperti ini; mengetuk pintu rumah Sakura malam-malam dengan membawa boneka super besar yang menutupi wajahnya.

Sakura tertawa kecil, selalu menyukai bagaimana Sasuke berbicara ala anak kecil yang masih polos. Entahlah, terasa menarik saja jika begitu, baginya. "Terimakasih Kak Sasuke," Sakura menerima boneka yang diulurkan Sasuke. Boneka beruang warna merah muda yang sangat besar sekali. Bahkan tingginya hampir sama dengan Sakura yang terbilang masih dalam masa pertumbuhan anak sekolah menengah pertama. Sakura mengalami kepayahan saat menggendong boneka ini, pandangannya juga terhalang.

"Sudah, biar aku saja yang bawa," Sasuke merebut kembali boneka itu, merasa badannya jauh lebih tinggi dari Sakura, jadi ialah yang mampu membawa boneka itu. Salahnya juga sih, menghadiahkan boneka berukuran besar seperti ini. Tapi apa boleh buat? Saat sedang mencari kado sehari sebelumnya ditemani oleh Itachi, hanya boneka inilah yang menarik baginya dan sepertinya juga sangat cocok untuk Sakura.

"Terimakasih," Kini Sakura tak merasa keberatan lagi. "Ini benar-benar boneka yang imut, Kak." Sasuke mengangguk samar. "Sama sepertimu, makanya aku menghadiahkan ini." Sakura tertawa renyah. "Bagaimana kalau Kak Sasuke masuk dan mencicipi kue ulang tahun yang dibuat oleh Ibu?" tawarnya.

"Hn. Aku taksuka manis, tapi lama kelamaan ini terasa berat juga." Lalu Sasuke berjalan mengikuti Sakura masuk ke dalam rumah.


Hari minggu kali ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya; tidak terlalu cerah juga tidak terlalu mendung. Tidak ada yang istimewa. Bahkan bertambah buruk saat Sakura menemukan pesan singkat di atas meja belajarnya. Pesan singkat yang memberitahukan bahwa kedua orangtuanya terpaksa harus berangkat ke luar kota subuh tadi untuk mengurus perusahaan yang sedang mengalami masalah. Sakura tidaktahu masalah apa itu dan ia memang tidak ingin tahu. Sakura menuruni tangga lalu berjalan menuju dapur. Ia sudah terbiasa berada di rumah sendirian. Sudah terbiasa ditinggal oleh orangtuanya tanpa sepatah kata pamit karena tidak mempunyai cukup waktu. Terkadang ia berpikir bahwa sebenarnya orangtuanya tidak sungguh-sungguh menyayanginya. Berkhayal mempunyai orangtua yang selalu berada di rumah dan selalu ada di sampingnya jika ia membutuhkan. Ia tahu itu adalah pemikiran anak sekolah dasar. Namun Sakura yakin jika orang-orang mengalami dan merasakan hal yang terjadi padanya ini, merekapun pasti menyimpulkan hal yang sama.

Sebenarnya sudah sejak lama Sakura merasa hidupnya menyedihkan. Terlalu suram dan terasa sia-sia. Ya, hidupnya menjadi berantakan seperti ini sejak tiga tahun terakhir ini. Setelah orangtuanya lebih memperhatikan bisnis keluarga mereka daripada anak semata wayangnya. Setelah seseorang—satu-satunya hal berharga yang Sakura miliki sejak kecil tiba-tiba saja pergi tanpa pamit, tanpa mengatakan ingin ke mana, lenyap begitu saja. Mengingat soal orang itu, Sakura mendadak teringat akan mimpinya semalam; ia bermimpi kenangan tentang dirinya dan orang itu. Orang bilang, bahwa mimpi itu adalah sebuah bunga tidur yang terkadang membawa pesan penting atau mimpi akan muncul jika kita merindukan seseorang. Namun bagi Sakura, mimpi adalah serpihan kenangan kita bersama seseorang yang mungkin tak akan bisa terulang lagi. Untuk kali ini, Sakura bingung untuk menentukan termasuk dalam kategori apa mimpinya semalam. Yang ia yakini saat ini adalah fakta bahwa ia memmbutuhkan orang itu saat masa-masa sulit seperti ini. Walaupun Ino dan Sai selalu setia menemaninya dalam keadaan apapun, namun Sakura tetap merasa ada hal yang kurang dalam kehidupannya. Seperti puzzle dengan kepingan yang tak utuh, tak akan mempunyai gambaran yang indah jika salah satu keping itu hilang dan tak bisa ditemukan.

Sakura melirik jam dindingnya, masih jam sembilan. Ia hanya butuh waktu satu jam untuk mempersiapkan diri sebelum Sai datang menjemputnya. Sakura mengambil secangkir air putih dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Berjalan menuju balkon kamarnya dan duduk di kursi yang ada di sana. Sakura selalu menyukai tempat ini. Tempat di mana ia bisa melihat keadaan luar dengan jelas dan tempat yang sering Sakura gunakan untuk menghirup udara segar dan menenangkan di sini. Seperti kebiasaannya pada hari-hari yang sudah lampau, Sakura menolehkan kepalanya ke arah kanan dan memandang rumah putih yang tepat berada di sebelah rumahnya. Sakura tersenyum saat mengingat ini—dulu ia juga sering berada di sini untuk sengaja mencuri pandang pada rumah itu. Rumah putih yang berisi kenangan menyenangkan, namun entah mengapa sejak saat itu Sakura melihat rumah itu berubah menjadi warna abu-abu. Apa itu karena kenangan yang pernah terjadi di situ sudah berdebu dan lenyap lalu menjadi kelabu yang suram? Entahlah. Sakura tidakpernah ingin menjawab pertanyaan itu. Namun hari ini Sakura melihat rumah itu kembali putih lagi, persis seperti yang terakhir kali dilihatnya. Putih bersih. Sakura mencoba mencari alasan—mungkin karena ini pertamakalinya aku duduk di balkon saat jam sembilan pagi, pikirnya. Padahal faktanya matahari tertutup oleh awan dan Sakura sangat sering mengamati rumah itu saat sang mentari sedang terik.

Seperti ada sesuatu yang kembali.

Ada sesuatu dalam dirinya yang memaksa untuk mengunjungi rumah itu. Sakura mencoba menahannya. Untuk apa ia mengunjungi rumah itu? Sakura 'kan sudah tahu siapa penghuninya sekarang. Mencoba mengabaikan organ-organnya yang seperti menariknya untuk turun dan keluar, Sakurapun memilih mandi dan bersiap. Karena ia sudah terlalu lelah untuk merindu, lagi.

.

.

.

TBC…

.

.

.


A/N: saya pikir fic buatan saya ini nggak bakal ada yang lirik karena gajenya. hehe, maaf kalo ini terasa aneh karena yang nulisnya juga aneh kok.

RnR?

25.06.2015