Hi there, Arisa is here. Maaf kalau chapter ini update nya lebih lama daripada biasanya dikarenakan ospek jurusan yang menguras tenaga dan pikiran. Saya sampai nangis karena gak kuat *maaf lagi-lagi saya curhat.

Saya juga sempat tak ada ide untuk chapter tujuh ini dan membuat fanfic yang lain, hehe. Meski begitu, saya bertekad untuk membuat cerita ini hingga tamat.

HetaliaFeliciano : terima kasih atas dukungan anda, thanks for the review.

Unknowners : wah, maafkan saya. Kali ini apa sudah benar? thanks for the review.

Warning : typo. Karena dari awal chapter hingga terakhir kesalahan saya ini masih bisa belum saya hilangkan jadi harap maklum.

Disclaimer : I own nothing.

Chapter 7 : Where are my brother? (part 1)

Meski ada larangan untuk berlari di koridor Rumah Sakit, Arthur tidak peduli. Begitu ia menguci mobilnya, ia segera berlari menuju Ruang Unit Gawat Darurat. Jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang menyerangnya. Ia takut apa yang terjadi pada anaknya saat pihak sekolah memberi tahu bahwa Matthew jatuh dari atap sekolah.

"Alfred!" jantung Arthur semakin cepat berdetak saat melihat Alfred sedang duduk di bangku depan ruang operasi dengan wajah penuh luka dan darah di bajunya. Alfred menoleh saat mendengar suara ayah angkatnya. " Alfred! Kau tidak apa-apa? kenapa wajahmu? ada yang sakit?" tanya Arthur panik sambil duduk bersimpuh di depan Alfred dan mengelus wajah Alfred.

Tangan Alfred gemetaran saat Arthur menggenggam erat tangannya. "Aku tidak apa-apa, Artie. Aku baik-baik saja. Matthew yang kesakitan. Matthew yang…" suara Alfred mulai bergetar. " Mattie yang kesakitan, Artie. Darahnya banyak sekali… dan badannya perlahan menjadi dingin…"

Arthur memeluk Alfred, berusaha menenangkannya. " Tenang, aku yakin semua akan baik-baik saja. Lalu ada apa dengan luka di wajahmu?"

"Mereka bilang Mattie bunuh diri, Artie." Arthur mematung mendengarnya. "Tidak ada orang lain di atap sekolah selain Mattie. Tapi aku tak yakin Mattie akan melakukan itu. ia tak mungkin melakukan itu, bukan? aku sampai memukul mereka yang bilang Mattie sungguhan bunuh diri. Karena itu tidak mungkin, kan?" tanya Alfred ketakutan. Arthur memeluk Alfred lebih erat dan mengelus rambutnya. "….aku takut, ayah." ucap Alfred dengan nada bergetar dan kemudian menangis.

Arthur tersenyum sedih mendengarnya. Saat Alfred memanggilnya ayah, itu artinya Alfred sedang benar-benar ketakutan. "Aku ada disini, Alfred…"

X

Alfred tertidur pulas di pangkuan Arthur. Dan Arthur, tidak henti-hentinya mengelus rambut Alfred agar ia tidak menangis lagi. Arthur menyandarkan kepalanya ke dinding. Sudah satu jam ia menunggu pintu ruang operasi terbuka, namun tak ada tanda lampu yang menyala di atas pintu akan mati.

Arthur capek fisik dan pikiran. Ia capek fisik karena tanpa sadar ia bilang bahwa kantor akan diliburkan selama seminggu dan langsung mengendarai mobilnya menuju Rumah Sakit. Ia capek pikiran karena terus memikirkan Matthew. Anak angkat bungsunya memang sering dirawat di Rumah Sakit. Tapi itu karena sakit. Belum pernah ia dirawat karena jatuh. Apalagi jatuh dari atap sekolah.

Ia sangat kaget saat Alfred bilang bahwa kemungkinan Matthew bunuh diri. Ia takut jika memang itu benar kenyataannya, artinya ia sudah gagal menjadi seorang ayah. Ia gagal memberikan rasa aman dan nyaman pada Matthew. Ia gagal melindungi Matthew. Sedari tadi, ia mencari tahu apa dan dimana salah dia. Apa ia kurang perhatian pada Matthew? apa ia kurang menyenangkan hati Matthew?

Arthur bingung harus bagaimana. Ia bingung harus belajar dari siapa untuk bisa menjadi seorang ayah. Ia tidak mempunyai ayah sejak kecil. Ia tidak tahu seperti apa sosok ayah karena yang ia ingat adalah ayahnya selalu menemani ia sebelum tidur dan selalu membacakan dongeng untuknya. Ia sudah mencari sosok ayah sejak kecil, yang berujung ia menyadari bahwa ia tertarik pada laki-laki dan tidak bisa mencintai perempuan. Ia tidak pernah berfikir untuk menikah dan mempunyai anak. Namun saat melihat Matthew, hatinya tergerak untuk menjadi seorang ayah.

Dan sekarang, saat mendengar kemungkinan Matthew bunuh diri, ia menyesali keputusannya. Seharusnya ia tidak mengadopsi Alfred dan Matthew. Seharusnya ia mengadopsi anak lain agar Alfred dan Matthew bisa diadopsi oleh orang lain yang lebih baik dari dia. Ia tidak bisa melindungi Matthew. ia tidak pantas menjadi ayah Matthew.

Ia memang pernah menanyakan kepada Alfred dan Matthew seperti apa ayah mereka. Dan dengan mata berbinar, mereka menjawab, "Papa adalah orang yang hebat! ia bisa menerbangkan kami ke angkasa! ia juga bisa membuatkan kami masakan yang enak!" Arthur pernah mencobanya. Ia pernah mengangkat kedua anak angkatnya tinggi, seolah mereka terbang. Namun sepertinya tinggi Arthur lebih pendek daripada ayah kandung mereka karena mereka mengeluh mereka terbang di tempat yang pendek. Dan untuk masakan, itu adalah kelemahan terbesar Arthur, meski ia sudah latihan beribu kali.

Mungkin jika Matthew sungguhan bunuh diri, Arthur sadar ia harus mengubah sikapnya. Ia harus bisa menjadi ayah yang lebih baik lagi. Tapi bagaimana caranya? apa ia harus berhenti bekerja di kantor dan bekerja di rumah atau ia harus belajar memasak?.

"Ping!" Artur langsung menengok ke arah pintu saat melihat lampu di atas pintu mati. Tak lama, keluarlah seorang pria mengenakan baju operasi sedang melepaskan maskernya. Dan di belakang pria itu keluarlah beberapa orang yang memakai baju operasi juga sedang mendorong tempat tidur. Arthur dapat melihat Matthew ada di tempat tidur itu sedang memejamkan matanya seolah tertidur. ia ingin segera menghampiri Matthew untuk memastikan ia baik-baik saja. Namun ia sadar, Alfred masih tidur di pangkuannya.

"Alfred, bangun! operasi sudah selesai!" Arthur memukul pelan pipi Alfred agar ia bangun. Alfred mulai membuka matanya. Ia duduk dengan benar, namun pandangannya masih kosong. "Matthew sedang dibawa ke kamar. Kau pergi dulu saja nanti aku menyusul." mendengar nama adiknya sedang dibawa ke kamar membuat Alfred tersadar penuh dan langsung berdiri dari tempat duduknya.

"Mattie!" Alfred berusaha mengejar orang-orang berbapakaian baju operasi yang membawa adiknya. Melihat Alfred sudah berhasil mengejar, Arthur menghela nafas lega.

"Dok, bagaimana dengan operasi Matthew?" tanya Arthur pada orang yang berpakaian baju operasi yang berdiri di sampingnya.

Orang itu memperhatikan Arthur, "Anda keluarganya?"

"Iya, saya ayahnya." Orang itu melihat mata Arthur yang serius saat menjawab namun juga terlihat capek. Orang itu tersenyum.

"Mari kita bicarakan sambil duduk, Tuan Jones." kata orang itu yang kemudian duduk di samping kiri Arthur.

"Maaf, nama marga saya Kirkland. Matthew adalah anak angkat saya."

"Maaf! Saya sadar anda sangat berbeda dengan Matthew namun saya ragu apa anda benar…"

"Tidak apa-apa, itu tidak penting. Ceritakan saja bagaimana dengan keadaan Matthew."

Orang itu tersenyum lalu memberikan tangan kanannya, "perkenalkan nama saya Sadiq Annan, dokter yang menganani operasi Matthew."

"Arthur Kirkland." Arthur menjabat tangan Sadiq.

"Jadi, Matthew jatuh dari atap dengan posisi terlentang, membuat tulang punggungnya retak. Kepalanya juga terbentur keras dan mengalami gegar otak. Ia kehilangan banyak darah dan maaf, kami sempat kehilangan dia.". Mata Arthur terbelak mendengar penjelasan dari Sadiq

"….kehi….langan?"

"Iya, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin dan bisa membawanya kembali. Saat jatuh ia tertimpa sebagian pagar atap sekolah yang membuat tubuh bagian dada memar. Dengan melihat keadaannya, saya tak tahu sampai kapan ia aka bertahan."

"Boleh saya tanya sesuatu, Dok?" Arthur menunggu jawaban dari Sadiq. Dan saat ia melihat Sadiq menganguk, ia melanjutkan pertanyaannya. "apa mungkin Matthew bunuh diri?"

Sadiq terdiam mendengar pertanyaan Arthur. "Berat untuk saya jawab tapi maaf, iya." sesaat Arthur merasa jantungnya berhenti berdetak. "Menurut laporan yang saya terima, di potongan pagar yang menimpa Matthew terdapat sidik jari Matthew. Diperkirakan sebelum meloncat ia berpegangan pada pagar yang ternyata pagar tersebut juga ikut terjatuh. Sehingga saat Matthew terjatuh ke tanah, potongan pagar juga menimpa badannya…"

Sadiq masih berbicara namun Arthur tidak bisa mendengarnya. Pikirannya kosong setelah ia mendengar dari Sadiq bahwa Matthew memang bunuh diri. Dadanya sakit, dan ia ingin menangis. Tapi sayang, tak ada air mata yang keluar dari matanya. Sadiq yang melihat keadaan Arthur tak tahu harus berkata dan berbuat apa. ia sudah pernah melihat reaksi keluarga pasiennya yang bunuh diri namun ia tak pernah melihat reaksi yang sedingin ini. "Tuan Kirkland, saya…"

"Maaf, dok, saya ingin diam sebentar…"

"Baiklah. Saya hanya ingin pamit karena harus kembali bekerja. Tapi sebelum itu, ada yang ingin saya berikan…"

Arthur merasa Sadiq memegang tangannya dan membuka telapak tangannya. Arthur melihat Sadiq menaruh sesuatu di telapak tangannya, sebuah jepit rambut berbentuk bunga dan berwarna biru. "Ini apa, dok?" Arthur mendongakkan kepalanya agar melihat wajah Sadiq.

"Sebelum operasi, saya menemukan itu ada di tangan Matthew. Mungkin ini punya Matthew maka dari itu saya kembalikan pada anda. " Arthur menatap bingung benda yang ia pegang sekarang. Ia tidak pernah melihat jepit rambut ini sebelumnya. Ia juga yakin ini bukan milik Alfred. Kedua anaknya tak suka memakai jepit rambut, apalagi yang berbentuk bunga.

Atau jangan-jangan… ini punya pacarnya Matthew! jangan-jangan, Matthew bunuh diri karena cinta?!, tanpa sadar wajah Arthur memerah karena tak bisa membayangkan Matthew bersama perempuan lain. "Aku harus Tanya Alfred, ia pasti tahu sesuatu."

X

Setelah para suster dan dokter keluar dari ruangan, Alfred tak henti-hentinya menggenggam erat tangan Matthew. Tidak seperti Alfred yang bajunya masih kotor dengan noda darah, Matthew kini terlihat bersih. Memang ada perban di kepalanya, namun sudah tidak ada noda darah di wajahnya. Mata yang Alfred lihat terakhir kali sedang memandang langit dengan tatapan kosong kini terpejam. Matthew terlihat tidur dengan tenang di tempat tidur, namun itu yang membuat Alfred tambah khawatir. Alfred takut mata Matthew takkan terbuka lagi.

"Mattie… Mattie…" berkali-kali Alfred memanggil nama adiknya agar terbangun. Ia tidak kuat melihat keadaan Matthew. ia juga tak bisa membayangkan ia kehilangan Matthew. terlebih saat teman-temannya bilang bahwa Matthew bunuh diri. Ia tidak percaya, ia yakin Matthew tidak akan bunuh diri. Karena ia selalu merasa kehidupan Matthew baik-baik saja. Matthew selalu tersenyum padanya, dan tak pernah mengeluh. Alfred sampai menyangka kehidupan Matthew sempurna karena tidak ada masalah. Jadi, tak mungkin sseorang yang mempunyai kehidupan yang sempurna bunuh diri, bukan?

"Alfred," tak lama, Alfred mendengar suara Arthur memanggilnya. Ia juga bisa merasakan Arthur sedang berdiri di sampingnya. Namun Alfred tak bereaksi. Ia masih melihat Matthew sambil menggenggam tangannya. Sampai ia merasakan ada sesuatu di atas kepalanya, ia mendongak ke atas. "ganti bajumu. Bajumu kotor dan kau bau keringat.

Mendengar ayahnya mengeluh Alfred melepas genggaman tangannya. "Iya." jawabnya malas. Ia berdiri dan melepas bajunya untuk diganti dengan yang baru. Arthur duduk di kursi yang tadinya diduduki Alfred. Ia melihat ke arah Matthew. Arthur tersenyum sedih saat melihat wajah tenang Matthew.

"Hei, Alfred."

"Ya?"

"Apa Matthew sudah punya pacar?"

Alfred langsung menoleh ke arah Arthur saat mendengar pertanyaan ayahnya. "Ha?! kenapa kau bertanya seperti itu?"

Arthur membuka tangan kanannya dan memperlihatkan jepit rambut berbentuk bunga pada Alfred. "Kata Dokter ini ada pada tangan Matthew sebelum ia dioperasi. Kemungkinan Matthew menggenggamnya saat terjatuh. Apa ini punya Matthew?" Alfred memperhatikan dengan seksama benda yang sedang diperlihatkan ayahnya. Ia tak pernah melihat Matthew memakai jepitan seperti itu. Namun ia merasa pernah melihat jepit rambut itu entah dimana. Dan saat ia ingat dimana ia pernah melihat jepit rambut itu, Alfred merebut jepit rambut itu dari Arthur.

"Natalya…"

X

Meski baru sehari, berita tentang jatuhnya Matthew sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Tak hanya murid, guru pun ikut membicarakannya. Mereka percaya bahwa Matthew bunuh diri karena saat Matthew terjatuh, tidak ada orang di atas atap. Tapi mereka tak berani mengakuinya atau Alfred akan menyerang mereka. Para murid yang biasanya menyapa ramah Alfred, hari ini tidak berani menyapa karena mereka tahu suasana hati Alfred sedang buruk.

Apalagi pagi ini. Mereka dapat melihat Alfred sedang marah besar saat mereka melihat Alfred memasuki sekolah dengan wajah marah dan tidak tersenyum sedkitpun seperti yang biasanya ia lakukan. Alfred berjalan cepat memasuki sekolah. Namun ia tidak langsung masuk ke dalam kelas. Saat ia melihat orang yang sedang ia cari ada di lapangan, ia meghampiri orang tersebut. "NATALIE!" saat Alfred sudah di dekatnya, Alfred berteriak memanggil namanya.

Natalya yang tadinya sedang berbincang bersama teman sekelasnya menengok ke sumber suara. Ia terkejut saat melihat Alfred berjalan ke arahnya dengan wajah marah. "Alfred?" Natalya makin terkejut saat Alfred menarik tangan kanannya dan memaksanya berjalan menjauhi teman-temannya. "Hei Alfred, apa yang kau lakukan?!"

"Diam dan ikut aku!" jawab Alfred dengan nada marah. Natalya ingin protes kembali namun saat ia melihat wajah marah Alfred ia sadar jika ia protes sekarang, ia akan dalam bahaya. Langkah Alfred terhenti saat ia dan Natalya sudah berada di taman belakang sekolah. Alfred berbalik badan agar ia bisa berhadapan dengan Natalya.

"Jadi, apa maumu?" Natalya bertanya dengan nada hati-hati karena ia sadar Alfred sedang memandangnya tajam dan Natalya sedikit takut dengan tatapan Alfred. Alfred tidak menjawab, ia hanya menyodorkan sesuatu kepada Natalya. Saat Natalya melihat jepit rambut pemberian kakaknya ada di tangan Alfred, wajahnya berbinar. "Jepit rambutku! Dimana kau menemukan ini? aku kehilangan benda ini dari kemarin."

Natalya ingin mengambil jepit rambutnya, namun Alfred langsung menjauhkannya. "Dimana? kau mau tahu dimana aku menemukan ini? aku menemukan ini di tangan Matthew, Natalie!" Natalya mentup matanya karena ia terkejut Alfred membentaknya. "Dan kau mau tahu apa mauku padamu? Aku ingin kau jelaskan kenapa ini ada di tangan Matthew dan ada apa kau memanggil Matthew ke atap sekolah kemarin!" Alfred terus membentaknya dan Natalya tambah takut. Sisi gelap Alfred yang galak dan kejam jika berhadapan dengan seseorang yang berusaha melukai adiknya muncul.

"Aku… tak tahu kenapa itu ada di tangan Matthew…" jawab Natalya dengan mata yang masih terpejam.

"Oh, bukankah kemarin kau memanggilnya ke atap sekolah untuk mendorongnya?" tanya Alfred sinis.

"Bukan!" Natalya langsung membantah. "Aku berani sumpah aku tidak mendorongnya!" kini Natalya bertatap muka dengan Alfred. Meski ia masih merasa takut tapi ia tidak ingin Alfred salah paham padanya. "Aku memanggilnya kemarin ke atap untuk minta maaf pada Matthew karena aku pernah berkata kasar padanya, hanya itu!"

"Lalu kenapa jepit rambutmu ada di tangan Matthew?"

"Aku… aku tidak tahu! Saat aku pergi ke atap aku masih memakainya. Dan setelah selesai berbicara pada Matthew aku kembali ke kelas dan merasa jepit rambutku hilang. Aku ingin memeriksa ke atap namun saat aku baru keluar dari kelas terdengar suara keras dari lapangan. Saat aku melhat ke lapangan, aku sudah melihat Matthew berlumuran darah… karena itu aku tidak berani pergi ke atap dan memilih untuk tetap di dalam kelas…"

Suasana sempat hening. Alfred masih ragu apakah ia bisa mempercayai Natalya sedangkan Natalya menatap Alfred dengan tatapan serius, berharap Alfred bisa mempercayainya. Tak lama, terdengar suara bel masuk. Alfred menghela nafas lalu berjalan menuju Natalya. Natalya menutup matanya karena takut apa yang akan Alfred lakukan padanya.

"Aku harap aku bisa mempercayaimu, Natalie." Natalya membuka matanya saat mendengar suara Alfred di telinga kirinya. Ia melihat Alfred kini berjalan menjauhinya. Ia juga melihat kini jepit rambutnya ada di saku bajunya. Tiba-tiba Natalya terjatuh karena merasa kakinya sangat lemas.

"Astaga, aku harap aku tidak melihat sisi gelap Alfred lagi…" harapnya dalam hati.

X

Di dalam ruang inap Matthew pada malam hari hanya terdengar suara mesin dan suara jari Arthur yang sedang menari di atas keyboard laptopnya. Sesekali ia berhenti mengetik, melihat Matthew yang masih koma, kemudian melanjutkan mengetik lagi. Terkadang, ia berhenti mengetik untuk melihat Alfred yang sedang tidur di sofa.

Sejak Matthew dirawat di Rumah Sakit, Arthur dan Alfred juga ikut menginap di Rumah Sakit dengan alasan masakan di kantin Rumah Sakit jauh lebih sehat daripada masakan mereka. Mereka hanya pulang jika ingin mandi. Terlebih seminggu sudah berlalu dan itu artinya Arthur sudah harus mulai bekerja. Tidak seperti biasanya, kali ini ia pulang lebih cepat agar bisa segera ke Rumah Sakit dan menjaga Matthew. ia juga membawa dokumen-dokumen perusahaan ke Rumah Sakit agar ia bisa bekerja di Rumah Sakit.

Banyak pegawainya yang bilang pada Arthur bahwa mereka sedih dan turut prihatin dengan kecelakaan Matthew. Terutama sekretarisnya, Elizaveta yang bercerita bahwa sepupunya juga sedang mengalami kecelakaan dan dirawat di Rumah Sakit. Arthur senang dengan perhatian dari teman-teman kantornya, namun hatinya belum tenang karena hingga sekarang Matthew belum membuka matanya. Sudah seminggu berlalu dan Matthew belum membuka matanya.

"Ah…" merasa matanya kini sudah sangat lelah, Arthur menyandarkan kepalanya ke dinding dan melepas kacamata yang selalu ia pakai saat ia bekerja. Ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan angka dua. "Akh, sudah jam segini?!" Arthur sendiri kaget saat ia tahu sudah lebih dari empat jam ia berada di depan laptop. Arthur berdiri dan berjalan menuju tempat tidur Matthew. ia mengelus rambut Matthew kemudian mengecup keningnya. "Selamat tidur." ucapnya lalu kembali ke sofa dan melakukan hal yang sama pada Alfred.

Arthur tahu mengatakan itu pada orang yang sudah tertidur lebih dari seminggu tidak ada artinya. Namun ia berharap jika ia melakukan hal yang selalu ia lakukan pada Matthew setiap sebelum tidur, Matthew akan terbangun dari tidurnya pada keesokan paginya.

Dan Sepertinya Tuhan mengabulkan doa Arthur hari ini. Alfred terbangun karena merasa kedinginan. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan jam enam. Ia berusaha bangun sambil mengusap wajahnya. Ia tidak bisa tidur lagi karena sebentar lagi ia harus berangkat sekolah. Setelah sudah cukup kuat, ia turun dari sofa dan melihat ke arah tempat tidur Matthew untuk melihat keadaan adiknya. Betapa terkejutnya Alfred saat melihat adiknya sudah bangun sambil melihat sekeliling kamar.

"Mattie!" Alfred berteriak memanggil nama adiknya sambil berlari ke tempat tidur Matthew. Teriakan Alfred membuat Arthur yang tadinya tidur di sebelah Alfred terbangun dan membuat Matthew langsung menoleh ke arahnya. Alfred langsung memeluk Matthew saat ia sudah berada di sebelah tempat tidur. "Syukurlah kau sudah bangun, Mattie…" kata Alfred dengan air mata bahagianya.

Mendengar kalimat Alfred, Arthur langsung turun dari sofa dan menghampiri tempat tidur. Melihat Matthew sudah sadar dan kini sedang dipeluk oleh Alfred, tanpa sadar Arthur menangis dan ikut memeluk Matthew. "Matthew! syukurlah kau sudah sadar, nak…" Arthur dan Alfred sama-sama menangis bahagia saat mengetahui Matthew sudah sadar. Namun tak ada reaksi dari Matthew. ia hanya terdiam sambil melihat kakak dan ayahnya menangis.

Alfred sadar dengan sikap aneh Matthew. ia melepas pelukannya dan bertanya pada Matthew, "Matt? kau tidak apa-apa?"

Lalu, dengan tatapan bingung Matthew menjawab, "Kalian siapa?"

Boleh jujur sedikt? saya rasa chapter ini bukanlah chapter terbaik yang pernah saya buat. Jadi maaf jika anda masih menemukan typo dan merasa cerita di chapter ini sedikit aneh.

Kritik dan saran saya terima. So, R & R please.