Hi, Arisa is here. Saya mengatakan chapter ini akan update bulan Maret atau April namun ternyata lebih cepat dari yang saya rencanakan. Kalian tahu kenapa? alasan mengapa saya bisa menyelesaikan chapter ini lebih cepat akan saya katakan di akhir cerita.

Susu soda gembira : saya tidak tahu kapan akan memunculkan Roderich, maaf m(-_-)m. Ivan memanggil Natalya Natasha karena itu nama panggilan kesayangan. Seperti Gilbert memanggil Ludwig West, dan Natalya memanggil Ivan, Vanya nantinya. Saya sudah gabung loh ke Akafuri group fb^^, thanks for the review.

HetaliaFeliciano : di chapter selanjutnya akan banyak RussPruss loh, siap-siap ya, haha. Saya tetap semangat menulis karena review dari Anda,loh^^ *plak, thanks for the review.

Unknowners : FrUknya kurang? Ok, akan saya tambahkan di chapter selanjutnya. Di chapter ini juga akan ada pengakuan Francis kok, haha. Maaf, tidak adaRusAme karena itu bukan kesukaan saya, thanks for the review.

Ayattan : ini dia chapter 11 , thanks for the review.

Warning : 1)typo, karena saya hanya manusia biasa. 2) GreJap, FrUk, karena mereka adalah OTP saya. Dan mungkin anda tidak sadar, tapi saya telah merubah salah satu genre cerita ini. 3) Mungkin anda akan sedikit kebingungan karena dalam cerita ini, saya akan banyak menulis nama Matthew karena ialah yang sekarang di tubuh Gilbert, kan?

Disclaimer : I Own nothing

Chapter 11 : Welcome Home

Langit. Lagi-lagi, Matthew melihat langit saat ia membuka matanya. Ia tahu ini adalah mimpi, tapi ia tak tahu kenapa setiap kali ia bermimpi, ia pasti melihat langit. Berusaha bangun dari tidurnya, Matthew sadar ia sedang berdiri di atas air. Pantulan langit dapat Matthew lihat dengan jelas di bawah kakinya. Matthew tersenyum kecil melihatnya. Setiap kali ia menggerakan kakinya, pantulan air akan bergerak, seakan-akan langit juga ikut bergerak.

Saat sedang asyik bermain dengan kakinya, tak lama Matthew mendengar suara seseorang memanggilnya. "Matthew!" Matthew menoleh ke belakang dan melihat kedua orang tua kandungnya sedang melambaikan tangan memanggilnya.

"Daddy! Mommy!" Matthew berteriak dengan wajah senang saat melihat kedua orang yang sangat ia sayangi. Matthew berlari ke arah mereka, ia ingin memeluknya dan melepaskan rasa rindunya. Tapi di tengah jalan, ia sadar. Orang tua kandungnya sudah tiada. Bagaimana jika ia berlari menuju mereka, ia tidak akan kembali lagi?

"Mattie." kini, ia mendengar suara Alfred memanggilnya. Matthew menoleh lagi ke belakang dan melihat Alfred sedang berdiri di samping Arthur. Mereka berdua melambaikan tangan memanggil Matthew. Matthew membalikkan badannya. Ia sadar ia masih ingin bersama Alfred dan Arthur daripada bersama orang tuanya yang telah tiada.

Matthew berlari menuju Alfred, namun langkahnya terhenti saat melihat bayangan hitam di belakang Alfred. Bayangan itu membentuk wajah orang tersenyum yang membuat Matthew ketakutan. Bayangan itu juga membentuk tangan dan melambaikan tangannya pada Matthew. Matthew takut. ia takut pada bayangan itu. Ia tak tahu bayangan apa itu, yang pasti Matthew merasa takut. Badannya gemetar hebat. Ia bingung kenapa Alfred dan Arthur tidak menyadari adanya bayangan itu.

"Ada apa Mattie? ayo kemari..." Alfred sudah tak sabar karena Matthew masih berdiri terdiam di tempat. Matthew menggeleng. Ia ingin pergi ke sana, ke tempat Alfred dan Arthur berada. Namun ia takut pada bayangan itu. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia pergi ke tempat orang tuanya agar terhindar dari bayangan tersebut? atau ia pergi ke tempat Alfred dan membiarkan bayangan tersebut membuatnya ketakutan?

"Hei lihat itu Matthew..." tak lama, bayangan tersebut berbicara.

"Tubuhnya terlihat lemah, tidak seperti kakaknya..."

"Apa ia benar laki-laki? terlihat seperti perempuan di mataku..."

"Hooo, dia dapat nilai sempurna untuk pelajaran, kenapa untuk olahraga tidak bisa ya? padahal Alfred saja bisa..."

"Lihat pakaian ia hari ini. Terlihat kuno sekali."

"Aaahhh... kenapa ia sangat berbeda dengan kembarannya sih? membuatku kecewa..."

Bayangan hitam itu terus berbicara, seolah-olah ingin membuat Matthew semakin takut. "Tidak, tidak..." Matthew tak tahan dengan kalimat yang bayangn itu ucapkan.

"Lihat, ia bahkan diam saja saat kita kasih paku di atas meja dan kursinya. Apa ia tak bisa melawan?"

"Tidak..."

"Nee, kau lihat gambar bunga di sepatunya? itu aku yang buat loh, bagus kan?"

"Tidak..."

"Ia terkena jebakan air di kamar mandi lagi?! ckckck, tak bisakah ia belajar dari pengalaman?"

"Tidak!" tak tahan, Matthew berteriak sambil menutup kedua telingnya. Matanya terpejam dan ia meringkukkan badannya. "Tidak! tidak!"

"Mattie! Mattie!" suara Alfred dan Arthur yang memanggilnya dapat Matthew dengar meski ia sudah menutup kedua telinganya. Ia tak perduli. Ia tak ingin pergi ke tempat kakaknya karena ia tak ingin mendengar suara bayangan itu mengejeknya.

"Matthew!" Matthew juga mendengar suara kedua orang tuanya, tapi ia juga tak perduli. Lebih baik ia di sini saja. Tidak di tempat Alfred juga di tempat kedua orang tuanya.

"Matthew! Matthew!" Matthew semakin menekan tangannya agar suara itu menghilang.

"Matthew! Matthew!"

"Gilbert..."

"Eh?" Matthew mendengar suara orang memanggil namanya dengan nama yang berbeda.

Matthew membuka matanya dan kini yang ia lihat bukanlah langit, melainkan lampu kamar Rumah Sakit. "Gilbert." terdengar suara yang memanggilnya dengan nama lain. Matthew menoleh ke sumber suara dan ia melihat seorang pria berkulit putih, berambut pirang dan cepak, memakai baju kemeja putih yang lengannya digulung setengah lengan. "Gilbert, kau tak apa-apa?"

Oh iya aku berada di tubuh Gilbert sekarang, Matthew menyadari ada yang beda dari biasanya. Sekarang ia tidak berada di tubuh aslinya. Sepertiya jiwanya tertukar dengan seorang pria bernama Gilbert Beilschmidt. Sudah lima hari ia berada di tubuh Gilbert, dan ia masih belum terbiasa jika ada yang memanggilnya 'Gilbert'.

"Oi Gilbert, kau baik-baik saja?" lamunan Matthew buyar saat orang yang berhasil membangunkannya dari mimpi buruk memanggilnya.

"Ah, aku baik-baik saja... ano... kau..." Matthew ingat pada orang ini. Hampir setiap hari orang ini menjenguknya dengan alasan mewakili tempat Gilbert bekerja, namun Matthew tidak ingat siapa namanya.

"Kau masih tidak ingat dengan namaku?" orang itu sadar namanya dilupakan. "meski kau mengalami kecelakaan, kau tak berubah."

"Maaf..."

"Namaku Arjan."

Oh iya, namanya Arjan! "Ano... Arjan-san. Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

"Sungguh? Badanmu berkeringat..." Matthew terdiam mendengar pertanyaan Arjan. Matthew melihat wajah datar Arjan, kemudian ia tertawa. "Kenapa?" Arjan bingung dengan sikap Matthew yang tertawa melihat wajahnya.

"Aku tak menyangka kau khawatir seperti ini, Arjan-san. Saat aku siuman dan melihatmu, kupikir kau orang yang dingin dan menyeramkan." kali ini, Arjan yang terdiam saat melihat Matthew tertawa. "Kenapa?"

"Biasanya kau memanggilku dengan Vries, jadi aku... sedikit canggung saat kau memanggilku Arjan... tapi itu karena kau hilang ingatan jadi aku maklum..." Matthew berhenti tertawa. Lagi-lagi ia baru ingat bahwa Ludwig sudah memberi tahu orang-orang bahwa Gilbert hilang ingatan. Ini memang memudahkan Matthew karena ia memang tidak mengenal teman-teman Gilbert, tapi ini juga membuat Matthew merasa bersalah pada mereka.

"Ja... kalau sekarang aku memanggilmu Vries-san, bagaimana?" tawar Matthew.

Arjan tersenyum lembut mendengar tawaran Matthew "Hm... itu lebih baik sebenarnya." Matthew yang melihat senyuman Arjan ikut tersenyum.

Dari luar kamar, Kiku tersenyum kecil saat melihat Gilbert dan temannya saling tersenyum. Sedari tadi ia duduk di luar kamar, dan saat ia mendengar Gilbert berteriak ia segera masuk ke dalam kamar. Namun saat melihat Arjan berhasil menenangkan Gilbert, Kiku mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar.

"Honda-san?" mendengar namanya dipanggil, Kiku mendongakkan kepalanya. "Apa yang anda lakukan di sini? anda tak bisa masuk?" Kiku melihat Heracles, dokter yang merawat Gilbert sedang berdiri di hadapannya sambil membawa mangkuk dan sebuah kantong plastik.

"Tidak. Saya baru keluar kamar dan ingin jalan-jalan di Rumah Sakit." jawab Kiku sedikit berbohong pada Heracles karena ia tidak mungkin bilang pada Heracles ia berada di luar kamar karena tak ingin mengganggu Gilbert dengan Arjan, bukan? "Anda sendiri sedang apa, Heracles-san? sekarang sedang jam besuk bukankah jam istirahat bagi para dokter?"

"Ya, saya sedang istirahat sekarang. Saya hendak memberi makan kucing-kucing yang saya pelihara di taman Rumah Sakit sekarang."

"Kucing?"

"Iya, kucing. Anda tahu, saya sangat suka dengan kucing. Dan..." Heracles tidak melanjutkan kalimatnya setelah ia melihat mata Kiku yang berbinar-binar. "Honda-san?"

"Kucing..." seolah tak mendengar pertanyaan Heracles, mata Kiku terus berbinar-binar. Sekarang ia sedang membayangkan kucing-kucing yang pernah ia temui. Kucing persia, kucing anggora, Kiku membayangkan saat ia mengelus-elus bulu-bulu kucing tersebut, atau saat kucing itu tidur di pangkuan Kiku.

"Honda-san?" lamunan Kiku buyar saat mendengar Heracles memanggilnya lagi.

"Ah, maaf, saya terbawa suasana..." Kiku menundukkan wajahnya yang memerah karena malu ia berkhayal di hadapan Heracles. "Saya tak menyangka dokter di sini boleh memelihara kucing di Rumah Sakit ini.."

"Butuh perjalanan panjang supaya saya di izinkan memelihara kucing di Rumah Sakit ini."

"Tapi itu hebat, Heracles-san..." Heracles hanya tersenyum mendengar pujian dari Kiku.

"Anda mau melihatnya?"

"He? melihat apa?"

"Kucing peliharaan saya, anda mau melihatnya?"

"He? Bisakah?!" wajah Kiku berubah seketika. Heracles sampai tak menyangka Kiku yang biasanya berwajah diam dan dingin bisa berwajah seperti anak kecil.

"Hm, tentu saja. Anda sedang tidak sibuk, bukan?" Kiku menggeleng dengan cepat. "Kalau begitu ayo ikut saya." kali ini Kiku menjawab dengan angukan cepat. Selama perjalanan, Kiku tidak berhenti menggumamkan lagu kesukaannya. "Saya tak menyangka anda akan sesenang ini saat saya mengajak untuk melihat kucing peliharaan saya, Honda-san."

"Tentu saja saya sangat senang. Di rumah, kakak melarang saya untuk memelihara kucing karena adik saya ada yang punya alergi dengan kucing."

"Hm... Yong Soo-san?" Heracles berusaha menebak, Kiku menjawabnya dengan gelengan.

"Bukan, tapi Kasem. Ia bisa bersin seharian jika bersentuhan dengn bulu kucing karena itu Kak Yao melarangku. Padahal, kucing sangat lucu! bukankah begitu, Heracles-san?"

"Tentu saja mereka sangat lucu! mata mereka... bulu halus mereka.."

"Ah, jangan lupa ekornya! ekor mereka..." dan sepanjang perjalanan menuju kandang, Heracles dan Kik tak henti-hentinya berbicara tentang kucing kesukaan mereka.

X

Matthew melambaikan tangan saat Arjan menutup pintu kamarnya. Dua jam mereka berbincang, membuat Matthew tak kesepian menunggu Ludwig datang. Matthew senang berbicara dengan Arjan. Ia merasa, ini pertama kalinya ia bisa asyik berbicara dengan orang selain kakak dan ayah angkatnya. Matthew rindu dengan mereka, sungguh. Ia rindu mendengar ocehan Alfred, ia rindu Arthur mengusap rambutnya dengan lembut sambil menanyakan kabarnya hari ini. Tapi saat ia ingat akan mimpinya, Matthew seakan-akan takut untuk kembali ke tempat mereka. Dan lagi, melihat sikap Ludwig terhadapnya, ia merasa Ludwig tidak bisa melepaskannya.

"Bruder," tak lama, Matthew melihat Ludwig masuk dengan membawa sebuah tas yang besar. "kau tak istirahat?" Ludwig menaruh tas itu di atas meja dekat pintu, berjalan menuju tempat tidur kemudian duduk di sisi tempat tidur.

"Tidak, Arjan baru saja selesai menjengukku, dan aku meunggumu. Apa yang kau bawa, West?" Matthew memanggil Ludwig West, karena Antonio memberi tahunya bahwa itu nama panggilan sayang Gilbert untung Ludwig.

"Itu dari sekolaku, untukmu. Kau tahu? kakakku sangat terkenal di sekolahku. Sampai-sampai tidak ada yang ingat namaku dan mereka memilih untuk memanggilku 'adiknya Gilbert'. Karena itu saat mereka tahu kau sudah siuman, para guru dam teman-temanku memberikanmu banyak hadiah."

"Jadi itu semua untukku?" tanya Matthew tak percaya. Ia tak menyangka Gilbert begitu disayang semua orang. Tiba-tiba, air mata mengalir dari matanya.

"Kau kenapa?" Ludwig terlihat panik saat melihat kakaknya menangis.

"... baru kali ini aku merasa disayang semua orang. Selama ini, aku hanya merasa disayang oleh kakak dan ayahku. Ternyata... rasanya disayang oleh orang yang perduli dengan kita... hangat ya." ucapan Matthew membuat Ludwig terdiam, seakan-akan kalimat Matthew menusuk dirinya. Matthew tidak tahu ternyata Gilbert disayang semua orang, namun ia belum tahu hanya Ludwig yang membenci Gilbert.

"Itu karena kakakku juga sayang pada mereka. Kau lihat sendiri bentuk fisik Gilbert seperti apa kan?"

"Hm... ia anak albino ya?" tanya Matthew menduga.

"Sepertinya begitu. Karena itu ia sering diledek dan diejek oleh orang-orang. Namun kakakku sadar salah satu cara membalas sikap mereka adalah berbuat baik pada mereka. Karena itu banyak orang yang sekarang sayang pada bruder. Saat kau sudah keluar dari Rumah Sakit dan jalan-jalan di kota, kau akan mengetahuinya."

"Tapi tak mudah untuk berbuat baik pada orang yang sudah berbuat jahat pada kita." Matthew berkata dengan nada rendah, membuat Ludwig tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

"Kau berkata sesuatu?" Matthew yang sadar ia mengatakan sesuatu tanpa sadar langsung menggeleng.

"Ah, tidal tidak. Ngomong-ngomong, kapan aku bisa keluar dari Rumah Sakit?" seolah tidak mau menjawab pertanyaan Ludwig, Matthew mengalihkan pembicaraan.

"Hm... dokter bilang lusa nanti kau sudah boleh pulang. Akan kurapikan dulu kamar kakakku, karena aku tahu kamarnya akan sangat berantakan. Apa ada yang mau kau pesan saat hari pertama pulang ke rumah?"

"Aku ingin makan masakanmu, West. Masakanmu enak sekali."

Ludwig tersenyum mendengarnya. Ia memang sudah sering mendengar pujian dari Gilbert tentang masakannya, namun selalu ia balas dengan tatapan dingin. Kali ini, ia akan selalu menjawab pujian Gilbert dengan senyuman. "Terima kasih, bruder."

"Hm... bisakah kau membuatku pancake dengan sirup mapel?"

X

"Lusa Gilbert-san akan pulang?" terdengar nada kecewa dalam kalimat Kiku saat Heracles memberi tahu tentang kepulangan Gilbert.

"Kenapa kau terlihat kecewa?" Ludwig mengerutkan alisnya karena bingung dengan sikap Kiku yang tidak biasanya.

"Aku baru saja menemukan surga kucing di kota ini, Ludwig. Dan mungkin besok adalah hari terakhirku ke tempat itu." Heracles yang sedang berdiri di samping Kiku tertawa pelan mendengarnya.

"Meski Gilbert-san sudah boleh pulang, kau masih bisa kemari jika kau ingin bertemu dengan kucing peliharaan saya, Honda-san."

"Benarkah?" mata Kiku berbinar mendengarnya. Ludwig hanya menghela nafas mendengarnya karena ia sadar Kiku bertemu dengan orang yang sama-sama menyukai kucing.

"Bernar, kan apa yang kubilang. Kau sudah bisa pulang lusa. Apa kau senang?"

"Tentu saja, aku sudah sabar untuk kembali pulang dan kembali bekerja, agar bisa bekerja bersama Arjan."

"Kau.. terlihat akrab dengan Arjan, Matthew." Ludwig merasa akhir-akhir ini Matthew sangat akrab dengan teman kerjanya, Arjan. Padahal Gilbert, kakaknya tidak pernah menceritakan tentang Arjan.

"Iya, kita sangat akrab karena kita mempunyai banyak kesamaan."

"Saya senang anda sudah bisa tersenyum saat berbicara dengan orang asing, Matthew-san." Heracles yang akhirnya percaya bahwa jiwa yang ada di dalam tubuh Gilbert adalah jiwa milik seseorang bernama Matthew, bukan karena kepribadian Gilbert yang berubah karena kecelakaan, tersenyum padanya. "Mengingat sikap anda di hari pertama siuman, saya sempat khawatir bagaimana nantinya jika anda keluar dari Rumah Sakit."

"Saya sadar Gilbert disayang semua orang, karena itu saya yakin tidak ada yang akan menyakitinya." Lagi, kalimat Matthew membuat Ludwig terdiam. Memang benar tidak ada yang mau menyakiti Gilbert, tapi Matthew tidak tahu dulu Ludwig lah satu-satunya orang yang berani menyakiit perasaan Gilbert.

"Meski anda sudah keluar dari Rumah Sakit, saya sarankan anda tetap kemari seminggu sekali untuk pemeriksaan. Karena apa yang anda alami sekarang sangatlah langka, dan saya tidak mau ada sesuatu yang aneh dengan kondisi fisik Gilbert-san." Matthew menjawab nasehat Heracles dengan senyuman

"Terima kasih sudah mau merawatku selama ini, Heracles-san."

X

"Selamat datang!" Matthew yang ada di dalam tubuh Gilbert mundur selangkah saat mendengar suara petasan kecil di depan rumah Gilbert dan Ludwig. "Selamat datang kembali ke rumah, Gilbert!" dengan semangat Yao menarik tangan Gilbert agar masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, Matthew melihat saudara Kiku sedang berkumpul untuk menyambutnya.

"Selamat! selamat!" terdengar ucapan selamat dari Kaoru, Kiku, Xiao Mei, Kasem Chao, Lien Chung saat Matthew memasuki ruang makan. Matthew terkejut dengan kejutan yang disiapkan Yao, kakak Kiku. Ia tahu Yao adalah orang yang ramah, namun ia tak menyangka Yao akan memberinya kejutan juga.

"Senang?" dari belakang, Ludwig bertanya pada Matthew untuk memastikan keadaan Matthew baik-baik saja.

"Tentu saja, West. Aku tak menyangka kalian akan mempersiapkan ini.."

"Maaf aku tidak bisa mengundang Antonio. Ia sedang bekerja untuk menggantikanmu. Jadi ia tidak bisa datang..."

"Ini lebih dari cukup, West, terima kasih.." Matthew menarik kepala Ludwig dan mencium keningnya. Biasanya Ludwig akan mengelak dan memarahi Gilbert karena tiba-tiba mencium keningnya seperti ana kecil. Tapi Ludwig sudah bertekad untuk merubah sikapnya terhadap kakaknya, jadi ia hanya tersenyum saat Matthew mencium keningnya.

Sebenarnya, Matthew tanpa sadar melakukannya. Sejak ia ada di dalam tubuh Gilbert, ia merasa sayang pada Ludwig sebagai adik. Padahal dari segi umur, Matthew lah yang seharusnya yang menjadi adik Ludwig. Namun Matthew sadar, gerak tubuh Gilbert terhadap Ludwig menandakan betapa sayangnya Gilbert pada Ludwig. Terkadang, Matthew jadi rindu dengan Alfred. Ia yakin jika Gilbert dan Alfred bertemu, mereka pasti akan sangat akrab.

"Gilbert-hyung." Matthew menoleh saat mendengar ada yang memanggilnya. Ia melihat anak kecil berambut pendek, berkulit putih, sedang berjalan menghampirinya. Matthew tahu anak ini, ia Yong Soo.

"Ada apa, Yong Soo?" Matthew menundukkan sedikit badannya agar bisa melihat wajang Yong Soo yang menunduk dengan jelas. Namun saat Matthew menatapnya, Yong Soo langsung bersembunyi di belakang Kiku.

"Kenapa Yong Soo? Kau takut?" Kiku heran melihat adik bungsunya yang biasanya akrab dengan Gilbert, justru menghindar.

Yong Soo menganguk, "Yong Soo takut pada orang asing, Yong Soo takut dibawa pergi..." gumamnya. Kiku terdiam mendengarnya. Ia belum menceritakan kepada keluarganya tentang jiwa Matthew yang ada di dalam tubuh Gilbert, namun sepertinya adik bungsunya sudah menyadarinya.

"Tenang, ia bukan orang asing kok. Gilbert-hyung sudah seperti keluarga kita, bukan?" Yong Soo menganguk pelan. "ayo hampiri Gilbert-niisan dan katakan apa yang mau kau berikan."

Yong Soo kembali berjalan menghampiri Gilbert. "Ini." Matthew melihat Yong Soo mengeluarkan gulungan kertas putih dari belakangnya.

Matthew mengambilnya dan membuka gulungan itu. Tergambar seorang laki-laki dengan rambut putih dan mata berwarna merah sedang berdiri di antara banyak orang. Di atas kertas tersebut tertulis, 'Cepat sembuh, Gilbert-niisan' "Ini apa, Yong Soo?" tanya Matthew pura-pura tidak tahu.

"Aku tidak bisa memasak seperti Yao-nii dan Kiku-nii, jadi aku menggambar untukmu..."

"Terima kasih, Yong Soo." Tanpa sadar, Matthew memeluk Yong Soo.

"Bruder, lihat siapa yang ada di depan rumah." Tak lama, Matthew mendengar suara Ludwig memanggilnya.

"Siapa?"

"Ayo kita ke depan." Ludwig menarik tangan kakaknya menuju depan pintu masuk rumah. "Bukalah." Langkah mereka terhenti di depan pintu. Matthew yang penasaran, membuka pintu rumah.

"Selamat Gilbert!" teriakan orang-orang terdengar begitu Matthew sudah membuka pintu sepenuhnya.

Kejutan lain!, pikirnya senang. Ia melihat banyak orang dari berbagai macam usia sedang tersenyum kepadanya.

"Mereka siapa, West?"

"Mereka adalah orang-orang yang menyayangimu, bruder." jawab Ludwig.

Matthew tak menyangka akan ada sebanyak ini orang yang menyayangi Gilbert. Sempat Matthew merasa iri pada Gilbert. Namun saat ia ingat sekarang ia ada di dalam tubuh Gilbert, ia bisa tersenyum. Aku pinjam sebentar tubuhmu, Gilbert. Aku ingin merasakan ini lebih lama.

X

"Kerja bagus, Antonio-san." Antonio mendengar suara Arjan dari belakang dan ia merasa Arjan memukul pundaknya dengan pelan.

"Ah, kau juga."

"Bagaimana? sudah terbiasa?"

"Dengan pekerjaan ini? belum... ah.. aku harap Francis segera pulang atau Matthew bisa berkerja kasar seperti ini..." keluh Antonio.

"Matthew?" Antonio segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Antonio sepertinya lupa kalau Arjan belum tahu di dalam tubuh Gilbert sekarang ada jiwa Matthew. "Siapa itu Ma..."

"Ah... maksudku Gilbert, ya, ya, aku salah menyebutkan nama." dalam hati, Antonio berdoa agar Arjan tidak menemui keganjalan dalam nada bicaranya.

"Oh... jika kau ingn Francis-san segera pulang, kenapa tidak kau telfon?"

"Ah, kau benar. Lebih baik aku menelfonnya. Aku pulang dulu ya, selamat malam." Antonio melambaikan tangannya lalu pergi menjauhi Arjan. Antonio tidak dapat mendengar teriakan Arjan karena ia segera berjalan di trotoar kota, mengambil telfon genggamnya, dan menghubungi Francis. "Semoga diangkat..." doanya. "Oi Francis!" nada bicara Antonio meninggi setelah ia mendengar sambungan telefon diangkat.

"Oh, Antonio, pagi..." dari seberang telefon, Francis terdengar seperti orang yang baru bangun tidur.

"Jangan menyapaku, dan disini sudah malam, bodoh!" Antonio yang tak nyaman dengan sambutan Francis, meninggikan nada suaranya. "lagipula, kapan kau akan kembali? Gilbert sudah siuman, dan kau pasti tak menyangka kalau..."

"Di dalam tubuh Gilbert terdapat jiwa Matthew, bukan?" seolah bisa membaca pikiran, Francis melanjutkan kalimat Antonio.

"... kenapa kau bisa tahu?"

"Karena sekarang aku berada di negara tenpat Matthew tinggal, dimana ada jiwa Gilbert di dalamnya." jawaban Francis membuat Antonio semakin naik darah.

"KALAU BEGITU CEPATLAH KEMBALI! AKU TIDAK TAHU HARUS BEKERJA BERAPA LAMA LAGI SAMPAI MATTHEW BISA KEMBALI BEKERJA!" beruntung Antonio sedang berada dalam perjalanan pulang, bukan di Rumah Sakit, jadi tidak ada orang yang memarahinya, hanya melihatnya dengan tatapan yang tajam.

"Kau sangat berisik, Antonio. Jangan marah-marah di pagi hari..." tak ada jawaban dari Antonio, menandakan Antonio masih marah. "Ok, aku minta maaf padamu. Aku tak menyangka akan diculik dan aku juga tak menyangka jiwa mereka akan tertukar..." Francis tahu alasan Antonio marah. Tidak seperti dirinya dan Gilbert, Antonio tidak pernah hidup susah. Ia terlahir dan hidup lebih daru berkecukupan. Antonio juga tidak pernah pergi ke pasar dan menikmati makanan pasar, sampai ia berteman dengan Gilbert dan Francis. Jadi Antonio juga baru pertama kali bekerja sebagai tukang bangunan yang pastinya akan membuat dirinya tidak nyaman. "Tapi aku benar-benar tidak bisa kembali sekarang karena berbagai alasan."

"Dan sebutkan alasan itu, Francis. Kau tahu aku tak terbiasa bekerja seperti ini, dan aku sudah capek. Kalau kau menyuruhku mengurus administrasi dan keuangan Gilbert, aku masih bisa. Tapi kalau bekerja secara fisik, aku menyerah. Bukan berarti aku tidak mau membantu Gilbert, hanya saja..."

Di seberang telefon, Francis tersenyum mendengar pengakuan Antonio. "Terima kasih atas pengakuanmu, Antonio. Dan maaf aku memberikan tanggung jawabku kepadamu. Tapi untuk sekarang, aku benar-benar tidak bisa pulang karena..."

Antonio terdiam menunggu jawaban dari Francis, "karena?"

"Karena sepertinya aku jatuh cinta pada orang yang menculikku..."

Seketika, Antonio tersandung. "Attata..." Antonio mengerang pelan. "Ja... jatuh cinta?! Astaga Francis, di saat teman kita sedang butuh bantuan, kau jatuh cinta?!"

"Tapi... ini baru pertama kalinya aku jatuh cinta pada laki-laki dan..."

Antonio yang baru saja berhasil berdiri, terjatuh lagi. "LAKI-LAKI?! apa kau sudah bosan bermain-main dengan perempuan sehingga kau beralih ke laki-laki?!"

"Aku tidak bermain-main, lagipula baru pertama kali aku tertarik dengan laki-laki, meski ia adalah ayah Matthew dan kakaknya."

"Dia punya anak?! tunggu, dia ayah Matthew?! Francis... apa yang harus kukatakan pada Matthew.. tunggu, tubuh Matthew sudah siuman kan? artinya di dalam tubuh Matthew ada jiwa Gilbert kan? Gilbert sudah tahu? eh, ia tidak apa-apa kan?"

"Aku belum menceritakan ini pada Gilbert. Matthew sudah siuman, dan jiwa Gilbert baik-baik saja. Alasan lain aku tidak bisa kembali karena Arthur, ayah Matthew, memintaku untuk menemani Gilbert. Meski ternyata Elizaveta adalah sekretaris Arthur, tapi aku bertekad tidak akan pulang sebelum..."

"Sebelum kau menaklukan hati Arthur?" tebak Antonio.

"Bukan! ini alasan kenapa aku tidak bisa pulang karena ternyata..." lama Francis terdiam membuat Antonio tidak sabar. "aku sulit untuk mengatakannya..."

"Ada apa? apa ada masalah yang sangat besar mengenai Gilbert?"

"Bisa dibilang begitu karena... Gilbert tidak ingat Ludwig, dan hanya Ludwig."

Jadi, alasan saya kenapa bisa menyelesaikan chapter ini lebih cepat karena saya sudah merencanakan kapan saya akan mengakhiri cerita ini saya sudah membuatnya dan entah kenapa setelah saya membuat akhir cerita ini, saya jadi lancar untuk menulis chapter 11 ini.

Mau tahu akan berakhir di chapter berapa cerita ini? itu rahasia namun bagi kalian yang penasaran bagaimana akhir cerita ini, saya akan memberi tahu petunjuknya. Akhir cerita dari Exchange ini terinspirasi dari anime Persona : Trinity Soul. Jadi bagi yang penasaran dengan akhir cerita ini dan belum menonton anime yang saya sebutkan, silahkan ditonton ya.

Saran dan kritik saya terima, jadi R & R please.