"Naruto! Cepat mandi dan bersiap, kau harus menemani Sasuke hari ini," perintah Kushina saat melihat Naruto melangkah dari tangga dengan tampang pemalasnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang sedang menikmati sarapan. "Bagaimana Sasuke? Enak?" tanya Kushina ramah. Sasuke yang sedaritadi sibuk pada sup tomatnya mendongak dan tersenyum tipis pada Kushina. "Sangat enak Bi. Terimakasih," sahutnya sopan. Kushina mengangguk dan tersenyum senang. Sangat senang karena ia tahu Sasuke selalu berkata apa adanya.

"Cih, kupikir kau tidak bisa memuji orang," cibir Naruto yang kemudian menarik kursi di sebelah Sasuke dan duduk di sana. Sasuke tidak membalasnya, ia tahu Kushina akan membelanya beberapa detik lagi.

"NARUTO! APA YANG TADI KUPERINTAHKAN PADAMU?! CEPAT MANDI ATAU KAU TIDAK DAPAT SARAPAN! DAN KAU JANGAN MENCIBIR SASUKE SEPERTI ITU! DIA ANAK BAIK YANG SOPAN, TIDAK SEPERTI KAU!"

—apa Sasuke bilang.

Naruto melongo takpercaya. Tidak terima Sasuke lebih dibela ibunya daripada ia yang tercatat menjadi anak kandung resmi di kartu keluarga. Dan tidak terimanya menjadi berkalilipat saat ibunya membentaknya di hadapan Sasuke. Naruto melirik Sasuke yang sedang menghabiskan sup tomat dengan sebelah sudut bibirnya terangkat. Senyum kemenangan dan meremehkan secara bersamaan.

Merasa diperhatikan, Sasuke mendengus pelan untuk Naruto lalu kembali mengunyah makanannya. Ini jugalah alasan lain mengapa Sasuke memilih tinggal bersama keluarga Naruto daripada bersama Itachi dan Obito; karena di sini Sasuke lebih disukai dan sering dibela oleh orangtua Naruto sedangkan sebaliknya, di sana Itachi dan Obito pasti akan selalu meledeknya dengan lelucon-lelucon konyol namun garing milik mereka.

"Memangnya kau mau kemana, eh?" tanya Naruto masih enggan meninggalkan meja makan. "Sasuke mau ke rumahnya yang lama, mau mengunjungi Itachi di sana," jawab Kushina yang mewakili Sasuke.

"Oh. Rumahmu yang sekarang dihuni oleh Paman Obito itu ya?"

"Hn."

"Oh." Naruto kemudian beranjak menuju kamar mandi, namun sebelum langkah kakinya membawanya keluar dari ruang makan sepenuhnya, ia berhenti dan berbalik.

"Rumahmu yang berada tepat di sebelah rumah Sakura itu ya?"

Tuk.

"Sasuke?! Ada apa? Apa kau menelan sesuatu?" ucap Kushina panik saat tiba-tiba Sasuke menaruh sendoknya dan terdiam dengan pandangan kosong. Itu membuat wajah datarnya menjadi terlihat menakutkan.

"Sasuke?! Apa ada yang tersangkut di tenggorokanmu? Atau sup tomat itu tiba-tiba menjadi asin? Atau kemanisan?" Kushina masih panik lalu mengambilkan segelas air dan menyodorkannya di hadapan Sasuke.

Naruto yang melihat hal itu hanya mengangkat bahu tak acuh lalu melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti, menuju kamar mandi. Menghabiskan bertahun-tahun dengan hidup bersama Sasuke membuat Naruto tahu bahwa dibalik sifat Sasuke yang terlihat normal, ia bisa juga mengeluarkan sifat aneh yang benar-benar aneh—karena Sasuke itu berbeda dari orang lain, untuk itu Naruto terpaksa menjadi boros dalam perkataan jika sedang mendeskripsikan pemilik mata onxy itu. Sasuke itu memang makhluk yang selalu terkesan normal bahkan melebihi normal—ia terlihat biasa dan luar biasa secara bersamaan jika ia sedang berbaur dengan orang lain. Dan jika selama ini sikap melebihi normal Sasuke yang selalu mendominasi, maka artinya jika Sasuke berubah aneh, ia akan bertingkah melebihi aneh dari yang aneh. Karena pada umumnya seorang Uchiha adalah makhluk yang terkesan melebih-lebihkan namun seperti tampak biasa jika dilihat sekilas. —Mulai lelah dengan semua pemikiran panjang yang tiba-tiba merasuki otaknya yang tidak jenius ini, Naruto lebih memilih mengguyur kepalanya dengan air. Membiarkan keanehan Sasuke hari ini diurus oleh ibunya saja.

"Sasuke?! Apa kau masih disini?" kata Kushina lagi. Genggaman gelasnya masih belum direspon oleh Sasuke, masih dibiarkan berada di hadapan wajahnya. Mengerjap. Mengerjap sekali lagi lalu kembali sadar. "Ah, Bibi," ujar Sasuke lalu mengambil gelas dalam genggaman Kushina dan meneguknya habis.

Kushina mendesah lega namun ia masih sedikit panik. "Sasuke, kau kenapa? Kenapa tadi pandanganmu kosong dan kau baru sadar sekarang? Kau sedang tidak dirasuki iblis jahat 'kan? Atau sup tomatnya tiba-tiba menjadi tidak enak ya? Atau kau menelan sesuatu lalu tersangkut di tenggorokan? Coba buka mulutmu, jangan malu pada Bibi," oceh Kushina panjang lebar dan beruntut.

Sasuke berjengit saat Kushina memegang kedua pipinya. "Aku baik-baik saja, Bi." Berusaha tersenyum tipis dan meyakinkan Kushina. Salah ia juga kenapa tadi dirinya tiba-tiba bergeming seperti orang yang kehilangan arwah sesaat.

"Benarkah? Kau tidakmau mengatakan yang sejujurnya?" tanya Kushina lagi, kali ini dengan air muka cemas bercampur sedih.

Sasuke tersenyum lagi. "Benar Bi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa karena memang tidak terjadi sesuatu hal yang buruk padaku," Sasuke bersumpah ini adalah pertamakalinya ia melontarkan ucapan yang panjang dan bersifat meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja—ya, pertamakalinya setelah beberapa tahun yang lalu dengan gadis itu.

"Aku baik-baik saja, Sakura. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


TING TONG.

"Sebentaaaaar!" Langkah kaki Sakura terdengar berderap saat menuruni tangga. Sakura sudah tahu siapa yang membunyikan bel rumahnya, sebab itulah ia menuruni tangga sambil merapikan penampilannya. Setelah memastikan bahwa penampilannya sudah rapi seperti biasanya saat berjalan ke luar rumah, Sakura bergegas membuka pintu. Dan sepertinya hari ini dugaannya meleset. Sangat meleset.

"Hai, Sakura!"

Sakura yang masih belum selesai dengan keterkejutannya, tidak mampu lagi untuk membalas sapaan ramah pria yang berada di hadapannya ini.

"Sakura?"

"Ka-kak Itachi?!"

Sakura tahu ucapannya tadi tidak sopan dan tidak pantas dikategorikan sapaan, karena memang begitulah adanya. Ia tidak menyangka akan menemukan pria ini di balik pintu rumahnya. Setelah sekian lama mereka hanya bertukar senyum kaku saat taksengaja berpapasan, berbeda dengan bertahun-tahun yang lalu tentu saja.

"Kak Itachi, ada apa?" Sakura sudah mampu menguasai dirinya saat melihat Itachi masih tersenyum, sepertinya ia menunggu Sakura menjadi normal kembali.

"Ah, tidak. Hanya ingin menyapa saja sih, berhubung akhir-akhir ini aku takpernah melihatmu keluar atau mungkin kau keluar rumah saat aku tidak melihat ya?" Itachi mengelus dagunya, seolah berpikir dengan ekspresi jenaka. Sakura tertawa kaku, padahal ia ingat jelas bahwa dulu ia selalu tertawa geli saat Itachi mengeluarkan ekspresi itu. Ekspresi yang sangat mendeskripsikan dirinya.

"Jadi begini," kata Itachi lagi. "aku ingin mengundangmu makan malam di rumahku nanti. Apa kau bisa?" Sakura sedikit tersentak saat mendengar ajakan itu. Makan malam?

"Kalau kau tidakbisa juga tidak apa-apa, aku tidak memaksa. Lagipula ini cuma makan malam biasa," imbuh Itachi sambil tersenyum. Sakura menjadi tidak enak hati karena sudah ketahuan tidak ingin datang.

"Akan kuusahakan Kak. Karena sekarang, aku juga mempunyai urusan dengan temanku," sahut Sakura, memperlihatkan senyum bersalahnya. Itachi mengangguk mengerti. "Baiklah, hanya itu saja yang ingin kukatan. Kalau begitu, aku pulang ya, Sakura!" Sakura membalas lambaian Itachi dan terus mengawasinya sampai Itachi masuk ke perkarangan rumah putih di sebelahnya. Ya, itu rumahnya.

"Sakura?"

Sakura menoleh dengan cepat saat mendengar Sai yang memanggilnya. Sai tersenyum. "Kau menungguku di depan pintu? Kau sudah tidak sabaran akan berkencan denganku, ya?" tanya Sai sambil mengulas senyum khasnya.

Sakura merengut. "Percaya diri sekali." Sakura mengunci pintu rumahnya dan segera berjalan keluar, diikuti oleh Sai yang masih tersenyum manis di belakang.

"Sakura," panggil Sai. Sakura yang sudah di luar pagar berbalik ke belakang. "Apa?" tanyanya heran.

"Bagaimana keadaan hatimu?" tanya Sai. "Biasa saja. Memangnya kenapa?" Sakura bertanya balik.

"Aku hanya tidak ingin pergi bersamamu jika keadaan hatimu buruk," kata Sai. Sakura menaikan sebelah alisnya. "Begini saja, bagaimana kalau hari ini aku yang akan menghiburmu? Em-maksudku, kemarin kau sudah menghiburku saat suasana hatiku buruk, jadi hari ini kita gantian saja," celetuk Sai. Sakura masih menaikan alisnya, menunggu penjelasan lebih lanjut dari Sai.

"Anggap saja hari ini aku adalah kekasihmu yang mengajakmu kencan. Kurasa dengan begitu suasana hatimu akan menjadi baik—begitu yang kubaca dari buku," jelas Sai lagu.

"Kencan?" tanya Sakura meyakinkan. Sai mengangguk. Setelah itu Sakura baru menyadari bahwa Sai benar-benar mencemaskannya—cemas yang berlebihan ala Sai. "Hm, baiklah kalau begitu," kata Sakura akhirnya. "Tapi Kak Sai dilarang jatuh cinta padaku," imbuh Sakura dengan raut jenaka.

Sai terkekeh pelan. "Tenang saja, Yamanaka Ino masih tetap berada di hatiku selalu, kekasih-sehariku-Haruno-Sakura." Sakura menggembungkan pipinya. "Hei! Kenapa panggilanku seperti itu!" protesnya.

Sai mengangkat bahu lalu mengulurkan lengan kirinya pada Sakura. Sakura tertawa kecil saat mengetahui maksudnya. Ia segera mengaitkan lengan kanannya pada lengan Sai, memeluk erat lengan itu. Seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran, merekapun berjalan menjauh dari rumah Sakura menuju Konoha City.

"Nanti aku harus menelpon Ino untuk memberitahu ini," ucap Sakura terkikik geli. "Aa. Jangan coba-coba Sakura," Sai mencubit pipi Sakura dengan gemas. Sakura tertawa—sudah bisa membayangkan apa yang akan Ino ucapkan nanti.


"SASUKE! INI JALANNYA LURUS AJA NIH?"

"Hn."

Saat ini Sasuke sedang berjalan menuju rumahnya bersama Naruto—namun jika dilihat sekilas, ini lebih tampak seperti Sasuke yang menemani Naruto, itu karena Sasuke berjalan dengan tampang terpaksa di belakang Naruto, sedangkan sahabat pirangnya itu berjalan dengan riang jauh di depan, padahal ia tak terlalu hapal jalan menuju rumah Sasuke.

"Sasuke, rumah itu 'kan?" tanya Naruto sambil menunjuk rumah putih yang berada tak jauh dari mereka. Sasuke mengangguk.

Sasuke menghentikan langkahnya saat ia sampai tepat di depan pagar rumahnya, jangankan masuk berbalik saja belum, ia masih dengan posisi yang sama saat berjalan—tubuhnya menghadap arah kanan. Mengabaikan Naruto yang sudah masuk ke dalam rumah tanpa memedulikannya lagi. Saat ini ada hal yang menarik perhatian Sasuke—hatinya juga ikut tertarik. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini adalah ilusi, namun salah. Segaris dengan posisinya berdiri, beberapa meter di sana, ada seseorang. Sasuke merasakan jantungnya berhenti berdetak dan napasnya tercekat saat mencoba menyebut satu nama yang terdengar menjadi lirihan.

"Sakura…."

Rambut merah jambu dan mantel marun, masih sama seperti dulu. Hati Sasuke mencelos saat melihat—dengan jarak yang tak jauh ini—rambut gadis itu tidak sepanjang dulu lagi. Mendadak ia merasakan rasa rindu yang menyergapnya; merindukan rasa lembut di tangan saat ia mengelus rambut yang halus itu, di masa-masa yang takkan pernah terulang lagi. Sedikit nyeri saat mengetahui ia terlalu lama pergi tanpa keputusan pasti akan kembali—sehingga ia melewatkan banyak hal tentang gadis itu. Melewatkan tahap bagaimana gadis itu telah tumbuh dan berkembang. Melewatkan cerita-cerita hidup gadis itu yang selalu rutin diceritakan kepadanya.

Sasuke benar-benar merasa tertinggal, apalagi saat melihat seorang pemuda yang berada dalam tautan lengannya. Lengan yang dulu pernah ditautkan di lengannya juga. Lengan mungil yang selalu memberikan kehangatan tersendiri. Dan sekarang lengan itu bukan untuknya lagi—memang sejak kapan gadis itu mendeklarasikan bahwa lengannya hanya untuk Sasuke? Jawaban itu juga belum pernah ditemukan Sasuke.

Dua orang itu semakin menjauh, namun Sasuke masih mampu melihat ekspresi mereka berdua. Pemuda itu tersenyum saat melihat Sakura tertawa renyah. Ah, bahkan Sasuke sudah lupa bagaimana tawa renyah itu terdengar? Tawa renyah yang selalu ditampilkan Sakura saat ia benar-benar merasa gembira. Dulu, Sakura selalu menciptakan tawa renyahnya saat sedang bersama Sasuke—bukan, itu bukan kebohongan apalagi imajinasi, Sasuke selalu memperhatikan gadis itu dimanapun dan saat apapun. Saat ia menyadari bahwa tawa renyah gadis itu lebih sering tercipta saat bersamanya, untuk pertamakalinya Sasuke merasakan hidupnya lebih berarti.

Sakura dan pemuda itu telah menghilang di belokan jalan. Turut menghilangkan kesedihan pada Sasuke yang kemudian digantikan oleh rasa bersalah.

"Apakah kau yang terlalu lelah untuk menunggu lebih lama lagi atau aku yang terlalu mudah dilupakan, Sakura?"

Sasuke memperhatikan seluruh sudut rumahnya—rumahnya tiga tahun yang lalu. Sasuke tak mengenali lagi rupa setiap sudutnya, sangat berbeda tidak seperti dulu lagi. Mungkin ini adalah efek ia tak pernah mengunjungi rumah ini lagi setelah sekian lama atau mungkin ini adalah ulah Obito yang sudah membuat perubahan besar-besaran pada rumahnya. Sasuke mengambil kemungkinan nomor dua.

"Ah, apa kabar Sasuke?"

Suara feminin itu membuat Sasuke membalikan badannya. Tersenyum tipis lalu menjawab, "Baik. Bagaimana dengan Bibi?"

Rin tersenyum. "Baik juga, hanya sedikit pusing karena kelakuan bocah kecil itu," jawabnya. Sasuke terkekeh kecil, mengerti maksud Rin karena saat itu juga dua bocah berusia dua tahun berlari-larian saling mengejar dan menyebabkan taplak meja jatuh. Tipe bocah hiperaktif, sama seperti ayah mereka.

Setelah memastikan Rin tidak akan kembali karena sedang mengejar dua putranya yang sekarang berlari-larian di halaman, Sasuke kembali melangkahkan kakinya untuk menjelajahi rumah ini. Merasa tidak enak jika meninggalkan Rin tanpa obrolan sedikitpun, Sasuke menghargai bibinya itu karena hanya Rin-lah yang terlihat waras di rumah ini. Ngomong-ngomong soal kewarasan, Sasuke menolak ajakan mengobrol bersama Itachi dan Obito di ruang tamu, membiarkan Naruto saja yang berada di situ, mereka 'kan manusia yang mempunyai jenis yang sama.

Sasuke berhenti saat mendapati pigura besar berada di dinding perbatasan ruang keluarga dan ruang makan. Itu foto keluarga, keluarga besarnya. Dan di situ Sasuke dapat melihat rupanya saat berusia lima tahun. Melihat rupa kedua orangtuanya, tiba-tiba mengingatkannya pada suatu kejadian beberapa tahun lalu. Kejadian yang menyebabkan pemberontakan dalam dirinya dan berakhir dengan menghabiskan tiga tahun hidupnya di asrama laki-laki.

Sasuke masih ingat. Sangat jelas tanpa kesalahan sedikitpun. Saat pertamakalinya ia mengetahui pertengkaran itu dan batinnya terguncang.

"Diam-diam kau selingkuh di belakangku!" pertanyaan itu berubah menjadi pernyataan saat kalimat itu terucap jelas dengan satu nada lebih tinggi dari biasanya dan ekspresi keras pada wajah Fugaku. Memandang penuh amarah pada istrinya.

"Aku tak pernah melakukannya!" sahut Mikoto. Tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan tanpa pembuktian berarti oleh suaminya itu. Namun ia masih menahan emosinya, tahu betul bahwa masalah ini tak akan pernah selesai jika mereka menggunakan ego masing-masing.

PLAKKK

Satu tamparan keras membekas di pipi Mikoto, juga di hatinya. Ikut membekas di benak Sasuke yang tak sengaja melihat itu semua.

"JANGAN MEMBELA DIRI LAGI!" Kali ini benar-benar menggunakan nada tinggi dengan amarah yang membuncah. Mikoto tak memberi pergerakan berarti; hanya menunduk diam sambil mengelus pipi kirinya yang merah karena tamparan. Namun Sasuke bisa melihat dengan jelas bahwa punggung ibunya sedikit bergetar.

Fugaku pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Saat itulah, Sasuke kecil segera berlari menghampiri ibunya. Memeluk dengan erat, seakan ia bisa menyalurkan kekuatannya untuk ibunya yang sudah tampak tak berdaya itu.

"Sasuke?" Mikoto mencoba tersenyum walau sebenarnya Sasuke tahu sudut bibir itu terangkat untuk menahan isakan lebih keras. "Kau baik-baik saja?" tanyanya. Saat itu Sasuke tak mengerti. "Harusnya aku yang bertanya itu pada Ibu," sahutnya lugu. Mikoto hanya tersenyum lalu kembali mengeratkan pelukan mereka.

Sasuke baru menyadari arti pertanyaan ibunya itu saat usianya beranjak sebelas tahun. Semakin sering mendengar keributan di rumah membuatnya tak nyaman berada di rumah sendiri. Tak jarang ia juga akan melihat ibunya mangisak di dapur saat tengah malam, saat ia merasa haus dan ingin mengambil segelas air. Kadangkala ia juga dapat menemukan likuid bening meluncur di pipi ibunya lalu dihapus dengan gerakan cepat, itu sering terjadi saat Mikoto sedang melakukan suatu hal lalu pandangannya berubah kosong. Terkadang ia juga mendengar suara barang dibanting lalu diakhiri dengan penampakan serpihan-serpihan kaca yang akan ibunya bersihkan atau Itachi ketika sedang berada di rumah. Terkadang Sasuke merasa iri pada Itachi. Itachi jarang berada di rumah karena ia terlalu sibuk dengan sekolah menengah atasnya. Dengan begitu Itachi juga sangat jarang mendengar pertengkaran itu. Bahkan bisa saja Itachi tak mengetahui pertengkaran itu karena sifatnya yang tak acuh dalam hal-hal yang bukan urusannya. Sejak saat itu, Sasuke mengakui bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Ia merasa lelah, depresi, sedih dan putus asa dalam waktu bersamaan.

Namun gadis musim semi itu berhasil mengalihkan dirinya. Sakura yang tercatat sebagai tetangganya sejak kecil itu selalu setia menemaninya. Menemani waktu-waktu yang terasa lambat dan sulit. Sakura selalu ada untuknya. Sakura tahu tentang pertengkaran orangtua Sasuke, namun mereka memilih untuk tidak menyentuh topik pembicaraan itu. Sasuke menyukai saat-saat mereka bisa menghabiskan waktu bersama yang menggembirakan tanpa jeda. Ia merasa dirinya kembali berfungsi saat bersama Sakura.

"Kak Sasuke akan selalu bersamaku, 'kan?" tanya Sakura, gadis berusia dua belas tahun saat itu.

"Tentu saja," jawab Sasuke singkat.

Setelah itu mereka berdua berbaring di halaman belakang rumah Sasuke sambil membayangkan bagaimana keadaan tahun-tahun yang akan datang. Saat itu Sasuke dan Sakura yakin mereka akan selalu bersama, bukannya mereka sudah tumbuh bersama selama kurang lebih satu dekade ini? Mengapa harus ada keraguan jika di depan sana ada satu kepastian untuk mereka berdua. Mereka akan selalu bersama. Menjadi junior dan senior di sekolah dan universitas yang sama. Menjadi tetangga sebelah rumah selamanya. Menjadi sahabat yang akan selalu melengkapi. Menjadi teman yang berbagi petualangan dan pengalaman pertama di dunia ini.

Namun semua bayangan itu tetaplah menjadi bayangan, tak berubah sama sekali. Tak menjadi nyata lalu bisa berpijak di sana. Hanya terus menjadi bayangan yang mengikuti kemana pun mereka melangkah tanpa tanda-tanda akan menciptakan sebuah cerita tersendiri nantinya.

"Tadi gurumu menelponku. Katanya kau tak masuk di pelajaran kedua sampai terakhir. Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?" tanya Fugaku dengan nada tenang. Sorot matanya tajam saat menatap anak bungsunya yang baru pulang dari sekolah dengan tampang acak-acakan.

"Aku hanya pergi refreshing, pelajaran di sekolah mulai sulit," jawab Sasuke santai lalu berjalan menuju tangga.

"Ayah belum selesai bicara, Sasuke," nadanya sedikit menaik. Sasuke yang merasa malas untuk memulai argumen tak penting bersama ayahnya, memilih turun dari tangga dan kembali berdiri di hadapan ayahnya.

"Ini sudah yang kesekian kalinya. Kalau tidak membolos, kau pasti menghajar anak orang, membuat keributan di kelas dan membuat guru kalang kabut karena sikapmu," kata Fugaku.

Sasuke mengangkat bahunya. Saat ini ia berusia empat belas tahun dan ia sudah memilih jalannya. Membangkang dan menjadi pemberontak untuk dirinya sendiri. Merelakan dirinya yang asli menjadi korban untuk dirinya yang baru ini.

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?! Mengapa kau seperti ini?!" tanya Fugaku yang sudah mulai dipenuhi oleh amarah.

"Banyak hal yang telah terjadi padaku, membuatku mengambil keputusan ini," jawab Sasuke jujur. Ini memang sudah menjadi keputusannya. Berhenti menjadi penurut, berbalik arah dengan menciptakan aksi pemberontakan. Dan itu semua dilakukannya hanya untuk dibenci oleh ayahnya—agar perasaan bencinya ikut tersampaikan. Agar perasaan depresi dan sakit hatinya diketahui. Agar ia tak merasa sendiri lagi untuk menyimpan beban berat yang tak pernah enyah dalam hidupnya ini.

"KAU MENYEBUT INI KEPUTUSAN?!" Kesabaran Fugaku telah habis dengan jangka waktu yang cepat. "AKU TAK PERNAH MENDENGAR ADA KEPUTUSAN BODOH SEPERTI INI!"

Sasuke tersenyum sinis. "Sekarang Ayah sudah mendengarnya, bukan? Iya, ini adalah keputusan bodoh, keputusan yang sudah kupilih—bukan, keputusan yang akhirnya terpilih di dalam diriku."

Amarah Fugaku sudah mencapai ubun-ubun saat berkata, "DASAR ANAK KURANG AJAR!" Tangannya mendarat di udara saat Sasuke mundur dari posisi sebelumnya.

Sasuke tersenyum sinis lagi, beranjak ke tangga namun sebelum itu ia berbalik dan berkata, "Aku tak akan membiarkan tamparan Ayah menyentuhku. Aku berbeda dengan Ibu, ia memberi penyangkalan yang benar lalu ditampar. Sekarang aku memberi jawaban yang bodoh dan hal itu tak boleh direspon dengan tamparan juga," Sasuke merasa bahwa ini adalah pertamakalinya ia berbicara panjang lebar pada Fugaku. "Cobalah lebih kreatif sedikit."

Sasuke merasa hari-harinya semakin melegakan. Bebas tanpa kewajiban yang seharusnya dilaksanakan. Ayahnya sudah melancarkan perang dingin tanpa pengumuman untuknya. Ibunya tak banyak berkomentar seperti biasa, hanya sesekali memberi nasihat agar ia tak sampai berurusan dengan polisi dan mengajukan janji agar tetap menjadi penurut di hadapannya, Sasuke menyanggupi itu kecuali permintaan yang sekali Mikoto lontarkan; permintaan agar ia bersikap hormat pada Fugaku, sedikitpun tak apa. Sedangkan Itachi memilih berpura-pura tidak tahu, berpura-pura semuanya masih sama seperti dulu. Berpura-pura tak ada kejadian penting yang berhasil mengubah seluruh keadaan lima tahun belakangan ini. Sasuke tak tahu sampai kapan Itachi terus berpura-pura. Namun sepertinya sampai detik inipun Itachi masih melaksanakan hobi berpura-puranya itu.

Sakura adalah orang yang paling berhasil membuat rasa bersalah Sasuke muncul. Sebenarnya Sakura tak menyinggung hal itu sama sekali padanya, hanya saja Sasuke pernah menangkap sekilas binar kekecewaan melintas di manik emerald itu. Kekecewaan terhadapnya tentu saja. Mereka tetap menghabiskan waktu seperti biasanya. Hanya saja Sakura mendadak berubah menjadi alarm Sasuke. Mengingatkannya agar belajar untuk menghadapi ulangan demi ulangan yang akan menjelang bagi anak sekolah menengah pertama di tahun ketiga. Mengingatkannya agar tak lupa makan dan jangan sampai kelelahan—bukti bahwa Sakura mengetahui bahwa ia melakukan aktivitas-aktivitas yang melelahkan dan tak berarti di luar sekolah. Mengingatkannya agar terus berharap semua ini akan indah pada waktunya, namun Sasuke tak memerlukan itu. Ia tak butuh janji untuk hari bahagia di waktu yang akan datang. Cukup bersama dengan Sakura saja, ia sudah merasa bahagia. Merasa seluruh hidupnya tak pernah menderita atau menyentuh serpihan-serpihan kesedihan yang sebenarnya selalu mendiam sisi pojok hatinya.

"Kak Sasuke baik-baik saja?" Terkadang Sakura akan menanyakan ini saat tak sengaja melihat Sasuke sedang memandang kosong ke udara.

"Hn." Sasuke bergumam ambigu. Ia tak pernah ingin mengatakan pada orang lain bahkan pada Sakura sekalipun, bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Barusan ia melihat ayahnya menampar ibunya lagi, masih dengan masalah yang sama. Fugaku menuduh dan Mikoto menyangkal.

"Kakak tidak baik-baik saja." Sakura mengucapkan pernyataan itu dengan tegas. Mengelus pipi Sasuke dengan lembut, mengulang lagi dengan nada lebih lembut, "Kak Sasuke tidak baik-baik saja."

"Aku baik-baik saja Sakura." Sasuke menyentuh tangan Sakura yang berada di pipinya, mendorong pelan agar Sakura tak menurunkan tangannya. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Sakura tahu Sasuke bohong, namun ia tak mau berkomentar lebih lanjut. Sakura lebih memilih mempercayainya, memberikan kepercayaan besar agar Sasuke benar-benar menjadi baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya akan baik-baik saja.

Bersama dengan Sakura, itu sudah lebih dari cukup. Tetap bersamanya. Selalu dan selamanya. Namun sekali lagi, masa depan mereka hanya mencapai sebuah bayangan. Karena kenyataan telah mengikis dan merenggut habis kepercayaan dan harapan secara paksa dan keji. Musim gugur kelima belas bagi Sasuke adalah hal terburuk yang pernah ia alami dalam hidupnya. Lebih buruk dari memori-memori menyakitkan yang tersimpan dalam dirinya—karena ini adalah memori terbaru dan lebih menyakitkan dari apapun.

Sasuke dihukum.

Ia mendapat posisi paling rendah dalam urutan kelulusan—bahkan Sasuke mendengar dari beberapa pembicaraan guru yang tak sengaja lewat bahwa sebenarnya ia tidak lulus. Sasuke tak peduli itu. Lulus atau tidak, itu tidak akan memberi perubahan yang berarti atau lebih tepatnya tak akan ada perubahan yang tercipta. Bahkan Sasuke berharap bahwa ujian bisa diulang lagi dan ia tidak akan mendapati namanya di daftar kelulusan. Ia tak akan merasa rugi jikalau dirinya tidak lulus, dengan begitu bukankah Sasuke mendapat kesempatan untuk terus bersama Sakura, terus menemaninya; di kelas maupun di rumah. Saat belajar maupun bermain.

Dan itulah hukumannya.

Sasuke dikirim ke asrama laki-laki yang berada di Iwa. Bukan jarak yang dekat dengan Konoha atau faktanya itu adalah kota terjauh. Kota kecil yang tak terkenal bahkan terkesan ketinggalan banyak hal seperti kota-kota lainnya. Namun di sana, ada satu asrama laki-laki yang terkenal bagus karena kedisplinannya. Dan Fugaku percaya bahwa Sasuke dapat berubah jika berada di sana. Jika tak berada di sini lagi.

Awalnya tentu saja Sasuke menolaknya mentah-mentah. Dengan alasan paling bisa diberikan pengertian; ingin terus berada di samping ibunya. Tidak ingin diketahui bahwa Sasuke tak ingin meninggalkan gadis merah muda nya sendirian di sini—sendirian dalam arti tanpa kehadirannya di hari-hari yang seharusnya mereka lewati secara bersama-sama seperti sebelumnya. Sayangnya, Fugaku tak menerima alasan apapun. Mikoto hanya pasrah. Dan Itachi sekalilagi melancarkan aksi pura-pura tidak tahunya.

"Mengapa kau begitu keras kepala?!" tanya Fugaku saat itu. Sasuke memilih tak menjawab. Baginya ini bukan masalah keras kepala atau tidak, namun ini adalah jalan hidupnya. Sasuke sudah merasa cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupnya, walau sebenarnya ia tahu masa depannya nanti tak begitu cerah. Namun minimal, ia tak takut untuk menyongsong itu semua. Sasuke tak takut dengan lembaran-lembaran baru yang harus ia temukan dan ia lukiskan sendiri impiannya di sana. Tidak takut sedikitpun.

Yang ia takutkan hanyalah gadis musim semi itu. Gadis kecil yang dulu selalu berlari-lari tanpa lelah mengajaknya untuk terus bermain sampai petang. Gadis yang sedikit demi sedikit menapakkan langkah mungilnya di kehidupan kejam ini. Sasuke masih ingin melindungi Sakura, melindungi dari hal apapun. Gerombolan gadis genit atau perkumpulan pemuda jahil. Sasuke masih ingin melihat Sakura pada hari kelulusannya nanti. Sasuke ingin tahu ke mana sekolah tujuan Sakura nantinya, apakah mereka akan satu sekolah lagi atau tidak—sepertinya bersekolah di tempat yang sama dari sekolah dasar menimbulkan harapan mereka akan bersama-sama lagi nantinya. Namun itu semua menjadi pupus saat Sasuke tahu bahwa kali ini ia benar-benar tak bisa menghindar lagi dari ayahnya. Ia harus menjalani ini semua, terpaksa atau tidak itu tak menjadi masalah lagi. Hanya ada kata 'harus' di pertanyaan yang sebenarnya memiliki pilihan jawaban 'ya' atau 'tidak'.

"Kak Sasuke baik-baik saja?" tanya Sakura saat mereka berdua berbaring di halaman belakang rumah Sakura. Menatap langit senja yang indah, semakin lama semakin menggelap. Namun Sasuke melihat itu semua menjadi satu warna suram. Hanya gadis itu satu-satunya warna terindah yang masih dapat dilihatnya saat ini.

"Tidak, aku sehat," jawab Sasuke singkat lalu detik selanjutnya ia sadar bahwa Sakura tak menanyakan kondisi kesehatannya. Seharusnya ia sadar bahwa kondisi hatinya sekaranglah yang perlu dipertanyakan, sekaligus didiskusikan jika itu perlu.

"Tapi Kak Sasuke hari ini lesu," Sakura memberi pernyataan. Alih-alih membantah atau menyetujui, Sasuke menautkan jemarinya pada jemari Sakura dengan erat—seolah jika ia melepaskannya, ia tak akan pernah seperti ini lagi bersama Sakura. Dan memang begitulah sebenarnya.

Sakura tersenyum, merasa lebih baik saat telapak tangannya menemukan telapak tangan milik Sasuke. "Kak Sasuke, tadi aku baca di satu artikel," kata Sakura. "Akan ada bintang jatuh tiga hari lagi."

"Lalu?" Seharusnya Sasuke tak perlu bertanya karena ia sendiripun sudah tahu maksud yang tersirat dari ucapan Sakura itu.

"Bagaimana kalau hari itu kita melihat bintang jatuhnya bersama-sama? Terserah Kakak deh, mau di halamanku atau halaman Kakak," katanya. Sasuke dan Sakura memang kerap berbaring di halaman rumah mereka secara bergiliran. Hari ini di halaman Sakura, itu berarti besok di halaman Sasuke, begitu seterusnya.

"Melihat bintang jatuh?" tanya Sasuke, mencoba meyakinkan.

Sakura mengangguk. "Iya. Kita bisa mengucapkan satu permohonan saat melihat bintang jatuh itu." Jeda sejenak. "Katanya, permohonan apa saja yang kita ucapkan bisa terkabulkan saat itu juga."

Sasuke melewatkan satu kilatan penuh arti pada emerald Sakura. Batinnya bergejolak. Kalau saja Sasuke tidak harus pergi malam ini, pastilah ia bisa menemani Sakura melihat bintang jatuh dan mengucapkan permohonan, di malam itu. Kalau saja hari kepergiannya bukan hari ini, pastilah ia masih bisa mengucapkan permohonannya pada bintang jatuh. Permohonan agar ia masih bisa terus di sini, terus bersama Sakura.

"Bagaimana Kak?" tanya Sakura, yang di telinga Sasuke terdengar seperti tuntutan.

Sasuke tak menjawab. Ia hanya meremas pelan jemari Sakura dan menyandarkan kepalanya di atas kepala Sakura. Menghirup aroma khas gadis musim semi itu sebanyak-banyaknya. Mereka berbaring dalam diam. Sakura yang entah mengapa hari ini tidak terlalu berselera mengeluarkan celotehannya. Sedangkan Sasuke ingin menikmati waktu-waktu kebersamaan mereka dalam keheningan yang menghanyutkan. Sekali ini saja, biarlah. Mungkin ini yang terakhir kalinya.

Dan malamnya, malam terdingin di musim gugur, Sasuke pergi meninggalkan Konoha. Pergi tanpa pemberitahuan, tanpa pamit, tanpa janji untuk Sakura. Itu, menimbulkan setitik basah di ujung mata Sasuke. Menciptakan sugesti untuk diri sendiri bahwa ia akan kembali ke sini, secepatnya.

Untuk kesekian kalinya, harapan dan rencana Sasuke terus menerus ditolak oleh takdir. Menciptakan jarak yang sangat jauh diantara mereka. Seperti berdiri diantara jurang besar; Sasuke di sini dan Sakura di sisi lainnya. Sasuke merasakan kesepian dan Sakura merasakan kehilangan. Namun tak bisa berbuat apa-apa karena tak menemukan hal apapun yang bisa menghubungkan mereka diantara jurang besar dan dalam itu. Mungkin ini yang namanya takdir.

.

.

tbc

.

.


akhirnya publish juga, heuh. maaf kalau di chapter ini saya gagal bikin kalian baper, namanya juga masih amatiran.

UchiHarunoKid: terimakasih telah membuat saya kembali punya niat ngelanjutin chapter ini hehe.

Review?

nopz. 04.07.2015