Hi there, Arisa is here. Seperti yang saya katakana di chapter senelumnya, chapter ini sangat pendek karena hanya sebagai bonus. Saya sengaja meng-upload dua chapter dalam sehari karena sebentar lagi Lebaran yang artinya akan sangat jarang di depan komputer dan minggu depan ospek sudah dimulai (huwaaa scrapbook belum selesai dan belum bisa gambar makaraaa *mendadak curhat).

Meski pendek, saya harap kalian menikmatinya.

Disclaimer : I own nothing.

Chapter 5 : kann ichersetzenIhren Platz? Can I replace your place?

Masih sambil mengepitkan telfon genggamnya, Gilbert membelokkan mobil ke arah kanan. Dan saat berbelok, ia terkejut saat melihat truk besar sedang berjalan mendekatinya. Gilbert membanting setir ke kiri, berusaha menghindar. Namun jarak mobil dengan truk sangat dekat. Membuat truk tersebut menabrak mobil dan menyeretnya hingga beberapa suara rem yang sangat keras saat truk tersebut menabrak mobil disusul suara benturan saat bagian belakang mobil menabrak pembatas jalan.

Gilbert merasa seluruh tubuhnya kesakitan. Ia tidak lagi mendengar suara Antonio. Yang ia dengar hanyalah beberapa orang yang datang menghampirinya. Gilbert tidak tahu suara siapa saja. Karena perlahan-lahan ia tidak bisa mendengar. Dan perlahan-lahan penglihatannya mulai kabur dan semuanya menjadi gelap. Gilbert merasa tubuhnya sangat ringan.

Mungkin sudah waktunya aku menemui ayah dan ibu, pikirnya dalam hati. Meski ia tak tahu ia akan ke tempat ibunya yang di surga atau ayahnya yang di neraka. Tak lama, Gilbert merasa ada angin yang berhembus mengenai tubuhnya. Penasaran darimana angin itu berasal, Gilbert membuka matanya. Ia melihat di sekelilingnya adalah padang rumput dengan langit cerah. Gilbert heran kenapa ia ada di sini.

Apa ini surga?, tanya Gilbert lagi dalam hati. Ia melihat sekelilingnya. Tak ada orang. Hanya ada padang rumput yang luas, dengan beberapa bunga. Dan Gilbert melihat ada pohon berdaun maple tak jauh dari tempat ia berdiri. Gilbert berjalan menuju pohon untuk berlindung dari panasnya matahari. Ternyata, ia menemukan seseorang yang duduk di bawah pohon.

Anak itu berambut pirang sedikit keriting dan berkacamata. Ia duduk di bawah pohon sambil menundukkan kepalanya. "Hei Kau." Gilbert menyapa orang itu. Membuat orang itu mengakat kepalanya dan melihat Gilbert. "Kau tahu ini dimana?"

Orang itu menggeleng. Ia kembali menundukkan kepalanya dan memeluk kakinya. Gilbert bisa melihat ekspresi sedih dari wajah orang itu. "Kau kenapa?" tanya Gilbert.

"Orang-orang membenciku. Yang mencintaiku di dunia ini hanya keluargaku. Namun papa dan mama sudah pergi meninggalkanku dan kakak ke surga. Lalu datanglah Arthur dan menawarkan untuk menjadi ayahku. Aku senang, sangat senang. Tapi orang-orang tetap membenciku karena aku lemah. Aku takut kelemahamku ini akan menyusahkan mereka." Gilbert mendengar cerita orang itu yang berbanding terbalik dengannya.

"Haha, beda sekali denganku. Aku disenangi orang-orang namun aku dibenci adikku karena aku membuatnya terpisah dengan orang tua kami.

"Kenapa kau memisahkannya?"

"Ceritanya panjang…" Mereka sempat terdiam beberapa saat. "Hei, bagaimana kalau kita bertukar tempat? agar kau merasakan bagaimana rasanya disenangi orang-orang." kata Gilbert saat sebuah ide terlintas di pikirannya. Orang itu terdiam, lalu menganguk.

"Boleh." katanya lalu langsung menarik tangan Gilbert. Membuat Gilbert terjatuh ke depan dan tiba-tiba semuanya kembali gelap.

X

Hal yang terakhir kali dilihat Matthew adalah langit. Langit yang berwarna biru dan cerah, membuatnya nyaman meski ia merasa badannya basah dan seluruh tubuhnya sakit. Ia menutup matanya, mencoba menikmati langit. Dan saat ia kembali membuka matanya, ia merasa ada di tempat lain. Ia melihat sekeliling. Ia bingung kenapa tiba-tiba ia berada di pantai. Ia merasa air ombak menyerangnya, membuat kaki dan sebagian badan Matthew basah.

Matthew berusaha berdiri. Ia melihat di sekitarnya tidak ada orang. Ia berjalan menelusuri pantai, berharap setidaknya ia bertemu dengan satu orang. Dan harapannya terkabul. Ia melihat ada seorang anak kecil sedang berdiri di gundukkan pasir. Ia menghampiri anak tersebut. "Halo." sapa Matthew. Anak itu tetap diam, tak menjawab sapaan Matthew. Matthew menunggu beberapa saat namun anak itu tetap tak berbicara. "Hei, aku sedang berbicara padamu!"

"Sst. Diam. Aku sedang menghukum diriku sendiri." akhirnya anak itu berbicara. Namun Matthew tak mengerti apa yang dibicarakan.

"Menghukum diri sendiri?"

"Aku sudah membuat sedih adikku sendiri. Padahal aku bisa membuat senang orang lain. Tapi aku sendiri membuat adikku menangis hingga ia membenciku."

"Benarkah? Beda sekali denganku. Aku disayang oleh kakak namun dibenci banyak orang. Coba kalau kita bertukar tempat." gumam Matthew. Anak itu melirik ke arah Matthew.

"Kau mau bertukar tempat?" tawarnya.

"Memangnya bisa?" tanya Matthew. Anak itu tak menjawab. Ia hanya mendorong Matthew ke dalam air. Matthew berusaha bangun, namun ia kaget kakinya tak menginjak daratan. Tanpa sadar ia tenggelam.

Maaf jika terlalu sedikit. Saya tak tahu chapter berikutnya akan update kapan. Saya berharap ospek nantinya tidak membuat saya stress dan terlampau capek sehingga bisa melanjutkan chapter selanjutnya.

Saran dan kritik saya terima, so, R&R please