Axis Power Hetalia belongs to Hidekazu Himaruya
Genre: Friendship, Romance
Pairing: NorBela
Warning: drabble superpendek, human name, OOC mungkin, typo mungkin
.
Enjoy!
.
.
.
Gadis itu baru akan berlari menghampiri, saat telinganya samar mendengar nama yang meluncur dari bibir sang kakak di depan pintu kelasnya,
"Bondevik?"
Kening gadis berpita putih itu berkerut tak kentara. Gegas-gegas menyembunyikan diri di balik dinding terdekat agar keberadaannya tak diketahui. Ditajamkannya telinga, ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
Serendah apa pun nada yang dipakai sang pemuda berambut perak, Natalia tetap dapat mendengarnya, "Kutitipkan Natalia padamu, Lukas Bondevik. Tolong jaga dia baik-baik."
Gadis itu terpana. Sesaat, ia hanya mampu kehilangan kata.
Tangannya meremas dress biru pemberian Ivan beberapa tahun lalu.
Itulah alasan mengapa ia begitu mencintai Ivan.
Pemuda itu, sekalipun seringkali menghindarinya, diam-diam, di belakangnya, menaruh perhatian yang begitu besar terhadapnya. Ivan adalah orang pertama yang mengelapnya dengan handuk apabila ia basah kehujanan, membuatkannya segelas cokelat hangat favoritnya kala cuaca sedang terlampau dingin, dan membelikannya sepatu atau sandal baru saat miliknya mulai tak layak pakai tanpa perlu diminta.
Ivan bukanlah kakak kandungnya, tapi kepedulian pemuda itu terhadapnya jauh lebih besar dibandingkan Katyusha yang notabene perempuan. Katyusha memang baik, tapi Ivan lebih sempurna sebagai kakak bagi Natalia.
Celakanya, pemuda itu justru mencintai—
"Ya. Tentu saja."
Sahutan dari suara lain yang telah dihafal Natalia di luar kepala beberapa hari belakangan menyentakkan gadis itu dari lamunan. Sahutan dengan pengulangan sebagai penegasan. Terdengar begitu mantap tanpa keraguan.
Tangan mungil gadis itu mengeratkan cengkeraman. Panas menjalari sepasang iris violetnya, entah bagaimana—entah mengapa.
Benaknya mendesis berkali-kali, pemuda pemilik nama belakang Bondevik itu pembohong. Pembohong. Pembohong.
Bukankah alasan yang dilontarkannya tempo hari adalah untuk menjawab tantangan Mathias? Lantas apa maksudnya dengan jawaban barusan? Mencari muka di hadapan Ivan, huh, sebagai usaha lebih jauh mempermainkan?
Tanpa pikir panjang, kaki-kaki si bungsu Slavik membawa pemiliknya pergi. Menjauh. Ke toilet, atap gedung sekolah, taman belakang, ... yang penting, ia harus segera pergi. Tidak peduli suara ribut derap langkahnya didengar oleh kedua lelaki berbeda bangsa yang baru saja membicarakan dirinya untuk kemudian menyadari keberadaannya.
Apa yang membuat matanya pedih, sebenarnya?
.
.
.
