Hi, Arisa is here. Sebelumnya mau berterima kasih kepada siapapun yang nge review dan nge follow cerita ini. Kalian membuatku bersemangat menulis chapter 2 ini.

Marion : Inginnya sih update seminggu sekali, karena lagi libur sebulan. Tapi dikarenakan tugas ospek yang banyak dan merepotkan (aaarrrggghhh tugas OKK & PSAK nyebelin ! belum kuliah aja tugasnya udah banyak *maaf curhat), jadi waktu updatenya tidak menentu. Thanks for the review.

kesefusohon : wah, enaknya punya kakak tsundere^^ akan saya usahakan update asap. Thanks for the review.

Syalala uyee : Thanks for the review.

OnKyuMin : I'm sorry. I already warned you that will be RussPruss in this story. Anyway, thanks for the review.

mecchan : Watamote kah? Saya juga nonton itu loh^^. Thanks for the review.

Warning : Lupa menambahkan. Karena FrUk juga OTP saya, jadi sepertinya aka nada FrUk nantinya.

Disclaimer : I own nothing.

Chapter 2 : I Love My Brother

"Alferd-senpai!" sapa salah satu siswi di sekolah Alferd menyapa Alferd saat ia sedang berjalan dengan senangnya menuju kelas Matthew, adik kembarnya.

"Yo!" balas Alferd. Mengetahui sapaannya dibalas, siswi itu berteriak senang sambil menarik-narik baju temannya. Alferd hanya tertawa melihat tingkah laku siswi itu. Kali ini, ia melanjutkan perjalanannya menuju kelas Matthew sambil menggumamkan lagu kesukaannya.

"Alferd!" saat hendak menaiki tangga, Alferd mendengar suara Mathias, teman sekelasnya sedang memanggilnya dari bawah tangga. Alferd berhenti berjalan dan melihat ke bawah tangga. "Mau ikut kita pergi karaoke, tidak?" tanya Mathias.

"Maaf, aku tidak bisa ! hari ini ada acara dengan Matthew." kata Alferd sambil menundukkan kepalanya.

"Acara dengan Matthew lagi?" tanya Mathias dengan nada kecewa. "kau tidak pernah ikut pergi karaoke dengan kami dan selalu bermain dengan Matthew." keluh Mathias.

"Haha, tentu saja! Matthew lebih penting daripada siapapun!" jawab Alferd dengan bangga. Mathias menghela nafas mendengarnya.

"Baiklah, bersenang-senanglah dengan Matthew."

"Thanks!" kata Alferd lalu melanjutkan perjalanan menuju kelas Matthew. Ia mempercepat langkahnya karena sudah tidak sabar bertemu dengan Matthew. Dan saat kelas Matthew sudah dekat, Alferd memperlambat langkahnya.

"Mengerti Matthew? tolong ya!" Alferd mendengar suara seseorang sedang berbicara dengan adiknya. Alferd kemudian mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kelas dan keluarlah Feliks, teman Alferd sekaligus teman sekelas Matthew.

"Yo Feliks! Sudah mau pulang?" sapa Alferd. Feliks hanya menganguk pelan lalu berjalan melewati Alferd.

"Yo, maaf aku buru-buru, dah." kata Feliks sambil melambaikan tangannya. Alferd membalasnya sambil tersenyum. Kemudian, ia mencari Matthew di dalam kelas.

"Ah, Mattie!" sapa Alferd saat menemukan adik kembarnya sedang menyaou bagian belakang kelas. "kau belum selesai?" Tanya Alferd.

Sambil menundukkan kepalanya dan menggenggam erat gagang sapu, Matthew menggeleng. "Belum, aku masih ada piket."

"Bukankah kemarin kau juga ada piket?" tanya Alferd bingung.

"Iya, hari ini Feliks tidak bisa mengerjakan tugas piketnya. Jadi aku membantunya." Alferd menganguk mengerti kemudian menarik kursi yang ada di sampingnya dan duduk.

"Baiklah aku tunggu. Ada yang bisa kubantu?" kata Alferd sambil menaruh tas sekolahnya di atas meja. Matthew menggeleng.

"Tidak tidak. Kalau kau mau pulang, duluan saja." kata Matthew masih menundukkan kepalanya.

"Tidak mau! aku akan menunggumu, jadi bergegaslah!"

"Baik." jawab Matthew lalu berjalan melewati Alferd. Alferd bingung dengan sikap Matthew yang selalu menundukkan kepalanya, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Dan saat Matthew berjalan melewati Alferd, Alferd tahu apa yang disembunyikan Matthew.

"Wajahmu kenapa, Matt?" tanya Alferd membuat Matthew berhenti berjalan.

"Eh? eh? wajahku tidak apa-apa." kata Matthew panic semakin menundukkan kepalanya. Alferd berdiri dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Matthew, dan mendongakan kepala Matthew dengan tangan kanannya. Sehingga Alferd bisa melihat dengan jelas luka yang ada di pipi kanan Matthew. Badan Matthew bergetar saat Alferd melihat luka yang ada di wajahnya dengan wajah yang menyeramkan.

"Siapa yang melakukan ini?" tanya Alferd dingin.

"Ini luka saat aku terjatuh, kak." tangan kiri Alferd mengeras saat ia tahu Matthew bohong padanya. Tak mungkin ini luka jatuh!, katanya geram dalam hati.

"Benar?" tanya Alferd lagi. Matthew menganguk pelan. Melihat dari mata Alferd, Matthew tahu ia tidak boleh bilang bahwa ia disakiti oleh teman-teman sekelasnya. Kalau ia bilang, Alferd akan membunuh mereka !

Alferd menghela nafas. Ia tahu adiknya sedang melindungi seseorang. Tapi ia tidak bisa membuat adiknya ketakutan begini, atau mereka tidak bisa pulang. "Baiklah, lain kali hati-hati." kata Alferd dengan nada ceria sambil mengelus rambut Matthew. matthew menganguk, sedikit lega kakanya sudah kembali ceria. "Ayo segera selesaikan tugasmu! kita tidak bisa pulang terlalu sore."

"Ya, kak."

X

"Hoam.." Alferd menguap saat Matthew masuk ke ruang guru untuk menaruh kunci kelas di meja wali kelasnya. Sejam menunggu Matthew membersihkan kelas, membuat Alferd sempat tertidur di kelas.

"Maaf kak, aku lama." kata Matthew meminta maaf saat ia sudah keluar dari ruang guru.

"Tidak apa-apa, setidaknya kita bisa pulang bareng." kata Alferd lalu merangkul Matthew dan berjalan menuju pntu gerbang sekolah. "Jadi, bagaimana harimu?" tanya Alferd memecahkan keheningan.

"Baik. Hari ini banyak teman sekelasku yang menanyakan pr, mereka juga bilang bekal yang kubawa enak." kata Matthew berbohong pada Alferd. Sebenarnya, teman sekelasnya tidak menanyakan pr, melainkan memaksanya untuk mengerjakan pr mereka. Mereka juga memakan semua bekal yang dibawa Matthew, sehingga Matthew tidak bisa makan. Ia tidak bisa jujur pada kakaknya, atau teman-temannya dalam bahaya. "Bagaimana denganmu, kak?"

"Oh, kalau aku…"

"Alfeeeerrrrdddd F. Jooonnneeesss!" si kembar Jones berhenti berjalan saat mereka melihat ada seorang siswi berambut pirang perak dengan pita di kepalanya berjalan ke arah mereka dengan muka marah.

"Natalie?" tanya Alferd bingung saat melihat Natalya, primadona sekolah mereka datang menghampiri mereka. "Ada apa?"

"Ada apa?!" bentak Natalya. "kau membuatku menunggu satu jam dank au bertanya ada apa?!" kata Natalya dengan nada marah.

"Kau menungguku?" ada apa?" Tanya Alferd yang masih tidak mengerti kenapa Natalya marah-marah padanya.

"Kita ada janji kencan sejam yang lalu, Alferd!" kata Natalya yang kali ini berusaha menahan marah.

"Oh, benarkah? Wah, maaf. Hari ini aku ingin pulang bersama Matthew. Bisakah lain kali saja?"

"Kau juga bicara seperti itu kemarin!" bentak Natalya. Meski dibentak berkali-kali, Alferde hanya bisa meminta maaf berkali-kali. "Huh, aku sudah tidak perduli lagi!" kata Natalya dengan nada marah berjalan melewati Matthew sambil sengaja menabrakkan pundaknya dengan pundak Matthew. "Screw you!" umpat Natalya dengan nada pelan sehingga hanya Natalya dan Matthew yang mendengarnya.

Matthew menelan ludah dengan gugup saat mendengarnya. Natalya marah padanya. Bertambah satu orang yang kini membenci Matthew. "Kak, apa seharusnya hari ini kau ada kencan dengan Natalya?" tanya Matthew sambil menarik baju Alferd.

"Entahlah, mungkin, aku lupa. Yang ku ingat adalah setiap hari aku ingin pulang sekolah bersamamu." kata Alferd sambil merangkul Matthew dengan ingin bilang bahwa Alferd tidak bisa bersikap seperti itu, atau akan makin banyak orang yang akan membenci Matthew. tapi ia juga tidak mau menghilangkan senyum dari wajah kakaknya sekarang. Karena di dunia ini, hanya Alferd dan Arthur, ayah angkat mereka yang saying pada Matthew dan tidak menyakiti Matthew. Matthew tidak tahu apa jadinya jika mereka tidak ada.

"Ayo Mattie!" suara Alferd membuyarkan lamunan Matthew. "Ayo kita pulang!"

X

"Au!" Matthew mengerang kesakitan saat Alferd menaruh kapas yang sudah diberi alcohol ke luka di wajah Matthew.

"Maaf, sakit ya?" tanya Alferd langsung menyingkirkan kapas dari wajah adiknya. Matthew menganguk pelan. "Lain kali, hati-hati ya! Jangan sampai jatuh lagi." pesan Alferd melanjutkan pengobatannya sampai ia merasa sudah cukup.

"Iya, kak." kata Matthew lalu menutup kotak P3K dan mengembalikannya. "Mala mini kakak mau makan apa?" tanya Matthew sambil berjalan menuju dapur.

"Hamburger!" jawab Alferd bersemangat.

"Kalau ayah tahu kita makan itu lagi, kita bisa dimarahi loh!"

"Biasrkan! Kita habiskan hamburger tanpa perlu menyisakan untuk Artie!" Matthew hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban kakaknya. Beruntung yang bertugas memasak di rumah ini adalah Matthew, sehingga ia bisa memasakkan makanan kesukaan Alferd yang dilarang ayahnya tanpa diketahui ayahnya.

Alferd dan Matthew tinggal di Panti Asuhan sejak umur mereka 8 tahun. Hingga 3 tahun yang lalu, saat umur mereka 13 tahun, Arthur Kirkland datang ke Panti Asuhan dan mengajak Jones bersaudara tinggal serumah. Arthur bilang, "Aku kesepian tinggal sendirian di rumah. Kalian mau menemaniku ? akan kutemani hari-hari kalian sebagai seorang ayah."

Matthew langsung menangis mendengarnya dan langsung setuju. Alferd juga setuju dengan syarat marga Alferd dan Matthew tetap Jones. Arthur tidak keberatan. Asal ia mempunyai keluarga yang menyambutnya di rumah, itu sudah cukup.

Matthew senang berada di rumah ini. Ia senang memounyai ayah seperti Arthur. Meski Arthur tidak bisa memasak sehingga Matthew yang harus memasak di rumah ini (jika Alferd yang memasak, maka setiap hari mereka akan memakan hamburger), tapi Matthew senang karena Arthur menyayanginya.

"Kak, makan malam sudah siap." kata Matthew sambil menaruh dua piring berisi hamburger di meja makan, dan menaruh satu piring berisi daging hamburger dengan kentang rebus ke dalam microwave. Piring itu untuk Arthur.

"Mari makan!"

X

Malam hari di kediaman Kirkland, suasana sedikit ramai dengan adanya Alferd berteriak saat sedang film superhero kesukaannya.

"Ayo lawan! ayo! ayo!" kata Alferd bersemangan saat melihat tokoh kesukaannya sedang beraksi.

"Alferd! pelankan suaramu! terdengar dari luar rumah, tahu! berisik!" kata Arthur tiba-tiba, memasuki ruang keluarga dan duduk di sofa.

"Oh, Artie! selamat datang!" sapa Alferd sambil melirik sebentar ke arah Arthur dan melihat kembali ke layar tv. Arthur menghela nafas melihat kelakuan anak angkatnya yang paling tua. Ia melihat sekeliling ruangan, mencari Jones muda. Dan saat Arthur menemukannya, Arthur berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju sofa yang lain, tempat Matthew sedang tidur dengan lelapnya sambil memeluk boneka beruang putih kesayangannya, Kumajirou.

"Kalian menungguku? Maaf ya aku pulang telat." kata Arthur sambil tersenyum dan mengelus rambut Matthew. Arthur melihat jam tangannya, jam 11 malam. "Alferd, tidurlah, sudah malam." kata Arthur yang saat itu berjalan keluar ruangan sambil menggendong Matthew.

"Iya, iya!" kata Alferd yang kemudian mematikan tv dan berjalan mengikuti Arthur menuju kamarnya. "Artie, kau kuat menggendong Matthew? aku bisa membantumu." tawar Alferd yang melihat Arthur sedang kesusahan menggendong Matthew.

"Ku… Kuat!" kata Arthur sambil menambah tenaganya untuk menggendong Matthew. alferd hanya tertawa melihat reaksi Arthur. Dan saat Arthur berhasil menaruh Matthew ke kasurnya, nafas Arthur terengah-engah. "Hah… hah… hah… akhirnya…" kata Arthur sambil mengelap keringat di dahinya.

"Kalau kau tak kuat, bilang saja. Tidak usah dipaksa."

"Diam kau!" kata Arthur masih mengatur nafasnya. "Aku ayah kalian. Jadi seharusnya aku yang melakukan ini."

Alferd tersenyum mendengar kalimat Arthur. Padahal umur mereka hanya berbeda 10 tahun, tapi Arthur berusaha menjadi ayah yang terbaik. Alferd senang tinggal di rumah ini, rumah dimana ia, Arthur, dan Matthew tinggal. Ia harap kehidupannya yang bahagia ini bisa berlangsung seteusnya.

Chapter ketiga nanti akan menceritakan kenapa Ludwig benci dengan Gilbert.

Semoga chapter kali ini tidak terlalu sedikit kalimatnya dan sudah mulai ada perbaikan dalam hal pengetikan.

R&R please