Tittle: Reverse!

Disclaimer: Naruto dan High school DxD bukan punya saya

Genre: Adventure, Romance, etc

Pairing: Naruto x ?

Rated: M (jaga-jaga)

Summary: Uzumaki Naruto kini sedang memasuki masa keemasannya sebagai seorang Shinobi bersama dengan Kurama, Partnernya. Namun, semua itu berubah saat seorang gadis berambut merah mendarat diatas kepalanya. Apa maksud semua ini? Strong-Naru!, FemKurama!.

Warning: OOC,Typo, Harsh-word,Miss-Typo, violence, gore,etc.

Chapter 2

"Hmm…" Lenguhan pelan perlahan terdengar menambah sedikit suara untuk mengisi sebuah malam yang sepi di dalam sebuah ruangan serba terang dengan warna putih pada dinding yang mendominasi keseluruhan lokasi tersebut.

"Hmm? Kau sudah bangun?" Sebuah suara merespon lenguhan tadi dengan tanya yang begitu cepat. Sedangkan orang yang menjadi sumber suaranya masih belum memberikan respon tanggap terhadap tanya tadi dan hanya mengerjap-ngerjapkan kedua iris birunya secara cepat sembari menoleh kearah suara tersebut,

"Hmm? Ini dimana?" Tanya gadis yang baru saja terbangun tadis kepada seorang pemuda berbaju orange dengan rambut pirangnya yang tengah duduk disamping ranjang tempatnya berbaring. Mata gadis tersebut melihat tubuh lawan bicaranya dari atas sampai bawah mencari tahu apakah orang ini berbahaya atau tidak.

"Ini di rumah sakit. Tadi siang kau tiba-tiba saja terjatuh dari langit dan menimpahku." Ucap pemuda tadi dengan nada polos yang sedikit menggelitik rasa humor gadis berambut merah panjang tersebut. "Hmm, Namamu?" Tanyanya to the point.

"Ah, sampai lupa mengenalkan diri. Namaku Rias. Rias Gremory." Ucap gadis tadi dengan menggunakan intonasi yang halus layaknya seorang bangsawan.

"Oh, nama yang unik." Balas pemuda tadi dengan tatapan lembut. Namun, berbagai macam spekulasi telah tercipta di dalam kepala pemilik iris safir tersebut ketika mendengar nama tersebut. 'Gremory? Rias? Klan apa itu?' Pikirnya. Namun, gadis tersebut tiba-tiba saja mencubit lengan jaketnya seolah mencoba menyadarkan pemuda tadi dari lamunannya.

"Ano… apa kau baik baik saja…" Ucapan Rias tertahan karena dia tidak tahu nama lawan bicaranya. Namun, seolah mengetahui pikiran lawan bicaranya, pemuda tadi segera mengenalkan dirinya.

"Ah, sampai lupa. Namaku Uzumaki Naruto. Panggil saja Naruto." Ucapnya dengan senyum lebar. Melihat senyuman pemuda itu, Rias membalas juga dengan senyuman lembut.

"Salam kenal juga. Panggil saja aku Rias " Balasnya.

Klek!

Pintu ruangan tadi terbuka dan masuklah beberapa orang yang tentunya asing dimata Rias. Salah satu diantara mereka memiliki rambut panjang berwarna jingga dengan mata merahnya. Tak lupa sebuah katana tergantung di punggungnya membuat gadis pemilik rambut merah ini merasa sedikit terintimidasi. Sementara di sebelahnya seorang pria berambut nyentrik perak melawan gravitasi berada ditengah ketiga orang tadi sembari membaca sebuah buku saku berwarna hijau. Mulutnya tertutup sebuah masker. Disampingnya berdiri pemuda dengan rambut hitam raven beserta wajah dingin tanpa emosi yang membuat Rias merasa kurang nyaman.

"Naruto, apakah kau mengetahui sesuatu darinya?" Tanya pria bermasker tadi dengan tatapan yang tidak mengggambarkan semangat kerja seorang laki-laki seusianya.

"Tidak. Aku bahkan belum memulai sesi tanya jawab, Kakashi- ah maksudku Hokage-sama." Naruto kembali mengulangi kebiasaan lamanya yang belum bisa dia hilangkan. Kakashi yang mendengarnya hanya tertawa garing sedangkan gadis pemilik rambut jingga disebelahnya berjalan menghampiri pemuda pirang tersebut dan menjitaknya.

Duakh!

"Ittai! Apa maksudmu Kurama?" Tanya Naruto dengan tatapan kesal dan bingung karena tiba-tiba saja dijitak.

Sementara itu, Kurama yang mendengarnya cuma bisa mendengus kesal. "Dengar, Baka-gaki. Kami sengaja menunggumu sampai malam karena kami pikir kau sudah mulai berbincang dengannya tahu. Kupon Ichiraku yang kupegang sampai hangus tahu!" Pekiknya dengan nada kesal sambil mengacungkan katananya kearah Naruto yang membuat pemilik iris safir tadi menelan air Rias hanya bisa mengangah saja melihat kejadian itu sambil menyiapkan kuda-kuda bila terjadi sesuatu di luar dugaan. Namun, karena kondisi fisiknya yang belum memadai, dirinya yang mau berakrobat melompat dari tempat tidur jadi terpeleset dari ranjangnya dan siap mencium tanah dengan kecepatan penuh.

"Bahaya!" Untung saja insting bahaya Naruto lebih cepat dibandingkan kecepatan jatuh gadis cantik tadi sehingga pemuda itu berhasil menangkapnya. Sementara yang lainnya hanya bisa terbengong-bengong saja melihat aksi heroic pemuda pirang ini. Bukan karena aksinya melainkan apa yang dia tangkap.

Grop!

"Gremory-san, apa kau tidak apa-apa? Kenapa kau melom-….pat…" Ucapan Naruto terhenti menyadari bahwa tangan kanannya memegang bagian yang bisa dianggap sacral bagi seorang wanita. Tanpa sengaja, karena terkejut tadi. Tangan itu meremas gundukan yang termasuk besar itu.

"Ahhnn~" Desah Rias karena respon syaraf yang membuat sebuah lenguhan erotis terdengar dari mulutnya. Sementara itu, Kakashi yang mendengarnya hanya bisa terdiam dengan bagian hidung maskernya menghitam karena darah perlahan mengalir dari ujung alat pernafasannya itu. 'Malam ini harus sedia tisu lebih banyak.' Pikir nista Hokage ini.

Sementara itu, Kurama yang sedari tadi sudah jawdrop kemudian menutup kembali rahangnya. "Naruto…" Ucapnya pelan namun suaranya seperti pisau karat yang siap menyiksa dan menyayat daging pemuda malang itu hingga membuat Naruto segera memindahkan tangan kanannya dari bagian surgawi tadi.

"K-kurama, t-tadi itu tidak sengaja kok!" Ucapnya dengan keringat dingin mengalir dipelipisnya secara deras. Namun, gadis itu tidak mau mendengar penjelasan dari pemuda tersebut dan berniat menghajarnya sampai habis.

"Hentai!" Ini buruk. Gadis itu mengayunkan katananya yang teralirkan sebuah cakra angin. Cakra itu mampu membuat pemuda malang tadi menjadi sebuah potongan dadu dalam sekejap. Naruto yang melihatnya segera bersiap melakukan Kawarimi. Namun, sebuah kejadian diluar dugaan terjadi.

Trank!

Katana itu ditahan sebuah blok berwarna merah kehitaman yang muncul entah dari mana. Naruto menoleh kesampingnya dan melihat tangan kanan Rias mengeluarkan sebuah cahaya berbentuk lingkaran bermotif rumit dan asing di matanya. "Apa itu?" Pikir pemuda pirang itu.

Kakashi yang melihatnya langsung segera memasang kuda-kuda waspada dan pemuda disampingnya mengayunkan sebuah katana yang mengacung ke arah Rias.

Prang!

Tiba-tiba kaca ruangan tersebut pecah dan memunculkan belasan orang yang mengenakan topeng bermotif hewan hingga menambah suasana kacau. "Hokage-sama, basmi atau tidak?" Tanya salah satu dari mereka dengan katana teracung ke arah Rias. Sementara itu, Naruto yang melihat hal tersebut entah kenapa secara insting melerai gadis tersebut dan Kurama.

"Hentikan! Tidak ada kekerasan di sini!" Teriaknya dengan nada tegas membuat semua orang di sana menurunkan senjatanya. Memang, Naruto merupakan kandidat Hokage mendatang sehingga membuat para shinobi juga menghormatinya.

"Kakashi-sensei, kumohon biarkan Rias menjelaskan dulu siapa dirinya." Ucap Naruto dengan tatapan serius sehingga membuat ninja peniru itu mengganguk setuju.

"Baiklah. Lagipula kita belum mengenal dia secara jelas." Balas pria itu dengan nada santainya.

"Jelaskan secara detail sampai ke hal paling kecil." Ucap pemuda raven disamping Kakashi yang menatap Rias menggunakan mata merah berpola anehnya.

"Tenanglah, Sasuke." Tahan Kakashi sehingga membuat pemuda itu menurut dan memilih menunggu penjelasan keluar dari mulut Rias.

Sementara itu, Rias yang mendengarnya hanya bisa menarik nafas panjang. "Baiklah, akan kuceritakan mengenai diriku. Namaku adalah Rias Gremory dan aku adalah Iblis (Akuma)." Ucapnya sembari memamerkan sepasang sayap kelelawar yang membuat semua orang di ruangan membulat matanya tak percaya.

"A-Akuma?!" Salah seorang Anbu diruangan tersebut terjatuh dalam keadaan duduk karena terkejut. Mungkin dia masih hijau. Sementara itu, Kakashi menatap tajam Rias. "Lanjutkan." Ucapnya.

"Aku tidak tahu kenapa aku bisa kesini. Yang terakhir aku ingat adalah bahwa diriku kalah melawan Kokabiel dan menerima serangan langsung darinya. Kupikir aku sudah mati, namun rupanya diriku malah terbangun dan berada disini." Ucapnya dengan nada murung. Air matanya sedikit mengalir keluar dari tepi kelopak karena mengingat para teman-temannya.

"Kokabiel?" Nama yang asing sekali ditelinga mereka. Sementara itu, Kurama yang dari tadi diam kemudian menanyakan sesuatu padanya.

"Hmm, kalau boleh tahu kau berasal dari mana?" Tanyanya dengan nada penasaran.

"Aku berasal dari sebuah Negara bernama jepang." Ucapnya dengan nada lesuh.

'Jepang?' pikir mereka semua dengan nada bingung. Sebuah nama yang asing sekali karena tidak ada dalam peta dunia Negara seperti itu.

"T-tunggu! J-jangan bilang kalau kau…" "Berasal dari dunia lain." Sasuke memotong ucapan Naruto sembari melangkah maju menghampiri gadis tersebut. "Maaf bila ini kurang menyenangkan. Tapi aku harus memastikan kebenaran ucapanmu." Ucap Uchiha terakhir tadi sembari menatap mata Rias dengan mata merahnya.

"Sharingan!"

Sementara itu, Naruto yang melihatnya cuma bisa diam karena Sasuke memang memiliki tugas untuk itu. Bukankah terlalu naïf bila mempercayai orang secara terang terangan. Meskipun Naruto tahu bahwa Rias bukanlah orang jahat namun belum tentu para rekannya percaya akan hal itu.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Selesai." Ucap Sasuke sambil membaringkan Rias yang masih tertidur ke ranjangnya. "Kakashi, orang ini tidak bohong. Menurut apa yang kulihat, dunia mereka memiliki kepercayaan akan suatu agama dimana terdapat tiga fraksi berkuasa disana. Akuma, Da-Tenshi, serta Tenshi. Mereka bertempur sampai membuat Tuhan mereka terbunuh." Ucapan Uchiha satu ini membuat Kakashi mengernyitkan jidatnya bingung mendengar Tuhan bisa terbunuh.

Tanpa menghiraukan pandangan bingung semuanya, Sasuke tetap melanjutkan penjelasannya. "Akibat peperangan itu, ketiganya mengalami kerusakan parah. Untuk mengantisipasi punahnya ras iblis, para iblis membuat sistem reinkarnasi dimana para manusia dapat menjadi iblis. Sementara itu, para manusia dunia sana diberkahi oleh sebuah alat bernama Sacred Gear. Alat ini merupakan semacam berkah dari Tuhan bagi para manusia yang lemah disana. Dari semua Sacred Gear, terdapat tiga belas varian dari mereka yang merupakan alat yang mampu membunuh Tuhan. Alat tersebut dinamakan Longinus." Sasuke menghentikan ucapannya dan menatap bergantian para Anbu ditempat itu. "Sharingan!" Semuanya langsung ambruk di tempat dan membuat Kakashi menatap bingung Uchiha satu ini.

"Apa maksudnya ini?" Tanya Kakashi dengan tatapan bingung sekaligus waspada karena jarang sekali Uchiha satu ini berbuat demikian.

"Semakin sedikit yang tahu akan semakin baik." Ucapnya singkat. "Gadis itu, merupakan salah satu dari 34 klan iblis yang masih aktif. Dirinya menjaga sebuah kota bernama Kuoh di Negara Jepang. Dirinya memiliki semacam budak untuk membantunya bekerja. Diantara para budaknya ada seorang remaja bertabiat mesum dengan Nama Hyodou Issei pemilik Longinus Boosted Gear di mana seekor naga tersegel di dalamnya." Jelasnya panjang lebar membuat Naruto semakin menemukan titik terang dari permasalahan ini.

"Gadis ini, kedatangan seorang veteran perang dari fraksi Da-Tenshi bernama Kokabiel. Budaknya serta dirinya berhasil dikalahkan dengan mudah karena perbedaan daya tempur. Namun, pada saat-saat terakhir, tubuh gadis ini tersedot oleh sebuah portal dimana mataku sempat menyimak secara gabur seorang pria berambut putih dengan beberapa ekor makhluk raksasa di belakangnya tersenyum pada gadis tadi." Ucapan Sasuke mengenai pria itu membuat Naruto teringat pada orang yang menginterupsi pertarungannya melawan Grendel.

"Sasuke, aku pernah melihat orang yang kau maksud. Dia mampu mengendalikan para makhluk tadi. Sementara para makhluk tersebut sungguh kuat. Salah satunya bernama Grendel. Bahkan jurusku hanya bisa melukainya sedikit sekali." Mendengar ucapan Naruto, Kakashi mengurut kepalanya membayangkan betapa sulitnya lawan yang akan mereka hadapi. "Namun, mereka tidak akan datang dalam waktu dekat ini. Setidaknya itu yang sempat kudengar." Ucap pemuda pirang ini dengan nada lega.

Mendengar hal tersebut, Kakashi menghembuskan nafas leganya. Sementara itu, Kurama yang masih menatap Rias tiba-tiba saja berucap. "Apa yang akan kita lakukan pada gadis ini?" tanyanya entah pada siapa.

Mendengar hal tersebut, Kakashi tiba-tiba saja mendapat ide gila. "Ah, begini saja. Aku akan menggunakan otoritasku sebagai Hokage kali ini. Masalah ini akan kurahasiakan sampai Sasuke mendapatkan titik terang dari semuanya." Ucapnya sambil tersenyum dari balik maskernya.

"Otoritas?" Tanya Kurama bingung.

"Ya, Otoritas." Kata Kakashi tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Beberapa Hari kemudian"EHHH?!" Semacam teriakan heboh melanda kantor Hokage pagi ini. Pekik itu keluar dari mulut seorang pemuda berambut pirang dan juga seorang gadis bermata merah. Keduanya masih mematung menyaksikan seorang gadis berambut merah panjang mengenakan sebuah rompi jounin dan juga celana baggy tersenyum kepada mereka. Tak lupa sebuah Hittai-ate Konoha membalut lengan kanannya.

"K-Kakashi-sensei, apa maksudnya ini?" Naruto, pemuda pirang tadi menunjuk gadis berambut merah tersebut dengan tatapan tak percaya. Baru saja dua hari dirinya dan Kurama pergi melakukan misi dan sekarang dia mendapat kejutan seperti ini.

Kakashi yang mendengarnya cuma tertawa ringan. "Ha, ha, ha! Dengan hak otoritasku sebagai Hokage. Maka kupikir sebaiknya Gremory-san menjadi seorang Shinobi Konoha selagi Sasuke menyelidiki semua ini. Lagipula dengan menjadikannya shinobi akan membuatnya secara langsung berada dibawah pengawasanku ketimbang menjadikannya warga sipil dan menyekapnya hingga membuat Cvilian curiga." Ucapnya dengan nada riang sambil membuka novel erotis favoritnya, Icha-Icha Paradise.

"T-tunggu dulu! Tapi bagaimana bisa dia semudah itu jadi Shinobi? Apalagi langsung Jounin?" Tanya Naruto tak percaya.

"Ah, kau lupa? Uzumaki selalu diterima oleh Konoha." Kata Kakashi sambil menunjuk rambut merah Rias. "Lagipula aku yakin Gremory-san juga tak punya pilihan lain selain mengikuti rencana ini." Ucapnya sambil menunjuk Rambut merah Rias yang identik sekali dengan cirri khas klan Uzumaki. Klan ibu Naruto.

'Dasar penipu kelas kakap!' Batin Kurama dan Naruto bersamaan. Memanfaatkan warna rambut, Kakashi berhasil meyakinkan para tetua dan para civilians agar memasukkan nama seorang Rias Gremory yang dibuatnya menjadi Uzumaki Haruka sebagai bagian dari Shinobi Konoha. Untunglah, para tetua seperti Koharu dan Homura tidak sekeras batu lagi kepalanya karena sudah mendapat tamparan keras dari perang Shinobi terdahulu hingga meluluhkan ideologi kaku yang selalu dipegang mereka. Beruntung pula Danzo sudah mati dibunuh Uchiha yang kini berleha-leha mondar mandir keluar Konoha menjaga desa kelahirannya itu. Sehingga membuat semuanya mengalir sesuai rencana.

Mendengar hal tersebut, Rias hanya bisa tersenyum lemah. "Ah, Hatake-san benar. Lagipula aku belum bisa menemukan jalan pulan saat ini. Selama lawan yang misterius itu belum bisa kutemukan maka aku akan melakukan pelayanan penuh sebagai bagian dari desa Konoha." Tampaknya Kakashi meluangkan banyak sekali waktu untuk menjelaskan kondisi dunia mereka yang berbeda dari dunia tempat gadis ini berasal.

"Bagus, bagus. Dan inilah misi pertama kalian sebagai Tim baru. Kuberi nama tim ini Tim Hikari." Ucap Kakashi sambil tersenyum senang.

"Hikari?" Tanya Kurama bingung.

"Ya, karena rambut kalian bertiga membuat mataku sakit." Ucapnya dengan nada asal.

Mendengar hal tersebut, Api didalam hati Kurama berhasil disulut dengan sukses oleh Hokage satu ini. "Apa kau bilang?! Dasar makhluk hentai!" Katana ditangan kanannya terayun kencang namun untunglah Naruto berhasil menahannya dari belakang sedangkan Rias hanya bisa berkeringat dingin melihatnya.

'Ya, Timku yang baru unik sekali…'

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Namaku Kurama, Yoroshiku!" Jabat Kurama dengan mantap kepada Rias. Sementara Rias membalasnya dengan senyum tulus.

"Rias Gremory. Salam kenal." Ucapnya dengan lembut. Dia bersama Kurama dan Naruto kini sedang menikmati ramen Ichiraku dimana Naruto dipalak mentraktir Rias atas inisiatif Kurama sebagai tanda perkenalan. Naruto yang baru saja turun gaji terpaksa mengurangi porsi ramen kesukaannya bila tidak ingin makan sampai misi barunya ini selesai. Memang, Jounin memiliki gaji yang lebih banyak. Akan tetapi, hidup ini bukan untuk makan saja bukan? Meskipun pemuda pirang ini menyisihkan setengah penghasilannya untuk menyumpal perutnya dengan ramen.

Slurrp! Slurrp! Slurrp!

Kurama memakan mangkuk permangkuk ramennya layaknya meminum air mineral. Naruto yang penggemar fanatik ramen jadi tidak bersemangat makan bila mantan bijuu itu berada disampingnya karena dia tahu kalau gadis ini makan maka bonnya akan langsung jatuh ke 'Gama-chan' milik pemuda pirang itu karena gadis ini menghabiskan gajinya untuk membeli gulungan serta perlengkapan shinobi yang setiap minggu pagi ditayangkan di sebuah acara belanja online.

Online? Ya, semenjak perang dunia Shinobi berakhir setiap Negara membuka diri mereka dalam dunia perdagangan secara luas karena memahami bahwa sudah bukan jamannya lagi berseteru akibat ideologi egois mereka. Hal ini membuat para peneliti Shinobi mengembangkan sebuah jaringan komunikasi yang canggih dimana cakra ditebar pada ketinggian tertentu untuk menyampaikan informasi baik berupa gambar maupun suara yang diubah dalam bentuk kode sehingga mampu dikirim lebih cepat kenegara lainnya. Mereka mempelajari prinsip batangan hitam gedomazo untuk mentransmisikan cakra keudara. Sehingga tidak mengherankan bila sekarang ditemukan semacam menara menjulang tinggi di sekitar desa ataupun jalan sebagai transmitter cakra tadi. Meskipun konsep seperti ini sudah pernah ada namun penemuan kali ini merupakan versi lebih maju dari sebelumnya sehingga mempermudah kehidupan para manusia di dunia itu.

"Naruto, kenapa kau lesu sekali?" Tanya Rias dengan tatapan khawatir melihat pemuda pirang disebelahnya nampak lesu memainkan sendok kuah ramennya tanpa menyeruput kuahnya. Gadis itu sendiri mengakui kelezatan ramen Ichiraku yang menggoyang lidah. Namun melihat orang di sebelahnya seperti memberikan reaksi sebaliknya.

Mendengar pertanyaan Rias, Naruto hanya tersenyum lemah. "Tidak ada apa-apa. cuma aku merasa bahwa seharusnya aku mengambil misi lebih banyak lagi." Ucapnya sambil kembali menyeruput kuah ramennya. Teuchi yang mendengarnya hanya bisa tertawa kecil saja. Setidaknya pria setengah baya itu merasa lega Naruto tidak hidup sendiri lagi sekarang.

Sementara itu, Kurama tidak menghiraukan mereka semua dan terus saja menikmati makanannya. "Meshi-meshi!" teriaknya riang.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Sementara itu, disebuah gua gelap tengah berdiri seorang pria dengan jubah hitamnya tengah menatap kearah mulut gua dimana cahaya bersinar terang dari ujungnya. Akhirnya, pemuda itu memilih berjalan keluar dan menampakkan wajahnya. Sebuah wajah tampan namun sarat akan aura jahat menyeruak dari tubuhnya.

"Uzumaki Naruto…" Desisnya sambil menatap kearah langit biru cerah dengan tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan menggengam udara.

"Akan kubalaskan dendam ibu… Tunggu saja." Ucapnya sambil mengibaskan jubah hitam bermotif awan merahnya dan kemudian berjalan pergi. Dibelakangnya juga ikut seorang pemuda dengan rambut peraknya serta sebuah sabit merah bermata tiga menggerutu terus menerus.

"Kuro! Sampai kapan kita harus berjalan? Kakiku sakit tahu!" teriaknya dengan nada kesal. Sementara itu, pemuda berambut hitam yang dipanggil Kuro tadi hanya berjalan terus tanpa berhenti.

"Berisik, Hidan. Bersyukurlah kau masih bisa hidup setelah tertimbun oleh kebodohanmu sendiri. Sekarang kita harus memperoleh kekuatan kembali." Ucapnya dengan nada dingin. Kedua matanya yang berwarna hitam berubah warna menjadi ungu dengan pola riak air dan juga tiga buah tomoe menghiasinya.

"Jangan harap aku akan mati semudah itu, Naruto." Ucapnya sambil merapal beberapa segel yang rumit dan juga panjang dengan kecepatan tinggi. "Aku akan memenuhi keinginan ibuku."Bersamaan dengan berakhirnya ucapan itu, sebuah pusaran udara muncul dihadapannya dan menyeret dirinya beserta orang bernama Hidan tadi masuk kedalamnya.

Hidan yang terhisap langsung saja berteriak panik. "O-oi! Apa maksudnya ini?" Tanyanya dengan nada bingung,

Kuro hanya menjawab singkat."Kita akan berburu."Ucapnya dengan nada dingin sambil mengeluarkan sebuah batangan hitam dari telapak tangannya.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Hmm, tampaknya bukan kita saja yang bertamu kedunia ini. Tapi tamu kita juga balik berkunjung." Ucap seorang pria setengah baya yang memegangi segelas wine sambil tersenyum sinis melihat dua orang yang melompati sebuah pusaran angin dari sebuah layar transparan di langit-langit sebuah ruangan berasitektur eropa kuno. Ruangan itu terkesan memiliki ketinggian melebihi tinggi normal sebuah ruangan.

[Hmmp! Kita lihat saja nanti. Akan kucincang-cingcang daging mereka sampai halus!] komentar seekor naga dengan warna hijau kehitaman sambil mempertontonkan gigi tajamnya. Mendengar hal tersebut, pria itu hanya tertawa senang.

"Ugyahahaha! Tenang saja, Grendel-kun. Nikmatilah permainan sampai akhir. Yang menang bukanlah yang berdiri paling akhir tapi yang tertawa terakhirlah yang menang." Ucapnya sambil tertawa riang.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Sementara itu, Tim Hikari sedang duduk diatas dahan pohon sembari mengamati sebuah bangunan mirip benteng sederhana dimana terdapat banyak sekali Shinobi tanpa ikat kepala dan juga beberapa diantara mereka sedang menggiring belasan orang masuk kedalam tempat itu dengan rantai meliilit anggota tubuh para tawanan.

"Hmm, jadi itu ya gerombolan Harusame yang memperjual belikan manusia ya?" Pemuda pirang yang tak lain adalah Naruto mengamati satu persatu setiap titik strategis untuk melakukan serangan dadakan. Sementara itu, Rias yang berada disamping pemuda pirang tersebut menggeram kesal melihat perbuatan tidak manusiawi para nuke-nin itu. Tampak dari matanya seorang anak kecil sedang dicambuk hingga terkelupas kulitnya karena tersungkur akibat kelelahan.

Ctar!

Cambuk tersebut menghantam punggung tanpa baju seorang bocah tujuh tahun yang terjatuh karena kelelahan akibat dipaksa berjalan sepanjang hari. "Cepat jalan, bangsat!" salah satu dari kawanan bandit tersebut menendang bocah itu hingga membuatnya tersungkur tak sadarkan diri.

"Beraninya…" Rias mendesis kesal melihat pemandangan tersebut. Urat-urat bermuculan dari keningnya akibat naik pitam melihat pemandangan yang menohok perasaannya. Meskipun iblis, namun para iblis dari klan Gremory memperlakukan budaknya secara layak dan bukan seperti yang dia lihat sekarang.

"Tenanglah." Naruto menahan Gadis tersebut agar tidak menyerang secara membabi buta. "Meskipun kau kesal. Tapi lihatlah bahwa jumlah para musuh tidaklah sedikit dan mereka juga merupakan para ninja bayaran yang telah memiliki jam tempur tinggi." Pemuda pirang ini memahami bahwa perdamaian para desa besar membuat bisnis ninja bayaran menjadi terpuruk akibat sistem pertahanan Negara besar yang juga memberikan penawaran agar para Negara kecil mengembangkan hubungan dagang secara intensif dengan mereka sehingga membuat para Shinobi Negara besar secara tak langsung juga mengawal Negara-negara minor. Hal ini membuat para ninja bayaran banting setir menjadi bandit gunung ataupun teroris.

"Aku juga sama kesalnya denganmu. Namun, kau akan membahayakan mereka yang berada dalam kastil bila bertindak sembarangan." Ucapan Uzumaki satu ini membuat Rias mengurungkan niatnya dan memilih mengobservasi lebih lagi. "Kurama, kau serang di sebelah barat." Naruto akhirnya menurunkan instruksinya.

"…" Tak ada respon dari yang dipanggil.

Mendapati hal tersebut, Naruto dan Rias menoleh kesamping. Kemudian mata mereka membulat mendapati Gadis itu tidak ada ditempatnya. 'Kemana Kurama?!' panik mereka.

"KORA! AYO MAJU KALIAN SEMUA!" Sebuah teriakan membuat keduanya menoleh kebawah dan mendapati seorang gadis berambut jingga berlari layaknya orang kesetanan sambil mengayunkan katananya dengan wajah psikopat tercetak jelas dari wajahnya.

"…." Naruto hanya bisa menampar wajahnya saat mendapati rekannya melabrak musuhnya terang-terangan. Sementara Rias hanya bisa jawdrop melihat tingkah laku gadis itu. Tampaknya The Most Knucklehead Shinobi Konoha bukanlah pemuda pirang itu lagi melainkan mantan Bijuu tersebut.

"Fuuton: Shinku renpuu!" Kurama menembakkan sebuah vakum udara kearah para bandit yang tengah lengah tersebut.

Jrasshhh!

Beberapa dari mereka yang lengah tewas ditempat dengan perut terbelah dua. Sedangkan yang beruntung sempat bertahan dengan jurus Doton ataupun melakukan Kawarimi. Melihat ada orang gila yang mengamuk di markas mereka, para nuke-nin yang berubah menjadi bandit ini kemudian keluar seluruhnya dari sarang mereka dan menghadang Kurama.

"Gadis tengik! Beraninya kau mencari ribut disini! Akan kami tangkap dan kami perkosa kau!" Teriak salah satu dari mereka yang menelan ludah melihat tubuh Kurama. Sementara itu, gadis ini hanya menahan agar rasa mualnya tak kambuh mendengar omongan semacam tadi.

"Hah?! Apa katamu?! Sebelum itu terjadi akan kupotong *piip*mu menjadi delapan bagian!" Gadis ini mencengkram katananya dan membuat sebuah aliran Cakra mengalir dengan dahsyat kesana. "Maju!" Dia melesat dengan kecepatan tinggi sembari mengayunkan senjatanya kesegala arah. Sementara itu, Naruto hanya bisa mengurut kepalanya melihat hal tersebut.

"Naruto-kun, sebaiknya kita menolong Kurama-c han." Ucap Rias yang melihat Kurama semakin terbawa ketengah kerumunan shinobi itu. Beruntunglah tak semua shinobi tadi ahli ninjutsu. Namun, mata Naruto membulat melihat beberapa dari mereka mengeluarkan pisau dengan aliran cakra bersiap menghunus perut gadis tersebut.

"Ya, kau benar. Ayo pergi!" Ucap Naruto sambil melemparkan sebuah kunai bercabang tiga kea rah kerumunan tersebut dan menghilang dalam sebuah kilatan kuning. Rias yang melihatnya cuma bisa tertegun. Namun, dirinya kembali fokus dan melompat keudara mengepakkan sepasang sayap kelelawarnya.

"Rasenrengan!" Sepasang bola cakra berwarna biru muncul dari kedua tangan seorang pemuda berambut pirang yang tiba-tiba saja muncul ditengah kerumunan tersebut. kedua bola tadi menghanta, perut dua orang bandit yang sedang tidak beruntung tadi.

"ARRGGGGHHHHH!" Keduanya menjerit kesakitan dan terdorong kebelakang dengan cara berputar dan membuat para bandit lainnya itu terbawa dan mental.

"Kurama, jangan ceroboh! Kenapa kau malah mengamuk seperti ini?!" Naruto yang membelakangi gadis berambut jingga itu menggengam kunainya dan melesat kearah pengepung yang kembali utuh hingga mengurung keduanya ditengah.

Brukh! Trank! Trank!

Naruto melompat keudara dan menghujamkan kunai bercabang tiganya itu kearah para musuhnya. Namun, para musuhnya juga bisa menghindar dan juga memberikan serangan balasan sehingga membuat pemuda pirang ini sebentar-sebentar menghilang dalam kilat kuning dan menghajar musuhnya dari belakang.

"Berisik! Mana tahan aku melihat anak kecil seperti itu dicambuk layaknya binatang! Bahkan binatang pun tak separah itu." Ucapnya sambil menerobos kepungan dan menebas para bandit yang tidak waspada.

Mendengar hal tersebut, Naruto hanya bisa mendengus pelan. "Terserahlah. Yang penting aku tidak ingin kau terluka." Ucapnya dengan suara keras membuat gadis itu terhenti sejenak.

"K-kau bilang apa?" Gadis itu berhenti sejenak dan menatap senang kearah pemuda pirang tadi. Namun, ini merupakan kesalahan besarnya karena tiba-tiba saja ada tiga orang bandit yang berniat menghunus perutnya dengan tombak berlapiskan cakra.

Bwosh!

Sebuah sinar berwarna merah kehitaman membuat ketiga bandit tadi musnah entah kemana membuat kepungan tersebut kacau karena sebagian dari mereka mundur kebelakang ketakutan.

"Tidak akan kubiarkan kalian melukai anggota timku!" Rias ternyata yang tadi menembakkan sinar tersebut. Matanya menatap kesal para bandit tersebut disertai dengan aura iblis kelas berat yang menyeruak dari tubuhnya.

"Semuanya! Jangan takut! Serang mereka bersamaan!" Teriak pemimpin mereka. Mendengar hal itu, para bandit yang tersisa mengepung ketiganya dan merapal jurus mereka masing-masing lalu menyerang Naruto dkk.

"Katon: Gokkakyu No Jutsu!"

"Fuuton: Kamikaze!"

"Katon: Hosenka No Jutsu!"

Serangan seperti itu langsung menuju ketiganya dan siap melumat habis mereka. Namun, Kurama dan Rias menggengam tangan mereka berdua dan mengeluarkan aura iblis dan juga cakra merah gadis jingga tersebut membentuk sebuah kubah kecil yang mampu melindungi ketiganya.

BUMMMMM!

Ledakkan dahsyat terjadi dan menyisakan asap tebal yang menghalangi penglihatan para bandit tersebut. "Berhasilkah?" Tanya salah satu bandit yang mengibas asap serta debu tersebut mencoba mencari kepastian.

SRINGGGG!

Sebuah cahaya biru perlahan menghisap debu beserta asap tadi dan membuat mata semua bandit membulat tak percaya.

"Jangan…meremehkan….Shinobi…..KONOHA!" Teriak puluhan orang yang melayang diudara dengan membawa beberapa bola raksasa yang mengaraah tepat kearah puluhan bandit tersebut.

"U-uso!" Teriak salah ssatu bandit dengan tatapan putus asa.

Sementara itu, Rias dan Kurama yang selamat dari serangan tadi masih berdiam didalam kubah tadi sambil menatap Naruto yang mengamuk. "Rias, kau tahu. Inilah yang membuatku menyukainya. Dia akan mempertaruhkan nyawanya untuk timnya. Akupun akan begitu." Ucap gadis berambut jingga tersebut sambil tersenyum menatap pemuda pirang tampan tersebut menghantamkan jurusnya kearah para bandit tadi.

"Senpo: Cho Odama Rasen Tarengan!" bola-bola raksasa tersebut menghantam para bandit itu dan membinasakan mereka semua secara bersih. Sementara itu, Rias hanya bisa terkesima melihatnya sedangkan dalam hatinya terlintas wajah seorang pemuda berambut coklat yang tengah tersenyum di pikirannya.

"Iseei…"

TBC

Gomenasai! Belum balas reviewnya m_m. nanti setelah publish ini saya segera balas. Gomenasai!

Ah, akhirnya selesai juga ni chapter. Gomen yang udah lama nungguinnya. Balik lagi sama alasan sekolah dan sebagainya. Sekian untuk chapnya. Terima kasih banget buat yang udah review, fav, ataupun follow fic ini. Kalian semua luar biasa. Terima kasih.