Hi, Arisa is here! hm... sudah berapa bulan ya saya tidak update? 4 bulan ya? saya ingin minta maaf... setelah uts, tugas kuliah semakin banyak. Bahkan saya harus kuliah secara online pada akhir pekan, karena itu saya ingin minta maaf sebelumnya. Terima kasih jika kalian masih mau menunggu dan membaca karya saya, review dari saya membuat saya semangat menyelesaikan chapter ini tepat sebelum saya melaksanakan ujian akhir semester. Hontou ni arigatou gozaimasu... *bow.

Dalam chapter ini, akan muncul tokoh baru, ada yang bisa menebaknya?

Syalala uyee: maaf saya baru update sekarang dikarenakan tugas kuliah. Saya harap saat saya liburan 2.5 bulan nanti saya bisa update tiap minggunya. Thanks for the review...

HetaliaFeliciano: reaksi Ludwig mungkin bisa anda temukan di chapter selanjutnya , sebagai sesama shipper RussPruss, saya menanti komentar anda tentang chapter ini. Thanks for the review...

Jenichi Kaname: benarkah? haha, saya memang berusaha memasukan semua otp saya dalam cerita ini. Thanks for the review...

Unknownwers: maaf, saya bukan shipper RusAme... jika ada hint sedikit, mungkin ada di chapter ini? he... bukankah ia terlihat mirip Gilbert? :3 thanks for the review..

Susu soda gembira: saya memang memasukan GreJap disini Arjan itu Netherland. Tolong doakan saja Francis agar cintanya terbalas *bow. Thanks for the review...

Warning: 1) as always, typo, 2) RussPruss, dan perjuangan Francis baru saja dimulai!

Disclaimer: I own nothing

Chapter 12: It will be fun!

"Siapa?" Gilbert melihat ada seorang anak kecil berambut putih sedang berdiri jauh di hadapannya. Anak kecil itu berpakaian putih lusuh dengan celana pendek, badannya yang putih membuat luka-luka di sekujur tubuhnya terlihat. Gilbert tidak mengenal anak itu, "kau siapa?"

Anak itu tidak menjawab pertanyaan Gilbert. Ia hanya tersenyum pada Gilbert. Poninya yang menutupi mata, membuat Gilbert tidak bisa melihat kedua matanya. "Gilbert." Gilbert mendengar ada suara di belakangnya, dan saat Gilbert berbalik ia melihat ibunya sedang tersenyum padanya.

"Mutti?" Gilbert bingung kenapa ia bisa bertemu dengan ibunya. Seingatnya, ibunya sudah meninggal karena perbuatan ayah tirinya. Apa ini artinya sudah saatnya ia mati?

"Kemarilah Gilbert, ibu rindu padamu..." Nyonya Beilschmidt mengulurkan tangannya. Gilbert ingin meraihnya, namun ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia menerima uluran tangan ibunya. Saat ingin melangkah, Gilbert merasa ada yang menarik bajunya seolah menghentikan ia untuk berjalan. Anak kecil itu menghentikan langkah Gilbert.

"Apa kau yakin?" tanyanya. "apa kau yakin sekaranglah saatnya kau kesana?"

Kini Gilbert bisa melihat kedua bola mata anak kecil itu. berwarna merah, sama seperti dengan yang Gilbert punya. Seolah-olah anak kecil tersebut adalah Gilbert saat masih kecil. "Apa urusannya denganmu? aku tak mengenalmu, lepaskan aku."

"Kau tidak menjawab pertanyaanku. Apa kau yakin sekaranglah saatnya kau kesana?"

"Kau mengganggu! Lepaskan aku!" Gilbert yang mulai tidak senang dengan sikap anak kecil itu mulai menghardiknya.

"Benarkah?" anak itu mengangkat wajahnya namun wajahnya berubah. Rambutnya tidak lagi putih melainkan pirang. Warna matanya tidak lagi merah melainkan biru. "Benarkah aku mengganggmu?" Dada Gilbert tiba-tiba sakit saat melihat matanya. "Ne, bruder..."

"Lepaskan!" Gilbert menangkis tangan anak kecil itu agar tidak memegang bajunya lagi. "Kau siapa?! jangan memanggilku itu! kau bukan adikku! kau tidak mirip denganku dan aku tidak punya adik!" dada Gilbert semakin sakit saat ia membentak anak kecil itu, namun Gilbert tidak tahu kenapa. "Aku hanya punya ibuku! Ayah pergi meninggalkanku dan ayah tiriku telah menghancurkan hidupku. Setelah ibu tidak ada hanya ada teman-temanku yang menemani dan menyemangatiku. Dan sekarang aku bisa bertemu lagi dengan ibuku, sekaranglah saatnya aku bersamanya! jadi tolong jangan menggangguku dan jangan halangi aku!" Gilbert menurunkan badannya agar ia bisa memeluk kaki dengan kedua tangannya dan menyembunyikan wajahnya yang menangis dari anak kecil itu.

Gilbert tidak tahu kenapa ia menangis. Ia juga tidak mengerti kenapa dadanya sesakit ini saat melihat anak kecil yang mengaku sebagai adiknya, seakan-akan ada yang ia lupakan.

Tuk.

Tiba-tiba Gilbert mendengar ada suara di hadapannya. Ia mengangkat wajahnya dan ia melihat bunga matahari di hadapannya. Bunga matahari tersebut terlihat sangat besar saat Gilbert melihatnya dari bawah. Gilbert tidak tahu kenapa bisa ada bunga matahari di hadapannya, namun ia meraih bunga tersebut dan berusaha memetiknya.

Dan sekeliling Gilbert berubah menjadi kamar Rumah Sakit.

"Oh Matthew." Gilbert menoleh ke samping saat mendengar ada orang yang memanggilnya. "kau sudah bangun?" ia melihat Ivan sedang mengatur bunga matahari agar bisa masuk ke dalam vas.

"Kak.. Ivan?" Gilbert sedikit terkejut saat yang ia lihat pertama kali bukanlah Alfred tapi kakak Natasha, Ivan Braginski. "kenapa kakak ada di sini?"

"Hm? tentu saja untuk menjengukmu, Matthew. Aku bawakan lagi bunga matahari untukmu." Ivan tersenyum saat merapikan bunga matahari agar terlihat cantik di dalam vas.

"Lagi?! tapi kau baru bawakan bunga matahari yang baru kemarin!" Gilbert sedikit membentak Ivan saat mendengar pernyataannya.

"Tenang saja, bunga yang kemarin kuberikan kepada orang lain. Kau tahu aku tidak suka memberi air pada bunga, Matthew, karena itu kuberikan pada orang lain..."

"Kalau begitu, jangan beri aku bunga!" Gilbert memajukan sedikit bibirnya, menandakan ia sedang marah pada Ivan. "kau bisa memberiku hamburger, kentang goreng, terus..."

"Kalau aku memberimu makanan terus, kau akan semakin gendut, Matthew..." Ivan mencubit kedua pipi Matthew sedikit keras, hingga Gilbert sedikit berteriak. "Lagipula bunga matahari cocok untukmu!"

"Kak Ivan! Kau mencubit pipiku lagi dan itu sakit!" Gilbert mengeluh, dan Ivan hanya tertawa melihatnya. Gilbert yang melihat Ivan tertawa menggembungkan pipinya. Ulah Ivan membuatnya kesal, namun ia merasa senang. Mungkin inikah rasanya punya kakak? sering menjaili adiknya, namun tak pernah berbuat kasar, pikir Gilbert. Ivan memang bukan kakak kandung Matthew, tapi Gilbert merasa apa yang dilakukan Ivan tak jauh beda dengan Alfred yang suka menjaili Matthew dan Gilbert yang suka men...

Siapa?, Gilbert terdiam sebentar karena merasa pikirannya sedang aneh. Sikap jail Ivan dan Alfred sama seperti sifat jailku ke siapa?, Gilbert merasa aneh, ia seperti melupakan seseorang. Ia ingat ia sering melakukan kejailan seperti yang Ivan lakukan, tapi pada siapa? Gilbert meremas rambutnya berusaha mengingat.

"Matthew?" suara Ivan membuat Gilbert menoleh dan bisa menatap wajah Ivan. Gilbert dapat melihat wajah cemas Ivan dari dekat. "Kau kenapa? kepalamu sakit?"

Gilbert tersenyum, ia tahu ia tidak boleh mencemaskan orang lain, "tidak, aku tidak apa-apa."

"Benarkah? kalau kepalamu sakit a..."

"Ahem." Mendengar ada suara orang berdeham di belakang Ivan membuat Ivan dan Gilbert menoleh secara bersamaan. Mereka melihat Alfred dan Arthur sedang berjalan memasuki ruangan. "Aku segera menuju kemari karena takut kau kesepian, Mat. Ternyata sudah ada orang lain yang menemanimu." Gilbert melihat Alfred berhenti di samping Ivan dan melirik Ivan dengan tatapan tajam.

"Kau tidak perlu terburu-buru pergi kemari karena takut Matthew kesepian, Al. Selama ada aku, Matthew tidak akan pernah kesepian." Ivan membalas tatapan tajam Alfred dengan senyum yang dingin.

"Oh, benarkah? aku akan berterima kasih kalau begitu karena kau sudah menemani adikku, Ivan."

"Dengan senang hati, Al." Mungkin percakapan Ivan dan Alfred terasa seperti teman biasa, tapi Gilbert tahu ada hawa marah di sekitar mereka. Lama Alfred dan Ivan terdiam saling memandang tajam, sampai terdengar suara telfon Ivan berbunyi. "Sepertinya kehadiranku cukup sampai sini, Mat. Sekretarisku sudah menjemputku di bawah. Maafkan aku harus pergi." Setelah melihat layar telfon selulanya sebentar, Ivan memasukan kembali telfon selularnya ke dalam saku.

"Tidak apa-apa, terima kasih sudah menemaniku, Kak Ivan. Sampai jumpa besok." Gilbert melambaikan tangannya saat melihat Ivan sudah berjalan keluar dari ruangan.

"Besok ia juga kemari?" tanya Alfred dengan nada tidak senang.

"Kak Ivan biasa datang setiap hari, bukan? tentu saja besok ia akan datang."

"Dan kau menunggunya? Matthew, apa kau lupa ia orang yang berbahaya?"

"Tentu saja aku lupa, aku bukan Matthew, Kak Alfred." Alfred sedikit terdiam saat mendengar kalimat Gilbert, ia lupa yang ada di dalam tubuh Matthew adalah Gilbert.

"Ok, Gilbert karena kau belum tahu tentang Ivan, akan kuberi tahu. Ivan Braginski terkenal dengan kekuatan politiknya. Ia adalah kepala perusahaan keluarganya yang sangat terkenal, dan ada yang bilang ia termasuk mafia Rusia. Sifatnya mungkin terlihat baik, tapi kalau ia sedang marah, tidak akan ada yang bisa selamat! apalagi, ia sangat sayang kakak dan adiknya, Natalya. Lebih baik kau berhati-hati sebelum kau yang jadi korban selanjut..."

"Hei, Alfred!" cerita Alfred berhenti karena ia merasa ada yang memukul keras kepalanya. "kau jangan menakuti Gilbert!" sambil melipat kedua tangannya, Arthur memarahi Alfred.

"Aku tidak menakuti, Artie. Aku hanya mengingatkan Gilbert. Lagipula ia bisa bersekolah lagi lusa, jadi aku harus memperingatnya untuk berhati-hati dengan Natalya!" Alfred mengelus kepalanya sambil merintih kesakitan.

"Sekolah? apa aku akan segera keluar dari Rumah Sakit?"

"Ah... tadi dokter mengatakan besok kau bisa keluar dari Rumah Sakit, jadi lusa kau bisa masuk..."

"Maksudmu aku akan bangun pagi, membuat sarapan, mengantri kamar mandi, memakai seragam, menyapa teman, lalu..." kali ini Arthur yang tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Gilbert segera memegang badannya, dan bertanya dengan mata berbinar-binar.

"Hm... ya... seperti itulah..." Alfred menjawab setelah Gilbert selesai mengatakan pertanyaannya.

"Keren! aku tidak sabar untuk masuk sekolah!" ucap Gilbert senang.

"Kenapa kau terlihat sangat gembira? Ini hanya rutinitas biasa..."

Mendengar pertanyaan Alfred, Gilbert tersenyum sedih. "Aku... sudah lama tidak sekolah." Alfred dan Arthur langsung terdiam. "Setelah kabur dari rumah, aku berhenti sekolah dan bekerja untuk memenuhi biaya sehari-hari dan biaya se... eh? biaya sekolah siapa?" kali ini Gilbert yang tidak menyelesaikan kalimatnya karena ia merasa melupakan sesuatu. Meski tidak dapat menyelesaikan, Arthur tersenyum pada Gilbert dan mengelus kepalanya.

Gilbert mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajah Arthur. "Kalau begitu besok kau harus menikmati masa-masa sekolahmu lusa nanti, ya." Gilbert tersenyum mendengarnya.

"Hm," jawabnya singkat.

"Ne, Gilbert. ada makanan yang kau inginkan besok nanti? Yang paaaliiing kau inginkan, karena ini untuk merayakan kedatanganmu di rumah!" dengan semangat, Alfred bertanya pada Gilbert.

"Hm... kau ingin memasak untukku, kak?"

"Tidak, mungkin aku akan membelinya, karena itu kau harus memberitahuku sekarang agar aku bisa mempersiapkannya."

"He?! kenapa beli? aku bisa membuatkannya..." terdengar nada protes dari Arthur.

"Tidak! kau tidak boleh memasak untuk Gilbert yang baru saja keluar dari Rumah Sakit!" dengan segera, Alfred menolaknya.

"Kau jahat sekali pada ayahmu, Alfred."

"Aku terlihat lebih jahat jika aku membiarkanmu memasak untuk Matthew yang baru saja keluar dari Rumah Sakit!"

"Kalau bukan aku yang memasak, siapa lagi? kau tidak bisa memasak, dan tidak ada yang bisa memasak di antara kita selain Matthew!"

"Ada." Gilbert menyela petengkaran ayah dan anak yang ada di hadapannya. "Ada orang yang bisa memasak di antara kita." Alfred dan Arthur saling berpandangan karena tidak tahu siapa yang Gilbert maksud.

"Siang Gilbo! Bagaimana kabarmu, kawan?!" tak lama, Francis berteriak saat memasuki kamar. Saat Francis masuk ke dalam ruangan, saat itu juga Gilbert tersenyum pada Francis,membuat pandangan Arthur dan Alfred beralih kepada Francis.

"Dia?" tanya Arthur dan Alfred bersamaan, dan di jawab Gilbert dengan angukan.

"He? kenapa?" sedangkan Francis tidak tahu apa yang mereka kerjakan.

X

"Wah... baunya harum sekali!" Alfred mencium bau masakan yang sangat harum saat ia memasuki rumah sambil membawa tas Matthew.

"Hm, kau benar. Ini masakan pasta ya?" dari belakang Alfred, ada Ivan yang berjalan sambil menunggu Matthew turun dari taxi.

"Wah, Kak Ivan! Penciumanmu tajam ya! hari ini aku meminta Francis memasak pasta untukku." Gilbert memuji Ivan yang ternyata benar menebak masakan apa yang sedang dimasak.

"Tentu saja, Matthew. Jangan remehkan penciuman keluarga Braginski. Kau juga mungkin mempunyai penciuman yang tajam sepertiku." Ivan memencet hidung Matthew hingga merah, membuat Gilbert sedikit kesakitan.

"Kak Ivan! Kau menjahiliku lagi!" protes Gilbert lalu menyingkirkan tangan Ivan dari hidungnya. Ivan tertawa melihat reaksi Matthew."Ayo masuk, kita sudah ditinggal Kak Alfred." ucap Gilbert lalu menarik tangan Ivan dan mereka memasuki rumah bersamaan.

"Kalian lama sekali, aku sudah lapar!" setelah sampai di ruang makan, Ivan dan Gilbert disambut dengan keluhan Alfred.

"Kau sangat berisik, Alfred. Aku memasak untuk Matthew, bukan untukmu!" Francis datang dari dapur sambil membawa piring berisikan Truffle Salad(1).

"Truffle!" Ivan dan Gilbert berteriak bersamaan saat melihat masakan yang dibawa Francis.

"He? apa itu?" Alferd yang baru pertama kali melihat masakan yang dibawa Francis hanya bisa memasang wajah bingung.

"Kau tidak tahu Truffle Salad? Itu sangat enak dan terkenal!" dengan mata bangga, Ivan mulai menceritakan tentang Truffle Salad.

"Kau semakin mahir memasaknya, Francis!" kata Gilbert bangga. "Semoga rasanya semakin enak juga..."

"Hm... kau sedikit aneh ya, Matthew. kau sepertinya tahu tentang Truffle Salad namun Alfred tidak. Kau juga terlihat sudah pernah memakan Truffle Salad Francis..."

Ruangan hening seketika. Gilbert, Francis, dan Alfred lupa. Ivan tidak tahu yang ada di dalam tubuh Matthew adalah Gilbert. tentu saja Ivan merasa aneh." Ah, itu tidak penting!" Alfred berusaha memecah keheningan agar Ivan tidak curiga. "yang penting, kenapa kau disini Ivan? aku kira kau hanya menemani Matthew untuk pulang ke rumah."

"Hm? tidak bolehkah aku ikut dalam pesta penyambutan Matthew? lagipula Matthew tidak keberatan, bukan?" Gilbert menganguk memberi jawaban. "Jadi, kau tidak berhak mengusirku, Alfred." seolah mengejek, Ivan menjulurkan sedikit lidahnya.

"Cih." Alfred kesal karena merasa dirinya kalah dari Ivan.

"Sudahlah, kalian jangan bertengkar terus.."Gilbert berusaha menenangkan Alfred dan Ivan. "Ayah mana? ayo kita segera makan."

"Aku disini." Terdengar suara Arthur dari arah pintu masuk ruang makan. "Huwa! ini seperti masakan restoran!" Arthur sedikit kagum dengan masakan yang Francis masak, yang disajikan di atas meja makan."Aku tak menyangka kau bisa memasak seperti ini, Francis!" Francis hanya tersenyum malu saat dirinya dipuji Arthur. "Nah, ayo kita makan, huwa... apa ini?" Arthur sedikit kaget saat melihat Truffle Salad, masakan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Itu namanya Truffle Salad, ayah. Makanan ini.." Gilbert menjelaskannya pada Arthur yang hanya dibalas dengan sedikit angukan. Awalnya Alfred dan Arthur ragu memakannya, namun setelah mereka mencicipinya, mereka jadi suka.

Francis menerima banyak pujian dari Arthur, Alfred, dan Ivan. Gilbert tidak memuji Francis karena ia sudah hafal masakan sahabatnya. Francis senang mendengar pujian tentang masakannya, terutama dari Arthur. Ia merasa sudah memberi kesan baik tentang dirinya pada Arthur. Acara makan tidak hanya ramai dengan pujian untuk Francis. Seringkali Alfred dan Ivan bertengkar, atau Alfred bertengkar dengan Arthur karena hal-hal kecil. Gilbert merasa nyaman dengan suasana ini.

Sudah lama ia tidak merasakan kehangatan saat makan bersama keluarga. Ia memang sering makan bersama di rumah Kiku, tapi ia tidak merasa seperti ini. Gilbert tidak ingin perasaan ini hilang. Meski tubuh ini bukan tubuh aslinya, Gilbert ingin selamanya berada di tubuh ini agar bisa terus merasakan kehangatan ini.

"Terima kasih atas makananya, Francis." ucap Ivan saat ia, Francis, dan Gilbert berjalan menuju pintu rumah untuk mengantarkan Ivan yang sudah dijemput sekretarisnya di depan rumah.

"Sama-sama, kau bisa kemari kapan saja untuk memakan masakanku lagi." Francis membuka pintu rumah, agar ia dan Gilbert bisa mengantar Ivan sampai di depan pintu pagar. Saat pintu terbuka, mereka melihat sebuah mobil hitam terpakir di depan rumah dengan seorang anak kecil berpakaian pelayan berwarna hitam berdiri di dekat pintu masuk penumpang.

"Foma(2)! terima kasih sudah menjemputku." Ivan bergegas berjalan menuju mobil. Foma tidak menjawab apa-apa, ia hanya menundukkan sedikit badannya sambil membukakan pintu mobil untuk Ivan. "Ah, aku lupa." tepat sebelum masuk ke dalam mobil, Ivan membalikkan badannya. "Matthew, Francis, kenalkan ini Foma. Salah satu pelayanku."

Gilbert dan Francis memperhatikan Foma. Gilbert menebak dari tinggi Foma, Foma seharusnya bersekolah di sekolah dasar. Kulitnya sangat putih dan rambutnya berwarna hitam dan panjang diikat rapi. "Perkenalkan, nama saya Foma. Saya adalah pelayan Tuan Ivan." Foma memperkenalkan dirinya pada Arthur dan Francis dengan cara membungkukkan sedikit badannya.

"Ah, namaku Matthew."

"Dan aku Francis." Francis dan Gilbert ikut membungkukkan sedikit badan mereka untuk membalas salam Foma.

"Sudah dulu ya, sampai jumpa besok, Matthew." Ivan dan Foma masuk ke dalam mobil, kemudian mobil hitan tersebut pergi. Matthew yang tidak sadar dengan kalimat Ivan melambaikan tangan pada mobil Ivan.

"He?! besok?!" setelah sadar dengan kalimat Ivan, Gilbert tahu ada yang aneh dengan kalimat Ivan. "Apa yang ia maksud dengan besok?"

"Mungkin ia akan kemari lagi. Hei Gilbo, apa kau merasa ada yang aneh?"

"Hm? tentang apa?"

"Foma. Sepertinya aku pernah melihatnya..."

"Mungkin ia mirip dengan salah satu mantan wanitamu."

Francis merasa bukan itu jawabannya, tapi ia menyetujuinya saja. "Hm... begitu ya? eh tapi bukan itu saja yang mengganggu pikiranku. Foma terlihat seperti masih di bawah umur dan ia sudah bekerja sebagai pelayan Ivan. Apa itu tidak aneh? bukankah itu..."

"Aku sudah bilang Ivan adalah orang berbahaya, bukan?!" Gilbert dan Francis menoleh ke arah pintu masuk rumah. Mereka melihat Alfred menyandarkan badannya di daun pintu sambil melipat kedua tangannya. "Ivan adalah salah satu orang yang berkuasa di kota, bukan, negara ini. Ia bisa mendapatkan apa saja yang ia mau, dan ia bisa melakukan apa saja yang ia mau. Aku nemperingatimu, Gilbert. Jangan terlibat atau macam-macam dengan Ivan Braginski. Sekarang kau ada di dalam tubuh adikku dan aku tidak mau hal yang buruk terjadi pada tubuh Mattie karena keterlibatanmu dengan Ivan." setelah mengatakan itu, Alfred masuk ke dalam rumah.

Gilbert terdiam mendengarnya. Ia merasa Alfred salah. Ivan tidak mungkin orang yang jahat. Melihat sikapnya sedari awal mereka bertemu, Gilbert tahu Ivan adalah orang yang baik. ia nyaman menghabiskan waktu bersama Ivan, karena Ivan sering membuatnya tertawa. Jadi Gilbert merasa apa yang dikatakan Alfred tidak benar.

"Deg..." tiba-tiba, Gilbert merasa jantungnya berdetak lebih kencang, ia juga merasa wajahnya memanas. Gilbert segera menutup wajahnya agar Francis tidak melihat wajah merah Gilbert. ini tidak mungkin, Gilbert tidak percaya ini! ia tidak percaya hanya dengan memikirkan Ivan wajahnya bisa memerah dan jantungnya berdetak lebih kencang. "Gawat, ada yang aneh dengan diriku." ucap Gilbert pelan

X

Langit masih terlihat gelap saat Gilbert membuka matanya. Ia melihat jam weker di atas mejanya yang menunjukkan hari sudah jam 5 pagi. Gilbert menguap. Ia masih merasa mengantuk, namun ia sadar ia harus sekolah hari ini. Ia turun dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Alfred dan Arthur masih tertidur, sehingga ia tidak perlu mengantri kamar mandi.

Setelah selesai mandi, ia memakai seragam sekolah yang sudah disiapkan Alfred kemarin. Ia juga menyiapkan peralatan sekolah yang harus ia siapkan. Gilbert mempersiapkannya sambil bergumam. Ia merasa sangat senang. Hari ini ia akan bersekolah kembali. Sudah lama ia tidak bersekolah, dan dengan tubuh Matthew, ia bisa bersekolah kembali.

"Hari ini sarapan apa ya?" selesai dengan persiapan sekolah, Gilbert berjalan menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan. Sebelum sampai dapur, Gilbert melihat Francis sedang tertidur pulas di atas sofa di Ruang Keluarga. Gilbert mengurungkan niat untuk ke dapur, dan lebih memilih menghampiri Francis.

Gilbert sudah sering melihat wajah tidur Francis. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, dan mereka sering menginap di rumah Gilbert. Sampai ibu mereka menikah kembali, mereka masih suka menginap bersama. Biasanya Gilbert akan mencorat-coret wajah Francis jika ia yang bangun terlebih dahulu. Namun saat Gilbert ingat peristiwa kemarin, Gilbetrt mengurungkan niatnya. Kemarin Francis mengakui ia mencintai Arthur.

"Apa?!" Gilbert yang saat itu sedang tiduran di atas kasur Matthew langsung bangun saat mendengar pengakuan Francis yang duduk di sebelah Gilbert.

"Aku bilang, aku mencintai Arthur, Gilbo." nada bicara Francis serius. Artinya, ia benar-benar mencintai Arthur. "Kau merasa aku aneh ya?"

"Tidak, bukann begitu. Astaga Francis, kau memang sudah aneh sedari dulu. Aku mengenalmu sejak kecil, bukan? aku tahu alasanmu memberitahuku ini karena kau ingin aku, sahabat kecilmu, tahu tentang perasaanmu sekarang, kan?" meski Gilbert benar, rasanya Francis ingin memukul Gilbert. "Aku mengenalmu sebagai pria penggila wanita. Kau tak henti-hentinya merayu wanita. Tentu saja aku kaget saat mendengarmu kau suka laki-laki. Apalagi ia adalah ayah dari dua remaja pria."

Francis menghela nafas. Alasan Gilbert sama dengan alasan Antonio. "Aku juga awalnya berfikir ini tidak mungkin. Aku fikir ini hanyalah kekagumanku pada sifat ayahnya Arthur. Namun saat mendengar pujian Arthur akan masakanku dan melihat betapa ia menikmatinya, aku mulai merasa aku ingin terus memasak untuknya. Aku ingin membuat Arthur terus tersenyum bersama anak-anaknya. Jantungku berdetak lebih kencang sekarang jika ia mulai memanggil namaku, dan betapa senangnya aku saat aku berhasil membuatnya tertawa. Bukankah ini yang namanya cinta?"

"Jangan tanya aku. aku tidak berpengalaman dalah hal percintaan sepertimu..." Gilbert kembali menidurkan badannya, dan kali ini ia membelakangi Francis. Jika Francis merasa jantungnya berdetak lebih kencang saat Arthur memanggilnya dan ia mengatakan itu tanda ia jatuh cinta, artinya... yang tadi siang itu...

"Ne, Gilbert." pikiran Gilbert buyar saat Francis memanggilnya. "Kita tetap bersahabat, kan? meski kau tahu aku mencintai pria..." Gilbert mendengar nada bicara Francis yang terdengar sedih. Ia membalikkan badannya dan melihat wajah khawatir Francis.

Gilbert tersenyum. Ia merangkul leher Francis dan menariknya. Kini Francis tiduran di sebelah Matthew dan mata mereka bertatapan. "Tentu saja! mana mungkin aku memutuskan hubungan persahabatan kita hanya hal kecil seperti ini. Ne, sebagai gantinya kau harus terus melapor perkembangan hubunganmu dengan Arthur, ok?"

Francis tersenyum mendengar jawaban Gilbert. "Hm, Terima kasih..."

Gilbert tak menyangka Francis yang ia kenal sebagai pria yang tak serius dengan wanita, kini ingin serius dengan Arthur. Mungkin Francis tahu perasaan yang ia rasakan itu adalah cinta setelah ia menginap di rumah ini bersama Arthur dan Alfred saat ia berada di kota ini. Gilbert jadi tidak sabar apa saja yang akan Francis lakukan untuk menaklukan hati Arthur.

"Pagi, Gilbert." Gilbert menoleh saat mendengar suara Arthur di sampingnya.

"Oh, Ayah. Selamat pagi. Bagaimana tidurmu?"

"Hm... baik. Apa yang kau lakukan? Sedari tadi kau memandang wajah Francis."

"Aku hanya ingin menjahilinya, tapi tidak jadi. Aku akan membuat sarapan, ayah mau makan apa?"

"Kau bisa memasak sarapan?" kini Arthur dan Gilbert sudah ada di Ruang Makan.

"Sedikit. Jika aku sendirian di rumah, aku memasak sendiri."

"Hm? itu terdengar seperti sebebarnya kau tinggal dengan orang lain, Gilbert." Gilbert yang hendak membuka pintu kulkas langsung menghentikan gerakannya saat mendengar pernyataan Arthur. "kau suka membawa perempuan ke rumah ya?"

"Haha, mana mungkin. Aku bukanlah Francis. Lagipula aku belum pernah merasakan..." sadar ia membuka rahasianya sendiri, Gilbert langsung menutup mulutnya.

"Ara? Jadi kau..." wajah Matthew memerah saat Gilbert tahu Arthur sadar apa yang ia maksud.

"Berisik, itu bukan urusanmu!" Arthur hanya tertawa melihat reaksi Gilbert. ia jadi melihat ekspresi wajah Matthew yang tak penah ia lihat sebelumnya.

"Bergegaslah kau membuat sarapan, dan bangunkan Alfred. Setelah itu akan kuantarkan kalian ke sekolah. Hari ini hari pertamau di sekolah, jadi ada yang perlu kubicarakan dengan wali kelasmu."

"Baik ayah."

X

"Huwaaa..." Gilbert terpesona dengan gedung yang ia lihat saat mobil Arthur melewati pintu gerbang sekolah. Gilbert masih terpesona dengan lingkungan sekolah yang sudah lama tak ia lihat saat ia, Arthur, dan Alfred turun dari mobil. "Sekolah ini keren, Kak Alfred!"

"Aneh jika kau mengatakan itu dengan tubuh Matthew, Gilbert. Aku merasa de ja vu."

"Aku juga." Arthur hanya tersenyum saat melihat anak bungsunya terlihat sangat senang saat bersekolah. "Kalian segera masuk kelas ya. Aku akan ke ruang guru. Nanti aku jemput jadi hubungi aku jika kalian sudah pulang."

"Ya... ya." Alfred menjawab dengan malas karena sebenarnya ia tidak ingin dijemput Arthur, seperti anak kecil.

"Baik, ayah, hati-hati ya." Gilbert melambaikan tangannya. "Jadi, Kak Alfred, kelasku dimana? apakah kita sekelas?"

"Kita tidak sekelas. Akan kuantarkan, ikuti aku." Gilbert menurut, ia berjalan di belakang Alfred, mengikutinya.

"Selamat pagi Kak Alfred!"

"Selamat pagi Alfred!"

"Selamat pagi!"

Gilbert menemukan hal menarik lainnya! sepertinya Alfred terkenal di sekolah ini. Banyak sekali murid yang menyapa Alfred, dan Alfred selalu membalas sapaan mereka. Saat mereka berdua berjalan melewati para siswa yang menyapa Alfred, Gilbert masih merasakan tatapan mereka masih tertuju pada Alfred.

"Hei lihat..." kali ini Gilbert mendengar percakapan siswi yang akan berjalan melewati mereka. "bukankah itu Mattthew?"

Astaga! Jangan-jangan mereka akan menyapaku!, pikir Gilbert senang.

"Berani sekali dia..." Gilbert langsung berhenti berjalan. "setelah gagal bunuh diri, ia masih berani masuk sekolah? hebat juga. Ia pikir ia akan mendapatkan perlindungan Alfred meski ia masuk sekolah?"

"Betul," sambut siswi lainnya sambil berbisik. "apa ia tidak tahu betapa seramnya Alfred saat melihatnya jatuh?"

"Kau ingat? Alfred seperti orang gila karena ia menyerang para siswa untuk mengaku siapa yang mendorongnya. Padahal tidak ada orang di atas sudah pasti ia bunuh diri kan, lalu..." percakapan kedua siswi itu sudah tidak terdengar lagi oleh Gilbert karena mereka sudah jauh berjalan.

"Hei, Mattie, sedang apa?!" jauh di hadapannya, Alfred berteriak memanggilnya karena sedari tadi Gilbert belum melanjutkan melangkah.

"Hu uh, tidak apa-apa..." Gilbert berjalan lagi sambil memperhatikan para siswa di sekitarnya. Gilbert menyadari sesuatu, setelah menyapa Alfred, mereka pasti akan saling berbisik berbicara tentang Matthew, Gilbert tahu karena ia bisa mendengarnya.

"Kenapa ia bisa ada disini? mengganggu pemandangan aja.."

"Nama sekolah kita jelek karenanya."

"Kau tahu? hanya karena aku penggemar Kak Alfred, aku dituduh sebagai orang yang mendorongnya!" dan masih banyak percakapan rahasia mereka yang dapat didengar Gilbert.

Gilbert sedikit kaget awalnya, tak menyangka Matthew merasakan ini di sekolah. Seharusnya sekolah menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar dan mencari teman. Namun Matthew tidak merasakan itu. Bagi Gilbert sendiri, ia sudah terbiasa ditusuk dari belakang oleh teman-temannya. Bentuk fisik Gilbert suka menjadi bahan ejekan atau tawaan dari teman-temannya. Hanya Francis dan Antonio yang setia berteman dengannya. Karena sudah terbiasa, Gilbert jadi tahu bagaimana caranya agar kuat, dan sadar bahwa ia tidak boleh menyakiti sesama. Mungkin ia bertukar tubuh dengan Matthew supaya...

"Kelasmu disini, namun aku tidak tahu dimana tempat dudukmu." Kalimat Alfred membuyarkan lamunan Gilbert.

"Terima kasih kak, nanti siang aku ke kelasmu ya."

"Aku saja yang kemari, jadi jangan kemana-mana. Ah, kalau kau mau ke kelasku, kelasku ada di lantai bawah sebelah tangga." Alfred kemudian melambaikan tangannya untuk berpamitan dengan adiknya. Gilbetr berdiri di depan pintu kelas. Ia menarik nafas panjang karena sudah tahu sepeti apa perilaku teman-teman Matthew padanya.

Ternyata benar, begitu Gilbert membuka pintu kelas, seluruh mata teman-teman sekelasnya memandangnya dengan pandangan kesal, marah, kecewa. Tak apa, Gilbert sudah terbiasa, ia pernah merasakannya. Ia menebak dimana tempat duduk Matthew dengan berjalan menuju meja dengan vas bunga di atasnya. Gilbert tersenyum saat melihat tulisan di atas meja itu.

Lemah.

Bodoh.

Pengganggu.

Tulisan itu terukir berkali-kali di atas meja. Gilbert menaruh tas di atas meja, kemudian ia mengambil vas bunga dan memindahkannya di atas meja guru. Siswa-siswi yang berada di kelas sedikit kaget melihat apa yang dilakukan Gilbert. Tak lama, bel berbunyi dan guru pun datang.

"Loh, Matthew, kau sudah masuk?" tanya guru yang hanya dijawab Gilbert dengan senyum. "bagaimana lukamu? Kau sudah sehat?"

"Sangat sehat!" jawab Gilbert dengan nada riang. Lagi, teman-temannya melihat Matthew dengan pandangan kaget.

"Hm, baguslah. Beritahu teman-temanmu jika kau masih merasa kurang sehat." Gilbert hanya menganguk dan tersenyum pada teman-temannya yang menatapnya kesal. Pelajaran pertama adalah sejarah dunia, dilanjutkan dengan bahasa jerman. Kedua mata pelajaran ini adalah mata pelajaran kesukaan Gilbert.

Terutama sejarah dunia. Ia sangat suka mempelajari sejarah dunia karena bisa dijadikan cerita sebelum tidur. Gilbert ingat ia suka menceritakan sejarah dunia pada seseorang, namun ia tidak ingat pada dunia. Sedangkan untuk bahasa Jerman, ini sudah menjadi bahasa sehari-hari dengan ibunya. Aneh rasanya, baru semalam ia bermimpi tentang ibunya, ia sudah rindu kembali dengan ibunya.

Bel istirahat berbunyi dan guru keluar dari kelas. Gilbert merapikan peralatan tulisnya dan memasukannya ke dalam tas, namun entah kenapa tiba-tiba ia merasa tubuhnya basah.

"Ups, maaf..." Gilbert mendengar ada suara di hadapannya. Ia melihat ada beberapa orang berdiri di hadapannya, salah satunya menuangkan air vas ke atas tubuhnya. "Kami tahu kau belum mandi, karena itu kami membersihkanmu, Matt." ejeknya.

Gilbert diam, ia tahu bukan sekarang saatnya ia menyerang. "Kau tahu? kami sangat kecewa saat kau memindahkan vas bunga ke guru meja, Matt. Kami memblikanmu bunga karena kami pikir kau sudah tiada, dan kau memberikannya pada guru? kami kecewa..." Gilbert tetap diam.

Tak ada jawaban dari Matthew, membuat siswa yang lain geram. "Hei Matt! bicara!"

Sekarang!"Cuih." Gilbert meludahi siswa yang menggertaknya. Spontan, siswa itu mundur selangkah ke belakang. "Matthew! beraninya!"

"Kau ingin aku bicara? baiklah..." Gilbert berdiri lalu menarik dasi siswa yang berdiri tepat di hadapannya. "bilang pada teman-temanmu, Matthew yang sekarang akan sangat berbeda dengan yang lama. Kalian ingin menjatuhkanku, silahkan... akan aku hadapi. Kau tahu artinya? aku menyatakan perang." Seisi kelas yang melihatnya hanya bisa terdiam mendengarnya. Gilbert tersenyum, reaksi inilah yang ia inginkan. Terkejut, kaget, takut.

"Haha... ini akan menarik."

Note:

(1): Truffle Salad adalah jamur yang disajikan bersama saos Hollandaise. Biasanya disajikan sebagai hidangan pembuka, dan makanan ini sangat digemari karema aromanya yang memikat. Termasuk hidangan yang sangat langka karena truffle termasuk jamur yang sangat langka di dunia. Kenapa Francis bisa mendapatkannya? ia meminta bantuan ayahnya untuk membuat Arthur terkesan padanya^^

(2): Foma dalam bahasa Rusia artinya kembar (saya mencari di internet nama-nama Rusia untuk bayi laki-laki dan artinya) Ivan memberi nama pelayannya Foma karena ia tahu sekretarinya mempunyai saudara kembar.

Mungkin ini chapter terpanjang yang pernah saya buat, ini sebagai tanda minta maaf saya karena telat update dan tanda apresiasi saya untuk kalian yang setia menunggu^^. Jadi, sudah bisa menebakkah siapa tokoh barunya? Di chapter selanjutnya juga akan ada kedatangan tokoh baru loh...

Saya baru sadar cerita ini sebentar lagi akan berumur 1 tahun pada bulan Juli, saya berencana akan membuat cerita spesial tentang cerita ini. Beritahu saya cerita spesial apa yang anda inginkan, masa lalu Gilbert kah? Masa lalu Alfred dan Matthew? atau masa lalu Arthur? jangan malu untuk mengatakannya, karena saya membuat ini sebagai tanda apresiasi saya karena kalian tetap setia membaca cerita ini meski saya jarang update *ditimpuk batu bata, dilemparin sampah.

Saran dan kritik saya terima, jadi R & R please.