Hi there, Arisa is here. Ospek sudah dimulai dan ternyata sangat melelahkan. Saya pikir sepulang dari ospek masih bisa melanjutkan chapter ini ternyata tidak bisa karena tidak kuat *numpang curhat. Untuk itu saya mau berterima kasih pada BNN (Badan Narkotika Nasional) dan para dosen yang membuat saya bosan saat ospek karena mereka, saya bisa melanjutkan chapter ini tanpa harus memperhatikan materi yang membuat saya mengantuk *mohon jangan ditiru.

Saya mau berterima kasih pada teman satu kost sekaligus satu kuliah saya yang kuliah di kedokteran, Ai yang sudah membantu saya menerangkan istilah kedokteran yang ada di chapter ini. Dan juga pada Mitsuru Kaoki-san yang sudah menyemangati saya selama saya ospek dan karena andalah saya bisa semangat melanjutkan chapter ini^^

Untuk pertanyaan saya yang tentang Matthew, sayang sekali jawabannya bukan didorong oleh Natalya. Meski demikian karena Natalya lah Matthew jatuh. Dan untuk pertanyaan saya tentang siapa sekretaris Arthur, saya sudah menemukan jawabannya dan anda dapat melhat jawaban saya di chapter ini.

Dan untuk beberapa yang sudah me review tapi review nya belum muncul, maafkan akun fanfiction saya. Akun saya memang suka begitu. Jika di email saya ada pesan dari bahwa ada yang me review fanfic saya, kemungkinan review baru muncul satu hari setelah anda review. Mohon maklum m(-_-)m

Unkowners : maafkan saya T.T selain typo pada chapter saya juga typo pada nama anda. Arthur gay, dan ia diizinkan menjadi gay oleh ibunya kalau mengadopsi anak. Kira-kira seperti itulah maksud saya. Matthew selamat kok, karena jiwanya belum tertukar dengan Gilbert, haha. Thanks for the review.

Kwon Eun Soo : terima kasih atas dukungannya . Thanks for the review.

C-445 : jawaban anda ada yang benar! Dan terima kasih atas saran dan kritiknya. Saya akan berusaha memperbaikinya dalam chapter ini. Thanks for the review.

Tebak siapa : yup, Natalya terlibat dengan jatuhnya Matthew tapi bukan ia yang mendorongnya. Thanks for the review.

Warning : Lagi-lagi saya terpikir pair baru, GreeJap. Tolong sarannya, akankah saya membuat kisah mereka dalam cerita ini?

Disclaimer : I own nothing.

Chapter 6 : Warum Gehst Du NichtMir Die Wahrheit Sagen?

Kaoru dan Kiku segera turun dari taksi begitu kendaraan umum tersebut berhenti di depan Rumah Sakit. Ludwig terakhir turun dari taksi karena ia yang membayar. Setelah selesai membayar, Ludwig berjalan dengan santai di belakang kakak beradik yang terburu-buru memasuki Rumah Sakit untuk mencari ruang Unit Gawat Darurat. Kaoru sedikit kesal dengan sikap santai Ludwig disaat ada saudaranya yang sedang mengalami kecelakaan. Sedangkan Kiku tak berkomentar. Ia tahu Ludwig takkan berubah sikapnya meski Gilbert mengalami kecelakaan.

Ludwig berhenti berjalan saat ia sudah berdiri di depan ruangan dengan papan bertuliskan 'Unit Gawat Darurat' di atas pintu. Ia ragu untuk masuk. Ia tak tahu reaksi apa yang akan ia buat saat melihat kakaknya nanti. Akankah ia menangis seperti yang biasa ia lihat di televisi? atau ia hanya akan diam tak bereaksi?

"Ludwig!" suara teriakan Kaoru membuat Ludwig mendorong pintu UGD, untuk mencari jawaban. Ia berjalan menuju tempat Kaoru dan Kiku berdiri. Saat ia sudah berdiri di samping Kiku, matanya mengikuti mata Kiku yang melihat ke arah tempat tidur.

Ia melihat Gilbert sedang terbaring di tempat tidur. Gilbert memakai baju Rumah Sakit berwarna puutih, dan badannya diselimuti kain berwarna putih. Mulutnya ditutupi dengan ventilator, kepalanya dibalut oleh perban, dan ada beberapa luka di wajah Gilbert. Ludwig baru sadar betapa putih dan pucatnya Gilbert. Ia hanya bisa melihat warna putih di tempat tidur karena ia tidak melihat warna mata Gilbert yang merah dan warna bibir Gilbert yang tertutup oleh ventilator.

Setelah melihat Gilbert, Ludwig tahu jawaban yang ia cari. Ia tidak bereaksi melihat Gilbert. Tak ada rasa sedih dan kasihan, dan tak ada air mata yang keluar dari matanya. Jauh di dalam hatinya ia merasa Gilbert pantas mengalami hal seperti ini. Bagi Ludwig, ini adalah hukuman untuk Gilbert karena sudah menjauhkan ia dari orang tua mereka.

"Apa Anda keluarga dari Gilbert?" suara dari seseorang berpakaian jas dokter yang berdiri di samping tempat tidur membuat Ludwig mengalihkan perhatiannya.

"Saya adiknya." jawab Gilbert.

"Nama saya Heracles. Bisa kita bicara sebentar?"

"Di sini saja, dok. Agar teman-teman saya juga bisa mendengarnya." jawab Ludwig sambil melirik Kaoru dan Kiku. Ludwig bisa melihat kakak beradik itu menghela nafas lega.

"Baiklah, saya akan menceritakan keadaan Gilbert." suasana sempat tegang dan hening. Kaoru penasaran dengan apa yang akan dikatakan dokter, sementara Kiku berharap ia akan mendengar kabar baik nantinya. "Gilbert mengalami patah leher dan kaki, kakinya hampir lumpuh. Ia juga mengalami gegar otak. Mulai lusa, ia bisa dipindahkan dari UGD." Kaoru dan Kiku meghela nafas lega. Keadaan Gilbert tak separah yang mereka bayangkan. "Ada yang perlu ditanyakan?"

"Kapan Gilbert akan bangun?" Ludwig langsung menoleh ke arah Kiku saat mendengar suara Kiku bertanya.

"Saya tidak tahu kapan." jawaban Heracles membuat Kaoru yang tadinya menunduk melihat Gilbert langsung mengangkat kepalanya untuk melihat Heracles. "Gilbert mengalami banyak patah tulang dan ia kehilangan banyak darah. Bahkan saat operasi tadi kami sempat kehilangan dia. Sungguh beruntung ia masih bisa bernafas sekarang."

Ludwig terdiam mendengar jawaban Heracles. Sempat kehilangan dia?, tanpa sadar Ludwig mengepalkan tangannya dengan erat. Kenapa tak kau hilangkan saja dia?!

" Baiklah, kami pulang dulu." kata Ludwig meredakan amarahnya dalam hati.

"Kau akan kembali kemari, bukan?" Ludwig berhenti berjalan saat mendengar pertanyaan Kiku.

"Tidak. Aku akan kembali saat ia sudah siuman saja." Kiku ingin protes dengan jawaban Ludwig tapi Ludwig sudah keluar dari ruangan. Kaoru menghela nafas kecewa melihat sikap Ludwig . ia tahu Ludwig tak suka dengan Gilbert. Tapi ia tak menyangka Ludwig akan bersikap sedingin ini.

"Apa Ludwig selalu bersikap sedingin ini pada Gilbert?" Kiku menganguk.

"Begitulah. Sebelum Kak Gilbert kecelakaan sepertinya mereka bertengkar." jawab Kiku dengan wajah sedih sambil melihat Gilbert yang terbaring di tempat tidur. Seandainya yang ada di tempat tidur ini adalah salah satu kakaknya, mungkin ia akan menangis. "Kak, bisakah kita minta Kak Yao untuk membantu Kak Gilbert? aku tak yakin Ludwig akan mengurus hal ini." pinta Kiku dengan wajah memelas sambil mengerutkan ujung baju Kaoru.

Kaoru tersenyum melihat sikap Kiku. Ia tahu adiknya akan bersikap sepeti anak kecil jika ada sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Ia mengelus rambut Kiku dan memeluknya. "Bisa, nanti kita tanyakan Kak Yao, ya. Sekarang kau pulang dulu saja. Biar aku yang menjaga Gilbert di sini."

Kiku menganguk pelan. Ia tersenyum karena senang kakaknya mau mendengarkan permintaannya. Mungkin Kaoru adalah kakak yang paling galak, tapi bagi Kiku, Kaoru adalah kakak yang paling ia sayangi. Kaoru lah yang menjaga dan menemani adik-adiknya jika Yao sedang bekerja setelah orang tua mereka meninggal. Kaoru juga sering menggantikan Yao bekerja jika Yao sedang sakit. Saat Xiao Mei bilang ia ingin berhenti sekolah dan akan bekerja, Kaoru melarangnya dengan alasan pemdidikan sangat penting untuknya. Kiku sangat sayang pada Kaoru. Dan ia ingin Ludwig juga menyayangi Gilbert seperti ia sayang pada Kaoru. Karena ia tahu betapa sayangnya Gilbert pada Ludwig.

X

"Kiku, hentikan! aku bisa berjalan sendiri! Kau jalan duluan saja! " Ludwig protes saat Kiku mendorong badannya dan menarik tangannya setelah mereka keluar dari pintu gerbang.

"Tidak! jika aku tidak memaksamu, kau tak mau pergi ke Rumah Sakit!" Ludwig terdiam karena apa yang dikatakan Kiku adalah benar. Pagi hari ini Kiku marah pada Ludwig karena Ludwig tak kunjung kembali ke Rumah Sakit untuk membesuk Gilbert. Dan sekarang, Kiku memaksa Ludwig supaya ia mau ke Rumah Sakit. Ludwig tak mau ke Rumah Sakit. Ia tak mau menemui kakaknya. Ludwig yakin ini adalah hukuman dari Tuhan untuk Gilbert. Biarlah kakaknya menjalani hukuman, ia ingin bersantai di rumah.

Kiku kembali menarik tangan Ludwig saat mereka akan menaiki taksi. Selama perjalanan, Kiku dan Ludwig terdiam. Ludwig tak ingin bicara pada Kiku yang sudah memaksanya pergi ke Rumah Sakit. Sedangkan Kiku lebih memilih diam karena jika ia bicara, ia akan terus memarahi dan menasehati Ludwig. Saat mereka sudah sampai di Rumah Sakit, Kiku tak perlu lagi memaksa Ludwig turun karena ia sudah turun duluan saat Kiku membayar taksi.

Ludwig berjalan lurus ke arah UGD, membuat Kiku menarik ujung baju Ludwig dan menariknya menuju lift. "Hei Kiku, ada apa? Kenapa menarikku?" Ludwig bingung karena Kiku menarik ujung baju dan memaksanya berjalan menuju lift.

"Kak Gilbert ada di lantai tiga, Ludwig-san." Kiku sedikit tersenyum saat melihat pintu lift terbuka, membuat mereka bisa segera masuk ke dalam lift dan menuju lantai tiga.

"Bagaimana kau tahu?"

"Karena Kak Kaoru yang menjaga Gilbert dari hari pertama Kak Gilbert masuk Rumah Sakit." mendengar nada bicara Kiku, Gilbert tahu Kiku masih marah padanya. Ia tak bertanya lagi pada Kiku meski ia masih penasaran kenapa mereka mau melakukannya.

Suara pintu lift terbuka membuat langkah Ludwig menjadi berat. Ia benar-benar tak ingin pergi menemui kakaknya. Haruskah ia menemui kakaknya sekarang? tak bisakah ia pergi saat kakaknya sudah sadar saja?

"Ludwig-san," suara Kiku yang memanggil nama Ludwig membuat Ludwig sadar dari lamunannya. Ludwig melihat di depannya ada sebuah pintu bercat putih dengan kaca yang membuat Ludwig bisa melihat isi kamar. Dari luar kamar, ia bisa melihat ada seseorang yang terlihat seperti sedang tidur di tempat tidur. Dari luar kamar, ia bisa melihat kakaknya. "ayo masuk." Ludwig melihat Kiku yang masih berdiri di sampingnya mengajak Ludwig untuk masuk ke dalam ruangan.

Awalnya Ludwig tak menjawab ajakan Kiku. Namun saat ia melihat Kaoru di dalam ruangan, ia berjalan memasuki ruangan. Kaoru yang mendengar suara pintu kamar terbuka, melihat ke arah pintu. Dan saat ia melihat Ludwig, wajahnya yang tadi terlihat capek berubah menjadi senang. "Ludwig! akhirnya kau datang!"

"Siang Kak Kaoru, terima kasih sudah menjaga kakak saya." sapa Ludwig. Kaoru menggelengkan kepalanya.

"Tidak, tidak. aku senang kau sudah datang. Sekarang aku bisa makan siang. Kiku, maukah kau menemaniku? biar Ludwig yang menjaga Gilbert." Ludwig sedikit kaget saat Kaoru berkata seperti itu dan menarik tangan Kiku untuk keluar dari ruangan. Kak Kaoru akan membiarkanku sendirian menjaga Kak Gilbert disini?!

"Ah, biar aku..." Ludwig ingin menolak namun tiba-tiba Kaoru memasang wajah galaknya.

"Tidak, tidak. kau adiknya, jadi kau yang menjaganya. Mengerti?" melihat wajah Kaoru, Ludwig tak bisa menolak. Ia menganguk dan membiarkan Kaoru dan Kiku pergi keluar kamar. Ludwig menarik kursi yang ada di samping tempat tidur dan duduk. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia tak mungkin mengajak bicara kakaknya yang tak tahu kapan akan bangun. Jadi ia memutuskan untuk memperhatikan wajah tidur kakaknya saja.

Sudah lama Ludwig tak melihat wajah tidur Gilbert. Terakhir kali ia melihatnya adalah seminggu sebelum ia dan Gilbert pergi keluar dari rumah. Saat itu Gilbert memaksanya untuk membacakan dongeng yang Gilbert temukan di dalam gudang. Ludwig ingin menolaknya karena menurutnya tak pantas anak berumur empat belas tahun membacakan dongeng untuk anak berumur tujuh belas tahun. Namun karena Gilbert memaksa, Ludwig pun mau membacakan dongeng untuk kakaknya.

Gilbert meminta Ludwig membacakannya dengan penuh penghayatan, dan Ludwig menurut. Alhasil, Gilbert tertidur dengan pulas. Saat itu, Ludwig bisa melihat wajah Gilbert sedikit tersenyum. Gilbert bahkan memeluk Ludwig yang membuat Ludwig tertidur di pelukan kakaknya. Namun sekarang, Ludwig melihat wajah Gilbert tidak tersenyum seperti waktu itu. Sekarang wajah Gilbert terlihat sedih dan kesakitan. Tapi itu tak membuat Ludwig bersimpati. Ia bahkan tersenyum kecil.

Bagaimana hukuman dari Tuhan, kak? apakah sakit?, Ludwig bertanya dalam hati pada kakaknya yang tidak memberi reaksi. Ludwig berharap, jika nanti kakaknya sadar, kakaknya akan sadar bahwa dirinya salah dan akan kembali ke runmah bersamanya.

"Permisi," Ludwig mendengar suara yang asing dari arah pintu, membuat matanya beralih dari tempat tidur menuju pintu. Ludwig melihat ada seorang pria berambut cokelat muda yang poninya dinaikkan, warna matanya berwarna hijau, dan Ludwig bisa melihat bekas luka di dahi orang tersebut. "benarkah ini kamar dari Gilbert Beilschmidt?"

Ludwig baru pertama kali melihat orang tersebut. Ia ragu jika ia adalah salah satu orang di kota yang mengenal Gilbert. Karena Ludwig tak pernah bercerita pada orang lain bahwa Gilbert kecelakaan. Bahkan teman-temannya di sekolah tidak tahu. "Iya benar. Anda siapa?"

Orang tersebut masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan menuju Ludwig dan saat ia berdiri di samping Ludwig, ia menjulurkan tangannya. "Nama saya adalah Arjan de Vries, salam kenal. Saya adalah teman kerja Gilbert di proyek pembangunan kota."

Kerja? "Maaf, tapi kakak saya belum bekerja. Ia masih kuliah. Mungkin anda salah orang." Arjan menggeleng.

"Tidak. saya tahu bahwa yang sedang tidur di tempat tidur ini adalah Gilbert, sahabat saya." Ludwig terdiam bingung. Ia tak pernah tahu bahwa kakaknya bekerja. "Kami sudah bersahabat sejak Gilbert mulai bekerja. Ia bilang kalau kami bisa akrab karena kami sama-sama punya adik. Andakah Ludwig-san, adik Gilbert?"

"Iya betul. Saya adiknya." Arjan tersenyum mendengarnya.

"Kakak anda sangat membanggakan anda di tempat kerja kami. Setiap hari ia selalu menceritakan tentang anda. Dan saat kami sadar tak ada cerita lagi dari dia sejak dua hari yang lalu, kami sadar ada sesuatu yang terjadi pada Gilbert. Maka dari itu tadi pagi saya pergi ke rumah anda. Tapi rumah anda kosong dan saya diberi tahu tetangga anda bahwa Gillbert mengalami kecelakaan. Saya segera menuju ke Rumah Sakit." Ludwig akhirnya tahu darimana Arjan tahu bahwa Gilbert mengalami kecelakaan. Pasti Kak Yao. Tidak, tunggu! tadi dia bilang Kak Gilbert kerja?!

"Hei Luddy! selamat siang!" tak lama, Ludwig mendengar suara Antonio.

"Toni, jangan berteriak! Ini di Rumah Sakit!" Ludwig juga mendengar suara Francis di belakang Antonio.

"Kak Antonio, Kak Francis, selamat siang." Ludwig membalas sapaan Antonio.

"Selamat siang." ternyata, Arjan juga menyapa mereka. Antonio dan Francis bingung karena mereka disapa oleh orang yang tidak mereka kenal.

"Eerrrmm... siang? anda siapa ya?" tanya Antonio.

"Nama saya Arjan de Vries, teman kerja Gilbert d proyek pembagunan kota." wajah Antonio dan Francis beubah pucat saat Arjan memperkenalkan diri. Ludwig sadar dengan reaksi Antonio dan Francis.

"Ada apa kak? kenapa wajah kakak berubah pucat?" wajah Antonio dan Francis semakin pucat saat Ludwig bertanya.

"Ah, tidak. Wajah kami tidak pucat kan ya, Francis?" tanya Antonio sambil menyikut lengan Francis, membuat Francis menganguk. Ludwig tidak yakin dengan jawaban mereka. Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan sahabat kakaknya ini.

X

Jam di kamar pasien menunjukkan jam empat sore. Sebentar lagi jam besuk berakhir dan Ludwig ingin segera pulang. Sudah sepuluh menit, sejak Kiku mengantarkan Antonio dan Francis ke lobby Rumah Sakit, sudah sepuluh menit juga Ludwig sendiri menunggu kakaknya di sini. Perasaannya masih tidak enak, karena ia yakin ada yang disembunyikan oleh kakak dan dua sahabatnya. Ia ingin menanyakannya pada Kiku dan Kaoru tentang apa yang disembunyikan oleh Gilbert, namun reaksi kaka beradik itu sama. Hanya wajah pucat dan sikap yang gugup. Ludwig sedikit kesal dengan sikap mereka. Seolah-olah dirinya saja yang tak tahu apa-apa. Seolah-olah dirinya sendirilah yang tidak boleh tahu.

Tak lama, Ludwig mendengar suara pintu kamar terbuka. Ludwig segera berdiri dari duduknya, "Kiku, lama sekali….. engkau.." kalimat Ludwig terputus saat ia tidak melihat Kiku di ambang pintu, melainkan perempuan berambut coklat panjang dengan bando di kepalanya. "Elizaveta?" tanya Ludwig bingung saat melihat sepupunya yang bekerja di luar negeri ada di sini.

"Luddy!" Elizaveta langsung masuk ke dalam ruangan dan memeluk Ludwig saat Ludwig mengenalinya. "syukurlah kau baik-baik saja!"

"Bagaimana kau ada di sini?" Elizaveta melepas pelukannya dan memegang kedua pundak Ludwig.

"Anak dari atasanku mengalami kecelakaan, dan ia meliburkan kantor selama satu minggu karena ia akan merawat anaknya. Jadi aku punya kesempatan untuk datang kemari. Tapi betapa kagetnya aku saat mereka bilang Gilbert kecelakaan! bagaimana dengan administrasi Rumah Sakit?"

"Kak Gilbert bilang bulan ini ayah memberi kami uang bulanan lebih. Jadi aku pikir tidak ada masalah dengan biaya Rumah Sakit."

"Ayah?" Elizaveta mengerutkan alisnya karena bingung. "Ayah siapa?"

Melihat sepupunya bingung, Ludwig ikut bingung. "Tentu saja ayahku! meski pisah rumah, ia tetap memberi kami uang tiap bulannya." Melihat Elizaveta terdiam, Ludwig masih bingung. "Kau tentu kenal ayahku, bukan?"

"Tentu saja Luddy. Tapi tak mungkin ayahmu yang memberi uang tiap bulannya. Ia sudah meninggal tiga tahun yang lalu!" Ludwig terdiam sejenak, berusaha mencerna apa yan dikatakan Elizaveta. "Ayahmu terkena hukuman mati tiga tahun yang lalu. Ayahmu yang tidak terima dengan itu kabur dari penjara dan bersembunyi di rumah. Gilbert yang tahu rumahnya akan diserbu polisi, membawamu keluar dari rumah dan tak kembali lagi karena ia tak mau para tetangga menjelekkanmu. Bukankah Gilbert sudah memberi tahumu?"

Ludwig menggeleng, "Tidak. Baru kali ini aku mendengarnya. Kau pasti bercanda, bukan? kalau ayahku sudah tidak ada, siapa yang memberiku uang tiap bulannya?"

"Tidak adakah yang memberi tahumu?"

"Brak!" suara benda jatuh dari arah pintu membuat Ludwig dan Elizaveta melihat ke arah pintu dan menemukan Francis berdiri seperti patung di ambang pintu.

"Francis!" bersamaan, Ludwig dan Elizaveta memanggil namanya.

"Eeerrm.. halo, Eli" sapa Francis dengan gugup.

"Kau ini bagaimana sih? kau kan sahabatnya Gilbert, kenapa kau tak bisa melindungi Gilbert? lihat, Gilbert sampai kecelakaan karena mobilmu!" omel Elizaveta sambil menghampiri Francis.

"Maaf tuan putri, jika mobilku sudah membuat pangeranmu kecelakaan. tapi setidaknya aku membantunya! selama ia koma, aku yang menggantikan ia kerja di pagi hari!" tak terima dirinya dimarahi, Francis ikut emosi.

"Kerja?" Ludwig yang lagi-lagi merasa ada yang janggal bertanya pada Francis. "apa maksudnya dengan kerja, Kak Francis?" Francis yang tahu dirinya mengucapkan kalimat yang tak seharusnya ia ucapkan menelan ludahnya.

"Tidak, tidak. Lupakan saja perkataanku tadi, Ludwig." melihat sikap gugup Francis, Ludwig memasang wajah marahnya.

"Kau menyembunyikan sesuatu, bukan?" tanya Ludwig yang membuat Francis menghindari kontak mata dengan mata Ludwig.

"Nngg…" Francis berusaha mencari kebohongan. Ia tak mungkin bicara hal yang sebenarnya pada Ludwig atau Gilbert akan marah!"

"JANGAN MAIN RAHASIA PADAKU! CEPAT KATAKAN YANG SEBENARNYA!" tanpa sadar, Ludwig berteriak. Membuat beberapa orang yang melewati kamar inap Gilbert melihat ke dalam.

"Ludwig-san, kenapa berteriak?" tak lama, Antonio dan Kiku datang. Kiku yang sedang menghampiri Ludwig sedikit kaget karena Ludwig menarik kerah bajunya.

"Hei Kiku, kau juga menyembunyikan sesuatu, bukan? cepat beritahu aku apa yang kalian sembunyikan! aku berhak tahu karena aku adiknya Gilbert!" Kiku melihat mata marah Ludwig. Ia tahu kali ini Ludwig sangat serius.

"Justru karena kau adiknya, kami tidak bisa member tahumu, Luddy." Kiku sedikit lega saat mendengar suara Antonio dari belakangnya dan berusaha melepaskan tangan Ludwig dari kerah bajunya. "Karena Gilbert sangat sayang padamu, dan memohon pada kami agar kami merahasiakannya darimu atau kau pasti akan sedih. Tentu saja kami tak bisa menolaknya."

"Sekarang kakakku sedang koma dan tak tahu kapan akan bangun. Jadi bisa beritahu aku?" pinta Ludwig sambil bertatap mata dengan Antonio.

"Baiklah. Tapi aku harap kau tidak kaget mendengar cerita ini.

"Cepat beritahu!"

Antonio menelan ludahnya sebelum ia memulai ceritanya. "Ayahmu adalah Bandar narkoba. Setiap bulan ia dan ibumu pergi ke luar kota untuk pergi menghindari polisi. Gilbert tahu itu. Ia ingin pergi dari rumah bersamamu Karena ia takut kau akan memakai narkoba. Tapi saat ia melihat betapa senangnya kau saat ayahmu membelikan oleh-oleh, ia mengurungkan niatnya. Ia sering bertengkar dengan ayahnya karena ia ingin ayahnya berhenti menjual demi kebaikanmu. Tapi ayahmu tak mau dengan alas an bahwa itu adalah mata pencahariannya. Akhirnya Gilbert memutuskan untuk pergi dari rumah jika terjadi sesuatu pada ayahnya saja."

"Dan ternyata hari itu tiba. Tiga tahun yang lalu, polisi sudah mengetahui perbuatan ayahmu dan menangkapnya. Namun ternyata ayahmu kabur dan menjadi buronan polisi. Ayahmu bersembunyi di rumah. Gilbert tahu ayahnya menjadi buronan. Ia juga tahu kalau tetangga sudah mulai menjelekkan dirinya dan kau. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari rumah, memulai hidup baru bersamamu. Ia tak mau hidup dari uang haram lagi. Untuk itu ia memutuskan untuk tidak kuliah dan mulai bekerja sendiri. Ia tak ingin kau tahu cerita ini karena ia tak ingin kejadian ini mempengaruhi belajarmu. Maaf jika kami menyembunyikannya selama ini."

Ludwig mematung mendengarnya. "Bohong.." ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Bohong.." ia juga tak percaya bahwa ayahnya adalah Bandar narkoba. Ia juga tak percaya kakaknya membawanya keluar dari rumah untuk melindunginya. "Kau bohong, Antonio!"

"Terserah kau mau bilang apa, Luddy. Aku sudah jujur padamu." badan Ludwig lemas. Ia duduk di samping tempat tidurnya sambil menundukkan kepalanya.

"Tapi… tapi… ia telah memisahkanku dari ayah."

"Itu supaya kau tidak ikut terlibat dengan pemeriksaan polisi."

"Ia juga yang selalu bertengkar dan melukai ayah…"

"Itu karena ia melindungimu dari ayahmu.

"Tapi… tapi… aku sudah berbuat jahat padanya…" kali ini Antonio tidak bisa membalas perkataan Ludwig. "Aku juga yang sudah bilang padanya untuk menghilang saja. Aku sudah jahat padanya tanpa tahu bahwa ia melakukan ini untukku…" tanpa sadar, Ludwig menangis. Tangannya menggenggam erat tangan kiri Gilbert yang dipasangi infus. "Maafkan aku kak, maafkan aku…" ucap Ludwig sambil menangis di tangan Gilbert.

Dan untuk pertama kainya, Ludwig menangisi kakaknya, berharap kakaknya bangun agar ia bisa memeluknya

Sekarang jam berapa? 00:07? hm… anyway, saya merasa saya membuat tokoh Ludwig yang jahat di chapter ini, hohoho. Dan maaf jika chapter ini berakhir jelek dan aneh (?). Dari chapter ini sudah tahu kan siapa sekretaris Arthur?

Chapter selanjutnya aka nada dua chapter mengenai Jones bersaudara, meski saya tak tahu kapan akan meng-publishnya.

Saran dan kritik diterima. So, R&R please