Hi there, Arisa is come back. Sudah tiga bulan cerita ini tidak update ya? maafkan saya m(-_-)m, saya disibukkan dengan kuliah dan ujian tengah pertama saya di universitas. Dan saya juga mengalami writer blok, tak ada inspirasi untuk chapter ini. Teman saya menyarankan untuk tidak terburu-buru meng-update jika saya merasa jalan cerita di chapter ini tidak sesuai harapan saya dan hasilnya... baru sekaranglah inspirasi saya muncul. Maaf jika chapter 'come back' saya ini tidak memuaskan.
Sebelumnya, saya tak menyangka review dari cerita ini akan melebihi lima puluh. Ini fanfic pertama saya yang bukan one-shot dan saya tak menyangka akan mendapat banyak masukan dari para pembaca. Saya sangat berterima kasih bagi siapa pun yang sudah mengingatkan kesalahan saya, yang sudah mendukung saya dengan memberi review, yang sudah memberi ide dan saran, kalian membuat saya untuk tidak menyerah dalam membuat cerita ini *bow.
Jenichi Kaname : untuk jawaban dari tebakan Anda bisa di cek di chapter ini thanks for the review.
LalaNur Aprilia: saya mengerti. Karena kesibukan saya juga, chapter ini baru update. Dan saat saya membaca review dari anda, jujur saya dapat inspirasi baru :D ほんとうにありがとうございます。thanks for the review.
Fujoshi Ren: doakan saja supaya saya tidak mengalami writer blok lagi thanks for the review.
Unknownwers: Anda review-ers fanfic ini yang ke 50! yeay! #gakpenting #abaikan. Saya, sebagai fujoshi yang juga oyajicon berusaha menampilkan sisi ayah dari Arthur meski ia uke... ("Victory is our tradition" – Teikou's motto-) thanks for the review.
Scorpio rahmah: siap! thanks for the review.
Warning : 1) typo, sama seperti chapter-chapter sebelumnya, saya yang manusia biasa ini biasanya melakukan kesalahan dalam pengetikan. 2) Di chapter ini, Francis sudah bertemu dengan Arthur. 3) mungkin saat membaca chapter ini akan ada 'kejutan' karena itu akan ada catatan dari saya di akhir chapter, jangan lupa dibaca ya.
Disclaimer : I own nothing.
Chapter 8 : Where are my brother? (part 2)
Angin menyerang Matthew saat ia membuka pintu atap sekolahnya. Matthew menutup kedua matanya supaya tidak ada debu masuk ke dalam matanya meski ia memakai kacamata. Dan saat ia membuka matanya, ia melihat Natalya sedang berdiri dekat pagar pembatas sambil menatap langit. Matthew menelan ludah karena gugup. Ia tak tahu apa yang Natalya inginkan darinya hingga Natalya memanggilnya kemari. Perlahan, Matthew berjalan mendekati Natalya. "Errmm... Natalya?" mendengar ada yang memanggilnya, Natalya menoleh.
"Oh, Mattie! Kau datang!" sapa Natalya dengan nada ramah.
"Ada... apa kau memanggilku kemari?" tanya Matthew yang bingung degan sikap Natalya yang aneh.
"Aku.. errmm..." Natalya menundukkan kepalanya sambil melihat ke bawah, seperti sedang mencari kalimat yang ingin diucapkan. "Aku ingin minta maaf!" teriak Natalya sambil membungkukkan badannya.
Melihat Natalya menundukkan kepalanya, Matthew mundur selangkah karena kaget. "He? He? apa yang kau lakukan, Nat?!"
"Sikapku kemarin jahat padamu. Aku sedang marah pada Alfred dan tak sengaja berbicara kasar padamu. Aku tak bermaksud jadi aku minta maaf." Natalya masih membungkukkan badannya. Matthew yang tak ingin melihat Natalya membungkukkan badannya terus menerus berjalan mendekati Natalya dan mengulurkan tangannya.
"Kau tak salah apa-apa, Nat. Kau pantas marah padaku kemarin, karena aku kalian jadi tidak bisa kencan, kan? Sudahlah, harusnya aku yang minta maaf."
"Jadi, kau memaafkanku?" Matthew menganguk menjawab pertanyaan Natalya. "Syukurlah, aku tak tahu apa yang Alfred akan lakukan padaku jika kau tak memaafkanku."
"Haha, kakakku tak seseram yang kau pikirkan." kata Matthew sambil tersenyum karena tahu apa yang Natalya maksud.
"Tentu saja ia tak pernah menunjukkan sisi gelapnya di hadapanmu!" protes Natalya. Keadaan menjadi hening saat Natalya dan Matthew sama-sama memandang langit. "Kau suka langit?" tanya Natalya tiba-tiba.
"Iya, mereka mengingatkanku pada kakak." jawab Matthew yang membuat Natalya menoleh.
"Aku juga berfikiran hal yang sama," ucapnya. "setiap kali melihat Alfred yang bebas, aku jadi merasa bebas juga. Seperti langit cerah ini." komentar Natalya. "Aku bisa bersikap seperti diriku sendiri karena Alfred..."
Matthew tersenyum mendengar ucapan Natalya. "Kalau kau ingin bersama Alfred, jagalah ia, Natalya."
Natalya bingung dengan kalimat yang dimaksud Matthew, tapi ia tak menghiraukan kalimat aneh Matthew. "Pasti, Matthew." tak lama, angin berhembus sangat kencang. Membuat Matthew menutup kedua matanya, sedangkan Natalya menutupi roknya. Angin berhembus cukup lama. Dan saat Matthew dan Natalya membuka mata mereka, Natalya tertawa melihat Matthew berpenampilan berantakan. "Haha... kau sangat kacau, Matthew!"
"Rambutmu juga berantakan, Nat!" kata Matthew dengan wajah cemberut. Natalya segera merapikan rambut panjangnya dengan jari-jari tangannya.
"Nah, sekarang suah rapi, kan?" tanya Natalya yang kemudian berjalan melewati Matthew menuju pintu. "Sudah dulu ya. Aku memanggilmu kemari hanya untuk meminta maaf agar Alfred tak marah padaku, dah Matthew."
Matthew tersenyum saat melihat Natalya menutup pintu. Ia sering mengalami hal ini. Beberapa orang yang pernah berkata kasar atau berbuat salah pada Matthew meminta maaf pada Matthew agar mereka tidak mendapat hukuman dari Alfred. Karena itu Matthew berusaha sebisa mungkin untuk memperlihatkan pada Alfred bahwa teman-temannya berbuat baik padanya agar mereka tidak dihukum Alfred.
Angin kembali berhembus. Kali ini Matthew melihat lapangan sekolah yang dapat terlihat dari atas atap. Matthew berjalan mendekati pagar pembatas untuk melihat lapangan lebih jelas. Sampai ia melihat sesuatu di dekat pagar yang ternyata adalah jepit rambut Natalya. "Astaga, itu harus dikembalikan!" Matthew berlari kecil untuk mengambil jepit rambut itu.
Namun ternyata, tali sepatu Matthew tidak terikat dengan rapi. Mathew yang saat itu berhasil mengambil jepit rambut, terjatuh ke depan karena tersandung oleh tali sepatunya. Badannya yang terjatuh ke depan mengenai pagar pembatas yang ternyata sudah tua dan tidak bisa menahan badan Matthew. Otomatis pagar pembatas itu terlepas, dan Matthew terjatuh ke bawah. Sambil menggenggam jepit rambut Natalya, Matthew tidak tahu kenapa ia bisa melihat langit yang perlahan menjadi gelap.
X
"Kalian siapa?" pertanyaan Matthew membuat Alfred dan Arthur kaget. "Ini dimana?"
"Ini di Rumah Sakit, Matthew. Kau mengalami kecelakaan di sekolah." Alfred menjelaskan dengan wajah cemas. Matanya mengikuti gerakan Matthew yang turun dari tempat tidur.
"Matthew? siapa itu? lagipula, sekolah? Aku tidak bersekolah. Dan bukankah seharusnya aku kecelakaan di jalan raya?" tanya Matthew yang melihat sekeliling kamar sambil berjalan. Dan saat ia berdiri di hadapan cermin, langkahnya terhenti. "Astaga, kulitku! dan... kenapa rambutku begini?" pertanyaan Matthew membuat Alfred dan Arthur semakin bingung.
"Siapa kau?!" teriak Alfred tiba-tiba.
"Alfred! Jangan berteriak!" Matthew terdiam melihat Alfred yang terlihat marah.
"Kau sendiri siapa? tak sopan menanyakan orang lain sebelum memperkenalkan diri." kata Matthew lalu melipat kedua tangannya di dada dengan wajah marah.
"Errrmm... Namaku Arthur, ayahmu dan ini Alfred, kakak kembarmu, Matthew." Arthur segera memperkenalkan diri sebelum kedua anaknya bertengkar.
"Namaku bukan Matthew. Tapi si luar biasa Gilbert Beilschmidt!"
X
"Berganti kepribadian?!" teriak Arthur dan Alfred bersamaan saat Sadiq sudah selesai memeriksa Matthew.
"Untuk sementara, itu yang bisa saya simpulkan. Matthew jatuh dan kepalanya terbentur keras, ada kemungkinan ingatannya bermasalah, ada sifat-sifat lain Matthew yang tak pernah terlihat menjadi terlihat."
"Sudah ku bilang, namaku..."
"OMONG KOSONG!" teriak Alfred lalu menendang meja kecil yang ada di dekatnya lalu berjalan keluar kamar dengan marah.
"Alfred!" Arthur ingin mengingatkan Alfred tentang sikapnya yang tak sopan, namun saat melihat pintu terbanting hingga menimbulkan suara keras, Arthur hanya bisa mengacak-acak rambutnya. "Aarrgghh!"
"Tuan Kirkland, saya pikir anda butuh waktu pribadi dengan keluarga anda..." Arthur melirik ke arah Matthew saat Sadiq memberi saran. Arthur melihat Matthew yang memandangnya dengan wajah bingung.
"Hah..." Arthur menghela nafas. "Kau benar. Aku butuh waktu pribadi dengan keluargaku, jadi Anda bisa kembali bekerja." kata Arthur yang kemudian berjalan ke arah tempat tidur Matthew dan duduk di kursi yang berada di sebelah tempat tidur.
"Kalau begitu, saya permisi." Sadiq pamit pada Arthur, meninggalkan Arthur dan Matthew berdua di dalam kamar. Matthew terdiam sambil melirik ke arah Arthur, begitu pun Arthur. Ia tak tahu harus berkata apa, dan hanya bisa memandang Matthew dengan tatapan waspada.
"Jadi..." akhirnya, Arthur memulai pembicaraan. "apa kau tahu kenapa kau bisa berada di tubuh anakku, Gilbert?" Matthew menggeleng. "Apa kau ingat apa yang terjadi padamu sebelumnya?" tanya Arthur yang kini dijawab Matthew dengan angukan pelan.
"Aku ingat. Saat itu aku sedang mengendarai mobil sahabatku, Francis meski aku tidak ingat mengapa aku bisa mengendarai mobilnya. Saat dalam perjalanan mengembalikan mobil, aku menelfon Antonio, sahabatku dan Francis. Saat akan berbelok aku kaget karena ada truk yang akan menabrakku dan aku membanting stir lalu bang! Semuanya gelap." Cerita Matthew panjang lebar yang didengarkan Arthur dengan seksama, memastikan apakah Matthew berbohong atau tidak.
Arthur bisa menilai apakah orang itu berbohong atau tidak. Jabatannya di perusahaan sebagai CEO di salah satu perusahaan termuka di negaranya membuat ia harus bisa menilai para bawahannya. Bagaimana ciri-ciri karyawan yang malas, bagaimana ciri-ciri karyawan yang rajin, bagaimana ciri-ciri karyawan yang jujur, bagaimana ciri-ciri karyawan yang suka berbohong. Arthur sudah ahli menilainya.
Dan Arthur menilai Matthew tidak berbohong. Arthur menilai yang ada di dalam tubuh anak bungsunya sekarang adalah jiwa orang lain yang bernama 'Gilbert Beilschmidt'. "Ok, Gilbert. Aku percaya padamu."
"Benarkah? Syukurlah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika tidak ada yang mempercayaiku di tempat asing ini." Arthur hanya tersenyum kecil mendengarnya.
Setidaknya tubuh Matthew tidak ada yang cacat, pikir Arthur dalam hati. "Aku akan mencari tahu bagaimana cara mengembalikan jiwa mu ke tubuh aslimu. Untuk itu, aku butuh informasi tentang siapa dirimu terlebih dahulu. Bisa kau ceritakan tentang dirimu?"
"Hm.. baiklah. Nama asliku Gilbert Beilscmidt, umur ku dua puluh tahun. Aku anak tunggal, jadi jujur saat kau bilang Alfred adalah kakak kembar Matthew aku cukup senang karena dari dulu aku ingin seorang saudara dan jika Matthew ini kembar, itu artinya aku bisa mempunyai saudara sekarang." kata Matthew sambil tersenyum lembut.
"Hm? Benarkah?" tanya Arthur yang tak menyangka Matthew akan tersenyum lembut seperti itu. "Bagaimana dengan orang tuamu?"
Matthew terdiam sejenak, raut wajahnya berubah menjadi murung. "Ayahku adalah pengedar narkoba dan ibuku adalah korban dari ayahku. Karena jika jejak ayahku hampir ketahuan, ayah akan memaksa ibu untuk memakainya. Saat umurku tujuh belas tahun, ibuku akhirnya meninggal. Ayahku ditangkap oleh polisi, namun ia memilih bersembunyi di dalam rumah. Aku yang tak mau berurusan dengan polisi memilih untuk kabur dari rumah dan hidup sendiri. Untuk membiayai kehidupan sehari-hari, aku memutuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja."
"Tapi bukankah kau bisa bekerja sambil sekolah?"
"Haha, itu mustahil bagiku! aku harus fokus pada salah satu pilihanku. Bekerja atau sekolah. Akhirnya aku memilih bekerja supaya bisa membayar biaya sekolah Lu... eh? biaya sekolah? biaya sekolah siapa ya?" Matthew berfikir sejenak karena merasa ada yang janggal dengan kalimat yang ia ucapkan.
Arthur juga ikut bingung dengan sikap Matthew, tapi kemudian ia memegang kedua tangan Matthew. " Tadi kau bilang namamu Gilbert, bukan?" tanya Arthur yang dijawab Matthew dengan angukan. "jadi Gilbert, aku akan mencari tahu bagaimana caranya supaya kau kembali ke tubuhmu. Tapi saat aku selama mencari tahu, kau mau bersikap seperti Matthew, adik dari Alfred dan anakku?"
"Aku tidak punya pilihan. Aku terperangkap di tubuh orang yang tidak ku kenal, tapi bukan artinya aku tidak bisa melanjutkan hidup, bukan? aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru."
"Jadi jawabanmu?"
"Iya."
Arthur tersenyum. "Kalau begitu, akan kuberi tahu beberapa kebiasaan Matthew dan kau harus mengingatnya karena ini yang akan kau perankan ke depan."
"Wow, maksudmu berakting?"
"Ya, kau bisa menyebutnya itu. Jadi, nanti kau harus memanggil Alfred dengan 'Kak Alfred', kau panggil aku dengan 'Ayah' lalu pekerjaanmu di rumah..."
X
Alfred menutup wajahnya yang terlihat sangat capek dengan kedua tangannya untuk berfikir jernih. Ia sangat senang Matthew sudah siuman setelah beberapa hari koma. Namun ia tak menyangka Matthew akan berkata, "Kau siapa? namaku Gilbert." padanya. Matthew pasti hanya bercanda, pikir Alfred dalam hati.
"Alfred." suara Arthur membuat Alfred mendongakkan kepalanya. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja setelah aku tahu bahwa Matthew hanya bercanda ia tidak mengenal kita."
"Sayang sekali, sepertinya ia tidak bercanda. " Arthur dapat mendengar Alfred menghela nafas kecewa. "Ada jiwa orang lain yang bernama Gilbert Beilschmidt di tubuh Matthew sekarang."
"Dan kau percaya?"
"Aku sudah berbicara dengan Matthew dan aku menilainya ia tidak berbohong. Jadi... aku percaya."
"Artie, itu tidak mungkin! tak mungkin ada jiwa orang lain di dalam tubuh Matthew! itu mustahil!"
"Tak ada yang tak mungkin, Alfred." Alfred ingin membalas ucapan Arthur namun saat ia tahu berdebat dengan ayahnya yang percaya takhayul adalah hal yang percuma, ia mengalah.
"Baiklah, lalu aku harus bagaimana?" tanya Alfred dengan nada pasrah.
"Aku akan mencari tahu dimana tubuh asli Gilbert karena kemungkinan di tubuh Gilbert yang sekarang, ada jiwa Matthew di sana. Setelah itu, aku akan mencari tahu bagaimana cara mengembalikan jiwa mereka. Untuk sekarang, Gilbert akan melakukan apa yang Matthew lakukan sehari-hari. Aku sudah memberi tahu padanya apa saja kebiasaan Matthew. kau tak keberatan, bukan?"
Alfred tak menjawab. Ia masih tak terima jika ada orang lain di dalam tubuh adiknya. Ia hanya ingin adiknya kembali. Ia hanya ingin Matthew. "Aku hanya ingin Matthew yang biasanya..."
Arthur diam mendengar jawaban Alfred, karena ia tahu Alfred akan berkata seperti itu. "Aku tahu. Aku juga berfikir hal yang sama. Karena itu aku akan mencari tahu bagaimana cara mengembalikan mereka. Kau harus sabar hingga nanti aku bisa menemukan caranya. Untuk sekarang, anggap saja sekarang Matthew berganti kepribadian, ok?" Arthur mengelus rambut Alfred berusaha menenangkan Alfred. dan tak disangka, Alfred menyandarkan kepalanya ke perut Arthur.
"Baiklah, Ayah..." mendengar jawaban Alfred, Arthur tahu anak sulungnya benar-benar merasa tertekan.
X
"Boh... Gab Albed! mabam dibaab (Oh... Kak Alfred! selamat siang)." sapa Matthew yang saat itu sedang menguyah hamburgernya. Alfred yang melihat pemandangan yang tak pernah ia lihat menjatuhkan tas sekolahnya.
"Kau sedang apa, Matt?" tanya Alfred saat melihat tumpukan hamburger di hadapan Matthew. Matthew menelan hamburgernya supaya bisa menjawab pertanyaan Alfred dengan jelas.
"Aku sedang makan siang tentunya! aku tak menyangka hamburger seenak ini!" jawab Matthew dengan nada senang. Alfred mengambil tas sekolahnya dan menaruhnya di atas meja. "Kakak mau?"
"Tentu saja, hamburger itu kesukaanku!" setelah selesai menaruh tasnya, Alfred berjalan menuju tempat tidur, duduk di kursi yang berada di sebelah tempsat tidur dan mengambil salah satu hamburger. "di rumah, aku bisa menghabiskan lima hamburger buatan Matthew dalam lima menit!"
"Benarkah? keren! pasti hamburger buatan Matthew sangat enak! aku tak pernah makan hamburger buatan rumah jadi aku penasaran bagaimana hamburger buatan Matthew..." aneh rasanya saat Alfred mendengar Matthew menyebut namanya sendiri.
" Apa yang biasa kau makan di rumah, Gilbert?" Matthew menaruh mengangkat kepalanya sambil berfikir.
"Hm... macam-macam. Tergantung apa yang ada di atas meja. Biasanya saat aku mau berangkat sudah ada makanan di meja dan aku tinggal makan."
"Pfft, maksudmu rumahmu bisa sulap bisa menyajikan makanan untukmu sendiri? hahaha." Alfred tertawa karena merasa Gilbert yang ada di dalam tubuh Matthew hanya bercanda.
"Serius! di rumah hanya ada aku tapi aku tidak tahu kenapa selalu ada makanan di meja makan. Makan pun aku sendirian di rumah, menonton tv juga sendirian. Eh, tapi terkadang aku pergi ke rumah tetangga untuk makan bersama mereka, hap!" cerita Matthew kemudian melanjutkan makan.
"Tapi kau bisa masak?"
"hm... debibi.. (hm... sedikit)." Matthew berhenti sebentar untuk menelan hamburgernya. "Aku bisa masak pasta, pancake, kemudian beberapa masakan jepang. Ada yang mau ku masak kan saat aku keluar dari Rumah Sakit nanti?"
"Syukurlah kau bisa masak apa saja! kalau kau tidak bisa masak, kita harus terus makan di luar." alis Matthew berkerut karena tidak mengerti dengan kalimat Alfred.
"Kenapa bisa begitu?"
"Satu, aku hanya bisa memasak hamburger. Dua, masakan Arthur sangat sangat sangaaaaaat tidak enak!"
"Maaf deh kalau aku tidak bisa masak." tiba-tiba, terdengar suara Arthur dari belakang Alfred dan tak lama Alfred merasakan ada yang meninju kepalanya dari atas.
"Aduh!" Alfred merintih kesakitan. "Artie, hentikan! sakit!" protes Alfred yang kini berdiri dan berhadapan dengan ayahnya.
"Artie? kenapa kau tidak memanggilnya ayah?" tanya Matthew bingung.
"Haha, biarkan. Alfred memanggilku 'ayah' di saat depresi saja." Arthur kemudian menarik kursi yang ada di sebelah tempat tidur dan duduk. "Bagaimana kabarmu, Gilbert?"
"Baik. Hari ini Pak Jhon memperkenalkan aku pada hamburger yang enak dan ia membelikanku hamburger yang banyak untuk makan siang aku jika makan siang dari Rumah Sakit tidak enak!" Arthur dan Alfred saling berpandangan saat Matthew menyebutkan nama orang yang tidak mereka kenal.
"Pak Jhon?"
"Pasien di lantai bawah. Ia masuk ke Rumah Sakit karena operasi usu buntu. Lalu, Bu Maria juga memberikanku beberapa buku bacaan supaya aku tidak bosan selama di Rumah Sakit." Arthur dan Alfred kembali berpandangan.
"Bu Maria?"
"Ah, kali ini dia bukan pasien. Ia membesuk muridnya yang masuk Rumah Sakit karena kecelakaan. Lalu ada..."
"Tunggu tunggu!" Arthur memotong kalimat Matthew untuk menghentikan ia berbicara. "apa yang kau lakukan selama aku dan Alfred tidak ada?"
"Tentu saja jalan-jalan! Tak ada acara televisi yang aku tahu jadi aku jalan-jalan mengelilingi Rumah Sakit." mendengar jawaban Matthew, Arthur menepuk kepalanya.
"Gilbert, kau sekarang ada di tubuh anakku yang jatuh dari atap sekolah! jangan berbuat yang macam-macam hingga lukanya bertambah!" Arthur memarahi Matthew sambil mencubit kedua pipinya.
"A... aduh aduh! ampun ayah! ampun!" Matthew meminta ampun pada Arthur saat merasakan sakit pada pipinya. Melihat adegan di hadapannya, Alfred tertawa.
"Hahahaha..."
"Kenapa kau tertawa, kak? tolong aku!" Mattew menjulurkan tangan kanannya untuk meminta tolong pada kakaknya.
"Astaga, aku tak pernah menyangka Arthur akan memarahi Matthew dan Matthew akan meminta ampun!" tak menghiraukan permintaan tolong adiknya, Alfred terus tertawa. Arthur berhenti mencubit pipi Matthew saat melihat tawa Alfred. Dalam hatinya, ia lega karena sepertinya Alfred sudah bisa menerima kehadiran Gilbert di tubuh Matthew.
"Oh iya, Gilbert, aku punya sesuatu untukmu." wajah Matthew berubah ceria saat mendengar kalimat Arthur.
"Maksudmu hadiah?"
Arthur menganguk. "Begitulah, sebentar ya." Arthur berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Alfred dan Matthew bingung kenapa Arthur keluar dari ruangan. Tak lama, Arthur kembali sambil menarik tangan seseorang."Tara!"
Mata Matthew membelak kaget saat melihat orang itu. Dengan segera ia turun dari tempat tidur dan berlari menuju orang itu. "Francis!" teriak Matthew kegirangan sambil memeluk orang itu.
Alfred memperhatikan orang yang dipanggil 'Francis' oleh Matthew. Seorang pria yang kira-kira usianya lebih tua dari Alfred, mempunyai rambut pirang yang sedikit keriting, memakai baju cerah dan sepatu olahraga. Jika diperhatikan,model rambut Francis mirip dengan model rambut Matthew.
"Astaga, ayah! bagaimana kau bisa memanggil Francis kemari?" sambil memeluk Francis, Matthew bertanya pada Arthur.
"Aku menelfonnya. Ingat saat kemarin aku meminta nomor telfon Francis? itu supaya aku bisa memanggilnya kemari." Matthew melepas pelukannya dan kini ia ingin memeluk Arthur.
"Terima kasih ayah!"
"Tunggu tunggu!" Francis mengulurkan tangannya, mencegah Matthew memeluk Arthur. "Kau sungguh Gilbert?" tanya Francis tak percaya.
"Tentu saja! perlu aku sebutkan siapa dan kapan kau tidur dengan pe..." belum menyelesaikan kalimatnya, Francis segera menutup mulut Matthew dengan kedua tangannya.
"Baik, baik! aku percaya!" Arthur dan Alfred memandang Francis dengan tatapan tidak percaya. "Kalau kau sudah siuman, ayo kita pulang! Ludwig sudah tahu rahasiamu dan ia sedang menunggumu untuk siuman." Francis kemudian menarik tangan Matthew untuk keluar dari ruangan, namun Matthew tak bereaksi.
"Siapa itu Ludwig?"
Sebelumnya, saya ingin minta maaf atas keterlambatan dalam meng-update chapter ini. Saya bingung untuk menulis adegan Matthew jatuh dari atap seperti apa dan itu yang membuat chapter ini update- nya lama. Dan saya sadar dalam chapter ini banyak sekali percakapan dan mungkin itu yang mejadi kelemahan dalam chapter ini.
A/N : Dalam chapter ini dan selanjutnya, jiwa Matthew dan Gilbert sudah tertukar. Jiwa mereka tertukar karena mereka ingin merasakan apa yang mereka ingin rasakan namun tidak bisa terwujud. Sebagai konsekuensi nya, mereka akan lupa pada orang-orang yang membuat mereka ingin bertukar jiwa. Jadi, di chapter ini dan selanjutnya Gilbert tidak akan ingat tentang Ludwig dan Matthew tidak akan ingat pada orang-orang di sekitarnya yang telah berbuat jahat padanya. Yang Matthew ingat hanyalah Arthur dan Alfred.
Saran dan kritik saya terima.So, R & R please.
