Hi, Arisa is here. Maaf kalau chapter kali ini update nya tidak sekilat chapter kedua. Saya baru sadar bahwa sebentar lagi lebaran yang artinya sebentar lagi mau ospek padahal tugas OKK belum diselesaikan. Jadi saya berusaha sekuat mungkin untuk menyelesaikannya supaya tenang melanjutkan chapter ini (tinggal bikin scrapbook, haaah #numpangcurhat). Saya juga mau minta maaf atas kesalahan nama America. Yang benar itu Alfred ya? Bukan Alferd? Berarti selama ini saya salah, maafkan saya m(-_-)m *dilempar batu ama Hidekaz.
Dan aku mau berterima kasih pada Hosoya Yshimasa. Lagunya yang Kimi no iru machi menemani dari awal saya menulis chapter ini hingga selesai. I love you, Hosoya *meluk poster X-eins.
Marion : Terima kasih atas dukungannya *bow, thanks for the review.
Aruyo : Haha, saya tahu cerita saya mainstream, tapi karena lagu "Haitoku no Kioku- the lost memory" oleh Vanan'ice, tangan saya tak tahan untuk menulis cerita ini. Maaf kalau di chapter kedua makin banyak typo. Karena saya terlalu semangat mengetiknya, dalam 2 jam saya berusaha selesaikan chapter kedua, ungkin karena itu juga yang membuat cerita di chapter kedua berlalu begitu cepat. Anyway, thanks for the review.
Kwon Eun Soo : apa benar begitu? Lihat saja di chapter kelima nanti ya . Tada, inilah chapter ketiga. Thanks for the review.
Mecchan : maaf penulisan nama America salah m(-_-)m . Saya baru tahu kalau namanya Alfred, bukan Alferd, haha *dilemparin tong sampah ama Hidekaz*. Thanks for the review.
Namie Amalia : untuk usia para tokoh di chapter ini, saya beritahu sebagian dulu ya.
Alfred, Matthew & Natalya : 16 tahun
Arthur & Yao : 26 tahun
Ludwig & Kiku : 17 tahun
Gilbert : 20 tahun
Francis & Antonio : 21 tahun
Ivan : 22 tahun
Kaoru : 24 tahun
Xiao Mei : 20 tahun
Im Hyung Soo & Im Yong Soo : 10 tahun.
Disclaimer : I own nothing
Chapter 3 : Ich hoffe, dassmein bruderverschwinden
Jam menunjukkan pukul tujuh saat Ludwig mencuci piring setelah ia selesai sarapan. Ia melihat ke arah meja makan dan tidak menemukan Gilbert. Ludwig menghela nafas saat ia tahu kakaknya belum bangun. Ia berjalan menuju kamar Gilbert dan memasukinya. Ia menghela nafas lagi saat ia melihat kakaknya masih tidur di tempat tidurnya.
"Kak, bangun. Sudah pagi." kata Ludwig sambil berjalan menuju tempat tidur Gilbert. Ludwig melihat wajah Gilbert yang tenang tapi terlihat kusam. Ludwig heran, semalam kakaknya bermain apa dengan Antonio hingga wajahnya kotor begini. "Kak, bangun!" Ludwig masih berusaha membangunkan kakaknya.
Gilbert mengerang pelan. "Lima menit lagi…" katanya pelan.
"Kau bilang kau ada kuliah pagi ini." Mata Gilbert langsung terbelak kaget saat Ludwig berbicara seperti itu.
"Astaga! Kerja!" kata Gilbert panik langsung terbangun dari tempat tidurnya.
"Ha? Kerja?" tanya Ludwig bingung.
"Tidak, tidak, tidak. Maksudku, kuliah!" Gilbert langsung berlari keluar dari kamar menuju kamar mandi. Saat Gilbert sedang sibuk bersiap-siap, Ludwig mengambil tas sekolahnya dan berjalan keluar rumah. "West!" langkah Ludwig terhenti saat ia melihat kakaknya berjalan keluar dari kamar mandi dengan baju dan rambut yang berantakan, mulut penuh busa, dan sikat gigi di tangan kanannya. "Selamat jalan! hati-hati ya!".
Ludwig tidak membalas sapaan Gilbert. Ia membuka pintu dan keluar rumah. Gilbert hanya tersenyum melihat sikap dingin Ludwig. "Yosh, ayo siap-siap!" ucapnya menghibur diri.
Ludwig berjalan menghampiri rumah Kiku. "Kiku!" Ludwig meneriakkan nama Kiku saat ia sudah berada di depan pagar rumah Kiku. Tak lama, keluarlah Yao Wang, kakak tertua Kiku.
"Oh, Ludwig, ni hao!" sapa Yao.
"Ni hao." Balas Ludwig. "Kiku ada?" tanya Ludwig ramah.
"Kiku baru selesai sarapan, sebentar ya." kata Yao lalu berjalan menghampiri pitu pagar rumahnya dan membukanya untuk mempersilahkan Ludwig masuk. Ludwig menolak masuk dan lebih memilih berbicara dengan Yao di luar tumah. Sambil menunggu Kiku, Yao menceritakan cerita lucu yang membuat Ludwig sesekali tertawa.
Yao Wang adalah kakak laki-laki tertua Kiku. Berbeda dengann Kiku yang pendiam, Yao adalah orang yang ramai seperti Gilbert. Hanya saja, Ludwig lebih senang bersama Yao daripada bersama kakaknya sendiri. Di mata Ludwig, Yao adalah kakak yang bertanggung jawab yang bisa mengurus keenam adiknya sendiri tanpa bantuan orang lain. Sedangkam Gilbert di mata Ludwig, adalah kakak yang pemalas, berisik, dan merepotkan. Benar-benar berbanding terbalik dengan Yao.
"Maaf lama menunggu." tak lama, Kiku muncul dari dalam rumah dan tampak terburu-buru berjalan menuju Ludwig. "Aku berangkat dulu kak." saat berjalan melewati Yao, Kiku menepuk pundak Yao dengan pelan.
"Hati-hati di jalan ya, Kiku, Ludwig." kata Yao sambil tersenyum. Ludwig dan Kiku hanya menganguk lalu mereka berjalan menuju sekolah.
"Maafkan aku, Ludwig-san. Aku membuatmu menunggu terlalu lama." Kata Kiku meminta maaf.
"Ah, tidak apa-apa. Tadi Kak Yao menemaniku menunggumu sambil menceritakan kisahnya."
"Oh ya? Kak Yao bercerita apa saja?" Ludwig menjawab pertanyaan Kiku dengan semangat. Ia ceritakan semua cerita yang diceritakan Yao yang membuatnya tertawa.
"Kau tahu? Meski banyak orang yang bilang ingin mempunyai kakak seperti Gilbert, aku lebih memilih kakak seperti Kak Yao." Kiku hanya menganguk menanggapi pernyataan Ludwig. Ia sudah terbiasa dengan sikap Ludwig yang selalu memilih kakaknya daripada kakaknya sendiri.
"Bagaimana dengan Kak Kaoru dan Kak Xiao Mei? apa kau juga ingin punya kakak seperti mereka?" tanya Kiku menyebutkan nama kakak kedua dan ketiganya.
"Hm.. Kak Xiao Mei mungkin boleh. Tapi kalau Kak Kaoru tidak ah. Ia galak." Kiku langsung tertawa mendengarnya. Kakak keduanya, Kaoru memang terkenal galak. Gilbert saja harus berhati-hati padanya. "Kalau Kak Xiao Mei yang jadi kakakku…" dan sepanjang perjalanan menuju sekolah, Ludwig membicarakan tentang kakak-kakak Kiku, membuat Kiku sedikit lega karena pagi hari ini ia tidak mendengar keluhan tentang Gilbert dari Ludwig.
X
Ludwig baru memasuki rumahnya saat ia mendengar suara pintu dibanting dari arah ruang keluarga. Tak lama, ia mendengar suara ayahnya memanggil nama kakaknya. Ludwig takut memasuki rumahnya. Kejadian ini selalu terjadi di saat orang tuanya pulang dari tugas luar kota. Gilbert selalu bertengkar dengan mereka, meski Ludwig tidak tahu apa yang dipermasalahkan.
Tak lama, Ludwig melihat Gilbert datang menghampirinya sambil membawa tas besar. Ia juga melihat ayahnya sedang berusaha mengejar Gilbert. "Gilbert! Kembali!" Ludwig mendengar suara ayahnya memanggil nama kakaknya. Gilbert tidak bereaksi, ia tetap berjalan menghampiri Ludwig dan menarik tangan Ludwig, memaksa Ludwig berjalan keluar dari rumah.
Ludwig bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa kakaknya menarik tangannya? Kenapa ayahnya berteriak memanggil nama kakaknya? Kenapa kakaknya pura-pura tidak mendengar? Kenapa mereka pergi menjauhi rumah? Ludwig mendongak ke atas, ke arah wajah kakaknya yang tak bisa ia lihat.
"Aku tidak akan kembali! akan kubawa Ludwig bersamaku!" bentak Gilbert mengeratkan genggaman tangannya.
"Jangan bawa Ludwig, Gilbert! Gilbert!" Ludwig melihat ayahnya terus mengejarnya. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya membawanya menjauh dari ayahnya.
"Ayah…" tanpa sadar, Ludwig memanggil ayahnya. "Ayah! ayah!" Ludwig terus memanggil ayahnya walau kakaknya terus memaksanya berjalan. "Kak, kenapa kita meninggalkan ayah? kasihan ayah bersusah payah mengejar kita."
Setelah merasa ayahnya tidak akan mengejarnya lagi, Gilbert berhenti berjalan dan berusaha mengatur nafas. Ia menoleh ke arah adiknya. "Mulai sekarang, hanya ada kita berdua. Kita sudah tidak mempunyai orang tua." kata Gilbert.
"Kenapa kak? kita masih punya ayah dan ibu. Tadi ayah mengejar kita kak, kenapa kakak berbicara seperti itu?". Gilbert tidak menjawab. Ia sibuk mencari taxi di jalan, membuat Ludwig marah. "Kak, jawab aku kak! kakak!" Ludwig terus memanggil Gilbert namun Gilbert hanya diam, seolah tidak mendengar. Ludwig tambah marah. Tanpa terasa, air matanya keluar. "Kakak jahat! Kakak jahat! Gara-gara kakak, aku jadi tidak bisa bertemu dengan ayah lagi! Aku benci dengan kakak!"
"…..san…."
"Terserah kau mau membenciku, West. Satu hal yang pasti kita sudah tidak mempunyai orang tua lagi."
"….wig-san!"
"Aku benci kakak! Aku harap kakak menghilang saja!"
"Ludwig-san!" teriak Kiku sambil memukul meja dengan keras. Membuat Ludwig terbangun dari tidurnya.
"Oh, Kiku?" Tanya Ludwig dengan nada orang yang masih mengantuk. "Ada apa?" tanya Ludwig.
"Kau ketiduran. Kita harus pergi ke laboratorium sekarang untuk praktikum." kata Kiku sambil mengambil buku nya dan berjalan keluar. Ludwig menyusul Kiku sambil sesekali menguap. "Tumben sekali kau tertidur di dalam kelas." kata Kiku.
"Tidak tahu. Aku merasa sangat mengantuk tadi. Terima kasih sudah membangunkanku dari mimpi buruk, Kiku."
"Oh ya? mimpi apa?"
"Mimpi yang sudah lama tak ku mimpikan…" ucap Ludwig yang kini terdengar murung.
"Kalau sudah tak dimimpikan, bukankah itu sebuah pertanda?" Ludwig berhenti berjalan saat mendengar ucapan Kiku.
"Benarkah?" tanya Ludwig penasaran. Kiku menganguk.
"Itu yang kutahu dari Kak Yao." Ludwig termenung memikirkan ucapan Kiku. Pertanda? Apa benar? Tapi pertanda tentang apa?, tanya Ludwig dalam hati sambil melihat ke luar jendela, ke langit yang terlihat cerah.
X
"Francis! Antonio!" Gilbert berteriak memanggil nama kedua sahabatnya saat Gilbert melihat keduanya memasuki pintu café. Antonio melambaikan tangannya dan berjalan menuju meja tempat Gilbert menunggu. "Kalian lama sekali." keluh Gilbert.
"Maaf." Kata Francis beralasan yang kemudian duduk dan melihat-lihat menu untuk dipesan.
"Kau sudah lama menunggu?" tanya Antonio setelah ia memesan minuman dan memberi menu ke pelayan.
"Lumayan. Begitu aku dapat ini, aku langsung menghubungi kalian dan datang kemari." kata Gilbert sambil menunjukkan amplop kecil yang tebal ke atas meja.
"Lalu, kau mau minta tolong apa?" tanya Francis.
"Aku ingin meminjam mobilmu." kata Gilbert. "Bulan ini aku mendapatkan lebih dan aku ingn membawa Ludwig jalan-jalan." Francis dan Antonio saling berpandangan saat melihat tatapan serius Gilbert.
"Apa kali ini kau akan membicarakan yang sebenarnya pada Ludwig darimana uang ini berasal?" tanya Antonio. Gilbert menggeleng.
"Aku berencana akan bilang padanya saat umurnya sudah 18 tahun."
"Itu perlu 2 tahun lagi, Gilbo. Apa kau bisa terus menerus berbohong padanya?" tanya Antonio lagi.
"Akan aku usahakan. Jika terjadi apa-apa padaku. Kalian baru boleh bicarakan hal ini pada Ludwig." Suasana sempat hening. Sampai pelayan membawa minuman pesanan Antonio dan Francis datang, Francis menghela nafas.
"Ya sudahlah, Toni. Kau tahu kita tidak bisa berbuat apa-apa jika Gilbert melakukan sesuatu untuk adiknya." Antonio langsung menengok ke arah Francis, seolah tidak setuju dengan pernyataan Francis.
"Tapi kan…"
"Terima kasih, Francis." kata Gilbert memotong kalimat Antonio dengan wajah senang. "Artinya kau akan meminjamkannya kan?"
"Iya, ini kuncinya. Mobilnya ada di depan café." Kata Francis lalu mengeluarkan kunci mobil dari dalam saku celananya. Gilbert langsung mengambilnya dan berjalan keluar café.
"Terima kasih, Francis. Aku cinta padamu!" teriak Gilbert dari pintu café membuat seluruh pelanggan café menoleh ke arah Gilbert, lalu ke arah Francis. Sedangkan Antonio hanya bisa menepuk kepalanya, kecewa dengan tindakan Francis.
"Kenapa kau membiarkan Gilbo terus berbohong pada Ludwig?"
"Itu keputusan Gilbert, Toni. Karena itu masalah mereka." kata Francis menaruh gelas minumannya ke atas meja. "Kita doakan saja semoga Gilbert bisa melaluinya."
X
Langkah Ludwig terhenti di depan rumah Kiku saat ia melihat mobil Francis ada di depan rumahnya.
"Ada apa, Ludwig-san?" tanya Kiku.
"Sepertinya ada Francis di rumah. Padahal aku hanya beli bahan makanan untuk berdua." kata Ludwig sambil melihat kantong belanja.
"Ke rumahku saja jika makanannya kurang. Hari ini Kak Kaoru pulang sore jadi Kak Yao memasak makan malam lebih banyak." tawar Kiku.
"Terima kasih Kiku atas tawarannya. Tapi aku akan merepotkanmu, jadi sepertinya tidak usah. Aku pulang dulu ya." kata Ludwig sambil melambaikan tangannya dan berjalan pulang. Kiku tidak langsung masuk ke dalam rumah. Meski ia melihat Ludwig sudah memasuki rumahnya, ia tetap berdiri di depan pagar. Perasaannya bilang bahwa ia harus menunggu di luar rumah untuk beberapa saat.
Saat memasuki rumah, Ludwig bingung karena tidak menemukan sepatu Francis. "Oh, West! Selamat datang!" sambut Gilbert dari ruang keluarga.
"Kenapa ada mobil Francis di depan rumah?" Ludwig tidak membalas sambutan Gilbert dan langsung bertanya kepada kakaknya hal yang membuatnya bingung.
"Oh, aku meminjamnya."
"Untuk apa?" Tanya Ludwig bertambah bingung karena tidak biasanya Gilbert meminjam mobil Francis. Gilbert berjalan menghampiri Ludwig dengan kedua tangan di belakang, seolah menyembunyikan sesuatu.
"Tada!" Gilbert menunjukkan apa yang ia sembunyikan di hadapan Ludwig. Amplop coklat dengan isi yang tebal. "Bulan ini kita mendapatkan lebih! jadi malam ini kau tak perlu memasak karena kita akan makan malam di luar " ucap Gilbert senang.
"Itu uang dari ayah?" tanya Ludwig sambil menaruh kantong belanja ke atas meja
"eerrrmm… iya! bulan ini ayah mengirimkan lebih!" kata Gilbert setelah berfikir sesaat.
"Kalau begitu aku boleh pergi menemui ayah?" sambil mencari pisau, Ludwig melirik ke arah kakaknya, untuk melihat reaksi Gilbert. Ludwig melihat wajah Gilbert berubah menjadi dingin.
"Tidak." Ludwig juga mendengar ucapan Gilbert menjadi dingin.
"Kenapa?"
"Karena hubungan kita dengan ayah bukan sebagai ayah dan anak lagi. Ia hanya bertugas mengirimi kita uang setiap bulan." tanpa sadar Ludwig mengepalkan tangannya.
"Kenapa bisa begitu?"
"Maaf Ludwig, aku tidak bisa bilang." kepalan Ludwig semakin keras.
"Kenapa tidak bisa?" Ludwig menunggu jawaban dari kakaknya. Namun saat ia tahu kakaknya tidak menjawabnya, rahangnya mengeras. "Oh, aku tahu! Kakak tidak bisa bilang karena ini semua salah kakak, kan? kakak yang membuatku terpisah dengan ayah, kakak yang membuat hubunganku dengan ayah terputus, kakak tidak mau bilang karena ini semua salah kakak, kan?"
"Bukan begitu, Ludwig, aku…"
"Cukup Kak!" kali ini Ludwig membentak Gilbert. "Aku sudah marah dengan kakak sejak 3 tahun yang lalu! kakak tidak tahu betapa sedihnya aku saat melihat ayah mengejarku yang dibawa paksa pergi oleh kakak! kakak sudah menghancurkan hidupku! Kakak yang membuatku tidak bisa bertemu dengan orang tuaku, seolah mereka sudah tiada! aku bukan yatim piatu tapi aku tidak punya orang tua. Aku kesal dengan kakak! aku marah dengan kakak! lebih baik kakak menghilang saja!" Ludwig mencurahkan segala emosinya pada Gilbert. Belum pernah ia semarah ini pada kakaknya. Meski kakaknya berdiri di hadapannya dengan wajah ingin menangis, Ludwig tidak perduli.
Dada Gilbert terasa nyeri saat mendengar ucapan adiknya. Ia tahu adiknya pantas marah padanya. Namun ia tak tahu rasanya sesakit ini saat Ludwig memarahinya. "Sudah selesai?" hanya itu yang bisa Gilbert ucap sambil menahan air matanya.
Ludwig ingin menjawab tidak. Tapi ia terlalu capek untuk melanjutkannya. "Aku ingin menenangkan diri dulu." kata Gilbert sambil berjalan menuju pintu rumah. Dan saat Ludwig mendengar suara mobil Francis, ia menghela nafas panjang. Sekarang ia bingung apa yang harus ia lakukan. Ia tahu ia telah melukai kakaknya. Namun ia tidak tahu apakah ia harus memasak makan mala mini. Mengingat sepertinya kakaknya tidak akan pulang mala mini, dan ia malas jika makan malam sendiri.
"Ke rumahku saja…" Ludwig ingat dengan tawaran Kiku. Ia berdiri dari tempat duduknya, mengunci pintu rumahnya, dan berjalan menuju rumah Kiku. Ia sedikit terkejut saat melihat Kiku masih berdiri di depan pintu pagar rumahnya.
"Ludwig-san." sapa Kiku saat Ludwig sudah sampai di depan pintu pagar rumah Kiku.
"Hi, eerrmm… apa aku boleh makan malam di rumahmu?" tanya Ludwig malu-malu.
"Boleh, silahkan." kata Kiku sambil membuka pintu pagar rumahnya, mempersilahkan Ludwig untuk masuk. Ludwig mengikuti Kiku masuk ke dalam rumah. Kiku menyuruh Ludwig menunggu di ruang tamu.
"Wah, Ludwig, ni hao!" Ludwig melihat Yao sedang duduk di ruang tamu dengan Koran di tangannya. "tumben sekali kau datang kemari."
"Ano.. boleh aku makan malam di sini?" tanya Ludwig ragu.
"Tentu saja! aku memasak lebih banyak malam ini karena Kaoru pulang lebih cepat."
"Terima kasih!" kata Ludwig yang kemudian duduk di samping Yao.
"Apa ada masalah?" tanya Yao yang merasa Ludwig murung karena daritadi ia tidak berbicara.
"Hm… iya. Tadi aku dan Kak Gilbert bertengkar dan…" Ludwig terdiam sejenak. Ia ingin menceritakan tentang apa yang terjadi di rumahnya kepada Yao. Tapi ia takut akan dibilang berisik oleh Yao. Karena selama ini Ludwig hanya berceriita pada Kiku.
Yao melihat Ludwig ragu bercerita padanya. Ia memegang tangan Ludwig yang tak jauh dari tempat ia duduk dan menggenggamnya erat. "Tak apa, kau boleh bercerita padaku."
Ludwig sedikit lega mendengarnya. Kemudian, ia menceritakan tentang semua apa yang mengganjal di hatinya. Kejadian 3 tahun yang lalu, sikap Gilbert yang menurutnya jahat, serta pertengkaran hebat yang baru saja ia alami tadi.
"Aku bahkan merasa lebih baik ia menghilang saja." Yao menepuk pelan pundak Ludwig dan menatapnya lembut.
"Jangan begitu, kehilangan saudara itu tidak enak loh." Ludwig langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena ia baru sadar ia telang mengingatkan Yao dengan luka yang dialami keluarga Yao.
Keluarga Yao terdiri dari ayah, ibu, 2 anak perempuan, dan 6 anak laki-laki. Anak bungsu di keluarga Yao adalah si kembar Im Hyung Soo dan Im Yong Soo. Sampai 5 tahun yang lalu, Hyung Soo diculik. Meski penculiknya sudah ditangkap dan diadili, Hyung Soo tidak ditemukan. Meski dalam berbentuk mayat. Hal ini membuat sang ibu stress dan menjadi gila. Ibu Yao berakhir meninggal karena menenggelamkan diri di laut. Di hari pemakaman si ibu, sang ayah menyusul istrinya dengan cara membakar dirinya.
Kehilangan kedua orang tua dan satu adiknya membuat Yao harus keluar dari universitas dan memutuskan untuk bekerja. Yao juga berusaha mengobati luka dan sedih yang dirasakan adik-adiknya, terutama Yong Soo. Kehilangan kakak kembarnya seolah kehilangan separuh dirinya. Butuh 3 tahun supaya kehidupan di keluarga Yao kembali sepeti semula. Kisah hilangnya Hyung Soo tidak pernah diungkit lagi. Yao dan adik-adiknya menganggap Hyung Soo sudah meninggal dan mereka membuatkan makam tanpa mayat untuknya.
Ludwig yang tahu kisah ini juga tidak pernah bertanya tentang orang tua Kiku ataupun Hyung Soo. Tapi sepertinya ucapannya membuat Yao teringat pada Hyung Soo. "Maafkan aku." ucap Ludwig merasa bersalah.
"Tidak apa-apa." kata Yao sambil tersenyum. Tak lama, ia mendengar suara pintu pagar dibuka dan ia melihat Kaoru masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. "Oh, Kaoru, selamat datang!" sapa Yao ramah. Kaoru tidak membalasnya, ia berjalan cepat menuju Ludwig dan menarik tangannya.
"Kau, ikut aku sekarang." kata Kaoru dengan nafas terengah-engah.
"Eh, kemana?" tanya Ludwig dan Yao berbarengan dengan nada bingung.
"Rumah sakit. Gilbert kecelakaan."
X
5 menit yang lalu.
Sambil melihatjalan yang ada di depannya, Gilbert mencari nomor telfon Antonio di telfon genggamnya. Dan saat ia menemukannya, ia menelfonnya. Ia mengepitkan telfon genggamnya di antara pipi dan bahu kanannya karena kedua tangannya sedang memegang setir mobil. Sambil menunggu telfonnya diangkat, Gilbert berkosentrasi melihat jalan. Meski jalanan terlihat sepi, namun banyak tikungan yang harus ia lewati.
"Halo." Gilbert sedikit tersenyum saat mendengar suara Antonio.
"Halo, Toni. Kau ada dimana sekarang?"
"Masih di café tadi. Ada apa?"
"Aku mau mengembalikan mobil Francis. Sekarang dalam perjalanan. Francis masih bersamamu?"
"Masih. Tunggu. Kau menelfon sambil menyetir? bahaya, Gilbo!"
"Ah, jangan khawatir." kata Gilbert sedikit tertawa saat mendengar Antonio yang terlihat khawatir seperti ibu-ibu. "Jalanan sepi kok. Lagipula sebentar lagi aku sampai." Gilbet melihat ada perempatan di depannya. Masih sambil mengepitkan telfon genggamnya, ia membelokkan mobil ke arah kanan.
Dan saat berbelok, Gilbet terkejut saat melihat truk besar sedang berjalan mendekatinya. Gilbert membanting setir ke kiri, berusaha menghindar. Namun jarak mobil dengan truk sangat dekat. Membuat truk tersebut menabrak mobil dan menyeretnya hingga beberapa suara rem yang sangat keras saat truk tersebut menabrak mobil disusul suara benturan saat bagian belakang mobil menabrak pembatas jalan.
"Gilbo?" Antonio bingung saat ia mendengar suara itu dari seberang telfon. "Ada apa? Suara apa itu?" Tanya Antonio. Antonio menunggu jawaban dari Gilbert. Tapi yang ia dengar adalah suara beberapa orang yang panik. "Hei, Gilbo! Ada apa? Jawab aku!" Antonio mulai panik karena Gilbet masih belum menjawab pertanyaannya. Tak berapa lama, sambungan telfon putus. Antonio menatap layar ponselnya dengan wajah pucat.
"Ada apa, Toni?" tanya Francis yang bingung melihat wajah pucat Antonio.
"Ada sesuatu dengan Gilbo! Kita harus mencarinya!"
Ada yang bisa menebak rahasia apa yang disembunyikan Gilbert? Maaf jika masih banyak typo. Saya membuat chapter ini setelah selesai mengerjakan tugas yang melelahkan *bow. Mungkin kalian sudah mulai menebak di chapter selanjutnya akan menceritakan American brothers, saya juga akan menceritakan apa yang terjadi pada Matthew. Saya harap saya tidak lagi slah mengetik nama America.
Saran dan kritik saya terima. So, R & R please
