Tittle: Reverse!

Disclaimer: Naruto dan High school DxD bukan punya saya

Genre: Adventure, Romance, etc

Pairing: Naruto x ?

Rated: M (jaga-jaga)

Summary: Uzumaki Naruto kini sedang memasuki masa keemasannya sebagai seorang Shinobi bersama dengan Kurama, Partnernya. Namun, semua itu berubah saat seorang gadis berambut merah mendarat diatas kepalanya. Apa maksud semua ini? Strong-Naru!, FemKurama!.

Warning: OOC,Typo, Harsh-word,Miss-Typo, violence, gore,etc.

Chapter 3

Sinar mentari pagi dengan tajamnya menembus celah-celah gorden putih di sebuah ruangan. Sinarnya yang hangat itu menerpa kulit mulus seorang gadis cantik yang masih terlelap dalam tidurnya. "Hmmm..." Gadis itu menggeliat pelan merasakan sesuatu yang hangat menerpa wajahnya.

"Hmm.." Kedua kelopak matanya terbuka dan memamerkan sepasang iris biru tua yang indah. "Sudah pagi ya?" Ia bertanya pada dirinya sendiri sambil menengok ke arah kanannya di mana sebuah jam weker sedang duduk berdiam diri di sana. 'Tampaknya aku bangun terlalu pagi.' Gadis dengan rambut merah panjang itu tersenyum sendiri karena merasa bahwa ia berhasil mengalahkan benda mati itu kali ini.

Tanpa membuang banyak waktunya, ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menyambar sebuah handuk yang berada di sebuah gantungan dekat balkon kamarnya. "Sebaiknya hari ini mandi saja." Ujarnya dengan senyum kecil terlukis dari wajahnya.

Begitulah kehidupan Rias Gremory seminggu ini kiranya. Semenjak dirinya masuk ke dunia Shinobi dan menjadi salah satu Shinobi Konoha, pemilik rambut crimson ini menyibukkan dirinya untuk urusan-urusan yang berkaitan dengan pelayanan terhadap Konoha. Tutur katanya yang ramah serta wajahnya yang rupawan membuat dirinya cepat terkenal diantara para Shinobi Konoha lainnya. para Kunoichi junior mengaguminya sebagai seorang model wanita ideal sementara para pria tentu saja diam-diam menyimpan hati pada gadis cantik ini. Namun, mereka tidak berani terlalu berbuat banyak untuk mengambil inisiatif karena Kurama sang Kunoichi sadis dari desa mereka selalu menempel pada gadis ini.

Namun, hari ini adalah sebuah hari yang lumayan berbeda bagi seorang Rias Gremory. Dirinya yang semalam baru saja pulang dari desa Sunagakure setelah mengawal Kazekage desa tersebut bersama timnya pagi ini bisa bangun lebih pagi ketimbang hari-hari biasanya.

"Hmm, kulkasku kosong?" Rias menatap kecewa pada kulkasnya yang ternyata hanya berisi sekotak susu. 'Sebaiknya aku pergi ke pasar.' Gadis itu merogoh dompetnya dan melihat bahwa uangnya ternyata masih cukup banyak setelah ia habiskan sebagiannya untuk membayar sewa apatermen miliknya ini. Seorang bangsawan tinggal di kos? Ya, itulah kenyataan yang dihadapi oleh Rias. Mungkin saat di dunia asalnya sebuah mansion merupakan gubuk sederhana baginya. Namun, saat ini sebuah apatermen sederhana merupakan sesuatu yang secara mengejutkan menyenangkan baginya.

Kembali lagi pada Rias. Setelah memutuskan untuk pergi ke pasar, gadis inipun mengambil sendal miliknya dan sebuah keranjang belanja sebelum akhirnya siap pergi berbelanja.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Ohayou, Haruka-chan." Seorang nenek tua yang sedang sibuk menyiram bagian depan rumahnya dengan air menyapa Rias yang memiliki nama samaran Uzumaki Haruka dengan senyuman ramah khas orang lanjut usia.

"Ohayou, Obaa-san." Senyum lembut gadis itu berikan kepada nenek tadi. Dirinya menunduk sedikit sebagai bentuk hormat sebelum melanjutkan perjalanannya menuju pasar untuk membeli persediaan dapurnya. Meskipun ia seorang bangsawan, namun keluarganya mengajarkan gadis muda itu agar tidak terlalu bergantung dengan orang lain. Dan ajaran itu ternyata berguna banyak baginya sekarang. Walaupun tidak memiliki kehidupan glamor seperti sedia kala namun entah kenapa hari ini tidak terlalu buruk baginya.

Tap!

Rias yang berjalan beberapa saat tak terasa melewati daerah kuburan Konoha. Disana kedua iris birunya melihat seorang pemuda yang sangat ia kenal sedang berdiri di depan dua buah pusara. Karena penasaran, dirinya memutuskan untuk mendekati pemuda itu.

Sementara itu, pemuda yang sedang berdiri di depan kedua pusara yang letaknya berdampingan itu. Kedua matanya menatap lekat kedua batu nisan bertuliskan 'Namikaze Minato' dan juga "Uzumaki Kushina' yang terlihat baru dibersihkan itu.

Dirinya membakar dua pasang hio yang kemudian ia bagikan kepada masing-masing pusara tersebut satu pasang untuk setiap makam. Tak lupa juga ia menaruh persembahan berupa dua buah piring kecil berisi kue manju.

Pemuda itu diam sejenak menatap kedua makam itu. Angin pagi yang lembut membelai halus surai pirangnya membuat sosok itu begitu menawan meskipun saat ini wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit digambarkan.

"Kaa-san...Tou-san..."Pemuda itu tersenyum lemah. "Maaf tidak mengunjungi kalian setahun terakhir." Ujarnya dengan nada menyesal. "Rasanya aku menjadi anak yang tidak berbakti akhir-akhir ini. Namun, kalian berdua jangan khawatir. Aku baik-baik saja disini. Kuharap kalian berdua juga baik-baik saja di sana. semoga ibu tidak menyusahkan ayah di alam sana." Dirinya tertawa lemah membayangkan bagaimana wajah kedua orang itu bila melihatnya sekarang. Usia dua puluhan, mapan, dan masih membujang. Entah apa yang ibunya katakan sekarang bila ia masih berada bersamanya.

"Ha, ha, ha. Kurasa Kaa-san tidak akan senang bila mendengar anaknya ini masih membujang. Maaf, tapi aku kurang pandai soal memilih wanita. Terlebih lagi impianku belum juga tercapai." Dirinya menatap makam sang ayah. "Aku berjanji akan melampauimu suatu hari nanti." Ujarnya dengan senyum lembut. Ya, pemuda yang tak lain adalah Uzumaki Naruto tersebut. Dirinya saat ini sedang mengunjungi makam kedua orang tuanya yang baru beberapa tahun lalu dipindahkan ke pemakaman umum desa atas keinginannya. Dirinya biasa mengunjungi makam orang tuanya itu kala pulang dari misi yang jauh untuk sekedar berdoa ataupun bercerita mengenai misinya. Menyedihkan? Rasanya tidak. Pemuda itu sendiri yakin kedua arwah orang tuanya mendengar semua ceritanya di alam sana. apalagi setelah melihat perang dunia Shinobi keempat yang sebenarnya merupakan perang paling tidak logis di mana orang mati melawan orang hidup.

Kemudian, kala pemuda itu sedang sibuk-sibuknya bercerita pada orang tuanya tiba-tiba Rias berdiri di belakang pemuda itu dengan tatapan penasaran. "Naruto-kun, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanyanya dengan nada penasaran. Gadis itu berjalan pelan dari tadi mengamati pemuda yang berbicara pelan namun masih bisa didengar oleh gadis itu sendirian. Tentu saja itu membuatnya bingung.

Naruto menoleh kebelakang dan mendapati Rias sedang berdiri di sana dengan wajah bingung melihatnya. "Oh, Rias." Dia sedikit terkejut menyaksikan kehadiran gadis itu. Biasanya hanya dia saja yang berada di makam ini pada pagi hari seperti ini. Tentu ia tidak mau dianggap gila karena bicara sendirian di depan makam kedua orang tuanya.

Dengan lagak sedikit canggung Naruto menjawab pertanyaan Rias. "Begini, aku sedang menyembahyangi kedua orang tuaku. Sudah setahun ini aku tidak menemui mereka." Ujarnya dengan senyum malu karena ia yakin gadis itu mendengar 'curhatan'nya tadi.

Sementara itu, Rias yang mendengarnya ber'oh' ria. Dirinya kemudian menaruh belanjaannya sejenak dan memberikan penghormatan sejenak dengan gaya Shinto karena melakukan doa dengan gestur layaknya pengikut injil merupakan tindakan bodoh bagi iblis sepertinya.

Dengan tatapan tidak enak Rias mencoba bertanya pada Naruto. "Ano, jujur aku baru tahu kalau orang tua Naruto-kun sudah meninggal." Ujarnya dengan nada sedikit takut-takut karena tak ingin menyinggung perasaan pemuda itu.

Naruto yang memahami kekhawatiran Rias hanya tersenyum ramah. "Tak apa. Aku juga baru beberapa tahun ini mengetahui kalau mereka merupakan orang tuaku." Ujarnya dengan senyum lembut.

"Maksudmu?" Rias melirik bingung pada pemuda pirang di sebelahnya itu.

Karena menggangap gadis ini sebagai salah seorang teman dekatnya, Naruto memutuskan untuk berbagi sedikit cerita mengenai dirinya. "Begini, sejak lahir kedua orang tuaku sudah meninggal karena suatu peristiwa yang mungkin kamu sudah pernah dengar. Sejak itulah aku hidup sendirian. Rasanya tentu berbeda bila hidup tanpa kedua orang tua berada di sampingmu. Namun, hidup harus terus berjalan. Beruntunglah teman-temanku selalu menyertaiku." Dengan tawa pelan Naruto mencoba membuang aura suram yang terkandung dalam ceritanya itu. Ia tak ingin orang merasa kasihan padanya. Baginya hidup yang ia miliki sekarang merupakan anugerah tersendiri yang berasal dari kedua orang tuanya hingga tidak etis rasanya bagi pemuda itu jika orang-orang menatapnya dengan tatapan iba setelah mendengar ceritanya.

Rias terdiam. Ia baru tahu bagaimana sesungguhnya betapa beratnya jalan hidup seorang Uzumaki Naruto. Dirinya memang pernah mendengar bahwa pemuda itu dulu dijauhi oleh penduduk desa karena di dalam tubuhnya terdapat seekor monster Rubah yang sekarang ia kenal dengan nama Kurama. Namun, ia baru tahu kalau pemuda ini pernah mengalami penderitaan hidup terberat yang bahkan ia tidak bisa bayangkan. Sendirian sejak ia mengenal dunia.

"Nee, lalu apakah kamu pernah melihat wajah keduanya?" Tanya Rias yang masih penasaran.

"Aku bahkan pernah bicara dengan keduanya." Ujar Naruto yang membuat alis Rias berjengkit naik karena bingung.

"Maksudmu?" Rias menatap pemuda itu dengan tatapan bingung.

"Maksudku? Begini, ada beberapa kejadian yang unik dalam dunia Shinobi ini yang bisa membuat kita bertemu hal-hal di luar dugaan. Salah satunya yang tadi. Aku sempat bicara dengan mereka berdua walaupun tidak dalam waktu yang sama. Tapi, aku jadi tahu kalau ayahku adalah seorang pria hebat yang takut pada istrinya serta ibuku merupakan wanita cantik serta baik namun mengerikan bila sudah marah." Ucapan Naruto ini mau tidak mau membuat Rias terkikik pelan. "tapi, satu hal yang pasti bahwa mereka berdua merupakan orang tua yang peduli padaku. Mungkin bukan yang terbaik diantara orang tua lainnya tapi mereka tetap yang terbaik bagiku." Lanjutnya sambil menatap pusara kedua orang tuanya tersebut dimana asap Hio bertiup halus membawa doa serta harapan pemuda pirang tersebut kepada Minato dan juga Kushina.

Rias tersenyum senang mendengarnya. "Ya, semua orang tua pasti melakukan yang terbaik untuk anaknya." Gadis itu kemudian menepuk pundak Naruto. "Hey, mau ikut denganku sebentar?"

"Baiklah."

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Berat. Itulah kata yang ingin Naruto ucapkan sedari tadi namun tidak bisa ia lepaskan karena tak ingin membuat gadis di sebelahnya itu kecewa.

'Rasanya ia belanja terlalu banyak untuk dirinya sendiri.' Pemuda pirang itu nampak kesusahan menjinjit beberapa kantung belanja yang isinya bermacam perlengkapan dapur serta bahan makanan milik Rias. Sementara itu, gadis itu masih sibuk memilih daging di sebuah toko.

"Aku harus cari tempat duduk." Pemuda itu dengan langkah tertatih berjalan menuju sebuah bangku milik kedai dango yang masih belum buka. Dirinya segera menaruh belanjaan Rias yang kelewat banyak itu di bangku tersebut sekalian duduk di sana.

"Kenapa dia belanja banyak sekali ya?" Gumam pemuda pirang itu dengan tatapan bingung yang ia arahkan pada gadis tersebut. dirinya melirik jalanan di sekitarnya di mana kadang kala para pejalan kaki tersenyum ramah menyapanya. 'Semua memang sudah berubah.' Pikirnya dalam hati. Ia masih ingat belasan tahun silam saat para warga desa menatapnya dengan tatapan jijik layaknya melihat sampah ataupun sinar kebencian yang terarah jelas padanya kala berjalan pulang akademi. Namun, kini mereka semua sudah menerima dirinya serta mengakui bahwa di desa Konoha ada werganya yang bernama Uzumaki Naruto.

"Oi, Naruto. Banyak sekali belanjaanmu?" Diantara kerumunan orang yang lewat, tampak seorang pria dengan rambutnya yang ia ikat ke atas seperti nanas. Ialah Nara Shikamaru sang kepala intelejen Konoha saat ini. Dengan otak level atas miliknya bukanlah hal sulit untuknya menjadi seorang anggota intelejen.

"Oi, Shikamaru! Lama tidak melihatmu." Sapa balik Naruto. Pemuda pirang itu meskipun satu desa dengan laki-laki tersebut namun dirinya cukup jarang bertegur sapa dengan rambut nanas tersebut mengingat ia sering sekali keluar desa mengemban misi yang Kakashi berikan. Akan tetapi, ia masih ingat saat dirinya menghadiri pernikahan Shikamaru dengan Putri padang pasir Temari yang ia kenal galak bagaikan macan.

"Harusnya aku yang berkata begitu padamu." Shikamaru berjalan mendekati pemuda itu. "Jadi, sedang apa kamu di sini dengan belanjaan sebanyak itu?" Kedua mata hazel tersebut melirik belanjaan Naruto yang ia anggap tidak masuk akal. Apalagi mengingat manusia satu itu hanya bisa membuat ramen instan.

Naruto menghela nafasnya. "Bukan aku. Tapi dia." Tunjuknya pada sosok Rias yang masih berbincang-bincang dengan tukang daging. "Kamu tahu sendirikan aku tidak bisa masak." Memang menyakitkan bagi bujangan seperti dirinya. Usia siap nikah namun masih menyendiri dan setiap hari keluyuran mencari makan.

"Oh." Pria Nara itu menyahut singkat. Kedua matanya menatap Rias dari jauh sejenak memperhatikannya dari atas kebawah. "Naruto, jadi kamu pilih dia atau Kurama? Atau Hinata?" Tanya Shikamaru secara tiba-tiba yang membuat Naruto mendelik bingung.

"Pilih? Maksudmu?" Dirinya bertanya balik pada Shikamaru sembari merogoh kantong belanjaan miliknya dimana sekaleng minuman isotonik ia ambil.

"Siapakah yang kamu pilih jadi calon istri." Jelas pemuda itu yang sukses membuat Naruto tersedak saat tengah menenggak minumannya.

"Uhuk! Uhuk!" Dengan terbatuk-batuk ia menatap nanar pada sosok kepala intelejen tersebut. "H-hey, kurasa pertanyaanmu itu aneh sekali! Kenapa orang-orang yang tidak ada hubungannya denganku malah kamu kaitkan denganku?!" Ujarnya dengan tatapan terkejut. "Kau tahu sendirikan Kurama itu sebenarnya lebih dekat dengan Kakashi, Hinata saat ini sedang menyibukkan dirinya sebagai pendamping Hanabi. Dan Haruka? Dia itu satu klan denganku tahu?!" Tentu saja yang terakhir itu bohong. Tapi dirinya tidak berbohong kalau menikahi salah satu diantara ketiganya bukanlah sebuah opsi yang ada di otaknya.

"Terserah." Shikamaru menjawab malas pertanyaan pemuda itu. Rasanya ingin ia hantam kepala anak Yondaime Hokage itu dengan batu bata di dekat bangku tempatnya duduk agar membuat mata hati bujangan itu terbuka. "Tapi, ini sudah saatnya bagimu untuk punya pasangan hidup, Naruto. Chouji saja yang kelihatannya paling mengkhawatirkan diantara kita semua malah akan menikah bulan depan." Pemuda Nara itu menghantamkan kata-kata telak yang menohok hati seorang Naruto.

"Y-ya, kamu tahu sendirikan menikah itu bukan perkara gampang. Calon istriku harus tahu bahwa hidupku selalu penuh dengan resiko. Ditambah lagi rasanya tidak ada wanita yang mau serius denganku bila mengetahui hidupku yang membosankan ini." Naruto tertawa getir membayangkan bagaimana membosankannya hidup calon istrinya bila nanti bersanding dengan dirinya. Setahun hanya pulang beberapa kali dalam setahun. Rasanya tidak ada wanita yang mau ditinggal berbulan-bulan oleh sang suami tanpa ada kepastian sang suami pulang selamat atau tidak.

"Kau terlalu banyak berpikir." Shikamaru tersenyum tipis mendengar keluh kesah sahabatnya itu. "Buktinya Sasuke masih bisa bersama dengan Sakura walaupun misinya lebih banyak darimu."Ia mencoba menjatuhkan skakmatnya pada Naruto.

"Terserah." Naruto mengaku kalah. "Intinya menikah belum ada di pikiranku saat ini. Jadi Hokage saja belum." Lanjutnya lagi dengan mengeluarkan senjata andalannya kala ditanya kapan menikah. Entah menyedihkan atau tidak tapi rasanya kebanyakan orang langsung mangut mengerti bila dia sudah berkata demikian.

"Baik, baik. Sebaiknya setelah gelar Hokage ada di tanganmu maka undangan pernikahanmu segera darang padaku keesokan harinya." Shikamaru kemudian kembali melanjutkan langkahnya. "Nanti kita bicara lagi. Aku harus membeli titipan Temari." Ujarnya sambil memberikan lambaian sampai jumpa pada Naruto. "Ah, mendokusai." Desahnya sambil menghirup batang rokok miliknya.

"Oke!" Sahut Naruto dengan ramah. Pemilik surai pirang itu terkikik sendiri mendengar perkataan terakhir Shikamaru tadi. 'Siapa suruh kamu menikah.' Batinnya tertawa jahil.

Tap! Tap! Tap!

"Naruto-kun, aku sudah selesai belanja." Rias yang baru saja selesai berbelanja menghampiri pemuda pirang itu. "Setelah ini kita kerumahku ya. Aku akan memasakkan sarapan untukmu." Tawar gadis itu yang membuat Naruto merasa segan.

"Ano, apakah itu tidak merepotkanmu?" Tanyanya dengan wajah ragu. Selama ini ia terbiasa makan sendiri di kedai ramen. Kurama yang merupakan partnernya merupakan peracik racun dan bukan seorang koki. Sementara Hinata yang masakannya lumayan enak menurut Naruto malah jarang menemuinya sekarang setelah ia dan Kurama sering bepergian menjalankan misi.

"Tentu tidak." Rias menggeleng pelan. "Rasanya aku yang kurang sopan setelah meminta tolong padamu seperti ini malah tidak memberikan apa-apa."Tambahnya yang membuat Naruto akhirnya setuju untuk singgah ke rumah gadis tersebut.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Setibanya di rumah Rias, Naruto langsung membantu gadis itu menata belanjaannya meskipun gadis itu menolak. Namun, dirinya tetap bersikeras membantu karena tak ingin kerjaannya setengah-setengah.

Selesai menata belanjaan, pemuda itu disuruh untuk menunggu di sebuah meja pendek yang biasanya dijadikan kotatsu pada musim dingin. 'Apatermen miliknya lebih besar daripada milikku.' Pikirnya saat menyaksikan tempat tidur yang masih berdekatan dengan dapur miliknya terlihat jelas tanpa dibatasi oleh dinding. Sementara itu, tak jauh dari tempatnya duduk terdapat sebuah televisi berukuran sedang dan juga sebuah laptop yang terlipat rapi di dekat TV tersebut. 'Tampaknya Kakashi memperhatikan sekali kebutuhan Rias.' Pemuda pirang itu yakin sekali kalau dengan semua peralatan yang ada di sini merupakan pemberian sang Hokage karena gaji seorang Jounin baru dibayarkan akhir bulan sedangkan sekarang baru tanggal 15.

"Naruto-kun, apakah makanan kesukaanmu? Kebetulan aku membeli banyak sekali persediaan." Rias yang masih sibuk memotong daging menoleh sebentar pada pemuda pirang itu.

"Kesukaanku? Tentu saja ramen." Jawabnya sambil tersenyum lebar. Namun, Rias yang tangannya kanannya masih memegang pisau membalik badannya dan menggoyang-goyangkan pisau tadi sebagai tanda tidak boleh.

"Tidak. Kau harus makan makanan lain yang lebih bergizi selain itu." Gadis itu menatap tajam pemuda pirang di depannya. "Setiap hari makan mie tidak baik tahu."

"Tapi, ramen kan punya topping yang bergizi. Kita bisa dapat telur rebus, daging, dan sayuran juga." Naruto mencoba menyangga pendapat gadis itu namun nampaknya semua bantahannya tidak berpengaruh terhadap pendirian Rias. Akhirnya, gadis itu memasakkannya makanan lain.

Naruto hanya bisa menunduk lesu mendengar perkataan Rias. Keduanya lalu tenggelam dalam kesibukkannya masing-masing. Naruto sibuk membuka ponsel miliknya dan mengecek jejaring sosial miliknya. Ponsel? Ya, salah satu dari sekian banyak inovasi Shinobi eranya melahirkan benda ajaib yang bisa digunakan untuk berkomunikasi ataupun bersenang-senang itu. "Ukh!" Naruto mengelus dadanya perlahan melihat foto Chouji sang sahabat yang tersenyum senang bersama seorang perempuan yang ia kenal sebagai Karui dari desa Kumo sedang mengenakan pakaian pengantin untuk pernikahan keduanya bulan depan. 'Dunia memang tidak ada yang bisa tahu.' Kenangnya saat perempuan itu menghajarnya sampai babak belur saat Sasuke membuat ulah di desa Kumo. Namun, sekarang inilah yang terjadi. Karui yak lebih dari seorang wanita muda yang sedang bahagia karena akan melepas masa lajangnya dengan laki-laki pujaannya. Dan itu Chouji.

"Ano, naruto-kun. Kira-kira Kurama-chan sedang apa sekarang?" Rias bertanya pada pemuda di belakangnya itu. Dirinya terbiasa bangun siang sehingga kurang tahu apa saja yang orang-orang lakukan sepagi ini.

"Dia kupastikan masih tidur. Aku jamin itu." Pemuda yang tinggal seatap dengan mantan bijuu itu memasang wajah serata jalan tol mengingat kalau gadis itu biasanya akan molor sampai menjelang siang bila sedang akhir pekan seperti sekarang. "Semalam dia menonton drama sampai pagi. Jadi aku pastikan dia masih tidur sekarang." Tambahnya mengingat kalau dirinya juga semalam menemani gadis itu menonton hingga tengah malam.

Rias tersenyum sendiri mendengarnya. "Begitukah? Menyenangkan juga ya menonton drama tengah sampai pagi." Dirinya membayangkan keduanya saat bersama.

"Entahlah, aku kurang yakin. Dramanya membuatku ngantuk." Jawab jujur Naruto. Lagipula drama cinta yang gadis berambut jingga itu tonton baginya tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Rasanya aneh sendiri melihat seorang pemuda berwajah biasa serta mesum dikejar-kejar oleh banyak wanita.

Rias terkikik pelan mendengar jawaban Naruto. Tanpa terasa, masakan yang ia buatpun sudah selesai. Dengan telaten ia meniriskan menu buatannya itu dan membawakannya kepada pemuda pirang itu.

"Ini, ayo makan." Tawar sang gadis Gremory kepada Naruto.

"Baiklah." Pemuda itu meraih sendoknya dan meraih satu sendok penuh nasi goreng buatan gadis berambut merah itu. "Hmm..." Mulutnya mengunyah makanan tadi dan mencoba menerka rasa apa yang ada di dalam menu tersebut.

"Enak!" Serunya dengan kedua mata terbelalak tak percaya. Dirinya lalu mulai menyambar makanan tersebut secara buas. Rias yang melihatnya tersenyum puas sendiri menyaksikan ekspresi puas pemuda itu.

"Benarkah? Kalau begitu makanlah sepuasmu." Ujarnya yang membuat Naruto langsung menawarkan piringnya yang kosong tadi untuk diisi kembali. Namun, tiba-tiba saja jendela balkon milik Rias terbuka dan seorang laki-laki berdiri di sana menatap keduanya bergantian.

"Teme? Apa yang kau lakukan disini?" Naruto yang melihat sang sahabat, Uchiha Sasuke berada di sana menjadi bingung karena orang ini tiba-tiba saja nyelonong masuk.

"Naruto, Kakashi memanggilmu." Ujar Uchiha terakhir itu dengan tatapan serius.

"Kakash- maksudku Hokage-sama?" Dirinya menatap bingung.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Di tempat lain,

Dua orang laik-laki sedang berdiri di tengah kepungan sekelompok orang yang mengenakan penutup wajah. Keduanya berada di sebuah bangunan kuno yang terkesan remang dan dingin.

"Ohh, jadi ini yang namanya bulan? Menarik juga." Salah seorang dari duo itu tersenyum puas menatap sekeliling tempat ia berada. "Menarik sekali untuk persembahan dewa Jashin!" Ujarnya memutar-mutar sabit bermata tiga miliknya dengan liar.

"Siapa kalian?!" Salah satu dari gerombolan itu bertanya dengan nada memaksa. Namun, orang tersebut seketika terhempas kebelakang saat sebuah dahan kayu menembus kepalanya dan membuat tubuhnya terbelah menjadi berbagai potohan oleh dahan yang berubah menjadi pohon itu.

"Berisik." Ujar sang penyerang yang mengenakan jubah hitam bermotif awan merah itu menatap nanar sekelompok orang yang mengepung mereka. "Dimana Toneri?..." Tanyanya dengan nada mendesis.

"Toneri-sama?! Apa yang kau ingin lakukan?!" Salah satu dari mereka tampaknya menyadari maksud tidak baik orang asing tersebut. Dirinya memberanikan diri menyerang dengan menembakkan belasan bola bersinar ke arah sosok itu.

"Kuro! Cepat menghindar!" Rekannya yang berisik itu melompat menghindari serangan aneh Tadi. Namun, pria bernama Kuro itu hanya diam dan membiarkan sebuah aura hitam keluar dari tubuhnya.

"GROOARRR!" Aura tadi memadat dan membentuk sosok berjubah dengan sabit panjang berada di kedua tangannya. Suara dentingan rantai yang mengikat sosok itu membuat semua yang berada di sana bergidik ngeri termasuk rekan Kuro.

Namun, Dengan satu ayunan pelan dari tangan Kuro, sabit itu mengayun dan membuat gedung itu porak-poranda.

"Sebaiknya kalian segera keluarkan orang itu sebelum aku buat bulan terbelah menjadi dua." Desisnya pelan namun sangat mengancam.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

TBC

Ah, akhirnya fic ini update setelah sekian bulan kehabisan ide hehehe. Oke, sekian aja sih pesan dari author hahaha. Sekian untuk chapnya. Terima kasih banget buat yang udah review, fav, ataupun follow fic ini. Kalian semua luar biasa. Terima kasih.