Hi there, Arisa is here. Sekarang saya sedang menikmati liburan pertama saya setelah UAS selesai, sehingga bisa publish 2 chapter sekaligus dalam satu hari, haha. Sudah berapa lama sejak chapter terakhir? 2 bulan? 3 bulan? saya hanya berfikir mungkin saya akan meng- update cerita ini tiga bulan atau lebih sekali. Jadi, kemungkinan untuk chapter 11 akan ada bulan Maret atau April.

Saya juga ingin memberitahu, 2 chapter yang saya maksud di atas bukan 2 chapter dari cerita ini. 1 chapter adalah chapter 10 dari cerita ini sedangkan chapter lainnya adalah one-shot tentang Akafuri yang saya ceritakan di chapter sebelumnya. Jika Anda salah satu penggemar Akafuri, saya mohon R & R fanfic Akafuri saya yang pertama yang berjudul Today.

HetaliaFeliciano : Matthew jadi imut? bagaimana dengan Gilbert yang berada di tubuh Matthew sekarang? thanks for the review...

Namie Amalia : saya belum terfikir akan menamatkaan di chapter berapa. Mungkin akan saya tamatkan setelah semua otp yang pernah saya katakan di awal keluar di cerita ini, dan jiwa Gilbert dan Matthew sudah kembali. thanks for the review...

Syalalala uyee : saya usahakan update asap, thanks for the review...

Jenichi Kaname : bagaimana dengan Gilbert di tubuh Matthew yang ini, kak? ditunggu review nya yaa, thanks for the review...

Unknownwers : terima kasih sudah mengingatkan adanya typo. Sip, saran Anda diterima. Di chapter selanjutnya akan saya ganti nama panggilan Ludwig pada Gilbert. Saya sudah meyelesaikan fanfic Akafuri yang saya bicarakan di chapter sebelumnya dan saya publish bersamaan dengan chapter ini. R & R please, thanks for the review...

Susu soda gembira : terima kasih jika Anda merasa terhibur. Wah, benarkah? nanti akan saya PM anda jadi kita bisa fangirling-an bersama^^. Pendek ya? sebenarnya tidak disengaja, tapi biar membuat pembaca penasaran aja dengan cerita selanjutnya, hehe. Hm... ajarkan saya, sensei bagaimana menulis kapital yang baik dan benar m(-_-)m. Siiip! akan saya baca beberapa cerita anda. Silahkan baca juga fanfic Akafuri pertama saya ya^^ thanks for the review...

Warning : 1) sepertinya kedepannya akan ada banyak adegan FrUK. Dan di cerita ini, Ivan datang menjenguk Matthew yang artinya salah satu otp yang saya pernah ceritakan (RussPruss) sudah bertemu! 2) typo, saya hanyalah manusia biasa yang begitu semangat jika mengetik sehingga dalam cerita ini Anda bisa menemukan banyak sekali kesalahan. 3) Drama, saya baru menyadari setelah menyelesaikan chapter ini. meskipun fanfic ini ber genre Drama, tapi entah kenapa saya membuat cerita kehidupan Gilbert sangat drama.

Disclaimer : I own nothing

Chapter 10 : Hey, Francis!if I don't know Ludwig, who am I?

Badan Francis membatu saat mendengar pertanyaan Gilbert dengan wajah polos. "Ludwig itu siapa? teman baru kita?"

"Ludwig Beischmidt, Gilbert Beilschmidt! adikmu sendiri!"

"Hm... apa iya aku punya adik?" wajah Francis yang tadi terlihat kaget kini terlihat marah.

"Sadarlah Gilbert! kau bisa mengingatku namun tidak ingat Ludwig! apa yang harus ku katakan pada Antonio nanti! Ludwig sudah tahu rahasiamu! ia sedang menunggumu untuk bangun! apa kau mau mengecewakan dia!" Gilbert bingung kenapa Francis membentaknya hingga mencengkram kedua lengannya. Tiba-tiba, Gilbert merasa kepalanya berputar. "Aku tahu kau suka bercanda, tapi ini tidak lucu, Gilbert!"

"Jangan... ingatkan aku pada Ludwig, aku mohon.."

"Eh?" Francis merasa Gilbert mengatakan sesuatu dengan suara kecil sebelum ia merasa tiba-tiba Gilbert jatuh. "Gil? Gilbert?" tanya Francis bingung karena Gilbert tak menjawab pertanyaannya.

"Mattie!" Alfred yang melihat adiknya jatuh dan tak sadarkan diri menghampirinya.

"Jangan panik, Al, aku akan memanggil dokter." Arthur segera keluar kamar untuk memanggil dokter atau suster terdekat.

"Matt! Mattie! kenapa tiba-tiba kau pingsan lagi? Matt?" Francis yang menyadari ada yang salah dengan ingatan Gilbert meremas rambutnya.

"Kenapa ini terjadi..."

X

Wajah Francis masih pucat saat Arthur membawakannya secangkir kopi panas. "Sudah tenang?" tanya Arthur lalu duduk di sebelah Francis.

"Tidak sama sekali." Francis kemudian langsung meminum kopinya yang masih sangat panas. "Atatata... panas!" omel Francis kesal.

"Pelan-pelan, nanti lidahmu bisa terbakar." kata Arthur mengingatkan. Francis tidak menjawab peringatan Arthur. Ia hanya menundukkan kepalanya.

"Sshh..." umpat Francis pelan.

Arthur sedikit khawatir melihat keadaan Francis yang sepertinya sedang kacau. "Kau baik-baik saja?"

"Aku sudah bilang, tidak!" kali ini Francis menjawab pertanyaan Arthur dengan nada sedikit membentak. "pertama, aku diculik olehmu, dan kedua Gilbert tidak mengingat Ludwig! bagaimana mungkin ia melupakan adik semata wayangnya yang sangat ia sayangi, aku harus cerita apa ke Antonio kalau begini keadaannya." Francis menaruh gelas kopi di kursi sebelahnya yang kosong, lalu mengusap wajahnya.

"Maaf jika aku menculikmu. Tapi ini demi anakku juga..." Francis melirik Arthur karena mendengar Arthur berbicara dengan nada bersalah. "Aku tahu aku menculikmu atas keegoisanku. Maafkan aku." Arthur menundukkan kepalanya, berharap Francis akan memaafkannya.

Francis merasa bersalah saat melihat aksi Arthur. Ia mendorong sedikit badan Arthur ke belakang, membuat Arthur mengangkat kepalanya dan bisa melihat wajah Francis dengan jelas. Francis yang melihat kedua mata Arthur, langsung memalingkan wajahnya, berharap Arthur tidak melihat wajahnya yang memerah. "Ma... maaf, tadi aku sedikit emosi."

Arthur tersenyum saat melihat sisi baik Francis. "Ne, Francis. bisa kau ceritakan tentang Gilbert?"

"Cerita apa?"

"Apa saja yang kau tahu . Tentang dirimu dan Gilbert mungkin. Aku tidak tahu akan sampai kapan Gilbert akan ada di tubuh anakku, jadi aku ingin mengenal Gilbert." Francis memandang Arthur yang memandanginya lembut namun serius.

"Baiklah, akan kuceritakan. Namun aku tidak bertanggung jawab jika Gilbert marah karena kau tahu latar belakangnya tanpa seizinnya." Arthur mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa yang dimaksud Francis.

"Kenapa begitu?" tanya Arthur.

"Aku dan Gilbert berasal dari pinggiran kota, tempat masyarakat kelas bawah tinggal. Kami berdua hanya tinggal bersama ibu kami. Ayah Gilbert pergi entah kemana sedangkan aku tidak tahu siapa ayahku, tapi anak tanpa ayah sudah biasa di tempat kami. Ibu Gilbert adalah seorang pelayan di rumah seorang pengusaha sedangkan ibuku seorang pelacur. Selama ibu Gilbert bekerja, Gilbert selalu mengajakku bermain di rumahnya, karena di tempatku biasanya ada ibuku dengan laki-laki yang berbeda tiap harinya yang tidak kukenal. Karena fisik Gilbert, tidak ada yang mau bermain dengannya. Hanya aku teman mainnya." awal cerita, Francis menceritakan darimana Gilbert berasal. Tapi ia tidak tahu kenapa ia juga ingin menceritakan tentang dirinya pada Arthur.

"Maaf memotong. Ada apa dengan fisik Gilbert?" tanya Arthur.

"Oh, kau belum lihat tubuh asli Gilbert ya?" Francis memasukan tangan kanannya ke dalam saku celana, mencari sesuatu. Tak lama, ia mengeluarkan telfon genggamnya. "Ini adalah Gilbert." Arthur melihat tampilan depan telfon genggam Francis adalah foto Francis dengan dua orang temannya. Francis berada di tengah, di sebelah kanannya ada seorang laki-laki berambut putih dan mempunyai mata yang merah sedang tertawa. Di sebelah kirinya terdapat laki-laki berambut cokelat. Jari telunjuk Francis menunjuk pada laki-laki berambut putih.

"Ini?" tanya Arthur.

"Iya, aku yakin kau tak percaya." tentu saja Arthur tidak percaya. Dari pertama kali Arthur lihat, ia langsung tahu Gilbert adalah anak albino. Dan ia tidak bisa membayangkan Matthew ada di dalam tubuh itu.

"Bagaimana dengan Ludwig? kau ada fotonya?" Francis membuka galeri fotonya dan mencarinya.

"Ini." Francis memperlihatkan foto Gilbert sedang merangkul seorang laki-laki yang memalingkan wajahnya. Laki-laki itu mempunyai kulit putih, namun berbeda dengan kulit putih Gilbert dan rambut pirang yang di sisir rapi. Bola matanya berwarna biru, berbeda dengan Gilbert. Arthur tidak bisa menemukan kemiripan antara Gilbert dengan Ludwig.

"Mereka... tidak mirip." Arthur memperhatikan raut wajah Francis berubah murung. "Kenapa mereka tidak mirip? kau tahu?"

"Saat itu umur kami lima tahun. Aku dan Gilbert sedang bermain di rumah Gilbert, dan ibu Gilbert sedang mengurus pakaian. Saat kami sedang bermain, ternyata ayah Gilbert pulang sambil membawa seorang anak kecil. Ayah Gilbert bilang anak itu adalah adik Gilbert." Francis berhenti sejenak untuk tahu reaksi Arthur.

"Maksudmu... mereka satu ayah beda ibu?"

Francis tidak menjawab pertanyaan Arthur. Ia memilih untuk melanjutkan ceritanya. "Setelah tahu suaminya membawa anak dari wanita lain, ibu Gilbert marah dan orang tua Gilbert bertengkar. Gilbert membawa Ludwig ke kamar. Kami masih kecil saat itu sehingga kami tidak mengerti kenapa ibu Gilbert begitu marah pada suaminya hanya karena membawa adik Gilbert. Di dalam kamar, kami berusaha mengajak bermain Ludwig. Awalnya Ludwig tidak mau karena takut dengan penampilan Gilbert. Tapi lama-kelamaan ia menjadi dekat dengan Gilbert. Ia bahkan marah jika aku terlalu dekat dengan Gilbert." Francis tertawa kecil saat ia ingat ekspresi wajah Ludwig waktu itu.

"Saat hendak pulang, ibu Gilbert masuk ke dalam kamar dan bilang ayah Gilbert tidak akan pernah pulang lagi. Sebagai gantinya, Ludwig yang akan tinggal bersama mereka. Dan sejak saat itulah Ludwig tinggal bersama mereka, dan teman bermainku bertambah satu. Meski adik tiri, Gilbert sangat sayang dan merawat Ludwig. Begitu pun dengan ibu Gilbert. Ia seperti tidak perduli dengan suaminya dan semakin kerja keras karena kini Ludwig menjadi anaknya."

"Keadaan berubah satu tahun kemudian. Ibunya Gilbert menikah dengan majikannya dan membawa Gilbert sekeluarga untuk tinggal di rumahnya yang berada di pusat kota. Di saat yang sama, ayah kandungku mendatangi ibuku dan mengajak menikah. Ternyata ayah kandungku adalah pengusaha asing yang tinggal di kota. Saat mengandungku, ibuku hanyalah mahasiswa. Tak mau merepotkan ayahku, ibuku kabur dan tinggal di pinggiran kota. Dan sejak ibu menghilang, ayah terus mencarinya. Awalnya ibu ragu untuk menerima lamaran ayah kandungku, namun setelah aku memaksa, ia menerimanya. Akhirnya aku dan ibu dibawa ayah untuk tinggal bersama di pusat kota, lebih tepatnya di sebelah rumah Gilbert. Sekali lagi, kami menjadi tetangga." Arthur melihat raut bahagia di wajah Francis saat menceritakan orang tuanya. Ia tak tahu kenapa Francis menceritakan tentang masa lalunya juga, tapi ia tak mempersalahkannya.

"Aku dan Gilbert bersekolah di tempat yang sama. Awal masuk, kami berkenalan dengan Antonio, anak dari pengusaha juga, dan kami langsung akrab. Ludwig juga suka ikut bermain dengan kami. Gilbert mengajarkan Ludwig banyak hal, dan Gilbert sangat sayang padanya, ia berusaha menjadi kakak ideal untuk Ludwig. Kehidupan kami bahagia cukup lama, Sampai..."

"Sampai?" Arthur bingung kenapa Francis tidak melanjutkan ceritanya.

"Sampai Gilbert merasa ada yang berubah pada ibunya. Tubuh ibunya perlahan-lahan kurus dan sikapnya mulai berubah. Setelah aku, Antonio, dan Gilbert selidiki secara diam-diam, ternyata ayah tiri Gilbert melakukan perdagangan narkoba. Jika ia mendapat narkoba jenis baru, ayah tiri Gilbert akan memberikannya pada ibu Gilbert untuk dicoba."

"Maksudmu ibunya Gilbert menjadi kelinci percobaan narkoba?!"

Francis menganguk. "Kurang lebih seperti itu. Gilbert sangat marah. Ia bahkan bilang padaku akan membunuh ayah tirinya. Tapi aku melarangnya. Saat itu kami hanya anak SMP, dan Ludwig masih SD. Jika Gilbert ketahuan membunuh, akan dengan siapa Ludwig tinggal. Akhirnya Gilbert menahan diri demi Ludwig. Ia berpura-pura tidak tahu apa-apa dan melanjutkan hidup seperti biasa."

"Sampai saat kami SMA, polisi menangkap orang tua Gilbert dan memasukannya ke dalam penjara. Tak mau membuat Ludwig khawatir, Gilbert berbohong pada Ludwig kalau orang tua mereka sedang dinas ke luar kota. Tentu saja Ludwig mempercayainya. Gilbert mulai menceritakan padaku bahwa ia ingin bekerja dan minta dicarikan rumah untuk tempat tinggalnya dan Ludwig. Aku dan Antonio membantunya. Dan saat Gilbert ingin pindah, ternyata ayah tiri Gilbert kabur dari penjara dan mendatangi mereka."

"Ayah tiri Gilbert memohon pada Gilbert untuk menyembunyikannya, tapi Gilbert tidak mau. Ia tahu ayahnya akan dihukum gantung. Dan jika ada orang yang melihat Gilbert dan Ludwig menyembunyikan buronan, tentu saja akan berdampak pada kehidupan sosial mereka. Gilbert langsung membawa Ludwig ke rumah baru mereka. Ludwig yang tidak tahu alasan dan mengapa mereka terpisah dari orang tuanya membenci Gilbert hingga sekarang..."

"Lalu bagaimana dengan orang tua Gilbert sekarang?"

"Ayah tiri Gilbert meniggal karena hukuman gantung sedangkan ibunya meninggal karena overdosis. Ironi memang. Gilbert yang dulunya dijauhi teman-temannya kini bisa dekat dengan semua orang karena sikap dan keramahannya. Tapi kini ia kehilangan keluarga yang dulu ia pernah punya. Ayah kandungnya meninggalkannya, ibu kandungnya tewas karena ayah tirinya, sedangkan adiknya membencinya."

"Hiks..." Francis langsung menoleh saat mendengar ada orang menangis. Ia melihat Arthur sedang memandangnya dengan mata air dan wajah yang merah.

"Ke... kau kenapa?!" tanya Francis bingung.

"Kasihan Gilbert... hiks... ia melakukan hal yang terbaik untuk adiknya namun ia dibenci karena aksinya..." Francis tersenyum kecil mendengar jawaban Arthur.

Orang ini lucu, pikirnya dalam hati. "Aku lebih merasa kasihan terhadap Ludwig sekarang."

"Kenapa begitu?"

"Ludwig sudah tahu semuanya. Ia menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Gilbert dan ingin meminta maaf. Namun sekarang, setelah Gilbert siuman, walau ada di tubuh orang lain, ia tidak ingat pada Ludwig. Aku harus menceritakan apa pada Antonio dan Ludwig nanti?" Arthur melihat wajah Francis seperti orang yang sedang dilanda masalah, karena wajah Francis sama seperti wajahnya saat mendengar Matthew kecelakaan.

"Aku akan membantumu. Ini nomor telfonku." Arthur mengambil sesuatu di saku celananya dan memberikan sebuah kartu pada Francis. "Hubungi aku jika ada masalah dengan Ludwig dan Gilbert, karena bagaimana pun di dalam tubuh Gilbert ada jiwa anakku sekarang."

Francis menerima kartu nama Arthur. "Terima kasih."ucapnya sambil tersenyum. Dan saat melihat senyuman Francis, entah kenapa Arthur jadi ikut tersenyum membalas senyuman Francis. "Jadi, kapan aku bisa pulang?" pertanyaan Francis membuyarkan lamunan Arthur.

"Sebentar lagi ya, aku mohon. Tunggu hingga Matthew sudah bisa keluar dari Rumah Sakit dan bersekolah. Karena setelah siuman, hanya kau yang dikenal Gilbert, kan? aku tidak mau tubuh Matthew terluka lagi karena kondisi jiwa Gilbert."

Francis terdiam, seperti sedang berfikir. "Hm.. Ok. Kalau begitu kau harus mencarikanku tempat tinggal karena kau sudah menculikku!"

"Hm? tidak masalah. Kau bisa tinggal di rumahku." Mendengar jawaban Arthur yang lancar, membuat wajah Francis sedikit memerah.

"Ba... baiklah..." Arthur bingung kenapa wajah Francis sering memerah saat mereka sedang berbicara. Tapi Arthur tidak mempermasalahkan itu.

Mungkin ia gugup, pikirnya dalam hati.

Arthur dan Francis terdiam beberapa lama. Arthur tidak tahu harus bertanya apa sedangkan Fracis tidak tahu apalagi yang harus diceritakan. Tak lama, mereka mendengar langkah cepat seseorangg yang mengenakan sepatu hak tinggi. Dari jauh, mereka melihat seorang wanita berambut cokelat panjang menghampiri mereka sambil membawa sebuah tas kecil. Kini wanita itu berdiri di hadapan Arthur.

"Tuan Arthur, saya mengerti anak anda mengalami kecelakaan namun saya ingatkan sekali lagi jangan sampai meninggalkan pekerjaan di kantor! saya sudah memperbolehkan anda bekerja di Rumah Sakit, bukan?!" omelnya lalu memberikan tas kecil itu pada Arthur. "Dan kenapa tadi pagi anda memakai helikopter tanpa izin? saya sangat panik karena saya pikir ada pencuri helikopter di perusahaan kita." wanita itu masih mengomel. Kini ia melipat kedua tangannya.

"Maaf, maaf. Lain kali aku akan meminta izin jika aku mau memakainya. Aku memakai helikopter karena terbuuru-buru menculik seseorang. Ah, ini dia orangnya." kata Arthur ingin memperkenalkan Francis pada sekretarisnya. Wanita yang awalnya marah kini melihat Francis. Sama seperti Francis, mata wanita itu sedikit membelak saat mata mereka bertatapan. Francis tidak menyangka wanita di hadapannya ini adalah wanita yang ia kenal. "Eli, perkenalkan ini..."

"Francis?!"

"Elizaveta!" ucap mereka bersamaan, membuat Arthur memandang mereka dengan bingung dan bergantian.

"Kenapa kau bisa ada di sini?!" tanya Francis bingung.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu! kenapa kau bisa ada di sini di saat sahabatmu sedang koma dan butuh kau temani!"

"Gilbert sudah ditemani Ludwig dan Antonio, Eli, tunggu! Kau belum menjawab pertanyaanku! kenapa kau bisa ada di Rumah Sakit?!"

"Ehm!" Arthur berdeham untuk menghentkian celoteh panjang mereka. "Sepertinya kalian sudah saling kenal jadi sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan kalian lagi." Francis dan Elizaveta yang tahu mereka terbawa suasana berhenti berbicara. "Francis, ia ada di sini karena ia adalah sekretarisku."

Ada ekspresi tidak percaya di wajah Francis. Ia tak menyangka Elizaveta bekeja sebagai seorang sekretaris dan ia lebih tidak menyangka Arthur mempunyai sekretaris! Francis pikir Arthur hanyalah seorang karyawan biasa yang meminta tolong pada temannya untuk meminjamkan helikopter.

"Dan Francis di sini karena ia harus menemani Matthew selama beberapa hari."

"Menemani Matthew? bagaimana kau bisa kenal dengan Matthew, Francis?"

"Sebenarnya..." Francis ingin menjawab, tapi ia tidak tahu harus berkata apa. Arthur yang melihat Francis sulit untuk menjawab, akhirnya berbicara.

"Karena jiwa sahabatnya ada di dalam tubuh Matthew." jawab Arthur cepat.

"Sa... habat? maksudmu..." kini mata Elizaveta melirik ke arah Francis, seolah meminta jawaban. Francis yang tahu Elizaveta sedang meminta jawaban darinya, menghela nafas.

"Iya, jiwa Gilbert ada di tubuh Matthew."

"Elizaveta!" tiba-tiba pintu kamar terbuka dan keluarlah Matthew yang meneriakkan nama Elizaveta dengan senang. Matthew langsung memeluk Elizaveta hingga mereka berdua terjatuh. "Astaga, Eli! aku tak menyangka akan bertemu di sini!" Matthew mengeratkan pelukannya lalu mengelus wajahnya ke badan Elizaveta.

"Hei Gilbert! kau baru siuman! jangan langsung turun!" dari dalam, terdengar suara Alfred memperingati Gilbert.

"Gil... Gilbert?" tanya Elizaveta untuk memastikan bahwa sikap Matthew yang tidal biasa ini dikarenakan jiwa Gilbert di dalamnya.

"Betul! pasti Francis sudah memberi tahumu ya?" tanya Mattew senang.

"Kau... mengenalnya?" Arthur masih belum mengerti kenapa Francis bisa mengenal sekretarisnya dan kini ia melihat anaknya sedang bermanja dengan sekretarisnya.

"Tentu saja, ayah! Elizaveta itu sepupu Gilbert!" ucap Matthew senang.

"... Sepupu?!"

X

"Ne... Kak Alfred, aku tidak boleh keluar? sudah lama aku tidak bertemu dengan Elizaveta... aku rindu padanya..." dengan wajah memelas, Matthew meminta pada Alfred untuk memperbolehkannya bertemu dengan Elizaveta.

"Tidak boleh! kau tadi tiba-tiba pingsan, Mattie. Lebih baik sekarang kau tidur dan beristirahat, ya. aku temani kau sampai tidur." Alfred tersenyum sambil mengelus kepala Matthew. Matthew yang melihat wajah Alfred yang tak kalah memelasnya dengan wajah yang ia buat tadi. Matthew akhirnya menganguk dan menarik selimutnya. "Selamat tidur, Mattie." ucap Alfred yang tidak dibalas dengan Matthew.

Cukup lama Alfred duduk di sebelah Matthew, memastikan Matthew tidur dengan nyenyak. Setelah mendengar dengkuran Matthew, Alfred berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar kamar. Saat di luar, ia melihat Arthur, Francis, dan Elizaveta sedang berbicara serius. Mereka menoleh ke Alfred saat mendengar suara pintu kamar terbuka. "Matthew sudah tidur, boleh aku gabung?"

"Tentu saja, Alfred. Bagaimana kalau kita makan di kafetaria saja, agar lebih nyaman." Usul Arthur.

"Selama kau yang membayarnya, aku tidak masalah." kata Francis langsung berdiri dan berjalan menuju tangga.

"Sepertinya kau semangat sekali, Francis!" dari belakang, Alfred berjalan menyusul Francis.

"Jangan terlalu semangat, kalian! Ingat, walau makan di kafetaria tetap ada jatah untuk kalian!" Arthur yang merasa ditinggalkan, berteriak dari belakang.

"Jangan berteriak di koridor, Tuan." Elizaveta yang tahu majikannya melanggar peraturan Rumah Sakit mengingatkan. Selama perjalanan, mereka bercanda dan tertawa. Sampai Alfred melihat seorang pria bertubuh besar memakai jaket panjang dan syal sedang membawa bunga matahari melewati mereka sambil bergumam.

Langkah Alfred terhenti saat melihat orang itu. Apalagi melihat senyuman orang itu yang membuatnya merinding. Meski terlihat seram, Alfred merasa mengenal orang itu. Alfred terus melihat orang itu berjalan hingga ia terpisah dari ayah, Francis, dan Elizaveta. Arthur yang sadar anaknya terpisah, berhenti berjalan. "Hei Alfred, ada apa?! ayo!"

"Hm..." merasa ia salah mengenali orang, ia berjalan menghampiri ayahnya.

X

Matthew mendengar ada yang membuka pintu kamarnya tak lama ia tertidur. "Kak Alfred?" Matthew memanggil kakaknya, berharap itu kakaknya. Namun saat Matthew tidak mendengar jawabannya, Matthew membalikan badannya agar bisa melihat orang yang membuatnya terbangun. "Kau siapa?"

"Are? aku membangunkanmu ya?" Matthew melihat ada seorang pria memakai jaket panjang dan syal berjalan menghampirinya sambil membawa bunga matahari. "Selamat siang, Matthew." wajah yang awalnya tertutup bunga matahari kini bisa Matthew lihat dengan jelas. Wajah putih dengan alis tebal dengan rambut perak yang bercahaya karena lampu kamar. Orang itu tersenyum pada Matthew. Senyuman yang menurut Matthew lembut.

"Kau... siapa?" Gilbert tidak mengenal orang yang kini sedang menaruh bunga matahari di atas meja.

"Hm? kau tidak mengenalku?" orang itu bertanya dengan nada kaget. "Namaku Ivan Braginski, kakak dari Natasha yang membuatmu terjatuh, Matthew." Gilbert berfikir sebentar. Ia tidak mengenal Natasha. Alfred memberitahunya Matthew terjatuh karena menyelamatkan jepit rambut Natalya, bukan Natasha. "Natasha tahu kau terjatuh karena mengambil jepit rambut pemberianku. Tapi ia sangat malu padamu dan ia sangat takut pada Alfred jika ia datang menjengukmu untuk itu ia memintaku untuk menjengukmu."

"Te... rima kasih." Matthew tersenyum saat melihat bunga matahari yang Ivan letakan di atas meja. "Bunga nya sangat indah, Kak Ivan."

"Kak? haha..." Ivan tertawa saat mendengar nama panggilan yang ia dapat dari Matthew. "Kau cukup berani sebagai orang yang baru pertama kali bertemu denganku, Matthew. Biasanya orang-orang akan takut padaku saat mereka pertama kali bertemu denganku." Ivan melirik ke arah Gilbert. "Kau... tak takut padaku, Matthew?"

"Hm? kenapa takut? kau orang yang baik Kak Ivan, tak ada yang perlu ditakuti darimu." Matthew tersenyum pada Ivan hingga pipinya memerah. Ivan yang melihat senyuman Matthew tanpa sadar memegang kepala Matthew dan mengusap kepalanya.

"Kau seperti anak beruang, Matthew menarik." Gilbert sedikit kaget melihat Ivan tersenyum. Saat melihatnya, hati Gilbert merasa senang. Awal perjumpaan Gilbert dengan Ivan, ia tak menyadari Ivan akan merubah hidupnya.

Di chapter 12, akan saya ceritakan kehidupan Gilbert di Matthew setelah ia keluar dari Rumah Sakit dan kembali bersekolah.

Cerita ini menghibur saya karena IP saya kurang memuaskan dan kampus saya kebakaran. Namun review, saran dan kritik dari Anda membuat saya semakin terhibur. So, R & R please.