Do you believing reincarnation?
Disclaimer : Naruto miliknya Masashi Kishimoto sedangkan Vampire Diaries miliknya L.J. Smith, saya hanya pinjam tokoh-tokohnya (kecuali si bad boy Damon Salvatore).
Main chara : Sasuke Uchiha, Sakura Haruno, Itachi Uchiha, Hinata Hyuuga, Naruto Uzumaki dan Ino Yamanaka.
Warning : Typo, OOC, AU, Sama sekali bukan Canon (kecuali kemunculan para Vampire nanti), feelnya kurang terasa.
Author : Selga Salvatore.
Summary : Mereka adalah jiwa-jiwa terdahulu. Mereka terlahir kembali dengan wajah, sifat, kondisi, dimensi dan keadaan yang berbeda dari kehidupan mereka yang sebelumnya. Tapi, bagaimana bila masa lalu mereka memaksa mereka bertemu kembali. Apakah mereka rela meninggalkan kehidupan mereka saat ini dan kembali menjalani kehidupan mereka terdahulu?
Sore itu awal musim panas ketika keluarga Haruno pindah ke kota kecil di negara bagian Virginia. Papan nama Fells Chruch berdiri tegak diantara rindangnya pepohonan yang daun-daunnya mulai berubah warna menjadi kekuningan.
Putri tunggal keluarga Haruno memandangi pemandangan yang tersaji lewat kaca mobil disampingnya bosan. Sesekali manik matanya yang sewarna dengan hijau pepohonan melirik kedua orangtuanya yang duduk di kursi depan datar.
"Sakura sayang, kamu ingat Mrs. Tsunade?" Wanita berambut pirang yang duduk di kursi depan mobil yang keluarga Haruno sewa itu memutar tubuhnya guna menatap putrinya.
Sakura, gadis berwarna rambut tak lazim -merah muda- itu mengerutkan kening tanda berpikir. "Mrs. Tsunade Senju? Temannya grandma?"
"Iya, kamu ingat dia kan?" Sakura mengangguk. "Nah, Mrs. Tsunade itu kepala sekolah Robert E. Lee High School, sekolah barumu nanti. Kalau kamu ada masalah saat di sekolah, kamu tinggal cari dia. Oke sayang?"
Sakura mengerutkan keningnya yang memang tak tertutupi poninya yang sudah memanjang. Ada yang salah disini!
"Mom. Aku tak keberatan pindah ke tempat baru. Tapi apa Mom tidak merasa aneh? Nama kota dan nama sekolahnya sama seperti yang ada di novel yang pernah aku baca. Jangan-jangan..."
"Sayang!" Mrs. Haruno memutar bola mata jengah. "Kamu itu terlalu banyak membaca buku berbau Vampire rupanya." Wanita yang telah memasuki usia 35 tahun tapi masih terlihat muda itu membalikkan badannya guna menatap putrinya yang duduk di jok belakang. "Vampire itu hanya ada di novel dan opera sabun di TV, tidak ada di dunia nyata."
Mr. Haruno yang sedari tadi sibuk menyetir mobil dan lebih memilih tak ikut campur pembicaraan Ibu-Anak itu tertawa pelan. "Benarkah? Tapi Daddy masih ingat betapa semangatnya Mom waktu menanti tayangan Buffy The Vampire Slayer, bahkan Mom sampai memaksa Sakura yang waktu itu masih balita untuk menemani Mom." Pria yang menurunkan warna rambut tak lazim pada putrinya itu geleng kepala. "Bahkan Daddy masih ingat teriakan Mom waktu Spike muncul. Jujur, Daddy sakit hati."
Sorot mata hijau dedaunan itu menajam menatap ibunya yang tengah memukul bahu ayahnya pelan. "Jadi ini keturunan Mom?"
Mrs. Haruno meringis menatap putrinya. Rasanya harga dirinya jatuh didepan putri kecilnya gara-gara omongan suaminya tadi. "Habis mau bagaimana lagi? Mom sangat sedih waktu Angel pergi dan Mom sangat tidak suka dengan kekasih-kekasih Buffy setelah Angel, lalu Spike muncul dan dia langsung menyita seluruh atensi Mom."
Sakura menatap ibunya yang mendesah itu aneh. Ibunya itu tak sadar ya kalau sekarang umurnya bukan belasan tahun lagi?
"Terserahlah Mom." ungkap Sakura akhirnya. Atensinya berpaling pada pepohonan yang melambai dari kaca mobilnya. Ini cuma perasaannya atau memang tadi ada bayangan hitam yang melintas cepat dari rimbunan pepohonan oak itu?
Rumah itu tua. Satu kalimat yang melintas dipikiran Sakura begitu melihat rumah yang akan dia tempati. Rumah bercat putih itu berdiri dengan gagah di tengah rimbunan pohon oak di perbatasan hutan terlarang. Di kanan-kirinya hanya dijumpai pohon-pohon oak yang seolah melindungi rumah yang dulunya tempat penginapan bagi para musafir itu.
"Yakin mau tinggal disini?" Sakura melirik ayahnya yang sedang mengeluarkan barang-barangnya dari bagasi mobil. Bukan apa-apa, sejak kecelakaan yang menimpanya setahun yang lalu, dirinya menjadi phobia pada bangunan-bangunan tua semacam tempat tinggalnya sekarang.
"Mau bagaimana lagi? Satu-satunya rumah yang tak berpenghuni di daerah sini cuma ini." jawab ibunya tenang. Jemari tangannya sibuk mencari kunci yang berada di tas tangan kesayangannya. "Lagipula rumah ini masih layak huni kok."
"Mom kan tahu kalau aku phobia sama bangunan-bangunan tua!" jerit Sakura tertahan. Langkah kakinya yang panjang tertuju pada ibunya yang telah berhasil membuka pintu utama rumah baru mereka.
"Ini cuma untuk sementara oke?" tawar Mrs. Haruno. Kakinya melangkah memasuki rumah barunya itu. Sinar matahari musim panas yang melintas melewati kaca jendela yang berukuran besar di seberang ruangan menyinari tubuh mungilnya.
"Mom!"
"Kita bisa make over rumah ini jika kau mau."
"Mommy!"
"Sayang." Mrs. Haruno mendesah. "Everything will be fine, okay?" Sakura mengangguk. "Kita akan tinggal disini sampai rumah yang Daddy bangun itu selesai. Jadi kamu harus bersabar." Wanita berambut pirang itu menatap putri tunggalnya lembut. "Bagaimana kalau sekarang kita lihat kamar barumu?"
Kerutan melintas di kening gadis manis itu. "Kita kan baru pindah. Kamarku pasti banyak debunya." tolaknya. Tapi apa daya, tubuh mungilnya terdorong kedepan karena tangan kanannya ditarik ibundanya tercinta. Tahu tak bisa melawan, Sakura mengikuti jejak langkah wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Mom sudah meminta Ayame untuk membersihkannya."
"Ayame?"
"Anak penjaga rumah ini."
"Dia orang jepang?"
"Ya. Banyak orang jepang yang pindah kesini."
"Tidak ada diskriminasi kan?"
"Tentu saja tidak. Negara kita memang dulu salah karena menjadi pemicu Perang Dunia 2, tapi bukan berarti kita bisa dibully warga negara lain. Menurut Mom selama kita tidak mengganggu mereka, mereka tidak akan mengganggu kita."
"Mom tidak lupa kan kalau kita ada di negara dengan tingkat pembullyan tertinggi di dunia?" tanya Sakura sinis.
"Lalu?" alis pirang dihadapan Sakura terangkat. "Anak Mom kan pemegang sabuk hitam. Tak mungkin kalah dengan para penindas!"
Sakura melongo memandang ibunya yang dengan semangat mengangkat kepalan tangannya ke udara.
"Ingat umur! Kamu bukan lagi remaja, sayang." sebuah suara yang berasal dari belakang Sakura membuat gadis itu membalikan badannya. Dilihatnya sang ayah berdiri dibelakangnya sambil mengangkat kardus-kardus berisi kumpulan novel kesayangannya dengan kedua tangannya. "Kenapa masih berdiri disini? Cepat buka pintunya!" Mr. Haruno menunjuk pintu didepannya dengan dagu.
Tak butuh diperintah untuk kedua kalinya, Sakura mendorong pintu didepannya dan membiarkan sang ayah memasuki kamar barunya.
"Bagaimana?" tanya Mr. Haruno lembut.
Memang benar apa yang dibilang ibunya tadi. Sakura tak menjumpai debu-debu berterbangan ketika tadi dirinya membuka pintu kamarnya, bahkan indera penciumannya dapat menangkap bau kulit jeruk yang sangat dia sukai itu. Sakura mengedarkan pandangannya pada kamar bernuansa biru itu. Kamarnya lumayan luas, dengan lantai dari kayu jati tempat berpijak. Tak banyak barang yang ada disana. Hanya tempat tidur, rak buku, meja belajar, meja rias, almari dan pintu yang Sakura yakini sebagai pintu kamar mandi.
"Lebih luas dari kamarku yang di Tokyo." jawab Sakura singkat.
Atensi gadis itu tertuju pada sebuah lukisan yang berada diatas ranjangnya. Lukisan enam orang remaja berkumpul didepan perapian dengan seorang nenek tua berdiri tak jauh dari mereka. Ekspresi wajah dalam lukisan itu berbeda-beda. Pemuda berambut hitam pendek tengah memasang wajah serius pada pemuda yang tengah tersenyum sinis didepannya (Sakura yakin kalau mereka bersaudara. Lihat saja bentuk muka mereka yang mirip itu). Tak jauh dari kedua pemuda tampan itu, duduk tiga orang gadis yang tampak berbincang dengan pemuda yang duduk di depan mereka. Gadis berambut hitam panjang yang duduk di sofa sebelah kiri memasang ekspresi muka datar yang hampir sama dengan gadis pirang yang duduk ditengah, seolah-olah sedang menghakimi pemuda pirang yang tengah memasang wajah pasrah itu. Satu-satunya orang yang tersenyum dalam lukisan adalah gadis berambut merah yang melempar senyuman pada wanita tua yang membawa nampan di pojok ruangan.
"Siapa mereka?" akhirnya setelah terdiam cukup lama, gadis itu kembali bersuara.
Mrs. Haruno yang memang dari tadi mengawasi putrinya terdiam memandang lukisan diatas ranjang berkata, "Mom tidak tahu. Kata Ayame lukisan ini sudah ada dari dulu. Kalau kamu tidak suka, Mom bisa meminta Ayame untuk memindahkannya nanti."
"Tidak perlu. Biarkan saja lukisan itu ada disana."
Sakura kembali terdiam. Manik hijau dedaunannya tak mampu berpaling kearah lain selain lukisan didepannya. Dirinya bahkan tak sadar kalau ayah dan ibunya telah keluar dari kamarnya.
"Istirahat ya sayang. Mom dan Dad mau mengangkut barang-barang kita dari bagasi mobil." saran ibunya sebelum menutup pintu kamar putrinya itu lembut.
Atensi gadis manis itu tetap tertuju pada lukisan didepannya itu, bahkan untuk berpaling menatap ayah dan ibunya saja dia enggan. Seolah-olah ada gaya gravitasi yang menariknya untuk tertarik pada lukisan itu.
"Mereka itu sebenarnya siapa?"
