.

.

.

.

Puppy Boy

.

.

.

Pair: Haehyuk

Rate: T

Warning: Yaoi/Three Shoot/Romance/School life

Summary: Donghae itu seperti anak anjing jinak yang mengikuti kemanapun Hyukjae pergi.

.

.

.

.

.

Hyukjae duduk di bangkunya dengan tenang, pandangannya sedari tadi melirik ke bawah pada anak anjing yang berlutut di depannya dengan kepalanya yang bersandar di mejanya. Senyumnya merekah begitu lebar dan matanya terlihat berbinar melihat Hyukjae.

"Hyukkie."

Bagaimana Hyukjae harus merespon fenomena di depannya ini?

"Hyukkie?"

Otaknya masih terus mengolah apa yang terjadi sampai sekarang.

"Hyukkie!"

Atau mins matanya semakin parah?

"Hyukkie! Hyukkieeeeee!"

Donghae memanggil dengan keras dan panjang sebelum bibir bawahnya maju beberapa centi, ia sebal karena Hyukjae sedari tadi hanya diam melihatnya tak menyahut panggilannya.

"Hah?"

Hanya itu yang keluar dari mulut Hyukjae, hanya reflek mulutnya saja sebenarnya tapi cukup untuk membuat senyum Donghae kembali karena merasa direspon. Bahkan namja yang mengingatkan Hyukjae akan anak anjing itu kini memengang kedua lengan Hyukjae lalu mengoyang-goyangkannya dengan begitu bahagia.

Apa yang sebenarnya terjadi disini?!

Bukannya ia lamban dalam berfikir, tapi apa yang terjadi saat ini seperti sebuah hal yang ...

Hyukjae tak tahu bagaimana menyebutnya. Yang jelas ini adalah anehnya hal aneh. Fenomena langka. Semakin Hyukjae memikirkannya, semakin tak masuk akal.

Seorang Lee Donghae yang begitu anti menyapa orang tak dikenal, begitu anti berbicara dengan orang yang tak akrab dengannya, orang yang acuh dengan sekitarnya, tiba-tiba saja pagi ini dengan begitu cerianya memanggil Hyukjae lengkap dengan pelukan hangat yang menyesakkan karena terlalu erat.

Jangan-jangan benar kata artikel yang Hyukjae baca minggu lalu disalah satu situs internet bahwa kiamat sudah dekat. Hyukjae mengeleng, mengusir pikiran bodoh yang mulai mengiritasi pikirannya.

"Donghae-yah! Ini sudah bel!"

Seruan jengkel itu seperti angin lalu bagi Donghae, ia bahkan tak melirik sedikitpun pada Sungmin yang menatapnya tajam.

Ah, Hyukjae baru ingat kalau kelasnya kini sedang penuh dengan anak-anak populer yang merupakan teman-teman Donghae. Mereka sedari tadi terus mengawasi, seakan lengah sedikit saja maka Hyukjae akan membawa lari Donghae dari mereka.

Astaga mereka berlebihan, bahkan tubuh Donghae lebih besar darinya meski tinggi badan mereka hampir sama. Jadi apa yang mereka takutkan?

"Hyung, benar kata Sungmin Hyung. Kita tak seharusnya disini, kelas akan segera dimulai." Kyuhyun ikut membujuk kali ini meski raut wajahnya terdengar malas. Donghae hanya melirik sebentar dengan raut tak berminat sebelum kembali melihat Hyukjae dengan senyum super lebar.

"Anak ini!" Terdengar geraman Sungmin, bahkan ia melototi Donghae dengan begitu lucu.

Sejujurnya Hyukjae setuju dengan mereka, seharusnya Donghae segera kembali kekelasnya bukannya malah disini menganggu kelas lain kerena pelajaran akan segera dimulai. Iris hitam Hyukjae melihat iris cokelat yang melihatnya begitu polos.

"Donghae."

"Ya?"Diluar dugaan Donghae langsung menjawab panggilannya, bahkan terlihat sekali ia akan sangat berminat dengan apa saja yang akan keluar dari mulut Hyukjae. Begitu mengejutkan Sungmin, Kyuhyun, dan Siwon yang ada disitu.

Mereka yang sudah kenal bertahun-tahun dari tadi tak ia gubris tapi langsung menjawab pada orang asing tak dikenal!

Sejenak Hyukjae ragu untuk meneruskan perkataannya, dipandang penuh minat begini tentu membuatnya tak nyaman meski pada akhirnya ia teruskan juga.

"Sebentar lagi guru akan datang jadi kurasa kau harus kembali ke kelasmu segera."

Donghae langsung merengut mendengarnya membuat Hyukjae ingin sekali menarik kedua pipinya, gemas.

"Tidak mau! Aku sudah pindah kesini."

Hah?

"Yah! Kau ini bicara apa?!" Sungmin menyahut dengan keras, kesabarannya mulai habis. Bagaimana mungkin Donghae dengan seenak jidatnya main pindah kelas. Donghae pikir sekolah akan mengijinkannya?! Tidak akan pernah.

Sungmin berkacak pinggang sebelum menunjuk Donghae dengan kesal. Kalau sudah seperti ini lupakan cara halus dan gunakan cara kasar.

"Kyuhyun, Siwon! Bawa dia!"

Tak perlu menyuruh dua kali untuk dua orang itu memegang kedua lengan Donghae lalu menyeretnya keluar dari tempat itu, tak peduli jika Donghae sudah berontak mengeliat-liat seperti ikan kekurangan air.

"Tidak mau! Aku mau disini! ANDWE! HYUKKIEEEEEE!" Seruan itu terdengar seiring dengan sosok Donghae yang menghilang di lorong sekolah, membuat semua orang yang ada disana hanya bisa menganga kecuali Sungmin tentu saja.

Hyukjae segera menengok saat meresa seseorang memandanginya, ia bertemu pandang dengan Sungmin yang melihatnya tajam. Ia melihat Hyukjae dari atas kebawah dengan pandangan menilai yang tidak bersahabat. Kelihatan sekali orang ini tidak menyukainya.

"Kau!"

Sungmin menunjuknya.

"Jangan mengganggunya!" Setelah mengatakannya Sungmin pergi begitu saja meninggalkan Hyukjae yang terbengong-bengong.

Memang dia salah apa?

Suara bisisk-bisik membuat Hyukjae tersadar dengan keadaan sekitarnya, ia melihat sekeliling dan mendapati seluruh teman sekelasnya melihatnya dengan pandangan tak biasa.

"Wae?"

.

.

.

Hyukjae merenggangkan tangannya sesuai intruksi guru olah raga di depan sana, hari ini materi olah raga adalah lari jarak jauh. Guru mereka mengatakan bahwa mereka akan berlari empat kali keliling lapangan setelah pemanasan selesai membuat seluruh anak perempuan disana mengerang tak suka. Hyukjae juga kurang menyukainya sih, tapi ia diam saja karena merasaja bukan yeoja.

"Hei kau! Tak boleh ikut pelajaran olah raga jika tak memakai seragam olah raga!" Terdengar seruan tegas guru membuat Hyukjae dan beberapa murid menengok ke belakang.

"Ya Tuhan!"

Hyukjae begitu terkejut saat mendapati Donghae yang sudah ada tepat dibelakangnya, dengan seragam lengkap dan ikut pemanasan. Anak anjing ini langsung tersenyum padanya, tak mengindahkan kekagetan orang-orang di sekitarnya.

"Hyukkie, kenapa diam? Kau harus pemanasan supaya tidak kram nanti. Seperti ini, lalu begini." Kata Donghae sambil memegang kedua pergelangan tangan Hyukjae lalu menaik-turunkannya selaras, mengajari Hyukjae pemanasan seperti Hyukjae belum pernah melakukannya sebelumnya.

"Bukankah kau Lee Donghae, sedang apa kau disini? Ini bukan kelasmu!"Omel guru olah raga itu yang kini berdiri tepat di samping Hyukjae, tapi Donghae tak menggubrisnya malah sibuk mengerakkan pundak Hyukjae naik turun.

Merasa jengkel dengan tingkah laku anak muridnya, guru itu lekas menarik kerah belakang Donghae lalu menyeretnya ke gedung sekolah. Sengaja mengusir penyusup di kelasnya meski pada akhirnya Donghae akan kembali lagi berdiri di belakang Hyukjae. Terus seperti itu hinggga terulang tiga kali.

"Kulaporkan pada wali kelasmu jika kau masih disini juga!"

Tidak mempan, ancaman itu sama sekali tidak mempan untuk Lee Donghae. Bahkan Hyukjae ragu Donghae mendengarkannya. Hyujae menghela nafas, pelajaran olah raga itu terancam bubar jika Donghae tetap disana.

"Donghae."

Panggilan Hyukjae tentu membuat Donghae langsung melihatnya.

"Kembalilah kekelasmu, ne?"

"Tapi aku ingin dengan Hyukkie."

Keras kepala, bagaimana Hyukjae bisa lupa. Anak anjing ini perlu dibujuk untuk melakukan sesuatu.

"Nanti saat istirahat kita bisa bertemu lagi dan ..." Hyukjae memutar otaknnya.

"...kita bisa makan siang bersama jika kau mau, bagaimana?"

Makan siang dengan Hyukkie?

Donghae terdiam memikirkannya, membuat Hyukjae ragu bujukannya berhasil. Namun siapa sangka Donghae justru tersenyum lebar dan dengan sedikit melompat-lompat mengangukkan kepalanya dalam-dalam sebelum dengan patuh berjalan kembali ke kelasnya. Donghae terus berguman 'Makan siang dengan Hyukiie' secara berulang-ulang sebelum menghilang dari sana.

Semua orang lekas melihat Hyukjae dengan tak percaya.

"Hyuk, apa yang sudah kau lakukan padanya?" Tanya salah satu temannya yang masih takjub melihat kepergian Donghae.

"Entahlah."

Dan Hyukjae tak heran saat bel istirahat berbunyi kepala Donghae mucul begitu saja di pintu kelasnya. Menariknya menuju kantin tanpa memperdulikan tatapan orang-orang disekitarnya. Bahkan ia melewati teman-temannya begitu saja, membuat Sungmin tercengang tanpa bisa berbuat apa-apa.

Mereka makan berdua, di meja yang sama. Bersebelahan dengan jarak yang begitu dekat karena Donghae menginginkannya.

"Kenapa nasinya begitu sedikit?"

"Kenapa makannya pelan?"

"Kenapa semuanya berwarna hijau?"

"Kenapa tak memesan yang sama denganku?"

Mulut Donghae tak bisa diam bertanya dengan pertanyaannya yang tak penting, begitu aneh dan beruntun tak ada habisnya. Beruntung Hyukjae cukup sabar menjawabnya, bukan malah melempar nampan penuh makanan tepat di depan wajah Donghae. Kesabaran sangat dibutuhkan disini.

Iris hitam Hyukjae melirik Donghae di sebelahnnya saat orang ini berhenti bertanya dan makan dengan tenang, sepertinya ia tipe orang yang tak akan berbicara saat mengunyah makanannya. Sebenarnya ia masih merasa aneh dengan semua ini. Seminggu yang lalu ia hanya menemani orang ini ditengah hujan dan membelikannya makanan, sebuah pertolongan wajar yang sering dilakukan pada orang lain yang kesusahhan, bukan? Ia tak tahu itu akan berdampak begitu besar hingga membuat orang ini berperilaku seperti ini padanya.

Trak.

Suara nampan itu membuat Donghae dan Hyukjae mendongak, dapat mereka lihat Sungmin, Kyuhyun, dan Siwon ikut bergabung dengan mereka. Meski sejenak Hyukjae dapat melihat Sungmin yang melotot padanya.

"Seseorang mengacuhkan teman-temannya dan sama sekali tak menawari meja." Sidir Kyuhyun jelas untuk siapa.

"Belum lagi berpura-pura ke toilet tapi ternyata meyusup ke kelas orang lain." Sungmin ikut menambahkan. Oh, Hyukjae cukup terkejut Sungmin mengetahuinya.

Donghae hanya melihat mereka sejenak sebelum kembali melanjutkan makannya tanpa rasa bersalah membuat dua orang itu berdecak dan Siwon tertawa.

"Jadi..." Siwon melirik tag name di seragam Hyukjae.

"Lee Hyukjae-shi?" Hyukjae mengangguk ragu.

"Perkenalkan aku Choi Siwon, ini Cho Kyuhyun, dan dia Lee Sungmin."

"Aku tahu."

Siwon tersenyum ramah mendengarnya.

"Maaf soal pertemuan pertama kita yang kurang ramah, dan terima kasih sudah menolong Donghae waktu itu." Hyukjae tahu ucapan Siwon mengarah pada peristiwa minggu lalu dan ia hanya bisa menggangguk seadanya tak tahu harus mengatakan apa. Hyukjae tak biasa dikelilingi anak-anak menonjol seperti mereka.

"Sejujurnya kami sudah mendengar tentangmu dari Donghae sebelumnya. Yah seminggu ini ia hanya berbicara tentang Hyukkie dan Hyukkie saja, kami hanya terkejut saat Hyukkie yang dia maksud adalah kau. Bahkan Kyuhyun pikir Hyukkie yang Donghae maksud adalah anak anjing yang di pungut Donghae disuatu tempat."

Salah. Justru Hyukjae yang memungut anak anjing terlantar bernama Lee Donghae, tapi ia tak berniat mengklarifikasinya. Untuk apa? Biar sajalah.

"Donghae Hyung, kurasa Hyukkie kehausan. Kenapa kau tidak mengambilkannya minum?"

Perkataan tiba-tiba Kyuhyun membuat Hyukjae mengernyit, ia memang tak membeli minum karena ia memiliki persediaan tiga kotak susu strawberri di tasnya. Ia berniat mengatakan bahwa ia belum haus, ia terbiasa minum setelah menyelesaikan seluruh makanannya namun Donghae keburu bersemangat segera beranjak, berlari, dan mengantri untuk membeli minum untuknya.

Meninggalkan Hyukjae dengan tiga orang yang menatapnya begitu awas. Tanpa sadar Hyukjae menelan ludahnnya, ia mengerti sekarang kenapa Kyuhyun mengatakan itu pada Donghae. Orang –orang ini sengaja melakukannya agar Donghae meninggalkanya sendiri disini.

Perasaan Hyukjae tak enak.

"Aku tak akan basa-basi. Apa yang kau inginkan dari Donghae?!" Sungmin bertanya sambil melipat tangannya di dada, tatapan tak bersabatnya masih tetap sama.

"Apa maksud kalian?"

"Tak usah pura-pura bodoh, kau tahu jelas maksud kami."

Tahu apanya? Hyukjae bahkan tak mengerti dengan situasi saat ini.

"Sungmin-ah, jangan kasar." Terdengar Siwon yang menasehati.

"Apapun yang sedang kau rencanakan di otakmu itu sebaiknya kau batalkan saja, jangan pernah berfikir untuk melakukannya. Sementara kami masih bersikap baik padamu."

"Kyuhyun-ah!"

"Wae? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Kyuhyun membantah saat Siwon menyelanya, sama sekali tak melihat Hyukjae yang mulai tak nyaman dengan mereka semua.

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Hyukjae-shi bukan maksud kami mencurigaimu atau apa, tapi kami harus memastikan bahwa kau tak akan menimbulkan masalah dikemudian hari pada Donghae."

Mwo? Kenapa ia akan menimbulkan masalah bagi Donghae? Hyukjae semakin tak mengerti arah pembicaraan mereka.

"Bagaimana kau bisa bersama Donghae saat itu?! Apa saja yang kau lakukan dengannya?!" Sungmin bertanya dengan nada yang begitu menuduh, dan Hyukjae tak suka dengan hal itu.

Ia meletakkan sumpitnya begitu saja lalu melihat Sungmin dengan datar.

"Aku memungutnya, itu saja."

Ketiga orang itu mengernyit saat mendengar istilah yang digunakan Hyukjae.

"Bohong!"

"Kenapa aku harus berbohong?"

"Karena itu yang selalu terjadi." Kyuhyun menyela.

Selalu terjadi? Apanya yang selalu terjadi? Hyukjae semakin tak mengerti.

Ketiganya melihat Donghae yang berjalan menghampiri mereka lekas merubah raut wajah mereka.

"Kami mengawasimu Lee Hyukjae-shi, jadi jangan pernah berfikir macam-macam."

Itu ancaman terakhir Sungmin sebelum Donghae kembali duduk disamping Hyukjae dengan membawa berbagai jenis minuman. Meninggalkan Hyukjae yang terdiam.

Terdiam dengan ratusan pertanyaan dikepalanya.

.

.

.

Ranjangnya berderit saat Hyukjae menjatuhkan tubuhnya begitu saja disana. Pikirannya sedikit ringan setelah mandi seperti ini, membuatnya nyaman. Matanya yang sempat tertutup sejenak kembali terbuka melihat langit-langit kamarnya yang putih membosankan. Ia tertawa kecil saat mengingat kejadian di sekolahnya tadi.

Donghae terus mengikutinya. Kemanapun Hyukjae pergi Donghae akan mengikutinya dibelakang seperti anak anjing yang mengikuti majikannya, entah itu ke lab, ke perpustakaan, ke kantor guru, bahkan ke toilet sekalipun. Astaga, Hyukjae harus membujuknya setengah mati saat Donghae berniat masuk ke bilik toilet bersamannya saat itu. Apa yang ada dipikiran anak itu sebenarnya? Hyukjae tak habis pikir.

Dan saat pulang tadi Donghae harus kembali diseret teman-temannya agar tak mengikuti Hyukjae pulang tapi pulang ke rumahnya sendiri. Donghae tentu berontak dan malah memengang kaki Hyukjae begitu erat tak mau dilepaskan.

Akhirnya Donghae mau pulang juga saat Hyukjae yang membujuk dengan mengiming-iminginya bahwa ia akan bermain ke rumah Donghae kapan-kapan meski langsung disambut dengan pelototan mata Sungmin yang seperti akan menembusnya. Tapi Hyukjae tak peduli, yang penting Donghae mau pulang kan. Toh Hyukjae tak benar-benar berniat main ke rumah Donghae, itu hanya di mulut saja.

Donghae si anak anjing yang merepotkan, tapi juga begitu lucu disaat bersamaan.

Namun senyum di bibir Hyukjae perlahan menghilang saat mengingat apa yang dikatakan teman-teman Donghae padanya. Ia melipat tangannya di bawah kepalanya, menjadikannya bantal sambil berfikir.

Hyukjae tahu ada yang salah dengan sikap Donghae sejak awal, tapi ia baru tahu jika teman-teman Donghae juga bersikap begitu aneh menurutnya. Mereka terlalu mudah curiga, terlalu khawatir, dan terlalu berprasangka buruk.

Terlihat begitu protektif pada Donghae. Begitu melindunginya, seakan menjadi dinding tebal yang mengelilingi sang anak anjing dari apapun yang coba mendekatinya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa mereka bersikap seperti itu?

Seperti Hyukjae akan berniat yang tidak-tidak saja pada Donghae saja. Justru menurut Hyukjae, Donghae yang berniat yang tidak-tidak padanya. Masuk ke bilik toilet bersama? Apa yang ingin dilakukannya menurutmu? Aneh sekali.

Berbagai spekulasi tentu mampir di pikiran Hyukjae, tapi tak satupun dari itu yang masuk akal dan menjelaskan situasi ini. Jujur ia penasaran, tapi ia tak yakin bila akan menanyakannya pada Donghae. Ia tak punya hak untuk tahu, mereka tak sedekat itu hingga membicarakan hal-hal seperti ini menurutnya.

Lagi pula Hyukjae ragu Donghae bisa diajak bicara serius, yang ia tahu hanya memangilnya Hyukkie-Hyukkie berulang-ulang minta perhatian setelah itu terkekeh dan tertawa-tawa. Ck, anak anjing manja. Bertanya pada teman-temannya? Nanti saja, nanti saat Hyukjae sudah bosan hidup dan ingin melihat seperti apa neraka ia akan dengan senang hati melakukannya, langsung bertanya pada Sungmin jika perlu.

.

.

.

Hyukjae terkejut saat kembali ke meja resepsionis perpustakaan sekolahnya setelah membawa beberapa buku lama ke gudang dan mendapati Donghae sedang duduk manis di sana. Hyukjae dapat melihat telinga anjing di atas kepala Donghae lengkap dengan ekor yang bergoyang-goyang memandangnya penuh kelucuan, tentu itu hanya imajinasi Hyukjae saja. Padahal tadi ia yakin telah berhasil membujuk Donghae pulang bersama teman-temannya dengan iming-iming akan membawakan bekal untuk Donghae, lalu apa yang dilakukannya sekarang disini? Jangan bilang ia melarikan diri dari teman-temannya.

"Donghae-yah, kenapa kau belum pulang?"

"Karena Hyukkie belum pulang."

Hyukjae menghela nafas, seharusnya ia tak bertanya. Donghae selalu membututinya, dan akhir-akhir ini akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan.

Tak ingin terlalu memikirkannya Hyukjae segera duduk disebelah Donghae meneruskan pendataan yang diminta kepala perpustakaan agar ia menyalinnya, membiarkan Donghae duduk disebelahnya dengan mata yang tak lepas darinya.

Donghae merengut, ia tak suka jika Hyukkie diam sibuk sendiri seperti ini karena Hyukkie harus bicara padanya. Jadi ia mulai merangkul lengan Hyukjae lalu menyandarkan kepalanya ke pundak Hyukjae.

"Hyukkie."

"Hm?"

"Hyukkie Hyukkie!"

"Apa?"

"Ayo main."

"Aku sedang sibuk."

Donghae melapaskan rangkulannya, ia kembali merengut tapi Hyukkie tak melihatnya sama sekali. Donghae semakin sebal. Ia melepaskan kaca mata Hyukjae begitu saja, membuat Hyukjae tersentak dan langsung melihatnya. Donghae memakainya, lalu tersenyum puas pada Hyukjae.

"Donghae-yah, kembalikan!"

"Tidak mau!"

"Donghae." Kali ini lebih lembut tapi Donghae tetap menggeleng.

Hyukjae menghela nafas, tak coba membujuk dan meneruskan pendataannya tanpa kaca mata. Masih terlihat meski ia harus mendekatkan kepalanya di buku itu. Hyukjae memiliki banyak pekerjaan untuk dilakukan sekarang jadi dia malas jika harus meladeni Donghae yang sedang dalam mode manja. Ia hanya membiarkan Donghae semakin merengut dan menyerah sendiri dengan merebahkan kepalanya di atas meja, masih memakai kaca matanya.

Iris cokelat Donghae melihat paras Hyukjae di depannya. Ia menyukai rambut pirangnnya, ia menyukai kulit putihnya, ia menyukai dahi sempitnya, ia menyukai alis matanya, ia menyukai bola mata hitamnya, ia menyukai hidung mancungnya, dan ia menyukai ...

Donghae terdiam saat melihat bibir gemuk itu. Terlihat lembut dan ...manis.

Tangan Donghae terulur, jemarinya perlahan mendekati bibir yang begitu menarik perhatiannya.

Hyukjae terkejut saat jemari Donghae menyentuh bibirnya, ia segera melihat kearah Donghae yang melihatnya dengan pandangan yang begitu... entahlah. Jemari itu menekan bibirnya pelan sebelum mengusapnya dengan begitu lembut. Membuat Hyukjae terdiam. Ia tak bisa bergerak, iris cokelat itu serasa membekukannya.

Apa yang sebenarnya terjadi.

"Hyukjae!"

Panggilan itu menyadarkan Hyukjae, ia lekas menjauhkan tangan Donghae lalu menengok kebelakang mendapati Yesung, anak kelas tiga yang juga seperti dirinya membantu di perpustakaan.

"Kenapa kau malah disini? Bantu akan menata buku-buku tua itu digudang." Yesung berjalan mendekatinya.

"Aku belum selesai menyalin pendataannya, Hyung."

"Itu bisa nanti, seka-oh kau dengan seseorang ?" Tanya Yesung saat menyadari sosok lain di dekat Hyukjae.

"Omo, kau Lee Donghae bukan? Apa yang kau lakukan disini?"Donghae hanya menatapnya datar tak menjawab, yah Yesung orang asing baginya.

"Dia menemaniku di sini, Hyung."

"Dia temanmu?!" Tanya Yesung tak percaya. Hyukjae hanya mengangguk pelan.

"Omo omo, kau benar-benar berteman dengannya?! Aigo, sulit dipercaya."

Yesung segera merangkul pundak Hyukjae membawa tubuh adik kelasnya itu menempel padanya.

"Tak ku sangka kau punya teman anak populer seperti dia, Hyuk. Atau jangan-jangan kau juga populer sebenarnya?" Yesung tertawa setelahnya, sedang Hyukjae memutar bola matanya.

Mata Donghae menyipit melihat tangan yang kini tersampir di pundak Hyukjae, ia melihat pundak keduanya yang saling menempel juga. Kerutan di dahi Donghae semakin dalam saat wajah keduanya juga terlihat begitu dekat.

Ia tak suka.

Ia sama sekali tak menyukainya.

Ia benci melihatnya.

Sangat membencinya.

Hyukjae sama sekali tak menyadarinya, yang ia tahu tiba-tiba saja Yesung berteriak nyaring kesakitan. Dan matanya langsung membulat saat melihat apa yang terjadi.

"Astaga Donghae lepaskan! Jangan MENGIGITNYA!"

.

.

.

Itu olesan salep terakhir untuk dahi Donghae yang memar, Hyukjae menutup salep itu lalu bersedekap menatap tajam pada Donghae di depannya. Anak anjing ini duduk di pinggir ranjang klinik sekolah. Masih dengan bibir bawah yang maju.

Hyukjae tak percaya apa yang baru saja terjadi. Anak anjing ini tiba-tiba saja menggigit tangan Yesung, membuatnya berteriak kesakitan, membuatnya berdarah. Hyukjae mencoba menariknya menjauh tapi percumah Donghae justru semakin liar mengigit. Yesung yang merasa tanganya terancam putus langsung mengambil buku tebal didekatnya dan memukulkannya tepat di kepala Donghae membuat tangannya terlepas.

Setelahnnya Hyukjae segera meminta salah satu staf membawa Yesung ke rumah sakit, dan ia sendiri membawa Donghae ke klinik sekolah.

"Kenapa kau mengigitnya, Donghae?"

Donghae diam, ia bahkan tak mau melihat kearah Hyukjae.

"Hei, aku bicara padamu Lee Donghae!" Suara Hyukjae naik satu oktaf tapi Donghae tetap saja diam. Jangan salahkan Hyukjae, ia merasa tindakan Donghae keterlaluan. Tapi ia tetap berfikir logis, Donghae tak mungkin melakukan itu tanpa sebab maka ia bertanya. Menunggu pembelaan yang tak kunjung datang dari namja didepannya ini.

Hyukjae berdecak sebelum menghembuskan nafasnya kesal.

"Baiklah jika kau tak mau bicara, tak usah bicara saja denganku seterusnya."

Dapat Hyukjae lihat Donghae tersentak mendengar ucapannya tapi Hyukjae tak peduli. Ia berbalik dan akan berjalan keluar klinik, namun baru satu langkah tubuhnya tiba-tiba saja tertarik kebelakang.

Tangan itu begitu cepat merengkuh tubuhnya, membuat punggung Hyukjae bertabrakkan dengan dada hangat orang dibelakangnya. Dada itu berdetak begitu cepat, seakan jantung didalamnya akan terlepas keluar.

Hyukjae begitu terkejut. Tubuhnya langsung merinding saat merasakan hembusan nafas ditengkuknya.

"Aku tidak suka."

Hyukjae membeku.

Apa?!

"Aku benci ia menyentuhmu."

Kenapa suara Donghae terdengar berbeda?

"Kau milikku Hyukkie."

Pelukan itu semakin mengerat.

"Milikku."

Oh Tuhan.

.

.

.

TBC

MAAF! Maaf bgt karena ingkar janji, aku ngaku salah. Aku tahu harusnya ini aku pos senin kemarin, tapi kepaksa baru hari ini aku pos, maaf bgt. Aku terbiasa menyimpan semua ceritaku di flasdisk jadi saat flasdisknya harus berpindah tangan tanpa sempat copy cerita ini aku gak bisa apa-apa. Sekali lagi maaf bgt ya :(

Jadi yah ini chapter duanya, gimana Donghae udah keliatan semenya? Hahaha

Maaf klo bosenin, jelek, gak sesuai harepan, banyak typo dan kesalahan penulisan lainnya.

Makasih bgt untuk saran, kritik, dan reviewnnya. Chapter terakhir aku post sabtu klo gak minggu oke?

See u next chapter :D

Special thanks :minmi arakida, Guest, ericomizaki13, evilkyukyu, BunnyEvilKim , eunhyukuke, rani. gaem. 1, huang zi tao, HaeNann, cho loekyu07, isroie106, D. E. K, lee hyuk jae, Cique, dekdes, fine, haesyah elfishy, eSJeLF, guixianstan, kakimulusheenim, Guest, Name elfelf, jewELF, MonkeyShim, ahahyuk, Joyersss , senavensta, nurul. p. putri, narty2h0415, hyukmyboo, jewelf1sh, ryesung, RianaTrieEdge, mizukhy yank eny, DeSTORIA, siti. sisun, elfishy09, Lee Haerieun, lee ikan, jihyuk44, xnapoenya, CALLMEHACHI, Dochi risma, haehyukkie, Misshae d'cessevil, YhaJewel, lquincy, haeveunka, taroxxi, harubonbon, lvoeparsdise, Agriester Jewel, LS-snowie, Miss Chocoffee, cho. w. lee. 794, phita, hyukjae86, PurpleLittleCho, dalhaenim, nyukkunyuk, DHLiu, juwitaps36, Haehyuk546, dharma hyukkie.