Axis Power Hetalia belongs to Hidekazu Himaruya
Genre: Friendship, Romance
Pairing: NorBela
Warning: drabble superpendek, human name, OOC mungkin, typo mungkin
.
Enjoy!
.
.
.
Lukas melihatnya. Ia melihat gadisnya datang dan mendadak bersembunyi kala Ivan menyebut namanya dari ujung mata. Perkiraannya langsung dapat dibuktikan saat sekilas dilihatnya kibaran helai platina yang tersisa di tikungan tepat di sebelah kelasnya dan kelas gadis itu sendiri. Lukas tidak tahu apakah Ivan juga melihatnya, dan toh ia tidak peduli.
—tidak peduli apakah Ivan sempat menangkap sisa sosok Natalia, maksudnya, sebab langsung diikutinya arah lari Natalia dari bunyi derap yang menggema sepanjang koridor. Mengabaikan Ivan begitu saja.
Bahkan dirinya tidak mengerti mengapa.
.
.
Lidahnya, untuk kesekian kali, terasa kelu melihat sepasang iris sosok di hadapannya. Segala macam umpatan, cacian, bahkan sumpah serapah yang sudah siap meluncur dari sela bibirnya mendadak lenyap begitu saja, menguap entah ke mana.
Ini pertama kalinya Natalia melihat ada kilat dalam iris biru angkasa Lukas yang biasa hampa.
Sang pemuda sendiri seketika kehilangan segala pertanyaan yang sempat berkelebat memenuhi benaknya ketika melihat sepasang netra violet gadis yang dagunya tengah ia angkat. Apalagi ketika didapatinya sepasang violet itu tersaput kabut tipis.
Maka, "Kau kenapa?" adalah satu-satunya pertanyaan yang pada akhirnya mampu terlontar.
Natalia sendiri tidak menemukan jawabannya. Sungguh.
Alih-alih menjawab, gadis berambut platina itu justru membuang muka. Berujar ketus (setidaknya gadis itu telah susah payah membubuhkannya), "Jangan menatapku seperti itu!"
Apa? Apa? Memang Lukas menatapnya seperti apa?
Lukas menghela napas. Baik, ia tidak akan bertanya lagi, dalam bentuk apa pun. Tidak akan terus-terusan menatapnya seperti itu—seperti yang baru Natalia katakan, meski Lukas tidak tahu seperti apa. Karenanya ia beringsut, mengempaskan tubuh di sisi sang gadis, berlawanan dengan arah gadis itu membuang muka.
Terserah gadis itu sajalah.
.
.
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
Sedikit tersentak mendapatkan pertanyaan setelah sunyi sempat mendominasi, Lukas menoleh. Gadis itu bertanya, namun belum sedikit pun mengubah posisi atau sekadar menatapnya.
"Apa?"
Seperti apa lagi, maksudnya.
"Jangan berlagak bodoh, sialan."
Lukas mendecih. Bukan karena baru saja menjadi bahan umpatan Natalia, tapi karena ia benar-benar bingung akan pertanyaan yang baru dilontarkan sang gadis berambut platina.
"Aku serius, Natalia."
Sang gadis berpita putih berjengit. Ini pertama kalinya ada yang berani memanggilnya dengan nama depan selain Katyusha dan Ivan. Punya hak apa pemuda itu untuk memanggilnya dengan nama depan?
"Natalia, ayolah," Lukas kembali angkat bicara melihat kebisuan gadis di sisinya, "aku bertanya padamu; seperti apa tadi maksudmu?"
Berhenti melamun, Natalia. Jangan buat Lukas mengimbuhkan ketidaksabaran dalam kalimatnya selanjutnya.
"Yang kaukatakan pada Ivan, brengsek," sahut si bungsu Slavik akhirnya, "apa maksudmu?"
Sang pemuda Nordik tak langsung menjawab. Ia tidak heran Natalia mengetahui pembicaraannya dengan Ivan—sudah dikatakan bahwa Lukas tahu bahwa tadi Natalia mengintip mereka, bukan?—ia hanya ... tidak mengerti mengapa nada yang dipilih Natalia dalam dua kata pertanyaannya barusan adalah lirih.
"Apa maksudmu dengan jawaban 'ya'?" cecar Natalia, lagi-lagi berbalut lirih. Dagu gadis itu masih tenggelam dalam pelukan kedua tangan. Iris violetnya—ah, Lukas tidak ingin melihatnya kali ini. Melihatnya berkabut seperti sebelumnya saja sudah cukup ... dadanya sudah cukup sesak melihatnya.
"Kenapa tidak boleh?" sahut Lukas setelah beberapa jenak. Menoleh ke arah gadisnya untuk pertama kali sejak ikut duduk di sisi gadis tersebut.
Natalia tidak mampu menoleh—tidak mau. Ia tidak mau mendapati iris biru langit tak berawan Lukas tengah lurus memandanginya ... dan susunan kalimat dalam benaknya bisa buyar seketika.
"Ivan akan membunuhmu jika tahu kau memacariku hanya untuk menjawab tantangan Mathias."
Sang pemuda tidak mampu menahan dirinya untuk tidak menyela, "Kau sedang mengatakan bahwa aku tidak serius sebagai pacarmu, benar?"
Apa Natalia bisa membantah?
Lukas mengacak rambut, baru menyadari betapa bodohnya kebohongannya waktu itu. "Nat—"
Kali ini, Natalia tidak sedikit pun berniat protes atas panggilan seenak jidat Lukas terhadapnya.
Apa karena, entah bagaimana, mendengar Lukas menyebut nama depannya membuatnya nyaman?
"—kalau aku tidak serius, aku tidak akan ada di sampingmu saat kau sedang menangisi Ivan. Aku tidak akan duduk di sisimu sekarang."
Tidak akan membelai rambut platina gadis itu untuk menenangkan, tidak akan menarik gadis itu ke dalam rengkuhan untuk menyalurkan kehangatan, tidak akan menggenggam tangan gadis itu untuk menguatkan.
Hei, Lukas, bukankah semua itu hanya egomu semata?
Sang pemuda Norwegia tidak tahu apa yang mendorongnya untuk melingkarkan lengan pada bahu Natalia.
Bahu gadis itu selalu terasa begitu ringkih dalam rengkuh lengan kukuhnya.
Perlahan ditariknya tubuh sang gadis berdarah Belarusia agar semakin mendekat. Menikmati helai platina sepunggung gadis itu berdesir menyentuh pipinya, menikmati aroma sampo yang manis yang menguar dari sana, membiarkan kepala Natalia membebani bahunya.
Tidak. Semua ini Lukas lakukan bukan atas dasar egonya. Tubuhnya refleks bergerak tanpa perintah ketika melihat betapa rapuh sosok seorang Natalia sebenarnya. Baginya, Natalia tampak seperti boneka kaca; cantik, menawan, dan keras, namun rapuh di saat yang sama. Lalu apa salahnya apabila Lukas ingin menariknya ke dalam pelukan, melindungi gadis itu dari segala ancaman dunia luar?
"Terima kasih."
.
Pemuda itu tertegun.
Apa?
Sang gadis masih berdiri di hadapannya, diam begitu saja seraya menatapnya tepat di manik mata.
Benarkah gadis itu baru mengucapkan terima kasih padanya?
Dua pasang monokrom berbeda warna—biru angkasa dan lembayung senja—itu belum lepas memandangi satu sama lain hingga sang gadis yang memutus kontak mata mereka pada akhirnya. Berlari meninggalkan sang pemuda yang memilih bergeming di bangku taman.
Lukas tak mampu menahan senyumnya lebih lama.
.
Sepasang irisnya yang menghipnotis yang perlahan mulai membawanya pada kesadaran dalam sebuah kenyataan...
.
.
.
...dirinya telah jatuh cinta.
.
.
.
Fin
.
.
.
Sebenernya pengen dibagi jadi 2 chapter, cuma karena masih satu scene gabung ajalah. Itung-itung bonus buat yang udah nungguin /emangsiapa
Makasih buat yukeh-san yang udah nagih melulu, wkwk, juga yoriko-san yang udah mau review~ (yori-nee, aku nyari ide buat drabble rusbela dulu, yah ;) )
See ya!
