Hi, Arisa is here. Kali ini bisa update lebih cepat daripada sebelumnya karena ide mengalir saat mendengar lagu Say Goodbye dari Yuki Kajiura dan My Immortal dari Evanescence. Saya sarankan Anda mendengarkannya saat membaca chapter ini.

Dan untuk merayakan OTP saya menjadi officially, sekarang saya sedang dalam proses membuat fanfic tentang Akafuri!. Beritahu saya jika Anda adalah salah satu orang yang senang dengan dua chapter terakhir Kuroko no Basuke yang terbaru karena Furihata nge-"mark" Akashi! dan PM saya jika Anda mempunyai saran dan ide untuk fanfic Akafuri.

HetaliaFeliciano : Tak perlu meminta maaf, anda R & R cerita saya saja sudah membuat saya senang^^. Untuk sikap Matthew akan seperti apa di tubuh Gilbert, bisa Anda lihat di chapter ini. thanks for the review.

Jenichi Kaname : Terima kasih, Anda yang memberikan review pada fanfic saya juga awesome kok. thanks for the review.

Unknownwers : Ya, saya suka Kuroko no Basuke, terutama Midorima dan Aomine, hoho. Dan saya juga suka Akafuri^^. Masih kurang 'greget' ya? kalau begitu saya akan berusaha lebih keras lagi untuk ke depannya. thanks for the review.

Foxglove Blue : Hai juga Blue, terima kasih sudah R & R fanfic ini^^ dan atas dukungannya. thanks for the review.

Warning : 1) Meski ini akan bercerita tentang Germany bersaudara, tapi akan ada unsur FrUk pada awalnya. 2) seperti biasa, typo. Karena saya hanyalah manusia biasa. 3) meski di chapter ini akan ada beberapa adegan GerJap, tapi mereka bukanlah pasangan di cerita ini. Mereka hanya bersahabat^^.

Disclaimer : I own nothing.

Chapter 9 : Sie sind nicht mein Bruder! (you are not my brother!)

Begitu melihat ada sinar mengenai matanya, perlahan Francis membuka matanya. Saat mendengar suara angin yang sangat berisik, Francis membelakkan matanya. Terlebih saat ia merasa tubuhnya tak bisa bergerak dan di sekitarnya banyak orang yang tak ia kenal. Francis panik. Ia melihat sekelilingnya dan ia terkejut saat ada jendela kecil di sampingnya, dan dari jendela ia bisa melihat lautan luas.

"Dimana ini?!" teriaknya panik. Orang-orang di sekitarnya menoleh saat mendengar Francis berteriak. "Kalian menculikku?" tanya Francis marah. Orang-orang itu hanya diam. "Jawab!" bentak Francis.

"Hoaam..." dari samping, Francis mendengar ada suara orang menguap. Saat menoleh, Francis melihat seorang pemuda dengan rambut pirang. Kulitnya sedikit putih dan saat orang itu membuka matanya, Francis dapat melihat warna hijau dari kedua bola mata orang itu. sesaat, Francis terdiam. Ia merasa terpesona. "Oh, sudah bangunkah?" pertanyaan orang itu membuyarkan lamunan Francis.

"Siapa kau?!" tanya Francis siaga. Orang itu mengacak-acak rambutmya lalu menatap Francis. Lagi-lagi, Francis terpaku melihat wajah orang itu.

"Perkenalkan, namaku Arthur Kirkland, Francis Bonnefoy." Arthur menjulurkan tangan kanannya.

"Kenapa kau tahu namaku?" Francis tidak membalas salam dari Arthur, membuat Arthur kini menurunkan tangannya.

"He, kau lupa? semalam aku menelfonmu untuk bertemu dan berbicara berdua saja, namun kau menolak. Padahal yang aku bicarakan penting loh. Menyangkut anakku dan juga sahabatmu, Gilbert Beilschmidt." Arthur melirik ke arah Francis untuk melihat reaksi darinya. Dan saat melihat Francis sedikit kaget, ia tersenyum. "Maka dari itu aku menculikmu dengan helikopterku."

Francis ingat, semalam ada nomor yang tak dikenal yang menanyakan tentang Gilbert. Francis yang merasa terganggu dengan telefon itu langsung menutup telfonnya. Tak lama ia merasa ada yang memukulnya dari belakang dan semuanya gelap. Ternyata semalam ia baru saja diculik. "Darimana kau kenal Gilbert?" dengan nada yang berbeda Francis bertanya serius.

"Ceritanya panjang. Setelah sampai di Rumah Sakit, akan aku ceritakan."

Francis diam memperhatikan Arthur. Kali ini bukan untuk terpesona dengan Arthur, namun untuk memastikan apakah Arthur serius atau tidak. "Berapa lama aku akan disana?"

"Entahlah, setelah kau bertemu dengan anakku kau yang memutuskan berapa lama kau akan tinggal."

"Telfon genggamku tak kau ambil kan? sepertinya aku harus memberitahu seseorang kalau aku akan diculik untuk sementara."

Arthur tertawa mendengar kalimat Francis. "Haha, astaga. Aku tak menyangka kau akan berkata dan berbuat seperti itu. Silahkan, kau bebas melakukan apapun."

Melihat tawa Arthur, lagi-lagi Francis terdiam. Lagi-lagi Francis merasakan ada sesuatu yang aneh dengan jantungnya. Lagi-lagi ia merasa waktu terhenti. Karena lagi-lagi Francis terpesona dengan Arthur Kirkland.

X

Aku diculik, tapi jangan cari aku. ini menyangkut Gilbert. Aku akan mengabarimu setiap hari jadi jangan khawatir, Antonio membaca pesan yang dikirimkan oleh Francis tadi pagi. Tentu saja Antonio kaget pada awalnya. Tapi setelah Francis menelfonnya denga suara yang tenang, Antonio bisa memastikan Francis baik-baik saja.

Sedangkan ia tidak. Dengan diculiknya Francis, ini artinya Antonio yang menggantikan Gilbert untuk bekerja. Antonio bersyukur saat tahu Yao akan mengurusi asuransi Gilbert, tugas yang awalnya dikerjakan Antonio. Namun ia khawatir karena ia belum pernah bekerja di luar ruangan sebelumnya, ia tidak bisa bekerja menggantikan Francis dengan baik.

"Bagaimana kalau aku jatuh dari ketinggian 100 M?" Antonio bertanya panik sambil meremas rambutnya. "Atau jika atasan Gilbert tidak suka padaku dan pada hari kedua aku akan dipecat."

"Jangan berfikir seperti itu, Antonio-san. Jangan terlalu pesimis." di samping Antonio, ada Kiku yang sedang membaca buku novel klasik milik Yao. "Justru lebih bahaya jika atasan Gilbert-san menyukaimu dan tidak akan membiarkanmu pergi."

Antonio terdiam mendengar ucapan Kiku. "Kau benar... lebih baik dipecat daripada tidak dibiarkan lepas." wajah depresi Antonio kini berubah menjadi senang. "Osh, kalau begitu aku bersiap-siap dulu!" ucap Antonio lalu berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari kamar.

Kiku menghela nafas saat mendengar suara pintu tertutup. Buku yang ia pegang daritadi ia taruh di meja, dan ia merenggangkan badannya. Membaca selama lebih dari satu jam membuat badannya pegal dan ia mulai merasa mengantuk. Kiku melihat ke arah tempat tidur, tempat dimana Ludwig sedang berbicara pada Gilbert sambil memegang tangannya.

"... aku dapat nilai sempurna untuk tes matematika dan Pak Eduard memujiku lagi." dari jauh, Kiku dapat mendengar Ludwig sedang bercerita pada kakaknya yang mashi belum membukakan matanya. "Pak Eduard sudah memanggil namaku, padahal aku lebih suka dipanggil adiknya kakak, hehe." Kiku memang tidak bisa melihat wajah Ludwig. Tapi ia tahu Ludwig sedang berusaha tertawa, berusaha senang di hadapan Gilbert. "Pak Eduard bilang supaya kakak bisa segera bangun, kakak akan bangun kan? kakak pasti akan bangun, kan?" kali ini Kiku melihat Ludwig meremas tangan Gilbert. "Aku ingin minta maaf pada kakak, jadi kakak segera bangun ya. Akan aku bawakan makanan kesukaan meski dokter melarang untuk kakak makan besok. Aku juga akan bawa Gilbird supaya kakak tidak kesepian di kamar nanti." Kiku mendengar suara Ludwig mula bergetar. Kiku tahu Ludwig mulai menangis.

Kiku berjalan menghampiri Ludwig dan menepuk pundaknya. Tapi Ludwig tidak menoleh ke arahnya, Ludwig masih terus meremas tangan Gilbert. "Akan aku lakukan apa saja agar kakak memaafkanku, jadi aku mohon bangun kak."

Tak ada reaksi dari Gilbert, membuat tangisan Ludwig semakin kencang. Setelah tiga tahun lamanya Ludwig tidak menangis, kini ia menangis di hadapan kakaknya. Ludwig ingat, saat kecil jika ia menangis, kakaknya akan mengelus kepalanya dan tersenyum padanya yang kemudian akan dibalas oleh Ludwig dengan pelukan. Dan Ludwig berharap jika ia menangis sekarang, kakaknya akan melakukan hal yang sama.

Perasaan Kiku bercampur aduk melihat Ludwig menangis. Ia sedih melihat Ludwig menangis, hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ia juga marah pada Ludwig karena baru menyesal di saat Gilbert koma. "Ludwig-san, jangan menangis." Kiku mengambil beberapa tisu dan memberikannya kepada Ludwig. "Gilbert-san tak mau melihatmu menangis karenanya." Ludwig melepaskan genggaman tangannya dan mengambil tisu yang diberikan oleh Kiku.

"Kau benar." Ludwig berusaha tersenyum sambil membersihkan air matanya.

"uumm..." mendengar ada suara dari arah Gilbert, Ludwig dan Kiku langsung menoleh ke arah Gilbert. "eeemm..." Ludwig dan Kiku melihat tangan dan kelopak mata Gilbert bergerak.

"Kakak!" Ludwig langsung berdiri dari tempat duduknya saat melihat tanda-tanda kakaknya akan sadar. Dan benar, tak lama kemudian kelopak mata Gilbert terbuka. Ludwig yang melihatnya langsung memeluk Gilbert. "Kakak, kakak!" Ludwig memanggil Gilbert dengan senang karena akhirnya Gilbert sudah siuman.

Gilbert masih belum sadar sepenuhnya. Matanya masih terlihat mengantuk dan ia tidak bisa bergerak. Ludwig melepaskan pelukannya untuk melihat wajah kakaknya. Saat mata Gilbert dan Ludwig berpandangan, mata Gilbert terbelak keget.

"KYAAAAAAA! SIAPA KAMU?!" Ludwig terpaku saat mendengar kalimat pertama yang diucapkan Gilbert.

"Aku Ludwig, kak. Adik kakak."

"AKU TAK PERNAH PUNYA ADIK!" bentak Gilbert yang membuat dada Ludwig terasa sesak. "DIMANA INI? KAK ALFRED? AYAH? ARTIE? DIMANA KALIAN?!" Gilbert masih terus berteriak panik, tidak, lebih tepatnya ketakutan. Ia segera turun dari tempat tidur dan berjalan menelusuri ruangan. "AKU DIMANA? DIMANA KAKAK? KAK ALFRED?" merasa tak menemukan apa yang ia cari, Gilbert berjalan keluar kamar yang sayangnya ditahan oleh Kiku.

"Gilbert-san, anda tidak boleh keluar dari kamar. Anda baru siuman, jadi istirahat terlebih dahulu." Gilbert memperhatikan Kiku dari atas hingga bawah.

"Kau siapa?"

"Aku Kiku, teman Ludwig adikmu."

"Sudah ku bilang aku tak pernah merasa punya adik! dan aku tidak kenal dengan yang namanya Ludwig!"

X

Jantung Antonio dan Kiku tak berhenti berdetak cepat saat Heracles memeriksa Gilbert yang kini duduk tenang di tempat tidur. Mereka penasaran dengan hasilnya karena mereka merasa sikap Gilbert berubah setelah siuman. Kiku bisa melihat ekspresi ketakutan di wajah Gilbert. Meski Heracles bertanya pada Gilbert dengan senyum, Gilbert hanya menganguk atau meggeleng dengan cepat, menolak untuk berbicara.

"Tak ada yang aneh dengan kondisi fisik Gilbert." lapor Heracles pada Antonio dan Kiku di luar ruangan setelah Heracles selesai memeriksa Gilbert. "Untuk kondisi psikologis, saya tidak bisa memeriksanya karena itu bukan keahlian saya, tapi saya akan coba meminta bantuan dokter lain di Rumah Sakit ini."

"Terima kasih atas bantuannya, dok." Kiku sedikit membungkukkan badannya setelah Heracles pergi meninggalkan mereka.

"Nah, jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Antonio pada Kiku. Kiku berfikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Antonio. Tak menemukan jawabannya, Kiku melihat Ludwig sedang duduk sambil menundukkan kepalanya.

"Aku akan menemani Ludwig-san di sini." jawab Kiku yang sekarang duduk di samping Ludwig.

"Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengan Gilbert lagi di dalam." Kiku menganguk mendengar jawaban Antonio dan kini ia fokus melihat Ludwig. Kiku bisa melihat wajah sedih Ludwig dan air mata di matanya yang siap turun kapan saja.

"Karma." adalah kalimat yang pertama kali Kiku dengar dari mulut Ludwig. "Ini pasti karma karena selama ini aku membenci kakak dan selalu merasa keberadaannya menyusahkanku karenanya sekarang ia tak mengenalku bahkan tak menganggap aku ada." Kiku tak tahan melihat Ludwig rapuh seperti ini. Ia memeluk Ludwig dari samping dan mengelus punggungnya, berusaha menenangkan Ludwig. "Padahal aku ingin minta maaf padanya, aku ingin bilang aku sayang padanya." Kiku hanya diam mendengar ucapan Ludwig. Kiku memang pernah kehilangan saudara, namun ia tak pernah merasakan ada saudaranya yang tidak mengenalnya karena itu ia tidak bisa berkata apa-apa. Yang Kiku tahu jika ada saudara yang melupakannya, rasanya akan sangat sakit. Sakit hingga Ludwig, sahabatnya yang paling kuat di sekolahnya jatuh dan rapuh seperti ini.

Antonio berjalan perlahan memasuki ruangan dimana ada Gilbert di tempat tidur. Gilbert yang menyadari kehadiran Antonio langsung menarik selimut dan menutupi wajahnya. "Huwa, Gilbo, jangan seperti itu, bro. Aku tidak bermaksud menakutimu."

Perlahan, Gilbert memperlihatkan wajahnya. "Namaku bukan Gilbo."

"Oh ya?" Antonio berjalan perlahan mendekati tempat tidur. "Lalu siapa namamu?"

"Namaku Matthew Williams." Antonio berhenti berjalan. "Aku punya kakak kembar bernama Alfred dan ayah angkat bernama Arthur Kirkland. Hanya mereka keluarga ku, dan hanya mereka harta yang kupunya di dunia ini. Kau sendiri siapa?" Antonio tersenyum dan kini mengulurkan tangannya.

"Namaku Antonio, Antonio Fernandez Carriedo." dengan takut, Gilbert menjabat tangan Antonio. "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Kita ini sahabat, bukan?" Gilbert menatap Antonio dengan wajah bingung.

"Benarkah?"

"Tentu saja, Matthew. kau tahu? sekarang kau berada di tubuh Gilbert, sahabatku. Dan aku tidak akan pernah menyakiti sahabatku."

"Benarkah kau tidak akan menyakitiku? Kau tidak akan memukulku atau menyiramiku dengan air?" Antonio tertawa mendengar pertanyaan Gilbert.

"Haha, tentu saja tidak. Jika aku memukulmu, kau bisa memukulku kembali, jika aku menyiramu dengan air, kau bisa mendorongku masuk ke dalam sungai. Adil, bukan?" Antonio melihat wajah Gilbert sudah tidak takut lagi.

"Lalu... kau bilang aku berada di tubuh Gilbert?"

"Iya, apa kau tak sadar? Ah, mungkin karena kau belum menemukan cermin." Antonio berjalan menuju kamar mandi dan mengambil cermin yang digantung di dalam kamar mandi. "Coba kau lihat dirimu di cermin." Antonio mengarahkan cermin ke arah Gilbert supaya Gilbert bisa melihat dirinya.

Gilbert melihat dirinya di cermin. Matanya terbelak karena ia melihat orang lain di dalam cermin. "Ini..." Gilbert memegang rambutnya. "Kenapa rambutku lurus da berwarna putih seperti ini? dan kenapa mataku berwarna merah?" tanya Gilbert pada Antonio yang sekarang menaruh cermin di meja terdekat.

"Aku sudah bilang padamu, Matthew. Itu karena kau berada di tubuh Gilbert sekarang. Tentu saja penampilan Gilbert berbeda dengan penampilanmu."

"Bisa kau ceritakan lebih banyak tentang Gilbert?" Antonio sedikit kaget mendengar pertanyaan Matthew. Apalagi ia melihat mata Gilbert yang berkaca-kaca. Antonio tertawa saat melihat wajah memelas Gilbert. "Kenapa?"

"Haha, tidak. Aku tidak menyangka Gilbert akan berwajah seperti ini. Tentu saja aku akan menceritakannya padamu."

X

"Ludwig-san, apa tidak sebaiknya kita masuk ke dalam?" Ludwig menggeleng.

"Aku takut ia akan mengusirku."

"Tidak akan. Sekarang ia sedang berbicara dengan Antonio-san. Aku yakin ia tidak akan mengusirmu lagi." Ludwig mengambil nafas panjang.

"Baiklah kalau begitu." dengan tangan yang bergemetar dan jantung yang berdetak cepat, kini Ludwig berdiri di depan pintu sambil memegang gagang pintu. Ia ragu untuk membukanya. Ludwig melihat Kiku yang kini mengangukan kepalanya.

"Tak apa, Ludwig-san." Setelah menghela nafas, akhirnya Ludwig membuka pintu.

"Hahaha, benarkah kalian melakukan itu?" Ludwig melihat Gilbert dan Antonio sedang tertawa.

"Tentu saja, dan kau tahu? kita bertiga akhirnya ditangkap oleh guru tapi bisa berhasil lolos dari hukuman karena Francis berhasil menggoda guru kami, padahal guru kami itu laki-laki!"

"Francis menggoda laki-laki?" tanya Gilbert yang dibarengi dengan tawa.

"Iya, itu keahlian Francis. Ia bisa menggoda laki-laki maupun perempuan." Gilbert masih tertawa mendengar cerita Antonio. Namun tawa nya hilang saat melihat Ludwig dan Kiku berdiri di pintu masuk. Antonio yang merasa ada yang aneh melihat ke belakang. "Oh, Kiku, Ludwig, kemarilah! aku punya berita penting untuk kalian."

Kiku berjalan menghampiri Gilbert dan Antonio, tapi Ludwig tidak. Ia masih berdiri di pintu masuk karena tidak tahu apa yang akan dikatakan kakaknya kali ini. "Ada apa, Ludwig-san? ayo!" Kiku mulai menarik tangan Ludwig agar ia mau berjalan mendekati Antonio dan Gilbert. Tapi Ludwig masih tetap tidak mau bergerak.

Antonio yang melihat sikap Ludwig, membisikkan sesuatu ke Gilbert. "Kemarilah, West." ucap Gilbert setelah Antonio selesai membisikkan sesuatu pada Gilbert. Ludwig kaget mendengar kakaknya memanggilnya dengan panggilan sayang yang ia berikan.

"Kakak, ingat aku?" perlahan, Ludwig berjalan menghampiri tempat tidur.

"Eerrmm... tunggu sebentar, Ludwig. Aku punya berita penting untuk kalian." tiba-tiba Antonio menghalangi langkah Ludwig untuk mendekati tempat tidur.

"Apa?"

"Berita penting apa?" Kiku yang penasaran kini berdiri di samping Ludwig.

"Mungkin ini terdengar gila, tapi yang ada di tubuh Gilbert sekarang bukanlah Gilbert." suasana hening seketika karena tidak ada reaksi dari Kiku maupun Ludwig. Gilbert yang melihat Kiku dan Ludwig kaget, kemudian berbicara.

"Salam kenal, namaku Matthew Williams. Umurku enam belas tahun. Aku mempunyai kakak kembar bernama Alfred dan ayah angkat bernama Arthur Kirkland. Salam kenal." kata Gilbert lalu menundukkan kepalanya.

"Lalu dimana Gilbert? dimana kakakku?" tanya Ludwig sambil meremas lengan Antonio.

"Aw Luddy, Sakit." rintih Antonio. Tidak mendapat jawaban dari Antonio, Ludwig berjalan menghampiri Gilbert dan memukul pundak Gilbert dengan kedua tangannya.

"Ne, Matthew, tolong beritahu aku dimana aku bisa menemukan kakakku?!" tanya Ludwig sambil meremas pundak Gilbert. Gilbert kaget dengan aksi Ludwig. Tiba-tiba, di kepalanya muncul beberapa orang sedang tertawa senang ke arahnya. Gilbert tidak bisa melihat wajah mereka, tapi Gilbert merasa ia tidak senang melihat tawa mereka.

"KYAAAA! JANGAN MENYENTUHKU!" teriak Gilbert lalu mendorong Ludwig dan menarik selimut untuk menutupi badannya dengan selimut. "Jangan sentuh aku, jangan tertawai aku. Aku tidak salah apa-apa, kenapa kalian menyakitiku? Kak Alfred, tolong aku..." tanpa sadar, Gilbert berkata dengan nada ketakutan.

"Matthew, Ludwig tidak bermaksud untuk menyakitimu..." Antonio menghampiri Gilbert dan membujuk Gilbert untuk tidak menutupi tubuhnya dengan selimut lagi.

"Kenapa..." sedangkan itu, Ludwig yang kaget melihat reaksi Gilbert meremas tangan kirinya. "kenapa tak ada yang menjawab pertanyaanku? aku ingin bertemu dengan kakak, aku ingin minta maaf padanya." tanpa sadar, Ludwig menangis.

Antonio dan Kiku hanya terdiam melihat Ludwig menangis, sedangkan Gilbert perlahan melepaskan selimut. Saat Gilbert melihat Ludwig menangis, tanpa sadar ia turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Ludwig. "Jangan menangis, West. Gilbert pasti memaafkanmu jika kau berbuat salah dan menyesalinya. Karena ia kakakmu, kan?" ucap Gilbert sambil mengelus kepalanya. Ludwig yang kaget melihat aksi Gilbert mengangkat kepalanya dan ia melihat Gilbert tersenyum padanya.

Melihat Gilbert melakukan hal yang pernah ia lakukan saat kecil, Ludwig langsung memeluk Gilbert. Ludwig menangis sambil memeluk Gilbert. Awalnya Gilbert panik, tapi pada akhirnya ia memeluk kembali Ludwig.

"Ne, Matthew." Gilbert menoleh saat Antonio memanggilnya. "Untuk sementara, maukah kau menjadi Gilbert, kakak dari Ludwig?"

X

Suasana kamar Gilbert malam ini sangat ramai karena banyak orang yang datang membesuk saat tersebar berita bahwa Gilbert sudah siuman. Kamar tidur Gilbert jadi dipenuhi banyak karangan bunga, buah-buahan dan makanan. Ludwig tahu suasana seperti ini akan terjadi jika kakaknya siuman, tapi tidak dengan Matthew. "Apakah Gilbert sangat terkenal?"

"Tentu saja. ia ramah pada setiap orang, dan banyak sekali orang menyukainya." jawab Antonio sambil memakan apel. "Nih, kartu ucapan dari orang-orang yang membesukmu." Antonio kemudian memberikan tumpukan kartu pada Gilbert.

"Ba... banyaknya!" wajah Gilbert yang tadinya terlihat lelah kini terlihat senang.

"Ni Hao~" tak lama, pintu kamar terbuka dan masuklah Yao dan adik-adiknya. "Yo, Gilbert, bagaimana kabarmu?" tanya Yao yang kemudian langsung duduk di samping tempat tidur.

"Jangan langsung duduk! Itu tempat duduk Ludwig!" dari belakang, ada Kaoru yang memukul kepala Yao.

"He... banyak sekali kartu ucapan yang kau terima, Gilbert." Xiao Mei yang sekarang berdiri di samping tempat tidur Gilbert, kagum dengan tumpukan kartu yang ada di hadapan Gilbert.

"Kak Yao, Kak Kaoru, Kak Xiao Mei, jangan ganggu Gilbert-san!" Gilbert bisa melihat Kiku datang sambil membawa bingkisan buah dan duduk di bangku dekat pintu.

"Kak Kiku, kita kupas buahnya saja untuk dimakan bersama." di samping Kiku, ada Lien Chung yang membuka bungkusan buah.

"Kak, Yong Soo tidur." dari pintu masuk, Gilbert melihat seorang anak berkacamata sedang menggendong anak kecil. Gilbert melihat Kasem Chao sedang menggendong Yong Soo.

"Kak, maaf suasana kamar jadi ramai." Gilbert menoleh ke arah kanan, tempat Ludwig berdiri. 'Kakak tidak terganggu, kan?"

Gilbert menggeleng. "Tidak, entah kenapa baru kali ini aku merasakan senang seperti ini. Banyak orang yang perduli padaku, yang tersenyum ramah padaku dan mendoakan kesembuhanku. Aku merasa senang sekali. Gilbert pasti orang yang beruntung bisa disayangi banyak orang."

"Tidak juga." Gilbert melihat wajah Ludwig berubah menjadi murung. "Aku selalu mngacuhkan kakak sejak kakak membawaku kabur dari rumah. Kakak pasti sedih punya adik seperti aku."

"Tapi sekarang kau di sini menemaniku, bukan? kau sudah memaafkan sikap Gilbert tiga tahun yang lalu, bukan? itu artinya kau sudah menyayangiku lagi, bukan?" Ludwig menganguk. "Meski Gilbert belum bisa mendengar permintaan maafmu secara langsung, tapi aku yakin i merasa beruntung mempunyai adik sepertimu."

"Iya, kau benar." Ludwig kini tersenyum setelah mendengar ucapan kakaknya. "Ah, kakak mau makan apa sekarang? biar aku ambilkan."

"Hm... bisakah kau membuat pancake dengan sirup mapel?"

Sudah memasuki bulan Desember yang artinya UAS pertama saya di Universitas sudah dekat. Jadi, saya tidak tahu kapan chapter selanjutnya akan publish.

Saran dan kritik saya terima, jadi R&R please.